Maharaja Parikshit Mangkat

Maharaja Parikshit Mangkat ( Srimad Bhagavatam Skanda 12)

Maharaja Parikshit sangat rendah hati maju dan bersujud penuh hormat di kaki Shukadeva Gosvami. Kemudian, sambil mencangkupkan kedua telapak tangannya dalam sikap memohon, sang raja berkata, “Tuanku, atas kebaikanmu, tujuan hidupku terpenuhi. Aku tidak takut kepada Takshaka, atau makhluk lainnya, bahkan aku tidak takut akan kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Aku telah sepenuhnya terserap dalam kebenaran Mutlak dan hal ini telah menghancurkan segala ketakutanku.”

“Sekarang, dengan hormat ijinkanlah aku menyerap semua indriaku pada Tuhan Adhoksaja, juga pikiranku, yang sekarang disucikan dari semua keinginan bernafsu. Atas karuniamu, kebodohanku telah dilenyapkan dan begitulah sekarang, ijinkanlah daku meninggalkan hiodupku.”

Karena dimohon seperti itu, Shukadeva Goswami mengijinkannya. Kemudian, setelah diopuja oleh sang raja dan semua resi yang hadir, Shukadeva Goswami berangkat. Maharaja Parikshit pergi dan duduk di tepi sungai Gangga, menghadap ke utara, dengan alas rumput darbha, yang ujungnya menghadap ke timur. Sambiul merenungkan kebenaran Mutlak Tertinggi dalam penghayatan diri penuh, napas Raja berhenti bergerak, dan dia pun tenang seperti pohon di tempa yang tanpa angin berhembus.

Begitu Takshaka maju ke arah Maharaja Parikshit, dengan niat untuk membunuhnya, sang naga melihat Kashyapa Muni di jalan. Sebenarnya, Kashyapa adalah ahli besar dalam menangkal racun, dan sang muni dalam perjalanan untuk melindungi Maharaja Parikhit. Tetapi, karena disuap  dengan suguhan barang-barang mahal dan banyak, Takshaka tak mampu  membujuk sang resi. Takshaka, si ular terbang, yang mampu berubah bentuk sekehendak hati, lalu menyamar menjadi brahmana, datang ke Maharaja Parikshit dan mematuknya.

Disaksikan oleh semua makhluk di seluruh dunia, tubuh sang raja saleh segera terbakar menjadi abu, akibat racun ganas Takshaka. Terdengarlah jerit tangis hebat, di sorga dan di bumi, gendering sorga berbunyi, sementara para Gandharva dan para Apsara menyanyi dan menari. Begitu mereka menghujankan bunga, para dewa memanjatkan puja-puji karena mereka tahu ada jivatma agung kembali pulang, kembali kepada Tuhan.

Ketika mendengar betapa ayahnya secara fatal dipatuk ular terbang, sang anak yakni Maharaja Janamejaya marah. Lalu dia menugaskan beberapa brahmana melakukan Yadnya perkasa agar semua ular di dunia disuguhkan ke api Yadnya. Ketika melihat ular-ular yang paling perkasa pun mati terbakar, Takshaka ketakutan dan menghadap Indra mohon perlindungan.

Karena gagal menyaksikan kematian Takshaka, Maharaja Janamejaya berkata, “O para brahmana, mengapa Takshaka tidak terbakar dalam api Yadnya?”

Para brahmana menjawab, “O Raja, Takshaka tidak jatuh ke api Yadnya karena dilindungi oleh Indra. Dengan kekuatannya, Takshaka tidak jatuh ke api Yadnya.”

Raja Janamejaya berkata, “Para brahmana yang mulai mengapa Takshaka tidak jatuh ke api Yadnya bersama pelindungnya yakni Indra?”

Setelah mendengarkan jawaban sang raja, para brahmana mengucapkan mantra untuk menyuguhkan Takshaka, bersama Indra dan para dewa lainnya sebagai suguhan kepada api Yadnya. Ketika Indra bersama Takshaka dalam pesawat udaranya tiba-tiba turun dari posisinya, Indra sangat terganggu.

Melihat hal ini, Brihaspati, putra ANggira Muni pergi mengadap Raja Janamejaya, katanya, “O raja, adalah tidak pantas pemimpin ular ini mati di tanganmu, karena sebelumnya, Takshaka meminum amrtita kekebalan. Inilah sebabnya, dia kebal akan ciri-ciri biasa berupa tua dan kematian. Hidup, mati dan tujuan masa depan seseorang ditentukan karma pamrihnya sendiri. Karena hal ini, tak seorang pun bertanggung jawab atas suka-dukanya orang  lain. Kalau seorang mati digigit ular, penyuri, api, kelaparan, penyakit atau apapun yang lain, dia mengalami hal itu karena reaksi dari kerja berpamrihnya sendiri. Karena itu, rajaku sayang, hentikanlah Yadnya ini yang dimulai dengan maksud menyakiti orang lain. Banyak ular yang tak bersalah telah terbakar dan mati.”

Tentu saja, bahkan apa yang disebut ular-ular yang tidak bersalah itu benar-benar menderita karena kegiatan berdosa di masa lalu. Tetapi, maharaja Parikshit tidak menderita sebagai akibat dari karmanya terdahulu, adalah Tuhan Sri Krishna sendiri, yang mengatur bagi sang raja untuk pulang kembali kepada Tuhan.

Dinasehati seperti itu, Maharaja Janamejaya berkata, “Semoga demikian: dan setelah menghentikan upacara itu, dia sangat hormat memuji Brihaspati.

Potensi khayalan Tuhan Visnu bekerja tak terpikirkan dan tidak dapat dihentikan. Walalupun jivatma individual adalah bagiantunggal dari Tuhan Yang Mahaesa, karena menyamakan diri dengan badan mereka pun dibingungkan oleh  maya. Bahkan sosok sekelas Raja Janamejaya pun bisa sesat, sementara waktu. Tetapi karena dia penyembah agung, Tuhan cepat meralat kesalahannya.

Selanjutnya, Shaunaka Reshi ingin mendengar bagaimana Paila dan para murid Shrila Vyasadeva telah menyusun Veda, dan bergitulah Suta Gosvami mendiskusikan pokok bahasan ini.  Di awal penyiptaan, getaran halus dari suara spiritual itu terwujud di hati Dewa Brahma. Getaran halus ini bisa dialami kalau seseorang menghentikan segala pendengaran luar kita dihentikan. Diri memuji bentuk halus dari Veda, para resi besar pun hatinya ikut dibersihkan dari segala cemaran. Omkara, yang terdiri atas tiga suara, muncul dari getaran halus ini, dan getaran itu mempunyai potensi halus yang dengan sendirinya terwujud di dalam hati yang disucikan. Omkara adalah perwakilan dari kebenaran Mutlak dalam tiga aspek: Kepribadian Yang Tertingi, Paramatma dan Brahman yang tanpa bentuk. Suara omkara spiritual berasal dari jivatma, kemudian berwujud di langitnya hati dan didengar oleh Paramatma, yang bertelinga spiritual. Dari Omkara, berkembanglah seluruh peringakt pengetahuan Veda.

Omkara mewujudkan tiga suara asli dari abjad : A, U dan M, dan dari sini, Dewa Brahma menyiptakan semua suara lainnya. Kemudian, dengan memanfaatkan suara ini, Dewa Brahma mengeluarkan empat Veda dari keempat mulutnya. Lalu dia mengajarkan Veda itu kepada anak-anaknya, dan selanjutnya anak-anaknya meneruskan pengajarannya kepada anak-anaknya juga. Dengan cara demikian, Veda telah turun dalam garis perguruan. Di akhir setiap Dvapara-yuga, selanjutnya Veda dibagi oleh para resi besar yang mendapat ilham dari Tuhan Yang Mahaesa dari dalam hatinya.

Di jaman Vaisvata Manu sekarang ini, atas permintaan dari para direktur semesta dipimpin oleh Brahma dan Shiva, Tuhan  Yang Mahaesa memperlihatkan sepercik dari sebagain atas porsi penuhNya untuk muncul sebagai putra Parashara dan Satyavati. Dalam bentuk ini, yang dikenal sebagai Krishna Dvaipayana Vyasa, dia membagi empat Veda itu. Allu Shrila Vyasadeva mengajarkan Rig Veda kepada Paila, Yajur Veda kepada Vaishampayana, Sama Veda kepada Jaimini dan Atarva Veda kepada Sumantu. Keempat murid dari Veda Vyasa ini selanjutnya membagi Veda dan mengajarkannya kepada murid-murid mereka. Dengan cara seperti itu, pengetahuan Veda berjalan pada garis perguruan.

Pada suatu saat, murid-murid Vaishampayana bersumpah ketat, sehingga mereka bisa membebaskan gurunya dari dosa membunuh seorang brahmana. Salah seorang dari muridnya ini, Yadnyavalkya, lalu berkata, “Guru spiritualku yang mulia, apa manfaat yang akan engkau peroleh dari usaha kecil para muridmu yang lemah ini? Aku sendiri akan melaksanakan beberapa penebusan dosa istimewa untukmu.”

Mendengarkan hal ini, Vaishampayana sangat marah dan berteriak, “Pergi dari sini, Cukup kamu saja yang menghina brahmana. Sekarang, kembalikan segala hal yang telah aku ajarkan kepadamu!”

Sebagai balaran, Yajnavalkya memuntahkan mantra Yajur Veda lalu pergi dari sana. Para muridnya tampak sangat loba akan mantra-mantra tersebut dan mengubah bentuk menjadi ayam hutan dan memakan mantra-mantra itu. (Brahaman tidak pantas menyentuh watah).

Setelah itu, Yajnavalkya ingin nemeukan beberapa mantra Yajur yang tidak dikenal, bahkan oleh guru spirituilnya. Dengan maksud itu, dia memuji dewa matahari dengan sangat penuh perhatian. Yajnavalkya memanjatkan doa-doa indah kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yangmahaesa, yang  pengembangan kuatnya adalah arca matahari.  Karena puas akan puja-pujianya itu, dewa matahari mengambil bentuk kuda dan menyerahkan ratusan mantra yajur kepada Yajnavalkya yang belum dikenal dalam masyarakat manusia. Dari mantra ini yang keluar dari bulu tengkuk kuda, Yajnavalkya menyusun lima belas cabang sastra Veda baru, yang kemudian diterima oleh beberapa garis perguruan. Simpulannya, diuraikan tentang penyampaian catur Veda dalam sistem parampara, guru ke murid dan dari murid ke cucu murid.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s