Sri Govinda-lilamrta #3

BAB TIGA:

Sri Radha Memasak untuk Krishna

Ketika Gokula-nanda (Krsna) pergi ke kandang sapi, ratu Yasoda menjadi sangat ingin sekali untuk menyiapkan-Nya sarapan, sehingga dia sendirian sibuk di rumahnya. Walaupun mereka semua sangatlah sibuk didalam tugas kewajiban mereka dalam kebahagian cinta kasih kepada Krishna, masih saja ibu Yasoda, memperlihatkan nektar dari cinta kasihnya kepada puteranya, langsung kepada mereka semua. Dia berkata kepada pelayannya: “O Gadis! Puteraku akan segera kembali dari kandang dengan Balarama, kurus dan lapar, sehingga segeralah mulai memasak! Ambil bayam, lobak, bunga-bunga emas, mung dal, buah-buahan, rempah-rempah, jahe, kacang tanah, siapkan asam-asaman, haldi, lada/merica, camphor, gula, biji cumin , krim susu, asam jawa, hing, madu, pala, daun singkong, gula hitam, gula tebu, bahan-bahan untuk puding, garam laut, bubur kelapa, tepung, ghi, yogurt, Tulasi dan beras utuh, dan bawa susu dari seekor sapi yang lebih tua yang melahirkan anak, itu telah diantarkan kesini pagi ini  oleh Nanda Maharaja. Bawa semua bahan-bahan ini ke dapur untuk dipersiapkan!” (1-5)

Pelayannya itu dengan segera membawa semua pesanan itu dan ibu Yasoda, kebahagian oleh cinta kasih  untuk Krsna, memanggil ibu Rohini dan berkata padanya: “kawan Rohini! Badan-badan yang halus dari anak kita(Krsna dan Balaram) sangat banyak  luka selama mereka memainkan permainan gulat! Berapa pelayan-pelayan pengembala sapi tidak ada dirumahku? Tetap, meskipun aku larang, Krsna dan Balarama pergi ke padang rumput Mereka sendiri yang mengembalakan sapi –sapi itu! Apa yang dapat aku lakukan? Sakhi! Putera-putera kita menggunakan diri Mereka sendiri  dengan tarian dan jalan-jalan di dalam hutan dan kemudian, di malam hari ketika Mereka kembali , Mereka tidak mempunyai nafsu makan dan mereka hampir tidak makan sesuatu! Dengan demikian Mereka menjadi sangat lelah dan kurus! Aduh! Di pagi hari perut mereka  bersentuhan denag punggung Mereka! O yang berwajah cantik Rohini! Cepatlah datang ke dapur! Putera-putera kita menjadi sangat lapar sekali! Siapkan cukup makanan untuk memuaskan rasa lapar Mereka yang luar biasa! Hati-hatilah menyiapkan  kari yang sama Mereka sangat suka sekali kemarin, dan  apapun yang lain Mereka suka!” (6-10)

Karena diperintahkan oleh Yasoda, ibu Balarama dengan gembira pergi menuju dapaur dengan pelayan-pelayannya, dengan gembira mengambil semua bahan-bahan masakan dengan nya. (11)  berhasr sekali untuk menambah rasa lapar yang rendah dari puteranya dengan menyiapkan manisan-manisan yang berbeda-beda, ratu Gokula ingin mengajak Sri Radha untuk masak. (12)

Kebetulan, Kundalata, istri dari Upananda putera Subhadra, datang bersama dan mempersembahkan sembah sujudnya kepada ratu Yasoda. Yasoda berkata kepadanya: “O Kundalate! Suatu hari Durvasa Muni mengkaruniakan Sri Radhika, berkata: “Mungkin masakan yang Engkau hidangkan rasanya sangat manis dari pada nektar dan mungkin setiap orang yang menyantap mereka dikaruniakan dengan umur hidup yang panjang!” Karena karunia ini aku memanggil Radha ke sini untuk memasak setiap hari! Walaupun puteraku penyantap kecil Dia mendapatkan rasa lapar yang luar biasa ketika Dia menyantap masakan yang lezat yang disiapkan Radha, jadi mohonkanlah kepada ibu mertua-Nya dengan kata-kata ku dan segeralah ajak Radha ke sini bersama semua kawan-kawan wanita-Nya” (13-15)

Walaupun ibu Yasoda setiap hari menyibukkan Kundalata seperti ini, selalu itu lagi dilakukan seperti pertama kalinya. Tidak ada kekeliruaan dalam hal ini,  penduduk Vraja tidak sadar akan hal itu. Dimabukan oleh cinta kasih rohani untuk Krsna mereka  mengalami rutinitas ini seperti selalu baru (biasa saja). (16)

Kundaata berbunga-bunga dengan gembira karena kata-kata Yasoda dan dia menjadi berhasrat untuk mempersatukan lebah betina Radhika dengan lebah jantan Madhusudana. (17)

Walapun Jatila sangat kaku  terhadap menantunya, Radhika, Kundala yang pandai datang kepadanya dan memberitahukan pesan dari ratu Vraja. Mendengar pesan nya, Jatila menjadi khawatir dengan keinginan Krsna terhadap menantunya. Tapi dia mengigat intruksi Paurnamasi (lihat bab 2, ayat 45) dan berkata kepada Kundalata: “O nak! Menantuku adalah seorang wanita suci, yang dipermanis oleh manu dari atribut-atribut yang agung, tapi putrera Nanda sangat nakal! Masyarakat umum selalu mencari-cari kesalahan, tapi Paurnamasi juga berkata kepaa ku jangan pernah untuk mengabaikan perintah dari ratu Vraja. Apa yang harus aku lakukan?” (18-20)

Kundalata menjawab: “O ibu! Engkau tentunya berbicara benar, tapi engkau sebaiknya tidak berpikir bahwa pangeran Vraja sebagai anak nakal seperti orang-orang jahat yang berkata kepadamu! Seperti halnya matahari  memelihara bunga padma, melenyapkan kegelapan di dunia dan menggembirakan burung-burung-Cakravaka, Dai tidak bisa memuaskan setiap orang , untuk kebutaan burung hantu itu sebagai Contohnya. Begitu pula, Krisna memberikan kegembiraan seluruh Vraja, kecuali untuk beberapa! Gadis-gadis muda dunia dibuat jengkel oleh kerupawanan-Nya, jadi karena itulah pantas anda khawatir mengenai keselamatan menantu-mu, tapi jangan khawatir; Krsna tidak akan dapat bahkan untuk melihar bayangan-Nya, dan aku akan secepatnya dan secara pribadi mengantarkan Dia kembali kepada anda!” (22)

Jatila menjawab: “O Putri Kundalate! Anda terkenal di Vraja untuk kesucianmu, oleh karena itu aku mempercayakan menantuku yang  tidak bedosa kepada tangan mu! Mata dari putera Nanda sangat gelisah, jadi mohonlah buat dengan pasti bahwa Dia tidak melihat-Nya!” (23) Kemudian dia memanggil menantunya dan berkata kepada-Nya: “Gadis yang terkasih! Pergilah bersama Kundalata kepada ratu Nanda, lakukan apa yang dia katakan kepada-Mu dan kemudian segeralah kembali pulang. Hari ini engkau harus memuja dewa matahari!” (24)

Ketika Radha  diberitahukan oleh Jatila, Dia menjadi sangat senang dalam hati, tapi, berpura-pura tidak menginginkan untuk pergi,  Dia berkata kepada Kundalata: Aku mempunyai pekerjaan di rumah! Seorang istri rumah tangga seharusnya tidak berkeluyuran dari rumah ke rumah!” (25)

Sekali lagi Jatila mendorong Radhika untuk pergi ke Nandisvara.  Kemudian Kundalata meraih meegang tangan Radhika, berkata: “O gadis suci! Mengapa Engkau begitu takut untuk pergi kesana! Aku berada di sini untuk melindungi-Mu!” begitulah Radhika, gemetaran karena kegembiraan, pergi bersama dengan-nya. Teman-teman-Nya, dipimpin oleh Lalita, mengikuti-Nya, mengambil laddu buatan sendiri dan semua untuk sarapan pagi Krishna. (26-27)

Di jalan, Kundalata melihat selendang bergerak pada buah dada Radhika dan membuat canda yang memikat mengenai hal ini dengan teman-teman wanita-Nya. (28) Dia berkata: “O Radhe!  Walaupun suami-Mu telah pergi selama tiga atau empat hari untuk memperoleh pembelian yang baru membuahi sapi yang dibuahi oleh sapi jantan, dia datang semalam dan tidur sendirian di kamar-nya sendiri! Tetap saja kami bisa melihat bahwa panyudara-Mu telah ditutupi oleh tanda paku dan bibir-Mu penuh dengan tanda gigitan! Kami semua sangat bahagia bahwa Kamu menunjukkan masing-masing tanda itu jelas dari kesetiaan kepada suami-Mu saat ini!”(29)

Melihat senyum tersembunyi Radha dan keheranan-Nya, mata yang sedikit kerdipan, Lalita berkata kepada Kundalata: “Mengapa anda menyebabkan rasa gelisah yang tidak perlu pada hati Radhika? Kemarin beberapa burung nuri yang berani di dalam hutan hinggap pada panyudara-Nya, mereka keliru terhadap buah delima (dan mengores nya) dan kemudian dia mengigit bibir-Nya, mereka berpikir bahwa itu adalah buah Bimba yang matang. Makanya kenapa Dia memar seperti ini!” (30-31)

Kundalata melihat bahwa tubuh Radhika gemetar setelah mendengar kata-kata Lalita,  bahwa Dia mengelembung pada ombak dari permainan pada saat mengingat lila-Nya dengan Krishna malam sebelumnya. Kundalata tersenyum melihat dekat sebuah kolam dan berkata, seolah-oleh menunjuk kepada setangkai padma betina: “O Padmini yang kebingungan!  Kenapa engkau gemetaran karena mabuk kebahagian? Kundalata adalah (bunga yang gugur dari Kunda atau kemenakan perempuan Krishna) devara (saudara jauh Krishna, atau pemberi kegembiraan kepada  Madhusudana (Krsna, atau seekor lebah) menunjukkan rasa resahnya sendiri, menikmati mu (meninggalkan mu setelah meminum madu mu). Sekarang dia akan meminum nektar mu lagi? (yakin bahwa dia tidak akan menang)” (32-33)

Kemudian Visakha yang pintar, yang sangat ahli sekali dalam membuat anting-anting emas dari kata-kata canda, itu memberikan kegembiraan pada telinga, berkata kepada Kundavali: “O sakhi Kundalate! Sepertihalnya  penawaran ini dan lotus yang canrik takut terhadap lebah, meskipun berbunga dari cinta untuk sang matahari, lotus ono-seperti Radhika takut terhadap ipar laki-laki mu Krishna!”

Sangat resah terhadap kerinduan-Nya untuk melihat Krishna, yang tampil maju dari perasaannya yang sangat kuat bangkit karena keterikatan-Nya kepada Krishna. Sri Radhika menjadi kegembiraan mengebu-gebu karena sangat kuatnya kebahagian cinta kasih. Walaupun Dia mendengar candaan sindiran ini Dia secara pelan mendekati tempat tinggal  dari raja Vraja dengan kawan-kawan wanita-Nya yang terkasih.(36)

Sesampainya, Dia memberikan rasa hormatnya kepada Yasoda ibu Mukunda , yang mengangkat-Nya dan memeluk-Nya dengan kedua tangan, mendekap-Nya pada dada-nya. Lebih kasih sayang daripada jutaan ibu, Yasoda memberkati dengan mencium kepala Radhika dan mencium Radhika air mata mengalir dari mata ibu Yasoda. (37)

Yasoda demikian pula memeluk setiap kawan-kawan Radhika dan membebaskan menanyakan pada Nya mengenai bagaimana kesejahteraan-Nya. Kebahagian yang meluap karena cinta kasih untuk puteranya dan keinginan untuk segera menata untuk sarapan Krishna, ibu Yasoda berkata: “ O Gadis! Kamu yang terkenal di Vraja untuk keahlianmu  dalam membuat hidangan yang manis. Masaklah hidangan yang lezat maka akan memberikan selera makan untuk seorang yang nafsu makannya kecil seperti putera ku!” (38-39)

“O gadis! Seorang dari mu harus membuat hidangan yang asin, beberapa orang harus membuat sebuah hidangan –curd, beberapa sebaiknya memasak berisi ghee dan beberapa orang memasak berisi gula! O Radhe! Ibu! Engkau yang ahli dalam memasak masakan yang lezat, maka dari itu mohonlah menuju ke dapur ku dengan Rohini dan hati-hatilah menyiapkan manis-manisan yang terbaik dan sayuran-sayuran dengan ibu Rohini! O puteri ku! Hati-hatilah dalam menyiapkan Amrta Keli dan Karpura kelipies1­ itu jutaan kali lebih manis dan lezat daripada nektar (madu)! Yang ada di ketiga dunia namun Engkau tahu bagaimana mempersiapkan segala sesuatunya bahwa itu menimbulkan hasrat untuk menyantap? O Gadis! Hidangkan kue pastel piyusa-granthi bahwa Krishna rindu akan itu dan hati-hati meletakkan ini dalam lima jenis nektar dengan sebuah minuman dari cardamom dan camphor!” (40-43)

“O Ibu Lalite! Buatlah susu kental dengan gula dan camphor! O Visakhe! Cepatlah membuat Sarab ( segelah minuman –dari susu sapi denan gula, cardamom, ghi dan madu)! O Sasilekhe! Buat Sikharine ( serupa dengan susu-yang lezat)! O putri Campakalate! Buatlah metega susu! O puteri Tungavidye! Buatlah Minuman-Amiksa dicampur dengan semua bahan-bahan yang sesuazi untuk berbagai macam jenis! O Ibu Citre! Buatlah Matsyandi ( segelas minuman  gula-gula)! O Rangadevi buatlah kue pie-gula tebu! O Sudevi! Buatlah Sweet Rice! O Vasanti! Buatlah permen gula-gula putih berlubang! O Mangale! Buatlah Kundalikas (jilepis)! O Kadambari! Buatlah Candrakanti—pie camphor ! O Lasike! Buatlah laddu dari gula, beras dan buah anggu! O Kaumudi! Buatlah berbagai macam puri! O ibu Mandalasae! Buatlah kue yang berbentuk bulan! O Sasimukhi! Hati-hatilah membuat pie dengan curd! O Sumukhi! Buatlah kue manis enak berasa gula! O manimati! Buatlah berbagai jenis kue-kue dari beras! O Anak Kancanavali! Buatlah uantaian-untaian-seperti laddu dari tepung berisi ghi! O Manorame! Buatlah Manohara laddu! O Ratnamale!buatlah MOticura-laddus! O Madhavi! Buatlah wijen manis dengan mengoreng biji-biji wijen tanpa kulit! Selanjutnya kamu bisa memotong berbentuk segi empat pie wijen namanya Tila-kadamba! O Vidhye! Buatlah sekerajang manisan-berbentuk pie dengan mengoreng mengunakan seluruhnya dengan tepung terigu/gandum dan barley pertama dimasukkan ghu dan kemudian dimasukkan air gula; kemudian buatlah sebuah pie belahan kacang polong ! O Rambhe! Buatlah tepung jagung dicampur dengan curd dengan pisang dimasak dengan gula dan letakan itu pada sebuah talam emas! O Manojne! Buatlah jus dari buah mangga yang matang dan simpanlah itu pada susu yang kental dengan gula! O Kilimbe! Buatlah ghi dari susu yang diambil dari sapi Sugandha pagi ini dan dari mana aku mengaduk curd ! O Ambike!  Aduklah susu yang Nanda Maharaja secara personal mengambil susunya dari sapi Dhavala dan yang mana di aantarkan kesini untuk dikonsumsi Krsna dan Balarama! O Gadis-gadis! Segeralah pergi ke gudang penyimpanan susu ku, yang diisi dengan saringan yang besar, pot tanah liat, mangkuk kayu dan yang dipercikan dengan air dan digosok dengan kotoran sapi! O Dhanisthike! Ambil semua item-item ini dari ruang penyimpanan yang berbeda dan tempatkan item-item itu pada tempat penghidangan yang sesuai! O Ranganamalike2! Pergilah keruang penyimpanan dengan Tulasi dan segeralah dapatkan semua bahan-bahan yang diperlukan dan tempatkan bahan itu sebelum pelayanmu yang akan mengunakan bahan itu untuk diolah! O Indumukhi! Ambilah hogplums, manga, buah delima, buah-buah-Kariras, Myrobalan, lemon-Limpaka, Badaris (jujubes) dan Rucakas dan akar-akaran seperti jahe itu dapat menjaga rasa garam dan minyak untuk beberapa hari untuk membuat bahan acar itu sangat lezat, bagus juga. Asam jawa (tamarind) manga, myrobalans, Badaris dan buah berry itu telah disimpan dalam air gula untuk beberapa hari , keluarkan dari ruang penyimpanan dan letakan bahan itu di talam terbuat dari emas! O Sande! Subhe! Bharani! Pibari Mistahaste! O gadis-gadis! Cepatlah ambil susu yang terbaik, yang telah diperoleh dari padang rumput oleh pengantar susu, pada tungku dan mulailah mengaduknya!”

Gandharvika (Radhika) mengambil kerudung-Nya, cincin-cincin dan perhiasan dan menyerahkannya kepada Tulasi. Dia mencuci tangan-Nya dan kaki dengan air dituangkan oleh Dhanistha dan membukukkan kepala-Nya kebawah dihadapan Ibu Rohini, yang sangat senang sekali memanjakan-Nya seperti halnya jika Dia adalah menantu perempuan-nya. Kemudian Dia memasuki dapur. (61-62)

Ketika semua gopi demikian berbahagianya dengan riang dan memulai bekerja. Ibu Yasoda sangat senang sekali dan berkata kepada pelayan-nya: “O Payoda! Tempat air iru, yang yang dibawa dari Yamuna kemarin-malam, yang disimpan dalam pot-pot baru ditutupi dengan alas tilam, diberi wewangian dengan kunkuma, aguru, camphor dan Cendana, untuk menjaga tetap cool dengan angin yang sepoi-sepoi dan sinar-bulan, dan disimpan dalam tempat yang khusus, disekelilinynya batu-bulan berundak yang dicucurkan dengan air! O Varida! beri wewangian  pada pot air minum Krsna dan Balarama dengan aguru-asap, melati, camphor, cengkeh, dan mawar! O anak tukang cukur Subandha! Bawalah minyak-Narayana, yang mengobati berbagai macam penyakit dan memelihara tubuh, dan yang telah digunakan oleh tabib Kalyanada, dari rumah ku, untuk memijat Krishna. O tukang cukur Subandha dan Karpuraka! Cepatlah dapatkan Udvartana harum-haruman yang menyejukkan itu-salep yang dibuat dari  Amalaki yang digiling untuk rambut! O Saranga! Cepatlah peras itu, semua kain-kain putih yang untuk mandi dan menyegarkan, kain sutera emas, beri wewangian dengan bubuk harum untuk digunakan setelah mandi! O Bakula! Bawakan empat jenis  dari pakaian tradisional Vraja, yaitu turban merah, kemeja emas, pakaian dalam merah dan berbagai macam warna ikat pinggang, dan setrika  pakaian-Raucika, itu pas untuk menari dan itu  adalah yang tukang jahit  yang sangat ahli di warna-warna berbeda dengan putus dan tak putus-putus! O Suvasa vilaa Gandhin! Hati-hati mengisi  box yang bertahtahkan mutiara permata dengan  salep seperti catuh sama, yang terdiri dari vermilion, pohon gaharu, Cendana dan camphor! O Talika! Gilinglah Gorocana ( perwarna berwarna kuning) untuk digunakan sebagai tilaka Krsna! O Sucitra! Gilinglah mineral dari Bukit Govardhana untuk melukis pada wajah Krishna! O Puspahasa, Sumanah dan Makaranda! Cepatlah buat sebuah garland dari Naga Kesara, vasanti, emas Yuthi dan bunga-bunga yang lain dan beri wewangian dengan pohon gaharu hitam dan camphor ! O Sairindhra, Malin, Karanda dan Bhrngin! Ambil semua perhiasan yang bertahtahkan permata dan emas itu adalah karya dari tukang emas Rangana dan Takana telah membuat itu dengan rasa cinta yang sangat beberapa hari lalu dengan kerja keras, mengikuti kegiatanku yang luar biasa, dan telah menyerahkannya padaku kemarin malam, dari gudang penyimpanan! Minggu ini adalah kontelasi bintang-Pusya, yang membawa amrta (nektar atau kebadian), jadi hiaslah anak laki-laki ku dengan semua itu! O nak Salika! Buatlah sebuah mahkota dari bulu-bulu burung merak yang bagus! O Malika! Buatlah untaian-untaian yang bagus berbeda-beda antara merah dan putih biji gunja ! O Jambula! Cepatlah potong bagian potongan yang jelek dari daun buah pinang ini dengan gunting dan bersihkan bagian yang bagus dengan sebuah kain yang bersih! O Svilasin! Cepatlah  harumkan biji-biji sirih ini  dengan camphor setelah menghacurkan itu dengan alat pemecah biji dan masahi itu dengan susu,  kelupas itu seperti daun-daun Dhatri.! O Rasala dan Visalakhya! Buatlah panci dengan tanah cardamom, catechu, dan cengkeh itu dibersihkan dengan sebuah kain!” (63-30)

Mendengar perintah dari ibu Yasoda, para pelayan itu pergi ke tempat mereka bekerja dan ibu mereka, mengalihkan matanya turun pada jalan itu untuk melihat jika putera-putera nya kebali, meminta seorang pengantar barang kembal dari padang rumput: “apakah Krsna datang?  Kenapa Dia begitu telat!” seorang pengantar barang berkata kepadanya: “Krsna memberi makanan kepada anak-anak sapi yang lebih kecildengan padi-padi yang segar!” sedangkan yang lain berkata: “Dia membuat sapi jantan beradu untuk sapi-sapi, dikelilingi oleh teman laki-pengembala sapi-Nya!” (81-82)

Kemudian ibu Yasoda, sangat ingin sekali untuk membawa puteranya kembali pulang berkata kepada pelayan Krsna, Raktaka, yang tetap sangat setia dalam pelayanannya: “O Raktaka! Cepatlah pergi kepadang rumput dan bawa Madhumangala, Balarama dan putera ku yang nakal kemari!” kemudian dia pergi ke dapur dan meminta ibu Balarama ROhini: “mohonlah tunjukan kepada ku mana kari dan hidanganyang lain dari Radha dan yang telah engkau siapkan!”

Mendengar kata-kata Yasoda, Rohini memuji kecakapan Radha dalam memasak. Akan menunjukkan kepada Yasoda seluruh kari itu, diletakkan berderatan  dalam pot tanah liat pada meja yang besih, dia berkata: “O teman yang berwajah cantikYasode! Radha yang ahli telah membuat sweet rice yang lezat, disimpan di sini di dalam pot tanahg liat yang besar ini< sangat manis dan menyejukkan bahkan daripada bulan itu! O wanita suci! Aku membuat manisan ini lezat, lembut dan manis bubur-samyava yang memberikan kekuatan dan nutrisi, dan itu disimpan didalam pot tanah liat itu! Dan lihatlah, disana juga ada kue dengan pisang, kelapa dan krim, dan berbagai jenis dari hidangan puing yang lezat! Lihatlah bagaimana Radha menyiapkan pie Piyusa granthi ini -, Karpura keli-dan Amrta Keli! Bahkan aku tidak tahu bagaimana membuat itu begitu menarik sekali! Ada dua jenis pie-pea dibuat hanya dengan gula atau garam, dikocok dan dibasahi, dan disana juga ada dua jenis pie-Masa dibuat dengan gula atau garam! Terdapat empat jenis kue pie dengan tamarin, hogplum, sorrel dan manga, dibagi lagi dalam Mugda, uamh sedikit dipermanis dan sangat manis, yang dibuat sebanyak dua belas kenis. Lihatlah, buah pisang ini dengan bunga-bunga segarnya, dengan akar-akar-Mana dan bagian-bagian vital dari akar-air dengan kentang, wortel dan labu, digoreng dalam ghi dan dibumbui dengan Canaka- pastel dalam sebuah cara menabur berputar.

by Srinidhi dasa 206-2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s