Kenakalan Masa Kanak-Kanak Sri Caitanya

Nimai melanjutkan menikmati lila-Nya bersama suara-suara nama suci-Nya sendiri. Dia marah-marah dan tidak akan mau tenang sampai Dia mendengar kirtana. Suatu kali bahkan kirtana pun tidak bisa menenangkan Dia. Nimai menangis me-ngatakan bahwa Dia ingin memakan persembahan Jagadisa Pandita dan Hiranya Pandita, tidak mau yang lain. Dua rekan kekal Sri Caitanya ini adalah kawan dekat Jagannatha Misra. Mereka heran mendengar permintaan Nimai sebab mereka tinggal beberapa mil jauhnya sehingga bagaimana bisa Nimai mengetahui bahwa mereka baru saja membuat persembahan istimewa untuk Arca Krishna mereka? Terheran-heran dengan peng-lihatan spiritual Nimai, dengan gembira mereka membawakan semuanya untuk kepuasan Nimai. Nimai memakan prasadam itu dengan riang gem-bira, menari dan menyanyikan nama-Nya sendiri.

Nimai bermain banyak jenis permainan bersama teman-teman-Nya. Dalam sebuah permainan yang disebut markata kela, mereka meniru monyet-monyet dengan cara berdiri dengan satu kaki. Suatu kali ketika Nimai sedang memainkan per-mainan ini, Sacimata mendengar bahwa Nimai bermain terlalu dekat dengan Sungai Gangga. Beliau mengambil sebilah tongkat lalu bergegas ke tempat itu untuk memarahi Nimai. Nimai sedang berdiri dengan satu kaki ketika Dia mendengar ibu-Nya datang dalam keadaan marah dan me-manggil-manggil Dia dengan suara yang mena-kutkan. Nimai segera lari ketakutan dan Sacimata mengejar dengan berseru, “Tangkap Dia! Tangkap Dia!” tapi dengan mudah Nimai meninggalkan ibu-Nya di belakang. Dalam permainan lain Nimai menggoda Sacimata dengan cara berulangkali mengatakan bahwa Dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan sang ibu. Dengan penuh semangat, Sacimata memperkeras suaranya tapi Nimai tetap saja mengatakan bahwa Dia tidak bisa mende-ngarnya. Akhirnya, dalam keadaan sangat jengkel, Sacimata mengejar Nimai sambil membawa tong-kat tapi Nimai segera berlari sambil tertawa.

Pada saat lainnya Nimai dan kawan-kawan-Nya menemukan beberapa anak anjing lalu bermain-main dengan anak-anak anjing itu. Salah seorang anak marah karena Nimai mengambil anak anjing paling bagus untuk diri-Nya sendiri sehingga ke-tika ia melihat Sacimata ia mengadu. Sacimata ka-get sekali. Beliau berlari pulang dan melihat Nimai telah membawa salah satu anak anjing itu ke rumah dan sedang bermain-main bersama kawan-kawan-Nya. “Visvambhara! Apa yang Engkau lakukan? Ibu tidak bisa mengerti perilaku-Mu. Apa yang akan dikatakan orang jika mereka melihat Engkau ber-main-main dengan seekor anjing? Perilaku ini tidak pantas bagi seorang putra brahmana.”

Bergitu melihat wajah putranya yang kaget dan lugu, kemarahan Sacimata reda dan beliau me-nyuruh Nimai pergi mandi kemudian pulang untuk makan siang. Nimai mengikat anak anjing itu di kursi dan berkata, “Ibu, tolong awasi anjing-Ku se-mentara Aku mandi.” Ketika Nimai pergi, Sacimata melepaskan anjing itu dan mengusirnya. Sekem-balinya dari mandi di Sungai Gangga, Nimai ber-gegas melihat anjing-Nya tapi menemukan bahwa anak anjing itu telah hilang. Nimai sangat marah terhadap Sacimata tapi Dia segera melupakan semua itu ketika Sacimata memanjakannya dengan kata-kata manis, pelukan dan ciuman. Belakangan anak anjing itu terlihat sedang menari-nari dengan penuh kebahagiaan rohani dan mengucapkan “Radhe! Krishna!” sambil badannya memperli-hatkan tanda-tanda kebahagiaan rohani. Anjing itu kemudian melepas badannya dan pergi menuju Goloka Vrndavana naik kereta kahyangan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s