Haribhodini Ekadasi / Utthana Ekadasi

Dewa Brahma bersabda kepada Narada Muni, “O putraku sayang, yang terbaik di antara resi, aku akan menceritakan tentang keagungan dari Haribodhini Ekadasi kepada-mu, yang dapat melenyapkan segala reaksi dosa dan menghadiahkan hasil yang luar biasa dan pada akhirnya memberikan pembebasan kepada orang-orang bijaksana yang menye-rahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. O yang paling baik di antara brahmana. Hasil yang diperoleh dengan mandi di sungai Gangga mempunyai arti penting selama Haribod-hini Ekadasi belum tiba. Ekadasi yang terjadi menjelang purnama pada bulan Kartika ini lebih memberikan penyucian daripada mandi di Laut, di (empat perziarahan ataupun di Danau. Ekadasi yang suci ini lebih kuat dalam menetralisir dosa daripada seribu kali As-vameda yajna, dan seratus kali Raja Suya yajna.” baca lanjutannya ……..
Narada, resi di antara para dewa bertanya, “O Ayah, mohon menjelaskan bagai-mana perbedaan antara hasil-hasil yang diperoleh dari berpuasa penuh pada Ekadasi, ma-kan makanan Ekadasi (tanpa biji-bijian kacang-kacangan) pada malam hari, atau makan makanan pada tengah hari.
Dewa Brahma menjawab, “Bila seseorang makan hanya sekali pada tengah hari di hari Ekadasi, dosa-dosa dari kehidupannya yang lampau dapat dihilangkan, bila dia hanya makan sekali pada malam hari, dosa dan dua kelahirannya yang lampau dihilangkan, dan apabila seseorang berpuasa penuh, dosa-dosa yang dikumpulkan selama 7 penjelmaannya yang lampau dihilangkan.” : “O putraku, apapun yang sangat sulit dicapai di dalam Trib-huwana ini dicapai oleh mereka yang melaksanakan Haribodhini Ekadasi ini dengan tepat dan taat. Orang yang dosa-dosanya sebesar Gunung Semeru semuanya akan dikurangi bahkan bilang sama sekali bila dia berpuasa penuh pada Papaharini Ekadasi (Haribodhini Ekadasi). Dosa-dosa orang yang lelah dikumpulkan lebih dan seribu kali penjelmaan di-bakar sampai menjadi debu, bila dia tidak hanya berpuasa penuh, tapi juga tetap terjaga pada malam hari Ekadasi ini. Seperti halnya segunung kapas yang terbakar menjadi debu, bila seseorang menyalakan api yang sangat kecil sekalipun disana.1
“0 Naradaji yang terbaik di antara para resi, orang yang melaksanakan puasa Eka-dasi dengan taat akan mencapai hasil seperti yang aku jelaskan. Bahkan bila seseorang melakukan sedikit kegiatan saleh pada hari ini, sesuai dengan aturan dan peraturan, akan memperoleh hasil yang sama dengan Gunung Semeru. Oleh karena itu, seseorang yang tidak mengikuti peraturan dan aturan sesuai dengan kitab suci, mungkin saja melaksana-kan kegiatan saleh sebesar Gunung Semeru tapi dia tidak akan memperoleh hasilnya sedikitpun. Orang yang tidak mengucapkan Gayatri sehari, yang tidak menghormati hari-hari puasa, yang tak percaya dengan Tuhan, yang mengkritik kitab suci Veda, yang menganggap bahwa Veda hanya membawa kehancuran bagi orang yang mengikuti perintah-perintahnya, mereka yang menikmati istri orang lain, mereka yang mengeluarkan kata-kata jahat dan kotor, mereka yang tidak menghargai pelayanan apapun yang telah dilakukan untuk dirinya, ataupun menurut orang lain. O putraku, orang-orang seperti itu, tak pernah dapat melaksanakan kegiatan keagamaan (yajna) secara efektif. Apakah dia seorang brahmana, ataupun seorang sudra, atau siapapun yang mencoba menikmati istri orang lain, khusus istri seorang yang telah di dvijati (brahmana), dia tak lebih baik dari pemakan daging anjing.1
“O yang terbaik di antara para resi, seorang brahmana yang menikmati hubungan kelamin dengan janda atau seorang wanita brahmana yang telah menikah dengan laki-laki lain, membawa kehancuran untuk diri dan seluruh keluarganya. Seorang brahmana, yang menikmati hubungan kelamin yang tidak sah, tidak akan memperoleh anak dikelahirannya yang akan datang dan segala hasil yang telah diperolehnya di masa yang lampau juga di-hancurkan. Lebih jauh lagi, bila orang tersebut berbuat jahat terhadap seorang brahmana, atau seorang guru kerohaniannya, dia segera kehilangan kemajuan rohaninya, termasuk anak dan kejayaannya.”
“Ada tiga jenis orang yang kehilangan hasil baik yang telah diperolehnya yaitu:
1. Mereka yang mempunyai sifat dan tingkah laku yang amoral.
2. Mereka yang melakukan hubungan kelamin dengan istri seorang pemakan daging anjing.
3. Mereka yang senang bergaul dengan perampok dan penjahat.
Siapapun yang bergaul dengan orang jahat dan datang ke rumahnya tanpa suatu mak-sud rohani akan langsung pergi menuju tempat Dewa Yamaraja (Neraka). Dan bila seo-rang makan di rumah seperti itu, hasil baik yang telah diperolehnya, juga terhancurkan bersamaan dengan keharuman namanya, umurnya, anak-anak dan kesenangannya.”
“Setiap penjahat yang penuh dosa yang melakukan penghinaan terhadap orang suci, kehilangan sifat-sifat keagamaan, kemajuan ekonomi, dan kenikmatan indera-inderanya, dan pada akhirnya dia akan dibakar api Neraka. Siapapun yang suka melakukan kesalahan terhadap orang suci, ataupun mereka yang tidak mencegah atau menghentikan seseorang yang melakukan penghinaan terhadap orang suci dianggap tak lebih baik daripada seekor keledai. Orang jahat seperti ini melihat kehancuran dinasti keluarganya di depan matanya sendiri.”
“Seseorang yang memiliki sifat-sifat kotor, perampok, penipu atau yang selalu mencari kesalahan-kesalahan orang lain, setelah meninggal tidak akan mencapai tujuan yang lebih tinggi, walaupun dia memberikan punia yang besar atau melaksanakan berbagai macam kegiatan saleh lainnya. Karena itu, setiap orang hendaknya menjauhkan diri dari pelaksanaan kegiatan yang tercela hanya melaksanakan kegiatan saleh. yang memberikan hasil baik dan menghilangkan penderitaan.”
“Oleh karena itu, seorang yang telah mempertimbangkan dan memutuskan untuk me-laksanakan puasa pada Haribodhini Ekadasi, dosa-dosa dari 100X penjelmaannya yang lampau akan dihilangkan. Dan siapapun yang berpuasa dan tetap terjaga sepanjang malam pada hari Ekadasi ini akan memperoleh hasil baik yang tak terhingga dan setelah mening-gal, ia pergi ke tempat Sri Vishnu yang paling utama dan 10.000 leluhurnya, keluarganya, dan keturunannya juga akan mencapai tempat itu, bahkan walaupun leluhurnya telah di-cemari dengan berbagai macam dosa dan menderita di Neraka, dia tetap mendapat badan rohani perhiasan yang indah dan dengan penuh rasa bahagia pergi menuju ke tempat tinggal Sri Vishnu.”
“O Narada, walaupun seorang lelah melakukan dosa yang paling keji dengan membu-nuh seorang brahmana, dia dibebaskan dari segala noda pada dirinya dengan cara berpuasa pada Haribodhini Ekadasi dan tetap terjaga sepanjang malam itu. Hasil-hasil baik yang dapat diperoleh dengan cara mandi di semua tempat perziarahan, pelaksanaan korban su-ci kuda ataupun dengan memberikan sejumlah sapi, emas, tanah yang subur sebagai pu-nia, dengan mudah dapat dicapai dengan berpuasa pada hari yang suci ini dan tetap terja-ga pada malam harinya.”
“Siapapun juga yang melakukan puasa Haribodhini Ekadasi dihormati sebagai orang yang memiliki kualifikasi yang amat tinggi dan menjadikan keluarganya termashyur. Se-perti halnya bahwa kematian merupakan suatu yang pasti, begitu pula hilangnya kekayaan seseorang juga sangat pasti. Dengan mengetahui hal ini, O yang terbaik di antara para re-si, setiap orang hendaknya berpuasa pada hari. Sri Haribodhini Ekadasi yang sangat dicin-tai oleh Sri Hari.”
“Semua tempat-tempat suci di seluruh Tribhuwana ini segara datang dan tinggal di rumah orang yang melaksanakan puasa pada Hari Ekadasi itu. Karena itu, untuk memua-skan Tuhan yang tangan-Nya memegang cakra, seseorang hendaknya meninggalkan sega-la kegiatan dan menyerahkan diri untuk melaksanakan puasa Ekadasi ini. Orang yang berpuasa pada hari ini dihormati sebagai orang suci. Yogi yang benar, pertapa, atau mere-ka yang dengan sungguh-sungguh telah mampu mengendalikan indera-inderanya: Dia sendiri dapat menikmati dunia ini dengan baik dan dia pasti akan mencapai pembebasan. Ekadasi ini sangat dicintai oleh Sri Vishnu dan inilah intisari dan semua dharma bahkan pelaksanaan itu sendiri memberikan hadiah yang tiada taranya di seluruh Tribhuwana.”
“O Naradaji, siapapun berpuasa pada hari Ekadasi ini, pasti tidak akan masuk dalam kandungan lagi dan bagi para bhakta Tuhan Yang Maha Esa yang tekun atau setia me-ninggalkan segala macam dharma dan hanya berserah diri untuk berpuasa pada hari Eka-dasi ini, untuk roh-roh yang agung seperti itu, yang menghormati Ekadasi ini, dengan berpuasa dan tetap terjaga sepanjang malam, Tuhan Yang Maha Esa, Sri Govinda Sendiri menghancurkan reaksi dosa-dosa dari orang tersebut yang telah diperoleh melalui kegia-tan pikiran, badan, dan kata-katanya.”
“O putraku, bagi siapapun yang mandi, di tempat suci. memberikan punia, memuji nama Tuhan Yang Maha Esa, melaksanakan pertapaan dan mempersembahkan yajna ke-pada Tuhan pada Haribodhini Ekadasi ini, hasil-hasil yang diperolehnya tak akan terhan-curkan, Seorang bhakta yang memuja Sri Madhava dengan perlengkapannya yang mewah dan agung pada hari ini, dibebaskan dari reaksi dosa yang sangat besar, dari 100 x penjel-maannya, Seorang yang berpuasa dan memuja Sri Vishnu dengan baik pada hari ini, dibe-baskan dari bahaya yang sangat besar.”
“Puasa Ekadasi ini sangat memuaskan Sri Janardhana, sehingga Beliau mengambil orang yang berpuasa tersebut untuk kembali ke dunia Beliau. Dan selama perjalanannya ke tempat itu, bhakta tersebut menerangi 10 arah alam semesta ini. Siapapun yang men-ginginkan kecantikan dan kebahagiaan hendaknya berpuasa untuk menghormati Hari-bodhini Ekadasi, khususnya bila itu jatuh dan dirayakan pada hari Dvadasi. Dosa-dosa dari 100 penjelmaan yang lampau, dosa-dosa yang telah dilakukan waktu masa kanak-kanak, masa muda dan masa tua sepanjang hidupnya tersebut, baik dosa yang masih ba-sah maupun dosa yang sudah kering dimusnahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa Sri Go-vinda, bila seseorang berpuasa pada Haribodhini Ekadasi dengan penuh cinta-bhakti.”2
“Haribodhini Ekadasi adalah hari Ekadasi yang terbaik, dan tidak ada suatupun yang tidak mungkin atau sulit dicapai di dunia ini oleh orang yang berpuasa pada hari ini. Ka-rena hal itu dapat memberikan makanan dari biji-bijian, kekayaan yang besar dan hasil yang utama, seperti halnya pembebasan dari segala reaksi dosa yang merupakan pengha-lang besar dalam mencapai pembebasan. Puasa pada hari Ekadasi ini 1000X lebih baik daripada memberikan punia kepada hari Gerhana Matahari. Sekali lagi aku menegaskan kepadamu O Naradaji, hasil baik apapun yang diperoleh oleh seseorang dengan cara mandi di tempat suci, berdana punia, berjapa, mengucapkan mantra-mantra Veda, melak-sanakan yajna-yajna dan mempelajari Veda, hanyalah 1/10.000 dari hasil baik yang dipe-roleh orang yang melaksanakan puasa pada hari Ekadasi ini. Walaupun hanya sekali saja. Hasil baik apapun yang telah diperoleh seseorang sepanjang hidupnya melalui kegiatan saleh, tidak akan memberikan hasil apapun bila dia tidak berpuasa pada hari Ekadasi dan memuja Sri Vishnu, pada bulan Kartika. O Narada, karena itu kamu harus selalu memuja Tuhan Yang Maha Esa, Sri Janardhana, dan melakukan pelayanan bhakti untuk Beliau. Dengan demikian, engkau akan mencapai apa yang diinginkan yaitu kesempurnaan yang paling tinggi.”
“Pada Haribodhini Ekadasi seorang bhakta Tuhan hendaknya tidak makan di rumah orang lain, ataupun memakan makanan yang di masak oleh orang yang tidak memiliki rasa bhakti. Apabila dia melakukan demikianlah dia hanya mencapai hasil seperti orang berpuasa pada waktu hari purnama. Diskusi tentang sastra Veda, pada bulan Kartika san-gat memuaskan Sri Vishnu melebihi dari orang yang memberikan gajah, kuda sebagai pu-nia ataupun pelaksanaan yajna yang sangat mahal sekali. Siapapun yang mengajarkan atau mendengarkan uraian yang berkualitas dan kegiatan Sri Vishnu, walaupun hanya setengah atau seperempat sloka saja akan mencapai hasil yang luar biasa seperti yang diperoleh dari memberikan 100 sapi kepada seorang brahmana. O Narada selama bulan Kartika, seorang hendaknya meninggalkan segala jenis kegiatan biasa dan seorang bhakta hendaknya menggunakan tenaga dan waktu sepenuhnya untuk mendiskusikan kegiatan rohani Tuhan Yang Maha Esa, khususnya selama berpuasa. Keagungan dan karunia Sri Han pada hari Ekadasi yang sangat dicintai ini, membebaskan 100 leluhurnya yang lampau, Orang yang menghabiskan waktunya dengan menikmati diskusi sedemikian itu khususnya pada bulan Kartika mencapai hasil yang sama dengan pelaksanaan 10.000 X agni-hotra dan membakar semua reaksi dosanya menjadi debu. “Dia yang mendengarkan cerita yang luar biasa, berkenaan dengan Sri Vishnu khususnya pada bulan Kartika, otomatis memperoleh hasil yang sama dengan hasil yang diberikan kepada orang yang menyumbangkan 100 sapi sebagai punia. O Resi yang agung siapapun yang memuji kebesaran Tuhan Sri Hari pada hari Ekadasi, mencapai hasil seperti yang diperoleh seorang yang menghadiahkan 7 pulau.”
Narada bertanya kepada ayahnya. “O ayah alam semesta, O yang terbaik di antara de-wa-dewa, mohon menguraikan kepadaku bagaimana cara melaksanakan Ekadasi yang sangat rahasia ini? Hasil baik apakah yang diperoleh orang yang melaksanakannya dengan penuh keyakinan?”
Dewa Brahma menjawab, O putraku, seseorang yang mengikuti Ekadasi ini hendak-nya bangun pagi pada hari Ekadasi selama masa “brahma-muhurtha” (satu setengah jam se-belum matahari terbit)—50 menit sebelum matahari terbit. Hendaknya dia membersihkan gigi dan mandi di danau, sungai, kolam, atau sumur atau dirumahnya sendiri tergantung pada situasinya. Setelah memuja Sri Kesava dia hendaknya penuh perhatian mendengarkan uraian yang suci tentang Tuhan. Dia hendaknya berdoa kepada Tuhan sebagai berikut: O Sri Kesava hamba akan berpuasa pada hari yang sangat Anda cintai ini dan besok hamba akan menghormati prasadam Anda yang suci. O Tuhan yang bermata seindah bunga padma, O Yang Maha Kekal, hanya Anda tempat hamba berlindung, mohon lindungilah hamba.”
“Setelah mengucapkan doa yang khusuk dan penuh cinta bhakti di hadapan Tuhan, seseorang hendaknya berpuasa dengan penuh suka cita. O Narada, siapapun yang mampu tetap terjaga sepanjang malam pada Ekadasi ini menyanyikan lagu yang indah untuk memuji Tuhan, menari dalam kebahagiaan memainkan alat-alat musik dengan gembira untuk memuaskan beliau dan menceritakan Lila Sri Krishna seperti ditulis dalam kitab suci Veda orang yang demikian itu pasti dijamin untuk tinggal jauh di luar Tribhuwana ini, yaitu di tempat tinggal Tuhan yang kekal. “Pada Haribodhini Ekadasi seseorang hendaknya memuja Sri Krishna dengan, kampor, buah-buahan dan bunga-bungaan yang harum, khususnya bunga Aguru yang berwarna kuning. Seseorang hendaknya jangan menyibukkan dirinya dalam usaha mencari uang pada hari Ekadasi ini. Dengan kata lain, kelobaan hendaknya diganti dengan berdana punia. Inilah suatu proses untuk menghindari kerugian dan mencapai hasil yang tak terbatas. Orang hendaknya mempersembahkan beberapa macam buah kepada Tuhan, dan memandikan Beliau dengan air dengan menggunakan sankha. Setiap pelayanan bhakti ini, khususnya bila dilaksanakan pada Haribodhini Ekadasi ini, 10.000 x lebih menguntungkan daripada mandi di semua tempat suci, dan memberikan segala macam dana punia.”
“Bahkan Dewa Indra mencakupkan tangannya dan bersujud kepada seorang bhakta yang memuja Sri Janardhana dengan bunga Agastya yang sangat indah, O Narada. Aku memberikan pembebasan kepada orang yang dengan penuh cinta bhakti memuja Sri Krishna pada hari Ekadasi di bulan Kartika ini, dengan daun dari pohon Bel. Dan bagi orang yang memuja Sri Janardhana dengan daun Tulasi yang segar dan bunga yang harum selama bulan in: membakar segala dosa-dosanya yang lelah dia lakukan selama 10.000 penjelmaannya, sampai menjadi debu.”
“Orang yang dengan sungguh-sungguh melihat Srimati Tulasi Maharani, menyentuh-nya, meditasi kepadanya, menceritakan sejarahnya, bersujud kepadanya, berdoa kepa-danya untuk mohon karunia, menanam dan memujanya, menyiram daunnya di tempat Sri Hari yang kekal, O Narada seseorang yang melayani Tulasi Devi dengan 9 cara ini men-capai kebahagiaan dunia tertinggi selama beribu-ribu yuga seperti halnya akar-akar yang tumbuh pada pohon Tulasi yang telah tua. Sewaktu tanaman Tulasi yang telah tua meng-hasilkan benih menyebabkan banyak tanaman Tulasi yang tumbuh dari biji tersebut yang mengembangkan cabang-cabang, ranting dan bunga-bunga dan bunga tersebut juga menghasilkan biji yang tak terhitung. Beribu-ribu kalpa seperti halnya biji-bijian dihasilkan seperti ini, leluhur dari seseorang yang memuja Tulasi dengan 9 cara ini akan hidup di tempat tinggal Sri Hari.”2
“Mereka yang memuja Sri Kesava dengan bunga Kadamba yang sangat memuaskan Beliau memperoleh karunia-Nya dan tak akan pernah melihat tempat tinggal Yamaraja, Raja Kematian. Apakah manfaatnya memuja yang lainnya bila segala keinginannya telah terpenuhi dengan memuja Sri Hari. Sebagai contohnya seorang penyembah yang mem-persembahkan kepada Beliau, Bakula, Asoka, dan bunga Patali dibebaskan dari segala macam penyakit dan kecemasan sepanjang Matahari dan Bulan berada di alam semesta ini dan pada akhirnya mencapai pembebasan. O yang terbaik di antara para brahmana, per-sembahan bunga Kannera kepada Sri Jagannatha, membawa karunia yang sangat besar kepada bhakta tersebut, seperti yang diperoleh dengan memuja Sri Kesava selama empat Yuga. Orang yang mempersembahkan bunga Tulasi (manjari) kepada Sri Krishna selama bulan Kartika menerima karunia yang jauh lebih besar dari apa yang dapat dicapai dengan mempuniakan 10 juta sapi.4 Bahkan beberapa helai rumput yang baru tumbuh dapat memberikan hasil 100X lebih besar dari keuntungan yang diperoleh dengan melakukan upacara pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara biasa.
“Orang yang memuja Sri Vishnu dengan daun pohon Samika, dibebaskan dan cengkeraman Yamaraja sebagai dewa maut. Orang yang memuja Sri Vishnu dengan bunga Campaka atau Yasmin tidak akan pernah kembali lagi ke planet Bumi ini. Orang yang memuja Tuhan Yang Maha Esa walaupun hanya dengan setangkai bunga Kumbhi, mencapai hasil yang sama dengan menghadiahkan 200 gram emas. Bila seseorang penyembah mempersembahkan setangkai bunga Ketaki atau Kayu Apel kepada Sri Visnu yang mengendarai Garuda dia akan dibebaskan dari dosa-dosa selama 10 juta kali penjelmaan. Selanjutnya orang yang mempersembahkan bunga dan juga 100 helai daun Tulasi yang diolesi dengan serbuk cendana yang merah dan kuning kepada Sri Jagannatha pasti akan mencapai dan tinggal di Svetadvipa jauh di luar lapisan alam material.
“O Sri Narada yang paling agung di antara para brahmana, setelah memuja Sri Kesava, yang memberikan kebahagiaan material dan rohani dengan cara tersebut di atas pada Ha-ribodhini Ekadasi, pada hari berikutnya ia harus bangun pagi, mandi di sungai, berjapa5 nama suci Sri Krishna dan melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan sesuai dengan ke-mampuannya di rumahnya masing-masing. Untuk berbuka puasa terlebih dahulu, para bhakta hendaknya mempersembahkan prasadam kepada brahmana dan atas ijin beliau ma-kan beberapa biji-bijian. Setelah itu untuk memuaskan Tuhan Yang Maha Esa para bhakta hendaknya memuja guru kerohaniannya, bhakta Tuhan yang suci dan mempersembahkan makanan yang lezat, pakaian yang indah, emas dan sapi sesuai dengan tujuan mereka masing-masing. Semuanya ini pasti akan memuaskan Tuhan Yang Maha Esa yang memegang cakra.
“Kemudian seorang bhakta hendaknya menghadiahkan sapi kepada seorang brahmana. Dan bila seorang bhakta melanggar aturan dan peraturan kehidupan rohani hendaknya bertobat di hadapan seorang brahmana, bhakta Tuhan. Setelah itu, seorang bhakta hendak-nya mempersembahkan daksina (uang) kepada brahmana. O raja, mereka yang makan pada malam hari Ekadasi harus memuaskan brahmana keesokan harinya dengan prasadam yang lezat. Semua hal itu sangat memuaskan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa”.
“O putraku, bila seorang laki-laki berpuasa tanpa seijin dan pendetanya atau bila wani-ta berpuasa tanpa seijin suaminya mereka masing-masing harus mempersembahkan sapi jantan kepada seorang brahmana. Madu dan yogurt, juga merupakan punia yang tepat ke-pada seorang brahmana. Bila orang hanya makan buah pada waktu Ekadasi, pada keesokan harinya harus mempuniakan buah-buahan juga orang yang berpuasa minyak, harus menghadiahkan ghee, dan yang berpuasa ghee hendaknya menghadiahkan susu, mereka yang berpuasa biji-bijian harus memberikan nasi. Mereka yang tidur di lantai hendaknya menghadiahkan tempat tidur berkelambu. Mereka yang makan beralaskan daun, hendak-nya menghadiahkan segelas ghee. Mereka yang tetap diam (tidak bicara) hendaknya menghadiahkan genta. Mereka yang berpuasa wijen, harus menghadiahkan emas dan memuaskan pasangan suami istri brahmana dengan prasadam yang lezat. Mereka yang in-gin mencegah kebotakan hendaknya menghadiahkan cermin kepada brahmana. Selama bu-lan Kartika ini setiap orang hendaknya mempersembahkan lampu ghee secara teratur pa-da Sri Vishnu, atau Srimati Tulasi Devi di mandira.
“Suatu puasa Ekadasi akan lengkap bila seorang mempersembahkan emas atau gelas dari kuningan yang penuh dengan sumbu ghee pada brahmana, bersamaan dengan 8 pot air disertai dengan emas dan dibungkus dengan kain. Seorang yang tidak dapat mempu-niakan pemberian-pemberian seperti tersebut di atas minimal hendaknya mempersem-bahkan kata-kala yang manis kepada brahmana. Orang yang melakukan hal-hal seperti itu pasti akan mencapai keuntungan yang penuh dari puasa Ekadasi.”6
Setelah bersujud dan memohon ijin pada brahmana seorang bhakta hendaknya baru makan prasadam. Pada Ekadasi ini yang merupakan akhir Catur-masya, apapun yang dihin-dari hendaknya sekarang dihadiahkan kepada brahmana. Orang yang mengikuti proses Ca-tur-masya menerima hadiah yang tiada taranya. O raja diraja dan setelah kematiannya akan pergi ke tempat tinggal Sri Vasudeva. O raja, setiap orang yang melaksanakan Catur-masya tanpa pelanggaran, mencapai kebahagiaan yang kekal dan tak akan dilahirkan lagi. Tetapi bila seseorang melanggar puasa tersebut dia akan menjadi orang buta dan lepra.
Demikianlah aku telah ceritakan kepadamu proses yang lengkap tentang puasa Hari-bodhini Ekadasi. Siapapun yang membaca atau mendengar tentang Ekadasi ini akan mencapai hasil yang sama dengan yang diperoleh dengan menghadiahkan sapi-sapi kepa-da brahmana yang bonafaid.
Dengan demikian berakhirlah tentang Kartika-sukla Ekadasi yang juga dikenal dengan nama Haribodhini Ekadasi atau Devothani Ekadasi dikutip dari Skanda Purana.

Catatan
1. Veda menyatakan,
sudrannam sudra-samparkam sudra-stri-maithunam yatha
iha janmani sudratvam candalah sata-janmani

“Seorang yang makan di rumah seorang sudra, berteman dengan seorang sudra, atau melakukan hubungan seks dengan wanita sudra dan pastinya akan menjadi seorang sudra dalam kehidupannya ini. Dalam seratus kehidupannya yang akan datang akan lahir di rumah pemakan daging anjing”
2. Dalam Padma Purana dinyatakan, namno balad yasya hi papa-buddhir na vidyate tasya yamair hi suddhih: “Jika seorang melakukan dosa yang disengaja pada saat mengucapkan nama suci Tuhan, tidak akan ada baginya untuk disucikan.” Dosa yang dilakukan dengan sengaja dikatakan menjadi “basah” sementara yang melakukan kegiatan berdosa tanpa disengaja disebut “kering”. Dalam hal ini Dewa Brahma mengatakan bahwa dengan melaksanakan Haribodhini Ekadasi, seorang bisa menghapus semua dosa, keduanya baik yang kering dan yang basah.
3. Satu kalpa, yang bermakna dua belas jam Dewa Brahma, sebanyak 4.320.000.000 tahun. Karena Tuhan Sri Krishna bersabda dalam Bhagavad-gita (8.21) bahwa “seorag yang datang ke tempat tinggal-Ku tidak akan pernah kembali lagi ke dunia material,” hal itu dapat dipahami selama satu milyar kalpa penyembah tinggal di tempat Sri Visnu, dia akan melaksanakan pelayanan bhakti dan demikian menjadi berkualifikasi untuk tetap berada di sana.
4. Manjari yang dipersembahkan kepada Tuhan, sebaiknya yang baru tumbuh dan sangat lembut. Manjari yang tua, keras sebaiknya tidak dipersembahkan kepada Tuhan.
5. Dalam Bhagavad-gita (10.25) Sri Krishna bersabda, yajnanam japa-yajno ‘smi: “Diantara korban suci Aku adalah japa, pengucapan nama suci Tuhan.” Kalisantarana Upanisad menyatakan bahwa di Kali-yuga pengucapan nama suci Hare Krishna maha-mantra, yang terdiri dari enam belas suku kata, adalah yang terbaik untuk pembebasan. Enam belas suku kata dalam mantra Hare Krishna, yang diajarkan oleh Sri Caitanya Mahaprabhu, adalah Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare / Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare.
6. Bagi seorang Vaisnava, derma berarti memberikan kesadaran Krishna, khususnya pengucapan mantra Hare Krishna. Sebagaimana Sri Caitanya Mahaprabhu katakan, eka bar to mukhe hari bol bhai…ei matra bhiksa cai : “O saudara, mohonlah ucapakan Hare Krishna sekali saja….Ini adalah sedekah yang Aku minta.” Jika seorang penyembah yang berumah tangga bisa memberikan maha-mantra, dia mungkin memberi beberapa biji wijen, pakaian, atau makan kepada orang yang miskin, tapi ini bukanlah hal yang wajib.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s