Sri Govinda-lilamrta #2

Bab Dua:

Pratah-lila

Lila Pagi Hari

Bab dua hingga Bab empat menguraikan lila di pagi hari, lila itu berawal dari 6.00 pagi hingga 8.24 pagi.

RINGKASAN DARI LILA PAGI HARI:

Hamba berlindung pada Sri Radha, yang diutus oleh Ratu Vraja memasak untuk Krishna setelah mandi dan menghias Dirinya sendiri berserta kekasih-kekasih-Nya. Setelah memasak untuk Krsna di tempat Tinggal-Nya Dia (Radha) menyantap sisa dari sisa makanan Krishna. Hamba juga berlindung kehadapan Sri Krishna, yang, setelah bangun, pergi menuju kandang memerah sapi-sapi-Nya dan kemudian memandikan dan memberi makanan bersama kawan-kawan-Nya. (1)

Demikian Paurnamasi, yang kelihatan seperti sebuah bulan purnama cinta kasih rohani Krsna, setelah menyelesaikan tugas kewajibannya di pagi hari dengan segera mendatangi tempat tinggal raja Vraja, hatinya dipenuhi dengan cinta kasih untuk Acyuta. Dia sangat gembira sekali melihat tempat tinggal raja Vraja, yang kelihatan seperti Svetadvipa, pulau putih Tuhan Sri Visnu, yang amat menggembirakan hati para pemuja dengan daya tarik lingkungannya yang ditetesi oleh tetesan susu itu terpercik keluar dari tong tempat curd  (dadih) dan butter (mentega), dengan begitu banyaknya cinta kasih rohani, orang-orang berjalan dengan penuh kasih sayang mengelilingi dan interiornya dibuat dengan berbagai macam permata dan gelembung-gelembung susu yang mengagumkan. Di sinilah Acyuta tidur di tempat bermainnya. (2-3)

Yasoda, ratu Vraja, yang begitu ahli dalam mengetahui waktu dan keadaan, melihat Paurnamasi, yang kelihatan seperti dewi penebusan dosa, datang dan penuh kegembiraan menyambut tamu-nya. Ibu Mukunda berkata: “O ibu yang Suci! O objek pujaan dari Vraja! Selamat datang! Mohonlah masuk kedalam! Aku bersujud kepada mu!” dan bersujud kepada Paurnamasi, yang memberkati-Nya. (4-5)

Berhasrat untuk melihat Govinda, Paurnamasi mengkaruniai Yasoda dan menanyakan bagaimana kesejahteraan dirinya, putranya, suaminya dan sapi-sapi mereka. Ratu Vraja menyampaikan bahwa dia berada dalam keadaan baik dan kemudian berhasrat sekali memasuki tempat tidur putranya dengan Paurnamasi. (6-7)

Sementara itu, Gobhata, Bhadrasena, Subala, Sri Stokakrsna, Arjuna, Sridama, Ujjvala, Dama Kinkini, Sudama dan kawan-kawan yang lain Krsna segera keluar dari rumah-rumah mereka dan dengan penuh kegembiraan bergabung dengan Balarama di halaman, memanggil: “Krsna! Bangunlah! Marilah pergi ke tempat orang yang Engkau cintai!”

Madhumangala, teman Krsna yang brahmacari, meninggalkan tempat tidur dan berkata: “hi hi! Mengapa kawan kami masih tetap tidur, O kawan? Aku akan membangunkan-Nya!” yang diperdaya oleh tidur dan kelelahan, Madhumangala masuk kedalam tempat tidur Sri Hari dan mengomel: “O Kawan, bangunlah!”

Walaupun Tuhan sejatinya terbangun dari mendengar panggilan Madhumangala dan walaupun Dia ingin untuk bangkit, Dia tidak dapat. Mata padma-Nya tetap tertutup-tidur. (11)

Ibu Yasoda kemudian mencoba untuk membangunkan Sri Hari yang tertidur di atas tempat tidur permata-Nya seperti personifikasi Veda membangunkan Tuhan Sri Hari (Visnu) ketika Dia tertidur di atas tempat tidur permata dari Ananta Sesa di sebuah istana di lautan Susu selama terminasi alam semesta. Ibu Yasoda meletakkan tangan kirinya pada tempat tidur dan, membungkuk, menempatkan bobot tubuhnya pada itu, menyentuh tubuh Krsna dengan tangan kanannya yang seperti bunga padma. Menetesi tempat tidur dengan air mata kebahagiaan dan susu yang bercucuran dari buah dada-nya, Ibu Yasoda berkata: “bangun, anakku! Perlihatkan kami wajah-Mu yang seperti bunga padma! O putera! Walaupun para sapi-sapi itu sudah memiliki anak-anak mereka tidak akan menghasilkan susu tanpa mereka melihat-Mu! Demikian pula, ayah-Mu telah pergi ke kandang sendirian tanpa memanggil-Mu, khawatir akan menganggu tidur-Mu! Bangkitlah, biarkan ibu membasuh wajah-Mu! Mengapa Engkau menggunakan pakaian biru dari Balarama?”berkata begitu, ibu Yasoda memindahkan pakaian biru Radhika dari badan Krsna dengan tangannya dan berkata kepada Paurnamasi: “O Ibu Suci, lihatlah tubuh putraku, lembut bagaikan setangkai bunga padma! Yang telah dilukai oleh kuku jari yang tajam oleh kawan sepermainannya yang resah pada saat mereka memainkan permainan gulat dan diwarnai oleh mineral pigmen yang sangat mengagumkan. O! Aku sangat gundah! Apa yang sebaiknya aku lakukan?” (12-16)

Ketika Krsna mendengar kata-kata mengejutkan dan kasih sayang ibu-Nya, mata-Nya menjadi dipenuhi dengan perasaan yang malu. Kemudian Madhumangala, yang ahli dalam melakukan guyonan, melihat Krsna ragu-ragu bercampur perasaan takut, berkata kepada ibu Krsna, yang mana hatinya telah dibasahi dengan kasih sayang: “Itu benar, ibu! Walaupun saya selalu melarang mereka, teman-teman yang loba ini (atau: teman-teman wanita yang sangat bernafsu) selalu bermain permainan kasar (atau: permainan yang bersifat cinta kasih rohani) dengan-Nya di dalam punjung (rumah kecil yang halamannya dipenuhi oleh tanaman-tanaman yang menjalar)!” (17-19)

Kemudian Sri Hari memperlihatkan lila masa kanak-kanak-Nya, berkali-kali membuka mata-Nya dengan perhatian, dan, melihat ibu-Nya sendiri dihadapan-Nya, menyambut mereka lagi dengan sebuah senyuman dari wajah-Nya yang seperti bunga padma. (20)

Paurnamasi, mendengar kata-kata ini dari Ratu Vraja dan menyaksikan lila kanak-kanak Krsna, yang menyembunyikan suatu rasa yang berbeda dari ibu-Nya, tersenyum dan berkata kepada Krsna: “Karena Engkau lelah dari bermain yang terus menerus dengan banyak permainan yang hebat dengan begitu banyak (wanita) kawan-kawan-Mu, itu pantas, O anak yang sadar, sekarang Kamu tidur. Tapi anak sapi tidak akan minum susu mereka tanpa melihat-Mu, walaupun mereka haus, o Tuhan dari suku Vraja—bangkitlah! Bangunlah, O pangeran padang rumput! Lihatlah, kakak-Mu dan kawan-kawan muda-Mu telah datang di halaman mendekat bersama, mengembala bersama anak-anak sapi. Walaupun waktunya sudah lewat untuk pergi ke padang rumput, mereka tetap menunggu-Mu!” (21-23)

Merentangkan badan-Nya, menjulurkan tangan mengeratkan kedalam kepalan tangan-Nya, Krsna bangkit dari tempat tidur, membuat suatu jaring-jaring dari sinar menyilaukan dengan gigi-Nya sambil menguap, seperti pohon Tamala-Nya berwarna biru ditempatkan kaki padma-Nya di atas tanah dan menguap dengan suara gagap: “ O wanita suci, Aku  mempersembahkan rasa hormat-Ku kepada anda!” (24-25)

Kemudian ibu-Nya, yang gembira luar biasa dengan dalamnya kasih sayang untuk putranya, rambut-Nya yang lembut diikat dikendurkan, yang setampan seperti sekumpulan collyrium hitam dan dari mana bunga-bunga telah berjatuhan,  masuk kedalam suatu puncak knot. Kemudian Ibu Yasoda mengambil sebuah kendi terbuat dari emas yang berada dihadapannya, dan membasuh kelopak mata putranya dengan air. Kemudian dia sangat bahagia menyeka Krsna dengan apron-nya (26-27)

Krsna keluar dari kamar tidur menuju halaman, menggengam tangan Madhumangala dengan tangan kiri-Nya dan seruling-Nya di tangan kanan-Nya, bersama diantara ibu-Nya dan Paurnamasi. Dengan mata berbunga-bunga cinta kasih dari semua teman laki-laki pengembala sapi Krsna, mengelilingi-Nya di halaman. Seorang pengembala sapi  menggengam tangan-Nya, seorang yang lain pada pakaian-Nya dan beberapa yang lain mencoba untuk menyentuh tubuh-Nya secara bersamaan. (28-29)

Ibu Yasoda berkata kepada Krsna: “O nak, pergilah ke padang rumput berilah susu kepada anak sapi, susu sapi Surabhi-Mu dan kemudian cepatlah kembali pulang untuk sarapan pagi” (30)

Demikianlah Krsna secepatnya pergi menuju ke kandang dengan teman-temannya atas perintah ibu-Nya. Kemudian pada saat mereka berada pada jalur mereka Madhumangala, yang sangat ahli dalam bergurau, melihat ke langit dan berkata: “Kawan, lihatlah! Matahari itu seperti seorang pemancing menebarkan jala-nya di danau langit itu! Melihat ini, ikan itu-sepertinya bintang-bintang sangat ketakutan lenyap (menyelam sangat dalam kedalam danau-langit itu)! Lihatlah matahari yang baru terbit seperti sebuah macan yang menerkam (mrga bhaksa, pemangsa-rusa) bulan itu (yang bernama mrganka, seorang yang ditandai dengan tanda seekor rusa yang adalah sumber dari bayangan (mrga trsna), masuk kedalam goa gunung dari ukuran-bulan untuk menyelamatkan rusa-nya itu (sva mrga). (31-33) Kawan, lihatlah! Langit itu menyerupai seorang wanita yang hamil yang menekan photeus dari bulan itu keluar dari rahimnya pada waktunya. Dengkuran dari suara merpati seperti tangisan wanita itu yang menahan paksa rasa sakit. (Seperti angkasa memunculkan bintang-bintangnya di pagi hari) dia meninggalkan semua perhiasannya.” (34)

“O kawan yang berwajah seperti bunga padma! Lihatlah! Bunga padma ini tersenyum, setelah melihat lautan-terbitnya bulan, yang, disamping menjadi penolongnya, yang tak ramah, meninggalkan langit, ditaklukkan oleh kawannya sendiri, matahari itu.” (35)

Setelah mendengar gurauan dari Madhumangala itu, semua anak-anak pengembala sapi, yang dilindunggi oleh pengembala sapi itu, tertawa dan memasuki kandag-kandang mereka. (36)

Seperti halnya bulan memasuki langit nocturnal bersama Venus dan Jupiter, Gopala memasuki kandang-Nya bersama Balarama dan Madhumangala. Para dewa menganggap Balarama menjadi Gajah Airavata, dikelilingi oleh begitu banyaknya batu-batu besar dari gunung Kailasa (sapi-sapi-Nya). (37-38)

Orang-orang menganggap Acyuta bagaikan seekor lebah diantara bunga-bunga padma putih seperti Dia berdiri ditengah-tengah sapi-sapi-Nya dengan wajah-wajah mereka diarahkan keatas. (39)

Bulan Vraja (Krsna) dengan demikian memanggil semua sapi-Surabhi-Nya dengan pangilan terus menerus: “Hee, hee, Gange! Godavari! Sabali! Kalindi! Dhavale! Hee hee! Dhumre! Tungi! Bhramari! Yamune! Hamsi! Kamale! Hee hee! Rambhe! Campe! Karini! Harini!” (40)

Menempatkan berat badan-Nya pada jari kaki-Nya dan bejana susu itu diantara lutut-Nya. Putera dari Raja Nanda mengambil susu sesedikit dari sapi-Nya Sendiri dan membiarkan anak-anak pengembala yang lainnya mengistirahatkan sapi-sapi itu. Dia memberikan kesenangan yang luar biasa kepada sapi-sapi Surabhi-Nya di pagi hari itu dengan kasih sayang dengan menggaruk mereka. (41)

Sementara itu (di desa yang bernama Yavata) wanita tua bernama Mukhara (Ibu Kirtida) bangun dan agak gembira dari tempat tidur. Menjadi sangat berhasrat sekali untuk mempertunjukan cucunya Radhika dengan nectar dari kasih sayang orangtuanya, dia pergi ke kamar tidur Radhika. (42)

Walaupun dia bungkuk secara alami, Jatila, yang berhasrat untuk meningkatkan kemakmuran puteranya, mendatangi dan berkata kepada Mukhara: “O wanita terpelajar! Mohonlah pakaiankan dan hiaslah menantuku dan sibukanlah Dia didalam pemujaan kepada dewa matahari, sehingga puteraku memiliki keturunan, panjang umur dan kemakmuran dari jutaan sapi-sapi dapat meningkat! Paunamasi, yang tahu bagaimana meningkatkan kemakmuran kita, setiap hari mengatakan kepadaku bahwa aku seharusnya tidak pernah mengabaikan perintah Ratu Yasoda dan aku sebaiknya menolak nasehat yang bodoh dungu! Karena itu, O wanita yang dipuja, hiasilah puterimu (cucu) dengan segala yang membahagiakan, sehingga puteraku mungkin mendapatkan semua kemakmuran yang diinginkan!” (43-46)

Jatila kemudian berkata kepada menantunya Radhika: “O nak! Segeralah bangkit dari tempat tidur! Lakukan puja kepada orang tua-Mu, lakukanlah sebuah penyucian dan kumpulkan seluruh perhiasan-perhiasan-Mu untuk memuja dewa matahari!” (47)

Diulang kembali berkata pada dirinya sendiri: “O begitu mengagumkan! Pagi hari telah memecahkan dan tetap cucu ku tertidur!”, Mukhari berkata kepada-Nya: “O gadisku! Bangkitlah dari tempat sekarang! O gadis yang bingung apakah kamu melupakan bahwa hari ini adalah hari minggu? Engkau mandilah dan segeralah siapkan perhiasan-perhiasan Mu untuk melakukan puja pada minggu pagi dengan persembahan-pagi hari!” (48-49)

Terbangun dengan mendengar kata-kata dari Mukhara, Visakha dengan cepat bangun, meskipun sebenarnya dia masih lelah, dan berkata: “Temanku yang tersayang! Cepatlah bangun!” karena kata-kata Mukhara dan Visakha, bingung Radha bangun dan merasakan waktu tidur telah lewat. Tubuh-Nya, keletihan karena cinta kasih rohani, menyerupai keagungan lengak-lengok angsa dengan riak-riak ombak di sebuah kolam. (51)

Kemudian Sri Rati Manjari, melihat kesempatan, mulai melakukan pelayanan pada kaki padma teman-Nya Radhika, putri Vrindavana. (52)

Yang berulang-ulang dipertunjukan oleh Visakha dan Mukhara, Sri Radhika bangkit dari tempat tidur-Nya. Kemudian Mukhara, melihat pakaian kuning Krsna pada Radha, berkata dengan hati yang gelisah: “Visakhe, lihat! Apa ini? Kemarin malam aku melihat pakaian bercahaya keemasan ini pada pundak Murari, namun sekarang temanmu menggunakan itu! Aduh, aduh! Bagaimana hal ini dapat terjadi kepada seorang istri yang suci?” (53-54)

Vishaka mendengar kata-kata ini, dengan segera memandang sekilas pada kain berwarna kuning dan dengan cemas berpikir: “Aduh! Apa ini?” kemudian dia segera berkata kepada Mukhara: “O wanita yang secara alami buta! Sinar matahari yang keeasan tersaring melalui jendela itu membuat kain temanku yang berwarna biru tampak keemasan! O wanita tua yang dibingungkan! Mengapa anda khawatir akan kemurnian-hati gadis ini?” (55-56)

Sementara itu, para sakhi yang dipimpin oleh Lalita meninggalkan kediaman mereka dan secepatnya datang untuk melihat Radhika dengan gaya berjalan bersenandung. (57) Bahkan sebelum Sri Radhika bangkit, para pelayan-pelayan telah menunggu tuan mereka mendekati permandian, membawa perlengkapan mandi-Nya.

Kemudian Radhika yang cantik bangkit dan duduk pada sebuah kursi yang bagus dengan berbagai macam permata, ditempatkan disana oleh pelayan-Nya. (59) Lalita yang cantik mengambil semua perhiasan dari tubuh-Nya seperti halnya jika dia memetik daun-daun dan bunga-bunga dari tanaman keemasan.  (60) Sementara itu dua anak remaja putri pencuci pakaian, yang bernama Manjistha dan Rangavati datang kepada tuan mereka dengan pakaian baru-Nya untuk hari itu. (61)

Dengan bedak wangi-wangian pada sebuah cangkir daun mangga Radhika membersihkan gigi-Nya, mengolok-olok kemuliaan dari kristal yang disisipkan bersama dengan batu merah delima. (62) Dengan kedua tangan Radhika memegang sebuah pengikis lindah keemasan dan membersihkan lidah-Nya. Kemudian di memercikan wajah-Nya dengan sesedok penuh air dari sebuah bejana emas, yang dibawa oleh seorang pelayan. (63)

Setelah mencuci bibir dan tangan-Nya yang seperti bunga padma, Radhika pergi kepermandian yang dikelilingi oleh jambangan air keemasan, berselimut dengan pakaian mandi yang dibawa oleh pelayan (pecuci). (64) Setelah duduk pada tempat mandi keemasan yang empuk yang ditutupi dengan sebuah seprai tipis, Radhika dikelilingi oleh pelayan-pelayan-Nya yang ahli, yang membawa jambangan minyak dan melayani-Nya. (65)

Dua wanita perawat kuku-tangan bernama Sugandha dan Nalini, yang ahli dalam pijatan menggunakan minyak, mengolesi lac-kaki dan menata rambut, tiba dan penuh cinta kasih mengolesi Radhika yang sebenarnya secara alami menyejukan dan mengkilaukan tubuh dengan lembut, harum dan minyak-Narayan yang menyejukkan, meminyaki dengan berbagai macam bedak yang menyejukkan. Mereka mengolesi rambut Radhika dengan harum-haruman dibilas minyak-biji-Mryobalan dan mengurut tubuh-Nya yang bersinar dengan handuk yang halus. Kemudian mereka memandikan-Nya secara sempurna . (66-68)

Para sakhi kemudian dengan gembira sekali memandikan Sri Radhika dengan air hangat, air harum semerbak dari bejana emas yang penuh. Mereka mengelap semua tetesan-tetesan air dari tubuh-Nya dengan handuk lembut menyenangkan, memeras air mandi itu keluar dari rambut-Nya dan mengenakan pakaian-Nya dengan dua pakaian baru (atas dan bawah). (69-70)

Kemudian, mendatangi tempat perhiasan, Radhika yang telah dihias oleh kawan-kawan wanita-Nya yang pantas untuk pagi hari, seperti halnya dewi kecantikan yang muda dihias oleh perasaan dan sikap erotik. (71)

Lalita menyisir rambut Sri Radhika yang diikat lembut berkilauan yang pertama-tama di keringkan dengan asap wewangian, dengan menaburkan sejumlah permata, sisir terbuat dari gading yang bernama Svastida. Kemudian dia menggantung sebuah untaian batu permata dengan kepala permata yang tanpa noda dari Sankhacuda, yang Krishna diperoleh dari raksasa dan diberikan kepada Radhika, pada ujung dari kepang rambutnya yang diisi dengan bunga Bakula dan untaian mutiara. Dia mengikatkan ini pada bagian akhir dengan sebuah untaian perhiasan keemasan disisipkan dengan Permata-Antabhaga dan mengikatkan rambut bagian depan-Nya pada sebuah knot dengan pita sutra merah. (72-73)

Sakhi-Citra sangat senang sekali mengenakan sebuah rok bagian dalam pada sekeliling pinggang Radhika, itu tipisnya sama seperti sebuah kepalan tangan, dengan warna merah keemasan dengan untaian yang indah dengan dua rumbai-rumbai terbuat dari sutra. Pada bagian atas dari rok dalam merah-koral ini dia dengan sangat gembira menempatkan sebuah balutan birunya sama seperti lebah-lebah, yang bernama Meghambara (balutan-awan). Kemudian dia gembira sekali mengantungkan sebuah gantungan bel pada sebuah untaian di sekeliling pinggang Radhika. Pada bagian ujung dari gantungan ini ada banyak jenis permata-permata sama seperti rumbai-rumbai terbuat dari sutra yang ada sebanyak lima warna (putih, biru, merah, kuning dan hijau). (74-75)

Visakha meminyaki lengan Srimati, buah dada, dada dan punggung dengan bedak Cendana dicampur dengan aguru, vermilion dan camphor. Kemudian dia menggambar tilaka kama yantra tilaka pada jidat Srimati dengan vermilion cerah. Pada bagian dari tilaka dia melukiskan daun musk lebar sampai ke pipinya dan bintik-bintik dari bedak Cendana, diantara turunnya cahaya bulan dari bedak Cendana dicampur dengan musk yang dilukiskan. Kemudian dia membuat sebuah garis-garis cemerlang sindura (bubuk merah) pada bagian tertentu tubuh Radha. (76-77)

Dengan musk Citra melukis seikat bunga-bungaan, cahaya bulan, bunga padma, makara (Capricorn) dan daun-daun manga pada buah dada Radhika dengan musk. Dengan demikian terlihat seolah-olah simbol dewa asmara, yang telah ditundukan dari alis mata Srimati, ditempatkannya tanda bintangCapricornnya, panah, senjata, bunga, taoge segar, cahaya bulan dan busur di dalam lumbung dari buah dada-Nya dan seterusnya. (78-79)

Seperti halnya pelangi dan bintang-bintang yang indah pada dua gunung di malam hari, buah dada Radhika yang diperindah oleh blus merah disulam dengan berbagai jenis permata dan mutiara, yang telah dirangkaikan dalam blus itu oleh Citra. (80)

Kemudian Rangadevi menghias perhiasan-perhiasan yang dibuat seperti daun palm emas dan kuncup bunga padma pada telinga Radhika. Di depan itu dia menempatkan bunga batu sapir kecil yang kelihatan seperti lebah mendengung pada dua buah kuncup bunga padma keemasan. (81)

Pada bagian atas telinga Citra menempatkan gelungan telinga keemasan ini yang sangat mempesonakan (setengah cakram yang melingkari bagian atas dari telinga, dicantelkan dengan jepit rambut) itu berkilau seperti matahari. Ada dua batu sapir ditatah dengan batu rubi, emas dan permata-permata, dan pada bagian dalamnya mereka menatah dengan banyak sekali mutiara.  Pada bagian pinggir menggantung dua buli-buli yang pada bagian atasnya terdapat mutiara-keemasan. (82) Visakha membuat sebuah tanda-dari musk yang sungguh bagus pada dagu Radhika dengan sebuah pensil permata. Tanda ini mempercantik wajah-Nya seperti bulan, seperti seekor lebah inggap pada pinggir dari sebuah daun bunga lotus. (83)

Mutiara yang berada pada ujung hidung pada mata padma Radhika-yang lebar, dikaitkan dengan sebuah untaian keemasan, mengalahkan kecantikan dari kedewasaan, kelembutan daun Lavani-buah yang digigit oleh paruh seekor burung beo. (84)

Melihat kawan-Nya Radhika burung Cakora-matanya seperti berhasrat meminum nektar dari noda biru wajah Krsna yang seperti bulan, Visakha menggambar collyrium yang mempesonakan pada pinggir mereka yang bersinar seperti halnya kilau tubuh Krsna. (85)

Visakha menutup tanda-tanda dari tangan Sri Hari pada leher Radha yang kelihatan sebagai sebuah daun keemasan tanpa noda-seperti perhiasan yang disisipkan bersamaan dengan berbagai macam permata, seolah-olah dia takut terhadap Sri Hari. (86) Kemudian dia mengikatkan sebuah mutiara-Citrahamsa keemasan disisipkan permata dan sapir, yang sangat pas ditengah-tengahnya, pada leher Radhika, menghubungkan ke wajah-Nya dengan sebuah untaian. (87) setelah ini dia mengantungkan sebuah kalung gostana1, pada sebuah benang dengan permata-permata yang sangat kecil dengan dua buah manik-manik yang bertahtakkan batu sapir, sebuah kalung permata dikaitkan dengan sapir, batubulan, rubi dan manik-manik terbuat dari emas dengan permata dan koral di tengahnya, sebuah kalung yang lain daripada yang lain sangat indah dengan kilauan permata yang merupakan pasangan dari manik-manik-lazuli lapis, berkilauan seperti biji-biji-Dhatrika keemasan, sebuah kalung-gunja yang Sri Hari berikan kepada Radhika dari leher-Nya sendiri, yang dipuaskan dengan tarian-Nya dan nyanyiannya di festival-Rasa pada malam hari, melingkari leher-Nya seperti Krishna sendiri adalah raja kemewahan (raja Laksmi) (91). Dia menghias langit-Radhika-dada dengan kilauan kalung-Ekavali, yang dihias dengan sebuah mutiara tebal di tengah-tengahnya, kelihatan seperti sinar matahari dari bulan di sebuah bintang galaksi. (92) Dia mengantungkan emas itu menaburkan bintang bujur Catuksi, dikelilingi oleh permata, dikelilingi oleh sebuah potongan tengah kembali dikelilingi oleh banyak sekali rubi terayun pada rantai terbuat dari emas yang sangat bagus, pada dada Radhika. (93) Demikianlah semua rumbai-rumbai sutra murni itu yang diikat kalung Radhika mengantung pada punggung-Nya satu di atas yang lainnya. Itu kelihatan begitu indah, seperti jika Pencipta telah berkarunia membangun sebuah tangga rumah dari gunung Radhika-like buttocks leading up to Her snake-like braid. (94)

Visakha mengantungkan armlet keemasan dengan sembilan gantungan yang permata yang bercahaya dan itu ditempatkan dengan sutra hitam dikaitkan dengan rumbai-rumbai, yang bernama Hari Rangada (yang memberikan kebahagian kepada Sri Hari) pada lengan Radha (95)

Lalita kemudian menghiasi Sri Radhika dengan begitu banyak model pakaian yang sangat seni dengan gantungan batu sapir berkilau-kilauan, mencuri kecantikan dari gerembolan lebah yang mengumpulkan untuk minum madu yang menetes dari dua bunga teratai merah berbunga di atas batang bunga teratai keemasan. (96) anting dari batu sapir ini disandingkan dengan sepasang gelang keemasan yang ditaburkan dengan mutiara, kelihatan seperti Rahu dengan dua bola-matahari. (97) gelang ini menjadi lebih indah dikarenakan emas yang cerah-en emulets dengan dawai-dawai permata yang banyak, dimana rumbai-rumbai sutera itu diikatkan pada pergelangan tangan Radhika. (98)

Cincin Srimati, bernama Vipaksa-mada-mardini (dia yang menaklukkan kebangaan dari musuhnya) dimana nama-Nya sendiri terukir di dalamnya dan bertatahkan dengan berbagai macam batu bersinar. (99)

Kemudian Visakha memakaikan Radhika alas kaki yang terbuat dari emas kecil indah, yang mana burung Cataka suaranya suka mengusir angsa-angsa kesabaran Krishna dan menaburkan dengan berbagai macam batu-batu permata yang berkilau-kilauan, pada kaki  padma-Nya. Dia menempatkan pada pergelangan kaki Radhika, itu mengajarkan para angsa-angsa di Yamuna bagaimana untuk bersenandung, dan itu disebut Ratna Gopura, pada kaki-Nya. (100-101)

Sudevi menempatkan mutiara cincin pada jari kaki pada Radhika, karya tangan yang bahkan mengejutkan sang pencipta, pada jari kaki-Nya. (102)

Dengan senyuman wajah Vishaka yang bagaikan bunga padma Visakha menempatkan sebuah bunga teratai tangan yang diberikan kepadanya oleh Narmada, putri pembuat garlan, di mata padma Radhika bunga padma di pagi hari. (103)

Putri tukang cukur Sugandha, mengetahui waktunya (untuk melayani) telah tiba, memperlihatkan Radhika pantulan dirinya di cermin permata yang dia pegang untuk-Nya. Melihat pantulan diri-Nya dan pakaian-Nya, telah pas untuk menyenangkan mata Krsna, di cermin itu. Radhika menjadi berhasrat untuk bertemu dengan Krsna. Aktivitas berpakaian dari gadis terbaik ini akan sukses jika kekasih-Nya (Krsna) dapat melihatnya.! (105)

Di dalam Syair Govinda Lilamrta, yang merupakan hasil karya pelayanan kepada Sri Rupa Goswami, yang seperti seekor lebah pada kaki padma Sri Caitanya, karunia dari Raghunatha Bhatta Goswami, inspirasi dari Sri Raghunatha Dasa Goswami dan sahabat dari Sri Jiva Goswami, ini adalah bab kedua, yang menggambarkan lila di pagi hari

1Go-stana berarti ‘ambing dari seekor sapi’, menunjukkan bahwa permata-permata ini adalah besar dan berurutan.

 by Srinidhi dasa 2006-2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s