Riwayat Singkat Srila Visvanatha Cakrawarti Thakur.( Acarya Gaudiya Ke – 7 )

hal yg paling penting di dalam jalan bhakti yoga ini adalah bagaimana seorang bhakta bisa mendapatkan karunia dari guru dan para acarya terdahulu,oleh karena itu seperti kata pepatah” kalau tidak kenal maka tak sayang,” kalau tidak sayang maka di pastikan tidak ada ikatan perasaan,maka dari itu melalui bacaan ini semoga para pembaca mulai bisa mengenal para acarya kita terdahulu. Srila Visvanath Cakravarti Thakur tercatat sebagai penerus ajaran Gaudiya yang ketujuh dalam garis perguruan. Srila Cakravarthipada mengikuti jejak langkah Acarya terdahulu yaitu Srila Narottama dasa Thakura, yang dikatakan mewarisi prema dari Sri Caitanya Mahaprabhu, meskipun Srila Narottama dasa Thakur dan Srila Cakravarthipada terpisah sedikitnya empat generasi guru-guru, namun Srila Cakravarthipada menerima transmisi ajaran (siksa) dari srila Narottama, karena itu beliau diakui sebagai Acarya ketujuh dalam garis perguruan sri caitanya Mahaprabhu.

Srila Cakravarthipada menulis tiga buku penting. Bhakti Rasamrta Sindhu Bindu, Ujjvala Nilamani-kirana, dan Brhad Bhagavatamrta Kana. Tanpa mengetahui ketiga buku ini, seseorang tidak akan mampu maju dalam bhakti. Buku-buku ini adalah skala untuk mengukur tingkat kemajuan seorang bhakta. Bila anda mengikuti petunjuk petunjuk kitab ini. Anda tidak akan pernah meninggalkan bhakti. Dahulu sebelum Srila Cakravarthipada meninggalkan rumah untuk pelepasan ikatan dan kebajikan seluruh dunia, beliau mohon ijin kepada Srila Radha-ramana Cakravarthi, guru kerohaniannya. Akan tetapi gurunya menyuruh beliau meminta ijin dahulu dari istrinya. Setelah mendengar hal ini dari bibir suci gurunya, beliau pulang ke rumah dan memaparkan Hari-katha kepada istrinya sepanjang malam. Pada pagi harinya beliau mendekati istrinya dan mohon diri untuk meninggalkan keduniawian. Dengan diiringi ratapan istrinya, beliau meninggalkan rumah dan memulai misi beliau yang agung untuk mengajak roh-roh yang terikat kembali pulang ke dunia rohani.

Srila Cakravarthipada mengajarkan konsep parakiya-bhava di Vrndavana, walaupun sayang sekali hanya sedikit yang mampu mengerti dan menghargai-nya. Dalam madhurya bhava (cinta kasih rohani dengan Tuhan sebagai kekasih) ada Svakiya bhava, bentuk cinta kasih suami-istri, sebagaimana Rukmini dan para mahishi di Dvaraka mencintai Krsna. Svakiya bhava ini dianjurkan dalam sastra. Namun ada cinta kasih parakiya yang bermanifestasi dalam diri para Gopi penduduk Vraja yang diketuai oleh srimate Radharani. Cinta-kasih para Vraja-gopi ini bersifat luhur dan murni. Dalam svakiya kita melihat ikatan yang resmi antara Krsna dan Rukmini yaitu dalam wujud pernikahan rohani. Namun dalam parakhiya bhava kita melihat para gopi tidak menikah dengan Krsna, Radharani pun tidak terikat dalam pernikahan dengan Krsna. Tetapi para Vraja gopi memiliki ikatan cinta kasih yang besar, hingga mereka siap meninggalkan segalanya demi Krsna dan semua tanpa paksaan. Karena itu bahkan pelayanan para gopi lebih tinggi dari Rukmini, dari para mahisi Dvaraka serta para Laksmi Vaikuntha.Parakiya-bhava inilah yang diterima dan diajarkan oleh Sri Caitanya mahaprabhu juga oleh para penerus-Nya.

Banyak orang yang menentang Srila Ckaravarthipada karena beliau mengajarkan parakiya bhava ini. Salah satunya berasal dari Sri Sampradaya (pengikut Ramanujacarya). Kisah ini dapat kita ketahui dari riwayat Srila Baladeva Vidyabhusana, murid dari Srila Cakravarthipad. Di sana akan kita ketahui lebih rinci.
Tantangan yang lain berasal dari para pandita Vrndavana yang iri terhadap Cakravarthipad dan berusaha membunuh beliau.

Setiap pagi Srila Cakravarthipad yang saat itu berusia sangat lanjut (80 tahun) bersiap untuk parikrama mengelilingi Vrndavana. Para pandita yang iri ini bersembunyi di semak-semak siap untuk menghadang jalan beliau. Ketika pandita-pandita ini siap membunuh, tiba-tiba Cakravarthipada lenyap dari pandangan. Sebagai gantinya mereka melihat dua atau tiga gadis muda yang sangat cantik sedang memetik bunga sambil bercanda dan tertawa.

Karena penasaran para pembunuh ini keluar dari semak-semak dan bertanya kepada salah seorang gadis itu apakah mereka melihat seorang sadhu tua lewat di sana. Tanpa diketahui para pembunuh ini Srila Cakravathipad telah terserap sepenuhnya dalam meditasi pada kegiatan rohani Sri Radha dan Krsna. Kini beliau berada dalam wujud aslinya sebagai pelayan Srimati Radharani yang kekal (bentuk manjari svarupa). Dalam wujud gopi ini beliau berkata dengan suara manis, “Aku melihat babaji itu, tapi entah ke manakah dia pergi sekarang. Radharani kini berada di Javat, dan kami semua adalah para sakhi-Nya.”

Setelah mengucapkan kata-kata ini Srila Cakravarthipad kembali mewujudkan bentuk sadhu-nya. Dengan penuh kekaguman para pembunuh itu segera bersujud dandavat di hadapan beliau.

Srila Cakravarthipada adalah seorang mahasiddha-purusa. Beliau bukan berasal dari dunia ini. Beberapa orang mengatakan bahwa beliau sesungguhnya adalah penjelmaan Acarya Srila Rupa Goswami. Seperti Sri Rupa Goswami, Srila Cakravarthipad juga menulis banyak buku, bila beliau tidak melakukan-nya pasti ajaran Sri Caitanya Mahaprabhu akan lenyap dari muka bumi ini. Beberapa tahun setelah berpulangnya beliau dan murid utamanya yaitu Srila Baladeva Vidyabhusana ke dunia rohani. Masa-masa kegelapan datang lagi dalam garis Gaudiya Vaishnava. Kemudian muncullah Srila Saccidananda Bhaktivinoda Thakura dan putranya yang cemerlang Srila Bhaktisiddhanta Saraswati Prabhupada untuk menyelamatkan dunia.

sri guru parampara ki…gaura premanande hari hari bolo…semoga bermanfaat ..jaya srila prabhupada..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s