Sabda Otoritas Veda # 2

PENGUASA TERTINGGI

Ada banyak penguasa-penguasa di seluruh alam semesta ini. Mulai dari penguasa dalam sekrup yang paling kecil, yaitu penguasa atas badan individunya, penguasa di dalam keluarga, berbagai organisasi masyarakat, hingga penguasa yang paling tinggi. Tetapi penguasa yang paling tinggi hanya satu, yaitu. Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Ada perbedaan antara kata Tuhan dengan kata penguasa tertinggi atau kebenaran mutlak. Kata Tuhan identik dengan kata Penguasa, yang bisa berarti seorang dewa atau penguasa yang agung. Kata “Tuhan” dalam bahasa Inggris menggunakan kata Lord yang juga berarti penguasa dan para dewa seperti Dewa Brahma, Dewa Siwa, Indra biasa disebut, Lord Brahma, Lord Siwa, Lord Indra dsb. Jadi kata Tuhan tidak mutlak menunjukkan penguasa yang tertinggi. Sehingga untuk menunjukkan Penguasa Yang Tertinggi yang tiada duanya  perlu menggunakan kata, Tuhan Yang Maha  Esa, Tuhan  Yang Maha Besar, Tuhan Yang Maha Tahu dsb.

Sebutan-sebutan itu menunjukkan bahwa ada Tuhan yang tidak Maha Esa, yang tidak mahabesar, mahatahu dsb. Yang perlu dipahami, bahwa kata Tuhan berarti   Penguasa, di lain tempat yang berbahasa lain memakai bahasanya sendiri untuk mewakili kata “Tuhan atau Penguasa”. Itu bukan berarti bahwa Tuhan mereka berbeda.  Dalam bahasa Sansekerta sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa digunakan kata, “bhagavan.”   bhaga artinya segala kehebatan dan kata Van berarti yang memiliki. Jadi sebutan bhagavan menunjukkan Beliau yang memiliki segala kehebatan, menurut Rsi Parasara, bahwa yang dijuluki sebagai bhagavan pasti  harus memiliki  keenam  kehebatan  dalam jumlah yang tidak terbatas.

Enam kehebatan tersebut al:

  1. Maha kaya.
  2. Maha tampan.
  3. Maha berpengetahuan.
  4. Maha berwibawa.
  5. Maha termasyur, dan
  6. Maha tidak terikat.

Dalam keenam daftar kehebatan ini menyangkut segala kehebatan. Apabila ada suatu kehebatan yang insan lain memiliki lebih, maka Beliau tidak bisa disebut maha berwibawa atau maha termasyur.

Melalui  pernyataan  para  penguasa  kita  akan  bisa memahami   siapa  sebenarnya  penguasa tertinggi. Kebenaran   ini hanya bisa diterima dari Yang Mutlak sendiri atau melalui penyembah-penyembah Be­liau yang tulus hati.

Sebagai bukti yang pertama marilah kita menyimak pernyataan Arjuna dalam BhagavadGita.

arjuna uväca

paraà brahma paraà dhäma pavitraà paramaà bhavän

puruñaà çäçvataà divyam ädi-devam ajaà vibhum

ähus tväm åñayaù sarve devarñir näradas tathä

asito devalo vyäsaù svayaà caiva bravéñi me

artinya:

Arjuna berkata: Anda adalah Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, tempat tinggal tertinggi, Yang Mahasuci, Kebenaran Mutlak. Anda adalah Yang Mahaabadi, Yang Rohani dan melampaui dunia ini, Personalitas yang asli dan tidak dilahirkan dan Yang Mahabesar. Semua resi yang mulia seperti Narada, Asita, Devala dan Vyasa membenarkan kenyataan ini tentang Anda, dan sekarang Anda Sendiri menyatakan demikian kepada hamba

 (BhagavadGita 10.12-13)

Demikianlah kesimpulan Arjuna setelah mengerti BhagavadGita. Arjuna adalah murid BhagavadGita yang pertama yang mengerti BhagavadGita.   Dan  semua orang  yang  mempelajari BhagavadGita akan mendapat pengertian  yang benar apabila mengerti dengan cara mengikuti  sikap Arjuna seperti  yang dinyatakan oleh Sri Krsna dalam  Bg.4.3  bhakto   ‘si me sakha ceti  rahasyam  hy etad  uttamam. Oleh karena engkau adalah penyembah dan kawan-Ku;   karena itulah engkau dapat mengerti rahasia rohani pengetahuan   ini. Dan dalam Bg. 9.1 Krsna  juga  bersabda;  Arjuna yang baik hati, oleh karena engkau tidak pernah  iri hati  kepada-Ku,   Aku akan menyampaikan  pengetahuan dan keinsafan yang paling  rahasia   ini  kepadamu.

Itulah sifat-sifat yang diperlukan untuk mengerti   rahasia   rohani   BhagavadGita, juga kitab-kitab Veda lainnya. Sebab semua Veda dimaksudkan untuk mengerti Krsna.   Krsna  bersabda;   vedais ca  sarvair aham  eva vedyo vedanta-krd veda-vid eva caham, artinya; Akulah yang  harus diketahui dari segala Veda, memang Akulah yang menyusun Vedanta  dan Akulah yang mengetahui Veda.   (Bhagavad-Gita.15.15)

Dari ayat ini kita dapat mengerti bahwa Krsna-lah obyek dari segala pelajaran Veda. Segala proses kerohanian dianggap sukses apabila mencapai tujuannya yaitu mengerti tentang Krsna kemudian menekuni pengabdian kepada Beliau.

Mengenai kesempurnaan seorang jnani atau orang yang mendalami pengetahuan Veda, di dalam BhagavadGita 7.9 Sri Krsna menyatakan; jnanavan mam prapadyante vasudevah sarvam iti,  artinya;   Orang yang  sungguh-sungguh memiliki pengetahuan menyerahkan diri kepada-Ku dengan mengetahui bahwa  Aku adalah sebab dari segala sebab dan  sebab dari segala sesuatu yang ada, Seorang jnani dianggap sukses bila dia  sudah menca­pai pengertian tentang Krsna. Demikian juga orang yang menekuni latihan dhyana yoga (raja yoga) yang terdiri dari delapan tahapan (astangga) yaitu; yama, niyama, asana,   pranayama, pratyahara, dharana, dhyana dan samadhi dia dianggap sukses apabila pikirannya mantap dalam pengabdian kepada Krsna, sebagaimana dinyatakan dalam BhagavadGita;

yoginam api  sarvesam     mad-gatenantar-atmana

sraddhavan bhajate yo mam   sa  me yuktatamo matah

artinya:

Diantara   semua yogi,   orang yang mempunyai    keyakinan yang kuat dan selalu tinggal di dalam Diri-Ku berpikir tentang-Ku di dalam dirinya, dan mengabdikan diri kepada-Ku dalam cinta bhakti rohani sudah bersatu dengan-Ku dalam yoga dengan cara yang paling dekat, dan dialah yang paling tinggi diantara semuanya. Itulah pendapat-Ku.

Demikian juga dengan karma yoga dianggap sukses apabila segala pekerjaan adalah pengabdian kepada Krsna. Uraian secara lengkap diberikan oleh Rsi Vyasa dalam SrimadBhagavatam sbb;

vasudeva-para veda     vasudeva-para  makhah

vasudeva-para yoga     vasudeva-parah kriyah

vasudeva-param jnanam vasudeva-param  tapah

vasudeva-paro dharmo    vasudeva-para gatih

artinya;

Di dalam Kitab Suci, obyek pengetahuan tertinggi ialah Sri Krsna (Vasudeva) Personalitas Tertinggi  Tuhan Tan Maha Esa. Maksud melakukan korban suci ialah untuk memuaskan Beliau. Yoga ialah untuk menginsafi Beliau. segala kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil akhirnya hanya diberi pahala ole Beliau. Beliaulah pengetahuan tertinggi, dan segala pertapaan keras dilakukan untuk mengenal Beliau. Agama (dharma) adalah pengabdian kepada Beliau. Beliaulah tujuan hidup tertinggi.

(Srimad-Bhagavatam 12.28-29)

Demikianlah Rsi Agung Vyasadeva menguraikan tentang Krsna, tujuan tertinggi, Vasudeva adalah salah satu nama Krsna oleh karena Beliau menerima Vasudeva sebagai ayah ketika Beliau turun di dunia ini, dan di dalam Veda Krsna lebih terkenal dengan sebutan Vasudeva dengan tanda perpanjangan di atas huruf a ( Vasudeva ) yang menunjukkan putra dari Vasudeva. Oleh karena banyak penjelmaan-penjelmaan atau avatara-avatara dari Sri Krsna yang juga disebut sebagai Personalitas Tertinggi Tuhan atau bhagavan, khusus untuk Sri Krsna Rsi Vyasa menyatakan;

ete camsa kalah pumsah

krsnas tu bhagavan svayam

artinya:

Ada perwujudan-perwujudan yang tidak terhingga daripada Tuhan yang semuanya adalah bagian- bagian atau bagian-bagian dari bagian yang berkuasa penuh dari Beliau tetapi Krsna adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa Yang asli (bhagavan svayam).

(Srimad-Bhagavatam 1.3.28)

Sri Krsna bukanlah penjelmaan dari suatu wujud yang lain beliau adalah sumber dari semua avatara atau avatari. Beliau juga disebut avatara yang berarti menurun.  Beliau turun ke dunia material dalam wujud-Nya yang asli untuk mengkaruniai para penyembah-Nya dan untuk menarik hati roh-roh yang terikat. Krsna sudah menjelmakan diri-Nya sebagai bagian-bagian, suku dan percikan-percikan, sebagaisvayam rupa, svayam prakasa, tad ekatma, prabhava, vaibhava, vilasa, avatara avesa  dan para  jiva. Mewujudkan segala bagiannya sesuai dengan yang diperlukan untuk keadaan alam semesta.  Bila keadaan tidak terlalu serius Tuhan tidak menjelmakan diri secara langsung melainkan menguasakan seorang jiwa yang mulia dan memperkuat dengan tenaga Beliau; Bagian perwujudan seperti itu disebut Vibhuti.

Berbagai penjelmaan Krsna sebagai avataraavatara pada garis besarnya digolongkan menjadi enam bagian yaitu;

  1. Purusa avatara, yaitu avatara untuk ciptaan alam semesta yang terdiri dari ; purusa    yang pertama yaitu, Maha Visnu, sumber seluruh alam semesta material yang keluar masuk melalui pori-pori Beliau yang maha besar. Purusa yang kedua adalah Garbodakasayi Visnu, sumber ciptaan dalam tiap-tiap alam semesta, tempat kelahiran Brahma (pencipta isi alam semesta). Purusa yang ketiga adalah Ksirodakasayi Visnu yang dikenal sebagai paramatma yang bersemayam di dalam hati setiap makhluk hidup juga dalam setiap atom.
  2. Guna avatara, yaitu penjelmaan sifat dari Yang Maha Kuasa yang disebut Tri Guna yaitu sifat kebaikan, yang dikendalikan oleh Sri Visnu sendiri, sifat nafsu (rajas) yang dikuasakan pada Dewa Brahma, dan sifat kebodohan (tamas) yang dikuasakan pada Dewa Siva, yang masing-masing berfungsi sebagai; Pencipta, pemelihara dan pelebur isi alam material.
  3. Lila avatara, yaitu perwujudan Beliau untuk menunjukkan lila atau kegiatan Beliau di dunia material khususnya untuk melindungi para penyembah-Nya, untuk membinasakan kejahatan dan menegakkan prinsip-prinsip dharma. Sepuluh avatara adalah bagian-bagi­an dari lila avatara.
  4. Yuga avatara,   yaitu penjelmaan Tuhan atau Tuhan sendiri yang menurun pada tiap-tiap jaman dengan warna-warna yang berbeda. Pada Zaman Satya Tuhan Turun dengan warna putih sebagai Sri Kapiladeva putra Devahuti. Pada Zaman Treta Tuhan turun dengan warna merah sebagai Yajna. Pada jaman Dvapara secara istimewa Tuhan Sri Krishna sendiri turun dengan warna yang kehitam-hitaman yang sangat indah. Beliau turun untuk mengurangi beban dunia ini yang disebabkan karena gangguan raja-raja yang jahat dan para raksasa. Tetapi misi Beliau yang lebih penting adalah untuk menyenangkan para penyembah-Nya. Pada Zaman Kali Tuhan turun dengan berwarna kuning emas sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu putra Saci. Ciri-ciri kemunculan Beliau diuraikan dalam berbagai Kitab-kitab Suci yang lebih rahasia, sebab kemunculan Beliau adalah untuk mengajarkan cara pengabdian suci yang murni kepada Tuhan dengan cara yang praktis sesuai dengan uraian kitab-kitab suci yang paling tepat untuk jaman ini, Beliaulah yang memulai gerakan sankirtana yajna (yajna untuk Zaman Kali) yaitu ucapan Nama-nama Suci Tuhan beramai-ramai, cara yang paling ampuh untuk menghilangkan pengaruh-pengaruh buruk pada jaman Kali ini.
  5. Manvantara avatara Tuhan Yang Maha Esa sebagai para Manu yang menurunkan generasi-generasi manusia di alam semesta. Dalam satu hari bagi Dewa Brahma ada empat-belas Manu yang lahir satu demi satu. Satu harinya Dewa Brahma juga disebut satu kalpa atau seribu putaran jaman. Satu putaran jaman = 4.320.000 tahun di Bumi. Mengenai hal ini kami sudah uraikan dalam topik Yuga Dharma.

Jadi dalam satu kalpa atau 1.000 Maha Yuga ada 14 Manu, jadi masing – masing Manu berusia 71,4 putaran jaman (Maha Yuga) atau 71,4 x 4.320.000 = 308.448.00 tahun. Sekianlah usia tiap-tiap Manu.

Satu hari bagi Dewa Brahma ada 14 Manu satu Bulan Brahma ada 420 Manu, satu tahun bagi Brahma ada 5,040 Manu, Brahma hidup selama100 tahun dengan hari-hari sepanjang itu Ada berjuta-juta alam semesta yang masing-masing dipimpin oleh satu Brahma dan semua itu terwujud selama satu hembusan nafas dari Maha Visnu  ketika   Beliau menarik nafas, seluruh alam semesta  masuk ke dalam badan  Beliau. Maha Visnu adalah penjelmaan yang berkuasa penuh dari Sri Krsna, sebagai purusa avatara. Daftar nama-nama keempat belas Manu tadi yang sudah lewat maupun yang akan datang termasuk putra-putranya dan dewa-dewa yang menyertai diuraikan dengan jelas di dalam Srimad-Bhagavatam. Manu yang sekarang adalah Manu yang ke-7 dalam saat ini yang bernama Vaivasvata Manu putra Vivasvan (Dewa Matahari). Di sini kami hanya memberi uraian secara singkat-singkat saja.   Kalau pembaca ingin mendapat uraian yang lebih jelas dan lengkap tidak sulit untuk mendapat informasi.

  1. Saktyavesa avatara, adalah perwujudan tenaga Tuhan yang memperkuat seorang abdi-Nya yang dikuasakan untuk menangani hal-hal tertentu, dimana Tuhan sendiri tidak perlu turun secara pribadi. Sang Budha, Rsi Vyasa, Maharaja Prthu ada­lah contoh-contoh avatara tersebut. Demikianlah secara garis besarnya berbagai avatara yang tak terhitung banyaknya, diandaikan ombak-ombak di laut. Dan setelah menguraikan penjelmaan-penjelmaan itu, Rsi Vyasa menyatakan ;  ete camsa kalah pumsam krsnas tu bhagavam svayam, artinya; Semua penjelmaan-penjelmaan yang diuraikan di atas adalah bagian-bagian yang berkuasa penuh dari Yang Mutlak (Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa)  atau bagian dari bagian-bagian Beliau. Tetapi Krsna adalah Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa yang asli. Kenyataan ini juga dibenarkan dalam Kitab Suci Veda yang lain. Dalam Brahma-samhita, Dewa Brahma bersabda;

isvarah paramah krsnah   sat cit ananda vigrahah

anadir adir govindah    sarva karana  karanam

artinya:

Penguasa yang tertinggi adalah Krsna. Badan rohani Beliau kekal, penuh pengetahuan dan penuh kebahagian. Beliau adalah Govinda yang tanpa awal tanpa akhir. Beliau adalah sebab dari segala sebab.

Banyak orang yang menganggap bahwa Dewa Brahma atau Dewa Siwa adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi bagaimana tanggapan Beliau mengenai pemuja-pemujanya itu? Dalam Bhagavata-purana Dewa Brahma bersabda;

tasmai namo bhagavati   vasudevaya vidraahi

yan mayaya durjayaya  mam vedanti  jagat gurun

artinya:

Hamba bersujud kepada Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa (Vasudeva) yang kekuatan tenaga-Nya menghayalkan orang-orang bodoh yang menganggap Aku sebagai penguasa tertinggi.

( Bhagavata-purana 2.5.12 ).

Dari ayat ini kita bisa mengerti bahwa Dewa Brahma tidak begitu puas terhadap para penyembahnya yang menganggap beliau sebagai Tuhan, sebab semua para dewa adalah penyembah-penyembah Tuhan yang dikuasakan untuk mengurus berbagai kebutuhan material. Jadi para dewa hendaknya diberikan penghormatan sebagai petugas-petugas atau wakil-wakil Tuhan tetapi bukan sebagai Yang Tertinggi.

Dalam Srimad-Bhagavatam Dewa Siwa juga bersabda kepada sepuluh rsi yang disebut para Praceta sbb;

atha bhagavata yuyam priyah stha bhagavan yatha

na mad bhagavatanam ca prean anyo  ‘sti karhicit

artinya:

Anda semua adalah penyembah Tuhan dan saya menghargai anda semulia Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa. Aku mengetahui bahwa para penyembah juga hormat kepadaku dan aku sangat sayang kepada mereka. Karena itu tak seorangpun yang kusayangi  seperti para penyembah Tuhan.

 (Srimad-Bhagavatam 4.24.30)

Dewa Siwa juga bersabda;

yah parara ramhasah  saksad trigunaj  jiva  samjnitat

bhagavatam vasudevam   prapanah   sa  prio  hi  me

artinya:

Seseorang yang menyerahkan diri kepada Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa (Vasudeva) / Krsna Pengendali segala sesuatu, alam material maupun semua makhluk hidup, sebenarnya sangat Aku sayangi.

(SrimadBhagavatam 4.24.29 )

Ayat-ayat ini adalah ajaran Dewa Siwa kepada para Praceta, putra-putra Maharaja Pracinabarhi yang menghadap beliau untuk memohon bimbingan, sehingga bisa bertemu berhadap-hadapan dengan Tuhan (Sri Visnu), ajaran tersebut terdapat dalam SrimadBhagavatam yang berjudul nyanyian Dewa Siwa, ciri-ciri Tuhan, bentuk Beliau, perlengkapan-Nya, cara memuaskan Beliau dan banyak hal mengenai Tuhan Yang Maha Esa diuraikan oleh Dewa Siwa yang terdiri dari 79 sloka. Dalam ayat-ayatnya bagian akhir Dewa Siwa menyatakan;

Doa ini pertama diajarkan kepadaku oleh Dewa Brahma, pemimpin para pencipta. Para pencipta, yang dipimpin oleh Bhrigu diajari doa ini oleh karena mereka ingin menciptakan.

Ketika para Prajapati diperintahkan untuk menciptakan oleh Dewa Brahma, kami mengucapkan doa ini dalam memuji Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa dan kami bebas dari segala kebodohan. Dengan demikian kami dapat menciptakan berbagai jenis makhluk hidup.

Para penyembah Krsna yang pikirannya selalu terserap di dalam Beliau, yang dengan penuh perhatian dan rasa pengabdian mengucapkan stotra atau doa ini akan mencapai kesempurnaan hidup tertinggi tanpa diragukan.

Inilah kutipan beberapa ayat bagian-bagian akhir dari ajaran tersebut, yang tidak saya sertakan ayat-ayat Sanskertanya.

Dewa Siwa adalah penyembah Visnu (vaisnava) yang paling Agung. Dalam Veda dinyatakan vaisnavanam yatha sambhu; Sambhu (Siva) adalah vaisnava yang tertinggi. Beliau termasuk salah satu dari mahajana penguasa-penguasa yang paling mengerti tentang prinsip-prinsip keagamaan sejati dan kebenaran tertinggi. Di dalam Padma-purana terdapat ajaran-ajaran  beliau kepada Parwati (istrinya). Dalam salah satu  sloka dari purana tersebut Dewa Siwa bersabda kepada Parvati sbb;

aradhananam sarvesam     visnoh aradhanam param

artinya:

Dari segala jenis persembahyangan, bersembahyang kepada Visnu yang paling baik. Beliau Juga mengatakan kepada Parvati,

raukti pradata sarvesam   visnoh atra na samsayah

artinya:

Tidak dapat diragukan lagi bahwa Visnu pemberi pembebasan bagi semua orang.

(Padma-purana)

Walaupun banyak orang memuja Dewa Siwa sebagai Tuhan, tetapi Beliau tidak menyatakan bahwa dirinya dapat memberikan pembebasan. Tetapi oleh karena Dewa Siwa adalah vaisnava yang agung (vaisnavanam yatha sambhu) beliau dapat bertindak sebagai guru untuk membimbing para penyembah yang tulus hati untuk me­nekuni pengabdian suci kepada Tuhan.

Ada dua golongan penyembah Dewa Siwa, yang satu -penyembah rohani dan yang lain penyembah duniawi. Pemujaan yang benar kepada para dewa adalah memohon karunia dan bimbingan beliau agar kita bisa menekuni pengabdian kepada Tuhan dengan baik. Sebab tidak dibenarkan dalam kitab suci untuk menyembah Tuhan dg cara kita sendiri3 tanpa bimbingan seorang guru yang dapat dipercaya. Para vaisnava yang mengikuti garis perguruan Rudra Sampradaya, mereka memuja Dewa Siwa sebagai guru untuk menyampaikan bhaktinya kepada Krsna. Dewa Siwa juga disebutkan sebagai pimpinan dari para vaisnava. Karena itu beliau sangat sayang kepada para vaisnava. Sedangkan para penyembah yang duniawi me­nyembah para dewa seperti Dewa Siwa atau Dewa Brahma dan dewa-dewi yang lain untuk mendapat keuntungan-keuntungan material, seperti; kekayaan, kesaktian, kemasyuran, pangkat dan kepuasan-kepuasan indera lainnya. Penyembah-penyembah tersebut sering menganggap dewa yang dipujanya sebagai Tuhan. Tetapi itu tidak dapat memuaskan dewa tersebut, seperti yang dinyatakan oleh Dewa Brahma sebelumnya.

Para dewa hanya memenuhi kewajibannya untuk memberikan pahala kepada setiap orang yang berkarma, disini Dewa Siwa menganjurkan untuk sembahyang kepada Visnu. Bagaimana kedudukan Sri Visnu sebagai penguasa, dalam Brahma-samhita Dewa Brahma berdoa, sbb :

 yasyaika nisvasita kalam atha valambya

jivanti  loraa vrisaya  jagad anda natah visnum mahan  sa iltia yasya kala viseso

govindam adi paarusata tarn aham bhajaai

artinya:

Maha Visnu adalah penjelmaan yang berkuasa penuh dari Krsna. Seluruh alam semesta yang jumlahnya tak dapat dihitung keluar dan masuk berulang kali hanya melalui proses pernafasan dari Maha Visnu karena itu hamba menyampaikan sembah sujud kepada Govinda (Krsna) Personalitas Tertinggi Yang Paling Utama.

(Brahma -samhita)

 Semua perwujudan-perwujudan yang langsung dari Krsna disebut para Visnu Tattva. Maha Visnu adalah perwujudan yang pertama untuk ciptaan alam material dan ada perwujudan-perwujudan yang tidak terhingga dalam bentuk Visnu di masing-masing planet di dunia rohani (Vaikuntha ) masing-masing tangan Beliau memegang, cakra, gada, kerang (sangka) dan bunga padma. Maha Visnu adalah purusa yang pertama dari purusa avatara yang sudah dijelaskan sebelumnya. Masih banyak orang yang tidak bisa meyakini bahwa kebenaran tertinggi itu berwujud pribadi terutama kaum Jnani, orang yang mengutarakan naga-angan filsafat. Mereka lebih setuju meyakini bahwa cahaya Brahman yang tidak berwujud sebagai Kebenaran Ter­tinggi. Pengertian mereka bahwa apabila Tuhan ber-avatara Beliau terwujud dari Brahman yang tidak berwujud.  Tetapi  para penguasa tidak menyatakan demikian. Memang itu juga penjelasan dari Rsi Vyasa, dan beliau sempat menyesali kelemahannya itu yang ternyata tidak dapat memberikan kepuasan rohani. Kemudian datanglah guru kerohanian Beliau, Devarsi Narada yang kemudian memerintahkan Vyasa dewa untuk menyusun SrimadBhagavatam, puncak karya Vyasa dewa Sejarah ini dapat anda baca dalam buku ini  dalam topik Mengenal SrimadBhagavatam.

Untuk mengerti bagaimana posisi Brahman yang Kebenaran Tertinggi tidak berwujud, yang berada di mana-mana, dapat kita mengerti melalui sabda para penguasa berikut; Dalam Bhagavata-purana, Dewa Siwa berdoa, yatradam vyajyate visvam visvasrain avabhatiyat tatva brahma param jyotir akasam iva vistritara

artinya:

O Tuhan yang hamba cintai, Brahman yang tidak berwujud menyebar di mana-mana seperti sinar matahari di angkasa. Dan sinar Brahman yang tersebar di seluruh alam semesta terwujud dari sinar rohani-Mu.

Dalam Brahma-samhita Dewa Brahma juga bersabda,

 yasya prabha prabhavato jagad anda kotim   

 kotisv asesa vasudadi vibhuti binam

tad brahma niskalam ananta asesa bhutam   

govindam adi purusam tam aham bhajami

artinya:

Ada berjuta-juta Alam Semesta, dan dalam tiap-tiap Alam Semesta ada planet-planet yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Dan masing-masing planet tersebut lain daripada yang lain dengan kedudukannya di alam semesta. Seluruh alam semesta tersebut terletak di salah satu sudut dalam Brahma Jyoti dan Brahman / Brahma Jyoti tersebut tidak lain dari pada cahaya pribadi dari Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa yang ku sembah, Sri Govinda.

Konsepsi mengenai pembagian aspek daripada Tuhan yaitu sebagai Brahman, paramatma dan bhagavan, dalam SrimadBhagavatam dinyatakan sbb:

vedanti tat tatva vidas   tatvam yaj jnanam advayam

brahmeti  paramatmeti    bhagavan iti sabdhyate

artinya:

Para rohaniawan yang terpelajar yang mengenal kebenaran mutlak, menjuluki yang mutlak sebagai brahman, paramatma dan bhagavan.

(SrimadBhagavatam 1.2.11)

Brahman adalah cahaya rohani yang menyebar keseluruhan alam semesta dan di angkasa rohani, paramatma adalah penjelmaan sebagian dari Tuhan, bhagavan adalah Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa, sumber dari cahaya brahman dan penjelmaan paramatma tersebut. Secara sederhana pemahaman ini dicontohkan seperti pemahaman terhadap tiga aspek matahari, yaitu; sinar matahari, permukaan matahari dan keseluruhan planet-matahari. Murid yang belajar memahami aspek- aspek tersebut akan mendapat pengetahuan yang lengkap bila sudah mencapai pada pemahaman tentang keberadaan planet matahari. Contoh-contoh material semacam ini memang tidak dapat memberikan gambaran yang persis mengenai pengertian rohani, tetapi sekedar untuk memberikan bayangan pada pikiran kita yang cenderung menilai hal-hal rohani dengan perbandingan secara material.

Aspek Brahman yang tidak berwujud adalah obyek bagi para jnani atau golongan rohaniawan yang menekuni filsafat Veda, paramatma adalah obyek bagi para yogi yang menekuni latihan-latihan yoga yang terdiri dari delapan tahapan (astangga yoga)  mulai dari yama (melatih cara duduk)  sampai pada Samadhi (memusatkan pikiran sepenuhnya kepada paramatma yang bersemayam di dalam hati dengan sikap pengabdian). Sedangkan aspek Bhagavan, Kebenaran Tertinggi, hanya dapat dipahami oleh para bhakta yang tekun di dalam pengabdian kepada Tuhan dengan pikiran, kata-kata dan tindakannya.  Inilah kedudukan rohani awan yang paling aman, praktis dan mudah dipraktekkan dengan tuntun-an penyembah yang berpengalaman. Sebab kita punya badan material tidak mungkin pengabdian atau pelayanan dilakukan kepada sesuatu yang tidak berwujud. Untuk di Dunia material Tuhan menerima pengabdian para penyembah-Nya melalui wujud Beliau sebagai arca yang dibuat dan dipuja sesuai dengan uraian kitab suci.  Sembahyang seperti itu bukan sembahyang kepada patung tetapi sembahyang kepada arca. Sembahyang seperti itu disebut arcanam.   Arca adalah perwujudan Tuhan di dunia material untuk menerima pengabdian dan mengkaruniai para penyembah-Nya. Arca yang dibuat dan dipuja menurut perintah Tuhan melalui  kitab-kitab suci dapat bertindak seperti itu karena  dikuasakan  oleh Beliau.  Contoh mengenai hal ini sering diumpamakan seperti kotak-kotak surat. Kotak surat yang sudah diresmikan oleh kantor pos pusat, dia dapat berfungsi untuk mewakili kantor pos pusat. Dan apabila kita memasukkan surat pada kotak surat tersebut dengan mematuhi aturan-peraturan yang berlaku, maka surat kita akan sampai ke tempat yang kita maksud. Tetapi kalau kita membuat kotak surat sendiri, menurut keinginan kita, maka kotak itu tidak dapat berfungsi seperti kotak surat yang resmi. Arca yang dibenarkan menurut Kitab Suci adalah perwakilan resmi untuk menyampaikan bhakti kita kepada Tuhan. Tetapi apabila pemujaan dilakukan terhadap  patung yang dibuat menurut keinginan seseorang serta menurut aturan sendiri maka persembahyangan itu disebut menyembah patung atau berhala.

Demikianlah pandangan mengenai brahman, paramatma, dan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa (bhagavan). Kedudukan Brahman juga diuraikan oleh Sri Krsna di dalam BhagavadGita sbb:

brahmano hi  pratisthanam     amrtasya vyayasya  ca

casva  tasya  ca dharmasya     sukhasyaikantikasya  ca

artinya:

Aku adalah sandaran Brahman yang tidak bersifat pribadi yang bersifat kekal, tidak pernah mati tidak dapat dimusnahkan dan bersifat kekal. Kedudukan dasar kebahagiaan yang tertinggi.

(Bhagavad-Gita 14.27)

Dengan begitu banyak bukti-bukti dari para penguasa, bagi insan yang memiliki cukup keyakinan dan bhakti, cukup untuk memahami siapa Penguasa tertinggi dan apa yang harus kita lakukan.

Sebenarnya masih banyak uraian-uraian dalam kitab-kitab suci yang menjelaskan kenyataan tersebut. Banyak juga orang beranggapan bahwa dengan menyembah para dewa akan mencapai tujuan yang sama seperti menyembah Tuhan. Anggapan tersebut dibantah oleh berbagai pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci, seperti, pernyataan Bhagavad-Gita    7.23, 9.23, 9.25 dll.

Di dalam Atharva-Veda ada pernyataan,

yo brahmanam vidadhati purvam yo vay vedam ca gopayati sma krsnah,

artinya:

Yang sudah ada sebelum Brahma dilahirkan yang memberikan   pengetahuan Veda pada Brahma, yang membebaskan Brahma dari kebodohan adalah Krsna.

Hakekat akhir dari semua Kitab Suci adalah untuk menegaskan bahwa Krsna adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Penguasa Tertinggi, Krsna adalah kata terakhir dalam hakekat kebenaran mutlak. Sesungguhnya segala kitab suci dimaksudkan untuk mengerti Krsna, ( vedais ca sarvair aham eva vedyo).

Rsi-Rsi yang mulia memberikan julukan terhadap Tuhan, menurut sifat-sifat yang Beliau miliki dan kegiatan-kegiatan ajaib yang Beliau tunjukkan. Sehingga Beliau mempunyai nama-nama  yang tidak terhingga. Berbagai suku, bangsa dan negara-negara    di dunia juga menjuluki Beliau menurut sifat-Nya, sesuai dengan bahasa-bahasanya   sendiri.   Beliau di­sebut Tuhan dalam Bahasa Indonesia  yang berarti  ‘Pe­nguasa,  Beliau disebut  Ida Sanghyang Widhi di dalam Bahasa Bali  karena  Beliau Maha Mengetahui, disebut .Allah dalam  Bahasa Arab yang menunjukkan sifat Beliau sebagai Yang Maha Besar, sebagai  pemberi pembebasan dalam Bahasa Sansekerta disebut Mukunda dan masih banyak lagi.  Di India Beliau dijuluki dengan beribu-ribu nama menurut kegiatan Beliau. Beliau disebut Vasudeva, Devaki Nandana, Nanda Nandana Yasoda Nandana, Karena Beliau turun di dunia  ini dengan menerima mereka sebagai orang-orang tua-Nya. Beliau disebut Giridhari karena pernah mengangkat bukit yang bernama Govardan, disebut Madhusudana karena pernah membunuh raksasa bernama Madhu dll. Tetapi semua nama-nama tersebut belum menunjukkan secara lengkap baik sifat maupun kegiatan Beliau. Nama yang menunjukkan identitas Beliau secara leng­kap adalah Krsna yang arti sempurnanya adalah Maha Menarik.  Itulah sebutan yang merupakan gabungan dari segala sifat maupun kegiatan Beliau yang ajaib. Kata bhagavan yang berarti pemilik segala kehebatan yaitu; kekayaan, ketampanan, pengetahuan, kewibawaan, kemasyuran dan ketidakterikatan yang dimiliki tanpa batas, Segala kehebatan itu ada di dalam kata Krsna (Maha Menarik). Kalau Beliau tidak memiliki segala kehebatan maka julukan Maha Menarik (Krsna) tidak dapat digunakan. Jadi seluruh sebutan-sebutan Tuhan yang menunjukkan sebagian makna dari sifat Beliau menunjukkan pada sebagian makna dari sifat Maha Menarik Krsna.

Kata Krs juga berarti kelahiran dan kematian dan kata na berarti menghentikan. Jadi kata Krsna ber­arti Beliau yang dapat menghentikan proses kelahiran dan kematian makhluk  hidup.   Itu Juga merupakan salah satu sifat menarik. Kalau Beliau tidak dapat memberi pembebasan maka tidak bisa disebut Maha Menarik. Kebenaran ini akan dapat kita mengerti hanya melalui sikap pengabdian yang tulus, kerendahan hati dan keyakinan terhadap uraian Kitab Suci. Tanpa keyakinan terhadap Kitab Suci dan para penguasa kita tidak akan mendapat kemajuan apapun. Kenyataan ini diuraikan dalam BhagavadGita 4.40, sbb;

ajïaç cäçraddadhänaç ca saàçayätmä vinaçyati

näyaà loko ‘sti na paro na sukhaà saàçayätmanaù

artinya:

Tetapi orang yang bodoh dan tidak percaya yang ragu-ragu tentang Kitab-kitab Suci yang diwahyukan, tidak akan mencapai kesadaran Tuhan Yang Maha Esa; melainkan mereka jatuh. tidak ada kebahagiaan bagi orang yang ragu-ragu, baik di dunia ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.

 (Bhagavad-Gita 4.40)

Demikianlah posisi orang-orang yang tidak yakin terhadap pernyataan-pernyataan dari Kitab Suci yang merupakan rumusan atau penuntun bagaimana mempergunakan kehidupan sebagai manu­sia yang sangat berharga ini, yang diperoleh setelah melalui evolusi dalam berbagai jenis kehidupan, de­ngan cara yang benar, jangan sampai jatuh lagi ke dalam kehidupan yang lebih rendah.

Demikianlah penjelasan ayat-ayat suci, sabda para penguasa mengenai Penguasa Tertinggi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s