Sri Caitanya Mahaprabhu Gambaran Singkat Riwayat dan Ajaran-Nya

Sri Caitanya Mahaprabhu, guru besar penyebar cinta kasih kepada Tuhan dan bapak pengucapan nama suci Tuhan secara beramai-ramai, memunculkan Diri-Nya di Sridhama Mayapura, salah satu desa yang berada di pinggir kota Navadvlpa daerah Benggala, yakni2 Riwayat dan Ajaran Sri Caitanya

pada malam Purnima PhalgunI tahun 1407 Sakabda (bulan Februari tahun 1486 Masehi).

Ayah Sri Caitanya, Sri Jagannatha Mis’ra, adalah seorang brdhmana yang berpendidikan tinggi. Beliau berasal dari daerah Sylhet, dan telah datang ke Navadvlpa sebagai seorang pelajar, sebab pada masa itu Navadvlpa merupakan pusat pendidikan dan ke-budayaan. Jagannatha Misra bermukim di tepi Sungai Gangga setelah menikah dengan SrimatI Sacldevl, putri Srlla Nllambara CakravartI, sarjana besar dan bijaksana dari Navadvlpa.

Jagannatha Mis’ra dikaruniai beberapa orang anak perempuan yang lahir dari istrinya yang bernama SrimatI Sacldevl, namun semuanya meninggal dunia saat masih belia. Dua orang putranya yang bertahan hidup, yakni Sri Vis’varupa dan Vis’vambhara, akhir-nya menjadi tumpuan dan curahan kasih sayang mereka. Putra yang kesepuluh yang merupakan putra bungsu bernama Vis’vambhara, belakangan dikenal sebagai Nimai Pandita, dan kemudian setelah melepaskan kehidupan duniawi bernama Sri Caitanya Mahaprabhu yang sangat termashyur.

Sri Caitanya Mahaprabhu memperlihatkan kegiatan rohani-Nja selama empatpuluh delapan tahun, dan kemudian berpulang pada tahun 1455 Sakabda di Purl.

Sri Caitanya tinggal di Navadvlpa sebagai seorang siswa dan juga hidup berumah tangga selama duapuluh-empat tahun pertama dalam seluruh usia-Nya. Istri pertama-Nya bernama SrimatI Laksmlpriya, yang meninggal dunia dalam usia muda ketika Sri Caitanya sedang berada jauh dari rumah. Setelah kembali dari Benggala Timur, ibu-Nya meminta Dia untuk menikah lagi, dan permintaan tersebut dikabulkan oleh-Nya. Istri kedua Sri Caitanya bernama SrimatI Visnupriya Devl, yang sepanjang hidupnya me-nahan rindu terhadap Sri Caitanya karena Sri Caitanya mulai menjalani tahap hidup sannyasa pada usia duapuluh empat tahun dimana ketika itu SrimatI Visnupriya baru berusia enambelas tahun.

Setelah menjadi seorang sannyasi, Sri Caitanya menetap di Jagannatha Purl untuk memenuhi permintaan ibu-Nya, SrimatI

Riwayat dan Ajaran £ri Caitanya 3

Sacldevl. Sri Caitanya tinggal di Purl selama duapuluh empat tahun. Selama enam tahun dalam kurun waktu tersebut, Sri Caitanya melakukan perjalanan keliling India (khususnya wilayah India Selatan) untuk mengajarkan Srlmad-Bhagavatam.

Sri Caitanya tidak hanya mengajarkan Srlmad-Bhagavatam, tetapi juga menyebarluaskan cara yang paling praktis dalam menerapkan ajaran Bhagavad-gitd. Dalam Bhagavad-gitd Sri Krsna dijelaskan dengan penuh keterangan sebagai Personalitas Tuhan Yang Maha-mutlak. Amanat terakhir dari kitab suci agung yang berisi penge-tahuan spiritual tersebut adalah memerintahkan orang untuk meninggalkan segala macam keyakinan lain selain kepada Tuhan, Sri Krsna sebagai satu-satunya yang dipuja. Kemudian Sri Krsna menjamin bahwa semua penyembah-Nya akan dilindungi dari segala reaksi dosa dan tidak ada sesuatu pun yang harus dicemaskan.

Sangat disayangkan, meski sudah langsung diamanatkan oleh Sri Krsna dan ajaran-ajaran Bhagavad-gltd, orang yang kurang cerdas keliru menganggap Sri Krsna tidak lebih daripada seorang tokoh besar dalam sejarah, dan dengan demikian mereka tidak menerima Sri Krsna sebagai Personalitas Tuhan Yang Maha Esa yang asli. Orang yang kurang berpengetahuan tersebut telah dikelirukan oleh banyak orang yang bukan penyembah Tuhan. Dengan demikian, rupanya ajaran Bhagavad-gitd telah disalahtafsirkan bahkan oleh sarjana-sarjana terkenal. Sepeninggalan Sri Krsna, ada beratus-ratus ulasan Bhagavad-gttd yang disusun oleh para sarjana terpelajar, dan hampir semuanya didorong oleh kepentingan pribadi masing-masing.

Sri Caitanya Mahaprabhu adalah Tuhan Sri Krsna yang sama. Akan tetapi, pada zaman ini Tuhan Sri Caitanya datang sebagai seorang penyembah Tuhan untuk menyampaikan kepada rakyat umum, kepada para pemimpin agama, dan kepada para pemikir, tentang kedudukan rohani Sri Krsna, Tuhan Yang Mahakekal, sebab dari segala sebab. Intisari dari ajaran Sri Caitanya adalah bahwasanya Sri Krsna, yang muncul di Vrajabhumi (Vrndavana) sebagai putra raja Vraja (Maharaja Nanda), adalah Personalitas Tertinggi Tuhan

Riwayat dan Ajaran Sri Caitanya

Yang Maha Esa, dan karena itu Sri Krsna patut dipuja oleh setiap orang. Vrndavana-dhama tidak berbeda dengan £rl Krsna Sendiri, sebab nama-Nya, kemasyhuran-Nya, serta tempat kelahiran-Nya semuanya identik dengan Tuhan Sendiri sebagai pengetahuan yang mutlak. Karena itu, Vrndavana-dhama juga patut dipuja seperti memuja Tuhan. Hubungan rohani yang tertinggi kepada Tuhan telah diperlihatkan oleh para gadis Vrajabhumi dalam bentuk cinta-kasih rohani yang murni kepada Krsna. $”rl Caitanya Mahaprabhu membenarkan cara tersebut sebagai bentuk pemujaan yang paling luhur. Karena itu Sri Krsna Caitanya menerima §rimad-Bhagavata Purdna sebagai sastra yang tanpa noda untuk mengerti tentang Tuhan, dan Dia mengajarkan bahwa tujuan tertinggi kehidupan semua orang adalah mencapai prema, cinta kasih Tuhan.

Riwayat dan Ajaran Sri Caitanya 5

Banyak penyembah 3ri Caitanya seperti Srlla Vrndavana dasa Thakura, 3rlla Locana dasa Thakura, Srlla Krsnadasa Kaviraja Gosvami, 6ri Kavikarnapura, £rl Prabhodhananda Sarasvatl, Sri Rupa Gosvami, £ri Sanatana Gosvami, $”rl Raghunatha Bhatta Gosvami, £rl Jiva Gosvami, Sri Gopala Bhatta Gosvami, Sri Ragh’jnatha da^a Gosvaml. dan selama duaratus tahun terakhir ini, seperti £rila Visvanatha Cakravarti, Sri Baladeva Vidyabhusana, £ri £yamananda Gosvami, Sri Narottama dasa Thakura, Sri Bhaktivinoda Thakura, dan akhirnya Sri Bhaktisiddhanta Sarasvatl Thakura (guru spiritual kami) serta banyak cendekiawan dan pe­nyembah yang maju telah menyusun berjilid-jilid buku dan literatur yang berhubungan dengan riwayat dan ajaran Sri Caitanya. Literatur-literatur tersebut semua berdasarkan sdstra-sastra seperti Veda-veda, Purdna-purana, Upanisad-upanisad, Ramdyana, Maha-bharata dan sejarah-sejarah serta literatur-literatur yang otentik yang diakui oleh para dcdrya terkemuka. Semua itu ditampilkan dalam komposisi yang sangat unik dengan penyampaian yang tidak ada bandingannya, dan mereka melampaui alam duniawi. Sayang sekali, penduduk dunia ini tidak mengenal mereka, namun, jika literatur-literatur tersebut, yang sebagaian besar dalam bahasa Sanskerta dan Benggala, terbit menerangi dunia dan ketika mereka sampai berada di tangan para pemikir, maka kejayaan India dan pesan tentang cinta-kasih akan membanjiri dunia yang muram ini. Dunia saat ini sedang mencari kedamaian dan kemakmuran meng-gunakan berbagai metode bersifat khayal yang tidak dibenarkan oleh para acdrya dalam garis perguruan.

Para pembaca buku yang menguraikan riwayat dan ajaran Sri Caitanya yang singkat ini akan memperoleh manfaat yang besar jika mempelajari lebih lanjut buku-buku karya Srlla Vrndavana dasa Thakura (Sri Caitan^a-bhagavata) dan Srlla Krsnadasa Kaviraja Gosvami (Sri Caitanya-caritdmrta). Masa-masa awal riwayat Sri Caitanya diungkapkan dengan cara yang sangat menarik oleh penulis Caitarvya-bhagavata, dan sejauh menyangkut ajaran-ajaran Sri Caitanya, semua itu diterangkan lebih jelas dalam 6 Riwayat dan Ajaran Sri Caitanya

caritamrta. Sekarang ajaran-ajaran tersebut dapat dibaca dalam buku kami yang berjudul Aj’aran Sri Caitanya.

Masa-masa awal riwayat Sri Caitanya dicatat oleh salah seorang pengikut setia-Nya yang paling terkemuka, bernama Srlla Murari Gupta, seorang ahli pengobatan pada masa itu, sedangkan bagian selanjutnya dari riwayat Sri Caitanya Mahaprabhu dicatat oleh sekretaris pribadi-Nya yang bernama Sri Damodara Gosvami, atau Srlla Svarupa Damodara, yang hampir selalu mendampingi Sri Caitanya Mahaprabhu di Purl. Dua orang pengikut yang paling setia itu mencatat hampir semua peristiwa yang menyangkut ke-giatan Sri Caitanya. Kemudian, semua buku tentang Sri Caitanya Mahaprabhu, seperti yang disebutkan sebelumnya, disusun berdasar-kan kadaca-kadacd (buku harian) yang ditulis oleh Srlla Damodara Gosvami dan Murari Gupta.

Riwayat Sri Caitanya Mahaprabhu.

Oleh. Bhaktivinode Thakura

[Penjelasan ini diterbitkan untuk pertama kalinya dimuat dalam karya tulis singkat oleh Srila Bhaktivinode Thakura berjudul “Sri Caitanya Mahaprabhu: Riwayat dan AjaranNya.”(Sri Caitanya Mahaprabhu His Life and Precepts.) Pada tanggal 20 Agustus tahun 1896]

Sri Caitanya Mahaprabhu dilahirkan di Mayapur di kota Nadia pada waktu magrib tanggal 23 bulan Phalguna tahun 1407 Sakabda, yaitu 18 Februari tahun 1486. Pada saat Sri Caitanya Mahaprabhu di lahirkan, ada gerhana bulan. Sesuai dengan kebiasaan pada saat-saat seperti itu, para penduduk Nadia sedang mandi di sungai Bhagirathi (Gangga) dengan mengucapkan ‘Haribol’ dengan suara yang keras. Ayah Sri Caitanya ber­nama jagannatha Misra adalah seorang brahmana miskin yang mengikuti ajaran Veda. Ibu Sri Caitanya bernama Saci-devi adalah wanita yang me­miliki segala sifat yang baik. Ayah dan ibu Sri Caitanya keturunan dari ke­luarga-keluarga brahmana yang berasal dari daerah Sylhet. Sri Caitanya Mahaprabhu anak yang tampan sekali, dan ibu-ibu tetangga datang untuk melihat Sri Caitanya Mahaprabhu dengan membawa bingkisan. Kakek Sri Caitanya yang bernama Pandita Nilambara Cakravarti adalah seorang ahli ilmu perbintangan yang terkenal. Nilambara Cakravarti meramalkan bahwa anak itu akan menjadi kepribadian yang agung sekali sesudah beberapa waktu. Karena itu, Nilambara Cakravarti memberikan nama Visvambhara kepada Sri Caitanya. Ibu-ibu dari daerah itu memberikan namaCaurahari kepada Sri Caitanya, Mahaprabhu karena wajahNya berwarna kuning emas,­dan ibuNya menjulukinya dengah nama Nimai karena Beliau dilahirkan dekat sebatang pohon nimba. Anak itu tampan sekali. Karena itu, semua orang senang sekali melihat Beliau setiap hari. Dalam masa kanak­-kanakNya Sri Caitanya Mahaprabhu suka bermain dan bercanda. Sesudah Sri Caitanya berumur lima tahun, Beliau diterima sebagai murid di sebuah pathasala (sekolah). Disekolah itu Beliau menguasai bahasa Bengala dalam waktuyang singkat sekali. Dalam kebanyakan riwayat hidup Sri Caitanya yang disusun pada waktu itu, disebutkan ceritera-ceritera tertentu mengenai Caitanya. Ceritera­ceritera itu merupakan catatan-catatan sederhana mengenai keajaiban yang dilakukan selama usia muda Beliau. Disebutkan bahwa waktu Sri Caitanya masih bayi di pangkuan ibunya Beliau menangis terus menerus, dan bila ibu-ibu tetangga menyanyi ‘Haribol’ Beliau berhenti menangis. Karena itu ‘Haribol’ senantiasa diucapkan di rumah Sri Caitanya. Kejadian ini merupakan ramalan tentang missi Sri Caitanya pada kemudian hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s