Krishna Sumber Kebahagiaan

Krishna—getaran suara ini bersifat transendental (melampaui hal-hal material). Krishna berarti kebahagiaan tertinggi. Setiap manusia mencari kebahagiaan. Akan tetapi, kita tidak mengetahui cara yang sempurna untuk men-cari kebahagiaan. Dalam usaha kita untuk mencari kebahagiaan melalui konsep hidup yang materialistik, kita dibuat frustrasi pada setiap langkah karena kita tidak memiliki informasi mengenai tingkatan yang harus dicapai untuk memeroleh kebahagiaan sejati. Kita telah memelajari bahwa kita bukanlah badan; kita adalah kesadaran. Sebenarnya tidak persis kesadaran, sebab kesadaran itu sebenarnya merupakan tanda-tanda dari identitas kita yang sejati: kita adalah roh (jiwa) yang murni, yang kini terkungkung di dalam badan material. Ilmu pengetahuan modern tidak memberikan penekanan terhadap hal ini; oleh sebab itu para ilmuwan kadangkala tersesat dalam pemahaman mereka tentang roh. Akan tetapi keberadaan sang roh adalah suatu fakta, suatu fakta yang bisa dimengerti oleh semua orang melalui hadirnya kesadaran. Seorang anak kecil pun dapat mengerti bahwa kesadaran itu adalah tanda-tanda keberadaan sang roh.

Keseluruhan proses yang sedang berusaha kita pelajari dari Bhagavad-gita (Nyanyian Tuhan) adalah bagaimana membawa diri kita menuju tingkat kesadaran. Jika kita bertindak dari tataran kesadaran, maka kita tidak akan lagi didorong ke tataran konsep badaniah ini; dan, jika kita bisa terus melanjutkan berada pada tataran tersebut, jika kita bisa terus bertindak dalam kesadaran yang murni, maka, pada saat badan ini berakhir kita akan bebas dari pencemaran material, kehidupan spiritual kita akan terbangkitkan, dan hasil akhirnya adalah bahwa pada kehidupan kita yang berikutnya, setelah kita meninggalkan badan ini, kita akan memeroleh kehidupan spiritual kita yang sempurna dan abadi. Sang roh bersifat kekal, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya.

Bahkan setelah badan ini hancur, kesadaran tidak hancur. Sebaliknya, kesadaran dipindahkan ke jenis badan yang lain dan kembali membuat kita sadar akan konsep hidup material. Hal itu juga diuraikan di dalam Bhagavad-gita Pada saat kematian, jika kesadaran kita suci, kita bisa yakin bahwa kehidupan kita yang berikutnya tidak akan bersifat material—kehidupan kita yang berikutnya akan menjadi spiritual. Jika kesadaran kita tidak suci pada saat kematian tiba, maka, setelah meninggalkan badan ini, dicapai untuk bisa mendapatkan kebahagiaan sejati. Untuk dapat menikmati kebahagiaan sejati, pertama-tama orang harus mengerti bahwa dirinya bukanlah badan ini, melainkan kesadaran. Sebenar-nya tidak persis kesadaran, sebab kesadaran itu sebenarnya merupakan tanda-tanda dari identitas kita yang sejati: kita adalah roh (jiwa) yang murni, yang kini terkungkung di dalam badan material. Ilmu pengetahuan modern tidak memberikan penekanan terhadap hal ini; oleh sebab itu para ilmuwan kadangkala tersesat dalam pemahaman tentang roh. Akan tetapi, keberadaan sang roh adalah sebuah fakta. Fakta ini bisa dimengerti oleh semua orang melalui hadirnya kesadaran. Seorang anak kecil pun dapat mengerti bahwa kesadaran itu adalah tanda-tanda adanya sang roh.

Keseluruhan proses yang sedang berusaha kita pelajari dari Bhagavad-gita (Nyanyian Tuhan) adalah bagaimana membawa diri kita menuju tingkat kesadaran. Jika kita bertindak dari tataran kesadaran, maka kita tidak akan lagi terdorong ke tataran konsep badaniah ini. Kemudian, jika kita mampu tetap berada pada tataran tersebut, jika kita bisa terus bertindak dalam kesadaran yang murni, maka pada saat badan ini berakhir kita akan terbebas dari pencemaran material. Kehidupan spiritual kita akan terbangkitkan. Hasil akhirnya adalah bahwa pada kehidupan kita yang berikutnya, setelah kita meninggalkan badan ini, kita akan memeroleh kehidupan spiritual yang sempurna dan abadi. Sang roh bersifat kekal, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya.

Kesadaran tidak hancur bahkan setelah badan ini hancur. Sebaliknya, kesadaran dipindahkan ke jenis badan yang lain, lalu kembali membuat kita sadar akan konsep hidup material. Hal itu juga diuraikan di dalam Bhagavad-gita Pada saat kematian, jika kesadaran kita suci, kita bisa yakin bahwa kehidupan kita yang berikut-nya tidak akan bersifat material—kehidupan kita yang berikutnya akan menjadi spiritual. Jika kesadaran kita tidak suci pada saat kematian tiba, maka setelah meninggalkan badan ini kita akan dipaksa untuk menerima badan material lagi. Seperti itulah proses yang berjalan. Itulah Hukum Alam.

Sekarang ini kita memiliki badan yang terbatas. Badan yang kita lihat ini adalah badan kasar. Badan ini persis seperti pakaian dan jaket: di balik jaket ada pakaian, dan di balik pakaian ada badan. Demikian pula, sang roh yang murni tertutupi oleh pakaian dan jaket. Yang merupakan pakaian sang roh adalah pikiran, kecerdasan dan ego palsu. Ego palsu maksudnya konsep yang salah yang membuat kita menganggap diri kita adalah materi (zat), sebuah produk dunia material ini. Konsep yang salah ini membuat diri kita terkungkung. Sebagai contoh, oleh karena saya lahir di India, saya menganggap diri saya adalah orang India. Oleh karena Anda lahir di Amerika, Anda menganggap diri Anda orang Amerika. Akan tetapi, sebagai roh yang murni kita bukanlah orang India ataupun orang Amerika. Kita adalah roh yang suci. Hal-hal lainnya ini hanya-lah sebutan-sebutan. Orang Amerika, orang India, orang Indonesia, orang Jerman, atau orang Inggris; kucing atau anjing, lebah atau kelelawar, suami atau istri: semua ini hanyalah julukan-julukan. Dalam kesadaran spiritual, kita terbebas dari semua julukan-julukan tersebut. Keadaan terbebas tersebut tercapai apabila kita senantiasa terhubung dengan Roh Tertinggi, Krishna.

Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional dimaksudkan untuk membuat diri kita senantiasa terhubung dengan Krishna. Krishna dapat senantiasa terhubung dengan kita sebab Krishna mahaperkasa. Oleh karena itu, Krishna bisa terhubung sepenuhnya dengan kita melalui kata-kata-Nya. Tidak ada perbedaan antara Krishna dan kata-kata Krishna. Itulah artinya mahaperkasa. Mahaperkasa berarti bahwa segala sesuatu mengenai Krishna memiliki potensi atau kemampuan yang sama dengan Krishna. Sebagai contoh, di dunia material ini, jika kita merasa haus dan kita menginginkan air minum, hanya mengucapkan “Air, air, air, air,” tidak akan bisa memuaskan dahaga kita, sebab kata “air” ini tidak memiliki potensi yang sama dengan air itu sendiri. Kita membutuhkan air yang sebenarnya untuk memuaskan dahaga kita. Namun, di dunia transendental (dunia yang melampaui dunia material) yang mutlak, tidak ada perbedaan seperti itu. Nama Krishna, sifat Krishna, kata-kata Krishna—segalanya adalah Krishna dan segalanya memberikan kepuasan yang sama.

Beberapa orang berargumen bahwa Arjuna bisa berbicara dengan Krishna karena Krishna hadir di hadapannya, sedangkan Krishna tidak hadir bagi diri kita. Jadi bagaimana kita bisa mendapatkan petunjuk dari Krishna? Namun, sebenarnya tidaklah demikian. Krishna hadir melalui kata-kata-Nya, yakni Bhagavad-gita Di India, apabila kita berbicara tentang Bhagavad-gita atau Srimad-Bhagavatam, biasanya kita melakukan puja dengan mempersembahkan bunga-bungaan, atau dengan mempersembahkan benda-benda lain yang dibutuhkan dalam pemujaan. Demikian pula dalam agama Sikh, walaupun mereka tidak memiliki suatu wujud Arca tertentu, mereka memuja kitab yang bernama Granthasahib. Barangkali beberapa dari Anda pernah mendengar tentang kelompok komunitas Sikh. Mereka memuja Grantha. Demikian pula, kaum Muslim memuja Al-Quran, dan orang-orang Kristen memuja Injil. Merupakan sebuah fakta bahwa Yesus Kristus hadir melalui kata-kata beliau. Krishna juga hadir melalui kata-kata-Nya.

Kepribadian-kepribadian yang datang dari dunia transendental ini, baik Tuhan maupun putra Tuhan, mempertahankan identitas transendentalnya tanpa tercemar oleh dunia material. Itulah kebesaran mereka. Kita terbiasa mengatakan bahwa Tuhan Mahabesar. Mahabesar atau mahaperkasa berarti bahwa Tuhan tidak berbeda dengan nama-Nya, sifat-Nya, kegiatan-Nya, dan ajaran-Nya. Oleh sebab itu, pembahasan Bhagavad-gita sama baiknya dengan pembahasan bersama Krishna Sendiri.

Krishna berada di hati Anda, dan Krishna juga berada di hati saya. īśvaraḥ sarvabhūtānāḿ hṛd-deśe ‘rjuna tiṣṭhati [Bg. 18.61]. Tuhan bersemayam di hati setiap orang. Tuhan tidaklah jauh dari kita. Tuhan senantiasa hadir di dekat kita. Tuhan begitu baik hingga Tuhan tetap bersama kita menemani kita menjalani kelahiran demi kelahiran yang terjadi berulangkali. Tuhan sedang menunggu kapan kita akan beralih kepada-Nya. Tuhan begitu murah hati hingga walaupun kita mungkin telah melupakan-Nya, Dia tidak pernah melupakan kita. Seorang anak barangkali melupakan ayahnya, tapi seorang ayah tidak pernah melupakan anaknya. Demikian pula, Tuhan, ayah yang asli bagi segalanya, ayah semua orang, ayah semua makhluk hidup, tidak akan pernah mengabaikan kita. Barangkali kita memiliki badan-badan yang berbeda-beda, namun badan-badan itu hanyalah pakaian dan jaket kita. Badan itu tidak ada hubungannya dengan identitas kita yang sejati. Identitas kita yang sejati adalah roh yang suci, dan roh yang suci tersebut adalah bagian percikan dari Tuhan. Terdapat 8.400.000 jenis kehidupan. Bahkan para ahli biologi dan ahli anthropologi pun tidak mampu menghitung secara akurat ada berapa banyak jenis kehidupan. Akan tetapi, dari Kitab Suci wahyu yang absah kita memeroleh informasi ini. Terdapat 400.000 jenis kehidupan manusia, dan terdapat 8.000.000 jenis kehidupan lainnya. Akan tetapi Krishna, Tuhan Yang Maha Esa, menyatakan bahwa semua jenis kehidupan itu, apakah itu binatang, manusia, ular, dewa, setengah dewa—apa pun—mereka semua sejatinya adalah putra-putra-Nya.

Sang ayah memberikan benih, yang diterima oleh sang ibu. Kemudian badan terbentuk, sesuai dengan badan sang ibu. Dan ketika badan sudah terbentuk sepenuhnya, ia keluar—baik dari kucing, dari anjing, atau dari manusia. Itulah proses berketurunan. Sang ayah memberikan benih, dan benih itu terendam di dalam dua jenis cairan sekresi di dalam rahim sang ibu, dan pada malam pertama badan itu masih berbentuk seperti sebutir biji. Kemudian, perlahan-lahan ia berkembang. Berkembanglah sembilan lubang: dua telinga, dua mata, hidung, mulut, perut, kemaluan, dan dubur.

Sesuai dengan karma-nya yang terakhir, seseorang mendapatkan badan untuk dia bisa menikmati ataupun menderita. Seperti itulah proses kelahiran dan kematian. Setelah menyelesaikan kehidupan saat ini, orang kembali mengalami kematian, lalu ia kembali masuk ke dalam rahim ibu tertentu. Maka kemudian lahir jenis badan yang lain lagi. Inilah proses reinkarnasi.

Kita hendaknya sangat cerdas untuk mengetahui cara bagaimana kita bisa menghentikan proses kelahiran dan kematian serta pergantian badan yang terjadi berulangkali ini. Itulah hak istimewa yang dimiliki oleh bentuk kehidupan manusia. Kita dapat menghentikan proses pergantian badan yang terjadi berulangkali, yang terjadi melalui kelahiran dan kematian ini. Kita bisa mendapatkan kembali wujud spiritual kita yang sejati dan merasa penuh keba-hagiaan, penuh pengetahuan dan kehidupan yang abadi. Itulah tujuan evolusi sang roh. Kita hendaknya tidak melewatkan kesem-patan ini. Keseluruhan proses untuk menuju pembebasan (moksa) dimulai persis pada saat kita memulai kegiatan mengucapkan dan mendengarkan nama suci Tuhan pada saat ini. Saya ingin memper-lihatkan bahwa kegiatan mengucapkan nama suci Tuhan (Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare) dan mendengarkan kebenaran-kebenaran dari Kitab Bhagavad-gita ini sama baiknya dengan pergaulan secara langsung dengan Krishna. Hal ini dinyatakan di dalam Bhagavad-gita Proses ini disebut k…rtana. Bahkan jika seseorang tidak mengerti bahasanya, namun hanya dengan mendengarkannya saja ia akan tetap memeroleh manfaat yang baik. Aset yang diperolehnya ini akan membawanya ke arah kehidupan yang saleh, bahkan jika ia tidak memahaminya—seperti itulah kekuatan yang dimiliki oleh mantra ini.

Ada dua topik mengenai Krishna. Dua jenis topik. Topik yang satu adalah Bhagavad-gita ini. Bhagavad-gita disabdakan oleh Krishna. Dan topik yang satu lagi yang mengenai Krishna adalah Srimad-Bhagavatam . Kitab ini membahas tentang Krishna. Jadi, ada dua jenis Krishna katha (topik), dan keduanya memiliki potensi yang sebanding sebab keduanya berhubungan dengan Krishna.

Oleh karena Bhagavad-gita disabdakan di tengah Medan Perang Kuruketra, beberapa orang menanyakan apa urusan kita dengan medan pertempuran itu. Kita tidak punya urusan apa pun dengan medan pertempuran manapun. Kita mencari pengetahuan tentang alam spiritual. Lalu, mengapa kita mesti membahas mengenai medan pertempuran itu? Oleh karena Krishna berada di medan pertempuran tersebut, itulah sebabnya keseluruhan medan pertempuran itu telah di-Krishna-kan. Seperti halnya ketika arus listrik melewati logam, keseluruhan logam itu terisi listrik; demikian pula, ketika Krishna tertarik pada suatu hal, maka hal tersebut menjadi di-Krishna-kan. Jika tidak demikian, kita tidak perlu membahas tentang Medan Perang Kuru-ketra. Itulah kebesaran Tuhan Sri Krishna.

Kebesaran Tuhan ini juga diuraikan dalam Srimad-Bhagavatam. Di dalam kitab tersebut ada banyak Krishna katha. Pustaka Veda penuh berisi Krishna katha. Kitab-kitab Veda artinya kitab-kitab yang berisi Krishna katha. Kitab-kitab Suci, termasuk Kitab-kitab Veda, barangkali nampak berbeda-beda, namun semuanya dimaksudkan untuk Krishna katha. Jika kita hanya mendengarkan saja topik-topik tentang Krishna ini, maka apa hasilnya? Topik-topik tersebut adalah getaran suara rohani yang suci, dan hasilnya adalah tercapainya kesadaran spiritual.

Banyak hal yang tidak baik telah menumpuk di hati kita dise-babkan oleh pencemaran material yang terjadi selama banyak kelahiran yang sudah kita jalani. Banyak kali kelahiran—bukan hanya kelahiran saat ini, namun juga kelahiran-kelahiran sebelumnya. Jadi, apabila Krishna katha ini masuk ke dalam hati kita, maka pencemaran yang telah menumpuk itu akan dibersihkan. Hati kita akan dibersihkan dari segala jenis sampah. Dan, begitu semua sampah ini dising-kirkan, maka kita berada dalam kesadaran yang murni.

Sangatlah sulit untuk menghilangkan semua julukan-julukan palsu dari diri kita. Sebagai contoh, saya orang India. Tidaklah mudah untuk segera berpikir bahwa diri saya bukan orang India, melainkan diri saya adalah roh yang suci. Demikian pula, bukanlah pekerjaan yang mudah bagi siapa pun untuk mengakhiri pengidentifikasian dirinya dengan julukan-julukan badaniah ini. Namun, jika kita terus saja mendengarkan Krishna katha, maka hal itu akan menjadi sangat mudah. Lakukanlah percobaan. Lakukanlah eksperimen untuk me-lihat betapa mudahnya Anda akan mampu membebaskan diri Anda dari semua julukan ini. Tentu saja, tidaklah mungkin kita bisa mem-bersihkan sampah dari pikiran kita secara tiba-tiba, namun kita segera merasakan bahwa pengaruh alam material telah berkurang.

Alam material bekerja dalam tiga sifat—kebaikan (sattvam), nafsu (rajas), dan kebodohan (tamas). Kehidupan dalam sifat kebodohan adalah kehidupan yang tanpa harapan. Kehidupan dalam sifat nafsu adalah kehidupan materialistik. Orang yang dipengaruhi oleh sifat nafsu ia menginginkan kenikmatan palsu dalam keberadaan material ini. Oleh karena ia tidak mengetahui kebenaran, ia berkeinginan untuk memerah energi Tuhan hanya untuk menikmati materi (zat). Sifat seperti ini disebut sifat nafsu. Sementara bagi orang yang berada dalam sifat kebodohan, mereka tidak memiliki sifat nafsu maupun sifat kebaikan. Mereka berada dalam kehidupan yang paling gelap. Dengan berada dalam sifat kebaikan, setidaknya secara teori kita dapat mengerti siapa diri kita, apa sebenarnya dunia ini, siapa Tuhan, dan apa hubungan kita dengan-Nya. Inilah yang disebut sifat kebaikan.

Dengan mendengarkan Krishna katha, kita akan terbebas dari tingkatan kebodohan dan nafsu. Kita akan ditempatkan dalam sifat kebaikan. Setidaknya kita akan mendapatkan pengetahuan yang sejati—pengetahuan tentang siapa sebenarnya diri kita ini. Sifat kebodohan itu bagaikan keberadaan binatang. Kehidupan binatang penuh dengan penderitaan. Akan tetapi, binatang tidak tahu bahwa ia sedang menderita. Ambilah contoh tentang babi. Tentu saja, di New York City ini tidak ada nampak babi. Namun di desa-desa di India kita bisa melihat banyak babi. Oh, betapa menderitanya kehidupan babi itu, tinggal di tempat yang kotor, makan kotoran, dan selalu dalam keadaan tidak bersih. Namun, si babi merasa sangat bahagia makan kotoran, selalu melakukan hubungan seks dengan babi betina, dan juga menjadi semakin gemuk. Si babi menjadi sangat gemuk disebabkan semangat menikmati yang ada padanya kendati baginya itu adalah kenikmatan seks.

Kita hendaknya tidak menjadi seperti babi, menganggap diri kita sangat bahagia. Dengan bekerja keras siang dan malam, lalu mela-kukan hubungan seks—kita menganggap bahwa dengan cara seperti ini kita sedang berbahagia. Tapi itu bukanlah kebahagiaan. Hal ini diuraikan di dalam Bhagavatam sebagai kebahagiaan seekor babi. Kebahagiaan manusia tercapai apabila ia berada dalam sifat kebaikan. Dalam keadaan itu baru ia bisa mengerti apa itu kebahagiaan yang sejati.

Jika kita mendengarkan Krishna katha dalam rutinitas kita sehari-hari, maka hasilnya adalah: semua hal kotor di hati kita, yang telah bertumpuk selama kehidupan demi kehidupan yang telah kita jalani, akan dibersihkan. Sebagai sebuah fakta, kita akan melihat bahwa diri kita tidak lagi berada dalam sifat kebodohan atau dalam sifat nafsu, kita akan berada dalam sifat kebaikan. Bagaimana kedudukan dalam sifat kebaikan itu?

Dalam kehidupan ini kita akan menemukan diri kita merasa riang dalam setiap keadaan. Kita tidak akan pernah merasa murung. Di dalam Bhagavad-gita kita menemukan bahwa inilah yang disebut keadaan brahma-bhuta (tingkat tertinggi sifat kebaikan). Kitab-kitab Veda mengajarkan kepada kita bahwa diri kita bukanlah zat (badan) ini . Kita adalah Brahman. Aham brahmasmi. Sripada Sankaracarya mengajarkan ajaran ini kepada dunia. Diri kita bukanlah zat ini; kita adalah Brahman, roh. Apabila keinsafan spiritual benar-benar telah dicapai, maka gejala-gejala hidup kita akan berubah. Bagai-manakah gejala-gejala tersebut? Apabila seseorang berada dalam kesadaran spiritualnya, maka ia tidak akan lagi memiliki keinginan nafsu dan dia tidak memiliki rasa penyesalan. Penyesalan terjadi jika kita mengalami kerugian, dan keinginan nafsu tertuju pada keuntungan.

Dua penyakit telah memberi ciri bagi dunia material ini: Kita bernafsu menginginkan sesuatu yang tidak kita miliki. “Jika saya mendapatkan hal-hal ini maka saya akan bahagia. Saya tidak punya uang, tapi jika saya mendapatkan uang satu juta dolar, maka saya akan bahagia.” Dan apabila kita memiliki uang satu juta dolar, entah bagaimana caranya uang itu akan habis. Kemudian kita akan meratap, “Oh, saya kehilangan uang saya!” Apabila kita bernafsu ingin memeroleh sesuatu, maka itu merupakan suatu jenis penderitaan bagi kita. Dan apabila kita mengalami kerugian atau kehilangan, hal itu juga merupakan penderitaan. Akan tetapi, jika kita berada dalam keadaan brahma-bhuta, kita tidak akan menderita ataupun bernafsu menginginkan sesuatu. Kita akan memandang semua orang dan segala sesuatu secara sejajar. Bahkan jika kita berada di tengah-tengah gangguan yang mengerikan sekalipun, kita tidak akan merasa terganggu. Itulah yang disebut sifat kebaikan.

Bhagavatam berarti ilmu pengetahuan tentang Tuhan. Jika sese-orang mantap dalam ilmu pengetahuan tentang Tuhan, ia akan berada dalam kedudukan brahma-bhuta. Dari tingkatan brahma-bhuta tersebut, kita harus bekerja, sebab di sini kita dianjurkan untuk bekerja. Selama kita memiliki badan material ini, kita harus bekerja. Kita tidak bisa berhenti bekerja; tidaklah mungkin kita bisa berhenti bekerja. Akan tetapi, kita harus menjalankan taktik yoga. Dengan cara demikian, bahkan sambil kita melakukan pekerjaan biasa, yakni pekerjaan yang sudah ditetapkan bagi kita baik oleh takdir ataupun karena keadaan, maka tidak ada kerugian bagi kita. Misalkan bahwa dalam tugas kewajibannya seseorang harus berdusta, dan jika ia tidak berdusta maka bisnisnya tidak akan ber-jalan. Berdusta bukanlah hal yang baik, jadi sepatutnya ia menyimpulkan bahwa bisnisnya itu tidak berlandaskan pada prinsip-prinsip moralitas sehingga mau tidak mau ia harus meninggalkan bisnisnya tersebut. Namun demikian, di dalam Bhagavad-gita kita menemukan anjuran agar kita tidak meninggalkan tugas kewajiban kita. Bahkan jika kita ditempatkan dalam keadaan sedemikian rupa dimana pencaharian kita tidak bisa berjalan tanpa kita melakukan perbuatan yang tidak jujur, kita hendaknya tidak meninggalkan tugas kewajiban. Namun, kita hendaknya berusaha untuk membuatnya menjadi suci. Bagaimana hal itu bisa menjadi suci? Kita hendaknya tidak mengambil hasil pahala dari pekerjaan kita. Hasil itu dimaksudkan untuk Tuhan.

Sukta berarti kegiatan-kegiatan saleh. Dan duskrta berarti kegiatan-kegiatan yang tidak saleh. Pada tataran material kita bisa berbuat saleh ataupun tidak saleh. Kegiatan yang kita lakukan bisa merupakan suatu kegiatan yang saleh, kegiatan yang tidak saleh, ataupun kegiatan yang merupakan campuran, saleh dan tidak saleh. Sri Krishna menyarankan agar kita bertindak dengan pengetahuan tentang Tuhan, atau bhakti kepada Tuhan. Apa maksud dari pengetahuan tersebut? Itu berarti bahwa kita adalah bagian percikan dari kesadaran tertinggi, atau bahwa kita ini bukanlah badan. Jika kita mengidentifikasi diri kita sebagai orang Amerika, sebagai orang India, orang ini atau orang itu, maka itu artinya kita berada pada tataran material. Kita hendaknya tidak mengidentifikasi diri kita apakah sebagai orang Amerika atau sebagai orang India, melainkan sebagai kesadaran yang suci. Diri kita adalah kesadaran yang tunduk pada kesadaran tertinggi; dengan kata lain, kita adalah pelayan Tuhan. Tuhan adalah kesadaran tertinggi, dan kita adalah pelayan-pelayan-Nya. Jadi, untuk pemahaman kita saat ini, ketundukan ber-arti kedudukan sebagai pelayan.

Secara umum kita tidak menjalankan pekerjaan sebagai seorang pelayan dalam hubungan dengan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang mau menjadi pelayan, melainkan semua orang ingin menjadi majikan, sebab menjadi pelayan bukanlah hal yang sangat menyenangkan. Akan tetapi, menjadi pelayan Tuhan sama sekali tidak seperti itu. Kadangkala pelayan Tuhan bisa menjadi majikan Tuhan. Kedudukan sejati sang roh (jiwatma) adalah sebagai pelayan Tuhan, namun di dalam Bhagavad-gita kita dapat melihat bahwa sang majikan, Krishna, telah menjadi pelayan Arjuna. Arjuna duduk di atas kereta, dan Krishna menjadi kusir keretanya. Arjuna bukanlah pemilik kereta itu. Dalam memahami hubungan spiritual kita hendaknya tidak berpedoman pada hubungan material. Kendati semua bentuk hubungan yang pernah kita alami di dunia ini ada di dunia spiritual, hubungan tersebut tidaklah tercemar oleh materi (zat). Oleh sebab itu hubungan tersebut suci dan transendental (melampaui hal-hal material). Sifat hubungan itu berbeda. Apabila kita sudah maju dalam konsep hidup spiritual, kita akan dapat mengerti bagaimana keadaan yang sebenarnya di dunia spiritual atau dunia transendental itu.

Di sini Tuhan mengajarkan kepada kita tentang buddhi-yoga. Buddhi-yoga berarti kita sadar sepenuhnya bahwa diri kita bukan-lah badan ini; dan jika kita bertindak dengan pemahaman seperti ini, maka kita bukanlah badan—kita adalah kesadaran. Itu merupa-kan sebuah fakta. Kemudian, jika kita bertindak pada tataran ke-sadaran, maka kita dapat mengatasi hasil pahala dari pekerjaan yang baik ataupun pekerjaan yang buruk. Ini adalah tingkatan transendental.

Itu berarti bahwa kita bertindak untuk pihak lain—untuk Tuhan. Kita tidak memiliki urusan dengan untung dan rugi. Ketika kita meraih untung, kita hendaknya tidak sombong. Kita hendaknya berpikir, “Keuntungan ini untuk Tuhan.” Dan ketika kita mengalami kerugian, kita hendaknya mengetahui bahwa itu bukanlah tanggung jawab kita. Ini adalah tindakan Tuhan. Dengan demikian, kita akan berbahagia. Hal ini harus kita latih: segala sesuatu untuk Tuhan. Sifat transendental seperti ini harus kita kembangkan. Inilah rahasia untuk melakukan pekerjaan dalam keadaan kita saat ini. Apabila kita bekerja pada tataran kesadaran badaniah, maka kita diikat oleh hasil atau reaksi dari pekerjaan itu. Namun jika kita bekerja melalui kesadaran spiritual, kita tidak diikat baik oleh kegiatan-kegiatan saleh ataupun oleh kegiatan-kegiatan jahat. Itulah tekniknya.

Manisinah—kata ini sangat bermakna. Manisi berarti penuh pemikiran. Apabila seseorang tidak penuh pemikiran, dia tidak akan bisa mengerti bahwa dirinya bukanlah badan. Namun jika seseorang sedikit saja memiliki sifat penuh pemikiran ini dia akan bisa mengerti, “Oh, saya bukanlah badan ini. Saya adalah kesadaran.” Terkadang, ketika kita sedang bersantai, kita dapat mengerti, “Oh, ini jari-jemari saya, dan ini tangan saya. Ini telinga saya, dan ini hidung saya. Semuanya milik saya, tapi saya ini siapa?” Saya merasakan se-mua ini milik saya. Hanya diperlukan sedikit pemikiran. Semua ini milik saya—mata saya, jari-jemari saya, dan tangan saya. Saya, saya, saya, dan siapa saya itu? Itulah dia sang kesadaran, yang sedang berpikir, “Ini milik saya.”

Kemudian, jika diri kita bukan badan ini, lalu mengapa kita mesti bertindak untuk badan ini? Kita semestinya bertindak untuk diri kita itu. Maka, bagaimana saya bisa bertindak untuk diri saya itu? Bagaimana kedudukan saya? Saya adalah kesadaran. Tetapi, kesadaran yang bagaimana? Kesadaran yang tunduk—saya adalah bagian dari kesadaran tertinggi. Lalu, bagaimana semestinya kegiatan saya? Kegiatan saya semestinya berada di bawah bimbingan kesadaran tertinggi. Seperti halnya di kantor, sang direktur adalah kesadaran tertinggi. Sebagai contoh, di kantor semua karyawan bekerja di bawah arahan sang manajer; oleh sebab itu mereka tidak memiliki tanggung jawab langsung. Mereka hanya harus melakukan kewajiban mereka saja. Apakah kewajiban itu saleh atau tidak saleh—itu bukan masalah. Dalam garis komando militer juga demikian. Ada perintah dari sang kapten atau komandan. Para perwira harus melaksanakan perintah tersebut. Seorang perwira tidak mempertimbangkan apakah perintah itu baik atau tidak baik. Itu tidak penting. Ia hanya harus menjalankannya, maka ia adalah seorang perwira sejati. Ia bertindak dengan cara demikian dan ia memeroleh imbalan. Ia memeroleh gelar dan kehormatan. Ia tidak memedulikan hal lain. Sang koman-dan berkata, “pergilah dan bunuhlah musuh”, lalu sang perwira akan memeroleh penghargaan. Apakah menurut Anda orang bisa memeroleh penghargaan dengan cara membunuh? Tidak—penghargaan itu diberikan atas tugas yang telah dilaksanakannya.

Demikian pula, di sini situasinya adalah bahwa Krishna sedang memerintahkan Arjuna. Krishna adalah kesadaran tertinggi. Saya adalah kesadaran, bagian percikan dari kesadaran tertinggi. Jadi, tugas saya adalah bertindak menurut perintah kesadaran tertinggi itu. Sebagai contoh, saya menganggap tangan saya sebagai satu bagian dari badan saya. Sekarang, tangan saya ini bergerak sendiri. “Sesuai perintah saya, saya ingin tangan saya bergerak. Saya ingin kaki saya bergerak. Saya ingin mata saya terbuka lalu melihat.” Jadi, saya sedang memberi perintah, dan bagian-bagian badan saya ini lalu bekerja. Demikian pula, kita semua adalah bagian percikan dari Yang Kuasa. Apabila kita melatih diri untuk bergerak dan ber-tindak sesuai dengan perintah kesadaran tertinggi, maka kita akan melampaui semua kegiatan saleh ataupun tidak saleh ini. Itulah tekniknya. Apa hasil teknik ini? Kita terbebas dari ikatan kelahiran dan kematian. Kita tidak lagi mengalami kelahiran dan kematian.

Para ilmuwan dan filsuf modern tidak memikirkan empat hal ini: kelahiran, kematian, penyakit, dan usia tua. Mereka mengenyampingkan hal-hal ini. “Oh, mari kita berbahagia. Mari kita nikmati hidup ini.” Akan tetapi, kehidupan manusia dimaksudkan untuk menemukan solusi atas ikatan kelahiran, kematian, penyakit, dan usia tua. Jika sebuah peradaban belum menemukan solusi atas empat masalah ini, maka peradaban tersebut bukanlah peradaban manusia. Peradaban manusia dimaksudkan untuk menemukan solusi sempurna atas hal-hal ini.

Jadi, Tuhan bersabda dalam Bhagavad-gita karma-jam buddhi-yuktah. Karma-jam berarti kapan pun ada tindakan, maka pasti akan ada hasil atau reaksinya. Jika orang bertindak buruk, maka hasilnya akan buruk. Namun, dalam pemahaman yang lebih tinggi, semua hasil atau reaksi itu, apakah baik ataupun buruk, semuanya menyebabkan penderitaan. Andaikan bahwa sebagai hasil dari tindakan yang baik, saya memeroleh kelahiran yang baik, penampilan badaniah yang menawan, dan mendapatkan pendidikan yang baik. Barangkali semua hal yang baik ini saya miliki, namun itu tidak berarti bahwa saya terbebas dari penderitaan material. Penderitaan-penderitaan material itu adalah kelahiran, kematian, usia tua dan penyakit. Bahkan jika saya merupakan orang kaya, orang yang rupa-wan, orang yang terdidik, lahir dalam keluarga bangsawan, dsb., tetap saja saya tidak bisa menghindari kematian, usia tua, dan penyakit.

Jadi, kita semestinya tidak terlalu memikirkan kegiatan yang saleh ataupun kegiatan tidak saleh. Kita hanya harus memikirkan kegiatan yang transendental saja. Hal itu akan menyelamatkan kita dari ikatan kelahiran, kematian, usia tua dan penyakit. Itulah hendaknya yang menjadi tujuan hidup kita. Kita hendaknya tidak menginginkan hal-hal yang baik ataupun buruk. Sebagai contoh, misalkan ada seseorang yang sedang menderita akibat suatu penyakit. Ia berbaring di kasur, makan, buang air, semua dilakukannya dalam keadaan yang tidak nyaman. Ia juga harus minum obat yang terasa pahit. Kebersihannya harus selalu dijaga oleh perawat; jika tidak, maka baunya akan sangat tidak enak. Saat ia berbaring dalam keadaan seperti ini, beberapa kawan datang kepadanya lalu menanyakan bagaimana keadaannya. “Ya, saya merasa baik-baik saja.” Baik-baik macam apa? Berbaring tidak nyaman di atas kasur, minum obat yang terasa pahit, dan tidak bisa bergerak! Namun, kendati ia berada da-lam segala ketidaknyamanan ini, ia berkata, “Saya baik-baik saja.” Demikian pula, dalam konsep hidup kita yang materialistik, jika kita berpikir, “Saya bahagia,” maka itu merupakan kebodohan. Tidak ada kebahagiaan dalam kehidupan material. Tidaklah mungkin untuk memeroleh kebahagiaan di dunia ini. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak mengetahui apa itu kebahagiaan. Itulah sebabnya mengapa kata yang satu ini digunakan, manisinah—penuh pe-mikiran.

Kita mencari kebahagiaan melalui cara-cara eksternal, atau artifisal (dibuat-buat). Akan tetapi, berapa lama kebahagiaan itu bisa ber-tahan? Kebahagiaan seperti itu tidak akan bertahan lama. Kita akan kembali ke keadaan sedih. Misalkan, kita merasa bahagia dengan cara mabuk. Itu bukanlah kebahagiaan kita yang sebenarnya. Misal-kan saya dibuat tidak sadarkan diri dengan menggunakan obat bius, dan saya tidak merasakan rasa sakit ketika menjalani operasi. Itu tidak berarti bahwa saya tidak sedang dioperasi. Hal ini bersifat artifisial. Kebahagiaan yang sejati, atau kehidupan yang sejati itu benar-benar ada.

Seperti yang disabdakan di dalam Bhagavad-gita oleh Sri Krishna, orang yang penuh pemikiran akan meninggalkan reaksi atau hasil dari pekerjaannya, sebab ia berada pada tataran kesadaran yang murni. Hasilnya adalah bahwa belenggu kelahiran dan kematian, penyakit dan usia tua ini akan berakhir. Akhir dari semua ini adalah pertemuan dengan identitas yang sejati, Krishna, sumber kenikmatan dan kebahagiaan yang abadi. Di sanalah tempat terdapatnya kebahagiaan sejati yang kita cari-cari.

SOSOK YANG SEMPURNA

Kesadaran Krishna adalah perkumpulan yang sangat penting yang dimaksudkan untuk mengantarkan semua makhluk hidup kembali kepada kesadaran aslinya. Seperti halnya ada banyak rumah sakit jiwa, yang dibangun dengan tujuan untuk mengembalikan kesadaran normal orang yang menderita sakit jiwa, demikian pula tujuan gerak-an kesadaran Krishna ini adalah untuk mengembalikan kesadaran asli semua orang yang sedang menderita sejenis sakit jiwa di dunia material ini.

Orang yang tidak sadar-Krsna dapat dimengerti sebagai orang yang kurang lebih sakit jiwa. Pernah terjadi sebuah kasus pembunuhan di India. Terdakwa dalam kasus itu mengatakan bahwa diri-nya sakit jiwa sehingga ia tidak menyadari apa yang telah ia lakukan. Jadi, untuk memeriksa apakah benar pada saat terjadinya pembunuhan itu ia berada dalam keadaan sakit jiwa, didatangkanlah se-orang psikiater untuk memeriksanya. Sang psikiater menyampaikan pendapatnya dengan mengatakan bahwa ia telah memelajari banyak kasus, dan semua pasien yang pernah ditanganinya kurang lebih dalam keadaan sakit jiwa. Menurut dia pengadilan dapat melepaskan orang ini dari tuntutan atas dasar hal ini, jika diinginkan demikian. Seorang pujangga Vainava yang agung menulis dalam sebuah sajak berbahasa Benggali, “Apabila seseorang dirasuki hantu, maka yang dikatakannya hanyalah hal-hal nonsens. Demikian pula, orang yang berada di bawah pengaruh alam material adalah orang yang sedang kerasukan, dan apa pun yang dikatakannya adalah hal nonsens.” Walaupun seseorang merupakan seorang filsuf atau ilmuwan besar, jika ia kerasukan hantu maya, ilusi, teori apa pun yang diciptakannya dan hal apa pun yang dibicarakannya kurang lebih adalah hal yang nonsens.

Tujuan perkumpulan Kesadaran Krishna ini adalah mengantar orang yang demikian kembali pada kesadarannya yang asli, yakni kesadaran Krishna, atau kesadaran yang jernih. Ketika air tercurah dari awan sebagai hujan, air itu murni—tanpa pencemaran. Akan tetapi, begitu air hujan menyentuh tanah, air itu tercampur dengan lumpur dan menjadi keruh. Demikian pula, diri kita adalah roh, bagian percikan dari Krishna. Oleh karena itu kedudukan dasar kita yang asli adalah semurni kedudukan Tuhan. Dinyatakan di dalam Bhagavad-gita mamaivamo jiva-loke: para makhluk hidup adalah bagian percikan dari Krishna (Bg. 15.7). Seperti halnya sebutir emas adalah juga emas, demikian pula, diri kita adalah bagian sangat kecil dari badan Tuhan sehingga secara kualitatif diri kita sebaik Tuhan. Komposisi kimiawi badan Tuhan sama dengan komposisi badan kita (bukan badan material melainkan badan spiritual kita), sehingga badan kita adalah sebaik badan Tuhan, sebab komposisi kimiawinya sama. Namun seperti halnya air hujan yang jatuh ke tanah, kita pun mengalami kontak dengan dunia material ini, atau alam material, yang dikendalikan oleh energi material Krishna.

Apabila kita berbicara tentang alam, timbullah pertanyaan, “Alam siapa?” Alam Tuhan. Alam ini tidaklah aktif secara tersendiri. Konsep yang menyatakan bahwa alam aktif secara tersendiri adalah konsep yang bodoh. Di dalam Bhagavad-gita dinyatakan dengan jelas bahwa alam material tidaklah bebas atau berdiri tersendiri. Apabila orang yang kurang berpengetahuan melihat sebuah mesin sedang bekerja, maka ia akan berpikir bahwa mesin itu bekerja secara otomatis, namun sebenarnya tidak demikian—ada pengendalinya, walaupun terkadang kita tidak bisa melihat si pengendali yang berada di balik mesin disebabkan oleh penglihatan kita yang terbatas. Ada banyak mesin elektronik yang bekerja dengan sangat menakjubkan, namun di balik alat-alat elektronik itu pasti ada seorang ahli mesin yang menekan tombol penggeraknya. Hal ini mu-dah sekali untuk dimengerti. Oleh karena mesin itu adalah materi (zat), ia tidak bisa bekerja dengan kemampuannya sendiri. Ia baru bisa bekerja di bawah arahan sesuatu yang bersifat spiritual (sang roh). Sebuah pemutar kaset dapat bekerja, namun ia bekerja di bawah kendali seorang makhluk hidup, seorang manusia. Mesin itu lengkap, namun jika ia tidak digerakkan oleh sang roh maka ia tidak dapat bekerja. Demikian pula, kita hendaknya mengetahui bahwa manifestasi alam semesta ini adalah sebuah mesin maha-besar; namun di balik alam material itu ada Tuhan, Krishna.

Krishna bersabda di dalam Bhagavad-gita mayādhyakṣeṇa prakṛtiḥ sūyate sa-carācaram : “Alam material bekerja di bawah arahan dan pengawasan-Ku.” (Bg. 9.10) Ada dua jenis makhluk hidup—yang bisa berpindah tempat (misalnya umat manusia, binatang dan semut) dan yang tidak bisa berpindah tempat (misalnya pepohonan dan gunung). Krishna mengatakan bahwa alam material, yang mengendalikan kedua jenis makhluk hidup itu, bertindak di bawah arahan-Nya. Ada suatu pengendalian tertinggi. Peradaban modern tidak mengerti akan hal ini disebabkan oleh pengetahuan yang sempit. Jadi gerakan kesadaran Krishna ini berusaha untuk memberi pencerahan kepada orang-orang. Semua orang sedang sakit jiwa sebab mereka diarahkan oleh pengaruh tiga sifat alam material. Mereka tidak sedang dalam keadaannya yang normal.

Ada begitu banyak universitas, khususnya di Amerika Serikat, dan ada begitu banyak departemen pengetahuan—mengapa orang tidak membahas topik ini? Di mana ada departemen untuk pengetahuan ini? Pada tahun 1968, ketika saya berada di Boston dan diundang untuk berceramah di Institut Teknologi Massachusetts, pertanyaan pertama yang saya angkat adalah, “Di mana ada departemen teknologi yang menyelidiki perbedaan antara orang yang sudah mati dan orang yang masih hidup?” Ketika seseorang meninggal dunia, ada sesuatu yang hilang pada dirinya. Adakah teknologi yang dapat menggantikan sesuatu yang hilang itu? Mengapa para ilmuwan tidak berusaha menemukan teknologi yang demikian? Oleh karena ini adalah pokok bahasan yang sulit, maka mereka mengenyampingkannya. Mereka sibuk dalam penemuan teknologi untuk kegiatan makan, tidur, berhubungan badan, dan mempertahankan diri. Ini adalah teknologi bagi binatang. Binatang juga berusaha sebaik mungkin untuk bisa makan enak, melakukan hubungan seks yang menyenangkan, tidur, dan mempertahankan diri. Apa beda antara pengetahuan manusia dan pengetahuan binatang? Pengetahuan manusia hendaknya dikembangkan untuk menemukan teknologi yang berurusan dengan perbedaan antara orang yang masih hidup dengan orang yang sudah mati, antara badan yang masih hidup dan sesosok mayat. Pengetahuan spiritual yang demi-kian diajarkan oleh Krishna pada permulaan Bhagavad-gita Arjuna bercakap-cakap dengan Krishna sebagai kawan. Tentu saja, apa saja yang dikatakan Arjuna adalah benar, namun hal itu benar hanya sampai tingkat tertentu. Ada pokok bahasan pengetahuan yang melampaui tingkatan tersebut, yang disebut adhokaja, karena persepsi langsung yang kita terapkan dalam pengetahuan material gagal untuk bisa mendekati pengetahuan tersebut. Kita memiliki banyak mikroskop berkemampuan tinggi untuk melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat dengan penglihatan kita yang terbatas. Namun, tidak ada mikroskop yang bisa digunakan untuk melihat sang roh yang berada di dalam badan. Walau bagaimanapun sang roh itu memang benar ada di dalam badan.

Bhagavad-gita memberitahukan kepada kita bahwa di dalam badan ini ada seorang pemilik badan. Saya adalah pemilik badan saya ini, dan Anda adalah pemilik badan Anda masing-masing. Saya biasa berkata “tangan saya.” Saya tidak pernah berkata “saya tangan.” Oleh sebab itu, karena ini adalah “tangan saya,” maka diri saya berbeda dari tangan ini. Apabila saya berkata “buku saya,” ini mengisyaratkan bahwa buku itu tidak sama dengan diri saya. Demikian pula, ini adalah “meja saya,” “mata saya,” “kaki saya” “ini saya,” “itu saya”—tapi di manakah saya itu? Usaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan ini, itulah yang namanya meditasi. Orang bertanya, “Di manakah saya berada? Siapakah diri saya ini?” Kita tidak bisa mencari jawaban bagi pertanyaan seperti itu melalui usaha-usaha material. Oleh karena itulah semua universitas mengenyampingkan hal ini: “Itu pokok bahasan yang sangat sulit.” Para insinyur merasa sangat bangga karena mampu menciptakan kereta tak berkuda. Dahulu kala kuda-kudalah yang menarik kereta, namun kini ada mobil, sehingga para ilmuwan merasa sangat bangga. “Kami telah menemukan kereta tak berkuda dan burung tak bersayap,” demikian kata mereka. Mereka barangkali mampu menciptakan sayap buatan untuk pesawat terbang. Akan tetapi, apabila mereka mampu men-ciptakan suatu badan yang bisa bergerak tanpa roh, maka baru mereka pantas menerima penghargaan. Penemuan seperti itu tidak akan mungkin terjadi, sebab tidak ada mesin yang bisa bekerja tanpa adanya sang roh. Bahkan komputer pun membutuhkan orang yang sudah terlatih untuk bisa mengoperasikannya. Demikian pula, kita hendaknya mengetahui bahwa mesin mahabesar yang dikenal sebagai manifestasi alam semesta atau alam material ini dikendalikan oleh sang roh yang tertinggi. Roh Tertinggi itu adalah Krishna. Para ilmuwan sedang mencari sebab tertinggi atau pengendali tertinggi alam material ini dan mereka mengajukan berbagai teori dan dalil.Tetapi, cara kita memeroleh pengetahuan sangatlah mudah dan juga sempurna karena kita mendengarkannya dari insan yang sempurna, Krishna. Oleh karena Krishna mengatakan demikian, kita segera mengetahui bahwa mesin alam semesta, dan bumi adalah salah satu bagiannya, bekerja dengan sangat baik dan menakjubkan karena di balik mesin ini ada sesosok pengendali—Krishna. Persis seperti halnya di balik mesin apa pun pasti ada seorang pengendalinya, demikian pula, di balik mesin mahabesar berupa alam material ini ada Krishna.

Cara kita dalam menerima pengetahuan sangatlah mudah. Buku sabda Krishna, Bhagavad-gita adalah buku pengetahuan yang diberi-kan oleh insan yang sempurna. Orang barangkali berargumen bahwa walaupun kita menerima Krishna sebagai insan yang sempurna, orang lain tidak demikian; tapi Krishna adalah insan yang sempurna atas bukti dari banyak otoritas. Kita menerima Krishna sebagai insan yang sempurna tidaklah secara bertingkah semau kita. Tidak. Ada banyak otoritas pengetahuan Veda, misalnya Vysadeva, sang penyusun semua kesusastraan Veda. Kitab-kitab Veda merupakan gudang ilmu pengetahuan, dan penyusunnya, Vysadeva, menerima Krishna se-bagai Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Guru spiritual Vysadeva, Narada, menerima Krishna sebagai Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dan guru spiritual Narada, Brahma, menerima Krishna sebagai Insan Tertinggi. Brahma berkata, ivarah paramah Krishnah: “Pengendali tertinggi adalah Krishna.”

Tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan bahwa dirinya tidak dikendalikan oleh pihak lain. Itu tidak mungkin. Semua orang, tidak memandang betapa pun tinggi kedudukannya, pasti ada satu pihak sebagai pengendali atas dirinya. Akan tetapi, tidak ada yang mengendalikan Krishna; karena itu Krishna adalah Tuhan. Krishna adalah pengendali semua orang, dan tidak ada pihak yang mengendalikan Krishna. Ada banyak orang yang disebut-sebut sebagai Tuhan belakangan ini. Persepsi tentang Tuhan telah menjadi sangat murahan. Khusus-nya yang datang dari India. Orang di negara selain India sedikit beruntung karena di luar India tidak ada orang yang menciptakan tuhan-tuhan murahan. Akan tetapi, di India praktis tuhan-tuhan murahan seperti itu diciptakan setiap hari. Baru-baru ini salah seorang murid saya menyampaikan bahwa seorang tuhan telah datang ke Los Angeles dan orang-orang diminta untuk menyambutnya. Krishna bukanlah tuhan yang seperti itu. Saya telah menyebutkan di dalam kata pengantar buku Krishna bahwa Krishna bukanlah tipe Tuhan yang diciptakan dalam sebuah pabrik ilmu mistik. Tidak. Krishna tidaklah dijadikan Tuhan, Krishna adalah Tuhan.

Di balik alam material yang mahabesar, atau manifestasi alam semesta ini, ada Tuhan—Krishna—dan Dia diterima oleh semua otoritas. Kita juga harus menerima pengetahuan yang sudah diterima oleh para otoritas. Untuk memeroleh pendidikan kita pergi kepada se-orang guru atau ke sekolah ataupun belajar dari ayah dan ibu. Mereka semua ini adalah otoritas, dan kodrat kita adalah belajar dari mereka. Pada masa kanak-kanak, kita biasa bertanya, “Ayah, benda apa ini?” Ayah akan menjawab, “Ini pena,” “Ini kacamata,” atau “Ini meja.” Jadi seorang anak belajar dari ayah dan ibunya—”Ini meja, ini kacamata, ini pena, ini saudara perempuanmu, ini saudara laki-lakimu, dst.” Demikian pula, jika kita mendapatkan informasi dari otoritas, dan jika otoritas tersebut bukan penipu, maka pengetahuan yang kita terima sempurna. Ayah dan ibu tidak akan menipu anaknya apabila anaknya bertanya, mereka akan memberikan informasi yang tepat dan benar. Jika kita mendapatkan informasi dari orang yang benar, itulah pengetahuan yang sempurna. Jika kita ingin memeroleh kesimpulan melalui cara spekulasi, itu namanya tidak sempurna. Proses induktif, dimana kesimpulan umum diambil setelah mempertimbangkan keadaan-keadaan tertentu, tidak akan pernah memberikan hasil yang sempurna. Proses seperti itu selalu tidak sempurna.

Oleh karena kita mendapatkan informasi dari insan yang sempurna, Krishna, maka apa pun yang kemudian kita sampaikan juga sempurna. Saya tidak ada mengatakan sesuatu yang tidak disabdakan oleh Krishna atau oleh para otoritas yang telah menerima Krishna. Itulah yang disebut sebagai suksesi murid (garis perguruan). Itulah Kesadaran Krishna. Di dalam Bhagavad-gita Krishna menganjurkan proses penerimaan pengetahuan ini (evam parampara-praptam imam rajarayo viduh). (Bg. 4.2) Pada zaman dahulu pengetahuan disam-paikan secara turun-menurun melalui raja-raja suci yang agung yang merupakan otoritas. Pada saat sekarang ini, yang merupakan otoritas adalah pemerintah atau presiden. Akan tetapi, pada zaman dahulu yang menjadi otoritas atau raja-raja adalah para i—cendekiawan yang sangat terpelajar atau pemuja Tuhan yang ahli pengetahuan, bukan orang biasa. Sistem pemerintahan yang demikian sangatlah bagus. Sebagai kepala pemerintahan, seseorang yang berbakat dan sudah terlatih ia dapat melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dengan penuh kedamaian. Ada banyak contoh dalam peradaban Veda ten-tang betapa sempurnanya raja-raja yang demikian. Dhruva Maharaja adalah salah satu contohnya. Dhruva Maharaja pergi ke hutan untuk mencari Tuhan, dan dengan manjalani tapa-brata yang berat ia ber-temu Tuhan setelah enam bulan. Bagaimana bisa? Ia hanyalah se-orang anak kecil yang berusia lima tahun, putra raja, dan badannya sangat sensitif. Akan tetapi, sesuai dengan anjuran guru spiritualnya, Narada, ia pergi sendirian ke hutan. Pada bulan pertama di hutan, ia hanya makan buah-buahan dan sayur-sayuran setiap tiga hari sekali. Pada tiga bulan berikutnya ia hanya minum air sedikit setiap enam hari sekali. Pada bulan berikutnya, ia hanya menghirup udara setiap duabelas hari sekali. Secara penuh selama enam bulan itu ia berdiri dengan satu kaki dan menjalani tapa-brata ini. Pada akhir masa enam bulan ini, Tuhan termanifestasi di hadapannya. Ia berhadap-hadapan langsung dengan Tuhan. Jika kita menjalani tapa-brata yang demikian, memungkinkan bagi kita untuk juga melihat Tuhan secara langsung berhadap-hadapan. Inilah kesempurnaan hidup kita.

Perkumpulan Kesadaran Krishna ini didasarkan atas tapa-brata, namun pertapaannya tidaklah sulit sekali. Kami menganjurkan siswa-siswa kami untuk tidak melakukan hubungan seks yang di luar aturan. Kita tidaklah menghentikan hubungan seks sama sekali, melainkan kita menerapkan aturan tertentu atas kegiatan tersebut. Kita tidaklah berhenti makan, melainkan kita menerapkan aturan tertentu atas kegiatan makan itu; kita makan Krishna prasadam, yaitu makanan yang kita persembahkan terlebih dahulu kepada Krishna. Kita tidak mengatakan, “tidak makan,” melainkan “tidak makan daging.” Apa sulitnya? Krishna prasadam dibuat dari beraneka ragam buah dan sayuran yang dimasak dengan baik, jadi tidak sulit untuk hanya makan Krishna prasadam. “Tidak melakukan hubungan seks di luar aturan” artinya janganlah seperti kucing dan anjing—meni-kahlah. Puaslah dengan memiliki hanya satu suami atau satu istri. Hidup kita harus teratur dan kita harus menjalani pertapaan, kendati kita tidak mampu menjalani jenis pertapaan berat seperti yang di-lakukan oleh Dhruva Maharaja. Pada masa sekarang ini tidaklah mungkin bagi kita untuk meniru Dhruva Maharaja. Namun, masih memungkinkan bagi kita untuk menjalani metode yang sudah kita tetapkan ini. Jika seseorang menerima prinsip-prinsip ini, ia akan mencapai kemajuan dalam kesadaran spiritual, kesadaran Krishna. Sambil ia menapak maju dalam Kesadaran Krishna, pengetahuannya akan sempurna. Apa gunanya menjadi ilmuwan atau filsuf yang tidak bisa mengatakan akan seperti apa kehidupannya pada kelahiran yang berikutnya? Siswa-siswa dalam Kesadaran Krishna ini dapat dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan: akan seperti apa kehidupan mereka yang berikutnya, siapa Tuhan, siapa diri kita dan apa hubungan kita dengan Tuhan. Pengetahuan mereka sempur-na sebab mereka membaca buku-buku pengetahuan yang sempurna, seperti Bhagavad-gita dan Srimad-Bhagavatam .

Inilah proses yang kita terapkan. Proses ini sangat mudah, dan siapa pun dapat menjalaninya untuk menyempurnakan hidupnya. Jika seseorang berkata, “Saya tidak terdidik; saya tidak bisa membaca buku,” masih tetap ada kemungkinan baginya untuk bisa menyempurnakan hidupnya. Ia bisa mengucapkan Hare Krishna. Krishna telah memberi kita satu lidah dan dua telinga, dan barangkali kita akan terkejut mengetahui bahwa Krishna diinsafi melalui lidah, bukan melalui mata. Setelah lidah, maka indera-indera lainnya akan mengikuti, namun lidah adalah yang utama. Kita harus mengendalikan lidah. Bagaimana cara kita mengendalikannya? Hanya ucapkanlah Hare Krishna dan nikmatilah Krishna prasadam.

Orang tidak bisa mengerti Krishna melalui persepsi inderawi atau melalui spekulasi. Itu tidak mungkin, sebab Krishna sedemikian agungnya hingga Krishna tidak mampu dijangkau oleh indera-indera kita. Krishna dapat dimengerti melalui penyerahan diri. Oleh karena itu Krishna menganjurkan proses ini. Sarva-dharman parityajya mam ekam aranam vraja: “Tinggalkanlah semua proses dharma yang lain dan hanya berserah-diri kepada-Ku.” (Bg. 18.66) Penyakit kita adalah bahwa kita memiliki mentalitas pembangkang. Kita tidak mau menerima otoritas. Namun, kendati kita mengatakan bahwa kita tidak mau menerima adanya otoritas atau penguasa, alam sedemikian perkasanya hingga ia memaksakan kekuasaannya atas diri kita. Kita dipaksa untuk menerima kekuasaan alam melalui indera-indera. Mengatakan bahwa diri kita bebas adalah omong kosong; itulah kebodohan kita. Kita berada di bawah kekuasaan, namun tetap saja kita mengatakan bahwa kita tidak mau menerima otoritas. Ini disebut maya, ilusi. Akan tetapi, adalah benar bahwa kita me-miliki kebebasan sampai taraf tertentu—kita bebas memilih apakah berada di bawah kekuasaan indera-indera atau di bawah kekuasaan Krishna. Otoritas yang terbaik dan tertinggi adalah Krishna, sebab Krishna adalah sosok yang senantiasa mengharapkan kebaikan kita dan Krishna senantiasa berbicara demi keuntungan kita. Mengingat bahwa kita harus menerima suatu otoritas, mengapa tidak menerima otoritas Krishna? Hanya dengan cara mendengarkan tentang keagungan Krishna dari Bhagavad-gita dan Srimad-Bhagavatam dan dengan cara mengucapkan nama Krishna—Hare Krishna—kita dapat segera menyempurnakan hidup kita.

KRISHNA OBJEK CINTA YANG TERTINGGI

(dari Buku Lautan Manisnya Rasa Bhakti)

Bhakti berarti “pelayanan suci”. Setiap jenis pelayanan atau pengabdian mempunyai ciri menarik yang mendorong sang pelaku untuk melanjutkan pelayanannya. Di dunia ini kita semua senantiasa sibuk dalam sejenis pelayanan. Yang mendorong kita untuk mengabdikan diri seperti itu adalah kesenangan yang kita peroleh dari pelayanan itu. Orang yang hidup berkeluarga bekerja keras siang-malam karena didorong oleh rasa kasih sayang terhadap istri dan anak-anaknya. Seorang yang dermawan bekerja dengan cara yang sama demi kasih sayang terhadap keluarga yang lebih besar, dan orang yang nasionalis bekerja demi kepentingan bangsa dan negaranya.

Kekuatan yang mendorong orang yang dermawan, orang yang berumah tangga dan orang yang nasionalis tersebut disebut rasa, atau sejenis rasa (hubungan) yang manis sekali. Bhakti-rasa adalah rasa manis yang lain daripada rasa biasa yang dinikmati oleh orang-orang yang bekerja secara duniawi itu.

Orang duniawi bekerja keras siang dan malam untuk menikmati sejenis rasa tertentu yang dipahami sebagai kepuasan indera-indera. Kenikmatan atau rasa yang dialami dari rasa yang bersifat duniawi itu bersifat tidak tahan lama. Karena itu, orang yang bekerja secara duniawi selalu cenderung mengubah kedudukan kenikmatannya. Seorang pengusaha tidak puas bekerja sepanjang minggu. Ia menginginkan perubahan pada akhir pekan. Karena itu ia pergi ke suatu tempat untuk berusaha melupakan aktivitas bisnisnya. Kemudian, sesudah melupakan aktivitas bisnisnya selama berakhir pekan, kembali dia mengubah kedudukannya dan memulai lagi kegiatan bisnisnya seperti biasa. Kesibukkan material berarti menerima status tertentu selama beberapa waktu, dan kemudian mengubah kedudukan itu. Mengganti-ganti kedudukan seperti itu disebut dengan istilah bhoga-tyaga, yang berarti kedudukan yang silih berganti antara kenikmatan indera-indera dan pelepasan ikatan. Mahkluk hidup tidak bisa tetap mantap dalam kenikmatan material ataupun dalam pelepasan ikatan. Perubahan senantiasa terjadi, dan kita tidak dapat berbahagia dalam kedua keadaan tersebut disebabkan oleh kedudukan dasar kita yang kekal yakni sebagai bagian yang sangat kecil dari Tuhan Yang Mahakuasa.

Kepuasan indera-indera tidaklah tahan lama. Karena itu, kepuasan indera-indera disebut capala-sukha, atau kebahagiaan yang ber-kedip-kedip. Misalnya, kepala-keluarga biasa yang bekerja keras siang dan malam berhasil menyenangkan hati para anggota keluarganya dan dengan demikian ia menikmati sejenis rasa. Akan tetapi, seluruh kemajuan kebahagiaan materialnya segera berakhir ketika badannya berakhir pada saat dia tutup usia. Karena itu, kematian adalah utusan Tuhan bagi golongan manusia yang ateis.

Penyembah Tuhan menginsafi adanya Tuhan melalui pelayanan bhakti, sedangkan orang ateis menginsafi adanya Tuhan dalam bentuk maut. Pada saat seseorang meninggal dunia, segala sesuatu berakhir dan dia harus memulai babak kehidupan baru dalam keadaan baru yang mungkin lebih tinggi atau mungkin lebih rendah dibandingkan kehidupan sebelumnya. Di setiap bidang kegiatan—politik, sosial, nasional maupun internasional—hasil kegiatan kita akan berakhir pada akhir kehidupan ini. Itu sudah pasti.

Akan tetapi, bhakti-rasa, rasa manis yang dinikmati dalam pelayanan cinta kasih rohani kepada Tuhan, tidak berakhir pada waktu kehidupan ini berakhir. Bhakti-rasa berjalan terus untuk selamanya. Karena itu, Bhakti-rasa disebut amta, yang berarti sesuatu yang tak pernah mati, melainkan hidup selamanya. Kenyataan ini dibenarkan dalam semua literatur Veda. Dalam Bhagavad-gita dinyatakan bahwa kemajuan sedikit saja dalam bhakti-rasa akan menyelamatkan sang penyembah dari bahaya yang paling besar—yaitu bahaya kehilangan kesempatan untuk dilahirkan sebagai manusia. Berbagai rasa yang kita peroleh dari perasaan kita dalam kehidupan sosial, kehidupan keluarga atau kehidupan keluarga yang lebih besar dalam masyarakat, kedermawanan, perikemanusiaan, nasionalisme, sosialisme, dsb., tidak menjamin kita akan dilahirkan sebagai manusia dalam penjelmaan berikutnya. Kita menyiapkan penjelmaan kita yang berikutnya melalui kegiatan nyata kita dalam kehidupan saat ini. Mahkluk hidup diberikan jenis badan tertentu sebagai hasil perbuatannya selama ia berada di dalam badan yang dimilikinya sekarang.

Prinsip dasar keadaan hidup ialah bahwa pada umumnya kita cenderung mencintai seseorang. Tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa mencintai orang lain. Setiap makhluk hidup memiliki kecenderungan seperti ini. Binatang seperti harimau pun memiliki kecenderungan mencintai sesuatu, setidak-tidaknya pada tingkatan terpendam, dan manusia jelas berkecenderungan mencintai sesuatu. Akan tetapi, kenyataan yang belum ditemukan adalah dimana kita harus meletakkan cinta kasih kita supaya semua orang berbahagia. Saat ini masyarakat manusia mengajarkan supaya kita mencintai bangsa, keluarga atau diri kita sendiri, tetapi belum ada keterangan tentang di mana kecenderungan mencintai sesuatu seharusnya di-arahkan supaya semua orang berbahagia. Kenyataan yang belum ditemukan itu adalah Krishna, dan proses pelayanan bhakti mengajarkan bagaimana cara menghidupkan kembali cinta kasih kita yang asli terhadap Krishna dan bagaimana cara menjadi mantap pada kedudukan yang memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan yang bahagia.

Pada tingkat dasar, seorang anak mencintai orang tuanya, kemudian saudara-saudaranya. Setiap hari ia bertumbuh semakin dewasa dan mulai mencintai keluarganya, para tetangga, masyarakat, lingkungan, bangsanya, ataupun seluruh masyarakat manusia. Tetapi kecenderungan mencintai sesuatu tersebut belum terpuaskan, bahkan dengan mencintai seluruh masyarakat manusia sekalipun. Kecenderungan mencintai sesuatu dipuaskan dengan cara yang tetap kurang sempurna sampai kita dapat mengetahui siapa kekasih yang paling utama. Cinta kita hanya dapat dipuaskan sepenuhnya kalau diletakkan pada Krishna. Inilah inti dan hakikat dari ilmu pengetahuan tentang Kesadaran Krishna, yang mengajarkan bagaimana cara kita dapat mencintai Krishna dalam lima rasa manis yang bersifat transendental.

Kecenderungan kita untuk mencintai sesuatu meluas seperti getaran sinar atau udara, tetapi kita tidak mengetahui batasnya. Bhakti-yoga mengajarkan bagaimana cara mencintai semua makhluk hidup secara sempurna melalui cara yang mudah, yaitu dengan cara men-cintai Krishna. Hingga saat ini kita belum berhasil mewujudkan kedamaian dan keadaan selaras dalam masyarakat manusia, bahkan melalui upaya-upaya mulia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa sekalipun, karena kita belum mengetahui metode yang benar. Metode-nya sederhana sekali, tetapi harus dipahami dengan kepala dingin.

Lautan Manisnya Rasa Bhakti mengajarkan kepada semua orang bagaimana cara melaksanakan metode yang sederhana dan wajar, yaitu mencintai Krishna, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Kalau kita mengerti bagaimana cara mencintai Krishna, maka mudah sekali kita segera mencintai semua makhluk hidup secara bersamaan. Hal ini seperti menyiramkan air pada akar sebatang pohon atau memberi makan kepada perut. Metode menyiramkan air pada akar sebatang pohon adalah cara yang praktis dan ilmiah di mana-mana, dan kita semua pernah mengalami kenyataan ini. Semua orang mengetahui bahwa kalau kita makan sesuatu, atau dengan kata lain, kalau kita memasukkan makanan ke dalam perut, maka energi yang dihasilkan dari perbuatan itu segera disebarkan ke seluruh badan. Begitu pula, apabila kita menyiramkan air pada akar tanaman, energi yang dihasilkan segera disalurkan ke setiap cabang tumbuhan itu, bahkan kepada cabang-cabang pohon yang paling besar sekalipun. Tidak mungkin kita menyirami setiap bagian pohon itu daun demi daun, dan juga tidak mungkin kita memberi makan ke-pada setiap anggota badan secara tersendiri. Lautan Manisnya Rasa Bhakti akan mengajarkan kepada kita tentang bagaimana cara menghidupkan saklar tunggal yang akan menyebabkan segala sesuatu menjadi terang di mana-mana. Orang yang belum mengetahui metode ini belum menangkap tujuan hidup yang sejati.

Sejauh menyangkut kebutuhan material, saat ini peradaban manusia sudah maju sekali dalam kehidupan yang nyaman, tapi kita masih belum berbahagia karena kita belum menemukan tujuan yang sebenarnya. Kesenangan hidup duniawi semata tidak cukup untuk membahagiakan diri kita. Amerika Serikat adalah contoh yang jelas tentang hal ini: negara terkaya di dunia itu memiliki segala fasilitas kesenangan material, tetapi menghasilkan golongan manusia yang bingung dan frustrasi sepenuhnya dalam kehidupannya. Dengan ini saya mohon kepada orang yang bingung seperti itu supaya memelajari seni melakukan pelayanan bhakti sebagaimana diatur dalam Lautan Manisnya Rasa Bhakti, dan saya yakin bahwa api kehidupan material yang sedang berkobar di dalam hatinya akan segera di-padamkan.

Akar penyebab rasa kurang puas di hati kita ialah bahwa kecenderungan mencintai sesuatu yang terpendam di hati kita belum terpuaskan, walaupun kita sudah maju sekali dalam cara-cara hidup yang duniawi. Ilmu pengetahuan spiritual ini akan memberikan isyarat-isyarat praktis tentang bagaimana cara kita dapat hidup di dunia material ini sambil menekuni bhakti secara sempurna, dan dengan demikian, segala keinginan kita akan terpenuhi dalam kehidupan ini dan dalam penjelmaan berikutnya. Pengetahuan ini di-sajikan bukan untuk mengutuk cara hidup yang duniawi, melainkan diusahakan untuk memberikan keterangan kepada para rohaniwan, filsuf dan rakyat umum tentang bagaimana cara mencintai Krishna. Seseorang bisa saja hidup tanpa kesulitan material, tetapi pada saat yang sama dia hendaknya memelajari seni mencintai Krishna.

Saat ini kita sedang membuat begitu banyak cara untuk menggunakan kecenderungan kita mencintai sesuatu, tetapi kita masih belum menemukan tujuan yang sejati: yaitu Krishna. Kita sedang menyirami semua bagian pohon tetapi lupa menyirami akarnya. Kita sedang berusaha memelihara kesehatan dan kekuatan badan dengan segala upaya, tetapi kita lupa memberikan makanan kepada perut.

Melupakan Krishna juga berarti melupakan diri kita sendiri. Keinsafan diri yang sejati dan keinsafan terhadap Krishna berjalan berdampingan secara bersamaan. Misalnya, kalau kita melihat diri kita pagi-pagi, itu berarti kita juga melihat matahari terbit. Tidak ada se-orang pun yang dapat melihat dirinya sendiri tanpa melihat matahari terbit. Seperti itu pula, keinsafan diri mustahil tercapai kalau sese-orang belum menginsafi Krishna.

Tuhan Sri Caitanya Mahaprabhu, yang adalah Krishna Sendiri, muncul 519 tahun silam di Benggala dan memberi kita proses untuk dapat mencapai cinta kasih yang murni kepada Tuhan pada zaman ini. Hanya dengan terus-menerus mengucapkan dan mendengarkan getaran suara rohani Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare, kita dapat mencapai tujuan hidup yang kita inginkan.

Kami mengundang semua orang dari segala warna kulit, dari se-gala jalan keyakinan, dan dari segala jalan kehidupan, untuk datang dan bergabung bersama kami mengucapkan maha-mantra Hare Krishna dan merasakan potensi rohaninya. Setiap orang yang menerapkan proses keinsafan Tuhan ini, yaitu Kesadaran Krishna, tidak memandang dari agama mana pun, akan mengembangkan cinta kasihnya kepada Tuhan dan dengan demikian menyempurnakan hidupnya.

Krishna berarti kebahagiaan tertinggi. Setiap manusia mencari kebahagiaan. Akan tetapi, kita tidak mengetahui cara yang sempurna untuk mencari kebahagiaan. Dalam usaha kita untuk mencari kebahagiaan melalui konsep hidup yang materialistik, kita dibuat frustrasi pada setiap langkah karena kita tidak memiliki informasi mengenai tingkatan yang harus dicapai untuk bisa mendapatkan kebahagiaan sejati. Untuk dapat menikmati kebahagiaan sejati, pertama-tama orang harus mengerti bahwa dirinya bukanlah badan ini, melainkan kesadaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s