Kenangan Bersama Srila Prabhupada Di Hari Guru ( Vyasa ) Purnima.

PENTINGNYA TUAN YANG BAIK UNTUK KEHIDUPAN KITA.

“Srila Prabhupada mampu mengatakan hal yang benar dengan cara yang benar hingga menyentuh hati pendengar ”

Ketika Srila Prabhupada berada di Bombay, beliau selalu jalan-jalan pagi di pantai Juhu. Suatu pagi saya merasa tidak enak badan dan sedih.Meskipun banyak penyembah yang hadir, Prabhupada mulai berbicara yang sepertinya ditujukan kepada saya.
Beliau mengutip sebuah seloka Sansekerta dan berbicara tentang dua kata “anatha dan sanatha.” Natha artinya “tuan”. Jadi a-natha berarti “tanpa tuan” dan sa-natha artinya “bersama tuan”. Seluruh tujuan hidup kita adalah menjadi sanatha ,“bersama tuan.”

Pagi hari di pantai Juhu biasanya banyak orang berjalan-jalan sambil membawa anjingnya. Srila Prabhupada menunjuk kepada seorang laki-laki gemuk dan sehat yang berjalan dengan anjing yang juga gemuk dan sehat. Laki-laki tersebut berjalan dengan cepat dan tegap bersama dengan anjingnya yang dirantai, dan sang anjingpun berjalan sama cepat dan tegap bersama dengan tuan disisinya. Srila Prabhupada berkomentar bahwa setiap anjing ingin tuan yang baik. Jika anjing mempunyai tuan yang baik, maka anjing tersebut berbahagia. Dia mendongakkan kepalanya dengan tegak serta mengibas-ibaskan ekornya. Dia tahu tuannya akan merawat dan melindunginya, jadi ia tidak perlu merasa cemas.
Tetapi anjing jalanan—“si anjing hina yang tak bertuan, dan karena itu dia akan selalu menderita,” Srila Prabhupada lalu menunjuk kepada beberapa anjing jalanan, “dia tidak punya tuan, jadi diapun tidak tahu dimana dia akan tidur, bagaimana dia mendapatkan makanan. Anjing-anjing lain menggonggong kepada anjing itu; anak-anak melempari anjing-anjing itu dengan batu. Anjing-anjing seperti itu akan selalu merasa cemas.”
Prabhupada berhenti berjalan. Beliau manancapkan tongkatnya di pasir pantai Juhu. Meskipun saya berdiri di belakang para penyembah yang sedang bergerak ke depan mengelilingi beliau, sambil memandang saya dengan penuh kasih sayang, beliau langsung menatap mata saya. “Jadi kita harus menjadi sanatha, terlindungi, bukan anatha, yatim piatu, tanpa pelindung. Kita harus punya tuan dan mengabdikan diri dengan patuh kepadanya. Dengan demikian kita akan merasa yakin bahwa diri kita ada dalam perlindungannya dan dengan demikain merasa berbahagia.”
Dengan mengutip sloka lagi, Srila Prabhupada menjelaskan arti setiap kata-kata Sanskerta . Mano-ratha: kereta – pikiran. Yaitu spekulasi mental akan selalu menyetir diri kita bergerak kesana dan kemari, kesana, kesini, kesana. Dengan demikian kita tidak akan memiliki kedamaian. Tetapi ketika kita sudah mempunyai tuan yang sempurna untuk dilayani, kita merasa damai (prasantha) dan berbahagia sekali: “Saya sudah mendapatkan tuan. Saya tidak perlu khawatir dan cemas lagi.” Inilah kehidupan yang ideal, untuk menjadi sanatha-jivitam, hidup dengan harapan: “ Saya sudah mendapatkan tuan yang akan melindungi saya.”
Saya tahu bahwa Srila Prabhupada berbicara langsung kepada diri saya, yang mengarah kepada pentingnya kesadaran Krishna bagi saya. Meskipun tanpa bertanya atau mengatakan sesuatu, beliau tahu isi hati saya dan memberikan pemecahan yang sempurna melalui pelajaran-pelajarannya.
Setelah itu, saya selalu mencoba untuk mengingat kembali dan mengikuti instruksi Srila Prabhupada tersebut.Meskipun saya telah berusaha untuk menangkap beberapa kata dari sloka dan penjelasan Srila Prabhupada itu, dan sangat ingin menemukan sloka tersebut tapi masih tidak menemukannya juga. Beberapa tahun kemudian, saya menemukan sloka yang sama itu, yaitu yang dikutip dari Sri Caitanya-caritamrta (Madhya-lila 1.206):

bhavantam evanucaran nirantarah
prasanta-nihsesa-mano-rathantarah
kadaham aikantika-nitya-kinkarah
praharsayisyami sanatha-jivitam

“Dengan melayani-Mu secara teratur, seseorang akan dibebaskan dari segala keinginan material dan sepenuhnya damai secara sempurna. Kapankah hamba dapat selalu sibuk sebagai pelayan-Mu yang kekal dan selalu merasa berbahagia karena mempunyai tuan yang cocok?
Dengan membaca penjelasannya, saya menemukan perintah yang sama seperti yang diberikan oleh Srila Prabhupada di pantai Juhu itu: Seperti seekor anjing atau seorang pelayan yang sangat puas karena memiliki tuan yang cerdas dan sempurna, atau seperti seorang anak yang sepenuhnya puas memiliki ayah yang cakap serta bijaksana, makhluk hidup dipuaskan dengan sepenuhnya sibuk dalam pelayanan kepada Tuhan. Dengan demikian ia tahu bahwa dirinya mepunyai tuan yang akan mampu menyelamatkannya dari segala mara bahaya.”
Saya menyadari bahwa Srila Prabhupada adalah pribadi yang sangat sempurna. Beliau selalu berbicara berdasarkan sastra. Dan karena cinta kasih dan rasa kemanusiaannya yang besar, beliau mampu mengatakan hal yang benar dengan cara yang benar yang menyentuh hati pendengar secara mendalam.
Sekarang bila saya berjalan di pantai Juhu dan melihat berbagai jenis anjing yang memiliki tuan dan juga yang tidak memiliki tuan—saya teringat ajaran-ajaran Srila Prabhupada dan berdoa semoga saya tetap selalu menjadi anjing Srila Prabhupada.

cerita oleh HH giriraja swami.
Giriraja Swami adalah anggota GBC ISCKON dan mengajarkan kesadaran Krishna di India, Afrika dan belahan dunia lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s