Kalisantarana Upanisad

Kata “Upanisad” berarti pengetahuan yang disampaikan oleh seorang Guru, yang telah menguasai pengetahuan dari kitab-kitab Veda, kepada muridnya, yang duduk di dekatnya. Kitab-kitab Veda menyediakan dua jenis pengetahuan atau vidya yakni para-vidya dan apara-vidya. Apara-vidya terairi atas pengetahuan-pengetahuan yang mengantarkan ke-makmuran material, sementara para-vidya mengantarkan seseorang mencapai kebahagiaan spiritual/ moksa. Para-vidya terairi atas pengetahuan tentang Tuhan dan cara untuk mencapai kepada-Nya. Tentu saja, para-vidya lebih tinggi daripada apara-vidya. Bagian para-vidya dari kitab-kitab Veda ini teraapat di dalam jantung dari Veda, yakni kitab-kitab Upanisad.

Upanisad dikenal pula sebagai Vedanta atau kesimpulan dari kitab-kitab Veda. Kalisantarana Upanisad yang meru-pakan bagian dari Krishna Yajur Veda mengajarkan kepada kita untuk melakukan japa (pengucapan berulang-ulang) nama-nama Hari, Krishna dan Rama. Kalisantarana Upanisad menyatakan bahwa mantra ini adalah cara yang paling efisien dan praktis untuk mengatasi pengaruh buruk Kali-yuga. Mantra ini dapat diucapkan tanpa batasan dan ketentuan, baik seseorang berada dalam keadaan bersih, atau suci, ataupun tidak.

“Buah matang dari pohon kesusastraan Veda”, yakni Srimad-Bhagavatam (Bhagavata Purana) menganjurkan pengucapan nama-nama suci Krishna, dan dengan demikian mengumandangkan ajaran Upanisad:

 

kaler dosa-nidhe rajann

asti hy eko mahan gunah

kirtanad eva krsnasya

mukta-sangah param vrajet

Wahai Raja, walaupun kehidupan pada Kali-yuga ibarat lautan yang penuh dengan dosa, masih terkandung satu sifat baik di dalamnya yaitu: Cukup dengan mengucapkan maha-mantra Hare Krsna, seseorang dapat melepaskan dirinya dari jebakan ikatan material yang menyengsarakan dan naik ke tingkatan kehidupan spiritual. (Srimad-Bhagavatam 12.3.51)

 

krte yad dhyayato visnum

tretayam yajato makhaih

dvapare paricaryayam

kalau tad dhari-kirtanat

Hasil apa pun yang dicapai pada Satya-yuga melalui meditasi kepada Visnu, pada Treta-yuga dengan cara melaksanakan korban-korban suci, dan pada Dvapara-yuga dengan cara melayani kaki-padma Tuhan, dapat dicapai pada Kali-yuga hanya dengan mengucapkan maha-mantra Hare Krsna. (Srimad-Bhagavatam 12.3.52)

– Penerbit

Kalisantarana Upanisad

 

kalisantarana upanisad

yadahivyanama smaratam samsaro gospadayate

sva navyabhaktir bhavati tadramapadam dsraye

Inilah Kalisantarana Upanisad, amanat spiritual yang berkaitan erat dengan Nama Suci Tuhan, dan Nama Suci Tuhan itu sendiri dipermaklumkan sebagai yang dapat membangkitkan sembilan cara bhakti guna menyeberangi lautan kesengsaraan kelahiran dan kematian, mencapai pembebasan di tempat yang memberikan segala per-linaungan dan sumber segala sesuatu bersandar.

om sa ha navavaty iti santih

hari om

dvaparante narado brahmanam jagama katham

bhagavan gam paryatan-kalim santareyam iti

sa hovaca brahma

sadhu prsto asmi sarvasrutirahasyam gopyam

tacchrunu yena kalisamsaram tarisyasi bhagavata

adipurusasya narayanasya namoccaranamatrena nirahrta

kalir-bhavati

naradah punah papraccha tannama kim iti sahovaca hiranyagarbhah

hare krsna hare krsna, krsna krsna hare hare

 hare rama hare rama, rama rama hare hare

 

iti sodasakam namnam

kalikalmasanasanam

natah parataropayah

sarvavedesu drsyate

iti sodasakaldvrtasya jivasyavarana-vinasanam

tatah prakasate param brahma meghapaye ravirasmi-mandaliveti

punamaradah papraccha bhagavan ko asya vidhir iti

tam hovaca nasya vidhir iti

sarvada sucirasucir va pathan brahmanah salokatam

samipatam sarupatam sayujyatam eti

yadasya sodasikasya sarahatrikotir japati tada

brahmahatyam tarati tarati virahatyam

svama steyatputo bhavati

pitraeva-manusyanamapakarat puto bhavati

sarvadharma-parityaga-papat-sadyah sucitam danuyat

sadyo mucyate sadyo mucyate ityupanisat

harih om tat sat

om sa ha navavatviti santih iti sri-kali-santaranopanisat samapta

 

Atas karunia Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, semoga di sembilan penjuru mata-angin senantiasa damai adanya. Segala pujian kepada Sri Hari, Tuhan Yang Maha Esa.

Tersebutlah pada akhir zaman Dvapara, Maharesi Narada datang menghadap Dewa Brahma setelah bertualang ke seluruh dunia, lalu bertanya,

“Wahai guru hamba yang mulia, bagaimanakah caranya agar seseorang dapat melepaskan diri dari pengaruh buruk zaman Kali?”

Dewa Brahma menjawab:

“Pertanyaanmu sangatlah balk. Aku akan mengungkap kepadamu rahasia yang paling rahasia dari seluruh ^ruti Sastra (Ag Veda, Yajur Veda, Sama Veda, Atharva Veda, dsb.), dengan mana seseorang akan dapat menyeberangi kesengsaraan kelahiran dan kematian yang terjadi berulang-ulang pada zaman Kali. Rahasia ini harus dijaga dan dilindungi.

Cukup dengan mengucapkan Nama-Nama Suci Personalitas Tuhan Yang Maha Esa Yang Awal, Narayana, seseorang terbebas dari cengkeraman zaman Kali.”

Maharesi Narada kembali bertanya sebagai berikut: “Nama suci manakah yang Anda maksudkan?”

Selanjutnya Dewa Brahma menjawab: enam belas kata maha-mantra Hare Krsna—Hare Krsna, Hare Krsna, Krsna Krsna, Hare Hare, Hare Rama Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare—secara khusus dimaksudkan untuk menghancurkan pengaruh-pengaruh buruk zaman Kali. Untuk menyelamatkan diri seseorang dari pencemaran Kali-yuga, sama sekali tidak ada cara lain yang lebih efektif dari-pada mengucapkan maha-mantra Hare Krsna. Setelah mencari ke seluruh literatur Veda, seseorang tidak akan menemukan metode keagamaan untuk zaman ini yang lebih mulia daripada pengucapan maha-mantra Hare Krsna.

Mantra ini menghancurkan enam belas kala pada sang jiva, yang diawali dengan prana, yakni penutup berupa kebodohan. Dengan demikian Tuhan Yang Mahakuasa termanifestasi di hadapan sang jiva, sebagaimana halnya sinar matahari bersinar cemerlang setelah hilangnya awan-penutup.

Maharesi Narada kemudian bertanya: “Wahai guru hamba yang mulia, adakah aturan yang diperlukan dalam mengucapkan maha-mantra ini?”

Dewa Brahma menjawab: “Sama sekali tidak ada aturan yang mempersulit seseorang dalam mengucapkan keenam belas Nama Suci Personalitas Tuhan Yang Maha Esa ini.

Kapan dan di mana pun—setiap saat—apakah seseorang dalam keadaan suci atau tidak suci, ia dapat mengucapkannya. Dengan mengucapkan maha-mantra ini maka seseorang akan mencapai keadaan terbebas dari kelahiran dan kematian, yakni moksa yang disebut salokya: tinggal dalam satu planet bersama Tuhan Yang Maha Esa, samepya: tinggal sebagai sahabat karib Tuhan Yang Maha Esa, sarupya: memperoleh bentuk serupa dengan Tuhan Yang Maha Esa, sayujya: menyatu dengan brahmajyoti—cahaya Tuhan Yang Maha Esa.

Jika seseorang mengucapkan mantra yang berupa enam belas Nama Suci Tuhan ini, sampai sejumlah tiga setengah koti (35.000.000), maka dosa-dosa yang diampuni akan setara dengan jika seseorang melakukan kegiatan yang me-nyebabkan terbunuhnya seorang brahmana, perwira, atau jika ia mencuri emas, termasuk dosa-dosa karena lalai atau menghina/ berbuat salah terhadap para leluhur, para dewa, bahkan kepada Tuhan, serta kesalahan terhadap sesama manusia atau yang lainnya. Dosa-dosa akibat meninggalkan segala macam dharma atau kewajiban-kewajiban suci yang telah digariskan juga akan segera terhapuskan.

Demikianlah Upanisad suci ini. Segala pujian kepada Sri Hari, Sang Kebenaran Mutlak. Atas segala karunia-Nya semoga sembilan penjuru mata-angin damai adanya.

Demikianlah berakhir Upanisad suci penghancur pengaruh buruk zaman Kali.

Kali-yuga dan Solusinya

Untuk mengerti dengan lebih jelas mengenai Kalisantarana Upanisad, kita dapat melihat uraian kitab suci tentang keadaan pada zaman Kali, bagaimana para resi berusaha mencari solusi dari seluruh kesusastraan Veda, dan bagai­mana nama suci Krsna merupakan solusi utama. Berikut beberapa kutipan dari Srimad-Bhagavatam (Bhagavata Purana) mengenai hal tersebut, disertai dengan penjelasan oleh Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada:

Srimad-Bhagavatam 1.1.10

prayenalpayusah sabhya

kalav asmin yuge janah mandah sumanda-matayo

manda-bhagya hy upadrutah

Wahai resi yang berpengetahuan tinggi, pada zaman Kali yang keras ini, usia hidup manusia sangatlah pendek. Mereka suka bertengkar, malas, tersesat, bernasib sial, dan di atas semua itu, mereka selalu resah.

PENJELASAN: Para penyembah Tuhan senantiasa berusaha untuk meningkatkan kecemasan spiritual orang banyak. Ketika para resi di Naimisaranya menganalisis kondisi orang-orang zaman Kali ini, mereka meramalkan bahwa usia harapan hidup manusia akan pendek. Penyebab utama usia pendek pada Kali-yuga bukanlah karena kekurangan pangan, melainkan karena mengikuti pola hidup yang tidak benar. Dengan membiasakan diri mematuhi pola hidup yang mengikuti aturan seperti makan tidak ber-lebihan, ataupun kurang dan sebagainya, maka kesehatan badan dan kecemasan spiritual terjaga dengan baik. Makan secara berlebihan, mengumbar nafsu badani, hidup di bawah tekanan karena bergantung pada belas kasih orang lain, serta mengikuti standar hidup yang bersifat artifisial (dibuat-buat) menyerap habis energi potensial manusia, yang menyebabkan usia harapan untuk hidup menjadi pendek.

Juga, orang-orang zaman ini cenderung bermalas-malasan, bukan hanya secara material, tetapi dalam soal keinsafan spiritual juga. Kehidupan manusia khususnya dimaksudkan untuk keinsafan spiritual. Ini berarti manusia harus menaapatkan pengetahuan menyangkut siapa diri-nya, apa dunia ini, dan apa itu kebenaran tertinggi. Bentuk kehidupan manusia merupakan sarana yang memungkinkan entitas hidup (para jiva) mengakhiri segala jenis kesengsaraan berupa perjuangan keras untuk bertahan hidup dalam keberadaan material dan yang memungkinkan untuk kembali kepada Tuhan, rumah abadinya. Tetapi, akibat sistem pendidikan yang kurang baik, orang tidak berkeinginan untuk menemukan jati diri spiritualnya. Kalaupun mereka sampai mengenal usaha pencarian keinsafan spiritual, malangnya mereka menjadi korban guru-guru sesat.

 

Pada zaman ini, orang-orang tidak hanya menjadi korban berbagai aliran dan partai politik, namun juga menjadi korban berbagai jenis kepuasan badani yang menyedot perhatian, misalnya sinema, game, perjudian, klab malam, perpustakaan sekuler, pergaulan buruk, rokok, minuman keras, penipuan, pencurian, pertengkaran, dsb. Pikiran mereka selalu resah dan penuh kecemasan akibat begitu banyak kesibukan. Pada zaman ini, banyak orang tak ber-prinsip yang telah menciptakan keyakinan-keyakinan keagamaan sendiri yang tidak didasari oleh Kitab Suci yang diwahyukan mana pun. Sering terjadi bahwa orang-orang yang kekacauan kepuasan badani tertarik dengan lembaga-lembaga semacam itu. Sebagai akibatnya, dengan cara mengatasnamakan agama atau spiritual orang-orang malah berburu kepuasan inaera yang menghasilkan banyak per-buatan berdosa sehingga bukan kedamaian pikiran dan kebahagiaan spiritual yang dicapai melainkan penaeritaan. Komunitas-komunitas siswa (brahmacari) tidak lagi dipertahankan, dan orang yang berumah tangga tidak mengikuti aturan dan peraturan grastha-asrama. Sebagai akibatnya, orang yang namanya saja vanaprastha dan sannyasi yang berasal dari grastha-asrama yang demikian mudah sekali menyimpang dari jalan yang tegas. Pada zaman Kali, seluruh atmosfer dipenuhi oleh ketidakberimanan. Orang tidak lagi tertarik kepada nilai-nilai rohani. Kini kepuasan indera merupakan standar peradaban. Untuk memelihara peradaban-peradaban materialistik seperti itu, manusia telah membentuk bangsa-bangsa dan masyarakat yang rumit, dan antar berbagai kelompok tersebut selalu terjadi ketegangan baik perang kontak-senjata maupun perang dingin. Oleh karena itu, sudah menjadi sangat sulit untuk meningkatkan standar spiritual akibat terjadinya penyimpangan nilai-nilai masyarakat manusia saat ini. Para resi Naimisaranya sangat prihatin dan ingin membebaskan semua roh (jiva) yang jatuh sehingga bebas dari keterikatannya, dan di sini mereka sedang mencari solusi dari Srila Suta Gosvami.

 

Srimad-Bhagavatam 1.1.11

bhūrīṇi bhūrikarmāṇi   śrotavyāni vibhāgaśaḥ

ataḥ sādhotra yat sāraḿ  samuddhṛtya manīṣayā

brūhi bhadrāya bhūtānāḿ  yenātmā suprasīdati

Ada berbagai jenis kitab suci, dan di dalamnya ditetapkan banyak tugas kewajiban, yang hanya bisa dimengerti setelah berbagai bagiannya dipelajari selama bertahun-tahun. Oh resi, karena itu, pilihlah hakikat semua kitab suci tersebut dan jelaskanlah demi kesejahteraan semua makhluk hidup, bahwa berkat ajaran tersebut, hati mereka dapat dipuaskan sepenuhnya.

PENJELASAN: Atma, atau sang diri/ roh, dibedakan dari zat (materi) dan unsur-unsur material. Kedudukan dasar atma bersifat spiritual, dan karena itu, ia tidak bisa di­puaskan oleh perencanaan yang bersifat material sebanyak apa pun. Semua kitab suci dan ajaran spiritual dimaksudkan untuk kepuasan sang diri atau atma tersebut. Ada banyak jenis pendekatan yang dianjurkan untuk berbagai jenis manusia pada berbagai masa dan di berbagai tempat. Se-bagai konsekuensinya, ada banyak sekali kitab suci yang diwahyukan. Ada berbagai metode dan tugas kewajiban yang dianjurkan di dalam kitab-kitab suci tersebut. Setelah menimbang keadaan jatuh orang kebanyakan pada zaman Kali ini, resi-resi di Naimisaranya menyarankan agar Sri Suta Gosvami menyampaikan hakikat semua kitab suci tersebut, sebab pada zaman ini tidak mungkin roh-roh yang jatuh dapat memahami dan menjalankan semua ajaran berbagai kitab suci itu dalam sebuah sistem vama dan asrama.

Masyarakat vama dan asrama  dianggap sebagai lembaga terbaik untuk mengangkat harkat manusia sampai pada tataran spiritual. Namun akibat Kali-yuga, orang-orang tidak mungkin bisa melaksanakan peraturan dan ketetapan lembaga-lembaga tersebut. Dan juga, orang pada umumnya tidak akan mungkin dapat memutuskan hubungan keluarga sepenuhnya sebagaimana yang ditetapkan oleh lembaga varnasrama. Seluruh suasana penuh rintangan. Menim­bang hal ini, kita dapat melihat bahwa moksa (keadaan terbebas dari belenggu material) sangatlah sulit untuk dicapai oleh orang awam pada zaman ini. Alasan mengapa para resi mengemukakan hal ini kepada Sri Suta Gosvami dijelaskan dalam sloka-sloka berikut.

Srimad-Bhagavatam 1.1.14

āpannaḥ saḿsṛtiḿ ghorāḿ  yannāma vivaśo gṛṇan

tataḥ sadyo vimucyeta   yad bibheti svayaḿ bhayam

Makhluk hidup yang terjerat dalam jaring kelahiran dan kematian yang rumit langsung dapat dibebaskan bahkan hanya dengan mengucapkan nama suci Krsna secara tidak sadar sekalipun, yang mana kepribadian rasa takut pun takut kepada nama suci Krsna.

PENJELASAN: Vasudeva, atau Sri Krsna, Personalitas Tuhan Yang Mahamutlak adalah pengendali tertinggi segala sesuatu. Tiada seorang pun dalam ciptaan yang tidak takut terhadap kemarahan Yang Mahakuasa. Asura-asura besar seperti Ravana, Hiranyakasipu, Kamsa, dan lainnya, yang merupakan insan-insan yang sangat perkasa, semua-nya dikalahkan oleh Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Vasudeva Yang Mahakuasa telah menguasakan nama-Nya dengan kekuatan Diri pribadi-Nya. Segala sesuatu terkait dengan-Nya, dan memiliki identitas di dalam diri-Nya. Di-nyatakan di sini bahwa personifikasi (kepribadian) rasa takut pun takut kepada nama suci Krsna. Ini menunjukkan bahwa nama Krsna tidak berbeda dengan Krsna Sendiri. Karena itu, nama Krsna sama perkasanya dengan Sri Krsna Sendiri. Tidak ada perbedaan sama sekali. Karena itu, siapa pun dapat memetik manfaat dari nama-nama suci Sri Krsna, bahkan di tengah-tengah ancaman bahaya yang paling besar sekalipun. Walau nama rohani Krsna diucapkan secara tidak sadar atau karena dorongan keadaan tertentu, nama suci tersebut menyelamatkan seseorang dari penderitaan karena kelahiran dan kematian.

 

Apakah Urutan Maha-mantra di dalam Kalisantarana Upanisad Telah Diubah?

Orang yang mengajukan pertanyaan seperti ini telah men-dapatkan informasi yang salah sehingga kemudian mereka sampai pada kesalahpahaman bahwa maha-mantra pada mulanya dimulai dengan Hare Rama dan kemudian ada yang mengubahnya sehingga menjadi dimulai dengan Hare Krishna. Ini bukanlah kebenaran.

Ada yang mengatakan bahwa Sri Caitanya Mahaprabhu mengubah urutannya disebabkan oleh adanya keberatan dari pihak para smarta-brahmana, bahwa urutan dimana Hare Krishna yang lebih dahulu hanyalah untuk para brahmana. Namun kebenaran dari hal ini belum terbukti.

Mereka yang menyatakan seperti itu kadangkala mengutip edisi Kali-santarana Upanisad yang diterbitkan oleh Venkatesh Press, Mumbai, yang menyatakan bahwa maha-mantra dimulai dengan Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare, kemudian diikuti dengan Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare.

Akan tetapi, Kalisantarana Upanisad terbitan-terbitan sebelumnya menyatakan dengan jelas bahwa maha-mantra dimulai dengan Hare Krishna, bukan dengan Hare Rama. Terbitan-terbitan sebelumnya ini masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di Kalkuta dan jaipura, India. Terdapat pula banyak naskah Veda absah yang menyajikan maha-mantra dimulai dengan Hare Krishna. Berikut beberapa di antaranya:

 

 

Ananta-Samhita:

hare krishna hare krishna krishna krishna hare hare

hare rama hare rama rama rama hare hare

soda-saitani namani dvatrinsad vama kani hi

kalau yuge maha-mantrah sammato jiva tarane

“Hare krishna hare krishna krishna krishna hare hare

hare rama hare rama rama rama hare hare.

Hari-nama maha-mantra ini terdiri atas enambelas nama dan tigapuluh dua suku kata. Pada Kali-yuga mantra ini dapat menyelamatkan semua jiva.”

Di dalam kitab Brahma Yamala,

Dewa Siva menyatakan:

harim bina nasti kincat papani-starakam kalau

tasmal-lokod-dharana-artham hari-nama prakasayet

sarvatra mucyate loko maha-papat kalau yuge

hare-krsna-pada-dvanavam krsneti ca pada-dvayam

tatha hare-pada-dvanavam hare-rama iti dvayam

tad-ante ca maha-devi rama rama dvayam vadet

hare hare tato bruyad harinama samud dharet

maha-mantram ca krsnasya sarvapapa pranasakamiti

“Wahai Mahadevi! Lihatlah! Pada Kali-yuga tidak ada cara yang lebih mudah untuk menghapuskan dosa daripada Sri hari-nama. Karena itu, sangatlah penting untuk menyebar-luaskan sri hari-nama di kalangan masyarakat kebanyakan. Orang-orang pada Kali-yuga dapat dibebaskan dari neraka yang paling mengerikan dengan sangat mudah dengan cara melakukan sankirtana maha-mantra ini. Untuk mengucap-kan maha-mantra, pertama ucapkan hare krishna duakali, kemudian ucapkan krishna duakali, kemudian hare duakali. Setelah itu, ucapkan hare rama duakali, kemudian rama duakali dan kembali hare duakali. Orang hendaknya menyanyikan, mengucapkan, dan melakukan sankirtana maha-mantra Sri Krishna ini, yang menghancurkan segala dosa.”

 

Hare Krishna, Hare Krishna Krishna Krishna, Hare Hare

Hare Rama, Hare Rama Rama Rama, Hare Hare

Apa itu mantra? Dalam Bahasa Sanskerta, man berarti “pikiran” dan tra berarti “membebaskan”. Jadi sebuah man­tra adalah kombinasi suara rohani yang mampu mem­bebaskan pikiran dari kecemasan hidup di dunia fana ini.

Ada banyak mantra yang bisa ditemukan dalam Kitab Suci Veda yang sangat luas itu. Misalnya Mantra Gayatri, yang sudah sangat dikenal masyarakat. Akan tetapi, Sastra Veda yang sama menyebutkan satu mantra sebagai maha-mantra (mantra tertinggi). Kitab Kalisantarana Upanisad (bagian dari Yajur Veda), sloka 5, menjelaskan, “Enambelas kata ini—Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare—secara khusus diperuntukkan guna menangkal pengaruh buruk zaman pertengkaran dan kecemasan ini (zaman Kali atau Kali-yuga).”

Kitab Narada-pancaratra menambahkan, “Semua man­tra dan proses keinsafan jati diri telah terkanaung di dalam maha-mantra Hare Krishna.”

Kata Krishna berarti “yang maha-memikat”, kata Rama berarti “yang maha-membahagiakan”, dan kata Hare adalah panggilan kepada energi bhakti Tuhan. Jadi maha-mantra berarti, “Oh Tuhan yang maha-memikat dan maha-mem­bahagiakan, mohon menyibukkan hamba dalam bhakti kepada-Mu.”

Ucapkanlah maha-mantra Hare Krishna senantiasa maka hidup Anda akan cemerlang!

Disusun oleb Tim Hanuman Sakti

Penerbit: Hanuman Sakti, anggota IKAPI.

Cetakan Pertama: 2010 – 3.000 exp.

Cetakan Kedua: 2012 – 3.000 exp.

Bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut dapat menghubungi: Hanuman Sakti

Telp. 021 – 75873676, 0361 – 9162233

E-mail: hanumansakti@pamho.net

 

Informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Dewan Pengurus Pusat (DPP)

Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia

ISKCON For Indonesia

Sekretariat: Jln. Tukad Balian No.l08 x, Denpasar-Bali

Telp. (0361) 7424193, Hp. 08123953107, 081338179456

e-mail: sakkhi@yahoo.com, gitasakkhi@gmail.com,

website: http://iskcon.or.id/ (alamat temple lengkap), https://www.facebook.com/groups/sakkhi/

  1. Sri-Sri Jagannatha-Gaurangga Ashram, Jln. Tukad Balian, No. 108x, (1 km sebelah selatan STIKES BALI) Sidakarya. Telp: (0361) 7424193, 08123881076.
  2. Sri-Sri Radha-Rasesvara Ashram, Jln. Tanah Suci, Br. Blumbungan, Sibang Cede, Abiansemal, Badung. Telp: 08113805979.
  3. Sri-Sri Nitai-Gaurangga Ashram, Banjar Sayan, Baleran, Desa Werai Buana, Mengwi. Telp: 081244835790.
  4. Sri-Sri Radha-Madhava Ashram, Jalan Raya Siangan, Br. Loka Sraria, Bitera, Gianyar. Telp: 085333591729.
  5. Sri-Sri Radha-Kunjavihari Ashram, Banjar Celuk, Desa Paksebali, depan lapangan tembak, Klungkung. Telp. 08123656901.
Iklan

4 pemikiran pada “Kalisantarana Upanisad

  1. apakah diperkenankan mengamalkan hari krisna bagi agama yang berbeda?.sy ingin mengamalkan mantra tsb,dan ingin belajar lbh bnyak tentang veda,upanishad.akn tetapi sy cari di toko2 buku,di mall2,tdk kutemui kitab2 tsb.kami tinggal di pemalang,jawa tengah.tlg info ke hp 087711942840.mtrnuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s