Markandeya Rishi melihat Potensi Khayalan Tuhan

Bhagavata Purana Skanda 12

Melihat bahwa Suta Gosvami akan mengakhiri pembicaraannya, Shaunaka bertanya, “Kita telah mendengar bahwa Markandeya Rishi satu-satunya orang yang masih hidup di akhir hari Brahma. Namun, Markandeya Rishi ini muncul di dalam keluargaku, selama hari Brahma yang sekarang ini. Juga diketahui bahwa pada saat terlunta-lunta tak berdaya di lautan pelebaran, Markandeya melihat bayi Krishna berbaring pada selembar daun beringin.”

“O Suta, aku sangat bingung dan ingin tahu tentang resi besar ini. Karena itu, mohon cerahkan aku.”

Lalu Suta Gosvami menyampaikan sejarah Markandeya Reshi sebagai berikut: Setelah disucikan oleh kinerja ayahnya dari berbagai Samskara dalam masa kanak-kanaknya, berpuncak pada inisiasi brahmana, Markandeya dengan hati-hati mempelajari Veda, sambil tetap berpantang seks. Dia hidup sangat damai, rambutnya bergelung dan berpakaian kulit kayu. Dia membawa apot air peminta-minta, memakai tali suci, bersabuk brahmana, kulit rusa hitam, membawa japa dari biji bunga padma dan membawa bendel rumput kusa.

Pagi dan sore, dia keluar untuk meminta-minta, dan setelah kembali, dia serahkan semua makanan yang dia kumpulkan untuk gurunya. Kemudian, diamakan satu kali sehari, atas perintah guru nya. Selebihnya, dia berpuasa. Demikianlah, Markandeya Rishi memuji Tuhan Yang Mahaesa jutaan tahun, dan menguasai kematian yang tak dapat ditaklukkan.

Dewa Brahma, Shiva, Bhrigu Muni dan tak terhitung lainnya di antara para dewa, manusia dan para hantu, semuanya heran melihat hasil yang dicapai oleh Markandeya. Dengan mempertahankan pantang seks selamanya, dengan pikiran bebas dari segala gangguan, sang resi mengarahkan perhatiannya ke dalam dan merenungkan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Mahaesa, yang berbaring di luar indria material. Sambil Markandeya Rishi memusatkan pikirannya seperti itu, periode enam kali kehidupan Manu telah berlalu. Lalu, dalam jaman ini, pemerintahan Manu yang ketujuh, Indra datang untuk mengetahui tentang pertapaannya. Karana sangat takut akan kekuatan Markandeya yang selalu bertambah, raja suga itu berupaya untuk merusak pertapaan sang resi.

Indra mengirim Kamadeva (dewa asmara) bersama dengan Gandharva dan apsara untuk menyanyi dan menari. Menemani mereka adalah musim semi,. Bersama dengan angin berbau harum cendana dari Bukit  Malaya, juga kepribadian rakus dan mabuk. Menuju ashrama markandeya, yang terletak di sebelah utara Himalaya, dialiri oleh Sungai Pushpabhadra, angin musim semi masuk pertama, membawa bintik-bintik air sejuk dari air terjun di dekatnya.

Banyak brahmana suci tinggal disana, dantar asemak pohon suci dan sejumlah kolam keramat. Udaranya selalu penuh dengan gema dengungan lebah mabuk sari bunga dan kicauan terkukur dan merak-merak yang hgembira ria menari-nari di mana-mana. Begitu angin semilir yang memuat harumnya bunga-bunga hutan memasuki ashrama, seperti membangkitkan semangat nafsu dewa asmara. Disusul oleh musim semi, menyebabkan semua pohon dan tanaman penuh dengan tunas baru dan bunga-bunga. Memang, langit sore yang cemerlang dengan sinar rembulan yang baru terbit, memantapkan wajah musim semi.

Dewa asmara, penguasa perempuan surga lalu ke sana, diikuti oleh para Gandharva yang menyanyi dan bermain alat musik. Par apelayanan Indra ini melihat Markandeya duduk bermeditasi, setelah engakhiri suguhan persembahan ke api Yadnya. Mata sang resi tertutup kerasukan dan dia tampak tak tergoyahkan.

Para apsara menari didekatnya dan kepribadian loba (anak dari nafsu) dan yang lainnya berusaha menggoda pikiran sang resi. Saat itu Dewa Asmara memasang lima panah pada tali busurnya. Peunjikasthali, seorang apsara bermakin-main dengan bola mainannya, dan sambil berbuat demikian, pinggangnya tampak tegar menyangga dadanya yang tumbuh subur. Begitu berlari-lari kecil sambil melirik kanan dan kiri,  rambutnya pun mekar dan sabuknya lepas dan tiba-tiba angin bertiup menerbangkan pakaiannya. Pda saat itu, Dewa Asmara melepaskan panahnya, karena yakin sang resi bisa ditaklukkan. Namun , sebenarnya, semua upaya itu gagal total, seperti upaya keras orang ateis.

Sementara dewa asmara dan yang lainnya berusaha mengganggu Markandeya, namun mereka merasa seolah badanya terbakar hidup-hidup oleh kekuatan sang resi. Karena itu, mereka segera menghentikan kekeliruannya, seperti anak kecil yang tak menyadari membangunkan ular tidur. Ketika Indra tahu bahwa Markandeya sedikitpun tak tegoda oleh pengaruh ego palsu, Indra sangat heran. Bahwa Dewa Kama dan pengikutnya tanpa daya di hadapan sang resi memang tidak mengherankan, karena jivatma besar seperti itu sabar sama sekali.

Tuhan Yang Mahaesa,dalam bentuk-Nya sebagai Nara-Narayana Reshi lalu muncul di depan Markandeya yang suci, ingin memberikan karunia, yang satu warna kulitnya putih dan yang satu lagi kehitaman, keduanya bertangan empat. Mereka berpakaian kulit rusa, dan kulit kayu dan memakai tali suci tiga untai. Mereka membawa kendi air, tongkat bambu, japa biji padma dan bendel rumput darbha. Perawakannya tinggi dan bersinar cemerlang. Muncul sebagai Kepribadian Pertapaan, Mereka dipuji oleh para dewa utama. Setelah melihat Mereka hadir di depannya, Markandeya Reshi segera berdiri dan besujud penuh hormat dengan merebahkan diri lurus di tanah.

Bahagia melihat Nara-Narayana Reshi sepenuhnya memusakan pikiran dan indira Markandeya, bulu romanya meremang tanpa henti sedangkan matanya berlinang-linang basah. Karena di banjiri keadaan seperti itu, sang resi sulit melihat Mereka. Sambil berdiri dengan sikap tangan tertangkap dan kepala merunduk penuh kerendahan hati, Markandeya merasa seoralh telah memeluk kedua Tuhan itu. Dengan suara tersendat karena bahagia, berulang-ulang Markandeya berkata, “Aku bersujud penuh hormat.”

Kemudian, Markandeya menyilakan Mereka duduk dan menyuci kaki padma –Nya. Lalu, Markandeya memuji Nara-Narayanan Reshi dengan suguhan arghya, pasta cendana, minyak wangi, dupa dan karangan bunga. Markandeya pun bersujud sekali lagi di kaki padma Nara-Narayanan Reshi, yang duduk santai, siap memberikan segala karunia kepada Markandeya.

Shri Markandeya berkata, “O Tuhan Yang Mahakuasa, Engkau membangunkan pernapasan, yang kemudian mendorong pikiran, indera dan kekuatan kata-kata untuk berindak. Brahma dan shiva pun membenarkan hal ini, apalagi kami. Betapapun juga, engkau berteman akrab dengan mereka yang memuji-Mu.”

“Tuhanku, Engkau muncul dalam dua bentuk ini demi manfaat tertinggi bagi selueruh tiga dunia. Walaupun Engkau menyiptakan alam kosmos ini, lalu mengambil banyak bentuk spiritual untuk melindunginya, Engkau juga menelannya kembali, seperti laba-laba menarik sarangnya. Karena Engkau adalah pengendali tetinggi, siapapun yang berlindung ke kaki padma-Mu tidak pernah disentuh oleh kontaminasi kehidupan material. Inilah sebabnya, para resi besar yang telah memahami arti Veda memanjatkan doa-doanya kepada-Mu”.

“Tuhanku, aku juga memuji-Mu setelah meninggalkan pennyamaan diriku dengan badan material dan segala hal lainnya yang menutupi diri sejati. (Orang yang secara palsu menyamakan dirinya dengan badan material atau pikiran material otomatis merasa berhak untuk memeras dunia material). Aku bersujud penuh hormat kepada Tuhan Narayana, Arca pujaan tertinggi, yang muncul sebagai resi dan kepada Nara yang suci, manusia terbaik.”

Karena puas atas puja dan puji dari sang resi, TUhanNarayana berkata, “Markandeya sayangku, engkau memang terbaik dari semua brahmana terpelajar. Kami sangat puas atas tapa pantang seksmu yang berlangsung seumur hidup. Sekarang, silahkan pilih karunia apa yang kamu inginkan.”

Markandeya berkata, “O Tuhannya Tuhan, segala keagungan untukmu! Engkau menghilangkan semua kesedihan par apenyembah yang berserah diri kepada-Mu. Bahw aEngkau telah mengijinkan aku melihat-Mu, itulah karunia yang aku inginkan. Dewa Brahma telah menyampaikan posisi muliannya hanya dengan melihat kaki padma-Mu, di dalam pikirannya yang telah disucikan. Tentu saja keberuntungan bagiku, karena Engkau Sendiri seutuhnya muncul di hadapanku.”

“tetap saja, O Tuhan yang bermata padma, aku ingin melihat potensi khayalan-Mu, dengan mana bahkan para dew apenguasa pun menganggap pewrwujudan material ini sebagai kenyataan.”

Karena puas dengan Markandeya, Tuhan Yang Mahaesa, sambil tersenyum menjawab, “Jadilah.” Dan kemudian berangkat menuju pashraman – Nya di Badarikashrama. Tuhan tersenyum sedih, karena Dia lebih senang kalau para penyembah murni-Nya jauh dari energi khayalan.

Sambil selalu memikirkan keinginannya untuk melihat energi khayalan Tuhan, Markandeya terus berada diashramanya, selalu bermeditasi kepada Tuhan dan memuji – Nya dengan sara yang tersimpan dalam pikirannya. Kadang, Markandeya lupa melakukan pemujaan rutinya, tetapi, betapapun juiga dia dibanjiri oleh rasa cinta kepada Tuhan.

Lalu, suatu sore, begitu Markandeya melakukan pemujaannya, di tepi Sungai Pushpabhadra, tiba-tiba berembuslah angin kencang, membuat suara mengerikan. Awan yang menakutkan, ditemani kilat dan Guntur, yang memenuhi langit dan kemudian turunlah hujan lebat. Keempat samudera muncul pad asegala sisi, menutupi seluruh permukaan bumi. Di dalam angin, hgempuran ombak adalah raksasa lautan yang mengerikan, juga pusaran air raksas dan suara gaduh yang tidak menyenangkan.

Markandeya luar biasa takutnya dan kebingungan, begitu dia melihat semua penghuni alam semesta tersiksa. Memang, begitu dia melihat, air yang ikocok menjadi ombak mengerikan oleh dahsyatnya tiupan angin, menutup seluruh permukaan bumi, termasuk gunung – gunung. Setelah membanjiri bumi, air terus pasang menyapu habis seluruh ruang sampai seluruh alam semesta kebanjiran.

Dari semua penghuni alam semesta, hanya Markandeya tinggal sendirian. Gelung rambutnya lepas, sang resi hanyt mengambang di lautan, seperti buta dan bisu. Disiksa oleh haus dan lapar, di serang oleh raksasa-raksa air, seperti Timinggila dan dipukul oleh angin dan ombak ganas, Markandeya berkelanan tanpa tujuan melalui gelap gulita tiada tara dan tanpa batas, tempatnya terjatuh. Kemudian, begitu semakin payah, Markandeya kehilangan segala kesadaran tentang arah, sehingga dia tidak tahu yang mana langit dan yang mana tanah.

Kadang, Markandeya terseret ke putaran air besar, kadang, dia dihantam ombak besar sekali, dan di saat lainnya, binatang air yang sangat besar siap menelannya, seiolah mereka berkelahi sesamanya. Ganti-berganti sang resi mengeluh, kebingungan, senang, takut dan menderita, dan kadang dia merasa begitu sakit seolah akan mati. Dalam keadaan demikian, jutaan-juta tahun berlalu, pikiran Markandeya dibingungkan oleh energi khayalan Tuhan Visnu.

Lalu suatu saat, Markandeya terdampar di sebuah pulau kecil. Disana tumbuh sebatang beringin muda, yang berbunga dan berbuah. Pada sebuah cabang di timur laut pohon beringin itu, dia melihat seorang bayi laki-laki berbaring pada sehelai daun beringin. Sinarnya menerangi tempat sekitarnya. Warna bayi itu biru gelap, wajah-Nya bersinar dan sangat tampan. Dada Nya lebar, leher Nya bergaris – garis seperti kerang. Telinga dan lipatan-Nya seperti spiral kerang. Sudut mata-Nya kemerahan dan sianr bibir-Nya agak kemerahan memerindah senyuman wajah-Nya. Begitu bernafas, rambut indah-Nya bergetar dan pusar-Nya yang dalam berubah bentuk akibat gerakan lipatan kulit peru-Nya.

Kemudian, begitu markandeya melihat, anak itu memegang satu kaki padma-Nya dan menaruh salah satu jari kaki-Nya ke mulut-Nya, lalu diisap-Nya. ( Tuhan berpikir, “Para penyembah selalu mengharapkan amrita dari kaki padma Ku. Sekarang, biarlah Aku sendiri merasakan amrita itu’.)

Begitu Markandeya terus memandangi anak itu, seluruh rasa takutnya lenyap. Memang, begitu besar kenikmatanya sehingga hati padmanya seperti mekar dan bulu badannya meremang tanpa henti. Ingin tahu tentang identitas bayi itu, Markandeya mendekati-Nya. Pada saat itu juga, anak itu menarik napas dan sang resi masuk ke badan-Nya seperti nyamuk.

Di dalam, Markandeya melihat seluruh alam semesta seperti apa adanya sebelum pelebaran, penuh dengan segala penghuninya. Dia melihat unsur dasar penyiptaan, bersama dengan hasil sampingannya, termasuk waktu itu sendiri. Semua terwujud nyata dan markandeya sangat bingung dan kagum. Di depannya dilihatnya Gunung Himalaya, Sungai Pushpabhadra dan ashramanya sendiri.

Kemudian, tiba-tiba, anak itu menghembuskan napas, melempar kembali Markandeya ke lautan pelebaran. Di lautan luas itu, lagi dia melihat pohon beringin yang tumbuh di pulau kecil dan anak kecil yang berbaring di atas selembar daun beringin. Lalu anak itu melirik ke Markandeya, denahgn sudut mata-Nya, dengan senyum karunia dengan cinta amrita. Dengan mengambil Tuhan ke dalam hatinya melalui matanya, resi yang sangat bergolak itu berlari untuk memeluk-Nya. Tetapi, saat itu juga, anak itu lenyap, seperti hasil orang yang tak berhak tiba-tiba lenyap. Pada saat itu, pohon beringin dan air pelebaran juga lenyap, dan secepat itu pula, Markandeya menemukan dirinya di ashramanya, seperti sebelumnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s