Sabda Otoritas Veda #1

Orang yang bodoh dan tidak percaya, yang ragu-ragu tentang kitab-kitab suci yang diwahyukan, tidak akan mencapai kesadaran terhadap Tuhan Yang Maha Esa, melainkan mereka jatuh. Tidak ada kebahagian bagi orang yang ragu-ragu, baik di dunia ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.

(BhagavadGita 4.4)

Orang yang melakukan tugas-tugas kewajibannya menurut perintah-Ku dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil.

(BhagavadGita 3.31)

Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan segala pengetahuan, dijadikan bodoh, dan dihancurkan dalam usahanya  untuk mencari kesempurnaan.

(BhagavadGita 3.32 )

Semua orang menginginkan kepuasan,

Semua orang butuh kedamaian,

Semua orang ingin bahagia,

Ditempuh dengan berbagai cara, wanita, uang dan kemasyuran, diburu dengan berbagai tingkat kemampuan manusia. Tetapi semua gagal semua tidak puas, semua tidak bahagia, Akibat salah paham yang tidak pernah terungkap mengenai siapa diri kita yang sebenarnya,  kita lupa  dengan  kebutuhan dasar yang utama.

Memelihara badan adalah obyek utama bagi makhluk yang terikat, tetapi lupa akan kebutuhan diri yang sejati yang terkurung dalam badan.

Cerminan ketidakpuasan sang diri, terasa melalui indera-indera jasmani. Marilah temukan kembali diri kita yang telah lama diselubungi oleh keakuan palsu.

Marilah sadari tugas kewajiban kita, sumber kebahagiaan sejati, melalui bimbingan Sabda Para Penguasa.

DAFTAR ISI

  1. Kata Pengantar
  2. Sistem Keagamaan  Yang Sejati
  3. Penguasa Tertinggi
  4. Yuga Dharma
  5. Guru Yang  Sejati
  6. Posisi Istimewa Para vaisnava
  7. Mengenal Srimad-Bhagavatam

KATA PENGANTAR

Kebenaran yang sejati tidak selalu terungkap bagi setiap orang. Ia hanya terungkap bagi yang mematuhi hukumnya. Dia tetap terang bagaikan matahari, kendati banyak makhluk  yang bersembunyi dalam kegelapan tidak menghargai cahayanya. Namun dia tetap memberi manfaat bagi semuanya dan tak pernah menolak menerangi siapa saja yang mendekat padanya.

Dalam tulisan yang sederhana ini, kami bermaksud memperkenalkan bukti-bukti kebenaran dari sumber-sumber terpercaya dalam Kitab Suci yang baku, yang merupakan sabda suci para penguasa yang tidak dapat dibantah.

Dalam hal ini kami tidak bermaksud mengurangi, merubah atau mengkritik kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan secara umum, tetapi hendaknya kita tidak menutup diri dari uraian Kitab Suci yang mungkin belum pernah didengar, sebab pengetahuan rohani (Veda) itu tidak terbatas. Kalau kita menganggap apa yang kita ketahui dari warisan leluhur kita sebagai satu-satunya kebenaran dan berusaha mengisolir diri dari pengetahuan yang kelihatan baru dan menolak sebelum mencoba memahami, maka selamanya kita akan berjalan tanpa arah yang pasti dengan mengira bahwa jalan yang kita ikuti adalah yang paling benar, walaupun kebenarannya tidak terbukti dari Kitab Suci ataupun dari para penguasa yang dapat dipercaya. Orang yang berkesadaran seperti itu diibaratkan seperti katak di dalam sumur (kupa manduka).

Katak yang sejak lahirnya hanya tinggal dalam sebuah sumur mungkin dia mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup mengenai benda-benda dan situasi di dalam sumur tersebut. Dia anggap dirinya sebagai sarjana atau penguasa di sana, tanpa menyadari bahwa di luar ada tempat, pemandangan dan segala sesuatu yang lebih luas dan beraneka warna. Seandainya dia mendengar kabar tentang keadaan di luar tentu dia tidak akan bisa menerima dan akan berusaha mengukur sejauh batas pemahamannya. Tetapi orang yang cerdas pasti akan menerima dan mengikuti jalan yang benar, yang dibuktikan oleh Kitab Suci dan para penguasa.

Di sini dapat disimak keputusan dari para penguasa seperti;  Dewa Brahma, Dewa Siwa, Dewa Yama, Rsi Vyasa, Rsi  Narada dan  penguasa-penguasa lain yang    diakui dalam Kitab Suci Veda mengenai  sistem keagamaan  yang  sejati, penguasa tertinggi, yuga dharma      guru yang dapat dipercaya dll.

Dalam buku ini para pembaca mungkin akan menemukan uraian yang tidak biasa atau mungkin saja ada yang tidak cocok dengan pengetahuan secara umum, Kami memang tidak bermaksud untuk menyampaikan pengetahuan umum. Banyak uraian-uraian kitab suci yang akan sulit diterima oleh orang pada umumnya. Karena itu uraian-uraian seperti itu tidak diumumkan.

Pengetahuan rohani yang menyangkut hubungan makhluk hidup dengan Tuhan adalah pengetahuan yang rahasia. Hal ini dinyatakan dalam BhagavadGita bab 9 ayat : 2 sbb:

räja-vidyä räja-guhyaà pavitram idam uttamam

pratyakñävagamaà dharmyaà su-sukhaà kartum avyayam

Pengetahuan ini adalah raja pendidikan, yang paling rahasia di antara segala rahasia. Inilah pengetahuan yang paling murni, pengetahuan ini adalah kesempurnaan dharma, karena memungkinkan seseorang melihat sang diri secara langsung melalui keinsafan. Pengetahuan ini kekal dan dilaksanakan dengan riang.

Mengapa pengetahuan tersebut dikatakan rahasia apakah tidak semua orang berhak menerima?  Pengetahuan  rahasia tersebut hanya bisa disampaikan kepada orang-orang yang tulus  hati, tidak iri dan mempunyai keinginan untuk mengerti  kebenaran  sebab pengetahuan rahasia tersebut  hanya  bisa dimengerti melalui  bakti kepada  Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha  Esa (bhaktyamam-abhijanati)   jadi. siapapun  yang  ingin mengerti hubungan rahasia  kita dengan Tuhan dan sabda Beliau harus menyiapkan wadah yang bersih berupa     ketulusan dan  kerendahan  hati sehingga  pengetahuan   suci   itu tidak  bertentangan dengan  ide-ide keliru kita yang kadaluarsa. Karena itu buku ini khususnya saya maksudkan bagi orang-orang yang mulai tertarik memahami kebenaran sejati dengan tujuan   untuk mengabdikan kepada Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha   Esa, kebenaran tertinggi.

Kelahiran makhluk hidup di dunia ini khususnya manusia bukan semata-mata dimaksudkan untuk mencari apa yang namanya kebahagiaan di dunia ini yang juga dirasakan oleh makhluk-makhluk yang lebih rendah. Tetapi kesempatan langka berupa kehidupan       sebagai manusia dengan fasilitas yang lebih bagus dimaksud­kan untuk menyadari apa dirinya yang sebenarnya, siapa Tuhan, bagaimana hubungannya dengan Tuhan dan bertindak menurut kedudukannya yang sejati.

Para  penguasa  seperti;  Dewa Brahma, Dewa  Siwa, dan  penguasa-penguasa lainnya adalah otoritas-otoritas yang patut diikuti segala  perintahnya, sebab beliau mengerti  kebenaran tertinggi dan apa  yang terbaik bagi  semua orang.

Melalui sabda para penguasa saya harap pembaca dapat memahami apa perintah-perintah beliau yang dapat kita terima secara langsung dari beliau yang ditulis dalam Kitab Suci, bukan dari pemuja-pemujanya yang salah paham, yang menginginkan hasil-hasil material dengan menganggap beliau sendiri se­bagai Yang Tertinggi tetapi tidak menghiraukan perintah-perintahnya.

Dewa-dewa seperti Brahma dan Siwa jauh lebih menaruh perhatian terhadap seorang penyembah Tuhan yang mendekati beliau untuk mohon bimbingan daripada beribu ribu pemujanya yang menganggap beliau sendiri seba­gai Tuhan tanpa mengetahui kedudukan beliau yang sebenarnya.

Untuk jelasnya silakan anda simak sabda-sabda para penguasa dalam lembaran-lembaran berikut yang kami kutip dari Kitab-Kitab Suci seperti BhagavadGita dan Srimad Bhagavatam terjemahan dan penjelasan Bhaktivedanta Svami Prabhupada dari Brahma Gaudiya sampradaya ( garis perguruan yang diawali oleh Dewa Brahma.

Terima kasih atas kesediaannya untuk membaca buku ini. semoga bermanfaat untuk kemajuan  rohani anda. Dan mohon maaf bila saya berbuat banyak kekeliruan dan tidak dapat menyampaikan dengan baik sebagaimana yang dapat anda mengerti.

Sistem Keagamaan  Yang Sejati

Penting kita ketahui melalui siapa kita harus menerima pengetahuan, sehingga pengetahuan yang kita terima benar-benar berasal dari sumbernya yang asli dan tidak melalui penafsir-penafsir yang salah paham.

Pengetahuan yang sejati hendaknya bisa membebaskan seseorang dari kebodohan akar keterikatan ter­hadap kenikmatan-kenikmatan material yang menghayalkan, yang merupakan sumber-sumber kesengsaraan berupa kelahiran dan kematian yang terjadi berulang kali diantara 8.400.000 jenis kehidupan. Masalah itulah yang harus dipecahkan bagi orang-orang cerdas untuk mengakhiri kesengsaraan berupa kelahiran, penyakit, usia tua dan kematian.

Anggapan bahwa hidup hanya sekali atau segalanya akan berakhir setelah kematian, segala sesuatu yang diciptakan Tuhan dimaksudkan untuk dinikmati oleh manusia dan  dengan cara apapun  atau dengan menyembah apapun akhirnya  orang akan mencapai  kepada Tuhan, atau anggapan bahwa kita dan Tuhan adalah satu dan sama  saja dan  akhirnya  akan  bersatu dengan Tuhan. Semua anggapan itu adalah berbagai tingkat kebodohan dan khayalan yang bersumber dari keinginan untuk menikmati alam material secara palsu.

Banyak orang hebat yang mempermaklumkan dirinya sebagai guru dan memperlihatkan beberapa latihan kebatinan atau mujizat-mujizat yang dapat menarik perhatian orang-orang umum yang kecenderungan dengan kehebatan-kehebatan duniawi, tanpa mengajarkan cara keinsafan diri atau pengabdian kepada Tuhan seperti yang diuraikan dalam kitab-kitab suci. Bahkan tidak langka orang yang memaklumkan dirinya sebagai penjelmaan Tuhan atau avatara tanpa diuraikan di dalam kitab-kitab suci sebelum dia lahir. Untuk menerima seseorang sebagai penjelmaan Tuhan atau avatara, sebagaimana diuraikan dalam kitab suci setidaknya dapat memperlihatkan 6 ciri sbb:

  1. Setiap avatara sudah dinyatakan dalam Kitab Suci sebelum Beliau turun.
  2. avatara dapat memperlihatkan bentuk semesta.
  3. Setiap avatara mempunyai misi yang khusus.
  4. avatara dapat memperlihatkan kegiatan yang luar biasa yang tidak dapat dibatasi maupun dibayangkan.
  5. Ada   simbol yang khusus pada tangan atau badan avatara.
  6. avatara harus memiliki segala sifat yang dimiliki oleh Tuhan yaitu, ketampanan kekuatan, pengetahuan, kekayaan, kemasyuran dan ketidakterikatan dan semua itu dimiliki secara tidak terhingga. Siapapun yang memiliki ciri-ciri seperti itu Beliau bisa diterima sebagai avatara.

Demikian juga halnya guru yang dapat dipercaya harus memiliki ciri-ciri yang diuraikan dalam  kitab-kitab suci  sbb:

Guru yang sejati hendaknya seorang sadhu, seorang acarya dan yang paling penting dia harus memiliki garis perguruan yang diakui oleh kitab suci yang dimulai oleh Tuhan sendiri. Secara lengkapnya kami sudah, uraikan dalam buku ini dengan topik guru yang sejati. Untuk menghindari pemalsuan atau salah bimbing dari otoritas-otoritas yang tidak dikuasakan kita harus mengenal siapa penguasa yang patut diteladani mengenai dharma atau keagamaan.

Diantara dewa-dewa dan rsi rsi yang mengerti kebenaran mutlak dua belas diantaranya dianggap yang paling mengetahui tentang sistem keagamaan yang sejati yang dijuluki sebagai dua belas mahajana. Di dalam SrimadBhagavatam Dewa Yama menyebutkan sbb:

svayambhur narada  sambhu    kaumara kapila manu    

prahlada  janaka  bhisma    balir vyasaki  vayam

 

Svayambhu (Dewa  Brahma). Rsi Narada, Sambhu (Dewa Siwa), Catur Kaumara  (4 rsi  putra-putra  Brahma), Rsi  Kapila (putra Devahuti), Manu (leluhur manusia), Maharaja  Prahlada, Raja Janaka (ayah Dewi Sita) Bhisma, Maharaja  Bali, Putra Vyasa (Sukadeva Gosvami), Vayam  (aku) yaitu Dewa Yama sendiri, yang menentukan  kematian dan mengadili roh-roh  yang  berdosa  setelah meninggalkan  badan.

Kedua belas mahajana tersebut mengerti dengan sempurna mengenai prinsip keagamaan yang sebenarnya yang sabda-sabdanya, perintah-perintahnya diikuti oleh rsi-rsi dan guru-guru yang mulia berikutnya. Isi buku ini kami susun berdasarkan sabda-sabda para penguasa tsb. dan sabda Tuhan Yang Mahaesa sendiri, dan kitab-kitab suci yang diwahyukan.

Didalam Srimad-Bhagavatam Dewa Yama menyatakan; dharmam tu saksad  bhagavat pranitam na  vai vidhur rsayo napi devah na  sidha mukhya asura manusyah kuto’nu vidhdyadara  caranadayah

artinya:

Prinsip keagamaan yang asli ditetapkan oleh Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa sendiri. Bahkan  rsi-rsi  yang agung yang menduduki  planet-planet yang lebih tinggi  walaupun sepenuhnya berada dalam sifat kebaikan, tidak bisa menyatukan prinsip keagamaan  yang sebenarnya, bukan juga para dewa atau penduduk Sidhaloka yang terpelajar, apa  yang dapat dikatakan  para asura, manusia  biasa, vidyadhara atau para carana.

(Srimad Bhagavatam 6.7.33)

penjelasan :

Menurut pernyataan Dewa Yama tersebut dapat kita mengerti bahwa sistem keagamaan yang sejati tidaklah dibuat oleh insan yang kurang sempurna mengingat kenyataan bahwa makhluk hidup yang lahir di dunia fana mempunyai empat kekurangan yang tidak memungkinkan untuk mengetahui segala sesuatu di mana-mana secara sempurna.

Empat kekurangan tersebut adalah,

  1. Tentu berbuat kesalahan.
  2. Mengalami khayalan.
  3. Ada kecenderungan untuk menipu orang lain.
  4. Indera-indera kurang sempurna.

Dengan kelemahan-kelemahan seperti itu orang tidak dapat membuat sistem-sistem keagamaan yang dapat memberikan manfaat rohani sehingga bisa pulang kepada Tuhan pada akhirnya. Dewa Yama yang bersabda di-atas yang juga disebut Dewa Dharma yang bertugas mengadili semua roh setelah meninggalkan badan, tentunya menguasai segala prinsip-prinsip keagamaan yang sebenarnya tetapi beliau pun tidak dapat menciptakan sistem keagamaan. Beliau hanya menjalankan tugas yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa sendiri.

Tetapi  jaman sekarang di bumi ini banyak sekali sistem-sistem  keagamaan menurut  persetujuan sekelompok  orang  yang berbeda  satu dengan yang lainnya.

Kami tidak  bermaksud  mempermasalahkan  hal itu, hanya untuk meyakini suatu sistem  keagamaan kita  harus memiliki  pedoman mengenai standar sasaran yang harus dituju oleh masing-masing sistem tersebut. Secara kasar kita dapat menilai sistem keagamaan melalui sejauh mana kebiasaan-kebiasaan yang buruk atau keterikatan-keterikatan duniawi bisa dikurangi dan sejauh mana kebiasaan-kebiasaan baik serta kedamaian dan kemakmuran masyarakat dapat dikembangkan. Secara halus kemajuan yang sejati adalah sejauh mana seseorang dapat mengembangkan keterikatan dalam cinta bhakti kepada Tuhan dengan pengetahuan yang benar melalui sistem tersebut yang berdasarkan tuntunan kitab suci dan para penguasa yang diakui. Sebab kesempurnaan hidup yaitu kembali kepada Tuhan dimungkinkan dengan mengembangkan cinta bhakti kepada Tuhan melalui latihan pelayanan kepada Beliau.

Mengenai agama atau dharma yang sejati dapat kita pahami melalui sloka berikut.

Dalam Srimad-Bhagavatam  Rsi  Vyasa menyatakan;

sa vai  pumsam  paro dharmo yato bhaktir adhoksaje ahaituky apratihata yayatma  suprasidati

 

artinya:

Kewajiban tertinggi (dharma) untuk seluruh masyarakat manusia ialah dharma yang memungkinkan manusia mencapai pengabdian suci cinta bhakti pada Tuhan yang melampaui hal-hal duniawi. Pengabdian suci tersebut dilakukan secara terus menerus dan bebas dari motivasi-motivasi duniawi guna. memuaskan sang diri (atma) secara sempurna.

(SrimadBhagavatam 1.2.6)

Nama Tuhan sebagai Adhoksaja disebutkan dalam ayat ini, yang bermakna bahwa Beliau melampaui segala paham keduniawian, rohani sepenuhnya. Kewajiban semua orang adalah mengabdi kepada Beliau dg tanpa motivasi duniawi dan pengabdian seperti itu terus berlangsung bukan hanya di dunia ini tetapi hingga sampai di dunia rohani pengabdian tersebut tetap dilakukan secara kekal, penuh pengetahuan dan penuh kebahagiaan. Disanalah akan dirasakan manisnya rasa bhakti secara sempurna. Semua makhluk berkedudukan dasar sebagai pelayan-pelayan dari Tuhan. Pengabdian suci yang kita lakukan di dunia ini adalah proses latihan hingga diterima kembali sebagai abdi sejati di dunia rohani. Tanpa menjalani latihan seperti itu, setelah keluar dari  badan pada waktu kematian, kita tidak akan mempunyai informasi atau tujuan kemana kita harus pergi, tanpa  perlindungan maupun  kawan. Bagaimana pengabdian suci bhakti yang benar dalam ayat berikut ini dijelaskan.

Dalam Kitab Suci bhakti rasamrta-sindhu dinyatakan,

anya  bhilasita-sunyam  jnana-karniady-anavrtam

anukulyena  krsnanu- silanam bhaktir uttama

artinya:

Orang harus melakukan cinta bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa,   Krsna dengan  cara yang menguntungkan dan bebas dari  keinginan untuk laba material melalui  kegiatan  yang dimaksudkan  untuk membuahkan hasil maupun angan-angan filsafat. Itulah yang disebut  bhakti  yang murni.”

Pasti terjadi salah paham mengenai definisi bhakti yang murni, khususnya orang-orang yang takut mengurangi kepuasan indera-indera.

Barangkali orang berpikir kalau kita berbhakti kepada Tuhan tanpa menginginkan keuntungan material berarti kita tidak boleh kaya atau hidup senang. Tuhan bukan seperti yang dipikirkan orang awam. Seorang anak yang tulus hati mungkin melayani orang tuanya yang kaya tanpa keinginan untuk diberi upah yang hanya berpikir bagaimana agar orang tua saya puas. Apakah dengan begitu berarti orang tua yang kaya tidak akan memenuhi kebutuhan anak yang tulus seperti itu. Bisa dibandingkan dengan seorang anak yang selalu menuntut kepada orang tuanya untuk memenuhi segala keinginannya, mungkin dia melakukan sesuatu untuk orang tuanya tetapi hanya untuk men-dapat imbalan. Tuhan dapat membalas secara sempurna pengabdian para penyembah-Nya sesuai dengan penyerahan dirinya, sebagaimana janji  Beliau yang dinyatakan di dalam  BhagavadGita berikut  ini.

ye yathä mäà prapadyante täàs tathaiva bhajämy aham

mama vartmänuvartante manuñyäù pärtha sarvaçaù

artinya:

Sejauh mana orang menyerahkan diri kepada-Ku, Aku menganugerahi mereka sesuai dengan penyerahan dirinya itu. Semua orang menempuh jalan-Ku dalam segala hal, wahai putera Prtha

 (BhagavadGita 4. 11)

Jadi Tuhan tidak akan memonopoli pelayanan kita. Tuhan adalah ayah yang paling utama bagi semua makhluk hidup. Kebahagiaan yang sebenarnya hanya akan diperoleh melalui penyerahan diri kepada-Nya Uraian-uraian sastra rohani seperti itu hanya dipraktekkan secara nyata oleh para penyembah yang bertindak dalam kesadaran Tuhan (kesadaran Krsna). Melalui bimbingan para penyembah Tuhan yang berpengalaman atau guru-guru kerohanian yang dapat dipercaya. Tanpa demikian Kitab suci hanya akan menjadi simbol saja atau hanya dibaca saja tanpa ada bimbingan untuk mempraktekkan secara nyata sehingga terjadi perbedaan antara apa yang diuraikan dalam kitab suci dengan jalannya praktek keagamaan dalam masyarakat.

Tetapi para penyembah yang menekuni kesadaran Krsna atau bhaktiyoga dapat melaksanakan perintah-perintah Kitab Suci dengan cara yang praktis melalui bimbingan guru-guru kerohanian yang ciri-ciri-nya diuraikan dalam kitab-kitab suci. Sehingga bisa merasakan indah dan manisnya pengabdian suci pada Krsna dengan tanpa keberatan untuk meninggalkan beberapa kenikmatan duniawi yang tidak mendukung kemajuan bhaktinya, yang mungkin sulit sekali bagi yang belum mempraktekkan. Mereka berusaha untuk tetap bertahan terhadap gangguan dari orang-orang yang iri kepada Krsna karena mereka mengerti dengan baik uraian sastra yang pasti akan seperti itu. Tetapi karena keinginannya untuk berbhakti kepada Tuhan kewajiban yang paling utama walaupun tanpa memikirkan keuntungan mereka tetap tulus melakukan. Rasa seperti itu memang sulit untuk orang lain yang belum mempraktekkan. Seperti halnya bagaimana mengungkapkan rasa enak kepada orang yang belum me­rasakan entah campuran rasa apa yang ada di dalamnya. Tetapi umumnya orang lain yang tidak dapat membayangkan rasa tersebut yang menghindari pengabdian suci kepada Tuhan sibuk memikirkan para penyembah dengan menilai secara duniawi.

Untuk menerima sistem keagamaan yang benar ada standar yang perlu kita perhatikan seperti yang dinyatakan dalam ayat berikut.

Dalam  kitab Brahma Yamala dinyatakan:

sruti   smrti  puranadi   panca ratra  vidhim vina

aikantiki  harer bhaktir   utpata  yaiva  kalpate

artinya :

Pelayanan  bhakti  kepada Tuhan dengan mengalpakan literatur Veda  seperti  upanisad, purana  dan  Narada-pancaratra  hanyalah merupakan gangguan  yang tidak diperlukan dalam masyarakat.

(Brahma-yamala )

Pelaksanaan keagamaan apapun yang benar yang dikehendaki oleh Tuhan, sudah diatur oleh Beliau melalui kitab-kitab suci. Hanya dengan mengikuti aturan yang Beliau berikan akan memungkinkan suatu proses untuk mencapai tujuannya sebenarnya. Membuat aturan persembahyangan sendiri atau tidak menurut petunjuk kitab suci tidak dibenarkan     oleh Tuhan dan dianggap sebagai gangguan. Karena  itu segala  metode  keagamaan mungkin  akan  sukses apabila mengikuti  aturan  kitab suci dan dibimbing oleh guru yang dikuasakan.   Petunjuk mengenai guru yang dapat dipercaya dapat anda baca pada buku ini dalam topik guru kerohanian yang sejati.

Dalam Srimad -Bhagavatam  Dewa Yama bersabda,

 etavan  eva  loke  smin  pumsam dharmah parah smrtah  

 bhakti  yoga  bhagavati  tan name grahana dibih

artinya: .

Pengabdian suci yang dimulai dengan pengucapan nama-nama suci Tuhan adalah prinsip keagamaan tertinggi bagi makhluk hidup dalam kehidupan manusia.

(Srimad -Bhagavatam)

Segala pelaksanaan keagamaan yang benar pasti memerlukan kesucian, ketulusan dan kerendahan hati hingga bisa menghubungkan diri dengan Yang Maha Suci Tuhan Yang Maha Esa. Cara yang paling tepat dan praktis untuk menyucikan diri yang diusulkan berbagai   kitab suci khususnya untuk jaman ini, adalah cara mengucapkan nama –nama suci Tuhan untuk menetralisir segala pengaruh-pengaruh buruh dalam jaman yang penuh kekalutan ini, khususnya cara mengucapkan maha-mantra yang diusulkan dalam kitab suci Kali-Santarana Upanisad (Upanisad untuk jaman Kali). Mengenai cara ini kami uraikan pada buku ini dalam topik Yuga-dharma. Ada banyak mantra yang di­usulkan dalam Kitab Suci, walaupun ada banyak mantra yang ampuh tetapi kita masih harus memilih mantra yang cocok untuk keadaan kita seperti halnya walaupun di toko obat tersedia bermacam-macam obat yang semuanya ampuh tentu kita masih harus memilih obat yang cocok untuk penyakit kita sesuai petunjuk dokter. Seandainya kita menderita penyakit kolera yang harus segera ditolong sedangkan kita membeli obat sakit jantung, walaupun harganya mahal tentu tidak bisa menolong. Begitu juga dengan penyakit khusus yang diderita oleh manusia pada Zaman Kali sebagaimana diungkapkan oleh para rsi di hutan Naimisaranya kepada Maharsi Suta,

prayenalpa yusah sabhye kalau asmin  yuge  janah

mandah sumanda mathayo  manda bhagya hy upadrutah

artinya:

O Rsi yang terpelajar, pada jaman besi Kali ini, manusia pendek usia. Mereka suka bertengkar, malas, tersesat, bernasib sial dan, terutama, selalu goyah.

(Srimad -Bhagavatam  1.1.10 )

Untuk menyembuhkan penyakit yang khusus dalam keadaan seperti itu Tuhan juga menetapkan resep yang khusus melalui kitab-kitab suci.  Yang pasti kita harus berpatokan pada sastra dan penguasa. Untuk lebih jelasnya dapat anda simak yuga-dharma.

Dalam kitab-kitab suci yang tingkatannya lebih tinggi selalu ditekankan untuk bersembahyang kepada Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa (yajeta purusam-param) kepada penguasa yang paling utama bukan kepada para dewa, leluhur, bhuta-kala dan sebagainya. Itu bukan berarti kita tidak hormat pada mereka. Para dewa, para rsi dan penguasa-penguasa lainnya adalah petugas-petugas dari Tuhan yang harus diberi penghormatan seperti Tuhan tapi bukan sebagai Tuhan. Kitab suci menunjukkan cara yang paling tepat untuk memuaskan mereka. Mungkin orang beranggapan, kalau seandainya kita hanya menyembah Tuhan tentu para dewa, para leluhur dna lain-lainnya akan marah atau tersinggung. Kesalahpahaman seperti itu akan dijelaskan dalam ayat berikut.

devarsi   bhutapta  nrnam  pitrinam   na   kinkaro  nayam   rni  ca   rajan

sarvatmana yah  saranam  saranyam    gato  mukundam   parinrtya  kartam

artinya:

Siapapun yang sudah berlindung kepada kaki padma Mukunda, pemberi pembebasan dengan meninggalkan kewajiban terhadap yang lainnya.   Dan sudah menempuh jalan tersebut dengan sikap yang sungguh-sungguh, serius,  tidak mempunyai  kewajiban maupun hutang budi lagi terhadap para dewa, rsi, leluhur, semua makhluk hidup, anggota  keluarga, maupun  orang lain. Persembahan seperti itu dipenuhi dengan sendirinya dalam pelaksanaan bhakti kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa.

Tuhan dikatakan memiliki berjuta-juta nama menurut berbagai kegiatan Beliau, kualifikasi dan sifat rohani Beliau. Nama Tuhan dalam sifat-Nya sebagai pemberi pembebasan disebut sebagai “Mukunda.” yang disebutkan dalam ayat ini. Dengan hanya berbhakti kepada Tuhan bukan berarti bahwa kita mengabaikan -penguasa-penguasa bawahan lainnya melainkan adalah cara yang paling tepat dan praktis untuk memuaskan semua makhluk hidup yang dibenarkan dalam kitab suci. Pernyataan ini juga dinyatakan dalam SrimadBhagavatam sbb:

Dalam SrimadBhagavatam Dewa Siwa bersabda,

yatha hi   skandha  sakhanam  taror mulavase canam

evam aradhanam visnoh  sarvesam atmanas cahi

artinya:

Apabila seseorang menyiramkan air pada akar sebatang pohon, cabang-cabang, ranting-ranting dan seluruh bagian pohon tersebut dipuaskan, begitu pula apabila seseorang menjadi penyembah Visnu semua makhluk  dipuaskan secara otomatis karena Tuhan adalah roh yang paling utama yang bersemayam di dalam hati semua makhluk .

(Srimad-Bhagavatam 8.5.49)

Semua makhluk hidup adalah bagian-bagian percikan Tuhan dan Tuhan mendampingi setiap makhluk dengan bagian-Nya yang berkuasa penuh sebagai Paramaatma yang membimbing, menyaksikan, mengijinkan dan memberikan kekuatan untuk tindakan makhluk    hidup. Memuaskan Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa berarti memuaskan semua bagian-bagian daripada Tuhan. Untuk  itu ayat  berikut menegaskan  cara  yang tepat.

akamah   sarva  kamova  moksa  kama  udaradhih

tivrena bhakti  yogena   yajeta  purusam  param

artinya:

Orang yang cerdas, baik dia memiliki segala keinginan material, tanpa suatu keinginan material, ataupun menginginkan pembebasan. Hendaknya dengan sepenuh hati hanya berbhakti kepada Penguasa yang paling utama.

(SrimadBhagavatam 2.3.10)

Pada umumnya kebanyakan orang tidak langsung menjadi penyembah Tuhan Yang Maha Esa, orang lebih suka menyembah dewa-dewa tertentu untuk mendapatkan karunia material lebih cepat.  Tentu  saja dengan memuaskan dewa-dewa tertentu  hasil  dengan cepat bisa diperoleh, tetapi karunia seperti  itu bersifat material,  terbatas dan sementara, di dalam BhagavadGita 7.23 Sri  Krsna  bersabda,  antavat tu phalam tesam tad bhavaty alpa-medhasam artinya: Orang yang kurang cerdas menyembah para dewa,  yang hasilnya terbatas  dan  sementara.   Dalam pengabdian langsung kepada Tuhan walaupun tidak secara bebas menganugerahkan karunia material kepada seseorang tetapi Beliau memberikan yang terbaik    un­tuk penyembahNya sebab Beliau adalah ayah Yang Maha Bijaksana dari semua makhluk.   Beliau mengetahui apa yang kita butuhkan.   Beliau tidak akan memberikan sesuatu kepada   seseorang apabila itu akan membuat-nya semakin tersesat, tenggelam dalam khayalan material. Tetapi Beliau akan menganugerahkan segala fasilitas kepada para penyembah-Nya yang mengerti cara menggunakannya. Seperti halnya seorang ayah tidak  akan  memberikan   pisau  tajam   kepada anak yang belum  mengerti  apa-apa,   tetapi  akan  diberikan  apa yang,   dibutuhkannya.   Orang yang menginginkan berkat material yang bersifat sementara secara cepat, cenderung menjadi penyembah berbagai dewa atau dewi. Tetapi bukan berarti bahwa para dewa bebas menganugerahkan sesuatu pada  pemuja-pemujanya. Para dewa dan penguasa-penguasa alam material lainnya adalah merupakan petugas-petugas yang berhubungan langsung dengan alam material dan bertindak di bawah perintah Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Maha Esa.   Sedangkan Tuhan Yang Maha Esa tidak berhubungan langsung dengan hal-hal Material. Apa bila Beliau mau memberikan karunia material, Beliau memberikan lewat penyembah atau petugas-Nya yang dikuasakan seperti para dewa.

Tetapi banyak orang yang salah paham terhadap contoh-contoh mengenai hal  ini  sehingga mereka berpikir yang memberikan secara langsung adalah yang lebih berkuasa.  Misalnya pada waktu Arjuna memerlukan senjata-senjata yang ampuh, Sri Krsna menyuruh, Arjuna memohon kepada Dewa Siwa kemudian kepada Dewa Indra. Itu bukan berarti  bahwa  Krsna tidak sanggup memberikan, tetapi disamping untuk menghargai para penyembah-Nya seperti Dewa Siwa dan Dewa Indra. Beliau tidak mau melanggar aturan-aturan yang Beliau buat sebagai contoh misalnya kita bekerja dalam satu perusahaan apabila  kita minta  gaji  kepada  bos  perusahaan tersebut dia menyuruh agar kita minta  kepada kasirnya,  tetapi   itu bukan  berarti  bahwa kasir itu lebih kaya atau lebih berkuasa daripada  bos perusahaan tersebut.

Untuk meyakini siapa sebenarnya Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, kebenaran tertinggi melalui bukti-bukti dari para penguasa dalam kitab-kitab suci Veda, kami uraikan dalam buku ini dengan topik, Penguasa Tertinggi.

Sering kita mendengar kata moksartham jagadhitam yang artinya bebas semasih dalam   hidup ini yang dalam ayat Veda juga disebut   jivan mukta yang diinginkan umat Hindu.

Bagaimana definisi jivan mukta yang sebenarnya bisa kita temukan dalam kitab bhakti-rasamrta-sindhu berikut ini.

iha yasya harer dasya   karmana manasa gira

nikhilasv apy avasthesu   jivan mukta sa ucyate

artinya :

Orang yang bertindak dalam pengabdian suci kepada Personalitas Tertinggi  Tuhan Yang Naha Esa (harer dasya) dengan badan, pikiran, kecerdasan dan kata-katanya adalah orang yang sudah mencapai pembebasan, bahkan di dunia inipun. Meskipun dia sibuk dalam kegiatannya berhubungan dengan hal-hal material.

(bhakti-rasamrta-sindhu 1.2.167)

Para  penyembah  yang sepenuhnya mengabdikan hidupnya  untuk  berbhakti kepada Tuhan  walaupun  kelihatannya  bekerja  persis  seperti orang biasa,  tetapi    dia lakukan  semua  itu sebagai pengabdian kepada Tuhan. Hidup dalam pengabdian seperti itu sama dengan pembebasan.  Sebab tidak ada ikatan atau motivasi untuk kepentingannya secara pribadi di luar pengabdian kepada Tuhan. Pengabdian seperti itu adalah merupakan cara latihan untuk melakukan pengabdian secara matang di dunia rohani. Pembebasan berarti bebas dari keterikatan-keterikatan untuk menikmati hal-hal material secara terpisah dengan pengabdian kepada Tuhan. Bebas dari keakuan yang palsu yang biasa terlontar dengan kata “karena aku dan milikku.”

Orang yang sudah mencapai pembebasan dalam pengabdian kepada Tuhan tidak terikat ataupun    membenci hal-hal material dengan menyadari siapa pemiliknya.

Dia  juga  tidak merasa memiliki ataupun menyebabkan sesuatu yang terjadi. Para penyembah bekerja seperti layaknya pelayan. Ibaratkan seperti seorang pelayan pada sebuah toko, pelayan berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya agar bosnya puas. Dia berhak memanfaatkan apa saja untuk kepentingan itu yang sudah disediakan.  Tetapi dia tidak berhak atas apa yang diperbuatnya yang berhak dan menyebabkan dari perbuatannya adalah bosnya Dia cukup puas bila dapat memuaskan bosnya. Sebab dengan cara itu dia akan mendapat perhatian yang lebih baik. Terlebih pengabdian kepada Tuhan, Bos yang paling utama pemilik segala sesuatu. Mungkinkah pelayannya sampai kekurangan.  Krsna bersabda:

ye  yatha mam  prapadyante tams tataiva  bhajami aham.

artinya:

Sejauh mana semua orang menyerahkan diri kepada-Ku, Aku menganugerahi mereka sejauh penyerahan dirinya   itu pula.

Orang yang hanya mencapai pelepasan ikatan terhadap hal-hal material tanpa mengabdikannya kepada Tuhan, Penikmat Yang Paling Utama, pelepasan ikatan seperti itu dianggap kurang lengkap. Sebab dengan demikian berarti dia belum sadar akan Tuhan. Sadar akan Tuhan berarti menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Tuhan dan Kita adalah pelayan-pelayan-Nya. Dengan menyadari bahwa diri  kita adalah  pelayan, bagaimana  kita melepaskan diri dari pekerjaan ,bagai­mana  kita  bekerja tanpa mengharapkan hasil, haruskah kita  bersedia  dibodoh-bodohi  orang, bekerja dengan upah secara sukarela, perlukah kita  bekerja tanpa motivasi untuk mendapatkan uang,   lalu apa yang akan kita abdikan  kepada Tuhan  sebagai pelayan-Nya. Disinilah terjadi kesalahpahaman yang meliputi pengertian masyarakat umum mengenai Bhagavad-Gita bab, 2 ayat 27 yang sering kita dengar dalam film Mahabharata, sebagian slokanya berbunyi sbb;

karmany evadhikaras te ma  phalesu kadacana

Menurut Bhagavad-Gita menurut aslinya artinya adalah, Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan.

Orang yang sudah mempraktekkan pengabdian suci kepada Tuhan dalam kesadaran Krsna, tidak bingung dalam memahami bahkan berlatih mempraktekkan ayat ini dengan senang hati. Karena menyadari bahwa dirinya hanyalah pelayan Tuhan. Bagaimana seorang pelayan dapat mengakui hasil perbuatannya. Yang berhak adalah pemilik­nya. Kita juga bukan penyebab dari hasil pekerjaan, kita hanyalah sebagai alat oleh Tuhan atau alam. Sebenarnya kalau dipraktekkan hal ini tidaklah terlalu sulit. Misalnya; di rumah kita tempatkan tempat sembahyang untuk Tuhan, anak-anak yang merupakan titipan Tuhan diajarkan untuk berbhakti, makanan kita persembahkan dulu kepada Tuhan sebelum dimakan kita korbankan sedikit waktu untuk membaca buku pengetahuan rohani dsb. Sebenarnya sedikitpun Tuhan tidak mengambil hasil pekerjaan kita, Beliau hanya menyucikan pekerjaan kita melalui pengabdian yang dilakukan dengan tulus hati. Akhirnya kita juga yang memperoleh manfaatnya, rumah disucikan, anak-anak jadi berbhakti dan berpengertian, dengan makan makanan yang dipersembahkan kepada Tuhan terlebih dahulu seseorang akan dibebaskan dari   segala   reaksi dosa. Tetapi   ini memang memerlukan bimbingan baik teori maupun praktek, tetapi kalau anda serius tidak sulit untuk menemukan tergantung kesungguhan anda. Dalam kitab suci dinyatakan apabila  seseorang ingin mengerti  tentang Tuhan,  Beliau akan mengirim penyembah kepadanya  kemudian  penyembah itu akan membimbingnya hingga bisa kembali kepada Tuhan. Kembali pada sebagian ayat BhagavadGita tadi, secara umum orang menterjemahkan lakukanlah tugas kewajibanmu tanpa mengharapkan imbalan”. Dengan  arti seperti ini rasanya tidak akan ada orang yang mempraktekkan, kalaupun  dipraktekkan  be­lum  ada  yang mengarah  kepada Tuhan.   Paling hanya menguntungkan  perusahaan  tempat  dia  bekerja yang belum tentu penyembah Tuhan.   Tetapi oleh karena keyakinannya terhadap BhagavadGita yang pada dasarnya pasti adalah kebenaran orang meyakini begitu saja walaupun tidak mungkin untuk mempraktekkan. Sedangkan  kalau  ini dipraktekkan menurut maksud yang sebenarnya  itu adalah merupakan  kewajiban  yang kekal dan dilakukan secara  riang  (susukham  kartum avyayam) Orang  yang   belum pernah mempraktekkan pengabdian suci (Kesadaran Krsna) mungkin membayangkan pengabdian suci seperti orang yang tidak pernah mengenal sedikitpun tentang buah durian membayangkan, bagaimana  orang makan durian “apakah tidak hancur mulutnya, duri-duri  begitu tajam mau dimakannya? Begitu juga praktek bhakti dari luar kelihatan du­ri-duri kesulitannya banyak rintangan, banyak rintangan, banyak cobaan dan gangguan tetapi     rasanya ada di dalam, yang tidak bisa dirasakan oleh orang yang tidak ikut mencicipi.   Tanpa ada rasa saya pikir tak seorangpun mau menekuni pekerjaannya. Rasa bhakti  adalah  rasa  yang  sejati. Lautan manisnya rasa bhakti (bhakti-rasamrta-sindhu) adalah rasa dalam pengabdian suci kepada Krsna.

Demikianlah sedikit mengenai sistem keagamaan yang sejati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s