Pavitraropani Ekadasi / Putrada Ekadasi

18  PUTRADA EKADASI

Maharaja Yudhisthira berkata; “O Madhusudana, pembunuh raksasa Madhu berkarunialah kepada hamba dan uraikanlah Ekadasi yang terjadi menjelang purnama pada bulan Sravana (Juli-Agustus).” Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna menjawab, “Baiklah O raja, dengan senang hati Aku akan ceritakan hal itu kepadamu, dengan hanya mendengar saja tentang Ekadasi yang bertuah ini seseorang mencapai hasil dalam melaksanakan korban kuda.

“Pada permulaan zaman Dvapara-yuga hiduplah seorang raja yang bernama Mahijita, yang memerintah kerajaan Mahaismati-puri. Karena beliau tak berputra, seluruh kerajaan itu sama seakan tak membahagiakan baginya. Seorang pria yang sudah menikah tapi tidak mempunyai putra tak akan mendapatkan kebahagiaan di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.1 Sudan cukup lama sang raja berusaha keras untuk memperoleh ahli waris, tetapi sia-sia. Dengan mengetahui umurnya makin lama makin bertambah. Suatu hari dia berkata pada penasehatnya dalam suatu sidang, “Dalam hidup ini saya tidak pernah melakukan dosa, dan kekayaan yang saya miliki semuanya halal. Saya tak pernah merampas persembahan untuk para dewa atau para brahmana, Sewaktu saya berperang dan menaklukkan kerajaan-kerajaan, saya mengikuti aturan dan peraturan perang, dan saya melindungi rakyat saya bagaikan anak sendiri. Saya menghukum siapa saja yang bersalah walaupun keluarga saya sendiri dan saya menghormati musuh saya bilamana mereka benar dan bersifat ksatriya. O para brahmana, walaupun saya seorang yang saleh dan mengikuti peraturan-peraturan Veda, tetapi masih saja saya tidak mendapatkan putra. Mohon jelaskan mengapa hal ini bisa demikian.

“Mendengar hal ini, brahmanabrahmana penasihat raja tersebut berdiskusi di antara mereka, dan demi untuk kepentingan sang raja mereka mengunjungi asrama-asrama para resi yang agung. Akhirnya mereka datang pada seorang resi yang telah melaksanakan pertapaan, murni dan puas akan sang diri, dan secara ketat melaksanakan puasa. Indera-inderanya terkendali dengan sepenuhnya, kemarahannya telah ditaklukkan dan beliau tetap melaksanakan tugas kewajibannya dengan cakap. Sesungguhnya sang resi tersebut sangat ahli dalam hal Veda, dan resi itu bisa memperpanjang umurnya atas berkah dari Dewa Brahma sendiri, nama beliau adalah Resi Lomasa, dan dia mengetahui masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Setiap kalpa berlalu, satu rambut lepas dari badannya.2 Semua penasihat-penasihat raja sangat bahagia mendekati beliau dan menyampaikan salam hormatnya.

“Karena pengaruh dari resi yang agung tersebut, penasihat-penasihat raja Mahijita menyampaikan sembah sujud kehadapan beliau dan berkata dengan hormat. Hanya karena nasib baiklah sehingga kami bisa berjumpa dengan anda, O resi.

“Resi   Lomasa   melihat   mereka   bersujud   di   hadapannya dan menjawab, ‘Ceritakanlah padaku mengapa anda datang kemari. Mengapa anda memuji saya? Saya akan berbuat apa saja untuk bisa membantu memecahkan permasalahan anda, bagi resi seperti saya hanya mempunyai satu kewajiban yaitu, membantu orang lain. Jangan ragukan hal ini.3

“Wakil dari raja tersebut berkata, kami datang kepada anda, O resi yang agung untuk memohon bantuan anda dalam memecahkan masalah yang menimpa kami. O resi anda bagaikan Dewa Brahma. Sesungguhnya tidak ada resi yang lebih mulia dari anda di seluruh alam semesta ini. Raja kami Mahijita tidak memiliki putra, beliau menghidupi dan melindungi kami sebagaimana anak-anaknya sendiri, melihat beliau tidak bahagia, karena tidak memiliki putra kami pun merasa ikut bersedih. O resi, oleh karena itu’ kami datang masuk ke dalam hutan untuk melaksanakan pertapaan. Oleh karena nasib baik kami sehingga dapat bertemu dengan anda. Keinginan dan kegiatan setiap orang akan menjadi sukses hanya dengan melaksanakan darshana dengan anda. Jadi kami dengan hormat memohon kepada anda untuk memberitahukan kami caranya agar raja kami bisa memperoleh seorang putra.

“Mendengar permohonan tersebut, Resi Lomasa bermeditasi sesaat dan kemudian dia mengerti akan kelahiran sebelumnya dan raja tersebut. Kemudian beliau berkata: Raja mu pada kehidupan yang sebelumnya adalah pedagang, karena dia merasa kekayaannya tidak cukup sehingga dia melaksanakan perbuatan berdosa. Dia berkelana dari desa ke desa untuk menjajakan barang dagangannya. Suatu hari, di siang hari pada Dvadasi yang terjadi menjelang bulan Mestha, dia merasa kehausan waktu berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia mendatangi kolam yang indah di pinggir desa, tapi begitu dia akan minum pada kolam tersebut, datang pula seekor sapi beserta anaknya ke tempat itu. Dua makhluk tersebut juga merasa sangat haus karena hari yang panas. Tetapi ketika sapi dan anaknya man minum, pedagang tersebut dengan kasar mendorongnya ke samping, dan pedagang tersebut meminum untuk menghilangkan dahaganya dan memuaskan rasa hausnya. Penghinaan terhadap sapi dan anak sapi ini menyebabkan raja anda sekarang tidak memiliki putra. Tetapi karena perbuatan-perbuatannya yang saleh pada kehidupannya yang lain menyebabkan dia yang memerintah pada kerajaan anda tanpa gangguan.

“Mendengar hal ini penasihat raja berkata: O Resi yang agung kami telah mendengar bahwa Veda mengatakan seseorang dapat menghancurkan dosa-dosanya yang lalu dengan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik. Tolonglah beritahukan kepada kami sehingga dosa-dosa dari raja kami dapat dihancurkan, berikanlah raja kami karunia anda sehingga seorang putra mahkota bisa lahir pada keluarga raja.

“Resi Lomasa berkata: ada suatu hari Ekadasi yang bernama Putrada, yang datang pada hari menjelang purnama pada bulan Sravana. Pada hari ini anda semua termasuk juga rajamu hendaknya berpuasa dan terjaga pada malam harinya dengan taat mengikuti aturan dan peraturan-peraturan. Kemudian anda bisa memberikan kepada raja hasil yang anda peroleh dari puasa tersebut. Bila anda mengikuti perintah-perintah yang saya anjurkan dia pasti akan memperoleh putra yang baik.

“Semua penasihat-penasihat raja menjadi sangat bahagia mendengar kata-kata dari Resi Lomasa dan mereka menyampaikan sembah sujud kepada beliau dengan suka cita, mereka kembali ke kerajaan mereka.

“Sewaktu bulan Sravana tiba, penasihat-penasihat raja ingat akan nasehat resi Lomasa dan di bawah pengawasan mereka semua rakyat Mahismati-puri, serta sang raja berpuasa pada hari Ekadasi ini. Dan keesokan harinya pada Dvadasi, kewajiban dari penduduk mempersembahkan hasilnya pada sang raja. Dengan kekuatan semua hasil puasa tersebut permaisuri raja menjadi hamil dan lahirlah seorang putra yang sangat tampan.

“O Yudhisthira, Tuhan Sri Krishna menyimpulkan, Ekadasi yang jatuh menjelang bulan purnama pada bulan sravana dikenal dengan nama Putrada (yang mengkaruniai putra). Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia ini dan di dunia yang lain hendaknya berpuasa dari biji-bijian dan kacang-kacangan pada hari yang suci ini. Sesungguhnya siapapun yang mendengar keagungan dari Putrada Ekadasi ini sepenuhnya akan bebas dari segala dosa dikaruniai seorang putra yang baik dan mencapai surga setelah mati.”

Dengan demikian berakhirlah uraian tentang keagungan dan Sravana Ekadasi (Putrada Ekadasi), dari Bhavisya-uttara Purana.

 

Catatan

  1. Kata Sansekerta untuk “putra” adalah putra. Pu adalah nama dari suatu planet neraka, dan tra berarti “membebaskan.” demikianlah kata putra berarti “seorang yang membebaskan seorang dari neraka bernama Pu.” Karena itu setiap orang yang menikah sebaiknya melahirkan paling sedikit satu putra dan melatihnya dengan semestinya; kemudian ayah akan dibebaskan dari suatu keadaan hidup neraka. Tapi petunjuk ini tidak berlaku serius untuk penyembah Tuhan Sri Visnu atau Krishna, baginya Tuhan menjadi putra mereka, ayah dan ibu mereka.

Selanjutnya, Canakya Pandita berkata,

satyam mata pita jnanam  dharmo bhrata daya sakha

santih patni ksama putrah  sadete mama vandhavah

“Kebenaran adalah Ibuku, pengetahuan adalah ayahku, tugas kewajiban yang ditetapkan adalah saudaraku, kebaikan hati adalah temanku, kedamaian adalah istriku, dan jiwa pemaaf adalah puteraku. Ini adalah enam anggota keluargaku.” Diantara dua puluh enam sifat yang utama dari seorang penyembah Tuhan, jiwa memaafkan adalah yang utama. Karena itu penyembah sebaiknya membuat suatu usaha yang ekstra untuk mengembangkan  sifat ini. Disini Canakya berkata “jiwa memaafkan adalah putraku,” dan demikianlah seorang penyembah Tuhan, bahkan terlebih dahulu dia mungkin pada jalan pelepasan ikatan, mungkin melaksanakan Putrada Ekadasi dan berdoa untuk mencapai jenis “putra.”

  1. Satu kalpa, atau dua belas jam dari Dewa Brahma, sama dengan 4.320.000.000 tahun.
  2. Resi Lomasa memiliki seluruh sifat yang baik karena beliau adalah seorang penyembah Tuhan. Seperti dinyatakan dalam SrimadBhagavatam (5.18.12).

yasyasti bhaktir bhagavaty akincana  sarvair gunais tatra samasate surah

harav abhaktasya kuto mahad-guna  manorathenasati dhavato bahih

“Dalam ketabahan yang dimiliki seseorang dalam pelayanan cinta-bhakti kepada Krishna, seluruh sifat yang baik dari Krishna dan para dewa secara pasti termanifestasikan. Bagaimanapun, dia yang tidak memiliki bhakti kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa tidak memiliki kualifikasi yang baik karena dia sibuk dengan spekulasi mental dalam keberadaan dunia material, yang merupakan wujud eksternal Tuhan.

Iklan

Satu pemikiran pada “Pavitraropani Ekadasi / Putrada Ekadasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s