Gaura-kisora dasa Babaji Maharaja

namo gaura-kisoraya saksad-vairagya-murtaye
vipralambha-rasambhode padambujaya te namah

Hamba bersujud dengan hormat kepada Gaura-kisora dasa Babaji Maharaja [guru spiritual dari Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati], yang adalah perwujudan dari pelepasan ikatan keduniawian. Beliau selalu larut dalam rasa perpisahan dan cinta kasih yang mendalam terhadap Krishna.

————

Hari ini kita memperingati hari berpulang dari salah satu acarya dalam garis perguruan kita yaitu Srila Gaura-kisora das Babaji. Beliau adalah guru spiritual dari Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakura. Beliau menjalani kehidupan pelepasan ikatan keduniawian yang sangat ketat dan tegas sebagai seorang bhajananandi, yakni melakukan pemujaan kepada Tuhan secara menyepi, menyisih dari hiruk pikuk keramaian dunia. Beliau memiliki hubungan dekat dengan Srila Bhaktivinoda Thakura, yang beliau hormati sebagai guru spiritualnya. Beliau sangat termasyhur terkait dengan status beliau sebagai seorang bhajananandi-vaishnava. Menarik untuk mencermati perihal kedudukan bhajananandi ini. Berikut beberapa kutipan tentang hal ini. Semoga dapat memperluas wawasan pemahaman kita.

————

Terdapat dua jenis penyembah. Yang satu disebut gosthanandi dan yang lain disebut bhajananandi. Kata bhajananandi mengacu kepada penyembah yang tidak berpindah-pindah, melainkan tinggal di satu tempat. Penyembah yang seperti itu selalu tekun dalam bhakti kepada Tuhan. Ia mengucapkan maha-mantra seperti yang diajarkan oleh banyak acarya dan kadangkala pergi melakukan kegiatan pengajaran. Gosthanandi adalah orang yang ingin menambah jumlah penyembah di seluruh dunia. Ia mengembara ke seluruh dunia hanya untuk menyucikan dunia dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
(SB. 4.30.37, Penjelasan)

————

Prabhupada: Ya. Para paramahamsa, mereka tidak terjun ke tengah masyarakat sebab orang-orang mungkin akan meniru-niru dan menyebabkan kejatuhan mereka sendiri. Karena itulah para paramahamsa ini menyisih dari masyarakat. Seperti halnya Gaura Kisora dasa Babaji Maharaja. Beliau menyisih, bhajananandi. Namun orang yang hendak bertindak sebagai pengajar atau guru spiritual, bahkan jika ia adalah seorang paramahamsa, ia harus hidup secara normal agar murid-muridnya dapat meneladani. Maka ia menurunkan dirinya ke tingkatan kedua. Paramahamsa adalah tingkatan utama, dan pengajar berada di tingkatan kedua, dan para pemula berada di tingkatan ketiga. Maka, para pemula hendaknya berusaha untuk sampai pada tingkatan kedua.
(Ceramah Srimad-Bhagavatam, 19 Desember 1970, Surat, India)

————

Secara tradisi, para pengikut Sri Caitanya Mahaprabhu, diawali dengan para Gosvami di Vrndavana, menerima babaji-vesa (pakaian babaji). Menurut tradisi, seorang vaishnava tidak menerima benang suci brahmana (atau akan menanggalkannya jika ia telah menerima sebelumnya) dan tidak membawa danda. Ia hanya mengenakan kain putih pendek yang dilingkarkan di pinggang dan untuk sedikit menutupi bagian atas badan. Gagasannya adalah bahwa ketika seseorang telah mencapai tingkat terbebaskan, ia membebaskan dirinya dari segala kelengkapan pakaian atau simbol varnasrama-dharma (kegiatan-kegiatan dalam lingkup sifat-sifat alam, dimana pemberian benang suci dan sannyasa-asrama dipandang sebagai bagian di dalamnya) dan menjadikan pengucapan Nama Suci sebagai satu-satunya urusannya dalam mood seorang bhajananandi. Ini dipandang sebagai tingkat tertinggi atau tingkatan transendental sebagai seorang paramahamsa Vaisnava. Hal ini telah menjadi kesepakatan umum sejak zaman Sri Caitanya Mahaprabhu.

Sejumlah orang juga menganggap bahwa tetap mengenakan benang suci dan menerima tridanda-sannyasa adalah praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Sri Caitanya Mahaprabhu terkait dengan prinsip kerendahan hati: trnad api sunicena. Akan tetapi, ini adalah pandangan yang keliru. Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakura menjelaskan dengan cara sebagai berikut: Jika benang suci tidak bersedia diterima dan dikenakan pada saat inisiasi, maka ini dapat dipandang sebagai penghinaan terhadap proses inisiasi. Benang suci itu bukan untuk menyebabkan rasa bangga sebagai seorang brahmana dengan merasa bahwa “Semua orang harus melayani aku.” Namun sebaliknya, penerimaan benang suci adalah tanda bahwa seseorang telah disucikan oleh kaki-padma seorang guru. Benang suci itu dimaksudkan untuk mengisyaratkan tentang bhakti yang kekal kepada Tuhan, bukan melambangkan egoisme. Dan mengenai penerimaan sannyasa, itu dimaksudkan untuk meningkatkan sikap bhakti seseorang kepada Tuhan, dengan pikiran, kata-kata dan perbuatan. Sri Caitanya Mahaprabhu mengajarkan hal ini ketika Dia menerima sannyasa dengan mengucapkan sloka Avanti brahmana yang menerima tridanda-sannyasa, yang diuraikan di dalam Srimad-Bhagavatam, 11.23.57:

etāḿ sa āsthāya parātma-niṣṭhām
adhyāsitāḿ pūrvatamair maharṣibhiḥ
ahaḿ tariṣyāmi duranta-pāraḿ
tamo mukundāńghri-niṣevayaiva

Aku akan menyeberangi samudera kegelapan yang tak tertaklukkan ini dengan cara memantapkan diri dalam bhakti kepada kaki-padma Krishna. Hal ini dibenarkan oleh para acarya terdahulu, yang telah mantap dalam bhakti kepada Tuhan, Paramatma, Personalitas Tuhan Yang Maha Esa.
(Dari Buku “Ray of Visnu”, karya Rupa Vilasa das)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s