Sri Nityananda Berangkat menuju Nilacala dan Dia diagungkan oleh Sri Caitanya

Tuhan Nityananda tinggal di Navadvipa, sepenuhnya menyatu dalam lautan prema-bhakti. Dia menginspirasi setiap orang mengucapkan nama suci Tuhan dengan menari dan menyanyi untuk kepuasan Sri Krsna yang merupakan tugas kewajiban manusia satu-satunya. Sebelumnya, Dia bermain-main bersama bocah pengembala sapi di setiap rumah di Gokula. Saat ini, Nityananda Balarama memanifestasikan lila Gokula yang sama ini melalui pelaksanakan nama-sankirtana yang membahagiakan.
Suatu kali, Nityananda prabhu yang mahakuasa independen berkeinginan melihat Sri Caitanya dan selanjutnya, setelah meminta ijin dari ibu Saci, Dia berangkat menuju Nilacala. Dia berkunjung kesana bersama penyembah-penyembah-Nya melewati batas negeri, selalu dibanjiri dengan prema, sambil menyanyikan keagungan Sri Caitanya Mahaprabhu. Para penyembah menari, berteriak, dan menangis dengan gembira sepertinya Nityananda Prabhu menjadikan perjalanan-Nya ke Nilacala dalam kebahagiaan.…Baca lagi di sini….

Setelah beberapa hari, Nityananda Prabhu tiba di Nilacala. Tiba di Kamalpura23 dan melihat bagian atas kuil Jagannatha, Dia jatuh tanpa sadar ke tanah. Air mata cinta-kasih tak tertahankan mengalir dari mata-Nya saat Dia berteriak memanggil, “Sri Krsna Caitanya.” Setelah memasuki Nilacala, Nityananda Prabhu tetap didalam kebun bunga. Siapa yang kecuali Sri Caitanya bisa memahami pikiran Sri Nityananda?

23 Kamalapura adalah sebuah desa yang berada di epi sungai Dandabhanga di Orissa. Desa ini setelah stasiun kereta api Matali dan Patpura. Setelah mengambil sannyasa, ketika Tuhan Caitanya berkunjung ke Nilacala, Dia datang kedesa ini setelah kunjungan ke Bhuvanesvara. Tuhan menjadi begitu terserap dalam kebahagian setelah melihat kubah dari Kuil Jagannatha dari Kamalapura.

Menyadari bahwa Nitayananda telah tiba, Sri Gauracandra meninggalkan seluruh penyembah disampingnya dan pergi menyambut Nityananda Prabhu. Dia segera mencapai titik dimana Nityananda duduk dalam meditasi mendalam. Saat Sri Caitanya melihat Nityananda terserab dalam meditasi, Dia menjadi terpenuhi dengan kebahagian prema. Dia kemudian menyenandungkan slokanya Sendiri untuk mengagungkan Nityananda sambil mengelilingi-Nya.
Oh para pembaca, mohon dengar keagungan Sri Nityananda yang disampaikan oleh Sri Caitanya. Mendengarkan hal ini sebab dari keterikatan seseorang kepada-Nya menjadi berlipat-meningkat.
grhniyad yavani panim vised ba sausnukalayam
tathapi brahmana bandyam nityananda padasvujam
“bahkan jikalau Sri Nityananda menikahi seorang gadis pemakan daging atau memasuki toko minuman Anggur, Dia tetap dipuji oleh Dewa Brahma.”

Gaurahari berulang-ulang mengucapkan sloka ini dengan rasa bhakti teragung sambil mengelilingi Nityananda Prabhu. Menyadari bahwa Tuhan Sri Caitanya telah datang, Nityananda Svarupa sesegera bangkit dengan perasaan terpesona dan ta’zim, mengucapkan, “Hari! Hari!”
Tak seorangpun dapat menguraikan kebahagian yang dirasakan oelh Nityananda Prabhu saat melihat Gauracandra. Dia mengaum layaknya seekor singga dan jatuh begitu kerasnya di tanah dalam kebahagian cinta-bhakti. Dua Tuhan itu satu sama lainnya melingkari dan menghaturkan sujud. Kemudian, kedua Penguasa berpelukan dengan cinta-bhakti dan menangis. Kadangkala Mereka berguling-guling di tanah dengan gembira dan mengaum seperti itu mengalahkan suara dari singa yang ganas. Pertukaran cinta bhakti dan kasih kasang Mereka tunjukkan layaknya pertukaran diantara Sri Ramacandra dan Laksmana. Mereka mengagungkan satu sama lainnya, menyenandungkan sloka pilihan dan menghaturkan sujud satu sama lain dengan tangan tercakup. Air mata tumpah, gemetaran, tertawa, menjadi tak sadar, bulu badan berdiri, pucat pasi dan banyak lagi ciri-ciri Krsna-prema lainnya yang secara jelas nampak dalam badan-badan Mereka. Hanya rekan-rekan Tuhan yang begitu intim melihat cinta-bhakti mengagumkan itu dan rasa cinta bhakti yang diperlihatkan oleh Mereka.
Tuhan Gaurahari mencakupkan tangan-Nya dan menghaturkan doa pujian kepada Nityananda : “O Nityanada, Engkau sesungguhnya Nityananda, karunia yang kekal, Engkau adalah pendorong para Vaisnava, dan Engkau Tuhan Ananta. Segala perhiasan yang menghiasi badan-Mu adalah inkarnasi prema-bhakti. Engkau telah dengan bahagia menghiasi diriMu dengan perhiasan dari sembilan jenis bhakti.
“Engkau adalah karunia tanpa sebak yang akan pasti membebaskan segala jenis orang-orang jahat pendosa. Bahkan para dewa, resi agung, dan ahli mistik yoga menginginkan rasa bhakti yang Engkau hadiahkan kepada pedagang dari Saptagrama. Sri Krsna, yang diagungkan oleh Veda, adalah milik-Mu, dan Engkau bisa juga menjual Dia kepada siapapun.
“Siapakah yang memiliki kekuatan memahami keagungan-Mu? Engkau adalah personifikasi kebahagian Krsna-prema. Saat Engkau melaksanakan nama Sankirtana, Engkau menghilangkan Dirimu dalam kebahagian. Engkau mengangungkan sifat-sifat transcendental Krsna sepanjang siang dan malam. Krsnacandra selalu tinggal didalam hati-Mu. Kenyataannya, badanMu adalah tempat tinggal lila Krsna. Jika setiap orang menghaturkan cinta bhakti dan hormat kepada Mu, Krsna tidak pernah menolaknya.”
Setelah mendengar kata-kata pujian dari Sri Caitanya, Nityananda Prabhu mencakupkan tangan-Nya dan berbicara dengan rendah hati, “Meskipun Engkau adalah Tuhan-Ku, entah bagaimana Engkau memuji Aku. Ini menunjukkan kasih sayang-Mu bagi penyembah-Mu. Engkau bisa mengelilingki Ku, sujud kepada Ku, membunuh-Ku, atau menyelamatkan-Ku. Engkau bisa melakukan apapun yang engkau harapkan. Selebihnya apa yang bisa Aku katakan, O Tuhan?
“Apa yang tidak Engkau lihat dengan pandangan spiritual-Mu? Engkau pengendali paling utama dari setiap pikiran dan kehidupan seorang. Kapanpun Engkau menginspirasi Aku melakukannya, Aku akan melakukannya. Sebelumnya, Engkau membuat Aku menerima kehidupan pelepasan ikatan. Sekarang Engkau telah menjadikan Aku dalam hal ini. Aku meninggalkan kehidupan seorang pertapa dan sekarang membawa seruling, tongkat, tanduk, dan gelang-gelang. Engkau memberikan harta karun pertapaan dan cinta-bhakti kepada rekan-rekan tercinta Mu, yang di pimpin oleh Sri Advaita Acarya, namun hanya melihat apa yang telah Engkau lakukan kepada-Ku. Engkau telah membuat Aku meninggalkan hidup dari seorang pertapa sehingga orang-orang umum sekarang tertawa kepada Ku. Aku merupakan boneka-Mu. Buatlah Aku menari bagi kesenangan-Mu. Apakah Engkau menghukum-Ku atau menghadiahkan-Ku? Hanya Engkau yang tahu. Atas karunia tanpa sebab-Mu, Engkau bahkan membuat sebatang Pohon mengucapkan nama Suci-Mu.”
Tuhan Caitanya menjawab, “Perhiasan yang Engkau kenakan mewakili sembilan jenis proses pelayanan bhakti dan tidak lain daripada itu. Mendengar, menyanyi, mengingat, bersujud, dan seterusnya yang secara kekal menghiasi Mu. Orang umum tak bisa memahami kenapa Dewa Siva mengikat raja ular di kepala-nya. Dari pandangan spiritual, Tuhan ANanta adalah Jiwa dan raga dari Dewa Siwa. Mahadewa mencengkeram Tuhan pujaannya dalam bentuk samaran dari cengkeraman seekor ular. Tanpa mengetahui dalam karakternya, jika beberapa orang menghinanya, kemajuan spirituilnya tertahan. Aku tidak menemukan apapun selain bhakti-rasa dalam Mu. Aku berkata hal ini kepada Mu dari dalam hati-Ku.
“Engkau sepenuhnya terserap dalam kebahagian Vrndavana seperti seorang anggota keluarga Nanda Maharaja. Engkau telah menghiasi diri-Mu sendiri dengan berbagai macam perhiasan sebagai suatu ekspresi dari kebahagian-Mu. Seorang yang beruntung, seorang yang merasakan kesenangan dengan melihat sifat-sifat misterius-Mu, akan pastinya berjumpa Krsna.
“Sebatang tongkat, seruling, garlan dari gunja dan bunga-bungaan, dan pasta cendana secara natural menghiasi badan transcendental-Mu. Rekan-rekan-Mu yang muncul dihadapan-Ku tidak lain dan tak bukan Sridama, Sudama, dan yang lainnya. Aku menganggap seluruh bocah pengembala sapi Vrndavana itu sesungguhnya bermain-main bersama Mu adalah sekarang rekan-rekan-Mu. Mereka memiliki mood yang sama, warna kulit sama, dan potensi hubungan dengan Nanda Maharaja. Setiap orang yang mencintai-Mu dan penyembah-Mu tentunya mencintai-Mu.”
Siapakah yang mampu menggambarkan keagungan Dua Penguasa itu diantara yang lainnya? Sambil memuji satu sama lain, mereka dipenuhi dengan kebahagian transcendental. Setelah Caitanya dan Nityananda mengembalikan ketenangan-Mereka, Mereka duduk bersama-sama di sebuah kebun bunga yang sepi. Pembicaraan diantara Pengendali dan Pengendali yang Utama di kebun itu hanya diketahui di dalam Veda.
Kapanpun Sri Nityananda dan Sri Caitanya bercuma satu dengan lainnya seperti ini, Mereka akan melakukan hal itu tanpa rekan-rekan lainnya. Atas kehendak yang mahaesa dari Sri caitanya, tak seorang pun mendengar pembicaraan yang penuh karunia itu bahwa Dua Penguasa itu bergembira. Mengetahui pikiran Tuhan, Nityananda Svarupa menetapkan untuk berjumpa Dia sendiri.
Nityananda Prabhu selalu mencoba menyembunyikan kesedihan-Nyasendiri, karena Tuhan tidak mengharapkan bagi-Nya untuk memanifestasikan Dirinyasendiri kepada siapapun. Lubuh hati dari Tuhan Yang Mahaesa sangat-sangat lembut dan misterius. Ini merupakan opini dari Veda, begitu pula otoritas seperti Dewa Brahma. Tak seorang mengetahui Dia dalam kebenaran dan tetap saja, sepanjang mereka mampu, mereka berusaha mengagungkan Dia. Ini merupakan keputusan dari Dewi Laksmi: lila Tuhan yang begitu mengagumkan semampu setiap orang memikirkannya Dia mencintai mereka sekemampuan mereka.
Nityananda Prabhu sering berbicara sangat rahasia sekali kepada Sri Caitanya. Dia sekali waktu berkata, “Aku akan sangat menyukai untuk tinggal dalam kehidupan seorang pertapa dan memuja Krsna dengan sepenuh hati. Aku tidak mengetahui kenapa Dia menyuruh Aku meninggalkan kehidupan itu membawa sebatang tongkat, seruling, buku, bulu merak, gunja-mala, dan tali. Dapatlah dipahami bahwa dari semua penyembah Tuhan, para bocah dan gadis pengembala sapi adalah yang terbaik. Pelayanan cinta-bhakti yang dilakukan oleh bocah dan gadis pengembala sapi Vrndavana adalah hasil dari pelaksanaan pertapaan mereka. Personalitas-personalitas yang maju, seperti Dewa Brahma dan Dewa Siva, juga ingin mencapai mood ini. Hanya seorang menerima karunia Tuhan dapat berkualifikasi menerima vraja-bhakti.
Sehingga Sri Uddhava menginginkan mood cinta-bhakti Vraja ini yang dapat ditemukan dalam Srimad-Bhagavatam 10.17.63
Vande nanda-vraja-strinam pada-renum abhiksnasah
Yasam hari-kathodgitam punati bhuvana-trayam

“Aku berulangkali menghaturkan hormatku kepada debu kaki dari para wanita pengembala sapi desa Nanda Maharaja. Ketika para gopi ini dengan keras menyanyikan keagunagn Sri Krsna, vibrasi suara itu mensucikan tiga dunia.”
Apapuun para Vaisnava persembahkan kepada Sri Gauracandra, Dia sangat senang menerimanya. Atas karunia Krsna, seluruh penyembah khusuk menyatu dalam lautan karunia transcendental. Bagaimana, para penyembah kadangkala sibuk dalam perkelahian pura-pura. Melihat perkelahian pura pura ini, jika seseorang menjadi bagian penyembah dan mengkritik satu sama lain, maka dia hendaknya dipertimbangakan sebagai yang sangat tidak beruntung sekali. Seluruh penyembah Tuhan tidak berbeda dengan Tuhan, seperti halnya tangan, jari-jemari, dan kaki merupakan bagian-bagain yang tak terpisahkan dari badan. Tetap saja, merupakan suatu kesepakatan di antara seluruh Vaisnava bahwa Sri Krsna Caitanya Tuhan patut dipuji seitiap orang dalam segala hormat. Mereka selalu mengagungkan Tuhan sebagai pengendali paling utama, satu-satunya pemelihara, penyaksi paling utama, dan kebenaran yang tak dapat diduga.
Seorang bisa menerima kekayaan bhakti atas karunia dari terhadap siapa Tuhan Mahaesa sepenuhnya berkarunia memanifestasikan Dirinyasendiri. Bahkan jika Tuhan menanamkan seluruh energi-Nya dan sifat-sifat kemahaesaan-nya kepada seorang penyembah, Tuhan tetap menghukum dia ketika dia membuat suatu kesalahan.
Merupakan suatu rupa yang khusus dari Tuhan Caitanya bahwa Dia tidak pernah gagal mengagungkan Nityananda dan Advaita. Bahkan jika dua personalitas agung ini melaksanakan aktivitas takbiasa, Gauracandra tetap tidak berkata apapun untuk mengkritik Mereka.
Setelah melewati beberapa momen-momen penuh karunia bersama Avadhuta Nityananda, Sri Gaurangga mengucapkan selamat tinggal dan kembali ke tempat tinggal-Nya. Nityananda Svarupa kemudian penuh kebahagian pergi melihat Tuhan Jagannatha. Setiap orang yang mendengar uraian pertemuan diantara Caitanya dan Nityananda akan dibebaskan dari belenggu material.
Menerima Sri Caitanya dan Nitayananda Prabhu sebagai jiwa dan raga ku, aku, Vrndavana dasa, menyanyikan keagungan kaki padma Mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s