Misteri Madhusudana

Majalah Back to Godhead Maret/April 2007
Oleh, Satyaraja Dasa (Steven Rosen)
Kita tidak pernah mendengar Raksasa bernama Madhu dalam lila Sri Krishna, lalu mengapa Arjuna memanggil Krishna sebagai Madhusudana (pembunuh raksasa bernama Madhu)?
Madhusudana. Sebuah nama yang menggelitik rasa keingintahuan saya. Dari mana datangnya? Dalam Bhagavad-Gita, Krishna disebut sebagai Madhusudana, atau pembunuh raksasa yang bernama Madhu, tidak kurang dari lima kali (1.35, 2.1, 2.4, 6.33, dan 8.2). Akan tetapi, Krishna tidak pernah membunuh raksasa bernama Madhu. Saya memeriksa kembali berbagai lila Krishna lagi dan lagi. Tidak ada raksasa bernama Madhu. Baca lanjutannya disini …
Sebagian besar komentator,termasuk Srila Prabhupada memberitahu kita bahwa dengan menyebut Krishna sebagai Madhusudana, Arjuna secara puitis mengindikasikan bahwa Krishna telah membunuh keraguan dalam diri Arjuna, sama seperti ketika Krishna membunuh raksasa Madhu. Tapi, lagi-lagi, dimana hal ini terjadi? Kapan Krishna membunuh raksasa bernama Madhu?
Penelitian saya mengantarkan saya kepada Baladeva Vidyabhushana, seorang Vaishnava dan komentator dari abad ke-18. Beliau menulis bahwa penggunaan kata Madhusudana dalam Bhagavad-Gita menyiratkan bahwa Krishna mampu membunuh kesedihan (shokam) Arjuna, sama seperti ketika Dia membunuh Madhu di masa lalu (madhusudana iti tasya shokam api madhuvan nihanishyatiti bhavah). Tapi saya masih memikirkan dimana raksasa Madhu ini dijelaskan dan mengapa Arjuna menyebut Krishna dengan nama itu. Sebelum pertempuran di Kurukshetra, Krishna telah membunuh banyak raksasa, dan Arjuna bisa saja menyebut salah satu dari mereka- “Oh pembunuh Putana”, “Oh penakluk Kamsa,” dll. Jadi, menurut saya, sangat jelas bahwa Arjuna memiliki alasan yang spesifik mengapa memilih nama Madhusudana.
Dengan sedikit penggalian, saya menemukan, dengan cukup meyakinkan, Madhu sama sekali tidak dibunuh oleh Krishna, tidak dalam wujud asliNya. Tapi, dibunuh oleh Vishnu-ekspansi Krishna-dalam lila Madhu-Kaitabha (ini akan dijelaskan lebih lanjut di bawah). Lebih spesifik lagi, Vishnu membunuh Madhu dalam inkarnasiNya sebagai Hayagriva, yang memiliki badan seperti kuda dan dimuliakan dalam kitab-kitab Purana. Dengan mempersamakan Krishna sebagai Madhusudana, Bhagavad-Gita membuat hubungan yang sedikit terselubung antara Krishna dan Vishnu, yang memberikan pembaca pengetahuan tentang salah satu kehebatan Krishna.
Ini tidak berarti bahwa kehebatan Krishna bergantung kepada identitasNya sebagai Vishnu. Tapi yang sebenarnya adalah kebalikan dari itu, karena Krishna adalah sumber dari segala inkarnasi. (Lihat Srimad-Bhagavatam 1.3.28.) Tapi pengetahuan umum tentang Tuhan-yang maha kuasa dan membangkitkan rasa hormat, yang memiliki wujud yang agung, bukannya kesederhanaan, mengisyaratkan sosok yang penuh puja-puji, bukannya keintiman-adalah sesuai dengan karakter Vishnu. Bahkan, dalam peradaban Vedic, kata Vaishnavisme (“penyembah Vishnu”), bukan Krishnaisme yang digunakan untuk menyebut sanatana-dharma, atau keyakinan abadi sang jiwa. Benar, banyak sarjana-sarjana yang mempelajari Bhagavad-Gita-tradisionalis maupun akademisi Barat-cenderung melihat klimaks “sabda agung” dari kitab ini pada bab ke-11 dimana Krishna dengan penuh keanggunan memperlihatkan Arjuna wujud semestaNya. Asumsi mereka tumbuh semata-mata dari kemewahan dan keagungan wahyu ini. Tapi para acharya kita yang agung, dengan penuh kebijaksanaan, lebih menekankan pada permohonan Arjuna yang penuh ketulusan agar Krishna kembali kewujudNya yang lebih intim-dan lebih superior-wujud berlengan dua. Dan para acharya lebih memfokuskan pada instruksi yang terdapat di akhir Bhagavad-Gita (18.66) untuk meninggalkan segala jenis dharma dan hanya berserah diri kepada Tuhan (Krishna) dengan seluruh cinta dan kesetiaan.
Apa arti sebuah nama?
Sebutan Madhusudana muncul pertama kali pada bab 1, sebelum Krishna mengungkap kepada Arjuna bahwa baik Dia maupun penyembahNya yang tersayang, Arjuna, telah mengalami banyak kelahiran di masa lalu (bab 4), dan sebelum Dia menunjukkan wujud semestaNya kepada Arjuna (bab 11). Maksud dari semua ini sangatlah jelas: Ilusi yang dialami oleh Arjuna adalah lila, permainan rohani yang disusun oleh Krishna. Jadi, Arjuna ditempatkan pada kelupaan sementara sehingga Krishna berkesempatan untuk menyabdakan Bhagavad-Gita untuk menginstruksikan Arjuna, dan melalui dia, kepada kita semua. Jika tidak demikian, bagaimana Arjuna tahu, dari permulaan, bahwa Krishna adalah Vishnu yang berinkarnasi menjadi Hayagriva untuk membunuh raksasa Madhu?
Tentu, murid-murid Srila Prabhupada mengetahui ini semua. Pada permulaan dari penjelasan Bhagavad-Gita, Prabhupada menulis: “Pada saat menjadi teman Sri Krishna, Arjuna berada diluar kelupaan, tapi Arjuna ditempatkan pada kelupaan pada saat perang Kurukshetra hanya untuk memberikan Arjuna kesempatan untuk bertanya kepada Krishna tentang permasalahan hidup sehingga Krishna berkesempatan untuk menjelaskan hal ini demi kebahagiaan manusia dan generasi yang akan datang…”
Sangat menarik untuk mengikuti kisah dalam Mahabharata, dimana Bhagavad-Gita adalah salah satu bagian kecilnya. Pada bagian 3.41 1-4 Shiva memberitahu Arjuna sesuatu tentang hubungan suci Arjuna dengan Narayana dalam wujudnya sebagai Nara. Dan dalam 3.42. 17-23 Yamaraja, dewa kematian, memberitahu Arjuna, “Bersama Vishnu, engkau akan meringankan beban dunia.” Ini semua terjadi sebelum parwa ke-6 dimana Bhagavad-Gita muncul. Krishna juga mengungkap wujudNya kepada mereka yang berkumpul di sidang para Kaurava dimana Dia sedang dalam misi damai untuk para Pandava, dan ketika Pandava memilihNya (bukannya memilih pasukan Krishna untuk berpihak kepada mereka dalam perang Kurukshetra). Dengan demikian, pada saat dijelaskannya Bhagavad-Gita, Arjuna menyadari kemuliaan dan kehebatan Krishna. Arjuna tentu tahu itu, akan tetapi pada saat yang bersamaan dia tidak tahu itu. Seperti Ibu Yashoda, yang melihat seluruh jagad raya dalam mulut Krishna kecil, tapi beliau tetap menganggap Krishna sebagai anaknya sendiri.
Nama Madhusudana muncul berulang-ulang dalam Mahabharata sebelum dijelaskannya Bhagavad-Gita, yang biasa dijelaskan oleh Vaishampayana, sang narator. Tapi Arjuna, Draupadi, dan Raksasa Sishupala juga menyebut nama itu. Jadi, pada bagian permulaan Mahabharata dan Bhagavad-Gita, identitas Krishna sebagai Vishnu adalah jelas.
Kisah Raksasa Madhu
Kisah raksasa Madhu diungkap dalam Kalika Purana, Devi Bhagavata, dan Mahabharata. Srila Prabhupada secara singkat menjelaskan kisah ini dalam bukunya, Krishna (pada bab: “Doa Akrura”) dan dalam Srimad-Bhagavatam (7.9.37, penjelasan).
Pada permulaan waktu, planet spiritual melahirkan dunia material, dimana Sri Vishnu kemudian berbaring dalam tidurNya yang dalam di atas Ananta Sesha. Ketika Sri Vishnu tertidur, tangkai bunga Padma tumbuh dari pusarNya. Diujung tangkai itu mekarlah bunga Padma dimana muncul Brahma, mahluk hidup pertama. Sri Vishnu memberikan tugas penciptaan kepadanya, kemudian brahma bermeditasi agar bisa memenuhi tugas yang diberikan kepadanya.
Dikatakan bahwa ketika Brahma duduk dalam meditasi mendalam, “lilin/kotoran telinga” (karna-shrotodbhava) mengalir dari telinga Sri Vishnu. Dua raksasa yang jahat, Madhu dan Kaitabha terlahir dari kotoran itu. Mereka melakukan pertapaan yang keras selama ribuan tahun. Puas karena pertapaan itu, Dewi Lakshmi, Shakti dari Sri Vishnu, muncul di hadapan mereka dan menganugerahkan mereka kekuatan, bahwa mereka hanya akan mati atas kehendak mereka sendiri. Bangga akan anugrah ini, dua raksasa ini menjadi arogan. Mereka menyerang Brahma yang masih sedang bermeditasi di atas bunga Padma, dan mencuri 4 Veda darinya. Brahma sangat marah, namun dia tidak berdaya terhadap dua raksasa itu. Sehingga akhirnya dia bergegas menemui sandaran hidupnya, Vishnu, untuk meminta bantuan.
Akan tetapi, Vishnu sedang berada dalam tidur mendalamNya, dan tidak bisa dibangunkan walaupun Brahma berkali-kali mencoba membangunkanNya. Menyadari bahwa Vishnu tertidur atas kehendakNya sendiri, Brahma memutuskan untuk berdoa kepada Yoga-Nidra, yang tidak lain adalah Dewi Lakshmi sendiri dalam wujudnya yang khusus untuk membantu Vishnu tertidur. Sesuai harapan Brahma, Dewi Lakshmi berkarunia dan membangunkan Sri Vishnu.
Kemudian Brahma memberitahukan tentang perbuatan jahat Madhu dan Kaitabha, dan memohon kepada Vishnu untuk menghancurkan mereka. Lalu Vishnu bermanifestasi menjadi Hayagriva, inkarnasi Tuhan dalam wujud Kuda yang sangat indah, dan bertarung dengan Madhu dan Kaitabha, yang pada akhirnya berhasil mengambil kembali kitab Veda yang sebelumnya dicuri oleh mereka. Tapi mereka hanya bisa mati jika mereka sendiri yang menginginkannya. Jadi Vishnu dalam wujudnya sebagai Hayagriva, dengan kecerdikanNya, menipu dua raksasa itu dengan mengatakan bahwa jika mereka benar-benar sangat kuat, seharusnya mereka juga bisa menganugrahkan kekuatan yang sama yang diberikan oleh Dewi Lakshmi kepadaNya.
Dalam kesombongan mereka, mereka masuk dalam perangkapNya.
“Anugrah apa yang Engkau inginkan dari kami?” mereka bertanya. “Kami akan memberikan apapun yang Engkau mau.”
“Aku menginginkan kematianmu!” jawab Hayagriva.
Maka, Hayagriva akhirnya mengakhiri hidup mereka selamanya.
Srila Prabhupada menulis dalam Srimad-Bhagavatam (7.9.37, penjelasan):
Personalitas Tuhan yang Maha Esa dalam wujud RohaniNya selalu siap memberikan perlindungan kepada para penyembahNya, Seperti disebutkan di sini, tuhan dalam wujud Hayagriva membunuh dua raksasa bernama Madhu dan Kaitabha ketika mereka menyerang Dewa Brahma. Orang-orang jahat jaman sekarang berpikir bahwa tidak ada kehidupan di awal penciptaan, tapi dari Srimad-Bhagavatam kita paham bahwa mahluk hidup pertama yang diciptakan oleh Personalitas Tuhan yang Maha Esa adalah Dewa Brahma, yang penuh dengan pengetahuan Veda. Malangnya, mereka yang dipercaya untuk menyebarkan pengetahuan Vedic, yaitu para penyembah yang khusuk dalam menyebarkan kesadaran Krishna terkadang diserang oleh para raksasa, tapi mereka harus yakin bahwa serangan para raksasa itu tidak akan mampu menyakiti mereka, karena Krishna selalu siap untuk memberikan mereka perlindungan.

Meninjau kembali tentang Madhusudana
Ada satu bagian akhir dan pertimbangan yang lebih esoteric ketika membahas Madhusudana. Bukan hanya artinya “Dia yang membunuh raksasa Madhu,” tapi ini juga berarti “Dia yang mengalahkan madu [madhu] yang manis.” Di sini, seorang komentator yang agung, Sridhara Svami menjelaskan nama ini sebagai berikut: “Ego palsu sama manisnya seperti madu dan berada dalam hati setiap orang, membuat mereka lupa akan identitas sejatinya. Madu ini meracuni semua. Dia yang mampu menghancurkan ego palsu dengan nyala obor pengetahuan disebut sebagai Madhusudana.” Lebih lanjut lagi, kata madhu digunakan untuk menyebut lebah dan Krishna. Sama halnya seperti lebah yang menikmati madu dari bunga Padma, Krishna menikmati madu cinta para penyembahNya. Srila Rupa Goswami, Vaishnava agung abad ke-16, menggunakan makna ganda dari kata Madhusudana ini dalam babak ke-5 dari drama cinta bhaktinya yang berjudul Vidagdha Madhava:
Suatu ketika, ketika Radha dan Krishna duduk bersama, seekor lebah sedang mengganggu Radharani dengan beterbangan di dekatNya. Krishna menyuruh seorang teman untuk mengusir lebah itu, dan setelah berhasil melakukan tugasnya, teman Krishna tersebut kembali dan mengatakan bahwa madhu telah pergi. Dikarenakan kata madhu bisa berarti lebah dan Krishna, Radharani “salah menduga” hal ini sebagai Krishna dan tiba-tiba menangis, berpikir Krishna telah pergi. Walaupun jelas-jelas Radharani sedang berada dalam pelukan Krishna, Radharani sepenuhnya berada dalam vipralambha-bhava, mood perpisahan, tingkatan cinta bhakti yang hanya dimiliki oleh Vaishnava yang maju. Melihat air mata cinta Radharani, Krishna juga ikut menangis, dan air mata Mereka menyatu dan menjadi kolam suci yang saat ini dikenal dengan nama Prema Sarovara di Vraja (Vrindavana).
Pengalaman saya membaca Bhagavad-Gita, yang Prabhupada sebut sebagai kitab suci pengantar, telah menginspirasi saya untuk melakukan penelitian terhadap nama Madhusudana. Dan sekarang nama itu bagi saya adalah aspek paling intim dari pengetahuan rohani, khususnya hubungan cinta kasih antara Krishna dan kekasih hatiNya Srimati Radharani. Karena sebenarnya, Radha-lah yang bertanggung jawab kenapa Krishna bisa menjadi Madhusudana, baik karena imajinasi perpisahan diriNya dengan Krishna, dan karena ekspansiNya sebagai Laksmi dan yoga-nidra, aktor utama dibalik lila terbunuhnya raksasa Madhu oleh Vishnu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s