Aku Telah Melupakan Janjiku Dan Melupakan-Mu.

Tuhan, dengan melupakan DiriMu, hamba datang ke alam duniawi ini. Merasakan kesengsaraan dan derita, berbagai hal menyedihkan yang kuanggap kebahagiaan. Kini hamba datang pada kaki padma-Mu untuk mengungkapkan kisah sedih kehidupanku.

Dahulu ketika hamba terikat erat dalam kandungan ibu. Ruang sempit yang menye-sakkan dan sungguh menyiksa. Engkau menampakkan Diri sekejap mata dan memberi kelegaan. Tapi setelah itu lenyap dan meninggalkan hambaMu ini seorang diri. Saat itu hamba berpikir dan berjanji, “Setelah dilahirkan kali ini, hamba akan memujaMu dengan sepenuh hati”. Tetapi ternyata begitu lahir hamba memilih terperangkap dalam jaring-jaring karma dunia khayalan yang tanpa akhir. Hamba bahkan tidak memiliki setetespun pengetahuan sejati.

Sebagai anak kesayangan yang didekap dalam pelukan kasih keluarga. Hamba melewati hari-hari penuh senyum dan tawa. Cinta ayah dan ibu membuat hamba melupakan-Mu lebih jauh lagi. Kini hamba mulai berpikir betapa dunia ini adalah tempat yang indah. Seiring waktu kini hamba telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Bergaul dan bergembira dengan sesama. Terbuai dengan indahnya pujian akan prestasi dan pengetahuanku. Bahagia dengan bayangan masa depan yang menyenangkan. Oh, hamba sepenuhnya melupakan DiriMu dan janji itu. Terkadang kesedihan datang dan membuat hamba berpaling pada-Mu. Mengingatkan janji yang terlupakan. Terkadang kasih karunia-Mu tercurah pada hamba. Tapi nikmat itu kuanggap sebagai hasil kerja keras dan usaha sendiri. Akhirnya kehadiranMu kembali hamba anggap angin lalu. Terkadang kecerdasan hamba bekerja, mengingatkan pada janji yang belum terpenuhi. Tapi kenikmatan semu masa muda, membuat hamba menunda-nunda. Dalam kebodohan hamba berpikir, “Oh saatnya belum tiba. Bila aku sudah tua, barulah aku akan memuja Tuhan tanpa henti dengan sepenuh hati”.

Dengan segala kenikmatan duniawi hamba telah berhasil melupakan Diri-Mu. Tapi kini satu yang masih tetap kuingat. Kematian tidak membiarkan dirinya untuk dilupakan. Barulah kemudian hamba ber-pikir, “Akankah aku sempat tua? Masihkah tersisa waktu bagi diriku? Setahunkah? Se-bulankah? Seminggukah? Seharikah? Se-jamkah? Semenitkah? Atau justru sedetik lagi………………………………………………………” HARE KRISHNA…! semoga bermanfaat..!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s