Memahami Garis-Garis Otoritas Dalam ISKCON Rumusan resmi posisi GBC

Memahami Garis-Garis Otoritas Dalam ISKCON Rumusan resmi posisi GBC

Disahkan di Mayapur 2012

 

LATAR BELAKANG

Beberapa tahun yang lalu GBC telah mulai membangun sebuah rencana sistematis bagi masa depan ISKCON. Mereka memilih beberapa isu yang penting bagi perkumpulan kita ini dan membentuk komite-komite untuk membahas isu-isu tersebut. Salah satu di antara komite-komite tersebut diminta untuk mempelajari berbagai garis otoritas yang ada di dalam ISKCON dan merumuskan sebuah metode untuk menghadapi potensi-potensi pertentangan di antara garis-garis otoritas tersebut. Anggota komite tersebut adalah Bhanu Swami, Guruprasada Swami, Prahladananda Swami, Ramai Swami, Sivarama Swami, Badrinarayan Dasa, dan Niranjana Swami.

 

FOKUS DARI ESSAY INI

Selanjutnya, essay ini akan secara khusus memfokuskan untuk mendefinisikan prinsip-prinsip yang hendaknya diikuti oleh guru spiritual yang memberi inisiasi (guru-diksa) dan guru spiritual yang memberi ajaran-ajaran (guru-siksa), murid-murid dari guru-guru spiritual tersebut, para anggota GBC untuk tiap wilayah, sekretaris-sekretaris regional, para presiden temple, dan para otoritas manajerial ISKCON lainnya. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman antara para guru spiritual dan para manajer, demikian pula untuk meminimalisasi pengaruh yang mungkin ditimbulkan oleh potensi-potensi kesalahpahaman tersebut terhadap para penyembah yang berada di bawah perlindungan-bersama para otoritas tersebut.

“GURU SPIRITUAL” BERARTI DIKSA, SIKSA, ATAU KEDUANYA

Hendaknya dicatat bahwa mulai dari sini, kecuali jika disebutkan secara spesifik, kapan pun disebutkan “guru spiritual” berarti yang dimaksud adalah guru spiritual yang memberi inisiasi (guru-diksa) dan guru spiritual yang memberi ajaran-ajaran (guru-siksa), termasuk para manajer yang bertindak mengambil peran-peran tersebut. Sebagai tambahan, setiap kali disebutkan “otoritas spiritual” yang dimaksud adalah siapa pun itu (guru spiritual ataupun manajer) yang petunjuk-petunjuknya (siksa) dan teladannya telah membentuk fondasi keyakinan seorang penyembah dalam melaksanakan bhakti serta mereka yang terus membangun fondasi keyakinan para penyembah.

OTORITAS DI DALAM ISKCON

Essay ini bukanlah analisis definitif dan terperinci tentang sistem manajemen ISKCON, bukan pula analisis terperinci mengenai guru-tattva yang meliputi kualitas-kualitas dan tugas-tugas seorang guru spiritual serta proses dalam memilih seorang guru spiritual.

Premis dasar essay ini adalah sebagai berikut: Baik seorang penyembah itu adalah seorang guru spiritual yang memberi inisiasi (guru-diksa), guru spiritual yang memberi ajaran-ajaran (guru-siksa), sannyasi, anggota GBC, sekretaris wilayah, presiden temple, pemimpin komunitas, atau siapa pun yang memiliki otoritas di dalam ISKCON, otoritas yang diberikan kepada penyembah tersebut lengkap hanya jika dia mengikuti petunjuk-petunjuk Srila Prabhupada untuk melayani di dalam ISKCON di bawah otoritas GBC-secara-keseluruhan.

Untuk menegakkan premis ini, kami merasa perlu untuk menekankan bahwa Srila Prabhupada secara konsisten dan gamblang telah selalu menekankan prinsip ini dalam ajaran-ajaran beliau, begitu pula dalam dokumen-dokumen resmi yang beliau tandatangani sendiri. Dengan demikian, Srila Prabhupada telah secara gamblang menegakkan GBC-secara-keseluruhan sebagai otoritas tertinggi dalam manajemen dan juga memberi isyarat bahwa cakupan wilayah GBC-secara-keseluruhan meliputi pula tanggung jawab untuk memberikan bimbingan spiritual (siksa) ketika dibutuhkan, kepada seluruh ISKCON termasuk seluruh penyembah yang mengambil pelayanan sebagai guru spiritual:

Wartawan: “Apakah ada orang yang dipersiapkan untuk menggantikan Anda sebagai guru-utama dalam perkumpulan ini?”

Srila Prabhupada: “Saya mendidik beberapa orang, maksud saya, murid-murid yang sudah maju sehingga dengan mudah mereka akan dapat mengambil tanggung jawab tersebut. Saya telah menjadikan mereka sebagai GBC.” [1]

Dengan kata lain, walaupun GBC-secara-keseluruhan adalah otoritas tertinggi manajemen dalam ISKCON, tugas anggota-anggota GBC bukan hanya untuk mengelola tetapi juga untuk mengajarkan.

 

DUA GARIS OTORITAS

Oleh karena setiap penyembah menerima inspirasi spiritual dari otoritas-otoritas yang lebih tinggi, terdapat dua garis otoritas di dalam ISKCON beserta wakil-wakil mereka—yang satu dipandang memiliki tugas utama dalam hal spiritual, sedangkan yang lain dipandang memiliki tugas utama dalam hal manajerial. Kedua garis otoritas ini menjalankan fungsi-fungsi mereka yang unik-tersendiri sekaligus saling bergantung satu sama lain dalam kedudukan tunduk terhadap perintah-perintah Acarya-Pendiri kita. Keduanya diberikan otoritas oleh GBC-secara-keseluruhan untuk mengayomi para penyembah yang berada di bawah perlindungan mereka. Perlindungan ini diberikan melalui petunjuk maupun teladan pribadi.

 

Dengan membedakan dua garis otoritas spiritual menurut istilah-istilah ini—sebagai yang memiliki tugas utama di bidang spiritual dan yang memiliki tugas utama di bidang manajerial—kami tidak menyatakan bahwa otoritas manajerial bertentangan dengan otoritas spiritual. Kami juga tidak bermaksud menyatakan bahwa garis otoritas spiritual mempunyai lebih banyak hak istimewa atau secara intrinsik/bawaan adalah lebih suci.

“Manajemen juga merupakan kegiatan spiritual… Ini adalah organisasi milik Krishna.” [2]

“Dalam kegiatan pengajaran kita…kita berurusan dengan banyak sekali properti dan uang dan banyak sekali buku dibeli dan terjual, namun karena semua urusan ini berhubungan dengan gerakan kesadaran Krishna, mereka tidak pernah boleh dianggap sebagai hal material. Orang yang sibuk memikirkan manajemen tidak berarti bahwa ia berada di luar kesadaran Krishna. Jika seseorang menjalani secara taat prinsip aturan yang berupa berjapa enam belas putaran maha-mantra setiap hari, urusannya dengan dunia material dalam rangka menyebarkan gerakan kesadaran Krishna tidak berbeda dengan pengembangan spiritual kesadaran Krishna.” [3]

Di dalam sebuah masyarakat spiritual, seorang manajer tidak dapat memenuhi tugasnya dalam pengelolaan semata-mata dengan cara mengumumkan aturan-aturan dan memaksakannya. Aturan-aturan itu sendiri harus memiliki landasan spiritual, dan penerapan serta pelaksanaannya harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip Vaisnava. Para manajer yang melakukan pelayanan dengan pemahaman seperti ini umumnya akan mengemban seluruh otoritas spritual bagi orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab mereka.

Oleh karena itu kita hendaknya melihat kesatuan antara “spiritual” dan “manajerial.” Namun ada juga beberapa perbedaan, dan untuk dapat memahami keadaan satu dan berbeda secara bersamaan ini perlu digunakan dua istilah yang berbeda tersebut beserta penjelasan masing-masing.

 

GARIS OTORITAS SPIRITUAL

Garis otoritas spiritual bermula dari Sri Krishna dan berlanjut kepada Brahma, Narada, Vyasa, dan seluruh garis perguruan melalui Srila Prabhupada, Acarya-Pendiri kita. Mereka yang mengikuti sampradaya kita dan melayani di bawah otoritas GBC-secara-keseluruhan diberikan otoritas untuk memberikan perlindungan di dalam garis spiritual ini, di bawah ketentuan-ketentuan ISKCON. Garis spiritual ini dapat mencakup para GBC, sekretaris wilayah, guru spiritual, sannyasi, sekretaris regional, presiden temple, pemimpin komunitas, serta para pengajar yang berkeliling dunia dan pengajar komunitas. Kenyataannya, siapa pun yang taat mengikuti seorang guru spiritual yang bonafid, baik melalui teladan maupun petunjuk, dapat diberi otoritas untuk mewakili garis otoritas spiritual.

Secara umum, otoritas spiritual yang paling utama bagi seseorang adalah guru spiritual yang memberi inisiasi (guru-diksa) atau guru spiritual yang memberi ajaran-ajaran (guru-siksa). Kitab-kitab suci secara jelas menyatakan bahwa para penyembah hendaknya patuh dan setia kepada guru-guru spiritual mereka. Demikianlah para guru spiritual memegang otoritas bagi murid-murid mereka, dan dengan melakukan demikian para guru spiritual akan dapat melatih dan mendidik murid-murid dalam mengembangkan bhakti mereka. Maka dari itu para guru spiritual memiliki peran yang penting dalam memberikan pendidikan spiritual dan inspirasi yang dibutuhkan untuk mencapai kemajuan dalam kesadaran Krishna.

 

GARIS OTORITAS MANAJERIAL

Dalam garis otoritas manajerial, dan sesuai dengan petunjuk Srila Prabhupada, pengawasan terhadap perkumpulan dan penegakan aturan-aturan dilakukan oleh GBC-secara-keseluruhan. Ketika kita menggunakan kata “otoritas” dalam konteks struktur manajerial, yang dimaksud bukanlah sebuah otoritas yang absolut dan tidak pernah salah—seperti otoritas kitab suci—melainkan mandat yang diberikan untuk mengorganisasi gerakan pengajaran agar sesuai dengan petunjuk-petunjuk Srila Prabhupada. Untuk mengemban mandat tersebut, para pengikut beliau telah menjalankan sistem manajerial ISKCON, yang telah digariskan oleh Srila Prabhupada, untuk mengembangkan templetemple, komunitas penyembah (yang tidak tinggal di dalam temple), dan proyek-proyek seperti pertanian dan gurukula, demikian pula organisasi-organisasi dan badan-badan lainnya. Oleh karena itu, dalam rangka memberi pelayanan kepada lapangan kegiatan yang terus berkembang ini beserta para anggotanya, maka dibentuklah struktur yang mencakup berbagai dewan regional, nasional, dan kontinental, yang terdiri dari, namun tidak terbatas pada, para GBC, sekretaris wilayah, guru-guru spiritual, sannyasi, sekretaris regional, para presiden temple, pemimpin komunitas, serta para pengajar komunitas dan pengajar yang berkeliling dunia.

MERUMUSKAN POIN PERBEDAAN PENDAPAT

Walaupun dalam dunia ideal segalanya akan dapat berjalan sesuai dengan visi Srila Prabhupada untuk ISKCON, dalam kenyataannya kita telah melihat kencederungan terjadinya intervensi dari satu garis otoritas ke garis otoritas yang lain.

Seperti contohnya, ada otoritas-otoritas spiritual yang terkadang mengintervensi para manajer yang sudah kompeten dan bertanggung jawab. Otoritas-otoritas spiritual tersebut tidak menganggap diri mereka sebagai bagian dari struktur manajerial wilayah tempat dimana pengajaran mereka memberi pengaruh (walaupun mereka sebenarnya memang bertanggung jawab akan hal itu), namun mereka tetap terlibat mengelola beberapa proyek di dalam struktur tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung.

Oleh karena itu terkadang mereka mengelola penyembah, uang, dan bahkan proyek-proyek yang dipertanggungjawabkan oleh para pengikut dan orang-orang yang bergantung pada mereka[4], tanpa persetujuan yang jelas dengan struktur manajerial yang bersinggungan dengan mereka. Dengan mendorong para murid untuk mengarahkan pelayanan dan loyalitas hanya kepada struktur manajemen otoritas spiritualnya, tanpa sengaja mereka mungkin telah mengecilkan arti dari garis otoritas manajerial.

Hal ini tidak hanya menimbulkan kebingungan namun juga menciptakan spirit perpecahan. Situasi-situasi seperti ini juga dapat menjadi isu-isu pertengkaran bagi para manajer, walaupun para manajer yang lebih junior biasanya menghindar untuk menyatakan ketidaksetujuan mereka karena merasa terintimidasi oleh kemungkinan berbuat aparadha, khususnya terhadap guru-guru spiritual.

Di sisi lain, ada juga otoritas-otoritas manajerial yang terkadang kurang memberikan perhatian spiritual. Hal ini dapat menimbulkan kecenderungan bagi guru spiritual untuk mengintervensi dengan cara menganjurkan pergaulan dan pelayanan lain kepada murid-muridnya.

Sebagai contoh, para manajer terkadang lebih mementingkan pencapaian-pencapaian manajemen daripada sadhana, pengajaran yang murni, atau perkembangan kesucian dalam bhakti pada diri orang-orang yang diayominya. Mungkin para manajer bahkan mengabaikan perkembangan spiritual orang-orang yang berada di bawah wilayah otoritasnya yang tidak memberi bantuan untuk mewujudkan visi manajerial mereka, meskipun para manajer tersebut sangat jarang sekali menginspirasi mereka untuk memberikan bantuan atau memberi kuasa kepada otoritas lain untuk melakukan hal tersebut.

MENGHORMATI GARIS OTORITAS MANAJERIAL

Contoh-contoh skenario kasus yang diberikan di atas menyebabkan ketegangan antara garis otoritas spiritual dan garis otoritas manajerial.

Tentu saja dapat dipahami bahwa akan terjadi juga suatu keadaan dimana akan ada penyembah-penyembah yang mandiri secara finansial dan tidak mempunyai hubungan manajerial dengan sanghasangha lokal. Tetap saja, hendaknya tidak diasumsikan bahwa struktur manajemen setempat tidak mengusahakan untuk mengikutsertakan setiap penyembah atau calon penyembah ke dalam sistem manajemen pengurusan setempat bagi para penyembah di dalam perkumpulan.

Oleh karena itu, untuk menghargai pelayanan yang diberikan oleh para manajer ISKCON, sebelum menyarankan sangha atau pelayanan baru untuk murid-muridnya atau mengintervensi keputusan-keputusan manajerial lain, hendaknya seorang guru spiritual terlebih dahulu meminta persetujuan dari para manajer yang bertanggung jawab di wilayah tempat murid-muridnya tinggal.

Tentu saja yang terbaik adalah mengajarkan kepada para murid untuk menghormati manajer-manajer lokal dari sejak awal hubungan guru spiritual dan murid dimulai. Banyak manajer ISKCON yang mengemban tanggung jawab untuk mengurus temple, Arca, penjualan buku, dan standar-standar lainnya yang diberikan oleh Srila Prabhupada.

“Penyetanaan Arca berarti pemujaan secara berkala tanpa kelalaian, dan dijalankan untuk selamanya.” [5]

Oleh karena itu para guru spiritual hendaknya mengajarkan kepada murid-murid mereka untuk memberikan pelayanan kepada misi Srila Prabhupada dengan cara bekerjasama dengan para pemimpin dan manajer setempat.

Namun hal ini tidak berarti bahwa seorang manajer akan menganggap bahwa dia memiliki kebebasan penuh untuk mengabaikan kebutuhan-kebutuhan dari orang-orang yang berada di bawah pengurusannya, tidak juga berarti bahwa dia memiliki kebebasan untuk mengabaikan peringatan yang disampaikan oleh guru-guru spiritual yang memintanya untuk mengurus murid-murid mereka dengan baik. Para manajer hendaknya peka terhadap peringatan yang diberikan oleh para guru spiritual dan juga murid-murid mereka.

Jika seorang guru spiritual masih juga merasa bahwa tingkat kepedulian yang diberikan untuk para muridnya dalam struktur manajemen setempat belum mencukupi, serta menimbang komitmen dan tanggung jawab yang dituntut dari mereka (para muridnya), maka ia dapat mewakili aspirasi para murid ke tingkatan manajemen yang lebih tinggi, anggota GBC setempat, atau melalui cara-cara ISKCON lainnya, yang nantinya akan dijelaskan di dalam rumusan ini.

Lebih lanjut lagi mengenai poin ini akan dibahas nanti. Namun sebelum kita sampai ke sana, secara singkat kita akan membahas topik mengenai keyakinan. Mereka yang berada di dalam kedua macam garis otoritas akan diajak untuk mempertimbangkan relevansi dari keyakinan terhadap permasalahan yang lebih luas lagi yang sedang dibahas di sini.

 

OTORITAS DIBANGUN DI ATAS PERTUMBUHAN KEYAKINAN YANG BERKELANJUTAN

Aset terbesar yang dimiliki ISKCON adalah keyakinan para anggotanya. Walaupun tidak ada temple, tidak ada proyek, tidak ada penghasilan, dan hanya ada sejumlah pengikut, namun jika ada keyakinan maka akan ada kemakmuran, dalam arti yang sesungguhnya. Pertimbangkanlah apa yang telah ditulis oleh Srila Prabhupada dalam surat beliau berikut ini:

“Ada sebuah pepatah dalam sastra-sastra berbahasa Sanskerta bahwa orang-orang yang penuh semangat akan mendapatkan karunia Dewi Keberuntungan. Di dunia Barat ini, terdapat bukti nyata mengenai slogan tersebut. Masyarakat di sini sangat bersemangat untuk meraih kemajuan material dan mereka mencapainya. Demikian pula, menurut petunjuk-petunjuk Srila Rupa Goswami, jika kita bersemangat dalam urusan-urusan spiritual, maka kita juga akan sukses dalam jalan tersebut. Seperti misalnya saya datang ke negaramu di usia yang sudah tua ini, namun saya memiliki satu aset: semangat dan keyakinan terhadap Guru Spiritual saya. Saya pikir hanya aset-aset inilah yang telah memberikan saya secercah harapan, segala yang telah saya capai hingga saat ini yang tidak lepas dari kerjasama kalian.” [6]

Dan pada penjelasan beliau di dalam Bhagavad-gita Menurut Aslinya, 9.3, Srila Prabhupada menulis:

“Keyakinan adalah faktor yang paling penting untuk tercapainya kemajuan dalam kesadaran Krishna…Hanya dengan keyakinanlah seseorang dapat maju dalam kesadaran Krishna.”

Mereka yang berada dalam garis otoritas spiritual hendaknya mengajarkan dan berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka dapat menyuburkan dan melindungi keyakinan murid-murid dan bawahan mereka terhadap bhakti yang murni, terhadap sampradaya kita, terhadap Srila Prabhupada, dan terhadap ISKCON, termasuk manajemennya. Para guru spiritual juga memiliki tanggung jawab tambahan untuk menyuburkan dan melindungi keyakinan para manajer ISKCON bahwa mereka (para guru spiritual) adalah orang-orang yang layak mewakili garis otoritas spiritual. Jika para guru spiritual berlaku sebaliknya, maka mereka akan mengikis keyakinan para penyembah.

Demikian pula, mereka yang berada di dalam garis otoritas manajerial hendaknya mengelola manajemen, mengajarkan, dan berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka dapat membangun dan memelihara kepercayaan yang diberikan oleh otoritas spiritual beserta murid-muridnya. Jika para manajer menunjukkan perhatian yang tulus terhadap para penyembah yang berada di bawah perlindungan mereka, maka secara alami para guru spiritual akan mendorong murid-murid mereka untuk membantu sang manajer dalam pelayanannya. Namun jika para manajer melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip spiritual serta bertentangan dengan kepentingan spiritual para penyembah yang menjadi tanggung jawab mereka, maka hal tersebut juga akan mengikis kepercayaan para penyembah.

Oleh karena itu, untuk melindungi keyakinan seluruh anggota ISKCON, kita perlu mendeskripsikan secara jelas prinsip-prinsip yang semestinya diikuti oleh kedua garis otoritas.

 

 

PARA GURU SPIRITUAL TIDAKLAH BERDIRI TERSENDIRI

Dalam rangka lebih memperjelas kebutuhan untuk mengenalkan prinsip-prinsip yang terdefinisikan dengan jelas, kita akan menelaah kedudukan para guru spiritual di dalam struktur manajerial ISKCON.

Ketika Srila Prabhupada masih hadir secara fisik, beliau adalah satu-satunya guru spiritual yang memberikan inisiasi (guru-diksa), guru-siksa utama, dan otoritas manajerial yang tertinggi, lebih tinggi kedudukannya daripada GBC:

“[…] kita mengelola Perkumpulan Kesadaran Krishna kita ini melalui Governing Body Commission, GBC. Kita telah memiliki 20 orang GBC yang bertanggung jawab untuk urusan-urusan di seluruh dunia, dan di atas GBC ada saya. Di bawah GBC ada para presiden temple, sekretaris, dan bendahara untuk setiap cabang. Jadi seorang presiden temple bertanggung jawab kepada GBC dan GBC bertanggung jawab kepada saya. Dengan cara inilah kita mengelola…”[7]

Dalam ketidakhadiran Srila Prabhupada secara fisik, saat ini struktur menjadi agak berbeda. Srila Prabhupada memerintahkan bahwa GBC hendaknya menjadi otoritas manajerial tertinggi bagi ISKCON. Di saat yang sama beliau juga mengisyaratkan bahwa di dalam masyarakat kita ini hendaknya terdapat guru-guru spiritual dan bukan hanya satu guru spiritual:

“Siapa pun yang mengikuti ajaran Sri Caitanya di bawah bimbingan wakil-Nya yang bonafid dapat menjadi seorang guru spiritual, dan saya berharap saat saya tidak ada lagi, seluruh murid saya dapat menjadi guru spiritual yang bonafid untuk menyebarkan Kesadaran Krishna ke seluruh dunia.” [8]

Hal ini memunculkan situasi yang sulit. Banyak organisasi spiritual memiliki hanya seorang guru spiritual yang bertindak sebagai pemimpin utama bagi institusinya, sedangkan ISKCON memiliki banyak guru spiritual di dalam satu organisasi, dan juga sebagai tambahan dari adanya sebuah “dewan pengatur (governing body)” yang bertindak sebagai “otoritas manajerial tertinggi” bagi institusi ini secara keseluruhan. Mereka yang mengambil pelayanan sebagai guru-guru spiritual di ISKCON harus mengikuti petunjuk-petunjuk Srila Prabhupada dan bekerja di bawah GBC-secara-keseluruhan.

Maka dari itu para guru spiritual berkewajiban untuk mengikuti kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan perkumpulan, termasuk yang tertera dalam rumusan resmi GBC ini, dan mematuhi keputusan-keputusan manajemen GBC. Termasuk dalam kewajiban tersebut adalah tanggung jawab untuk menyemangati murid-murid mereka untuk bekerja sama dan melakukan pelayanan dalam manajemen ISKCON yang sudah ada dan bergaul dengan para penyembah di wilayah tempat tinggal para murid tersebut, bukannya menyemangati para muridnya agar hanya bekerja sama dengan mereka (para guru spiritual) saja atau dengan pergaulan dan proyek-proyek mereka sendiri yang tidak memiliki hubungan dengan struktur manajemen ISKCON setempat.

 

PARA MURID HENDAKNYA MENGHINDARI TERJADINYA KONFLIK ANTAR OTORITAS-OTORITAS MEREKA

Para murid hendaknya memahami gambaran yang lebih besar tentang ISKCON. Tentu saja seorang guru spiritual mungkin lebih maju secara spiritual dibandingkan dengan anggota-anggota GBC tertentu atau manajer ISKCON lainnya (walaupun ada juga kasus di mana GBC setempat atau manajer ISKCON setempat lebih maju secara spiritual dibandingkan dengan guru spiritual tertentu).

Akan tetapi, terkait dengan manajemen spiritual bagi perkumpulan, seperti yang telah kita bahas secara gamblang, Srila Prabhupada telah memberikan otoritas kepada GBC-secara-keseluruhan dan masing-masing anggotanya serta kepada para manajer ISKCON lainnya.

Jika seorang murid memiliki pemahaman yang keliru bahwa guru spiritualnya berkedudukan lebih tinggi daripada GBC-secara-keseluruhan beserta kebijakan-kebijakan dan hukum-hukum ISKCON, maka guru spiritualnya dan otoritas manajerial lainnya harus mengoreksi pemahaman tersebut.

Memang, semua murid hendaknya mematuhi otoritas-otoritas ISKCON, dengan cara yang sama sebagaimana semua guru spiritual, baik yang memberi inisiasi (guru-diksa) maupun yang memberi ajaran (guru-siksa) mematuhi otoritas mereka masing-masing di dalam ISKCON.

Karena itu, melalui teladan pribadi dan juga petunjuk-petunjuk, semua guru spiritual hendaknya mendidik dan melatih murid-murid mereka bukan hanya dalam pengembangan bhakti saja melainkan juga hendaknya mendidik dan melatih mereka untuk memahami hubungan mereka dengan struktur manajerial di dalam ISKCON, demikian pula mengenai hubungan sang guru spiritual sendiri dengan struktur manajerial ISKCON.

PRINSIP-PRINSIP YANG DIPERKENALKAN

Pendidikan Bagi Para Murid

Merupakan tanggung jawab para guru spiritual di dalam ISKCON untuk membantu setiap muridnya memahami dengan jelas hal-hal berikut ini:

1)      Seorang guru spiritual mendapatkan otoritas berdasarkan kesetiaannya terhadap Srila Prabhupada. Ini meliputi kesetiaan terhadap perintah Srila Prabhupada untuk berkarya di dalam misi beliau, ISKCON.

2)     Seorang guru spiritual adalah seorang anggota ISKCON, dan oleh karena itu bertanggung jawab mengikuti keputusan bersama yang dihasilkan oleh para pemimpin, yakni GBC-secara-keseluruhan.

3)     Seorang guru spiritual tidak memiliki hak khusus atau hak istimewa atas sumber daya ISKCON semata-mata karena ia menjadi seorang guru spiritual. Lebih lanjut lagi, seorang guru spiritual hendaknya tidak menyalahgunakan hak-haknya terhadap murid-muridnya.

4)     Para murid hendaknya mematuhi otoritas-otoritas ISKCON dengan cara yang sama sebagaimana para guru-diksa dan guru-siksa memberikan teladan dengan cara mematuhi otoritas-otoritas ISKCON mereka.

5)     Para murid memiliki tugas penting dan mendasar untuk berserah diri kepada Krishna melalui sang guru spiritual, dan termasuk di dalam tugas ini adalah untuk mengakui dan menghormati keberadaan atasan-atasan lain di dalam manajemen ISKCON yang membantu mereka dalam proses kemajuan spiritual mereka.

6)     Para manajer yang telah matang secara spiritual mungkin menjadi guru-guru siksa utama bagi para penyembah yang bukan merupakan murid-diksa mereka, dan hubungan-hubungan semacam ini harus didukung sepenuhnya oleh para guru-diksa.

Perilaku Para Guru

Lebih lanjut, untuk menghormati garis otoritas manajerial serta untuk membantu memelihara dan melindungi keyakinan para manajer terhadap garis otoritas spiritual, setiap guru spiritual hendaknya:

1)      Begitu tiba di sebuah temple atau pusat pengajaran ISKCON atau lebih baik lagi sebelum tiba, sebaiknya bertanya kepada manajer setempat bagaimana ia (guru spiritual) dapat melayani yatra tersebut selama kunjungannya (bukannya hanya menjalankan programnya sendiri).

2)     Sebelum berencana untuk mengunjungi sebuah wilayah atau daerah di mana tidak ada temple atau pusat pengajaran setempat, ia hendaknya bertanya terlebih dahulu kepada GBC untuk wilayah tersebut mengenai rencana ke depan dari para pemimpin setempat untuk daerah tersebut dimana ia (guru spiritual) dapat membantu melayani.

3)     Jika terjadi ketidaksepakatan mengenai keputusan-keputusan manajerial, ia sebaiknya melakukan yang terbaik untuk bekerja sama dengan otoritas terkait. Jika tidak tercapai kesepakatan, maka seorang guru spiritual hendaknya menangguhkan keputusan tersebut terlebih dahulu dan jika diperlukan maka dibawa ke otoritas yang lebih tinggi lagi.

Tanggung Jawab Para Manajer

Untuk membangun kerjasama yang baik di dalam ISKCON, menghargai garis otoritas spiritual, serta membantu memelihara dan menjaga keyakinan para guru spiritual beserta murid-murid terhadap garis otoritas manajerial, maka para manajer hendaknya:

1)      Menerima nasihat yang diberikan oleh para guru-diksa dan para pengajar berkeliling dunia lainnya, yang berkunjung ke wilayah mereka, khususnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan devotee care/pelayanan terhadap para penyembah.

2)     Menjaga keyakinan orang-orang yang bergantung kepada mereka, terhadap bhakti yang murni dan terhadap prinsip yang berupa menerima dan melayani seorang guru spiritual yang memberi inisiasi (guru-diksa) dan guru spiritual yang memberi ajaran-ajaran (guru-siksa).

3)     Mendorong dan mendukung sebuah sistem yang berkaitan dengan devotee care di area manajemennya (contohnya: sistem konselor, dewan penasehat brahmana, dan lain sebagainya).

4)     Memastikan bahwa para manajer di dalam garis otoritas mereka itu sendiri terlatih dengan baik dalam hal prinsip-prinsip devotee care.

5)     Memberi informasi kepada para guru spiritual yang sedang berkunjung mengenai keadaan kesehatan spiritual dan kesejahteraan murid-murid mereka secara keseluruhan.

6)     Mendukung dan membantu para guru spiritual yang sedang berkunjung serta para pengajar yang berkeliling dunia, agar dapat menjangkau murid-murid yang sedang memerlukan dukungan atau orang-orang yang bersedia menerima bantuan mereka.

7)      Memastikan bahwa ada sistem yang adil dalam memberikan rekomendasi diksa, yang berarti tidak memberikan persetujuan terhadap tekanan yang tidak berdasar ataupun manipulasi dari manajemen setempat demi keuntungan-keuntungan manajerial.

 

RINGKASAN

Untuk mendukung perkembangan-penuh kehidupan spiritual para penyembah, Srila Prabhupada telah membuat struktur manajerial ISKCON dengan garis-garis otoritas yang jelas. Setiap anggota ISKCON harus menghormati struktur ini dan belajar untuk berkarya di dalamnya. Tujuan struktur manajerial adalah bersifat spiritual: untuk memfasilitasi kemajuan spiritual anggota-anggota ISKCON melalui pergaulan dengan para penyembah, kesempatan untuk melakukan pelayanan, dan strategi-strategi pengajaran yang efektif. Pada saat yang sama, ISKCON juga menegaskan pentingnya menerima inisiasi dari seorang guru spiritual yang bonafid.

Tentu saja yang paling penting adalah Acarya-Pendiri kita, Srila Prabhupada, yang merupakan guru-diksa bagi banyak penyembah di ISKCON dan guru spiritual utama yang memberikan ajaran-ajaran kepada setiap penyembah, sekarang dan ke depannya. Yang juga penting adalah guru-guru spiritual yang saat ini melakukan pelayanan di ISKCON dengan memberikan inisiasi dan ajaran-ajaran.

Seluruh guru spiritual beserta murid-murid mereka hendaknya menghormati makna penting keberadaan para manajer di dalam perkumpulan kita, yang melakukan pelayanan dengan memberikan tuntunan dan melatih para murid serta mengelola fasilitas-fasilitas yang disediakan ISKCON untuk kemajuan spiritual mereka. Seluruh guru spiritual beserta murid-murid mereka hendaknya bekerjasama dalam lingkup sistem manajerial ISKCON untuk memberikan manfaat secara spiritual bagi diri mereka sendiri serta untuk membantu mengembangkan perkumpulan ini.

Semangat untuk bekerjasama dan saling menghargai ini adalah cara yang terbaik untuk menjaga persatuan dan kesatuan perkumpulan, membuat Srila Prabhupada puas, serta untuk mengembangkan misi sankirtana.

Dalam semangat Sri Caitanya, Srila Prabhupada memiliki keinginan bahwa gerakan sankirtana ini akan tersebar ke seluruh dunia, “di setiap kota dan desa.” Beliau memperlihatkan hal ini melalui perjalanan beliau berkeliling dunia secara terus-menerus, tulisan-tulisan, serta ceramah-ceramah beliau. Srila Prabhupada meminta murid-muridnya untuk membuka pusat-pusat pengajaran di mana-mana, menyebarkan buku-buku beliau, menyelenggarakan festival-festival yang menarik, membagikan prasadam, dan lain sebagainya. Srila Prabhupada ingin agar ISKCON terus berkembang, bangkit sebagai bulan-karunia yang melimpahkan karunia Sri Caitanya.

Untuk tujuan inilah Srila Prabhupada mendirikan ISKCON sebagai sebuah institusi spiritual yang memiliki struktur manajerial. Tujuan struktur ini adalah untuk mempertahankan standar-standar yang telah beliau buat, memberikan perlindungan dan dukungan spiritual bagi para penyembah, serta untuk mendukung dan mengembangkan misi sankirtana. Untuk memuaskan Srila Prabhupada dengan cara membagikan karunia Sri Sri Gaura-Nitai kepada roh-roh yang terikat, setiap orang di dalam ISKCON—para guru spiritual, para murid, serta para manajer—hendaknya berkarya bersama-sama di dalam struktur ini.

Alih Bahasa:

Anantavijaya das

Govinda Vallabha devi dasi

(Departemen Hubungan Internasional SAKKHI)

FILE INI BISA DI DOWNLOAD DI FB BERBENTU PDF.

 LINK:

  1. https://www.facebook.com/groups/iskconindonesia/files/
  2. https://www.facebook.com/pages/Iskcon-Indonesia-Sakkhi-GBC-Approval/168398043180443?sk=messages_inbox&action=read&tid=id.432690490123743
  3. WWW.ISKCONINDONESIA.COM

HARE KRISHNA

MOHON DIBACA, DISIMPAN & DIBAGIKAN KE PENYEMBAH, JANGAN DILETAKAN SEMBARANGAN,

APALAGI DI BUANG!

 

Badan Pengembangan

Teknologi Informasi

dan Komunikasi

SAKKHI PUSAT


[1]  Perbincangan bersama wartawan, Los Angeles, 4 Juni 1976

[2] Perbincangan kamar, 16 Januari, 1977, Calcutta

[3] Srimad Bhagavatam, 5.16.3, penjelasan

[4] “Orang yang bergantung” bukan hanya mereka yang bergantung secara spiritual. Ada kasus-kasus di mana para penyembah juga bergantung secara finansial terhadap otoritas spiritual mereka dan secara finansial diurus oleh struktur yang dibentuk oleh otoritas spiritual mereka.

[5] Surat kepada Sivananda, 2 September 1971

[6] Surat untuk Jaya Govinda, Tittenhurst, 15 Oktober 1969.

[7] Surat untuk: Vasudeva, New Vrindaban, 30 Juni, 1976

[8] Surat untuk Madhusudana, Navadvipa, 2 November 1967

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s