Krishna Pergi Mengembalakan Sapi

Ibu Yasoda membusanai Krishna dengan pakaian bagus dan perhiasan-perhiasan yang telah dipakai oleh sang ayah, sehingga membuat sang putra nampak sangat tampan. Ibu Yasoda membalut wujud tampan Krishna yang memiliki warna bagai batu nilam dengan warna emas pakaian-Nya yang sangat indah. Ketika Ibu Yasoda memandangi Krishna setelah selesai merias Krishna, nektar menetes dari mata dan payudaranya. Selembar bulu burung merak terpasang juga di kepala Krishna sambil Dia memegang seruling bertatahkan permata serta sebatang tongkat berwarna keemasan, dan demikianlah Krishna memuaskan mata semua orang. Segala yang diuraikan tentang Krishna juga terlihat pada Balaram. Yasoda dan Rohini adalah setara, dan cinta mereka terhadap putra-putra mereka sama besarnya. baca disini lagi….

Rasa Cinta Yasoda
Setiap hari, saat Krishna hendak pergi ke hutan, Ibu Yasoda membuat persembahan berupa sekendi air suci dan lampu minyak, mempersembahkan arati, dan melakukan banyak ritual demi keselamatan Krishna. Bersemangat untuk berangkat menuju hutan, Krishna mendatangi ibu-Nya dan sambil mencakupkan tangan Dia membungkukkan badan di hadapan sang ibu. Sang ibu pun kemudian membelai kepala Krishna. Nektar mengalir dari mata dan payudara sang ibu. Ibu Yasoda berkata, “Ibu akan ikut pergi ke hutan bersama-Mu. Ibu akan memasak makan siang untuk-Mu lalu menghidangkannya kepada-Mu saat masih hangat. Anakku, Engkau sangat pandai. Mengapa Engkau harus malu? Jika Engkau menyangkal, ‘Siapa yang akan mengurus rumah?’, maka ibu akan menjawab bahwa nanti Rohini yang akan ikut bersama-Mu dan ibu yang akan tinggal di rumah, dan keesokan harinya ibu yang akan ikut bersama-Mu sementara Rohini yang akan tinggal di rumah. Anakku, mengapa Engkau mengatakan bahwa ibu harus tinggal di rumah terikat pada tugas-tugas rumah tangga? Mengapa ibu tidak boleh pergi saja bersama-Mu ke hutan? Tanyakanlah kepada yang lain, bagaimana pendapat mereka. Hari demi hari putra kami pergi ke hutan dan kami, orang tua-Nya, tidak boleh meninggalkan rumah ini. Anakku, orang tua-Mu tidaklah takut ataupun malu untuk ikut Engkau ke hutan.”

Mendengar kata-kata Ibu Yasoda, Balaram pun tersenyum, dan sambil mata-Nya berlinang air mata dan sambil menundukkan kepala-Nya, Balaram berbicara dengan kata-kata lembut, “Oh ibu, jika ibu dan ayah berubah menjadi muda dan segar kembali maka apa yang ibu ajukan sangatlah bagus. Orang yang masih muda dibenarkan untuk tetap tinggal di rumah ataupun berada di hutan. Oh ibu, ketahuilah bahwa mengembalakan sapi hanyalah alasan kami untuk pergi ke hutan. Sebenarnya kami anak-anak pergi ke hutan adalah untuk bermain-main. Oh ibu, ibu membekali kami empat jenis makanan dan kami bergembira ria memakannya di hutan. Dan saat kami berada di hutan kami juga makan buah-buahan hutan yang rasanya lebih manis daripada nektar. Aku pergi ke hutan untuk membunuh musuh-musuh Vraja. Kemudian Aku kembali ke Vraja. Tidak ada seorang pun di Vraja yang melihat bahwa Akulah yang membunuh raksasa-raksasa itu. Wahai ibu, mengapa ibu harus merasa takut? Ketika Aku pergi, sapi-sapi memakan rumput dan menunggu Aku kembali. Hati mereka sangat suci dan damai.”

Wanita-wanita desa yang berhati mulia, sambil berlinang air mata, berkata kepada Ibu Yasoda, “Sangatlah bertuah bagimu jika engkau terus saja melaksanakan tugas-tugas harianmu. Itu hal terbaik yang dapat engkau lakukan.” Kemudian perempuan-perempuan mulia itu memberkati Krishna kecil. Ibu Yasoda memeluk Krishna lalu membiarkan Dia pergi dengan hati terharu.

Yasoda menyentuh putranya, mengajari Dia, merindukan Dia, mendatangi Dia, terpaku karena rasa cinta kepada-Nya, berbahagia dalam pergaulan-Nya, dan memeluk Dia dengan berbagai cara. Ibu Yasoda tidak pernah jemu bergaul dengan putranya. Terikat oleh tali cinta, Ibu Yasoda dan perempuan-perempuan mulia Vraja mengikuti si kecil Krishna ketika Dia meninggalkan istana. Setelah Krishna pergi, Ibu Yasoda kembali ke istana dan menjalani hari sibuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya.

Ruang Pertemuan Nanda

Krishna kemudian pergi ke ruang pertemuan (sabha) milik ayah-Nya. Tempat itu dipuji oleh para brahmana. Sabha Maharaja Nanda itu adalah langit luas yang dipenuhi cahaya matahari para gembala sapi Vraja. Tempat itu dipuja oleh Dewa Siva sendiri. Di tempat itu, setiap penjuru arah dipenuhi suara bertuah para brahmana yang mengumandangkan kitab-kitab Veda dan banyak pujangga yang mengucapkan doa-doa. Tempat itu penuh kebahagiaan dan banyak penyanyi, penari, dan pemusik yang terpelajar dalam hal seni yang diajarkan oleh Bharata Muni mementaskan pertunjukan mereka. Di sana hadir banyak kerabat keluarga, baik dari pihak ayah Krishna maupun pihak ibu-Nya.

Ditemani Balaram, Krishna memasuki sabha itu, dan dengan demikian membanjiri semua mata dengan nektar berupa ketampanan-Nya yang luar biasa. Kemudian seluruh dunia menjadi gegap gempita dengan suara “Jaya! Jaya! Jaya!” Ketika Krishna masuk, para tetua bangkit dari tempat duduk mereka. Mereka menjadi seperti sebuah sungai cinta yang besar, mengalir menuju lautan Krishna.

Krishna menundukkan kepala memberi hormat kepada semuanya secara kolektif lalu kepada semua orang secara individu, satu demi satu. Dengan kedua lengan-Nya, dengan tangan padma-Nya, dan dengan banyak pandangan-Nya, Krishna memeluk semuanya.

Para penduduk Vraja sangat rendah hati dan menganggap diri mereka insan yang rendah dan tidak berkualifikasi. Meskipun demikian, Dewa Brahma yang agung memuji mereka, dengan mengatakan bahwa mereka adalah kawan-kawan Krishna.

Karena sebelumnya mereka telah melakukan banyak perbuatan saleh, sekarang para penduduk Vraja dapat memandang Krishna yang bagaikan batu nilam dan Balaram yang bagaikan intan. Karena tenggorokannya tersedak air mata, Raja Nanda tidak mampu berbicara. Menyadari rasa cinta yang ada di hati Nanda, Sri Krishna, yang mata-Nya Sendiri bersimbah air mata, berkata, “Oh ayah, walaupun tidak ada bahaya di hutan Vraja, dan walaupun sapi-sapi kembali sendiri dari hutan, bagaimanapun kami anak-anak tetap melanjutkan mengembalakan sapi-sapi di hutan. Alasan sebenarnya kami pergi ke hutan adalah bahwa kami bisa bermain-main di sana.”

Dipimpin oleh Upananda, para warga di ruang pertemuan itu berkata kepada Krishna, “Ayah-Mu adalah nyawa penduduk Vraja, dan Engkau adalah nyawa beliau. Apa lagi yang perlu kami sampaikan? Engkau telah mengetahui segalanya.”

Ketika melihat sejumlah pengemis, dan ingin menyenangkan hati putranya, Raja Nanda memberi sedekah yang melimpah kepada pengemis-pengemis itu. Mereka membalas dengan memberikan berkat tanpa batas kepada putra Nanda, Krishna. Bahkan Krishna tidak dapat menemukan berkat-berkat yang setara dengan apa yang mereka persembahkan.

Krishna mencakupkan tangan lalu memohon agar diizinkan pergi ke hutan. Karena melihat betapa Krishna sangat bersemangat, dan setelah sebelumnya meminta agar para brahmana mengucapkan mantra-mantra bertuah dari kitab-kitab Veda, penduduk Vraja pun mengantar Krishna ke tempat sapi-sapi berada.

Dari kejauhan mereka sudah dapat melihat sapi-sapi itu. Pada awalnya sapi-sapi itu diam saja tak mendekat. Kemudian Krishna dan para gopa datang mendekat. Ketika sapi-sapi melihat mereka mendekat, sapi-sapi itu pun melenguh lalu berlari menyambut, karena menganggap Krishna dan para gopa bagai anak-anaknya sendiri. Anak-anak gembala sapi pun kemudian berangkat menuju hutan dengan riang gembira, sambil berseru-seru dengan suara-suara “jihi jihi”.

Mengikuti aroma wangi anggota badan Krishna, sapi-sapi berjalan riang di belakang. Para gembala sapi yang lebih tua mengikuti di belakang. Mengetahui hal ini, Krishna memperlihatkan sikap cemas. Karena mengerti isi hati Krishna, para gembala sapi yang lebih tua pun berbalik, sambil air mata merembes hingga memenuhi tenggorokan mereka karena rasa haru. Setelah membekali dengan petunjuk-petunjuk, mereka pun berbalik pergi. Tak terhindarkan bagi Nanda menggunakan penglihatannya untuk memuja Krishna. Raja Nanda dan para penduduk Vraja pun kembali ke rumah masing-masing. Tetap saja sesungguhnya mereka tidak mampu menahan hasrat untuk menoleh ke belakang, berusaha melihat-lihat Krishna. Dengan cara memandang ke arah Krishna sambil matanya berkaca-kaca, para tetua pun memberkati Krishna. Krishna membungkukkan badan di hadapan mereka, dan kemudian melanjutkan pergi semakin masuk ke tengah hutan.

–Sri Sankalpa-kalpadruma—
Srila Jiva Gosvami

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s