Ekadasi hari Tuhan Sri Hari # 1

UTPANNA EKADASI

PENDAHULUAN

 

“Jika seseorang berpuasa pada hari Ekadasi, Aku akan membakar sampai hangus segala dosa-dosanya dan mengkaruniakan kepadanya sesuatu tempat di kediaman-Ku…………. Sebenarnya Ekadasi adalah hari yang sangat mulia dan memberi manfaat atau hikmah untuk melebur segala macam dosa apapun, dan hari Ekadasi itu muncul demi untuk memberikan keuntungan kepada setiap orang (Sri Krishna kepada Arjuna. Bab I)

 

Seperti yang disabdakan oleh Sri Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Kuasa, di dalam Bhagavad-gita (15.7), mahluk hidup itu yang selalu berjuang di dunia material ini adalah merupakan bunga api rohani bagian dari Diri Beliau Sendiri, sebagai roh utama yang utuh. Sebagaimana halnya fungsi dari bagian-bagian badan itu secara alamiah adalah untuk melayani keseluruhan badan itu, fungsi alamiah makhluk hidup untuk melayani Sri Krishna. Tetapi fungsinya mi telah ditutupi oleh kegelapan, sebab mahluk hidup ini bersentuhan dengan alam material. Yang seharusnya dia melayani Sri Krishna, malahan dia sendiri mengidentifikasikan dirinya dengan badan dan pikirannya dan mencoba menguasai segenap energi material dari Sri Krishna. Kecemaran yang diakibatkan ini dikenal sebagai ego palsu atau identifikasi yang palsu paisa terhadap materi. Hal inilah yang menyebabkan sumber dari penderitaan bagi atma. Tetapi sama halnya dengan air yang tercemar bisa disaring dan disuling dan dengan demikian air itu akan menjadi murni, seperti keadaannya semula, Begitulah mahluk hidup tersebut yang tercemar oleh ego palsu bisa disucikan dengan proses kerohanian kesadaran Krishna. Salah satu dari pada bagian yang penting dalam proses ini adalah melakukan puasa pada hari Ekadasi.

Ekadasi adalah hari pertapaan yang secara teratur dilakukan oleh mereka yang menganut Sanatana Dharma, atau kesadaran Krishna. Eka berarti “satu’ dan dasi adalah bentuk feminim dari kata dasa, yang berarti “sepuluh”. Dengan demikian Ekadasi berarti hari yang kesebelas yang mencakup baik menuju bulan mati maupun purnama dalam dua minggu pada tiap-tiap bulan. Pada hari-hari yang khusus ini para hari Ekadasi itu sehingga setiap orang bisa meningkatkan kerohaniaannya. Mereka yang berlindung menyerahkan diri kepada Sri Krishna, para bhakta Sri Krishna melakukan puasa ini untuk mendapatkan karunia dari Beliau. Mereka menjadi bebas dari cengkeraman maya, dan kembali pulang ke tempat tinggal Tuhan Yang Maha Esa untuk melayani Sri Krishna selamanya. Sebaliknya orang-orang yang bodoh, mengambil “manfaat dari kesempatan yang suci untuk meraih keuntungan material yang juga dianugerahkan oleh Sri Krishna. Tetapi bahkan orang materialistik pun secara tidak sengaja mendapatkan pembebasan dengan cara melakukan puasa Ekadasi secara berkesinambungan. Begitulah besarnya kekuatan hari Ekadasi.

Namun untuk mendapatkan manfaat puasa Ekadasi secara penuh maka para pelaku harus mengikuti syarat-syarat dan peraturan-peraturan yang ada pada buku ini. Jika segala persyaratan itu dilakukan dengan tepat maka melaksanakan puasa ini mengangkat roh-roh yang jatuh tempat asalnya, yang merupakan kedudukan dasar yaitu mengadakan pelayanan bhakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu Ekadasi disebut yang terbaik di antara segala situasi apapun. Setiap orang digugah perasaannya untuk menikmati buah yang  mengagumkan dari pelaksanaan puasa Ekadasi.

Pada hari puasa itu seorang hendaklah menghindari pekerjaan fisik yang melelahkan, jika mungkin, hanya melakukan aktivitas – aktivitas yang ada hubungannya dengan pelayanan bhakti terhadap Sri Krishna, Tuhan Yang Maha Esa. Sepucuk surat dari Srila Prabhupada kepada Yadurani-devi dasi, tertanggal 9 Juli 1971, mengukuhkan pernyataan ini. “Mengapa hanya 25 kali putaran berjapa?” “Beliau menulis” Kamu hendaklah berjapa sebanyak mungkin. Ekadasi yang sebenarnya berarti, berpuasa dan berjapa dan tidak melakukan pekerjaan lain. Apabila seseorang melaksanakan puasa, berjapa itu terasa jauh lebih mudah. Dengan demikian pada hari Ekadasi pekerjaan-pekerjaan lain dapat ditangguhkan sedemikian rupa, asalkan tidak ada pekerjaan yang sangat mendesak untuk dilakukan.

Pentingnya Ekadasi dijelaskan dalam Caitanya-caritamrta (Adi-lila, 15.9-10), dalam percakapan antara Sri Caitanya dengan ibu Beliau, Saci-devi: “Pada suatu hari Sri Caitanya Mahaprabhu bersimpuh di kaki ibu Beliau dan mohon kepadanya untuk memberikan Beliau sesuatu sebagai hadiah. Lalu ibuNya menjawab “Anakku sayang, aku akan memberikan kepadaMu apapun yang kamu minta. Lalu Beliau bersabda, “Ibu-Ku Sayang, mohon janganlah makan biji-bijian pada waktu hari Ekadasi”. Dalam penjelasan Srila Prabhupada menulis. “Dari sejak Beliau masih kanak-kanak, Sri Caitanya Mahaprabhu telah memperkenalkan sistem pelaksanaan puasa pada hari Ekadasi. Di dalam Bhakti Sandarbha, oleh Srila Jiva Gosvami, ada suatu kutipan dari Skanda Purana, yang intinya menyatakan bahwa seseorang yang makan biji-biji pada hari Ekadasi, menjadi pembunuh ibunya, ayahnya, saudaranya dan guru  kerohaniannya, dan bahkan jika seandainya dia bisa naik ke planet Vaikuntha dia akan jatuh. Pada hari Ekadasi segala sesuatunya dimasak untuk Sri Vishnu termasuk memasak nasi sehari-harinya dan dal, tetapi telah disepakati, bahwa seorang Vaisnava pun tidak makan Vishnu-prasadam, pada hari Ekadasi. Dinyatakan bahwa seorang Vaisnava tidak boleh menerima makanan apapun yang tidak dipersembahkan terlebih dahulu kepada Vishnu. Tetapi khusus pada hari Ekadasi seorang Vaisnava bahkan menyentuhpun tidak boleh Maha-prasadam yang telah dipersembahkan kepada Sri Vishnu, meskipun prasadam semacam itu bisa dimakan untuk keesokan harinya. Orang dilarang dengan keras sekali untuk menerima makanan apapun yang terbuat dari biji-bijian pada hari Ekadasi, walaupun dipersembahkan terlebih dahulu kepada Sri Vishnu.

Baik cara pengobatan Barat maupun Ayur-veda kedua-duanya menganjurkan berpuasa untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan. Sesungguhnya ahli biologi modern dan resi zaman dahulu sepakat mengatakan bahwa, berpuasa itu bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu wajarlah untuk dimengerti bahwa berpuasa pada EKADASI menghindarkan dan menyembuhkan banyak penyakit. Srila Prabhupada menyatakan di dalam Srimad-Bhagavatam (1.17.33 penjelasan).

Suatu negara yang menginginkan untuk memberantas korupsi yang merajalela bisa memperkenalkan prinsip-prinsip agama dengan cara sebagai berikut: 1. Wajibkanlah mereka puasa selama 2 hari dalam 1 bulan jika mungkin bisa lebih (untuk pertapaan). Dipandang dari sudut ekonomi 2 hari puasa dalam satu bulan seperti itu, Negara akan bisa menghemat berton-ton makanan dan sistem itu juga akan berakibat sangat menguntungkan bagi kesehatan para warga negaranya.”

Dalam buku ini para pembaca akan menemukan, bahwa beberapa orang yang melakukan puasa Ekadasi mendapat planet-planet surga. Tujuan ini janganlah disalah-mengertikan sebagai tujuan terpenting dari puasa Ekadasi. Banyak tokoh-tokoh disebut dalam buku ini melakukan puasa Ekadasi secara kebetulan, mereka dengan sendirinya tidak’ mengikutinya, syarat-syarat dan peraturan apapun dan malahan mereka benar-benar memang tidak tekun. Mereka tidak tahu, bahwa mereka sedang melakukan puasa Ekadasi, dan hati mereka masih dipenuhi oleh keinginan-keinginan material. Tetapi para bhakta kesadaran Krishna yang melakukannya tanpa motivasi keinginan material hanya melaksanakannya karena bhakti yang tiada taranya terhadap Tuhan. Dan yang selalu melaksanakan puasa Ekadasi berdasarkan pikiran atau tekad tersebut dengan sendirinya akan mencapai Goloka Vrindavana, tempat tinggal Sri Krishna, Tuhan Yang Maha Esa. Puasa Ekadasi benar-benar merupakan pertolongan yang besar bagi seseorang yang sedang merintis jalan kembali ke tempat tinggal Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bagaimana Caranya Melaksanakan Hari Ekadasi

 

Pada umumnya kata puasa berarti sepenuhnya tidak makan maupun minum, tetapi air acamana dan caranamrta boleh diminum hanya 3 tetes jika seseorang merasa tidak sanggup melaksanakan puasa seperti ini maka dia bisa makan makanan non grain (tanpa biji-bijian) hanya sekali di sore hari. Makanan seperti ini disebut nakta, atau makan malam yang terdiri dari umbi-umbian, seperti ketela pohon, keladi, kacang tanah (kacang tanah termasuk umbi-umbian), wortel, dan sebagainya, buah-buahan, air, makanan yang dibuat dari susu, gula, sayur-sayuran, kecuali jamur. Dia hendaklah berusaha untuk tidak makan dan minum lebih dari satu kali pada waktu hari Ekadasi. Sebagai yang disabdakan oleh Sri Krishna kepada Arjuna dalam bab I buku ini, hikmah secara utuh bisa didapat oleh seseorang yang melakukan puasa sepenuhnya pada hari puasa Ekadasi, sedangkan orang-orang yang makan atau minum hanya satu kali akan memperoleh setengah dari hikmah itu. Tentu saja bagi setiap bhakta dalam kesadaran Krishna, mengajarkan nama suci Tuhan adalah tugas yang paling penting, dan jika dengan berpuasa penuh itu mengganggu tugasnya, maka puasa itu bisa tidak dilaksanakan. Tetapi jika seorang bhakta dapat mengikuti peraturan-peraturan puasa penuh itu dan masih bisa melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya, sebaiknyalah dia melakukan puasa itu.

Dalam keadaan apapun seseorang harus dengan tegas menghindari makanan yang terdiri atas biji-bijian pada waktu hari Ekadasi. Seseorang seharusnya juga menghindari tidur di siang hari, tidak boleh berhubungan seks, tidak boleh makan sirih, tidak boleh menyentuh yang sedang menstruasi (datang bulan) tidak boleh menyentuh candala (pemakan daging anjing), tidak boleh menyentuh orang yang sedang mabuk, tidak boleh mencukur rambut, tidak boleh makan dengan alat-alat yang terbuat dari logam, jika seseorang terpaksa makan pada hari Ekadasi itu, dia juga harus menghindari makanan seperti berikut (di samping biji-bijian dan kacang-kacangan), bayam, madu, terong, makan dirumah orang lain, dan garam laut (jenis garam lain seperti garam yang berasal dari karang diizinkan). Hanya mereka yang sakit sajalah boleh minum obat-obatan pada hari yang suci ini.

Meskipun dewasa ini kalender Veda dimulai dengan bulan Caitra (Maret-April), zaman dahulu tahun baru itu mulai pada bulan Margasirsa, (Nopember-Desember). Ini adalah bulan yang sangat suci. Seperti yang disabdakan Sri Krishna di dalam Bhagavad-gita (10-35) masanam marga-sirso ham: “Di antara semua nama-nama bulan Aku adalah Margasirsa”. Jadi seseorang yang baru mulai melaksanakan puasa Ekadasi, biasanya mengawali pada bulan ini. Terdapat dua Ekadasi setiap bulan, menjelang bulan mati dan menjelang bulan purnama. Kedua-duanya memiliki kekuatan yang sama ampuhnya bagi perkembangan spiritual.

Untuk memulai puasa, seorang bhakta pertama-tama harus memiliki tekad yang kuat, agar tekun melaksanakan tekadnya itu. Kemudian dia hendaklah mencari seorang bhakta brahmana dari Tuhan Yang Maha Esa dan langsung belajar darinya tentang proses pelaksanaan puasa. Ekadasi yang suci ini. Jika dia tidak bisa melaksanakan puasa itu secara utuh, disebabkan oleh karena sakit atau umur tua dia harus mencari resi yang agung dan berdana punia kepadanya pada hari Ekadasi ini. Namun bagi seorang Vaisnava peraturan untuk memberikan dana punia pada hari Ekadasi itu berarti, bahwa pada hari tersebut dia harus membuat usaha ekstra untuk mengembangkan kesadaran Krishna, yang merupakan harta yang termahal. Inilah dana punia yang sebenarnya. Penerapan penting lainnya pada Ekadasi ialah mendengar dan membaca Ekadasi yang bersangkutan. Sri Krishna sendiri dengan tegas menganjurkan penerapan ini karena hal itu sangat menolong bagi seseorang untuk mendapatkan hasil atau pahala dari puasa tersebut.

Jika karena suatu hal seorang tidak disengaja lupa melaksanakan Ekadasi pada hari yang ditetapkan, dia bisa melakukan puasa keesokan harinya, Dvadasi, dan kemudian membuka puasanya pada Trayodasi, sehari setelah itu, seperti dinyatakan dalam kitab suci Veda,

 

ekadasi vipluta ced dvadasi paratah sthita

upasya dvadasim tatra  yadicched paramam padam

 

“Jika seseorang yang dengan bertekad bulat menginginkan untuk mencapai tempat tinggal Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna lupa melaksanakan Ekadasi, dia harus melaksanakannya pada hari Dvadasi sebab Ekadasi masih tetap berlaku bersambung ke hari berikutnya.

Selama Ekadasi yang jatuh menjelang bulan purnama, seorang bhakta hendaknya bermeditasi pada 12 nama suci Vishnu dengan berjapa mantra om kesavaya namah dan mantra yang lain yang biasa diucapkan oleh bhakta Tuhan secara sistematis pada waktu mereka memasang tilaka di beberapa bagian tubuhnya. Selama Ekadasi yang jatuh pada hari menjelang bulan mati. Bhakta hendaknya bermeditasi pada 16 nama Suci Vishnu dari kelipatan 4 ekspansi Beliau dan perbanyakan-perbanyakan Beliau yang lain. Seorang bhakta sebaiknya berjapa om sankarsanaya namah, om govindaya namah, dan sebagainya (Mohon lihat dalam Caitanya-caritamrta, Madhya-lila 20.195-97)

Selama setiap Ekadasi, seseorang hendaknya secara berkesinambungan bermeditasi kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, serta memuja segenap ekspansi-ekspansi Beliau. Dia boleh juga bermeditasi kepada 8 jenis wujud Arca Beliau. Di dalam Srimad-Bhagavatam (11.27.12) Sri Krishna bersabda kepada Uddhava.

 

saili daru-mayi lauhi lepya lekhya ca saikati

mano-mayi mani-mayi pratimasta-vidha smrta

 

“Delapan wujud Arca Tuhan Yang Maha Kuasa muncul sebagai batu, kayu, logam, lukisan, pasir, pikiran, dan batu-batu permata”

Jika Ekadasi secara perbintangan dikombinasikan dengan Dasami (hari yang ke-10) menjelang bulan mati atau purnama). Orang itu tidak diharuskan untuk puasa, tetapi jika hari dikombinasikan dengan Dvadasi hari ke-12 menjelang bulan mati atau purnama) hari itu disebut Ekadasi atau   Mahadvadasi dan kemudian pada hari itu hendaklah melaksanakan puasa penuh. Dalam peradaban   Veda,   Mahadvadasi ini masih   dikatakan Ekadasi. Setelah melaksanakan puasa dengan tekun pada hari Ekadasi, dengan mengikuti persyaratan dan peraturan, dia hendaklah membuka puasanya 2 jam sesudah matahari terbit pada hari Dvadasi.

Menurut kepustakaan suci, setiap orang yang berumur lebih dari lima tahun, hendaklah sudah melakukan puasa Ekadasi. Juga para acarya menganjurkan anggota dari catur warna di masyarakat, agar melaksanakan Ekadasi dengan tekun dan ketat untuk mencapai tempat suci Sri Krishna, Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun ada terdapat instruksi-instruksi berikut ini untuk wanita-wanita yang sudah menikah.

 

patvo jivati ya nari  upasya vrtam acaret

ayusam harate bhartur  narakam caiva gacchati

 

“Seorang Wanita yang suaminya masih ada hendaknya minta ijin  kepadanya untuk melakukan puasa. Jika dia tidak minta izin untuk itu dia akan mengurangi umur suaminya dan mengirimkannya ke neraka” oleh karena itu seorang wanita yang telah bersuami harus minta izin kepada suaminya sebelum melaksanakan puasa Ekadasi.

Pada keesokan harinya dia hendaklah berserah diri kepada Arca Tuhan Yang Maha kuasa. Sri Krishna atau Sri Rama dan mengucapkan mantra purusa-sukta, dimulai dengan sloka yang kata-kata awalnya adalah sahasra sirsa purusah. Dia hendaklah bersujud dan bermeditasi pada Kaki Padma-Nya sambil mengucapkan om damodaraya namah. Kemudian berkonsentrasi pada pinggul-Nya sambil mengucapkan mantra om madhavaya namah, kemudian berkonsentrasi pada bagian pribadi-Nya sambil mengucapkan om kamapataya namah kemudian pada pinggang-Nya sambil mengucapkan om vamanaya namah, pada pusar-Nya dengan mengucapkan om padmanabaya namah, lalu pada perut-Nya, sambil mengucapkan om visvamurtaye namah, lalu pada jantung-Nya sambil mengucapkan om jnanagamyaye namah, pada tenggorokan-Nya, sambil mengucapkan om srikanthaya namah, pada tangan-Nya sambil mengucapkan om sahasrabahave namah, pada dahi Beliau, sambil mengucapkan om urugayai namah, pada hidung-Nya, sambil mengucapkan om narakesvaraya namah, pada rambut-Nya, sambil mengucapkan om sarvakamadaya namah, dan pada kepala-Nya, dengan mantra om sahasrasirsaya namah.

Dengan cara ini bhakta itu juga berkonsentrasi pada wujud yang begitu menarik dan cemerlang dari Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, dan berserah diri kepada Beliau. Dia hendaknya juga berjapa nama suci—Hare Krishna; Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare / Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare—sambil memainkan alat-alat musik yang beraneka ragam, dan dia juga berjapa di dalam hati memakai japa mala dengan khusuk dan penuh cinta kasih. Jika mungkin, seharusnya dia tetap terjaga sepanjang malam sambil memuji nama Beliau dengan cara seperti tersebut di atas.

Seorang penyembah yang taat mengikuti perintah-perintah guru kerohaniaannya dan melaksanakan puasa pada hari Ekadasi—dengan puasa penuh dan mengangungkan nama suci-Nya, sepanjang hari, siang dan malam dalam suasana bhakti—dan pastinya menjadi sepenuhnya terserap dalam kesadaran Krishna yang murni.

Pada hari Dvadasi, bhakta hendaknya pertama-tama membersihkan sekujur tubuhnya dengan mandi dan hatinya dengan berjapa maha-mantra dalam hati. Kemudian dia hendaknya memasak makanan yang enak-enak untuk memuaskan Beliau dan mempersembahkannya dengan penuh cinta-bhakti dan diiringi dengan doa yang tulus kehadapan-Nya. Setelah membagikan maha-prasadam itu kepada bhakta yang lain dan kepada para brahmana. Dia bisa berbuka puasanya dan bergembira dalam melayani prasadam itu.

 

Sekelumit Tentang Buku Ini

 

Buku ini dimaksudkan untuk melengkapi buku-buku Srila Prabhupada. Buku ini terdiri atas terjemahan dari berbagai Purana yang telah di seleksi, yang ditulis oleh Srila Vyasadeva, avatara kesusastraan dari Tuhan Yang Maha Esa, Sri Suta Gosvami mewejangkannya kepada 88.000 resi-resi yang berkumpul di hutan Naimisaranya. Resi Saunaka, ketua semua para resi itu menanyakan kepada Srila Suta Gosvami, bagaimana seseorang terbebas dari semua reaksi-reaksi dosa kalau seseorang tidak bebas dari semua reaksi dosanya, dia tidak akan dapat melakukan pelayanan bhakti yang murni, sebagaimana yang disabdakan oleh Sri Krishna sendiri dalam Bhagavad-gita (7.28): yesam tv anta-gatam papam jananam punya karmanam……bhajante mam drdha vratah. “Orang-orang yang telah melakukan hal-hal yang baik (suba-karma) dalam kehidupannya yang terdahulu dan yang semua aktivitas dosanya telah dikikis seluruhnya akan sibuk melayani-Ku dengan penuh bhakti”

Untuk menjawab Resi Saunaka, Resi Suta Gosvami menceritakan berbagai kejadian yang bersejarah yang berisi percakapan-percakapan yang pernah dilakukan pada zaman dahulu kala. Orang-orang mungkin mengira, bahwa aturan-aturan yang ketat untuk melakukan puasa Ekadasi yang diberikan dalam ceritera-ceritera itu berasal dari Karma Kanda dari Pustaka Suci Veda, tetapi semua peraturan-peraturan ini dimaksudkan untuk menolong para bhakta yang tekun untuk mencapai penyucian yang agung. Kalau tidak ceritera-ceritera ini murni sejarah, tidak mungkin Sri Krishna, Arjuna, Yudhisthira, Dewa Brahma, Narada-Muni, Resi Suta Gosvami, Resi Saunaka, akan menghamburkan waktu yang sangat berharga itu untuk menceriterakan fakta-fakta yang sangat mengesankan ini. Sri Dvaipayana Vyasa, avatara kesusastraan dari Tuhan, tidak mungkin mau menulis semua itu serta memasukkan ke dalam purana-purana yang diperuntukkan bagi mereka-mereka yang bersifat kebaikan, oleh karena itu seseorang yang menekuni jalan spiritual harus mengikuti perintah-perintah ini secara lengkap dan sepenuh hati. Semua perintah-perintah ini dimaksudkan demi meningkatkan spiritualitas kita. Seluruh proses dari kesadaran Krishna sebagaimana yang diajarkan oleh Sri Caitanya Mahaprabhu berdasarkan Vairagya-vidya. “Pengetahuan dan pengendalian diri” pelaksanaan puasa Ekadasi yang ketat itu adalah suatu kegiatan yang wajib, dan pengendalian diri terbukti bisa meningkatkan kesucian dan cinta-bhakti seorang bhakta terhadap Sri Krishna. Sebagai yang telah ditulis oleh Srila Prabhupada dalam buku beliau Ajaran Abadi Upadesamrta (hal 63). “Di dalam Brahma-vaivarta Purana dinyatakan, bahwa seseorang yang melakukan puasa pada hari Ekadasi  terbebas dari segala macam reaksi dosa dan dapat maju dalam kehidupan yang saleh. Dasar dari prinsip-prinsip ini tidaklah hanya sekedar puasa, tetapi untuk meningkatkan keimanan dan cinta kasih seseorang kepada Sri Govinda, atau Sri Krishna Alasan yang sebenarnya untuk melakukan puasa pada hari Ekadasi ialah untuk mengurangi keinginan badaniah itu dan untuk menyibukkan diri (memakai waktu kita) di dalam pelayanan bhakti terhadap yang lain. Hal yang terbaik dilakukan pada waktu hari-hari puasa, ialah mengingat dan mengenang lila Sri Govinda dan mengucapkan nama suci Beliau secara terus-menerus?.”

Jadi seseorang hendaknya melakukan puasa Ekadasi dengan penuh cinta bhakti terhadap Sri Krishna tanpa ada motif material. Seperti yang disabdakan oleh Narada Muni kepada Vyasadeva dalam Srimad-Bhagavatam skanda 1. Kita hendaknya berusaha untuk  mendapatkan sesuatu yang kita tidak bisa peroleh melalui pengembaraan kita di sistem planet yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah di alam semesta material ini dengan menjalani kelahiran dan kematian yang tak terhitung dengan mendapatkan badan spesies yang tak terhitung pula. Tujuan hidup kita ialah kesadaran yang murni yang akan bisa membawa kembali ke tempat tinggal Krishna di angkasa rohani.

Oleh karena itu kami menganjurkan pada setiap orang untuk mengambil keuntungan dari hadiah yang besar dengan mendapatkan badan manusia yang beradab ini untuk menerapkan pelayanan bhakti yang murni terhadap Sri Krishna, sehingga kita mendapatkan pembebasan dari kelahiran, umur panjang, penyakit, dan kematian, dan pulang kembali ke tempat Tuhan Yang Maha Esa. Pelaksanaan Sri Ekadasi yang tepat sangat mendorong keinginan untuk melakukan pelayanan Bhakti yang murni. Dengan demikian setiap orang diundang untuk ikut mengambil bagian di dalam festival pelaksanaan puasa Ekadasi.

Akhirnya saya ingin mengucapkan terima kasih saya yang sebesar-besarnya dan sujud diri saya yang lulus kepada kaki Padma guru kerohanian saya yang tercinta, Yang Paling Berkarunia AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada yang dengan karunia telah membuka mala mata rohani saya pada waktu saya sedang berdiri di dalam kebodohan yang gelap. Seandainya Beliau tidak mengangkat diri saya, tidak mungkin saya bisa mempelajari tentang ilmu pengetahuan kesadaran Krishna dan mengetahui dunia rohani yang kekal. Saya juga menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami. direktur lembaga Bhaktivedanta Internasional, yang menerbitkan buku ini, dan juga terima kasih saya kepada Saudara seperguruan saya yang lain yang bersimpati, yang dengan karunia mereka, saya tetap masih menjadi penyembah. Merekalah yang memberi inspirasi kepada saya untuk menulis buku ini, sehingga para bhakta Sri Krishna yang lain bisa mengetahui tentang pelaksanaan puasa Ekadasi dan mempelajari buku-buku Srila Prabhupada dengan lebih baik.

Saya juga menghaturkan terima kasih yang besar kepada Sriman Nick Epsilantis atas kemurahan hatinya untuk memberi bantuan di samping itu dari semua bhakta yang berikut ini yang telah ikut bekerja memberikan sumbangan finansial hingga buku ini diterbitkan. Mereka adalah: His Holiness Mahanidhi Swami, His Holiness Lokasaranya Swami, Sriman Riktananda dasa, Sriman Dravida dasa, Sriman Rohinipriya dasa, Sriman Agnideva dasa dan keluarga, Sriman Bhayahari dasa, dari keluarga. Sriman Bhaktisiddhanta dasa, Sriman Grahila dasa, Sriman Bopadeva dasa, Sriman Rudradeva dasa, Sriman Gadagraja dasa, Sriman Manohara dasa, Sriman Aniruddha dasa dan keluarga, Srimati Yasodamayi-devi dasi, dan Sriman Sarvasatya dasa.

Doa

Suta Gosvami berkata, “terdapat dua belas bulan dalam satu tahun, dan dua Ekadasi dalam tiap bulan. Demikianlah terdapat dua puluh empat Ekadasi dalam satu tahun penuh, dan dalam tahun kabisat terdapat dua Ekadasi ekstra. O resi yang agung, mohon dengarkan dengan penuh perhatian seperti yang saya nyatakan kepada anda nama-nama dari Ekadasi yang bertuah ini. Ekadasi tersebut adalah Utpanna, Moksada, Saphala, Putrada, Sat-tila, Jaya, Vijaya, Amalaki, Papamocani, Kamada, Varuthini, Mohini, Apara, Nirjala, Yogini, Padma ( Deva-sayani), Kamika, Putrada, Aja, Parivartini, Indira, Papankusa, Rama, dan Haribodhini (Devotthani). Dua Ekadasi ekstra, yang terjadi selama tahun kabisat, dinamakan Padmini dan Parama Ekadasi.

“O resi, seorang yang mendengar tentang Ekadasi ini akan belajar bagaimana melaksanakan Ekadasi tersebut secara sungguh-sungguh. Masing-masing Ekadasi memberikan manfaat khusus terhadap pelaksana Ekadasi yang melakukannya dengan penuh keyakinan.

“Seorang yang secara fisik tidak mampu melakukan puasa pada Ekadasi bisa membaca keagungan masing-masing Ekadasi itu ketika hari Ekadasi itu tiba dan mengucapkan semua nama dari Ekadasi itu; dengan begitu dia akan menerima tujuan yang sama seperti orang yang bersumpah melaksanakan Ekadasi penuh.

 

1

UTPANNA EKADASI

Suta Gosvami berkata: “O brahmana yang berpengetahuan tinggi, dahulu kala Sri Krishna Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa menjelaskan tentang kehebatan dan kemuliaan Ekadasi dan semua aturan serta peraturan yang mengatur setiap pelaksanaan puasa ini hari yang suci tersebut. O yang terbaik di antara brahmana siapapun yang mendengar tentang awal mula dan kemuliaan dari puasa pada hari Ekadasi yang suci ini langsung pergi ke kerajaan Sri Vishnu setelah menikmati berbagai macam jenis kebahagiaan di dunia material ini.

“Arjuna putra Partha, bertanya kepada Tuhan, “O Janardana, manfaat apakah yang diperoleh dari berpuasa penuh, hanya makan, pada malam hari, atau hanya makan sekali pada tengah  hari di hari Ekadasi, dan bagaimanakah aturannya untuk melaksanakan berbagai macam Ekadasi yang berbeda-beda tersebut? Mohon menceriterakan semua hal ini kepada hamba”    

“Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna ‘menjawab, O Arjuna, di awal musim dingin, pada saat Ekadasi yang jatuh menjelang bulan mati pada bulan Margasirsa (Nov-Des), seorang bhakta hendaknya mulai melatih diri untuk melaksanakan puasa Ekadasi, pada hari Dasami (sehari sebelum Ekadasi) dia hendaknya membersihkan gigi dengan baik dan setelah matahari terbenam pada hari Dasami dia hendaknya makan air yang bersih.

Keesokan harinya pagi-pagi seorang bhakta hendaknya berjanji untuk berpuasa, sesuai dengan aturan dan peraturannya, pada tengah-hari, dia hendaknya mandi di sungai, danau, atau kolam, mandi di sungai mempunyai kekuatan penyucian yang paling tinggi bila dibandingkan dengan mandi di danau atau kolam. Bila tidak ada sungai, danau, ataupun kolam, dia bisa mandi dengan air bersih.

Para bhakta hendaknya mengucapkan doa yang berisi nama-nama Ibu Pertiwi sebagai berikut: “O asvakrantei! O rathakrante! O visnukrante! O vasundhare! O mrttika! O ibu pertiwi, mohon menghilangkan segala dosa yang telah hamba kumpulkan selama penjelmaan-penjelmaan hamba yang lampau, sehingga hamba dapat masuk ke tempat suci Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa sambil berdoa demikian dia hendaknya melumuri badannya dengan lumpur.

“Selama hari puasa tersebut, bhakta hendaknya tidak bicara dengan orang yang jatuh dari kewajiban keagamaannya, pemakan daging anjing, pencuri, ataupun dengan orang-orang yang munafik, dia juga hendaknya menghindarkan diri untuk berbicara dengan orang yang senang memfitnah, dengan mereka yang menghina para dewa, kitab suci atau para brahmana, atau dengan mereka yang mempunyai sifat amoral, seperti mereka yang melakukan hubungan kelamin dengan wanita.1 Terlarang dalam peradaban Veda seorang melakukan hubungan kelamin dengan putrinya, saudara perempuannya, saudara iparnya yang perempuan ataupun dengan keluarga dekat lainnya. Juga, hendaknya jangan berbicara dengan para penjahat atau mereka yang merampok di tempat suci. Bila bhakta tersebut berbicara ataupun melihat orang disebutkan di atas hendaknya dia segera menyucikan diri dengan cara langsung melihat matahari.

“Dengan penuh rasa cinta bhakti, dengan mempersembahkan masakan yang mewah, bunga-bungaan dan sebagainya. Di rumahnya dia hendaknya mempersembahkan lampu ghee kehadapan Tuhan dengan penuh perasaan bhakti yang murni. Dia juga hendaknya menghindari tidur siang dan sama sekali dilarang melakukan hubungan kelamin. Berpuasa dari semua makanan dan air, setelah itu hendaknya dia menyanyi tentang kemuliaan Tuhan dengan penuh senang hati dan memainkan alat musik kebahagiaan Beliau sepanjang malam. Serta tetap terjaga sepanjang malam, dengan kesadaran yang murni, dia hendaknya memberikan dana pula, bersujud kepada brahmana yang bonafaid serta mohon pengampunan atas segala kesalahan-kesalahannya.

Bagi merak yang serius dalam pelayanan bhakti hendaknya tidak membedakan antara Ekadasi yang terjadi menjelang bulan purnama maupun Ekadasi yang terjadi menjelang bulan mati, O raja.

Sekarang dengarkanlah dengan baik penjelasan-Ku tentang hasil yang diperoleh seseorang yang melaksanakan puasa Ekadasi dengan cara ini. Hasil yang diperoleh seseorang dengan mandi di tempat suci Sankhoddara, dimana Sri Krishna membunuh raksasa Sankhasura maupun hasil yang diperoleh dengan melihat Tuhan Gadadhara secara langsung, itu pun tidak bisa menyamai 1/6 dari hasil yang diperoleh orang yang melakukan puasa Ekadasi ini. Dijelaskan bahwa bila orang memberikan dana punia pada hari Senin pada bulan purnama, ia akan memperoleh imbalan 100 ribu kali lebih banyak dari berdana punia secara puasa. O perebut kerajaan, orang yang memberikan dana punia pada hari Sankranti (pada saat siang dan malam hari lamanya sama) memperoleh imbalan 400 ribu kali lebih besar dari pada berdana punia pada hari-hari biasa. Tapi hanya dengan melaksanakan puasa Ekadasi orang dapat memperoleh segala hasil dari kegiatan saleh tersebut. Demikian juga, hasil dari kegiatan saleh apapun yang diperoleh seseorang di Kuruksetra pada waktu gerhana Bulan atau matahari. Lebih dari itu orang yang melaksanakan puasa Ekadasi dengan penuh keyakinan akan memperoleh hasil seratus kali lebih besar dari hasil Asvameda yajna (korban suci kuda). Orang yang melaksanakan puasa Ekadasi dengan sempurna walaupun hanya sekali saja ia akan memperoleh hasil yang sama. Dengan hasil yang diperoleh dengan memberikan makanan kepada seratus ribu orang kelaparan setiap hari selama enam puluh ribu tahun. Seorang yang dapat melaksanakan sekali saja puasa Ekadasi dengan tepat, memperoleh hasil 10 kali lebih besar dari pada orang yang mempuniakan 1000 ekor sapi kepada seorang brahmana yang ahli dalam Veda.

“Orang yang memberikan makanan kepada seorang brahmacari memperoleh hasil 10 kali lebih banyak dari orang yang memberikan makanan kepada 10 orang brahmana yang baik di rumahnya sendiri. Tetapi 1000 kali dari hasil yang diperoleh dengan memberikan makan kepada seorang brahmacari dapat dicapai dengan cara mempuniakan sebidang tanah kepada brahmana yang memerlukannya. Dan 1000 kali lebih besar dari hasil itu dapat diperoleh dengan cara memberikan seorang gadis kepada pemuda yang berpendidikan baik, bertanggung jawab. Sepuluh kali lebih dari hal tersebut adalah dengan mendidik seorang anak ke arah jalan kehidupan rohani tanpa mengharapkan imbalan, sepuluh kali lebih baik dari hal itu adalah dengan memberikan makanan biji-bijian pada orang yang kelaparan. Sesungguhnya memberikan dana punia kepada orang yang memerlukan adalah yang terbaik dari semua itu. Dan tidak ada satu puniapun yang lebih baik dari hal itu.2 O putra Kunti semua leluhur, para dewa di surga menjadi sangat puas bila seorang memberikan makanan biji-bijian sebagai punia. Tetapi hasil yang diperoleh dari dengan melaksanakan puasa Ekadasi tersebut, dan setengah dari hasil ini diperoleh oleh orang yang makan malam pada hari Ekadasi.

Karena itu, orang hendaknya berpuasa pada hari Ekadasi, hari dari Tuhan Hari, dengan hanya makan sekali di siang hari, berpantang dari biji-bijian atau makan makanan Ekadasi sekali pada sore hari, ataupun puasa penuh. Semua proses seperti tinggal di tempat-tempat suci, memberikan dana punia, melaksanakan agni-hotra yajna akan bermanfaat sepanjang Ekadasi ini belum tiba. Oleh karena itu orang yang takut akan penderitaan dari keadaan belenggu material ini hendaknya melaksanakan puasa Ekadasi. Pada hari Ekadasi orang hendaknya tidak minum air dari kerang, membunuh mahluk hidup yang lain seperti babi dan ikan atau makan biji-bijian dan kacang-kacangan. Demikianlah Aku telah menguraikan tentang cara-cara terbaik untuk melaksanakan puasa Ekadasi kepadamu seperti yang ingin kamu ketahui wahai Arjuna.

Kemudian Arjuna bertanya, “O Tuhan-Ku, menurut Anda, bahwa 1000 kali upacara Veda tidak dapat menyamai walaupun hanya sekali puasa Ekadasi. Bagaimana hal ini dapat terjadi?, kenapa Ekadasi tersebut menjadi paling ber karunia dibandingkan dengan hari-hari lainnya?

“Tuhan, Sri Krishna menjawab, “Akan Aku ceriterakan kepadamu, kenapa Ekadasi ini merupakan hari yang paling menyucikan di antara hari-hari lainnya Pada Satya yuga, hiduplah seorang raksasa yang sangat hebat, kuat dan menakutkan, yang bernama Mura. Dia selalu marah dan mengganggu semua dewa-dewa, bahkan Dewa Indra sebagai raja surga dapat dikalahkannya. Demikian pula Vivasvan—Dewa Matahari, delapan Vasu;3 dan Agni—Dewa Api; dengan kekuatannya yang luar biasa dia menaklukkan semuanya.

Kemudian Dewa Indra mendekati Dewa Siva dan berkata sebagai berikut: “kita semua telah jatuh dan diusir dari planet kita masing-masing dan sekarang berkelana tidak tentu arah di bumi ini, O Dewa, bagaimana kita dapat terlepas dari penderitaan ini, bagaimana nanti nasib para Dewa?”

Dewa Siva menjawab, “O yang terbaik di antara para Dewa, datanglah ke tempat tinggal Sri Vishnu yang menunggangi Garuda. Beliau adalah Jagannatha-pengendali dan pelindung seluruh alam semesta Beliaulah pelindung roh-roh yang telah menyerahkan diri kepada-Nya.”

Sri Krishna melanjutkan ceriteranya, “O Arjuna perebut kekayaan, setelah Dewa Indra mendengar petunjuk dari Dewa Siva, ia memutuskan untuk pergi bersama para dewa kepada Sri Jagannatha, penguasa alam semesta dan pelindung semua roh, yang beristirahat. Melihat Tuhan berbaring di atas air, para dewa yang dipimpin oleh Dewa Indra mencakupkan tangannya dan mengucapkan doa sebagai berikut:

“O Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, segala sembah sujud kami kepada-Mu. O Tuhan di antara para dewa, yang selalu dipuji oleh dewa-dewa yang agung. O musuh semua raksasa yang bermata bagai bunga padma. O Madhusudana (pembunuh raksasa Madhu), mohon melindungi kami. Kami telah datang untuk mohon perlindungan, karena takut dan diganggu oleh raksasa Mura. O Jagannatha, Anda adalah sumber dan pencipta dari segalanya. Anda adalah Ibu dan Ayah seluruh alam semesta. Anda adalah pencipta, pemelihara dan pelebur dari semuanya. Andalah yang selalu membantu para Dewa, dan hanya Anda Sendirilah yang dapat memberikan kedamaian kepada mereka. Anda Sendirilah sebagai bumi, sebagai angkasa dan pelindung alam semesta.

“Andalah Siva, Brahma, dan juga Vishnu, yang memelihara Tribhuwana ini. Anda adalah dewa dari Matahari, bulan dan api. Anda adalah minyak ramin, persembahan api yajna, mantra-mantra, upacara-upacara, pendeta-pendeta dan pengucapan japa yang tenang, Andalah Yadnya tersebut dan Andalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, tiada sesuatu pun baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak di Tribhuana ini, di luar pengendalian Anda O Tuhan Yang Maha Esa, O Tuhan dari semua dewa, Andalah pelindung dari mereka yang berlindung kepada-Mu. O penguasa kekuatan mistik, O pelindung dari yang ketakutan, selamatkan dan lindungilah kami. Kami telah dikalahkan oleh raksasa dan telah diusir dari kerajaan surga. O Penguasa alam semesta, kami sekarang berkelana di planet bumi ini karena diusir dari kedudukan kami di surga.”

Sri Krishna melanjutkan ceriteranya, setelah mendengar pengaduan Dewa Indra dan dewa-dewa yang lainnya seperti tersebut di atas, Sri Vishnu, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa menjawab sebagai berikut: “Raksasa macam apa yang memiliki kesaktian, yang sehebat itu mampu mengalahkan para dewa? Siapakah namanya, dan dimanakah dia tinggal? Dari manakah dia memperoleh kekuatan dan perlindungan. Katakanlah segala-galanya kepada-Ku tanpa rasa takut O Indra”

Dewa Indra menjawab; “O Tuhan Yang Maha Esa, O pemimpin para dewa, O Anda yang menghancurkan rasa takut dalam hati bhakta-Mu yang murni, o Anda yang sangat baik kepada pelayan Anda yang setia, ada seorang raksasa yang sangat kuat, bernama Nadijangha. yang berasal dari dinasti brahmana. Dia amat menakutkan, dan bercita-cita untuk menghancurkan semua dewa, dan dia mempunyai seorang putra yang bernama Mura.

“Ibu kota kerajaan bernama Candrawati, Dari tempat itulah raksasa Mura yang kuat dan jahat itu telah mengalahkan dan menaklukkan seluruh dunia, serta mengusirnya dari kerajaan surga. Dia telah mengambil alih pemerintahan Indra, Raja surga, Agni-Dewa Api, Yama-Dewa maut, Vayu-Dewa angin, Isa atau Siva, Soma-Dewa bulan, Nairrti-Dewa arah mata angin, dan Pasi atau Varuna-Dewa air. Dia juga telah mulai meniru mengeluarkan cahaya untuk meniru matahari, dan merubah dirinya menjadi awan. Adalah sangat tidak mungkin bagi para Dewa untuk dapat mengalahkannya, O Sri   Vishnu, bunuhlah raksasa itu dan jadikan para dewa kembali jaya”

Setelah mendengar pengaduan Dewa Indra tersebut, Tuhan Janardana menjadi sangat marah dan bersabda sebagai semua untuk menyerang ibu kola Candrawati; pusat kerajaan raksasa Mura”. Dengan diberikan semangat yang demikian, para Dewa berangkat menuju Candrawati di bawah pimpinan Tuhan Hari.

Sewaktu Mura melihat para dewa, raksasa yang amat menakutkan tersebut mulai berteriak dengan amat keras yang di ikuti oleh ribuan raksasa yang lainnya, dan semuanya membawa senjatanya masing-masing yang mengeluarkan sinar menyilaukan raksasa yang berlengan perkasa tersebut sangat mengejutkan para dewa yang mulai meninggalkan pertempuran dan lari ke sepuluh arah. Melihat Tuhan Yang Maha Esa Sri Hrsikesa, Pengendali semua indera-indera hadir di medan perang, semua raksasa-raksasa tersebut berlari menuju Beliau dengan berbagai macam jenis senjata ditangannya mereka menyerang Tuhan yang pada tangan-Nya memegang pedang, cakra dan gada sedemikian, Beliau segera memperbanyak lengan dengan pedang dengan panah-panah beracunnya. Oleh karenanya ratusan raksasa mati oleh Tuhan Sendiri.

Pada akhirnya, Mura pemimpin raksasa tersebut bertempur dengan Tuhan Mura menggunakan kekuatan mistiknya, untuk menjadikan senjata apapun yang digunakan oleh Tuhan Yang Maha Esa Hrsikesa tidak berdaya. Sedangkan bagi raksasa itu datangnya terjangan senjata tersebut dirasakan sebagai bunga yang menerpa dirinya. Ketika Tuhan tidak dapat mengalahkan raksasa tersebut dengan berbagai macam senjata apapun baik yang dapat dilepaskan atau yang dipegang langsung. Beliau mulai bertempur dengan tangan kosong, yang sangat kuat bagaikan gada terkuat dari baja batangan. Tuhan bertempur dengan raksasa Mura selama 1000 tahun menurut perhitungan para Dewa, dan akhirnya tampak kelelahan dan menuju Badarikasrama. Di sana Tuhan Yogesvara yang paling hebat di antara para yogi, penguasa alam semesta memasuki sebuah goa Himawali yang sangat indah untuk beristirahat. O Dhananjaya, perebut kekayaan, diameter goa tersebut adalah 90 mil dan hanya ada satu jalan untuk masuk. Aku datang ke tempat itu bukan karena rasa takut dan juga dengan maksud untuk tidur. Sama sekali tidak ada keraguan atas hal itu.4 O putra Pandu karena pertempuran yang demikian hebat telah membuat Aku lelah. Raksasa itu mengikuti Aku masuk goa dan setelah melihat Aku sedang tidur, dia mulai berpikir dalam hatinya, hari ini aku akan membunuh pembantai dari semua raksasa, Sri Hari.

Sementara Mura yang berpikir lemah membuat rencana tersebut, dari badan-Ku termanifestasi seorang gadis yang memiliki sinar cemerlang. O Putra Pandu, Mura melihat bahwa gadis tersebut telah dilengkapi dengan berbagai macam jenis senjata yang luar biasa dan telah siap untuk bertempur, merasa ditantang bertempur oleh seorang gadis. Mura mempersiapkan dirinya dan kemudian bertempur dengan gadis itu. Tetapi dia sangat tercengang ketika di menyadari bahwa gadis itu bertempur dengan tanpa mengenal menyerah. Kemudian Raja Raksasa tersebut berkata, “Siapakah yang telah menciptakan gadis yang amat menakutkan, yang telah menyerang aku dengan penuh kekuatan bagaikan halilintar yang menyambarku? Setelah berkata demikian, raksasa tersebut melanjutkan perkelahiannya dengan gadis itu.

Tiba-tiba sinar terang dari gadis tersebut telah menghancurkan semua senjata Mura dan sesaat kemudian telah melemparkan raksasa itu ke atas keretanya. Raksasa tersebut mengejar ke arah gadis itu untuk menyerangnya dengan tangan kosong, tetapi ketika gadis itu melihat raksasa tersebut datang, gadis itu dengan penuh kemarahan memotong kepala raksasa tersebut, maka saat itu juga raksasa tersebut jatuh ke tanah dan menuju tempat tinggal Yamaraja. Pelindung dari musuh-musuh Tuhan tersebut, karena rasa takut dan tanpa daya apapun, memasuki Planet Patala.

Kemudian Tuhan Yang Maha Esa bangkit dan melihat raksasa itu mati dihadapan-Nya, diiringi gadis itu bersujud dihadapan-Nya dengan mencakupkan tangan. Wajahnya mengekspresikan rasa keheranan-Nya, Tuhan penguasa alam semesta bersabda, “Siapakah yang telah membunuh raksasa yang jahat ini? Dia dengan mudah sekali mengalahkan para dewa, Gandharva, dan bahkan Dewa Indra sendiri, bersama dengan rekan-rekan Dewa Indra, para Marut, dan juga dia mengalahkan para Naga (ular), penguasa planet-planet bawah. Dia bahkan mengalahkan diri-Ku, membuat diri-Ku bersembunyi di gua karena takut. Siapakah yang begitu berkarunia sekali melindungi diri-Ku setelah Aku lari dari pertempuran dan tidur di dalam gua ini?”

Gadis itu berkata, “yang membunuh raksasa adalah hamba yang muncul dari badan transendental Anda.  Sejatinya, O Tuhan Hari, ketika melihat Anda tertidur raksasa itu ingin membunuh Anda. Memahami maksud dari duri yang mengganggu ini di seluruh bagian di tiga dunia. Hamba membunuh setan jahat itu dan kemudian membebaskan semua para dewa dari rasa takut. Hamba adalah tenaga maha-sakti Anda yang maha hebat, tenaga internal Anda, yang menyingkirkan rasa takut di dalam hati dari semua musuh-musuh Anda. Hamba telah membunuh raksasa yang secara universal mengerikan ini untuk melindungi ketiga dunia. O Tuhan, mohon sampaikan kepada hamba kenapa Anda terkejut melihat bahwa raksasa ini telah di bunuh.

Personalitas Tuhan Yang Maha Esa bersabda; “O yang tanpa dosa, Aku sangat puas melihat bahwa engkau telah membunuh raja para raksasa ini. Dengan cara ini engkau telah membuat para dewa berbahagia, makmur, dan penuh berkah. Karena engkau telah memberikan kesenangan kepada semua para dewa di tiga dunia, Aku sangat puas dengan dirimu.

Gadis itu berkata, “O Tuhan, jika Anda puas dengan hamba dan berharap memberikan hamba sebuah anugerah, kemudian berikanlah hamba kekuatan untuk membebaskan dari dosa-dosa yang paling besar bagi orang yang puasa pada hari ini. Hamba berharap bahwa  setengah kegiatan saleh yang dikumpulkan seorang yang puasa akan  bertambah ke orang yang makan hanya pada malam hari ( tidak makan biji-bijian dan padi-padian), dan setengah dari kegiatan saleh ini yang dikumpulkan seorang yang makan hanya pada tengah hari. Dan juga, bagi orang yang sangat ketat melaksanakan puasa penuh pada hari kemunculan hamba, dengan mengendalikan indera, pergi menuju tempat tinggal Sri Visnu selama jutaan kalpa5 setelah dia menikmati semua jenis kesenangan di dunia ini. Ini adalah anugerah yang hamba ingin capai oleh karunia Anda, Tuhan-ku. O Tuhan Janardana, apakah seorang melaksanakan puasa penuh, makan hanya pada malam hari, atau makanan hanya tengah hari, mohon hadiahkan kepadanya sikap yang religius, kemakmuran, dan pada akhirnya pembebasan.”

Personalitas Tuhan Yang Maha Esa bersabda; “O gadis yang sangat mulia, apa yang anda minta terkabullah. Semua para bhakta-Ku di dunia ini pasti akan berpuasa pada hari kemunculan-mu dan mereka akan terkenal di Tribhuwana ini, pada akhirnya akan datang serta tinggal bersama Ku di tempat tinggal Ku. Karena Anda potensi rohani Ku telah muncul pada hari kesebelas menjelang bulan mati Aku namakan EKADASI. Bila seseorang berpuasa pada waktu Ekadasi Aku akan menghapuskan semua dosa-dosanya dan Aku karuniakan dia tempat tinggal Ku yang rohani.

“Ada hari-hari menjelang bulan mati dan bulan purnama yang sangat Aku cintai yaitu TRTIYA (hari ke tiga), ASTAMI (hari ke 8), NAVAMI (hari ke 9), CATURDASI (hari ke 14), khususnya EKADASI (hari ke 11).6

“Hasil yang diperoleh dengan berpuasa pada hari Ekadasi lebih besar dari hasil yang diperoleh seorang yang suci, bahkan lebih besar pula dari hasil yang diperolehnya dengan cara memberikan punia kepada para brahmana Aku ceriterakan kebenaran ini dengan sesungguhnya.”

“Setelah memberikan karunia kepada devi tersebut, Personalitas Tuhan Yang Maha Esa segera menghilang. Dari saat itulah hari Ekadasi menjadi sangat berkarunia dan terkenal keseluruh alam semesta. O Arjuna bila seseorang dengan taat melaksanakan Ekadasi, Aku bunuh semua musuh-musuhnya dan Aku karunia dia tujuan yang tertinggi, sesungguhnya, bila dengan cara yang telah Aku uraikan,7 Aku menghilangkan semua hambatan yang menghalanginya dalam kemajuan rohani dan memberikan kesempurnaan hidup kepadanya.

“Jadi O Putra Prtha, Aku telah uraikan kepadamu asal mula dari Ekadasi. Hari yang satu ini menghancurkan segala dosa-dosa secara kekal. Sesungguhnya hari Ekadasi adalah hari yang paling berkarunia untuk menghancurkan segala macam dosa, dan hal itu muncul untuk kepentingan setiap orang di alam semesta ini dengan memberikan semua macam kesempurnaan hidup kepadanya.

Orang hendaknya jangan membedakan Ekadasi yang terjadi menjelang bulan purnama dan bulan mati, keduanya harus dilaksanakan, O Partha dan mereka hendaknya jangan membedakan juga hari Dvadasi yang disebut juga Maha Dvadasi. Setiap orang yang berpuasa pada hari Ekadasi hendaknya menyadari bahwa tidak ada perbedaan dari kedua Ekadasi tersebut, yang memiliki tithi yang sama.

Siapapun yang puasa sepenuhnya pada hari Ekadasi, sesuai dengan aturan dan peraturan, akan mencapai tempat tinggal Sri Vishnu, yang berkendaraan Garuda Mereka sangat mulia karena mengabdikan dirinya untuk mempelajari keagungan dan menggunakan waktunya untuk mempelajari keagungan dari hari Ekadasi. Tapi makan pada hari berikutnya akan memperoleh hasil yang sama dengan hasil yang diperoleh oleh orang yang melakukan korban kuda. Hal ini tidak dapat diragukan lagi.

“Pada hari Dvadasi, sehari setelah Ekadasi, seorang hendaknya berdoa, “O Pundarikaksa, O Tuhan yang bermata seindah bunga padma, sekarang hamba akan membuka puasa hamba, lindungilah hamba” setelah berkata demikian seorang bhakta yang bijaksana hendaknya mempersembahkan bung dan air kehadapan kaki padma Tuhan dan mengundang Beliau untuk menikmati persembahan makanan dengan cara mengucapkan ke 8 suku kata mantra (om namo narayana ya sebanyak tiga kali.)9 bila seorang ingin mendapatkan buah dalam puasanya itu, hendaknya dia meminum air yang didapat dari bejana suci tempat dia mempersembahkan air kehadapan kaki padma Tuhan.

Pada hari Dvadasi seorang hendaknya jangan tidur di waktu siang harinya, makan di rumah orang lain, makan lebih dari sekali, melakukan hubungan kelamin, makan madu, makan dengan menggunakan piring dari logam, makan urad dhal, memoleskan minyak ke badan. Seseorang bhakta hendaknya menghindari ke 8 hal tersebut, dia harus menyucikan dirinya dengan cara makan daun Tulasi atau makan buah Amalaki. O raja yang terbaik, dari saat siang hari di hari Ekadasi sampai saat tibanya Dvadasi, seorang hendaknya menyibukkan dirinya dengan cara mandi, memuja Tuhan, melakukan pelayanan bhakti, termasuk memberikan dana punia, dan melaksanakan Agni-hotra (persembahan api). Bila seorang merasa sulit untuk melaksanakan hal itu, dan mampu melaksanakan puasa sepatutnya pada Dvadasi, seorang dapat membuka puasanya dengan minum air, kemudian seorang bisa makan kembali setelah itu.

“Bagi seorang bhakta Sri Vishnu, siang dan malam harinya digunakan untuk mendengar” tentang segala hal yang berhubungan dengan keagungan Tuhan, dari bibir bhakta yang lainnya, akan diajak ke planet Tuhan, dan tinggal di sana selama 10 juta kalpa.10 Dan orang yang mendengar walaupun satu kalimat saja tentang kemulian dari Ekadasi akan dibebaskan dari reaksi dosa karena membunuh seorang brahmana. Kebenaran ini tidak perlu diragukan lagi. Tiada suatu hal yang lebih baik dalam memuja Sri Vishnu kecuali dengan cara berpuasa pada hari Ekadasi.”

Dengan demikian berakhirlah uraian dari keagungan Margasirsa Krishna Ekadasi atau Utpanna Ekadasi, yang dikutip dari Bhavisya-uttara Purana.

 

Catatan

 

  1. Dalam peradaban Veda seorang dilarang untuk menikmati hubungan seks dengan putri, ibu, saudara perempuan, saudara misannya atau keluarga perempuan yang lainnya.
  2. Mahabharata menyatakan, annadau jaladas caiva aturas ca cikitsakah/trividham svargam ayati vina yajnena bharatah” “O Bharata, seorang yang memberi makanan biji-bijian, air minum, pengobatan, atau bantuan pengobatan bagi yang membutuhkan akan pergi ke neraka tanpa melaksanakan berbagai jenis korban suci.”
  3. Amara-kosa memberikan nama dari delapan Vasu sebagai berikut : Dhara, Dhruva, Soma, Aha, Anila, Anala, Pratyusa dan Prabhava.
  4. Tentunya, tidak ada pertanyaan mengenai ketakutan atau keletihan bagi Tuhan Yang Maha Esa. Beliau berpura-pura sebagai bagian dari lila-Nya dalam kemunculan Ekadasi Devi.
  5. Satu kalpa, yang adalah dua belas jam Dewa Brahma, yang berlangsung 4.320.000.000 tahun. Karena Sri Krishna bersabda dalam Bhagavad-gita (8.21) bahwa “seorang yang datang ke tempat tinggal-Ku tidak akan pernah kembali lagi ke dunia material,” dapatlah dipahami selama satu milyar kalpa penyembah tinggal di tempat tinggal Sri Visnu, dia akan melaksanakan pelayanan bhakti dan demikian menjadi berkualifikasi untuk tetap disana secara kekal.
  6. Beberapa dari banyak hari-hari puasa dalam kalender Veda sebagai berikut:

Trtiya: ada satu Trtiya yang seorang seharusnya puasa. Hari ini terjadi selama bagian terang bulan pada bulan Vaisakha (April-Mei). Pada hari ini seorang seharusnya memuja Brahman Yang Paling Utama dan mandi di laut.

Astami : hari puasa ini termasuk Krsna-Janmastami Radhastami, dan Gopastami, saat ini seorang seharusnya puasa sampai malam hari, tengah hari dan matahari tenggelam, dengan penuh keyakinan.

Navami : hari puasa ini termasuk Rama Navami dan Aksaya Navami.

Caturdasi: hari puasa ini termasuk Nrsimha Caturdasi, Ananta Caturdasi, dan Siva Caturdasi.

Ekadasi : Diantara seluruh hari puasa ini, Ekadasi adalah yang sangat di cintai Sri Krishna. Seorang yang tidak bisa melaksanakan hari puasa ini bisa mendapatkan kebaikan dari masing-masing puasa itu hanya dengan melaksanakan puasa Ekadasi sekali.

  1. Tiga rekomendasi yang diberikan dalam melaksanakan puasa Ekadasi adalah dengan berpuasa penuh, dengan makan hanya pada malam hari, atau makan hanya sekali pada waktu lainnya selama hari itu. Jika seorang makan, dia seharusnya sepenuhnya tidak makan biji – bijian dan kacang-kacangan.
  2. Kadang kala, karena berbagai alasan perbintangan, Ekadasi harus dilaksanakan pada hari berikutnya, Dvadasi. Maha-dvadasi ini dianggap sangat bertuah.
  3. Delapan suku kata mantra adalah om namo narayananya.
  4. Lihat catatan no. 5
  5. Seorang yang membunuh seorang brahmana dan kemudian mendengar tentang keagungan dari Utpanna Ekadasi akan dibebaskan dari reaksi dosa perbuatan ini. Bagaimanapun, seorang seharusnya tidak berpikir sebelumnya bahwa dia bisa membunuh seorang brahmana dan kemudian selanjutnya tidak mendapatkan hukuman hanya dengan mendengar Ekadasi. Karena mengetahui hasil dari dosa adalah suatu yang dibenci.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s