Dewa Shiva dan Uma Memuja Markandeya Reshi Skanda 12

 Setelah menyaksikan kemewahan pertunjukan potensi yang membingungkan itu, Markandeya Rishi berlindung kepada Tuhan Yang Mahaesa, sambil berkata, “aku berlindung ke tumit kaki padma Mu, yang menghadiahkan rasa tidak takut. Bahkan para dewa besar pun bingung oleh energi khayalan-Mu, yang muncul kepada mereka dalam samaran pengetahuan.” Pada saat ini, Dewa Shiva sedang berkeliling di langit dengan mengendarai sapi jantan, ditemani oleh permaisuri dan teman-temannya. Ketika melihat Markandeya Rishi khusuk bersamadhi, Dewi Uma berkata, “Suamiku, lihatlah betapa brahmana terpelajar ini sama sekali tidak bergerak dalam samadi. Karena engkau adalah pemberi kesempurnaan kepada mereka yang melakukan pertapaan, berikanlah resi ini karunia sepantasnya.” Dewa Shiva menjawab, “Pasti brahmana ini tidak menginginkan karunia apapun, bahkan pembebasan, karena dia telah menyapai cinta-bhakti murni kepada Tuhan Yang Mahaesa. Namun, baiklah bicara saja kepadanya, karena bergaul dengan para penyembah adalah perolehan hidup terbesar.” Setelah itu, ketika Dewa Shiva dan istrinya muncul di depannya, Markandeya tidak memerhatikanya, karena dia khusuk bermeditasi sehingga pikiran materialnya berhenti bekerja. Dewa Shiva tahu sekali bahwa Markandeya tidak mengenal dirinya, juga tidak memperhatikan lingkungannya. Begitulah, dia memanfaatkan kekuatan mistiknya masuk ke langit hati Markandeya, seperti udara mudah sekali lewat. Markandeya melihat Dewa Shiva tiba-tiba muncul di hatinya. Rambutnya yang keemasan menyala, bermata tiga dengan tangan sepuluh. Badannya tinggi cemerlang seperti matahari terbit dan pakaiannya kulit harimau. Dia membawa tombak, busur, panah, pedang, perisai,biji japa, kendang damaru, tengkorak dan kapak. Karena heran, Markandeya keluar dari samadi dan bertanya, “Siapa ini? Darimanakah dia datang?” Setelah membuka mata, Markandeya melihat dewa Rudra, bersama Uma dan para pengikutnya. Lalu dia bersujud dengan menundukkan kepalanya. Sang resi menyambut dengan ucapan selamat datang, menyuguhkan tempat duduk, menyuci kakinya, menyuguhkan air minum harum, karangan bunga, lampu dan doa-doa. Karena sangat puas, Dewa Shiva tersenyum dan berkata, “Silahkan minta karunia, karena diantara pemberi karunia, kami bertiga : Brahma, Vishnu, dan akulah yang terbaik. Melihat kami tidak pernah sia-sia karena hanya dengan melihat kami, yang sementara menjadi abadi. Dari semua arca penguasa planet, bersama dengan Dewa Brahama, Hari, Tuhan Yang Mahaesa dan aku, mengagungkan, memuji dan membantu para brahmana suci yang selalu damai, bebas dari ikatan material, mengasihi semua, murni mengabdi kepada kami, tanpa benci, berpandangan seimbang. Para penyembah seperti itu tidak membedakan dirinya dnegan makhluk lain, apalagi dengan Tuhan Vishnu, Brahma dan diriku.” “Dengan mandi di tempat suci dan memuji para dewa di tempat sembahyang, jivatma terbelenggu disucikan hanya setelah beberapa waktu. Tetapi, hanya dnegan melihatmu, seseorang segera disucikan. Memang, bahkan orang yang paling berdosa pun dan orang tak berkasta pun disucikan hanya dengan mendengar tentang mereka seperti engkau. Bayangkalah, alangkah sucinya mereka hanya dnegan berbicara denganmu.” Dengan mendengar kata-kata Dewa Shiva yang seperti amrita, keletihan Markandeya Reshi, akibat terombang-ambing dalam lautan pelebaran, reda. Lalu dia berkata, “sangat sulit bagi orang yang berbadan manusia untuk memahami perjalanan para penguasa alam semesta, karena mereka kadang bersujud dan memuji makhluk hidup yang mereka perintah. Biasanya, hanya untuk mau menerima prinsip agama yang memperlihatkan perilaku ideal oleh para guru sahih, smabil memuji perilaku orang lain yang pantas. Yang tampak rendah hati ini adalah pertunjukan karunia yang besar”. “O tuan yang meresap dimana-mana, karena aku telah menerima karunia dengan melihatmu, karunia apalagi yang aku minta? Hanya dengan melihatmu, keinginan seseorang akan terpenuhi dan dia bisa menyapai apapun yang dapat dibayangkan. Tetap saja, aku minta sebuah karunia, biarlah aku sukses memuja Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Mahaesa dan para penyembah-Nya, terutama engkau. Setelah didorong oleh istrinya, Dewa Shiva menjawab, “O Resi agung, karena engkau berbhakti kepada Tuhan Adhoksaja, semua keinginanmu akan terpenuhi. Sampai di akhir penyiptaan, engkau akan menikmati keharuman saleh dan bebas dari usia tua dan kematian. O Brahmana, semoga engkau memiliki pengetahuan sempurna tentang masa lalu, masa kini dan masa depan bersama dengan penghayatan yang tertinggi. Karena engkau telah menjadi brahmana ideal yang cemerlang, semoga engkau menyapai kedudukan guru spirituilnya Purana.” Lalu Dewa Shiva pergi. Dan sambil berjalan, dia terus menguraikan kebesaran resi yang telah mengalami pertunjukan langsung potensi khayalan Tuhan, kepada istrinya. Bahkan hari ini, Markandeya Reshi, yang terbaik dari keturunan Bhrigu, berkelana di bumi ini, sepenuhnya terserap dalam cinta bhakti kepada Tuhan Yang Mahaesa. Laporan ini berisi potensi spiritual dari Tuhan Yang Mahaesa dan siapapun yang dengan benar menyampaikan atau mendengarnya akan hidup di dunia spiritual.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s