Sri Nityananda di Saptagrama dan Bertemu Advaita Acarya

Sri Nityananda Membebaskan pedagang dari Saptagrama dan perjumpaan-Nya dengan Advaita Acarya

Nityananda Prabhu tinggal di Khadadddaha untuk beberapa waktu dan selanjutnya menuju Saptagrama, bersama dengan rekan-rekan-Nya. Saptagrama begitu terkenal karena tujuh resi sebelumnya pernah tinggal disana. Tempat ini juga dikenal sebagai Triveni-ghata. Tujuh Resi melaksanakan pertapaan disana ditepi Sungai Ganga dengan demikian menerima kaki padma Sri Govinda. Tiga sungai—Gangga, Yamuna, dan Sarasvati—bergabung di tempat ini. Triveni-ghata dikenal dengan baik diseluruh semesta. Hanya melihat tempat suci ini mengerus reaksi berdosa seseorang.

Dengan kebahagian yang luar biasa, Nityananda Prabhu mandi pada pertemuan  tiga sungai itu dengan penyembah-Nya, Sri Nityananda tinggal di rumah sosok yang sangat beruntung Uddharana Datta dekat ditepi sungai Triveni-ghata. Uddharana Datta penuh keyakinan melayani kaki padma Sri Nityananda Prabhu dnegan pikiran, badan, dan kata-katanya. Siapakah yang mampu mengestimasi  keberuntungan dari Uddharana Datta, karena dia mendapatkan pelayanan kepada kakipadma Sri Nityananda Prabhu?

Sri Nityananda adalah Tuhan dari Uddharana Datta, kelahiran demi kelahiran, dan Uddharana Datta adalah pelayan Sri Nityananda, kelahiran demi kelahiran. Dikarenakan oleh Uddharana Datta, seluruh komunitas para pedagang menjadi tersucikan. Tidak ada keraguan akan hal ini. Sri Nityananda berinkarnasi membebaskan kasta pedagang. Dia memberkati cinta dan bhakti pada mereka semua.

Di Saptagrama, Dia secara pribadi melakukan kirtana di rumah setiap para pedagang. Para pedagang memuji kaki padma Sri Nityananda dengan hati dan jiwa mereka. Setiap orang menjadi terkagum-kagum saat melihat para pedagang memuji Sri Krsna. Keagungan Nityananda Prabhu tanpa batas. Dia membebaskan orang-orang kurang cerdas, jiva-jiva jatuh, dan para pedagang. Dia dengan bahagia menikmati lila nama-sankirtana-Nya di Saptagrama. Tak seorangpun dapat cukup menguraikan lila pengucapan nama suci dan menari yang membahagiakan ini, bahkan selama ratusan tahun.

Penduduk Saptagrama sekarang menikmati kebahagian dari orang-orang Nadia yang sebelumnya telah menikmati kegembiraan itu. Setiap orang melakukan nama-sankirtana tanpa mengalami pengaruh dari haus, tidur, atau rasa takut. Sri Nityananda melaksanakan kirtana di setiap rumah orang, di setiap jalanan Saptagrama. Sepanjang orang-orang melihat pertunjukan emosi yang begitu mengagumkan oleh Sri Nityananda Svarupa, mereka tidak dapat tetap berdiri tegak, namun menjadi dibanjiri. Apa yang dapat dikatakan dengan yang lainnya, bahkan orang Muslim yang secara alami menolak Sri Visnu mencari perlindungan pada kakipadma Sri Nityananda.

Pada saat para brahmana Saptagrama melihat air mata cinta bhakti di mata dari orang mulim, mereka mengutuk dirimereka sendiri. Segala pujian kepada Avadhuta Nityananda, yang mana karunianyamembuat lila yang mengagumkan ini benar adanya! Nityananda Prabhu dengan bahagia menikmati lilanya diseluruh Saptagrama.

Setelah beberapa hari, Sri Nityananda Prabhu datang ke Santipura, ke rumah dari yang sangat terkasih-Nya Sri Advaita Acarya. Ketika Advaita Acarya melihat yang berwajah tampan Sri Nityananda Prabhu, kebahagian yang Dia rasakan tanpa batas. Dia berteriak dan menghaturkan sujud-Nya. Dia secara berulang-ulang memeluk Nityananda Prabhu, membasahi seluruh tubuh-Nya dengan air mata cinta-bhakti. Menyaksikan keduanya dimabukan antara  Nitayannda Prabhu dan Advaita acarya. Mereka merasakan pengalaman rasa yang tak terjelaskan.  Mereka berguling-guling sambil berpegangan bersama, mencoba menyentuh kaki masing-masing. Keduanya mengaum seperti singa dan kegilaan mereka tak terkendalikan.

Setelah beberapa saat, Tuhan Nityananda menjadi tenang dan duduk dalam mood berwibawa. Advaita Acarya yang memikat hati mencakupkan tangannya dan dengan bahagia mulai menghaturkan doa pujian kepada Nityananda:

tumi nityananda murti nityananda nama

murtimanta tumi caitanyera sunadhama

sarva jiva paritrana tumi mahahetu

mahapralayete tumi satya dharmasetu

tumi se bujhao caitanyera prambhakti

tumi se caitanya bakes dhara purna sakti

brahma siva naradadi bhakti nama yara

tumi se parama upadesta savakara

visnu bhakti sabei payena toma haite

tathapio abhimana na sparse tomate

patita pavana tumi doya drsti sunya

tomare se jane yara ache bahupunya

sarva yajnamaya ei vigraha tomara

abidya bandhana khao smarena yahara

yadi tumi prakarsa na kara panare

tabe  kara sakti ache janite tomare

akrodha paramananda tumi mahesvara

sahasra badana adi deba mahjidhara

raksa kula hasta tumi srilaksmanacandra

tumi gopa-putra haladhara murtimanta

murkha nica adhama patita uddharite

tumi avartirna haiyacha prthibite

ye bhakti banchaye yogesvara munigane

toma haite tha paibe yete jane

 

“Nama-Mu Nityananda dan memang Anda Nityananda, kebahagaian kekal. Anda merupakan wujud dari sifat transcendental Sri Caitanya. Anda membebaskan semua makhluk hidup dan melindungi prinsip keagamaan pada waktu pelebaran. Anda turun memberikan caitanyaprema-bhakti. Sesungguhnya, Anda merupakan potensi penuh Sri Caitanya. Anda mengajarkan pengetahuan paling utama sekali kepada penyembah, yang dipimpim oleh Dewa Brahma, Dewa Siva, dan Narada. Setiap orang menerima visnu-bhakti dari-Mu, memang Anda tak tersentuh oleh rasa banga. Engkau membebaskan jiwa jatuh tanpa melihat kesalah-kesalahan mereka. Hanya sosok sangat saleh mengetahui-Mu. Engkau satu-satunya penikmat kurban suci. Hanya dengan mengingat-Mu mengancurkan belenggu kebodohan segera. Jika Engkau tidak memanifestasikan diri-Mu, maka siapakah yang akan mengerti Engkau?

“Engkau merupakan Tuhan Yang Mahaesa yang penuh karunia, sepenuhnya terbebaskan dari rasa marah. Engkau Ananta yang berkepala ribuan, yang menyanga semesta di atas kepala-Nya. Engkau Sri Laksmanacandra, penghancur dinasti Raksasa. Engkau Haladhara, putra pengembala sapi. Engkau turun untuk menyelamatkan roh jatuh, orang buruk, orang bodoh, dan orang-orang kelas rendah. Atas karunia-Mu, setiap orang dengan mudah menerima pelayanan bhakti yang dicita-citakan oleh resi-resi agung dan ahli mistik yoga.”

Sambil menguraikan keagungan Nityananda Prabhu, Advaita Acarya menjadi terserap pada suatu kesadaran cinta-bhakti Tuhan. Advaita Acarya mengetahui keagungan Nityanan Prabhu. Beberapa jiva-jiva agung langka mengetahui kenyataan ini. Perselisihan yang orang lihat diantara Mereka tidaklain adalah sebuah ekspresi karunia transcendental. Siapakah yang bisa mengerti pernyataan dari Advaita Acarya ini: “Mengetahui dengan pasti bahwa Dia tidak berbeda dari Tuhan Yang Mahaesa.”

Keduanya Nityananda Prabhu dan Advaita Acarya menghabiskan waktu  Mereka dengan bahagia mendiskusikan topik-topik mujur Sri Krishna. Setelah pertukaran beberapa candaan dan meningkatkan cinta-bhakti-Nya dan kasihsayang untuk-Nya, Nityananda Prabhu meminta ijin dari Advaita Acarya dan pergi menuju Navadvipa.

Menerima Sri Caitanya dan Nityananda Prabhu sebagai jiva dan raga ku. Aku, Vrndavana dasa, menyanyikan keagungan kakipadma Mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s