Buddha Sang Guru

Pada masa yang silam di sebuah kerajaan kecil, di Nepal. India Utara, tinggalah seorang raja yang bernama Shuddhodan.

Pada suatu malam istrinya. Ratu Maya, bermimpi ajaib. Dia bermimpi bahwa dia dibawa pergi oleh para bidadari ke sebuah rumah emas di dataran tinggi pegunungan. Di sana dia mandi dan berbaring di atas tempat tidur sutra dimana seekor gajah putih bergading enam dan memegang bunga padma dengan belalainya datang mendekatinya. Pada waktu gajah itu menyentuh pinggang kanannya dengan bunga tersebut, seorang bayi memasuki kandungannya. Ratu maya terbangun dan dengan bersemangat memberitahukan suaminya tentang mimpi itu.

Sang raja memanggil para menterinya yang bijak untuk mejelaskan arti mimpi ini. Mereka mengatakan mimpi itu memberikan ramalan bahwa orang besar akan segera lahir.

“Dia akan menjadi raja suci atau seorang guru kerohanian besar.”

Dan seperti yang mereka katakan, seorang bayi lahir dari pinggang kanannya, seorang anak yang bisa berdiri dan berbicara sejak dilahirkan. Para pendeta brahmana yang dikonsultasikan mengenai kelahiran itu mencatat tiga puluh dua tanda istimewa pada badan bayi tersebut. Daun-daun telinganya panjang, dan di garis kakinya mereka melihat roda berjari-jari delapan. Mereka mengatakan bahwa sesuai dengan tradisi ini merupakan tanda-tanda orang besar.

Orang tuanya menamakan bayi itu Siddhartha, yang berarti dia yang membawa kebaikan. Dari sejak lahir Siddharta sangat baik dan lembut.

Dia menghindar bermain permainan kasar dengan anak-anak lain dan kebanyakan waktu kecilnya digunakan sendirian atau berbicara dengan binatang kesayangannya. Bahkan rusa liar mau makan dari tangannya. Sang raja melindunginya dari dunia luar. Terjamin bahwa Siddharta menjadi dewasa berbahagia di lingkungan istana, dan tidak mengalami penderitaan apapun.

Siddhartha meninggalkan lingkungan istana pertama kali sebelum menginjak umur dua puluh sembilan tahun. Pada waktu dia lewat sepanjang jalan

dengan menaiki keretanya, dia melihat orang tua yang bungkuk dan keriput, dan tertatih-tatih dengan tongkat. Sang pangeran menjadi tertegun, kemudian dia melihat, di serambi depan, seseorang terbaring di tempat tidur dan merintih dengan sangat menderita. Siddhartha merasakan hatinya pedih yang belum pernah dia rasakan. Tetapi ketika dia melihat mayat seseorang digusung di atas tandu dan dikelilingi oleh orang-orang yang sedang menangis, dia hampir gila untuk mengetahuinya.

Seseorang biarawan berkeliling juga lewat disana. Siddhartha berkeinginan sekali mendekatinya dan meminta dengan sangat penjelasan. “Apa yang saya telah lihat. Mengapa hal seperti ini terjadi?”

Orang suci memberitahukan sang pangeran bahwa dia baru saja menyasikan usia tua, penyait dan kematian. Dia menjelaskan bahwa setiap orang yang lahir di dunia ini mengalami tiga hal ini pada beberapa saat dalam kehidupannya.

Siddhartha memutuskan bahwa dia harus menemukan penyelesian dari masalah-masalah ini. Sehingga ketika dia kembali keistana dia memutuskan untuk menjadi seorang petapa.

Tanpa sepatah kata kepada siapapun, dia meninggalkan istana menuju hutan. Di sana dia mempraktekan pertapaan yang keras. Dia berpuasa dalam kurun waktu yang lama. Akan tetapi pikiran Siddhartha masih terganggu. Dia akhirnya merasa bahwa dia sedang menyiksa badannya. Bukanlah cara untuk menemukan jawaban yang diinginkan. Sehingga dia mengentikan pertapaannya, sekarang dia berhati-hati makan dan tidur secukupnya, tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit.

Suatu hari, ketika sedang duduk bersemadi dengan tenang di bawah pohon Bo, dia mendapatkan kedamaian pikiran dan jawaban yang sudah lama dicari. Dari sejak itu dia dikenal sebagai Buddha, “Orang yang berkesadaran”

Karena kerendahan hatinya, Buddha merasa tidak memenuhi syarat untuk mengajarkan pengetahuan ini kepada orang lain. Tetapi kemudian, dalam pandangan, sang pencipta. Dewa Brahma, memerintahkannya untuk menyebarkan pengetahuannya kepada orang lain. Dengan demikian. Buddha pergi ke tengah-tengah masyarakat. Beliau mengajarkan mereka bahwa semua penderitaan  berasal dari keinginan, dan jika kita ingin bebas dari penderitaan, kita harus bebas dari keinginan mementingkan diri sendiri. Beliau mengajarkan ahimsa, prinsip tidak melakukan kekerasan terhadap mahluk hidup. “Beliau mengajarkan,” dan dengan cara ini kita mengembangan kebijaksanaan dan kebaikan.”

Buddha, memiliki banyak murid, dan kemasyuran-Nya sebagai pemimpin kerohanian tersebar luas. Beliau mengajarkan para pengikutnya tidak makan daging. Dengan cara ini Beliau mengindari pembunuhan binatang yang tidak bersalah di seluruh dan diluar India.

Pada umur delapan puluh tahun pada hari yang sama pada tahun ketika beliau lahir dan juga ketika Beliau mencapai penerangan, Buddha kembali ke dunia rohani. Para pengikut Buddha sekarang merayakan hari itu dengan festival yang disebut Waisak. Pada hari ini di tempat-tempat suci seluruh dunia, umatnya memuja arca Buddha yang indah dengan dupa dan bunga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s