Govinda-lilamrta # 1

BAB I:

Nisanta –lila

(Akhir lila pada Malam hari)

Doa yang Mensejahterakan:

Sembah sujud kepada Sri Govinda, asal dari karunia rohani di Vraja dan hutan Vrndavana, yang menemukan kebahagian dalam pergaulan Sri Radha! (1)

Hamba berlindung kepada Sri Krishna Caitanya, Tuhan yang sangat murah hati, yang mengobati dunia dari keadaan sangat buruk dari mabuk kebodohan, menjauhkan dari harta karun nektar cinta rohani dari Diri-Nya.

Hamba mempersembahkan sembah sujud kehadapan lila rohani dari hati teman Sri Radha di Vraja (Sri Krishna), pelayanan kepada kaki-padma yang adalah tujuan tertinggi dari pelayanan bhakti, dan hanya mampu dicapai melalui kelobaan yang sangat rohani. Hal ini bahkan tidak dapat dicapai oleh Dewa Brahma, Dewa Siva atau Ananata Sesa. Sekarang hamba akan memaparkan sifat mental dalam pelaksanaan pelayanan ini yang dipraktekkan oleh penyembah dalam perjalanan menuju jalur keinginan rohani.

RINGKASAN DARI DELAPAN BELAS KALI LILA HARIAN

Semoga Sri Krishna, yang setiap hari kembali dari kunja-kunja ke padang-padang rumput pada akhir malam, dimana susu-susu sapi di pagi hari dan malam hari, dan dimana sarapan dan juga, bermain dengan Sri Radhika dan kawan-kawan gadis-Nya pada siang dan pada malam hari, yang kembali ke Desa-Nya di siang hari dan yang senang mengharapkan keadaan yang baik-Nya di malam hari, lindungi kami!

Segala pujian kepada Sri Govinda Lilamrta, nektar yang kekal dari lila Sri Govinda, nektar itu mengalahkan nektar dari para dewa-dewa, atau keinginan untuk pembebasan, secara konstan melimpahkan suatu kehausan yang sangat luar biasa bagi telinga, kata-kata dan pikiran bagaimanapun akan berada dalam kebahagian, mengobati penyakit dari kehidupan material, yang sebelumnya menciptakan delusi dan kebutaan dari kebahagian cinta, dan sumber yang tidak ada habisnya menikmati, bahkan jika itu dihabiskan lagi dan lagi, untuk memelihara bahkan badan ini.(5)

Hamba tidak ingin menjadi ketawaan yang sangat besar bagi para Vaisnava yang selalu bermain di lautan nektar dari lila Sri Krishna? Sesungguhnya pun hamba tidak kompeten, sedang-sedang, tanpa kecerdasan dan tanpa kualifikasi, hamba ingin menyukai dan memaparkan nektar itu! (6)

 Pikiran dari para Vaisnava dari Vraja adalah selalu terbenam bersama di dalam lautan nektar dari lila Krishna, itu telah di dimunculkan dalam drama yang agung yang disusun oleh Srila Rupa Goswami. Semoga kata-kata yang rendah dari pelawak yang agung seperti hamba membuat mereka tertawa dan gembira! (7)

 Walaupun hamba berpikiran tumpul kata-kata hamba yang rendah mengenai lila Tuhan akan disukai oleh para orang suci, sejak itu disampaikan (dalam Srimad Bhagavata 1.5.11) bahwa setiap kata mengenai kegiatan Tuhan, walaupun disusun secara tidak sempurna, akan menghancurkan dosa-dosa yang dikumpulkan oleh umat manusia. Maka hamba sekarang mulai memaparkan nektar yang kekal dari lila Govinda……………….(8)

 Semoga orang-orang suci memberikan sebuah tempat pada tepi danau dimana pendengaran mereka memelihara sapi ini (yang dimaksud adalah teks (sloka)) pada diri hamba. Di mana bagian atas menuju ke Gokula, tapi itu mengesalkan bila pengembaraan melewati gurun pasir dari bibir hamba! (9)

RINGKASAN DARI LILA– SUBUH HARI (3.24-6.00)

Hamba ingat Radha dan Krishna pada malam terakhir, sepertinya Mereka terbangun oleh berbagai macam suara dari burung-burung nuri yang dikirimkan oleh Vrnda-devi dan itu disebabkan oleh Burung nuri yang bangkitkan kesenangan dasar-Mereka karena pengucapan berbagai syair yang menyenangkan dan tidak menyenangkan antara Mereka. Mereka sepenuhnya bergembira disaksikan oleh kekasih burung nuri sepertinya Mereka keletihan terhadap kegiatan cinta dan mereka menjadi takut terhadap kata-kata dari kera betina Kakkhati, sehingga Mereka berpisah untuk kembali ke rumah Mereka masing-masing, walaupun Mereka masih haus akan lebih banyak cinta kasih, dan pergi tidur.

Melihat malam berakhir Vrnda memerintahkan burung-burung-Nya membangunkan Radhika dan Madhusudana. Walaupun dari awalnya mereka berhasrat sekali untuk melayani dengan menyanyi, burung nuri menyisakan kesunyian terhadap perintah Vrnda. Sekarang mereka sangat bergembira mengaungkan pujung dan kicauan yang mengejutkan. Burung nuri betina bernyanyi di pohon anggur, burung nuri jantan di pohon delima, burung tekukur bersama dengan pasangannya di pohon-pohon mangga, burung Merpati di pohon Pilu, burung merak di pohon Kadamba, lebah-lebah mendengung di tanaman yang merambat dan ayam jantan mulai berkokok ditempat. (11,12,13)

Kemudian sekawanan lebah, dengan rakus mencari madu, mulai bersenandung seperti dewa Asmara membahagiakan siput besar di dalam pujung yang mempesona di mana penuh tanaman merambat yang berbunga dan beralaskan pada bunga padma. Sekawanan lebah betina gemuk sangat bergembira, mabuk dikarenakan madu, bersenandung seperti ceng-ceng kebahagian dari dewa Asmara membangunkan Govinda. (14-15)

Sekelompok burung tekukur secara berulang-ulang menyanyikan ku-hu di nada kelima Vina kesukaan dari dewa Asmara, dan burung tekukur betina selanjutnya bertengger pada suami-suami mereka yang bahagia di pohon mangga, menikmati dengan melubangi buah mangga dan menyanyi sangat manis sekali dengan suara yang jelas seperti manisnya Vipanci-Vina Rati (16-17)

Meminta raja anjing hutan memanggil dewa Asmara mengingatkan kesabaran dari para gopi, tingkah laku dan kemashyuran? Menjadi marah pada harimau dari kesal akan kesombongan mereka dia meraung pada mereka bersamaan dengan suara kicau dari burung gereja. (18)

Pada saat Radha dan Krishna terbangun di pagi hari, burung merak menyuarakan ke kha, seperti halnya jika bertanya siapa (ke) selain Krishna yang dapat mengangkat gunung dari kesabaran Radha dan siapa wanita lain yang (ka) sangat beruntung selain putri dari raja Vrsabhanu, mereka berpikir begitu sangat cantiknya, bisa merantai dan mengendalikan gajah yang yang menjengkelkan Krishna (19)

Ayam jantan juga memekikan ku ku ku kuu dengan vocal pendek, lantang dan pertengahan, seperti seorang brahmana bocah melantunkan Veda. Selanjutnya, walaupun burung-burung itu memanggil Mereka dengan kicauan-kicauan mereka, Radha dan Krishna, tak menyadari satu sama lain menjadi tersadar dan terganggu atas antisipasi dari perpisahan. Mereka merangkul dengan erat, berpura-pura tertidur dengan menutup mata Mereka. Sosok sangat terpelajar sarika (burung nuri betina) bernama Manjubhasini, yang menyaksikan Radha dan Krishna memasuki lila malam hari dan yang sangat sayang kepada putri Vrsabhanu, menyapa Krishna, yang duduk di sebuah sangkar emas. (21-22)

“O kawan Gokula! Keagungan untuk Anda, O lautan dari rasa! Mohon bangkitlah dari tempat tidur-Mu yang seperti bulan! Bangkitkan kekasih-Mu, yang telah berlindung pada tangan-Mu dan yang dilelahkan dari percintaan!” (23)

“O Penguasa Vraja! Matahari pagi, yang secara alami kejam terhadap gadis-gadis muda, cepatlah beranjak! Tinggalkan tepi sungai Yamuna dan segeralah kembali ke kamar tidur-Mu!” (24)

O kawan yang bermata-padma (Radhike)! Kini Engkau menikmati tidur-Mu setelah begitu banyak usaha dalam percintaan. Engkau tidak bersalah dalam hal itu, O gadis suci, tapi lihatlah, matahari tenggelam memerah di langit timur, tidak dapat mentolerir kebahagian-Mu seperti pesaing-Mu gopi Candravali! O kawan yang bermata-padma! Malam hari berakhir, pagi hari telah datang! Matahari telah terbit! Bangkitlah segera dari tempat tidur-Mu yang nyaman dari daun-daun yang menyejukan!”(25-26)

Kemudian Vicaksana, seekor burung nuri jantan yang sangat terikat kepada Krishna, setenang alam dan sangat berperasaan, menyenandungkan sebuah rangkaian dari syair dengan suku kata yang sangat jelas dan manis syair itu sangatlah pantas untuk membangunkan Madhava: “Jaya jaya kepada-Mu, O sumber dari keadaan yang membahagiakan Gokula,  seperti bunga padma untuk lebah-seperti gadis-gadis Vraja! O Govinda, O yang Mutlak! Engkau meningkatkan kegembiraan Nanda pada setiap langkah dan kesenangan roh-roh yang menyerahkan diri!” (28) “Bunga padma untuk tiga puluh lebah-seperti mata dari orang-orang Vraja! Pagi hari telah pecah! Lekaslah kembali ke tempat kediaman-Mu di padang rumput, dimana dengan mesra dilayani oleh keluarga dan atasan-Mu! Jika tidak, Engkau mungkin di peluk oleh mereka! (29)

“O sosok yang bermata padma! Lihatlah! Horizon timur itu, lihatlah merahnya matahari pagi hendak terbit, kelihatan seperti seorang istri mengenakan sebuah pakaian berwarna merah cemerlang (seperti dikenakan oleh seorang istri yang tubuhnya diminyaki dengan kunkuma, dia mengharapkan rumah suaminya). Jadi tingalkanlah tidur-Mu, O Krishna! Lihatlah! Khawatir akan matahari itu, bulan telah lenyap bersama dengan malam, jadi Engkau juga meninggalkan tepi sungai Yamuna sekarang dan kembali ke rumah dengan cinta-wanita yang tidak berdosamu-Mu itu! O Krishna! Matahari telah tenggelam, burung-Cakravaki melihat dengan satu mata sinar matahari itu, warna merah dari horizon timur itu, dan memandang suaminya yang berada jauh dengan mata yang lainnya. Burung hantu, yang buta untuk sehari, masuk kedalam lubang pohon mereka, lenyaplah ketakutan terhadap burung gagak. Jadi tingalkanlah tidur-Mu, O Krishna!” (30-32)

Sarika bernama Suksmadhi, yang menyimpan seluruh syair itu dia yang belajar dari Vrnda-devi melingkari lehernya seperti sebuah kalung (yaitu. kenangan mereka), yang kata-katanya manis dimabukan oleh minuman anggur cinta kasih rohani untuk Sri Radha dan siapa yang berdiri hormat pada akhir dari cinta rohani itu, membuat kata-katanya menari di atas panggung lidahnya, hanya untuk membangunkan-Nya. Dia bernyanyi: “O yang dicintai oleh pangeran dari Vraja! Segeralah kembali kerumah, sebelum orang-orang memulai perjalanan melalui jalan-jalan di Vraja! O gadis berparas cantik! Lihatlah, matahari itu segera akan tenggelam! Tinggalkan tempat tidur-Mu dan kembalilah ke rumah-Mu di Vraja! O sakhi! Tinggalkan kunja dan kembalilah pulang! Jangan biarkan orang-orang memperoleh kesempatan mempermalukan-Mu! Para pekerja akan segera tiba sekarang untuk pekerjaan pagi hari mereka!” (33-37)

Walaupun Radha dan Krsna kedua-duannya telah terjaga, mereka tetap terbaring pada suatu alas yang nyaman dan walaupun Mereka sangat gelisah, mengetahui bahwa malam hari telah berlalu, mereka tidak dapat meninggalkan tempat bermain Mereka yang indah membahagiakan. Sri Radhika menempatkan pantat-Nya pada lutut Krishna, dada-Nya pada dada Krishna dan wajah-Nya pada wajah Krishna, memeluk Krishna melingkari leher dengan menggunakan lengan-Nya dan sebagai sandaran-Nya. Walaupun Dia telah terbangun, Dia tidak dapat memindahkan tubuh-Nya bahkan sedikitpun. Krsna menjadi gelisah dan bangkit dari tempat itu untuk kembali ke Vraja, namun Dia tidak dapat memindahkan tubuh-Nya bahkan sedikit pun, karena Dia takut menganggu pelukan erat dari Sri Radhika. (38-40)

Selanjutnya seekor burung nuri bernama Daksa, yang adalah guru dari ratusan ribu burung nuri yang lain yang ahli dalam menggambarkan lila Krishna, inggap di jembatan dari kunja dan mulai bernyanyi, dengan mengepakkan sayapnya dengan perasaan yang sungguh-sungguh cinta rohani untuk Krishna: “Krishna! Ibu-Mu telah terbangun dan menuju tempat tidur-Mu, mengucapkan: “O pelayan-pelayan para gadis! Krishna keletihan mengembara di dalam hutan dan sekarang menikmati tidur-Nya yang membahagiakan, maka yogurt di aduk secara diam-diam!” maka secepatnyalah kembali ke tempat tidur-Mu yang sunyi terpencil! O Govinda, Kamu tentu saja harus mengetahui bahwa sapi-sapi-Mu seperti Kalindi semuanya menatap ke arah jalan itu, berhasrat sekali untuk melihat-Mu. Dengan mengangkatkan telinga dan wajah mereka menguak untuk memanggil anak-anak mereka, menjadi murung oleh keberatan dari ambing mereka yang tanpa susu! Menjadi sangat berhasrat untuk melihat-Mu, hanya Purnamasi menyelesaikan tugas pagi mereka dan mendatangi tempat tidur-Mu dengan Ibu-Mu. Sebelum dia sampai di sana, segeralah bangkit dari tempat dan kembali ke kamar-Mu!” (41,42,43,44)

Mendengar kata-kata Daksa, Sri Hari segera melepaskan Dirinya dari pelukan Sri Radhika dan bangkit untuk kembali pulang. Sebelumnya, para sakhi telah bangun dan bertemu dengan Vrnda untuk menyaksikan lila pagi hari Radha dan Krishna melalui jendela nikunja. (45-46)

Kemudian a peahen bernama Sundari, yang bangga terhadap kedalaman cintanya kepada Radhika, meninggalkan suaminya pada pohon Kadamba dan turun di halaman pondok nikunja. burung merak kesayangan Sri Hari bernama Tandavik secara cepat menukik kebawah dari pohon Kadamba, mengembangkan bulu-bulu ekornya, dan dengan gembira mulai menari dan berputar ke segala arah. Kijang betina bernama Rangini, meninggalkan suaminya pada tempat berpijaknya di sebuah pohon mangga, sangat bergembira dan dengan cepat mendekati pintu gerbang-kunja untuk memberikan kegelisahan cinta kasih secara sepintas pada Radha dan Krishna yang wajahnya-seperti bunga padma. Binatang kesayangan Sri Hari rusa Surangga, yang memberikan kegembiraan yang maha besar kepada Krishna, tiba di kunja, meninggalkan pohon mangganya, memusatkan gelombang pandang-nya pada wajah Krishna, badannya bebas dari cengkeraman keletihan. (47-50)

Sri Krishna, telah bangun, duduk di tempat tidur dan mengambil kereta luncur Radha, yang berpura-pura untuk tidur dengan menutup mata, pada pangkuan-Nya dengan lengan-Nya memandang kepada kemanisan dari-Nya. Dengan sedikit tersenyum Acyuta mabuk akan nektar dari wajah kekasih-Nya yang mirip dengan bunga padma di pagi hari. Mata-Nya gelisah menggulung seperti burung mengepak-ngepakan sayapnya dan seikat rambut-Nya yang berombak melingkari dahi-Nya seperti sekawanan lebah hitam. Dengan cinta yang luar biasa Krishna melihat bagaimana Radhika mengangkat ke atas tangan-Nya, menautkan jari-jari itu pada kedua tangan-Nya. Sewaktu menguap Dia dengan sedikit menunjukkan kilauan gigi-Nya dan meregangkan tubuh-Nya. Melihat keletihan kekasih-Nya di pagi hari, menyandarkan wajahnya pada pangkuan-Nya, dalam kemarahan palsu, wajah-Nya memperlihatkan sedikit senyuman dan tangisan pada waktu yang sama, dengan membuka setengah dari kepang-Nya, mengancurkan garlan bunga-Nya, merusak kalung-Nya, mata-Nya menunjukkan secara eksternal kelelahan, tapi gembira secara batin, berhasrat sekali melihat kearah-Nya, terus menerus menggulung mereka bersama saat Dia membuka matanya, sang bulan dari Vraja (Krishna) merasakan kegembiraan yang tertinggi. (51, 52, 53, 54)

Sri Radha. Yang begitu tidak bersemangat dengan keletihan-cinta kasih, menyandarkan tubuh-Nya yang letih pada tubuh Krishna, warna kebiru-biruan itu seperti sebatang pohon Tamala, Dia dapat dibandingkan dengan sebuah lapisan yang terus-menerus bersinar menyegarkan pada sebuah awan mendung kebiruan yang menyegarkan, atau dengan sebuah bunga padma emas. (55)

Melihat wajah dari Sri Hari dengan keistimewaan itu Makara-mendengarkan, lemah lembut senyum manis-Nya, Mata-Nya kelihatan jemu dan memabukkan, rambut-Nya yang dikeritingkan berbau bunga padma dan bibir-Nya menusuk melalui gigi-Nya dan berona hitam oleh garis mata-Nya, mata-padma Radhika memperlihatkan hasrat untuk bersenang-senang dengan-Nya lagi. (56)

Krishna juga mulai berpikir mengenai kegiatan cinta kasih-Nya ketika Dia melihat kekasih-Nya bersikap dengan wajah tersenyum, dengan sikap mata-Nya yang tidak kelihatan, keluar perasaan malu dari pertukaran pandang diantara Mereka. Dia mengangkat kepala kekasih yang dicintai-Nya yang telah memperlihatkan perasaan malu dengan tangan kiri-Nya dan mengangkat dagu-Nya dengan tangan kanan-Nya. Dia menundukkan leher-Nya dan berulangkali mencium wajah Dia yang sangat indah dengan senyum pipi-Nya. terbenamkan dalam lautan karunia dari sentuhan bibir kekasih-Nya, Radha menunjukkan sikap dengan menutup mata-Nya, memindahkan  tangan-Nya dan dengan lembut berkata: “tidak, tidak!”, demikian gembira kekasih wanita-Nya itu. (59)

Kekasih itu, takut terhadap fajar yang tidak dapat dihindarkan, memasuki semak belukar dimana telah dipenuhi dengan suara-suara dari banyak lebah-lebah, penuh kegembiraan, bercanda dan berdesak-desakan satu dengan yang lainnya. (60)

Sri Radhika menggandakan kegembiraan kekasih-Nya dengan menunjukkan kepada Krishna mata-Nya yang keletihan pada saat melihat teman-teman-Nya mendekati tanpa halangan dengan senyum di wajah mereka. Selanjutnya Dia bangkit dari paha-Krishna, menutupi tubuh-Nya dengan pakaian atas Krishna berwarna kuning dan melihat dengan malu kearah kawan-kawan-Nya. Kemudian Dia duduk disamping kekasih-Nya (Krishna). (62-62)

Para sakhi merasakan kegembiraan yang luar biasa berulang kali hanya dengan menyaksikan dua Sosok yang Mereka kasihi (Radha-Krishna). Bibir yang berisi memotong Masing-masing satu sama lainnya, yang tubuhnya ditutupi dengan tanda-tanda paku, riasan yang telah di bersihkan, pakaian-pakaian yang longgar, rambut yang kusut/terurai dan garlan-garlan dan kalung-kalung yang rusak. Tempat yang Mereka gunakan menunjukkan semua kegiatan yang berbeda. Bagian tengahnya telah diwarnai dengan vermilion ( sindura) dari tubuh Acyuta. Bagian sisi/pinggang telah diolesi dengan footlac dari Radha yang mengagumkan dan seluruhnya telah diteteskan dari garis mata, gopi candana dan vermilion. Kawan-kawan gadis Radha melihat tempat itu, yang telah dibuat dengan bunga-bunga yang telah layu, ditutupi dengan berbagai macam simbol-simbol dari pan, eyeliner dan obat salep-tubuh, terlihat seperti tubuh Sri Radha, yang telah ditandai dengan simbol-simbol yang sama dengan kesenangan kekasih-Nya. (63-65) Dengan mata mereka menikmati kegelisahan bibir Sri Hari mengatakan tentang beberapa kata-kata bernada canda dan wajah Radha yang bagaikan bunga padma, yang terlihat menunduk karena perasaan malu. (66) Menunjukkan kepada mereka dada-Nya dengan sebuah kerlingan mata-Nya, Sri Hari, berharap melihat berbagai macam emosi yang manis pada wajah kekasih tersayang-Nya, berkata: O Sahabat-sahabat, lihatlah! Bintang yang bernama Radha, melihat kekasih-Nya sang bulan meninggalkan, ratusan tanda-tanda kecemasan dari cahaya bulan di kanvas langit, ingin untuk melihatnya!” (Permainan kata-kata: “Lihatlah! Radhika di pagi hari, takut kekasih-Nya berangkat pergi, menandai dada-Nya dengan ratusan sinar bulan-seperti tanda-tanda paku, berhasrat sekali untuk melihat Dia!”) Katakanlah ini, Krishna menunjukkan semuanya kepada para gopi dada-Nya. (67-68) Ketika Krishna mengatakan ini, Radhika, melihat teman-teman gadis-Nya tertawa, menggerakkan alismata-Nya yang gelisah, mengembangkan pipi-Nya yang halus bersih dan kelihatan malu-malu terhadap kekasih-Nya dengan pandangan sekilas tak jujur seperti halnya jika Dia terbentur. Dipenuhi dengan kebahagian rohani yang erotik, yang sedikit dekat, yang dipenuhi dengan air mata, perbatasan mereka diwarnai merah, kegelisahan terlihat dari wajah yang terlihat malu dan khawatir, tidak jujur dengan kecemburuan dan dengan biji mata yang membesar karena kegembiraan yang luar biasa dengan memperhatikan wajah kekasih-Nya, mata Sri Radhika meningkatkan kebahagian tanpa batas pada mata Krishna. (69-70)

            Demikianlah para sakhi mabuk kebahagian rasa manis rohani saat Radha dan Krishna memulai lila. Pasangan Rohani itu tenggelam dalam lautan cinta kasih yang luar biasa, dan ini membuat para sakhi lupa terhadap aktivitas keseharian mereka yang sebenarnya. (71) Melihat setiap orang demikian tenggelam dalam lautan nektar dari lila Radha dan Krishna, yang dimabukan oleh cinta kasih rohani, Vrnda menjadi kuatir dan menyibukkan para sarika-nya, yang mengetahui maksud-nya, sekali lagi dengan satu kedipan. (72) Seekor burung yang bernama Subha, yang sangat ahli dalam membangunkan Srimati (Radhika), membatasi rasa malu-Nya sebelum Dia tinggi hati, Dia yang takut terhadap suami-Nya dan cemoohan dari masyarakat, berkata! Suami Anda akan tiba di sini dari kandang dengan banyak sekali susu, dibawa oleh para pelayannya, jadi, segeralah bangkit dan laksanakan kebiasaan/upacara rumah tangga yang sangat menguntungkan!” Sebelum dia mengucapkan itu, Anda sebaiknya meninggalkan rumah kecil ini dan menyelinaplah masuk kedalam tempat tidur-Mu tanpa terlihat!” (73-74) O kawan tersayang! Bulan itu, penguasa dari bintang-bintang, telah bertindak dengan gembira bersama bintang-bintang-nya pada malam hari, yang sekarang telah lenyap dari kabut angkasa itu. Jadi, O Sosok yang tak berdosa, Anda tinggalkan juga kunja itu segera dan pergi pulang! Warna Sinar matahari berkaitan dengan bulan yang keemasan dan orang-orang telah berada di jalan-jalan utama, jadi, O Sosok yang tidak berdosa, cepatlah tinggalkan kunja itu dan kembalilah pulang melalui jalan yang mensejahterakan itu!” (75-76). “O Krishna! Pagi hari telah muncul dan masih juga Engkau tidak bisa meninggalkan gadis yang tak berdosa ini? Ibu mertua-nya, yang hatinya ditutupi dengan lumpur teror, mencurigai-Nya, Dia sangat tidak senang sekali hidup dengan suami yang namanya Abhimanyu (selalu marah) dan saudara ipar perempuan-Nya yang membosankan yang selalu keras mengosipkan tentang diri-Nya!” (77)

Demikianlah lautan susu dari hati Radha telah dikocok oleh gunung Mandara dari kata-kata sarika.  Dengan mata-Nya mengembara seperti bayi-ikan dan bersedih oleh perpisahan yang intim dari Krishna, Dia bangkit dari tempatnya. (78)

Krishna juga, melihat keletihan dari putri Vrsabhannu telah terganggu dengan kekhawatiran, mengenakan kerudung yang berwarna biru indah dan segera bangkit dari tempat tidur. Memakai pakaian masing-masing, Radha dan Krishna berpegangan tangan dan dengan cepat meninggalkan kunja tersebut. (78-80)

Krishna memegang tangan Radhika pada tangan kiri-Nya dan serulingnya dipegang ditangan kanan, meninggalkan kunja, menyerupai sebuah awan yang berangkulan dengan sebuah garlan dari kunang-kunang. (81)

Seorang gadis pelayan membawakan sebuah kanister keemasan, seorang lagi membawa sebuah kipas, yang lain membawakan sebuah tongkat keemasan, seorang membawa cermin yang bersih, yang lainnya membawa bubuk cendana yang sangat bagus sekali dan kunkuma, beberapa gadis-gadis membawa sejumlah permata-ditaburkan pada kotak-buah pinang dan beberapa yang lainnya seekor burung merak bernama sarika di sangkar. Demikianlah semua gadis-gadis itu bersuka cita mendatangi pondok-pondok yang berada di kunja itu. (82) Tersenyum dengan riang, salah satu sakhi bergabung ke kunja itu, membawakan sekotak gading dengan berisi vermilion, yang ditaburkan bersama batu sapir dan emas yang menyerupai dada seorang wanita pada waktu hamil. (83). Seorang gadis yang cerdas, mengumpulkan semua batu mutiara dari kalung yang telah rusak selama masa kegiatan cinta kasih, batas antara mereka sangat tipis dengan kerudung-Nya, dan masuk ke pondok kunja itu. (84) Srimati Rati Manjari segera mengambil anting-anting yang terjatuh dari tempatnya, keluar menuju kunja dan meletakkan anting-anting itu pada telinga Ratu-Nya. (85) Srimati Rupa Manjari, seorang teman dari Sri Radhika yang sangat di sayangi, mengambil blus-Nya dari sisi dari tempat tidurnya, keluar menuju kunja dan mengembalikan itu kepada-Nya dengan sendirian. (86) Gadis pelayan itu Guna Manjari mengambil sebuah tempolong bagi Radha dan Krishna yang mengunyah pan dan membagikannya diluar kunja. (87) Manjulali mengambilkan garlan dan bubur kayu cendana, yang telah terjatuh dari tubuh Radha dan Krishna, dari tempat itu dan membagikannya kepada seluruh gopi-gopi yang berada di luar. (88) Para sakhi mulai tertawa mengoda, menutupi bibir-bibir mereka dengan tangan mereka, melihat Krishna mengenakan sari berwarna biru awan kepunyaan Radhika dan Radhika yang senang mengenakan pakaian kepunyaan Krishna berwarna kuning. Mereka dengan resah melihat sekeliling mereka, masing-masing melemparkan kerdipan pandangan mata sekilas dalam kebahagian yang luar biasa. (89) Radha dan Krishna, melihat isyarat dari kawan-kawan gadis Mereka’ tertawa, melihat masing-masing wajah Krishna dan Radha dengan mata yang mengembang dan yang menarik perhatian seperti lukisan, menyatu dalam gelombang lautan kebahagian yang besar. (90)

Karena sari Radhika gelap kebiruan indah sangat sesuai untuk corak kulit yang dimiliki oleh Krishna Dia menjadi tidak dapat dikenali lagi, sepertinya Dia bersatu dengan sari itu. Demikian pula dengan Radhika hampir hilang dalam pakaian Sri Hari tersayang yang berwarna kuning menyala, seperti susu berada dalam sebuah kulit kerang keemasan. (91)

Kemudian Lalita menganggu pada saat melihat matahari tenggelam untuk mengagalkan kenikmatan nektar kebahagian dua kekasih itu, dengan marah berucap dengan kata-kata cercaan sebagai berikut: “O Radhe! Lihatlah tenggelamnya matahari yang berwarna kemerahan! Karena merusak kegembiaraan dari wanita terbaik dengan kekasih mereka, dia kehilangan kedua kakinya karena penyakit lepra. Dia tetap tidak akan bangkit. Katanya “Itu pasti benar bahwa sulit untuk menghilangkan sifat alami seseorang!”

Melemparkan pandangan-Nya sekilas, memerah karena kemarahan pada saat putusnya kebahagian-cinta kasih-Nya, langit menjadi kemerahan karena terbitnya matahari, putri Raja Vrsabhanu tersenyum karena kata-kata dari Lalita dan berucap dengan kata-kata yang manis sebagai berikut: “Tenggelamnya matahari itu dan melintas, bahkan tanpa kaki, langit sedang berada dalam separuh waktu, terbit lagi. Jika Pencipta memberikan-nya kaki, maka tidak akan ada malam di semua tempat, meskipun matahari itu bergerak!” (94-95)

Memandang pesona keindahan dari pagi hari dan menjadi terserap dengan kegembiraan setelah meminum kata-kata ambrosial dari Radhika, Mukunda lupa untuk kembali ke desa-Nya dan berkata kepada Ratu dari jantung hati-Nya: “Yang terkasih! Lihatlah, di arah timur (istri dari matahari), memandang terbitnya matahari di pagi hari, tubuhnya menjadi kemerahan karena menyentuh arah yang lainnya, yang memunculkan warna merah keluar dengan perlahan, seperti halnya seorang kekasih yang memandang kekasih tercintanya mendekat di waktu fajar dengan tanda keriangan cinta kasih dibandingkan wanita yang lain pada badan-nya!” (96-97)

Lihatlah, O gadis yang mabuk! Bunga padma berkata kepada bunga tunjung: “O tunjung! Lihatlah, walaupun dia menghancurkan kegelapan dari seluruh dosa-dosa dan yang penuh kedamaian, kekasihmu sang bulan telah jatuh dari langit setelah disentuh oleh merahnya pagi hari (alternatif baca: brahmana ini, yang lahir kedua kali seperti bulan itu, merasakan kastanya setelah meminum anggur-Varuni).” Mendengar kata-kata itu dari bunga padma, yang terikat secara ekslusip terhadap terbitnya matahari, dan sangat bahagia melalui pergaulan itu (dari sinar matahari itu), bunga tunjung itu menjadi malu dan menutupi wajahnya dengan daun bunga-nya di pagi hari. (98)

Melihat kegelapan dihancurkan oleh sang bulan pada malam hari, burung tekukur, yang juga berwarna hitam, berucap ku-huu, diganggu oleh perasaan khawatir maka mereka dengan cara yang sama akan berhenti. Mereka memohon pada bulan malam yang gelap ketika matahari ditelan oleh gerhana bersama dengan sang bulan. (99) Hutan itu penuh keriangan karena menyatu dengan kekasih musim semi-nya. Hal itu terjadi jika burung dara betina menjerit menggoda dikarenakan kegembiraan-cinta kasih. (100)

“O gadis yang berwajah bulan! Lihatlah! Persis ketika lebah betina mencoba untuk bergerak keluar secara perlahan untuk merekahkan kelopak bunga padma dimana lebah betina itu ditangkap pada malam hari, lebah betina itu dikerjar oleh seekor lebah yang berwarna kuning dikarenakan lebah itu bermain dengan serbuk sari dari bunga tunjung.” (101) “Ketakutan terhadap kekasih-nya yang mungkin datang, seekor burung Cakravaki yang sungguh-sungguh bahagia mencium setangkai bunga padma-Kokanada yang dibuat dua kali menjadi lebih merah oleh cahaya-cahaya kemuliaan pagi hari itu.” (102)

“O gadis yang bersuara merdu! Pandang Kami, angsa ini bernama Kalasvana meninggalkan kekasih terpercaya-nya, yang berhasrat sekali untuk bermadu-kasih dan bersenang-senang mendatangi tepi sungai Yamuna, merentangkan sayap-nya! O gadis yang berwajah-bunga padma! Lihatlah! Angsa yang benama Tundikeri, memegang setangkai batang-bunga padma yang telah ditinggalkan oleh suami-nya dan dibuang oleh sahabat-nya dengan paruh-nya, menyuarakan suara-suara yang merdu saat menatap rupa padma-Mu. Makanya dia mengikuti suami-nya.”1 (104)

“Tengoklah! Angin itu, bergerak melalui pohon-pohon Cendana, membawa keharuman dari bunga-bunga padma, mengajarkan tumbuhan-tumbuhan yang merambat, yang bagaikan para murid gadis muda-nya, bagaimana cara menari, bertiup sekeliling air dan membawa rasa keletihan dan keringat tersebut dari wanita terbaik itu dan kekasih-nya (ketika mereka bercinta)! (105)

Melihat Radha dan Krishna, karena dari Percakapan Mereka yang sangat manis, lupa untuk pulang ke rumah, Vrnda-devi menjadi khawatir, sejak begitu banyaknya diantara semua gopi yang mengalami mabuk kebahagian akan cinta kasih dan hanya tersenyum dengan mesra (tidak melakukan apapun). Vrnda kemudian memberikan isyarat kedipan mata kepada Kakkhati, seekor kera betina tua, yang duduk di sebatang pohon dan yang mengetahui kapan untuk bertindak. Mengerti isyarat dari Vrnda, kera betina itu mulai menembangkan syair sebagai berikut:  “Fajar telah datang, berpakaian dengan pakaian berwarna merah seperti seorang petapa wanita dengan rambut yang kusut (jatila), yang dipuji oleh orang yang berbudi luhur, sinar-nya diantara timbulnya sinar matahari (di angkasa).” (Alternatif baca: Jatila Ibu mertuanya, yang mengenakan pakaian merah dan yang dipuji dikarenakan suka bertengkar, melaksanakan ritual pagi yang keras dan ketat, menjemur pakaian-nya untuk di keringkan matahari). (106-108)

Radha dan Krishna, yang merupakan perwujudan dari kemakmuran Vraja, menjadi khawatir serta takut saat mendengar nama Jatila dan Mereka muncul dari dalam kunja itu, meskipun sepenuhnya belum terpenuhinya keinginan. Melihat Mereka turun berlari kebawah berpisah jalur untuk pulang ke rumah Mereka sendiri-sendiri dalam ketakutan yang luar biasa, merapikan pakaian Mereka yang kusut, rambut, dan garlan-garlan, rasa gemetar timbul dikarenakan ketakutan dari mendengar nama Jatila, para sakhi juga menjadi ketakutan dan mulai bersembunyi di sana sini. (109-110)

Krishna mengerak-gerakan leher-Nya ke sini dan ke sana, melihat sekeliling, berpikir bahwa teman-teman Candravali telah berada di samping-Nya (tidak ingin untuk dilihat bersama dengan Radha karena Dia saingannya), Krishna penguasa di Vraja sebelum Dia, Jatila dan Kutila muncul diantara Krishna dan Radha terkasih pergi pulang ke arah selatan, menjadi sangat ingin sekali melihat Radha tetap ada. (111) Kemudian Isvari (Radha), ketakutan jikalau Jatila mengikuti Dia dan diganggu oleh berat dari buah dada dan pantat-Nya, memegang pakaian-Nya yang dikendurkan dan rambut dengan kedua tangan, berlari kembali ke Vraja, sekali-kali dengan cepat dan sekali-kali dengan lebih pelan-pelan. (112)

Sri Rupa Manjari, ingin mengantarkan Radhika pulang dengan selamat, mendudukkan Radha di dalam kereta terbuat dari pikirannya sendiri dan kemudian mengikuti Dia, menutupi jalan kecil itu dengan tirai dari mata-nya, itu adalah kelabu- abu dan berkerlap-kerlip karena rasa takut-nya dan keterikatan-nya ( kepada Radhika). (113)

Menangkal dari segala arah dengan panah-panah dari pandangan rasa khawatir-nya menembak ke segala penjuru, Rati Manjari juga mengikuti Radhika, jantung-nya berdegup kencang dengan rasa takut, memimpin seperti halnya tulang punggung prajurit-prajurit. (114)

Sangat ketakutan Radha dan Krishna melewati padang rumput yang luas yang merupakan halaman (tempat kegiatan) Mereka sendiri, mata mereka gelisah yang kemungkinan dipengaruhi oleh orang-orang yang lebih tua dari Mereka. Kemudian Mereka gentar masuk kedalam kamar Mereka masing-masing dan terlentang di tempat tidur Mereka, pikiran Mereka dirundung keletihan. (115) sakhi yang sangat ahli sekali  yang melindungi lila Tuhan dan siapa yang gerak-geriknya tidak sadarkan diri, kembali pulang ke rumah mereka masing-masing seperti yang kitab suci Veda ungkapkan, paa waktu peleburan alam semesta, masuk kembali kedalam Tuhan ketika Acyuta, telah mengakhiri kesenangan-Nya, pergi tidur di tempat tinggal-Nya sendiri. (116)

Dalam syair yang agung Govinda Lilamrta, yang adalah hasil dari pelayanan Sri Rupa Goswami, yang adalah seekor lebah pada kaki-padma dari Sri Caitanya Mahaprabhu, dorongan semangat dari Sri Raghunatha Dasa Goswami, sahabat dari Sri Jiva Goswami dan berkat dari Sri Raghunatha Bhatta Goswami, ini adalah Bab Pertama, yang berjudul ‘akhir lila pada malam hari’

 by Srinidhi dasa 2006-2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s