Dialog Tentang Pustaka Veda

…Baca Selengkapnya disini sabahat SAKKHI…

1. Tanya (T) : Apakah arti Veda?
Jawab (J) : Veda berarti pengetahuan. Dan Veda sendiri mendefinisikan pengetahuan sebagai berikut, “kstra-ksetra jnayor jnanam yat taj jnanam, mengerti perbedaan antara badan jasmani (sketra) yang material dan sementara degan sang makhluk hidup (ksetra jnana) yang spiritual abadi, disebut pengetahuan” (Bg. 13.3). Jadi pengetahuan Veda mencakup pengetahuan material dan spiritual.
2. Tanya (T) : Dari mana Veda berasal?
Jawab (J) : Veda berasal dari Tuhan Krishna yang juga disebut Narayana. Hal ini dikatakan sendiri oleh Veda sbb. “brahmaksara samudbhavam, Veda diwejangkan langsung oleh Tuhan” (Bg. 3.15). Veda (Rg. Yajur, Sama dan Atharva-Veda serta Itihasa) keluar dari nafas Tuhan nan mutlak (Brhad-Aranyaka Upanisad 2.10)”. Oleh karena berasal dari Tuhan, maka Veda bersifat mutlak (absolut) dan benar dengan sendirinya (self authoritative), bukan buatan manusia (apauruseya) dan mengatasi hal-hal material (transcendental)
3. Tanya (T) : Kepada siapa Veda pertama kali diwejangkan (diajarkan) oleh Tuhan Krishna?
Jawab (J) : Kepada Dewa Brahma, makhluk hidup pertama yang muncul di alam material. Tentang hal ini, dikatakan, “yo brahmanam vidadhati purvam yo vai vedams ca gapayati sma krsnah, Veda pertama kali disabdakan oleh Tuhan Krishna kepada Brahma sebelum alam material tercipta (Gopala-Tapani-Upanisad 1.24). tene brahma hrda ya adi kavaye, Veda disabdakan oleh Beliau (Tuhan Krishna) kepada Brahma ( melalui suara serulingNya) yang masuk ke hatinya, sehingga ia (Brahma) dikenal sebagai sang Adi-Kavi, sarjana Veda pertama (Bhag. 1.1.1).
4. Tanya (T) : Bagaimana prosesnya sehingga pengetahuan Veda bisa tersebar ke masyarakat manusia?
Jawab (J) : Setelah memperoleh pengetahuan Veda dari Tuhan Krishna, lalu Brahma mengajarkan Veda ini kepada putra-putranya yaitu para Rishi. Selanjutnya para Rishi itu mengajarkan Veda kepada murid-murid (para sisya)nya, dan seterusnya, dan seterusnya. Demikianlah Veda dimengerti secara parampara, proses menurun ( deduktif) melalui garis perguruan spiritual (sampradaya) dari para Acarya ( guru kerohanian) yang hidup sesuai aturan Veda ( perhatikan Bg. 4.2 dan 13.8). dan melalui garis perguruan spiritual yang amat panjang dari para Acarya itu, akhirnya Veda sampai ke masyarakat manusia di Bumi.
5. Tanya (T) : Jadi pengetahuan Veda hanya bisa dimengerti berdasarkan proses deduktif (parampara) melalui garis perguruan (sampradaya) para Acarya yang sah dan jelas, begitu?
Jawab (J) : Ya, inilah tata cara belajar Veda. Seperti halnya bila anda ingin tahu tentang listrik, anda harus belajar dari tukang listrik. Bila anda ingin tahu tentang mesin, anda harus belajar dari seorang mekanik. Begitu pula, bila anda sungguh-sungguh ingin mengerti Veda dan menerapkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, anda harus bergurau kepada seorang Acarya (guru kerohanian) yang hidup berdasarkan ajaran Veda dan memiliki garis perguruan (sampradaya) jelas dan sah.
6. Tanya (T) : Dapatkah anda mengutipkan sloka-sloka Veda yang menyatakan Veda harus dipelajari dari orang yang disebut Acarya atau guru kerohanian?
Jawab (J) : Dalam Bhagavad-gita (4.34) dikatakan, “Pelajarilah kebenaran itu dengan mendekati guru kerohanian. Pariprasnena sevaya, bertanyalah kepadanya dengan tunduk hati dan layani beliau. Guru yang telah insyaf diri seperti itu bisa mengajarkan pengetahuan (Veda) sejati, sebab dia telah memahami kebenaran” (Bg. 4.34). Dalam Svetasvatara – Upanisad (6.23) dikatakan, “Yasya deve para bhaktir yatha deve tatha gurau tasyaite katitha hy arthah prakasante mahatmanah, hanya kepada orang yang memiliki semangat pengabdian (bhakti) penuh kepada Tuhan dan guru kerohanian, pengetahuan Veda secara otomatis bisa dipahami”.Dan dalam Mundaka-Upanisad (1.2.12) dikatakan, “Tad vijnanartham sa gurun evabhigacchet samit panih srotiyam brahma nistham. Jika ingin mempelajari pengetahuan spiritual tentang pengabdian (bhakti) kepada Tuhan, seseorang hendaklah mendekati guru kerohanian yang insyaf diri dan ahli Veda dan mantap dalam pengabdian (bhakti) kepada Tuhan”
7. Tanya (T) : Anda berkata 9 pada dialog 4 dan 6 ) bahwa sang guru kerohanian (Acarya) hidup sesuai aturan Veda, insyaf diri, penguasa (ahli) pengetahuan Veda dan mantap dalam pengabdian (bhakti) kepada Tuhan. Bagaimana cara saya agar tahu bahwa seseorang itu adalah memang guru kerohanian yang berkualifikasi demikian?
Jawab (J) : Ada satu pedoman cross-check untuk mengetahui apakah seseorang itu guru – kerohanian (Acarya) sejati atau tidak yaitu guru-sadhu-sastra. Artinya, apa yang dilakukan / diperbuat/dikatakan/diajarkan oleh sang guru kerohanian harus tercantum dalam sastra (Veda) yakni dibenarkan oleh sloka-slokanya, dan bersesuaian dengan apa yang telah diajarkan/dilakukan oleh para Sadhu (orang suci) yang hidup sebelumnya dimasa lalu. Tentu saja anda hanya bisa menerapkan pedoman cross-check ini dengan benar kalau : A. anda sungguh serius ingin maju dalam jalan spiritual keinsafan diri. B. anda bersikap rendah dan tunduk hati. C. anda telah membaca dan berusaha mengerti isi pustaka suci Veda. D. anda sering bergaul dengan orang-orang yang menekuni jalan kehidupan spiritual bhakti. Dan, e. anda berpola hidup suci.
8. Tanya (T) : Dari kelima persyaratan yang anda sebutkan ini, pada umumnya berpola hidup suci dengan menuruti berbagai pantangan (vrata) sulit dituruti oleh kebanyakan orang. Dapatkah anda menjelaskan secara tingkat pola hidup suci ini?
Jawab (J) : Pertama, seseorang dikatakan berpola hidup suci jika dia hidup berdasarkan prinsip-prinsip dharma yaitu: a. kesucian diri (saucam), b. cinta kasih (daya) kepada semua makhluk, c. kejujuran/kebenaran (satyam), dan d. hidup sederhana (tapasa). Bhag. 1.17.24. Kedua. Berpola hidup suci berarti berkehidupan sattvik yakni hidup dengan mengembangkan sifat alam sattvam (kebaikan). Dikatakan, “sattvam sanjayate jananm, dari sifat alam sattvam berkembanglah pengetahuan” (Bg. 14.17). Dengan kata lain, bila sifat alam sattvam dominan menyelimuti diri seseorang, maka dia bisa mengerti pengetahuan spiritual Veda. Itulah sebabnya Veda menyatakan, “sattvam yad brahma darsanam, kita suci Veda hanya bisa dimengerti dengan mengembangkan sifat alam sattvam” (Bhag. 1.2.24). Singkatnya, berpola hidup suci berarti berpola hidup sattvik.
9. Tanya (T) : Mengapa pola hidup suci ini amat ditekankan dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran Veda?
Jawab (J) : Sebab, tanpa hidup suci, anda tidak akan bisa mengerti hal-hal spiritual yaitu diri anda sendiri sebagai jiwa rohani-abadi dan Tuhan beserta lila (kegiatan rohani) Nya dan segala hal lain yang menyangkut diri Beliau. Tuhan Krishna selamanya berada pada tingkat spiritual. Karena itu, tanpa hidup suci anda tidak akan bisa mengerti Tuhan dan mencapai Beliau pada saat ajal. Hanya dengan berpola hidup suci anda bisa insaf diri dan mengerti Tuhan. Hanya orang yang hidup suci yaitu bebas dari segala macam dosa bisa mengerti Tuhan Krishna. Beliau berkata, “Orang yang mengetahui aku adalah Tuhan penguasa seluruh jagat, yang tidak terlahirkan dan tanpa awal, dia yang tidak dikahyalkan (oleh hal-hal duniawi) sarva-papaih pramucyate, bebas dari segala macam reaksi dosa” (Bg. 10.3).
10. Tanya (T) : Dikatakan bahwa pengetahuan Veda hanya bisa dimengerti melalui proses sabda-pramana yaitu mendengarkan saja uraian / penjelasan Veda dan mempercayainya tanpa argumen. Dapatkah anda menjelaskan tentang hal ini?
Jawab (J) : Dikatakan demikian karena pengetahuan Veda pertama kali disabdakan/diwejangan /diwahyukan oleh Tuhan Krishna kepada dewa Brahma melalui suara serulingNya (lihat dialog No. 3).  Karena itu, Veda disebut sruti, pengetahuan yang didapat dari car amendengar. Brahma hanya berusaha mengingat dan mempercayai sabda Tuhan itu, sehingga dia mampu menciptakan alam semesta materia ini beserta segala makhluk penghuninya. Karena itu, Veda disebut smrti, pengetahuan yang diingat dari cara mendengar. Proses mengerti Veda seperti ini yaitu mendengar (sruti), mengingat (smrti, dan terus mempratekannya dengan penuh keyakinan (sraddha) tetap berlaku sampai pada jaman kali yang disebut abad modern sekarang.  Begitulah, mendengar ajaran Veda dari guru kerohanian (Acarya) lalu mengingatnya didalam hati dan terus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh sraddha (kepercayaan/keyakinan), adalah cara yang benar untuk menjadi orang berpengetahuan. Sebab dikatakan, “Sraddhaval labhate jnanam, dengan mempercayai ajaran Veda, seseorang jadi berpengetahuan. Dan, jnanam labdhva param santim, dengan berpengetahuan spiritual Veda, seseorang mencapai kedamaian (kebahagian) spiritual” (Bg. 4.39).
11 Tanya (T) : Proses deduktif (parampara) secara sabda-pramana seperti yang anda jelaskan dianggap oleh para sarjana duniawi tidak bisa dipercaya. Sebab, kata mereka, proses deduktif ini mengharuskan setiap orang percaya secara membuat, patuh dan tunduk pada dogma, berpegang pada keyakinan tak berdasar atau khayalan. Komentar anda bagaimana?
Jawab (J) : Sesungguhnya proses deduktif sabda-pramana ini sungguh sederhana yaitu mendengar dari sumber yang mengetahui seperti yang dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan dogma, kepercayaan membuat atau khayalan. Misalnya, bila seseorang ingin mengetahui secara pasti dan benar siapa ayahnya, maka ia harus bertanya kepada si Ibu. Dan jawaban si Ibu harus diterima sebagai kebenaran. Begitu pula, untuk mengetahui hal-hal spiritual yang berada diluar jangkauan persepsi indera-indera jasmani kasar dan terbatas. Kita harus mendengar dari Veda melalui guru kerohanian (Acarya). Begitulah, semua penjelasan Veda tentang jiwa (roh), Tuhan (God) dan dunia rohani yang semuanya berhakekat spiritual, harus diterima sebagai kebenaran. Sebab, tidak ada cara lain untuk mengetahuinya.
12 Tanya (T) : Anda berkata (pada dialog no. 6) dengan mengutip sloka Veda (Bg. 4.34) bahwa guru kerohanian (Acarya) harus dihormati dan dilayani dengan sikap rendah hati dan tunduk hati oleh sang murid (sisya). Orang-orang materialistik dan atheistic menganggap persyaratan ini mengarah pada kultus individu, pemujaan guru sebagai manusia amat super dan mewajibkan si murid jadi budaknya. Si guru akan bertindak sewenang-wenang kepada muridnya. Ini, kata mereka, adalah persyaratan yang menyesatkan. Betulkah begitu?
Jawab (J) : Tidak betul! Pertama, guru kerohanian sejati secara amat ketat hidup berdasarkan prinsip-prinsip dharma yang tercantum dalam Veda yaitu: a. kejujuran/kebenaran (satvam), b. kesucian diri (saucam), c. cinta kasih (daya) kepada semua makhluk, dan d. hidup sederhana (tapasa) – Bhag. 1.17.24.Kedua, guru kerohanian sejati sepenuhnya terkendali diri dan senantiasa merasakan kebahagian spiritual dari melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan Krishna. Karena itu, beliau tidak tertarik pada kesenangan material semu dan sementara (maya-sukha) dunia fana (perhatikan Bg. 2.59 dan 5.22). Dengan kata lain, guru kerohanian selamanya berpuas hati dengan kegiatan spiritual pelayanan bhakti kepada Tuhan Krishna dan tidak berkeinginan melakukan kegiatan lain apapun. Ketiga, guru kerohanian sejati bersifat para duhkha-duhkhi, kasihan melihat semua makhluk menderita di alam fana, khususnya para jiva berjasmani manusia. Dan beliau selalu ingin berbagi kebahagian spiritual (braham-sukha) bersama mereka. Dan keempat, guru kerohanian sejati mengajarkan si murid (sisya) apa yang beliau lakukan sendiri. Karena itu, guru kerohanian disebut Acarya, dia yang mengajarkan melalui contoh perbuatan tauladan dirinya.Oleh karena guru kerohanian sejati berkehidupan demikian, maka pasti beliau tidak ingin dipuji sebagai manusia hebat. Dan beliau pasti tidak memperlakukan si murid secara sewenang-wenang sebagai budaknya. Melainkan, beliau memperlakukan si murid dengan penuh kasih dan menginginkan dia hidup bahagia seperti dirinya dalam kesibukan pelayanan bhakti kepada Tuhan Krishna sebagai balasan dari pelayanan si murid yang rendah dan tunduk hati kepada dirinya.
13 Tanya (T) : Sekarang saya ingin mengetahui tentang pustaka suci Veda. Kitab-kitab apa saja yang termasuk / tergolong pustaka suci Veda?
Jawab (J) : Veda menyatakan sebagai berikut, “Rg yajna samatharvas ca baratam pancaratrakan mula-ramayanam caiva Veda ity eva sabditah puranani ca yaniha vaisnavani vido viduh, Rg, Yajur, sama dan atharva – Veda, Mahabharata, Pancaratra dan juga kitab-kitab purana dan vaisnava tergolong pustaka suci Veda” (Bhavisya purana sebagaimana dikutip oleh Madhvacarya dalam ulasannya atas sloka Vedanta-sutra 2.1.6). Disamping keempat Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva Veda). Kitab-kitab Itihasa (Mahabharata dan Ramayana) dan Purana. Veda mencakup pula kitab-kitab Upanisad yang berisi uraian pilosofis tentang Tuhan. Ringkasan seluruh Upanisad adalah Vedanta Sutra.Selain itu semua, Veda juga mencakup Vedanga, Vedanga adalah kitab-kitab penuntun mempelajari Veda dan terdiri dari 6 (enam) cabang pengetahuan yaitu: a. Siksa ( ilmu mengucapkan mantra-mantra Veda). B. Vyakarana (ilmu tata bahasa sansekerta). C. Nirukti (Kamus Veda), d. Canda (lagu/irama/tembang dalam sloka-sloka Veda). e. Jyotisha (ilmu astronomi dan kosmologi Veda) dan f. kalpa (tata cara melaksanakan ritual atau yajna). Sedangkan upa-Veda adalah Veda pelengkap seperti : Ayur Veda (ilmu medis), Dhanur Veda (Ilmu senjata dan perang), Gandharva Veda (ilmu musik dan tari), dsb. Dan sebagai kitab Dharma-sastra (Manu-smrti, Garga-Samhita, Brahama-Samhita, Niti-Sastra, dsb).
14 Tanya (T) : Lalu kitab-kitab apa saja yang disebut / tergolong Veda Sruti dan Veda Smrti?
Jawab (J) : Ada 5 (tiga) sumber pengetahuan Veda yang disebut prasthanatraya  yaitu: a. struti-prasthana mencakup Catur Veda (Rg, Yajur, Sama, dan Atharva Veda) dan kitab-kitab Upanisad. B. Smrti-prasthana mencakup Itihasa (Ramayana dan Mahabharata). Kitab-kitab Purana, Vedanga serta Upa-Veda. dan, c. Nyaya-prastahan yaitu Vedanta-sutra. Dikatakan bahwa Veda Smrti adalah penjelasan Veda Sruti dan Nyaya. Maksudnya untuk bisa mengerti Veda Struti dan Nyaya, seseorang harus ingat uraian Veda Smrti. “Itihasa puranabhyam Veda samupabhrmhayet bibhyetalpa srutad vedo mamayam prahisyati, Veda (sruti) hendaklah dipelajari melalui kitab-kitab Itihasa dan Purana. Pustaka suci Veda takut jika dia dipelajari oleh orang bodoh karena ia merasa sakit seperti dipukul-pukul oleh orang bodoh itu” (Vayu Purana 1.20). Aturan mempelajari Veda Sruti berdasarkan Veda-Smrti tercantum pula dalam Mahabharata (1.267) dan bagian-bagian lain pustaka Veda.
15 Tanya (T) : Tetapi para sarjana dunia berwatak materialistik menyatakan bahwa hanya Catur Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva Veda) tergolong pustaka suci Veda. Mengapa mereka menyatakan begitu?
Jawab (J) : Sebab mereka mempelajari Veda secara empiris induktif atau secara material yakni berdasarkan penelitian / pengamatan dilapangan berupa bukti-bukti fisik yang dapat dilihat mata dan dianalisis secara ilmiah sesuai versi mereka. Begitulah oleh karena menurut mereka cerita-cerita yang tercantum dalam kitab-kitab Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) dan purana tidak bisa dibuktikan pernah terjadi secara empiris, maka mereka berkata bahwa Itihasa dan Purana adalah buku-buku mitos alias dongeng belaka. Dan kitab-kitab Upanisad yang berisi beraneka macam uraian filosofis tentang Tuhan, katanya lanjut, adalah kumpulan karya filosofis para rohaniawan purba. Karena itu, kata mereka menyimpulkan, kitab-kitab Itihasa dan purana bukan bagian dari pustaka Veda. Mereka tidak peduli pada pernyataan Veda, “Itihasa puranah pancamah Veda ucyate, kitab-kitab Itihasa dan purana tergolong Veda kelima (Bhagavata-purana 1.4.20) dan chandogya Upanisad 7.1.4). Itihasa puranam ca pancamo Veda ucyate, kitab-kitab Itihasa dan purana disebut Veda kelima (Mahabharata moksa dharma 3.40.11).
16 Tanya (T) : Namun fakta yang saya lihat mayoritas penganut ajaran Veda berpendapat seperti para sarjana duniawi itu yakni mereka menganggap Veda-smrti (Itihasa dan purana) adalah kumpulan ceritera kiasan (metaphorical story) yang dimaksudkan untuk membimbing manusia agar tidak jadi jahat. Sementara berkeyakinan bahwa ajaran Veda adalah kebenaran, lalu mengapa mereka menganggap uraian kitab-kitab Itihasa dan Purana bukan peristiwa sejarah atau historical event?
Jawab (J) : Sebab mereka tidak sadar dirinya telah dijangkiti oleh paham materialistik para sarjana duniawi. Sehingga mereka bersikap ambivalent yaitu mereka meyakini kebenaran Veda, tetapi pada saat yang sama mereka mengerti kitab-kitab Itihasa dan Purana sebagai kumpulan cerita kiasan, cerita yang tidak sungguh terjadi. Itu yang pertama. Yang kedua, mereka juga tidak dirinya telah dijangkiti filsafat monistik advaita-vadi,  atau advaita-vadi, oleh karena Itihasa dan purana adalah kumpulan cerita kiasan (allegorical story), maka ia harus ditafsirkan agar orang-orang mengerti maksudnya. Begitulah, menurut mereka medan perang Kuruksetra adalah lambang badan jasmani. Selalu terjadi pertentangan antara kehendak berbuat bajik dan kehendak berbuat jahat. Dan sebagainya.
17 Tanya (T) : Mereka menganggap kitab-kitab Itihasa dan purana dalah kumpulan cerita kiasan, ceritera fiktif yang tidak sungguh terjadi. Tetapi kitab-kitab Veda smrti ini penuh dengan uraian tentang lila (kegiatan rohani) Tuhan Krishna beserta para AvataraNya dalam yuga yang berlain-lainan diberbagai tempat (loka / planet) yang berbeda-beda di dalam alam semesta material. Karena itu, jika Itihasa dan purana adalah kumpulan cerita fiktif yang tidak sungguh terjadi, maka itu berarti lila Tuhan Krishna tidak sungguh terjadi, Beliau tidak betul turun ke dunia fana dan mewejangkan Bhagavad-gita dan Bhagavad-gita adalah ajaran khayal, produk angan-angan pikiran sang penulis Veda, Rishi Dvaipayana Vyasa. Bukankah begitu kesimpulannya.
Jawab (J) : Ya, memang begitulah kesimpulannya. Mengangap itihasa (Ramayana dan Mahabharata) dan semua Purana adalah kumpulan cerita kiasan atau fiktif, itu berarti bahwa semua Veda Smrti ini adalah produk angan – angan pikiran sang Penulis Veda yaitu Rishi Vyasa. Karena itu, uraian Veda Smrti tentang Tuhan turun ke dunia fana dan melakukan beraneka macam kegiatan rohani (lila) dimasa lalu dalam yuga yang berlain-lainan di berbagai tempat (loka) di alam semesta material untuk menegakkan dharma dan menghancurkan adharma, harus dianggap omong kosong. Begitu pula, janji Tuhan Krishna, “Yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyuttanam adharmasya tadmanam srjamyaham, kapanpun  dan dimanapun terjadi kemerosotan praktek agama (dharma), o keturunan Bharata, dan praktek non agama (adharma) merajalela, pada saat itu Aku turun ke dunia fana (Bg. 4.7)” juga harus dianggap omong kosong. Singkatnya, menganggap Veda Smrti (Itihasa dan Purana) sebagai kumpulan cerita kiasan atau fiktif sama saja dnegan menganggapknya sebagai ajaran palsu, bohong atau omong kosong.
18 Tanya (T) : Jikalau para penganut ajaran Veda sungguh percaya bahwa Veda adalah kebenaran, semestinya mereka berkata bahwa apapun yang diuraikan / dijelaskan oleh Veda Smrti (Itihasa dan purana) adalah benar, itu fakta yang sungguh terjadi, dan itu adalah sejarah (history), bukan ceritera yang dibuat-buat (story). Tetapi, sebagaimana anda telah menjelaskan pada dialog no. 16, mengapa mereka mau mengikuti  pola pikir para sarana duniawi dan orang-orang mayavadi  yang menyatakan bahwa Veda Smriti adalah kumpulan cerita fiktif atau kiasan dan tidak tidak sungguh  terjadi?
Jawab (J) : Kenyataan yang patut disayangkan ini semata-mata terjadi karena pengaruh buruk jaman kali atau Kaliyuga. Dikatakan, “sa kales tamasa smrta, ketika sifat alam tamas (kegelapan) amat tebal menutupi kesadaran penduduk dunia, maka masa itu disebut Kali yuga” (Bhag. 12.3-30). Ciri utama sifat alam tamas adalah adharmam dharmam iti yah, yang salah dikatakan benar dan yang benar dikatakan salah. Dan, sarvarthan viparitams ca, kegiatan manusia selalu mengarah ke jalur salah / sesat (Bg. 18.32). Begitulah, pendapat salah para sarjana duniawi dan pendapat keliru orang-orang mayavadi bahwa Veda smrti adlaah kumpulan dongeng atau mitors, dianggap kebenaran oleh mayoritas penganut ajaran Veda. Mereka (para penganut ajaran Veda) sendiri tidak sadar dirinya dibimbing ke jalur pemahaman sesat. Dan mereka juga tidak sadar bahwa dengan mengangap Veda smrti adalah dongeng, sraddha (kepercayaan / keyakinan) nya pada kebenaran ajaran Veda jadi hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi sraddha di hatinya. Akibatnya mereka menjadi manusia munafik. Di mulut saja mereka berkata bahwa Veda adalah kebenaran. Tetapi di dalam hati mereka berkeyakinan bahwa semua cerita Veda smrti tidak benar pernah terjadi.
19 Tanya (T) : Bagaimanakah kelak nasib para penganut ajaran Veda yang praktis tidak memiliki sraddha dan berperilaku munafik ini?
Jawab (J) : Nasib mereka setelah ajal sungguh malang. Mereka tidak mencapai Tuhan di dunia rohani dan jatuh lagi ke dalam samudera samsara dunia fana. Dalam hubungan ini Tuhan Krishna berkata, “asraddadhapah purusa dharmasyasya parantapa aprapya mam, orang yang tidak mempercayai ajaran dharma(Veda) ini, tidak akan mencapai diriku (di dunia rohani), tetapi nivartante mrtyu samsara vartmani, ia akan kembali lagi ke jalur kelahiran dan kematian di dunia fana (Bg.9.3)
20 Tanya (T) : Dapatkah saya katakan bahwa para sarjana duniawi tidak mempercayai Veda dan mengangapnya mitos atau dongeng adalah karena dikhayalkan oleh Maya (tenaga material Tuhan Krishna) dengan sifat alam tamas (kegelapan)nya?
Jawab (J) : Ya, tepat sekali. Oleh karena dikhayalkan oleh maya dengan sifat alam tamasnya, maka para sarjana duniawi yang berwatak materialistik dan atheistic selalu berpendapat berlawanan dari apapun yang dikatakan oleh Veda. Begitulah, Veda menyatakan diri berasal dari sumber rohani yaitu Tuhan. Tetapi para sarjana duniawi itu berkata bahwa Veda tidak memiliki asal-usul jelas. Veda menyatakan bahwa ia adalah pengetahuan spiritual yang tidak bisa dipelajari dan dimengerti secara material atau empiris. Tetapi karena bersikeras mempelajari dan mengerti Veda secara empiris. Veda menyatakan bahwa ia hanya bisa dipahami dibawah bimbingan guru kerohanian (Acarya) dengan menuruti pola hidup spiritual (suci). Tetapi mereka berkata bahwa Veda bisa dipahami dari orang – orang akademik tanpa perlu menuruti pola hidup spiritual. Veda bertujuan menuntun manusia mencapai mukti, kelepasan dari derita kehidupan material dunia fana. Tetapi mereka berkata bahwa belajar Veda dengan tujuan (mukti) demikian tidak ilmiah. Dan Veda menyatakan bahwa kitab-kitab Smrti (Itihasa dan purana) adalah sejarah (history) tentang lila (kegiatan rohani) Tuhan bersama para penyembah (bhakti)Nya dalam menciptakan, memelihara dan melebur alam material. Tetapi mereka berkata bahwa Veda smrti bukan sejarah tetapi kumpulan cerita tidak ilmiah yang penuh dengan kejadian-kejadian tidak masuk akal alias mitos atau dongeng. Oleh karena berpendapat berlawanan dari Veda, maka Veda menyebut mereka mayayapahrta-jnana, kaum intelektual yang pengetahuannya telah dicuri oleh maya (perhatikan Bg. 7.15).
21 Tanya (T) : Mereka (yaitu para sarjana duniawi berwatak materialistik dan atheistic) selalu berargumen bahwa dirinya berpegang teguh pada cara-cara ilmiah dalam mencari dan mengungkapkan kebenaran. Dan, katanya lanjut, mereka bekerja secara ilmiah untuk kebenaran itu sendiri. Oleh karena uraian Veda tentang berbagai hal tidak ilmiah, maka menurut mereka kitab-kita smrti (Itihasa dan purana) bukanlah pengetahuan tetapi kumpulan mitos atau dongeng. Komentar anda?
Jawab (J) : Sesungguhnya apa yang mereka sebut ilmiah adalah berpikir seperti kodok. Sang kodok mengerti segala sesuatu berdasarkan kondisi dirinya sendiri dan sumur sempit tempat tinggalnya. Ketika sahabatnya berceritra kepadanya bahwa ada samudera pasifik amat luas beserta makhluk-makhluk akuatiknya yang berukuran super besar, si kodok tidak percaya dan berkata, “apa yang kamu ceritakan hanyalah dongeng belaka”. Begitu pula, para sarjana duniawi mengerti dan mengukur kondisi kehidupan di planet-planet (loka) lain di alam semesta material ini berdasarkan kondisi dirinya sendiri dan suasana bumi tempat tinggalnya. Sehingga ketika membaca uraian Veda tentang makhluk-makhluk humanoid lain (Aditya, Daitya, Danava, Kalakeya, Gandharva, Siddha, dsb) yang secara material jauh lebih super daripada manusia bhumi dan tinggal di berbagai planet (loka) di alam semesta material yang kondisinya jauh lebih indah, lebih mewah dan lebih menyenangkan dan dimensi kehidupannya lebih tinggi dari pada kehidupan di bumi, para sarjana duniawi itu tidak percaya dan berkata,” Apa yang diceritakan oleh Veda Smrti (Purana dan Itihasa) hanyalah dongeng belaka”.
22 Tanya (T) : Anda berkata bahwa orang tidak mempercayai kebenaran Veda Smrti karena ia berpola pikir seperti kodok. Lalu, supaya bisa memahami kebenaran uraian Veda-Smrti, seseorang harus berpola pikir seperti apa?
Jawab (J) : Seseorang harus berpola pikir sebagai manusia waras. Dan manusia waras adalah dia yang mengakui kebenaran pernyataan Veda bahwa setiap manusia dinodai oleh empat cacat permanen yaitu: a. Indera-indera jasmaninya tidak sempurna. c. cenderung berbuat salah. C. cenderung berkhayal, dan d. cenderung menipu (perhatikan CC Adi-lila 7.107). karena fakta-fakta ini, maka orang waras sadar  bahwa dirinya tidak mungkin bisa mengetahui  segala hal dengan ikthiarnya sendiri. Karena itu, dia percaya bahwa pengetahuan Veda yang diwejangkan oleh Tuhan Krishna kepada Dewa Brahma di masa silam (lihat dialog No. 3) adalah sumber segala pengetahuan. Dengan menerima pengetahuan Veda sebagai kebenaran berdasarkan sraddha (keyakinan/kepercayaan) seseorang jadi berpengetahuan. Hal ini telah kita bicara sebelumnya (pada dialog no. 10)
23 Tanya (T) : Tetapi manusia telah mampu menciptakan berbagai peralatan berteknologi canggih, sehingga ia mampu melihat lebih jelas, lebih jauh, lebih mendalam dan lebih rinci. Maka manusia mampu melihat dengan sebenarnya. Atau, dengan peralatan berteknologi canggih seperti itu, manusia mampu melihat kebenaran. Bagaimanakah pendapat anda?
Jawab (J) : Canggih menurut versi orang-orang berwatak materialistik. Secanggih apapun peralatan yang mereka ciptakan, ia tetap alat material yang tidak memungkinkan sang manusia mampu melihat dan mengetahui hakekat sejati suatu obyek yang terletak amat jauh dari tempatnya berdiri. Dan malahan, karena teramat jauh, obyek tersebut tidak terlihat. Karena itu, Veda menyatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh dari pengamatan langsung (pratyaksa) dengan bantuan peralatan material seperti itu adalah tidak sempurna. Sebab ia tidak memungkinkan manusia melihat dengan sebenarnya. Misalnya, dari jarak 1.000 km seseorang melihat gunung itu seperti gambar halus berdiri tegak di ujung (kaki ) langit. Dan dari jarak 10.000 km seseorang tidak bisa melihat bahwa nun jauh disana dihadapannya ada gunung berdiri tegak.
24 Tanya (T) : Bukankah dengan menganalisis tanda-tanda alamiah manusia bisa mengetahui keberadaan, wujud dan hakekat suatu obyek yang tidak bisa dilihat dengan pengamatan langsung?
Jawab (J) : Veda menyebut cara memperoleh pengetahuan seperti ini anumana. Dan dikatakan oleh Veda bahwa cara inipun tidak sempurna. Sebab tanda-tanda ilmiah seperti itu sering kali disalah mengerti. Misalnya, asap kebakaran hutan yang menutupi suatu wilayah dianggap awan hujan. Sebab, dari kejatuhan asap dan awan itu terlihat serupa atau sama karena itu, kesimpulan “Di wilayah itu hujan pasti turun, adalah keliru.
25 Tanya (T) : Jadi menurut Veda pengamatan langsung (pratyaksa) dan analisis tanda-tanda alamiah (anumana) adalah cara-cara tidak sempurna untuk memperoleh pengetahuan. Karena itu, sebagaimana anda telah jelaskan (pada dialog no. 10), cara sempurna memperoleh pengetahuan adalah melalui proses sabda-pramana, mendengar uraian / penjelasan Veda dari guru – kerohanian (Acarya). Tetapi pada jaman kali yang disebut modern sekarang, semua lembaga pendidikan formal berbasis Veda tidak menerapkan proses sabda pramana ini. Para pengajar (guru/dosen) nya mengerti Veda dengan mengutip pendapat para sarjana duniawi yang menganggap Veda Smrti adalah kumpulan mitos atau dongeng. Apa yang anda dan saya harus lakukan agar mereka menyadari kekeliruannya dalam mempelajari dan mengajarkan kitab suci Veda?
Jawab (J) : Kita tidak bisa berbuat banyak untuk menyadarkan mereka sebab, sebagaimana saya telah jelaskan (pada dialog no. 18 ), karena pengaruh buruk Kali Yuga, para guru dan dosen itu menganggap caranya yang keliru dalam mempelajari dan mengajarkan Veda adalah cara yang benar. Yang kita bisa lakukan adalah, pertama, kita sendiri secara pribadi harus menuruti proses sabda-pramana secara deduktif (parampara) dalam garis perguruan (sampradaya) sah dan jelas. Kedua, kita hendaklah berusaha menyebarkan terjemahan kitab-kitab Veda (asli) ke masyarakat. Cuma itu!
26 Tanya (T) : Anda telah menjelaskan (pada dialog no. 13 dan 14 ) tentang bagian-bagian pustaka suci Veda. Sekarang dapatkah anda menjelaskan secara ringkas tentang isi Veda?
Jawab (J) : Secara umum sekali, isi Veda terbagi menjadi 2 (dua ) bagian yaitu : a. Jalan kehidupan material, dan b. jalan kehidupan spiritual. Dikatakan, “pravrttim ca nivrttim ca dvi vidham karma vaidikam, ada dua jalan kehidupan yaitu pravrtti dan nivrtti yang manusia bisa tempuh di dunia fana” (Bhag. 7.15.47). pravrtti marga adalah jalan kehidupan material, memuaskan indera jasmani secara terkendali sesuai aturan Veda agar hidup bahagia di dunia fana. Sedangkan nivrtti marga adalah jalan kehidupan spiritual mengendalikan indera jasmani sesuai aturan Veda untuk kembali pulang ke rumah asal, asli, sejati, alam rohani kebahagiaan abadi, Vaikuntha loka.
27 Tanya (T) : Mengapa isi Veda hanya dibagi menjadi dua bagian utama seperti itu?
Jawab (J) : Sebab dari segi watak, tabiat, sifat dan perilaku, segala makhluk hidup yang tergolong humanoid (Aditya, Daitya, Danava, Kalakeya, Yaksa, Raksasa, Manusia, Gandharva, Siddha, dsb) di bagi kedalam dua golongan yaitu : a. Sura (dewa) berwatak bajik (daivi sampad) dan cenderung pada hal-hal spiritual.  Dan, b. Asura (raksasa) berwatak tidak bajik alias jahat (asuri sampad) dan cenderung pada hal-hal material. Ajaran nivritti marga diperuntukan bagi mereka yang tergolong sura (deva). Sedangkan ajaran nivrtti marga diperuntukkan bagi mereka yang tergolong asura (demon). Nivrtti marga yang dilaksanakan secara sempurna menuntun sang makhluk hidup (jiva) kembali pulang ke dunia rohani Vaikuntha-loka (mukti). Sedangkan pravrtti-marga yang dilaksanakan secara sempurna membuat sang makhluk hidup (jiva) senang di dunia fana dan berangsur-angsur menuntunnya menuruti jalan kehidupan nivritti marga.
28 Tanya (T) : Apa prinsip-prinsip dari kedua jalan kehidupan (marga) ini?
Jawab (J) : Prinsip nivritti marga adalah pelayanan bhakti (cinta – kasih) kepada Tuhan Krishna. Bagian isi Veda yang terkait dengan prinsip bhakti ini masuk dalam kelompok kitab-kitab Aranyaka. Sedangkan prinsip pravrtti marga adalah tri varga atau tri purusartha yaitu: dharma, artha dan kama (perhatikan Bg. 18.34). Maksudnya, harta kekayaan (artha) hendaklah dicari sesuai petunjuk kitab suci (dharma) untuk memuaskan indera jasmani (kama) agar hidup senang di dunia fana. Bagian isi Veda yang terkait dengan prinsip tri-varga ini masuk dalam kelompok kitab-kitab Brahmana.
29 Tanya (T) : Tetapi Veda mengajarkan pula bermacam-macam yoga untuk mencapai Tuhan. Apa hubungan yoga dengan kedua jalan kehidupan (marga) yang anda telah jelaskan?
Jawab (J) : Secara umum Veda mengajarkan 4 (empat) macam yoga yaitu : karma, jnana, dhyana dan bhaktiyoga. Karma, jnana dan dhyanayoga diperuntukkan bagi mereka yang menekuni pravrtti marga. Sedangkan bhakti yoga diperuntukan bagi mereka yang menekuni nivritti marga.
30 Tanya (T) : Mengapa dan apa sebabnya bhakti yoga diperuntukkan bagi orang yang menekuni nivritti marga, sedangkan karma, jnana dan dhyana yoga diperuntukan bagi mereka yang menekuni pravritti marga?
Jawab (J) : Sebab orang-orang yang tergolong sura (deva) dan menekuni nivrtti marga berkesadaran spiritual, sehingga hanya mereka yang mampu menuruti kegiatan spiritual bhakti yoga. Sedangkan mereka yang tergolong asura (demon) dan menekuni pravrtti marga, pada umumnya berkesadaran material sehingga mereka hanya mampu menuruti kegiatan karma, jnana dan dhyana yoga. Kesadaran material orang-orang yang tergolong asura ada t4 (empat) tingkat yaitu (dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi): a. sensual, b. Mental, c. Intelektual, dan d. Egoistik (Perhatikan Bg. 3.42). mereka yang berkesadaran sensual dan mental amat melekat pada kesenangan material dunia fana. Oleh Veda, mereka diberikan ke karma yoga. Mereka yang berkesadaran intelektual tidak puas lagi pada kenikmatan material yang telah dicapainya. Mereka ingin lepas dari segala reaksi (phala) kerja/ kegiatan (karma) yang mengikat di dunia fana. Kepada mereka, Veda memberikan jnana yoga. Sedangkan mereka yang berkesadaran egoistic ingin mengatasi derita dunia fana dengan meningkatkan kemampuan indera-indera jasmaninya melalui pemilikan berbagai macam siddhi (kekuatan mistik alamiah). Kepada mereka, Veda memberikan dhyana yoga.
31 Tanya (T) : Apakah nama bagian-bagian isi Veda yang mengajarkan masing-masing yoga tersebut? Bagaimana prakteknya dan apa obyek pemujaannya?
Jawab (J) : Bagian isi Veda yang mengajarkan karma yoga disebut karma kanda dan tercantum dalam kitab-kitab Catur Veda ( Rg, Yajur, Sama, dan Atharva Veda). Prakteknya berupa pelaksanaan berbagai ritual (yajna) untuk memuji dewa-dewa tertentu dengan tujuan memperoleh berkah material (keselamatan), kemakmuran, kekayaan, kekuasaan, ketenaran, dsb). Bagian isi Veda yang mengajarkan jnanayoga disebut jnana kanda dan tercantum dalam kitab-kitab Upanisad. Prakteknya berupa diskusi pilosofi tentang Tuhan dan menginsafi Beliau dalam aspek impersonalNya sebagai Brahman. Bagian isi Veda yang mengajarkan Dhyana yoga disebut jnana Kandapula dan tercantum dalam kitab-kitab Upanisad. Prakteknya berupa pemusatan pikiran (meditasi)kepada Tuhan dalam aspeknya sebagai Paramatma yang bersemayam di dalam hati. Sedangkan bagian isi Veda yang mengajarkan bhakti yoga disebut Upasana-kanda dan tercantum dalam kitab-kitab Vedanta, Itihasa, Purana dan berbagai kitab Dharma Sastra. Prakteknya berupa pemujaan Arca Vigraha Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavan).
32 Tanya (T) : Anda menyebutkan (pada dialog no. 30) tentang orang-orang yang tergolong sura berkesadaran spiritual dan mereka yang tergolong asura berkesadaran material. Dapatkah dijelaskan secara singkat tentang kesadaran spiritual dan kesadaran material ini?
Jawab (J) : Seseorang dikatakan berkesadaran spiritual dan berada pada tingkat spiritual jika dia telah bebas dari jerat maya (tenaga material Tuhan Krishna) nan halus yaitu tri-guna, tiga sifat alam material  sattvam (kebaikan), rajas (nafsu), dan tamas (kebodohan) dengan selalu menyibukkan diri secara khusuk dalam kegaitna pelayanan bhakti kepada Tuhan Krishna (lihat Bg. 14.26). Dan dalam kehidupan sehari-hari, dia berpegang teguh pad aprinsip-prinsip dharma (Bhag. 1.17.24) yaitu a. saucam (kesucian diri), b. satyam (kejujuran). c. daya ) cinta kasih kepada semua makhluk), dan d. tapasa (hidup sederhana). Orang yang sudah berada pada tingkat spiritual dikatakan berada pada tingkat visuddha sattvam dan disebut brahma-bhuta (perhatikan Bg. 18.54)Sedangkan seseorang dikatakan berkesadarna material jika dia masih diikat oleh jerat maya nan halus yaitu tri guna. Sebab, dia masih sibuk dalam beraneka ragam macam-macam pamrih memuaskan indera jasmaninya dalam ikhtiarnya agar hidup bahagia di dunia fana. Dan dalam kehidupan sehari-hari, pada umumnya dia terlibat dalam kegiatan adharma (Bhag. 1.17.38) yaitu a. berjudi dengan beragam cara (dyutam. B. berzinah (striyah). c. melakukan tindak kekerasan (sunah), dan d. mabuk-mabukan (panam). Dia dikatakan berada pada tingkat material dan disebut jiva-bhuta (lihat Bg. 7.5)
33 Tanya (T) : Kembali pada soal yoga. Anda telah menjelaskan  ( pada dialog no. 31 ) tentang ke-empat yoga  ( karma, jnana, dhyana, dan bhakti) beserta ajarannya yang tercantum dalam Veda  . Dapatkan dijelaskan nama praktisi (pelaku) nya, tujuan yang dicapai dan nasib praktisinya setelah tujuan dicapai?
Jawab (J) : Praktisi karma yoga disebut karmi .setelah ajal sang karmi mencapai alam sorgawi. Tetapi setelah hasil (pahala) kegiatan bajik (subha karma) nya habis dinikmati di svarga loka, dia (sebagai jiva rohani abadi ) kembali lahir ke bumi  (perhatikan Bg. 9.21 ). Praktisi jnana yoga disebut jnani. Setelah ajal, sang jnani bersatu dengan aspek impersonal Tuhan yaitu Brahman. Tetapi setelah tinggal dalam Brahman (yang tidak lain cahaya pribadi Tuhan) beberapa lama, sang jnani (sebagai jiva rohani abadi ) jatuh lagi ke dunia fana karena keinsafannya tidak lengkap tentang tuhan (perhatikan Bhag. 10.2.32). Praktisi dhyana yoga disebut yogi .dengan bermeditasi pada aspek setempat Tuhan sebagai paramatma, sang yogi memiliki berbagai siddhi (kemampuan indera – indera jasmaninya secara ajaib sehingga mampu menikmati secara lebih super di dunia fana. Tetapi setelah ajal, sang yogi tidak bisa mencapai dunia rohani. Praktisi bhakti yoga disebut bhakti. Setelah ajal sang bhakti kembali pulang kedunia rohani dan terus tinggal disana selamanya dalam hubungan cinta kasih (bhakti ) timbal balik dengan tuhan Krishna dia hanya ingat beliau sehingga berkualifikasi mencapai dunia rohani( perhatikan Bg. 8.5, dan lihat pula  Bg. 7.1,8.7-8, 8.10.8.13-14,9.22, 12.8 dan 14,dan 18.65 )
34 Tanya (T) : Tetapi pemahaman umum di masyarakat penganut ajaran Veda tentang ke-empat yoga ini tidak seperti yang anda jelaskan. Mayoritas penganut ajaran Veda berkata bahwa setiap sistem yoga menuntun sang praktisi mencapai tuhan. Bagaimana tanggapan anda ?
Jawab (J) : Pemahaman umum seperti itu adalah kekeliruan. Yoga adalah suatu sistem jalan kerohanian bertahap / bertingkat. Sehingga sistem yoga ini disebut tangga – yoga, yang memiliki 4 (empat ) pijakan yaitu (dari bawah keatas) : karma, jnana, dhyana dan bhakti. Dikatakan “Aruruksor muner yogam karma karanam ucyate, bagi orang yang baru mulai menuruti jalan rohani (yoga) ini, karma dikatakan sebagai caranya. Yogaruddhasya tasyaiva samah karanam ucyate, bagi orang yang telah mencapai puncak yoga, menghentikan kegiatan materialistik pamerih  ( yaitu dengan pelayanan bhakti kepada tuhan ) dikatakan sebagai caranya” ( Bg. 6.3 )Bhakti adalah pijakan terakhir/ tertinggi tangga – yoga. Sebab, hanya dengan bhakti seseorang bisa mengerti dan mencapai tuhan Sri Krishna. Hal ini dikatakan berulang kali oleh Beliau, “bhaktya tu ananyaya sakya aham eva vidho’rjuna, wahai Arjuna. Aku hanya bisa dimengerti / dicapai dengan cinta-kasih (bhakti) nan tulus (Bg. 11.54). bhaktya mam abhijanati yavan yas casmitativatah tato mam  tattvato jnatva visate tad-anantaram, seseorang bisa mengerti  Aku sebagai Tuhan YME dengan cinta kasih (bhakti) kepadaKu. Dan bila dia telah menginsafi hakekat diriKu demikian dengan bhakti,…….perhatikan pula Bg. 4.3, 8.22, 9.34, 13-19, 18.65 dan 18.67-68. Lihat pula Bg. 7.17, 8.10, 9.29 dan 12.14-20. Dan Tuhan Krishna menyatakan bahwa dirinya tidak bisa dimengerti dan dicapai dengan proses karma, jnana dan dhyana. Beliau berkata, “Naham vedair na tapasa na danena na cejyaya, wujudKu yang spiritual ini tidak bisa dimengerti dengan belajar Veda (jnana), dengan melakukan pertapaan keras (dhyana), dengan banyak bersedekah dan sembahyang (karma)” – Bg. 11.53)
35 Tanya (T) : Jadi yoga adalah jalan kerohanian bertahap / bertingkat. Mengapa yoga ini dibuat/diciptakan bertahap/bertingkat seperti itu?
Jawab (J) : Sebab kesadaran sang manusia berbeda-beda yakni bertingkat sesuai dengan kadar unsur-unsur tri-guna (tiga sifat alam material) yang dominan menyelimuti dirinya. Begitulah, ada orang yang berkesadaran rendah alias amat tidak insyaf diri karena dirinya begitu tebal diliputi sifat alam tamas (ketidak-tahuan/kegelapan). Baginya disediakan jalan kerohanian karma atau karma yoga. Ada orang yang berkesadaran lebih tinggi alias mulai insaf diri karena dirinya diliputi sifat alam rajas (kenafsuan) dan sedikit sattvam (kebaikan. Baginya disediakan jalan kerohanian jnana atau jnana yoga. Ada orang yang berkesadaran lebih tinggi alias cukup insaf diri karena dirinya diliputi sedikit sifat rajas (kenafsuan) dan banyak sifat sattvam (kebaikan). Baginya disediakan jalan kerohanian dhyana atau dhyanayoga. Dan ada orang yang dirinya dominan diliputi sifat sattvam (kebaikan) sehingga sangat insaf diri. Baginya disediakan jalan kerohanian bhakti atau bhakti yoga. Itulah sebabnya yoga dikatakan sebagai satu tangga spiritual yang memiliki empat pijakan untuk mencapai Tuhan (perhatikan Bg. 6.3-4).
36 Tanya (T) : Anda mengutip sloka-sloka Bhagavad-gita untuk membenarkan penjelasan dan jawaban yang anda berikan. Bukankah dalam Bhagavad-gita (4.11) dikatakan jalan kerohanian atau yoga apapun yang seseorang tekuni, itu akan menuntunnya mencapai Tuhan?
Jawab (J) : Sloka Bg. 4.11 ini paling sering dikutip oleh penganut ajaran Veda untuk membenarkan praktek spiritual (yoga) berbeda-beda yang ditekuninya. Sloka ini diterjemahkan sebagai berikut. “Dengan jalan apapun orang memujaKu, pada jalan yang sama Aku memenuhi keinginannya, oh Partha, karena pada semua jalan yang ditempuh mereka, semua adalah jalanku”. Mereka tidak peduli pada kata “prapadyante, berserah diri” dalam sloka ini. Makna sebenarnya sloka ini adalah sbb. “ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bhajami aham,  sesuai dengan tingkat penyerahan diri setiap orang kepadaku, Aku berikan balasan sepadan”. Jadi sloka ini sesungguhnya hanya terkait dengan jalan kerohanian bhakti. Sebab, hanya orang yang mencintai Tuhan (yaitu bhaktaNya) bisa dan mau berserah diri kepada Nya. Selanjutnya, “Mamavartmanuvartante manusyah partha sarvasah, semua orang menuruti jalanku dalam segala hal, wahai putra Prtha” maksudnya, jalan kerohanian (yoga) apapun yang telah diberikan oleh Tuhan pasti diikuti oleh semua orang menurut tingkat kesadarannya sesuai dengan kadar unsur-unsur yang dominan menyelimuti dirinya.
37 Tanya (T) : Apa yang anda maksud, “Orang mengikuti jalan kerohanian tertentu menurut tingkat kesadarannya sesuai dengan kadar unsur-unsur tri-guna yang dominan menyelimuti dirinya”?
Jawab (J) : Maksudnya begini. Orang yangamat melekat pada kesenangan duniawi karena dirinya didominasi sifat alam tamas (kegelapan), pasti mengikuti jalan karma dengan memuji para dewa untuk mendapatkan berkah material. Dia disebut karmi, orang yang tidak puas pada kenikamatan duniawi karena dirinya didominasi sifat rajas (kenafsuan) dan sedikit sifat sattwam (kebaikan), pasti mengikuti jalan jnana agar bebas dari reaksi (phala) kegiatan (karma) yang mengikat dan menyengsarakan di dunia fana dengan menginsafi aspek impersonal Tuhan sebagai Brahman. Dia disebut jnani. Orang yang diliputi sedikit sifat rajas (kenafsuan) dana banyak sifat sattvam (kebaikan,), ingin mendekatkan diri kepada Tuhan yang bersemayam di hatinya sebagai paramatma agar bisa mengatasi derita dunia fana dengan memiliki berbagai kekuatan mistik alamiah (sidhi). Maka dia pasti mengikuti jalan dhyana (meditasi ) dan disebut yogi. Sedangkan orang yang dominan diliputi sifat sattvam (kebaikan) bosan dengan kerja keras mengejar kesenangan duniawi, perdebatan filosofis tentang Tuhan impersonal (Brahman) dan bosan dengan pemilikan berbagai macam siddhi yang tidak sungguh-sungguh membahagiakan, pasti ingin berhubungan langsung dengan Tuhan dalam pelayanan cinta kasih KepadaNya. Maka dia pasti mengikuti jalan bhakti dan disebut bhakta. Itula yang saya maksud dengan “Orang mengikuti jalan kerohanian (yoga) tertentu menurut tingkat kesadarannya sesuai dengan akar unsur-unsur triguna yang dominan menyelimuti dirinya”. Dalam hubungan ini, lihat pula dialog no. 30, 31, 33 dan 35.
38 Tanya (T) : Mayoritas penganut ajaran Veda di masyarakat kita berkata bahwa yajna (ritual) yang mereka warisi dari leluhur dan dilaksanakan secara periodik dengan biaya besar dan sesajen rumit adalah untuk memuji Tuhan berdasarkan rasa Bhakti. Apakah ritual ini memang satu bentuk dan praktek jalan kerohanian bhakti?
Jawab (J) : Tidak, ritual (yajna) demikian tergolong karma yoga. Sebab pertama, ritual demikian dilaksanakan secara pamrih yakni untuk mendapatkan berkah material berupa rejeki lebih banyak, kselamatan, kesejahteraan atau kemakmuran dsb. Kedua, mereka tidak sadar dirinya dijangkiti filsafat advaita-vadi, sehingga menganggap dewa atau makhluk halus tertentu yang dipuji dan mintai berkah adalah Tuhan. Ketika, nama dewa yang mereka puja kerapkali tidak ada disebutkan dalam Veda. Keempat, sudah umum bahwa ritual yang dilaksanakan itu mengandung himsakarma, penyembelihan hewan yang telah dilarang oleh Veda untuk dilaksanakan pada jaman Kali sekarang (Brahma-vaivarta purana Krsna -kanda 115.112-113) karena ketiga alasan terakhir, maka yajna (ritual) demikian tergolong karmayoga yang sudah terdistorsi.
39 Tanya (T) : Sementara itu, hampir disetiap kota besar ada “yoga centre” yang mempromosikan bahwa dengan mempraktekkan yoga, kesehatan dan stamina tubuh bisa ditingkatkan. Tubuh jadi awet muda, dan orang bisa lebih menikmati hidup bahagia berkeluarga dalam hubungan suami-isteri. Bagaimana pendapat anda terhadap fakta ini?
Jawab (J) : Semua yang dipromosikan itu bukan tujuan yoga, tetapi manfaat sampingan (by product) dari yoga. Tujuan sejati yoga dijelaskan oleh Veda sbb. “Siddhy-asiddhyah samo bhutva samatvam yoga ucyate, praktek yoga dimaksudkan agar manusia tidak digoyahkan oleh kegelapan dan keberhasilan hidup di dunia fana (Bg. 2.48). Yoga karmasu kausalam, praktek yoga dimaksudkan untuk mensucikan diri (jiva) untuk bisa kembali pulang ke dunia rohani (Bg. 5.7). jika manfaat/hasil sampingan yoga yang dipromosikan itu dijadikan tujuan hidup, maka anda akan terus terperangkap dalam lingkaran samsara dunia fana yaitu kelahiran (janma), usia-tua (jara), penyakit (byadhi) dan kematian (mrtyu)
40 Tanya (T) : Sejauh ini anda hanya menyebutkan 4 (empat) macam jalan kerohanian…………..dan bhakti yoga. Bagaimana tentang rajayoga dan hatayoga yang dipraktekkan oleh orang-orang tertentu?
Jawab (J) : Istilah raja yoga tercantum dalam Bab IX Bhagavad-gita. Lengkapnya adalah raja vidya-raja guhyayoga yang berarti ilmu pengetahuan yang paling utama/paling tinggi dan paling rahasia tentang Tuhan (Bhagavan) dalam hubungannya dengan makhluk hidup (jiva) dan alam material (prakrti). Dan pengetahuan paling tinggi dan paling rahasia ini adalah pengetahuan tentang bhakti. Sebab, Tuhan Krishna menyimpulkan Bab IX ini dengan berkata, “man mana bhava mad-bhaktah, senantiasalah berpikir tentang diriKu dan jadilah bhaktaKu” (Bg.9.34). jadi praktek Raja vidya-raja guhya-yoga ini adalah bhakti yoga. Sedangkan hata yoga berupa kegiatan mempraktekkan bermacam-macam posisi tubuh (asana) yang nampak seperti kegiatan senam jasmani untuk mengendalikan indera-indera jasmani agar badan sehat, pikiran tenang dan damai, tergolong karma yoga.
41 Tanya (T) : Ada lagi jalan kerohanian yang disebut astanga yoga. Dapatkah anda sedikit menjelaskannya?
Jawab (J) : Astanga yoga berarti jalan kerohanian yang memiliki 6 (enam) tahapan praktek yaitu: asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana dan Samadhi. Secara umum prakteknya berupa pengaturan posisi tubuh dan pernapasan sehingga pikiran terkendali dan terpusat kepada Tuhan yang bersemayam di dalam hati yaitu paramatma. Karena itu, astanga yoga adalah istilah lain dari dhyana yoga. Sebab dikatakan, “dhyana vasthita tad gatena manasa sada pasyanti yam yoginah, dengan memusatkan pikiran sang yogi (rohaniawan) senantiasa melihat Tuhan bersemayam didalam hatinya” (Bhag. 12.3.1).
42. Tanya (T) : Saya bingung mendengar bermacam-madam istilah dan nama yoga. Sekarang saya tanya, apakah ada punya kriteria untuk menentukan bahwa praktek yoga tertentu yang dilakukan oleh seseorang tergolong karma, jnana, dhyana ataukah bhakti yoga?
Jawab (J) : Ya, kriterianya adalah sebagai berikut. A. jika kegiatan (badan, pikiran dan kata-kata) itu semata-mata dimaksudkan untuk meningkatkan standar kehidupan material supaya lebih baik dan lebih menyenangkan dengan lahir di alam surgawi (svarga-loka) sesesuai petunjuk Veda, maka kegiatan keagamaan demikian disebut karma yoga. b. jika kegiatan badan , pikiran dan kata-kata ) dilandasi oleh pengetahuan Veda dengan tujuan agar bebas dari akibat (phala) kerja (karma) yang mengikat dui dunia fana, maka kegiatan keagamaan demikian disebut jnanayoga. c. jika kegiatan (badan, pikiran dan kata-kata ) dilandasi oleh keinginan meningkatkan kemampuan indera-indera dan pikiran agar bisa mengatasi derita dunia fana dan menikmati secara lebih super dimana saja di alam material melalui pemilikan berbagai kekuatan mistik alamiah (sidhi) dengan memusatkan pikiran kepada Tuhan (dalam aspeknya sebagai paramatma) sesuai aturan Veda, maka kegiatan keagamaan demikian disebut dhyana yoga,  d. jika kegiatan (badan, pikiran dan kata-kata ) semata-mata dilandasi oleh keinginan menyenangkan Kepribadian Tuhan YME (Bhagavan) dengan menyibukkan seluruh indera badan jasmani dalam pelayanan berdasarkan cinta kasih kepadaNya  sesuai petunjuk Veda, maka kegiatan keagamaan demikian menjadi spiritual dan disebut bhakti yoga. Keempat kreteria ini bersifat sangat umum.
43 Tanya (T) : Kembali pada asal usul Veda. Anda berkata (pada dialog No. 3) bahwa Veda pertama kali diwejangkan oleh Tuhan Narayana (Krishna) kepada dewa Brahma. Kapankah itu terjadi?
Jawab (J) : Menurut Veda, Brahma hidup selama 100 tahun. 1 hari Brahma disebut 1 kalpa yang lamanya 1.000 x catur yuga, atau 1.000 x 4.320.000 tahun. = 4.320.000.000 tahun Bhumi. Jadi 100 tahun Brahma adalah 100 x 4.320.000.000 x 360 x 2 = 311.040.000.000.000 tahun bumi. Dikatakan bahwa 50 tahun pertama usia Brahma sudah lewat. Kini Brahma berada pada hari pertama dari 50 tahun. Usianya yang kedua dan disebut Vraha kalpa. Dalam 1 hari ( kalpa) Brahma memerintah 14 Manu secara bergantian. Karena itu, jangka waktu pemerintahan setiap Manu adalah 1.000 catur yuga : 14 = 71 catur yuga (dibulatkan) atau, 4.320.000.000 : 14 =  308.571.429 tahun bumi. Menurut Veda, saat ini kita hidup dalam masa pemerintahan Manu ke tujuh yaitu Vaisvasvata Manu dalam putaran Catur yuga yang ke 28. Sementara itu, sebelum menciptakan dunia fana ini, Brahma melakukan pertapaan keras selama 1.000 tahun dewa atau 360.000 tahun Bhumi untuk memperoleh pengetahuan Veda dari Tuhan Narayana (Krishna). Karena itu, Veda diwejangkan oleh Tuhan Krishna kepada dewa Brahma dimasa lampau kira – kira ( 311.040.000.000.000 : 2) + ( 6 x 308.571.429 ) + (27 x 4.320.000 ) -360.000 = 155.521.967.708.574 atau sekitar 155.5 billiun tahun yang lalu.
44 Tanya (T) : Kedengarannya amat fantastik. Jadi menurut perhitungan yang anda berikan berdasarkan penjelasan Veda, itu berarti kitab suci Veda sudah ada di alam material ini paling tidak sejak 155.5 billiun tahun yang lalu, apakah begitu?
Jawab (J) : Ya, Secara umum dapat dikatakan begitu. Tetapi sesungguhnya Veda sudah ada jauh sebelum alam semesta material ini tercipta yakni Veda ada pada Tuhan Krishna yang juga disebut Sri Visnu atau Narayana; seperti halnya buku pedoman (pengetahuan) tentang TV sudah ada sebelum TV dibuat. Begitulah, dengan memanfaatkan pengetahuan Veda yang diberikan oleh Tuhan Krishna, Deva Brahma kemudian menciptakan alam material atau dunia fana ini beserta segala makhluk penghuninya billiunan tahun yang lalu.
45 Tanya (T) : Itu berarti menurut Veda kehidupan beradab sudah ada di alam material ini paling tidak sejak 150 billiun tahun yang lalu. Apakah penjelasan Veda yang anda berikan ini dapat dibuktikan benar secara empiris atau secara material?
Jawab (J) : Ya, penjelasan Veda yang saya telah berikan dapat dibuktikan benar secara empiris berdasarkan peninggalan-peninggalan peradaban purba yang ditemukan diberbagai tempat di muka bumi. Misalnya, sebutir paku yang tertancap pada batu padas dan ditemukan di Kingoodie Scotlandi tahun 1844 diperkirakan berusia 360 juta tahun. Vas bunga yang ditemukan di Dochester Masachusset USA tahun 1852 diperkirakan berusia 600 juta tahun. Fosil tapak sepatu yang ditemukan tahun 1968 di Antelope Spring USA diperkirakan berusia 590 juta tahun. Di tahun 1989 dilaporkan bola besi beralur ditemukan di Ottosdal Afrika Selatan yang diperkirakan berusia 2.8 billiun tahun. Dan sebagainya. Tentang hal ini, kita akan bicarakan pada dialog tentang Kala (waktu).
46 Tanya (T) : Anda berkata (pada dialog no. 10) bahwa pengetahuan Veda disampaikan secara lisan melalui proses mendengar, sehingga Veda disebut Sruti (pengetahuan yang didengar) dan Smrti (pengetahuan yang diingat dari mendengar). Jadi dalam belajar Veda tidak ada catat-mencatat dalam buku. Lalu bagaimana mungkin seseorang bisa ingat begitu banyak hal yang telah didengarnya tanpa melihat buku catatan?
Jawab (J) : Belajar dan mengajar Veda melalui proses mendengar dan mengingat terlaksana pada masa Satya, Treta dan Dvapara Yuga ketika lembaga Varnasrama dharma masih tegak dan utuh dimasyarakat manusia. Artinya, pada masa ketiga yuga tersebut banyak hidup rohaniawan (brahmana, rishi, kavi, pandita, tapasvi, sadhu, yogi dsb) berhati suci, sehingga dengan mendengar ajaran Veda sekali saja dari guru kerohanian (acarya), mereka mampu mengingatnya secara utuh, lengkap dan sempurna dan kemudian mengajarkan kepada orang lain. Begitulah, tradisi belajar Veda berlangsung secara turun-temurun (parampara) dalam berbagai garis perguruan spiritual (sampradaya). Tetapi, begitu Kali yuga (yang disebut jaman modern sekarang) mulai, kalena balino nansyati ayuh balam smrtih, usia, kekuatan fisik dan ingatan manusia menjadi amat merosot (Bhag. 12.2.1). karena itu, menjelang Kali yuga mulai inkarnasi Tuhan Narayana dibidang sastra yaitu Rishi Dvaipayana Vyasa menyusun dan menyajikan Veda secara tertulis dengan maksud agar orang-orang Kali yuga bisa mempelajari Veda dan mengerti tujuan hidupnya sejati sebagai makhluk manusia.
47 Tanya (T) : Salah satu alasan para sarjana duniawi mengatakan bahwa Veda Smrti (Itihasa dan Purana) adalah mitos alias dongeng adalah karena uraiannya tidak sistematik dan tidak kronologis. Apakah betul begitu ?
Jawab (J) : Dari segi akademik memang tidak sistematik dan tidak kronologis. Sebab, tujuan Veda bukan menguraikan sejarah alam semesta material secara rinci dan kronologis. Tetapi tujuan Veda adalah agar umat manusia mengetahui dan mengerti Tuhan (perhatikan BG.15.15) dan kembali membina hubungan cinta kasih (bhakti) yang telah terputus denganNya (lihat Bg. 9.34 dan 18.65).  Karena itu, Veda hanya menguraikan lila (kegiatan rohani) Tuhan secara ringkas bersama para bhaktaNya dalam yuga dan manvantara yang berbeda-beda dan pada loka (planet) yang berlain-lainan (perhatikan (Bhag. 2.10.5).
48 Tanya (T) : Anda telah menjelaskan (pada dialog no. 31 dan 35) bahwa sesuai dengan tingkat kesadaran sang manusia yang ditentukan oleh kadar unsur-unsur tri guna yang menyelimuti dirinya, maka ada tiga bagian isi Veda (karmakanda, jnanakanda dan upasana-kanda) dan ada empat jalan kerohanian atau yoga (karma yoga, jnana yoga, dhyana yoga dan bhakti yoga). Apakah kitab-kitab purana juga dikelompokkan berdasarkan unsur-unsur tri guna?
Jawab (J) : Ya. Menurut Brahma vaivarta purana, ke 18 purana utama dikelompokkan menjadi: sattvika purana ( Bhagavata purana, Visnu purana, naradiya purana, padma purana, garuda purana dan varaha purana). Rajasika purana (Brahmanda Purana, Brahma Vaivarta Purana, Markandeya Purana, Vamana Purana, Brahma Purana Dan Bhavisya Purana) dan Tamasika purana ( Siva Purana, Linga Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Skanda Purana Dan Agni Purana). Pada umumnya Sattvika purana mengagungkan Sri Krishna yang juga disebut Visnu atau Narayana. Rajasika purana mengagungkan dewa Brahma. Sedangkan Tamasika purana mengagungkan Siwa yang juga disebut Rudta atau Mahadeva. Dan topik yang dibicarakan dalam setiap purana pada umumnya menyangkut hal – hal berikut: a. penciptaan awal (sarga). b. penciptaan kedua (visarga). c. sejarah para Rishi dan leluhur yang menurunkan penduduk (vamsa). d. pemerintahan para Manu (Manvantara). Dan e. Para penguasa Negara (raja) yang akan memerintah di masa depan (vamsanucarita )
49 Tanya (T) : Apakah dengan membaca / mempelajari salah satu dari semua purana tersebut saya bisa tertuntun ke tingkat spiritual dan mengerti Tuhan>
Jawab (J) : Belum tentu. Saya telah kutip (pada dialog no. 8) pernyataan Veda,: Sattvam yad braham darsanam, kitab suci Veda hanya bisa dimengerti dengan mengembangkan sifat alam sattvam, kebaikan “ (Bhag. 1.2.24). selanjutnya Veda memerintahkan kita, “Nistraigunya bhava, atasi ketiga sifat alam material (tri guna) ini agar tertuntun ke tingkat spiritual” (Bg.2.45). Ini berarti anda hanya bisa tertuntun ke tingkat spiritual” (Bg. 2.45). ini berarti anda hanya bisa tertuntun ke tingkat spiritual jika membaca / mempelajari Purana-purana yang tergolong sattvika Purana. Sebab, sifat alam sattvam (kebaikan) adalah batu loncatan terakhir untuk mencapai Visuddha sattvam, tingkat spiritual untuk bisa mengerti Tuhan (perhatikan Bg. 14.19). Karena itu, setelah membaca puranapurana tamasik, anda harus meningkatkan diri dengan membaca puranapurana rajasik. Selanjutnya, anda harus membaca puranapurana sattvik agar bisa tertuntun ke tingkat spiritual. Dan dari keenam sattvika purana, Bhagavata Purana yang lebih dikenal dengan Srimad Bhagavatam adalah satu-satunya purana yang berada pada tingkat spiritual visuddhasattvam. Begitulah, dengan mempelajari Srimad Bhagavatam dibawah bimbingan guru kerohanian (Acarya) sesuai aturan Veda, anda harus bisa mengerti Tuhan.
50 Tanya (T) : Dapatkah anda menjelaskan mengapa semua purana tamasik mengagungkan Siva, purana rajasik mengagungkan Brahma dan purana sattvik mengagungkan Visnu?
Jawab (J) : Sebab personifikasi ketiga sifat alam tersebut yaitu tamas (kegelapan), rajas (nafsu) dan sattvam (kebaikan) adalah Siva, Brahma dan Visnu. Artinya Siva adalah pengendali tamas, Brahma adalah pengendali rajas dan Vishnu adalah pengendali sattvam, dan ketiganya disebut Guna Avatara (Bhag. 1.2.23).Lebih lanjut, Veda (Bg. 17.4) menyatakan, “pretan bhuta-ganams canye yajnante tamasa janah, orang-orang yang dominan diliputi sifat alam tamas memuji hantu dan makhluk halus. Pemimpin/penguasa segala hantu dan makhluk halus adalah Siva sehingga nama lain beliau adalah Bhutanatha atau Bhutapati. Karena itu, bagi mereka yang berwatak tamasik disediakan puranapurana tamasik untuk mengagungkan Siva yang juga disebut Rudra atau Mahadewa. Terus, yaksa –raksamsi rajasah, mereka yang dominan diliputi sifat alam rajas memuji para asura (demon) yang berkeinginan menjadi penguasa / pemimpin di dunia fana. Dan di dunia fana, Brahma dianggap sebagai pemimpin / penguasa tertinggi, sebab beliau adalah pencipta seluruh alam material beserta segala makhluk penghuninya. Karena itu, bagi mereka yang bertabiat rajasik disediakan puranapurana rajasik untuk mengagungkan Brahma yang juga disebut Virinci. Dan, yajante sattvika devam, mereka yang dominan diliputi sifat alam sattvam (kebaikan), memuji para deva (sura). Dikatakan, “visnubhakta smrta daiva, para deva itu adalah bhakti (pesuruh/pelayan) Sri Visnu” (Padma purana, dikutip dalam CC Adi-lila 3.910). Karena itu, bagi mereka yang berwatak sattvik, disediakan puranapurana sattvik untuk mengagungkan junjungan para deva yaitu Sri Visnu yang juga disebut Krishna atau Narayana.
51 Tanya (T) : Siva, Brahma dan Visnu adalah Guna Avatara. Ini berarti mereka adalah tiga inkarnasi Tuhan pengendali tri guna. Pemahaman saya adalah ketiga guna avatara ini adalah Tuhan dalam wujud berbeda. Lalu mengapa Veda menyatakan (sebagaimana anda kutip pada dialog no. 49) bahwa Tuhan hanya bisa dimengerti dengan membaca / mempelajari puranapurana yang tergolong Sattvika purana?
Jawab (J) : Sloka tentang guna avatara (Bhag. 1.2.23) yang telah saya kutip, lengkapnya sebagai berikut: “Sattvam rajah tamah iti prakrter guna stair yuktah parah purusa eka ihasya dhatte sthity-adhaye hari virinci hareti samjnah sreyamsi tatra kahlu sattva-tanor nrnam syuh, Tuhan (Krishna) yang spiritual tidak langsung berhubungan dengan ketiga sifat alam material sattvam, rajas dan tamas. Untuk keperluan proses penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alam material, Beliau mengambil perwujudan ketiga sifat alam tersebut sebagai Visnu, Brahama dan Siva. Dari ketiga inkarnasi Tuhan ini, sang manusia hanya bisa memperoleh manfaat tertinggi dengan memuja Visnu”. Apakah manfaat tertinggi itu? Mukti atau moksa, kelepasan dari kehidupan material dunia fana yang selalu menyengsarakan, dan kembali pulang ke dunia rohani nan kekal dan membahagiakan. Karena itu, nama lain Visnu adalah Mukunda, sang pemberi mukti. Visnu adalah nama lain Tuhan Krishna. Dan semua Visnu avatara adalah perbanyakan pribadi (svamsa)Nya. Mereka disebut visnu tattva.  Sementara itu, Brahma (yang berkuasa sekarang) tergolong jiva tattva, makhluk hidup (jiva) yang diberikan kekuatan (sakti) oleh Tuhan Krishna sebagai perwujudan dan pengendali sifat alam rajas (kenafsuan) untuk menciptakan alam material beserta segala makhluk penghuninya (BS. 5.53 dan 5.49). Sedangkan Siva atau Rudra adalah perbanyakan pribadi Tuhan Krishna yang merelakan dirinya diliputi sifat-sifat alam material khususnya sifat alam tamas dan sekaligus menjadi pengendalinya (BS. 5.45) untuk melakukan fungsi peleburan alam material. Itu yang pertama.Yang kedua, oleh karena memelihara alam material adalah tugas yang paling sulit/berat, maka pemeliharaan alam material ditangani  oleh Tuhan sendiri yaitu Sri Visnu yang juga disebut Krishna atau Narayana dengan bertindak sebagai pengendali sifat alam sattvam. Ini berarti orang bisa bebas (mukti) dari kehidupan material dunia fana yang menyengsarakan hanya atas karunia Sri Visnu. Karena itu dikatakan bahwa Tuhan bisa dimengerti dengan membaca / mempelajari puranapurana, yang tergolong sattvika purana.
52 Tanya (T) : Jadi singkatnya, hanya dengan mengembangkan sifat alam sattvam (kebaikan) seseorang bisa tertuntun ke tingkat spiritual visuddha sattvam agar bisa mengerti Tuhan Krishna. Mengapa orang –orang yang dibelenggu oleh sifat alam tamas (kegelapan) dan rajas (kenafsuan) dikatakan tidak bisa mengerti Tuhan?
Jawab (J) : Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Ciri utama sifat alam tamas adalah adharma dharmam iti yah, menganggap yang salah adalah benar dan yang benar adalah salah (Bg. 18.32) dengan kata lain, orang yang didominasi sifat alam tamas menganggap Tuhan adalah bukan Tuhan, dan yang bukan Tuhan adalah Tuhan. Sedangkan ciri utama sifat alam rajas adalah yaya dharmam adharmam ca ayatavat prajanati, tidak bisa membedakan secara betul antara kebenaran dan kepalsuan (Bg. 18.31). Dengan kata lain, mereka yang didominasi oleh sifat alam rajas tidak bisa mengerti antara yang Tuhan dan bukan Tuhan. Begitulah, mereka yang tergolong orang-orang tamasik dan rajasik menganggap Sri Bhagavan Krishna bukan Tuhan, sebab Beliau berwujud dan melakukan kegiatan seperti manusia. Dan malahan mereka menghina Beliau (Bg.9.11) karena kegiatan-kegiatanNya nampak (secara material) tidak etis atau tidak bermoral.
53 Tanya (T) : Orang-orang rajasik dan tamasik tidak bisa mengerti Tuhan Sri Krishna. Dan malahan mereka menghina Beliau ketika turun ke dunia fana dalam wujud manusia atau makhluk lain (Bg. 9.11). lalu apa yang Tuhan Krishna lakukan agar mereka tidak merosot jatuh dalam penjelmaan berikutnya sebagai akibat dari kesalahannya tidak mengakui Beliau sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan malahan menghinaNya?
Jawab (J) : Beliau memperbanyak diri dan mengambil wujud sebagai Brahma dan Siva. Brahma adalah pengendali sifat alam rajas (kenafsuan) dengan fungsi mencipta dunia fana. Dan Siva adalah pengendali sifat alam tamas (kegelapan) dengan fungsi melebur dunia fana. Hal ini telah saya jelaskan pada dialog no. 51 dengan mengutif sloka Veda (Bhaga. 1.2.23).Dimata orang-orang rajasik yang haus kenikmatan dan kekuasaan duniawi (perhatikan Bg. 14.7). Brahma yang menciptakan dunia fana beserta segala kemewahan dan kenikmatan materialnya, adalah personalitas paling utama dan paling hebat alias Tuhan. Dan dimata orang-orang tamasik yang hampa pengertahuan spiritual, diliputi khayalan dan berpikir tidak waras (perhatikan Bg. 14.8-9), Siva yang juga disebut Rudra berpenampilan nyentrik dan fantastic, adalah personalitas paling utama dan paling hebat alias Tuhan. Begitulah, dengan memuji Brahma dan Siva, orang – orang rajasik dan tamasik ini diharapkan bisa terhindar dari keselahan menghina Tuhan Krishna dan secara berangsur-angsur bisa meningkatkan kesadarannya dengan mengembangkan sifat alam sattvam (kebaikan) dan selanjutnya tertuntun ke tingkat spiritual visuddhasattvam untuk bisa mengerti Tuhan.
54 Tanya (T) : Kembali pada soal isi Veda dan jalan kerohanian (yoga). Anda telah menjelaskan (pada dialog no. 48) bahwa isi ajaran Veda (karma-kanda, jnana-kanda dan upasana-kanda), jalan kerohanian yoga (karma, jnana, dhyana dan bhakti) dan kitab-kitab purana disusun berdasarkan acuan tri-guna. Apakah saya dapat simpulkan bahwa seluruh isi pustaka suci Veda disusun dengan mengacu pada tri guna, tiga sifat alam material (sattvam, rajas dan tamas)?
Jawab (J) : Ya, seluruh isi pustaka suci Veda disusun berdasarkan acuan tri-guna. Dalam hubungan ini, Tuhan Krishna berkata, “Traigunya visaya Veda, kitab suci Veda pada hakekatnya menguraikan berbagai macam kegiatan yang terkait dengan tri-guna (Bg. 2.45). secara umum dapat dikatakan bahwa ajaran karma kanda Veda dengan pelaksanaan (praktek) nya karmayoga diperuntukan bagi mereka yang dibelenggu oleh sifat alam tamas (kegelapan). Ajaran jnanakanda dengan prakteknya jnanayoga dan dhyanayoga diperuntukan bagi mereka yang dibelenggu oleh sifat alam rajas (kenafsuan). Dan ajaran upasana-kanda dengan prakteknya bhaktiyoga diperuntukan bagi mereka yang dibelengu sifat alam sattvam (kebaikan). Hal ini telah kita bicarakan pada dialog no. 31 dan 35. Tetapi Tuhan Krishna minta kita agar nistraigunyo bhava, mengatasi ketiga guna atau tri-guna tersebut (Bg. 2.45) dengan menyibukkan diri dalam pelayanan cinta-kasih (bhakti) kepadaNya untuk mencapai tingkat spiritual visuddhasattvam atau brahma-bhuta (Bg. 14.26).
55 Tanya (T) : Jadi sesungguhnya kitab suci Veda disusun sedemikian rupa dengan mengacu pada triguna dengan tujuan agar setiap orang bisa menuruti ajaran Veda sesuai dengan tingkat kesadarannya yang ditentukan oleh kadar unsur – unsur triguna yang dominan menyelimuti dirinya. Apa konsekuensi/akibat yang timbul dari ajaran Veda yang disusun seperti ini?
Jawab (J) : Bagi orang-orang yang tidak mengerti maksud / tujuan Veda, akibatnya adalah: a. aturan dan petunjuk Veda nampak seperti bertentangan antara satu dengan yang lain. b. praktek ajaran Veda di masyarakat nampak berbeda-beda alias tidak seragam. c. terjadi beda pendapat / salah pengertian tentang ajaran Veda.Tetapi bagi mereka yang mengerti maksud / tujuan Veda, melihat ajaran pilosofis Veda yang berbeda-beda itu tidak bertentangan antara satu dengan yang lain (perhatikan Bg. 2.46 dan 15.15). Oleh karena secara alamiah tingkat kesadaran spiritual setiap orang berbeda-beda, maka praktek ajaran Veda yang tidak seragam dan beda pendapat tentang filsafat Veda adalah fakta alamiah yang memang harus terjadi demikian. Yang mutlak diperlukan adalah para pemimpin umat dan pemuka ajaran Veda haruslah orang – orang yang sungguh-sungguh mengerti pengetahuan Veda secara menyeluruh agar beda pendapat diantara mereka yang tidak memahami maksud/tujuan Veda tidak sampai menimbulkan tindak kekerasan perkelahian fisik.
56 Tanya (T) : Anda berkata (pada dialog 34) bahwa jalan kerohanian karma yoga adalah pijakan awal atau pertama dalam tangga (sistem yoga. Dan anda telah pula menjelaskan (pada dialog no. 31) bahwa praktek karma yoga ini pada umumnya berupa pelaksanaan berbagai ritual (yajna) untuk memuja dewa-dewa tertentu dengan tujuan memperoleh berkah material (keselamatan, kemakmuran, kekayaan, kekuasaan, ketenaran, dsb). Ini berarti karma yoga menuntun sang manusia memuaskan indera jasmani yang jelas berhakekat material. Lalu bagaimana sang karmi ( yaitu praktisi karma yoga ) bisa tertuntun ke tingkat spiritual?
Jawab (J) : Karma yoga tidak menuntun manusia memuaskan indera jasmani secara bebas, tetapi secara terkendali. Oleh karena merupakan awal/permulaan dalam tangga (sistem) yoga, maka jalan karma ini masih mengandung ikhtiar memuaskan indera jasmani, tetapi secara terbatas dan terkendali. Mengapa demikian? Sebab, orang yang baru mulai menekuni jalan kerohanian (yoga) tidak mungkin seketika bisa menuruti prinsip-prinsip hidup spiritual atau hidup suci. Dalam hubungan ini Veda berkata, “Paroksa vado vedo’yam ba lanam anusasanam karma moksaye karmani viddhate hy agadam yatha. Orang-orang bodoh seperti kanak-kanak amat melekat pada kegiatan-kegiatan materialistik pamrih, pada hal tujuan hidup sesungguhnya adalah agar sang manusia membebaskan diri dari kegiatan pamrih demikian. Karena itu, Veda secara tidak langsung menuntun mereka ke jalan pembebasan dengan pertama-tama menyuruh mereka melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang bersifat pamrih, seperti halnya seorang ayah berjanji memberikan gula-gula kepada si anak supaya anak itu mau minum obat” (Bhag. 11.3.44).Begitulah, dengan menjanjikan akan mendapatkan kenikmatan dan kesenangan surgawi melalui pelaksanaan berbagai ritual (yajna) kepada dewa-dewa tertentu, Veda membuat orang-orang yang berwatak materialistik dan tidak insaf diri ini, menjadi tertarik mengikut jalan kerohanian karma yang merupakan pijakan awal dalam tangga yoga yang diajarkan oleh Veda. Kemudian dengan secara terkendali memuaskan indera-indera jasmani melalui pelaksanaan berbagai ritual (yajna) sesuai aturan Veda, pelan tapi pasti mereka akan berangsur-angsur tertuntun ke tingkat kehidupan spiritual.
57 Tanya (T) : Mereka yang menekuni jalan karma akan berangsur-angsur tertuntun ke tingkat kehidupan spiritual. Begitu anda menjelaskan. Bagaimanakah prosesnya sehingga mereka bisa tertuntun ke tingkat kehidupan spiritual?
Jawab (J) : Dengan secara tekun dan teratur melaksanakan ritual (yajna) sesuai petunjuk Veda, para karmi (orang yang menekuni jalan karma) secara tidak langsung memuji Tuhan Krishna yang juga disebut Visnu atau Narayana. Sebab, semua doa-doa pujian ritual kepada para dewa selalu diakhiri dnegn pengucapan mantra Om tat sat. Ketiga suku  kata ini menunjuk Sri Visnu. Lengkapnya adalah, “Om tadvisnoh paramam padam sada pasyanti surayah. Para dewa selalu menengadah ke tempat tinggal Visnu yang maha utama” (Rg. Veda 1.2.2220). dikatakan pula, “Om tat sad iti nirdeso brahmanas tri vidah… tena Vedas ca yajnas ca vihitah pura, sejak alam semesta material tercipta tiga suku kata om tat sad sudah dipakai menyapa Tuhan dan diucapkan oleh para Brahmana ketika melaksanakan ritual untuk memuaskan Beliau” (Bg. 17.23). jadi mantra om tat sad diucapkan pada setiap akhir doa pujian agar ritual berhasil. Sebab, para dewa tergantung kepada Tuhan Sri Visnu dalam memenuhi keinginan para pemujanya (perhatikan Bg. 7.21-22) dan mensucikan si pelaksana ritual yaitu sang karmi (perhatikan Bg. 3.9 dan 9.27-28). Demikianlah prosesnya sang karmi secara berangsur-angsur tertuntun ke tingkat spiritual.
58 Tanya (T) : Pada tingkat jalan kerohanian (yoga) apa seseorang dikatakan memulai merintis kehidupan spirituilnya?
Jawab (J) : Pada tingkat jnana yoga. Pada tingkat ini seseorang mulai mempelajari dan mempraktekkan ajaran kitab-kitab Upanisad yang berisi berbagai macam uraian pilosofis tentang Tuhan yang berhakekat non material alias spiritual. Upanisad berati “duduk dekat guru kerohanian” untuk mendengarkan wejangan spiritual tentang Tuhan. Ini hany amnungkin dilakukan oleh seseorang yang sudah bosan dengan praktek karma yoga memuaskan indera jasmani secara terkendali yang tidak sungguh-sungguh membahagiakan. Pada umumnya kitab-kitab Upanisad menjelaskan tentang Tuhan dalam aspek impersonalNya sebagai Brahaman. Dikatakan Brahman tanpa wujud, sifat, ciri dan substansi apapun. Bukan ini dan bukan itu pula (neti-neti). Tetapi dari 108 Upanisad yang dikenal, tdak satupun menolak adanya wujud spiritual Tuhan sebagai Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.
59 Tanya (T) : Anda berkata (pada dialog No. 34) bahwa dhyana yoga berkedudukan lebih tinggi dalam tangga yoga daripada jnana yoga, apa alasan anda mengatakan begitu?
Jawab (J) : Praktek jnana yoga lebih banyak berupa diskusi pilosofis tentang Tuhan dalam aspek impersonalNya sebagai Brahman. Menurut Veda (Bhag.1.2.11), pengetahuan tentang Brahman impersonal adalah pengetahuan awal tentang Tuhan. Ia diibaratkan seperti pengetahuan tentang cahaya matahari. Sedangkan praktek dhyana yoga adalah pemusatan pikiran (meditasi) pada aspek setempat Tuhan sebagai paramatma, dan dianggap lebih maju daripada diskusi pilosofis tentang Brahaman. Pengetahuan tentang paramatma diibaratkan seperti pengetahuan tentang bola (planet) matahari. Dengan mengetahui planet matahari, otomatis cahaya matahari diketahui. Begitu pula, keinsafan pada paramatma lebih sempurna dari pada keinsafan pada Brahman. Karena itu, praktek dhyana yoga berkedudukan lebih tinggi dari pada praktek jnana yoga.
60 Tanya (T) : Dan pad adialog yang sama (yaitu dialog no. 34) anda berkata lebih lanjut bahwa bhakti adlaah pijakan terakhir dalam tangga (sistem) yoga). Atau, bhakti adlaah tingkatan yoga terakhir / tertinggi. Dapatkah anda menjelaskan kenapa dikatana begitu?
Jawab (J) : Sebab dengan bhakti (cinta kasih) kepada Tuhan seseorang bisa mengerti dan mencapai Beliau dalam wujud spirituilnya sebagai Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Bhagavan adalah aspek Tuhan tertinggi. Menurut Veda (Bhag. 1.2.11) pengetahuan tentang Bhagavan adalah ibarat pengetahuan tentang dewa Matahari (surya) yang menghuni matahari. Jika seorang sudah berhubungan dengan dewa matahari, maka otomatis dia tahu hakekat planet matahari (yang diibaratkan sebagai pengetahuan tentang paramatma) dan cahaya matahari ( yang diibaratkan sebagai pengetahuan tentang Brahman). Dengan kata lain, dengan mengerti dan mengetahui hakekat Bhagavan, maka otomatis hakekat paratma dan Brahman diketahui pula. Itulah sebabnya dikatakan bahwa hanya dengan bhakti orang bisa mengerti dan mencapai Tuhan.
61 Tanya (T) : Sekarang saya ingin tahu tentang jumlah sloka (ayat) yang terkandung dalam setiap bagian pustaka Veda yaitu Catur Veda, Itihasa, purana, Upanisad, dan berbagai kitab dharma sastra. Dapatkah anda menyebutkan jumlah slokanya?
Jawab (J) : Terang saja saya tidak mempunyai lengkap tentang jumlah sloka yang terkandung dalam setiap bagian pustaka Veda. Data yangdapat saya berikan adalah sbb. A. catur Veda (Rg. Veda 10.552 sloka, yajur Veda 1.975 sloka, sama Veda 1.375 sloka dan atharva Veda 5.987 sloka. B. Itihasa (Ramayana 24.000 sloka dan Mahabharata 100.000 sloka). C. purana (Bhagavata purana 18.000 sloka, Visnu purana 23.000 sloka, Naradiya purana 25.000 sloka, padma purana 55.000 sloka, garuda purana 19.000 sloka dan varaha purana 24. Sloka. Terus, Brahmanda purana 12.000 sloka, brahma vaivarta purana 18.000 sloka, Markadeya purana 9.000 sloka, vamana purana 10.000 sloka, Brahma purana 10.000 sloka, dan bhavisya purana 14.500 sloka. Selanjutnya, Matsya purana 14.000 sloka. Kurma purana 17.000 sloka, linga purana 10.000 sloka. Siva purana 24.000 sloka, skanda purana 81.000 sloka, dan agni purana 15.400 sloka. Saya tidak punya data tentang jumlah sloka yang terkandung dalam ke 108 Upanisad dan berbagai kitab Dharma sastra (Manus smrti, parasara smrti, yajnavalkya smrti, brahma samhita, dsb) serta kitab-kitab Vedanga (Siksa, Vyakarana, Nirukti, Canda, jyotisha dan kalpa) dan upa Veda (Ayur Veda, dhanur Veda, gandharva Veda, artha sastra, dsb).
62 Tanya (T) : Tidaklah mungkin bagi saya mampu membaca seluruh pustaka suci Veda apalagi memahaminya. Sebab, a. Seluruh pustaka Veda tersebut tertulis dalam bahasa sansekerta dan belum ada terjemahannya yang lengkap baik dalam bahasa inggris ataupun Indonesia. b. sebagaimana telah kita bicarakan (pada dialog no. 54 -55) bahwa seluruh ajaran Veda disusun berdasarkan acuan tri guna, sehingga uraiannya seperti bertentangan antara satu dengan yang lain. Karena itu, bagi orang awam seperti saya jadi bingung sendiri. Saya tidak bisa membaca seluruh pustaka Veda dan juga tidak mengerti Veda. Lalu, apa yang saya harus lakukan supaya bisa mengerti kesimpulan Veda dan mempraktekkan ajarannya dalam kehidupan sehari – hari?
Jawab (J) : Saya, anda dan semua orang lain hidup pada jaman Kali atau kali yuga yang disebut abad modern sekarang. Karena kasihan kepada orang-orang Kali yuga yang, kata Veda (Bhag. 1.1.10). pendek usia (alpa-ayusah), malas dibidang spiritual (manda), salah pimpin (sumandamatayah), bernasib malang (manda bhagyah) dan selalu cemas (upadrutah), maka menjelang awal Kali yuga yakni sekitar 5.113 tahun yang lalu, inkarnasi Tuhan Krishna dibidang sastra yaitu rishi Dvaipayana Vyasa membagi Veda menjadi beberapa bagian dan menyajikannya secara tertulis agar orang – orang Kali yuga meudah mempelajari Veda. Hak ini saya telah singgung sebelumnya (pada dialog no. 46). Terutama sekali, karena amat kasihan kepada orang-rang Kali yuga yang tergolong tidak cerdas yaitu para wanita, sudra dan dvija bandhu (Brahmana palsu), Rishi Vyasa secara khusus menulis Mahabharata (Bhag. 1.4.25). Dan dalam Mahabharata inilah dicantumkan kesimpulan Veda (Veda siddhanta) yaitu Bhagavad-gita. Jadi supaya tahu kesimpulan Veda dan mempraktekkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, anda hendaklah membaca dan mempelajari Bhagavad-gita.
63 Tanya (T) : Bagaimana anda bisa mengatakan bahwa Bhagavad-gita adalah Veda siddhanta, kesimpulan kitab suci Veda?
Jawab (J) : Pertama, dalam Bhagavad gita Tuhan Krishna menyatakan, “Vedais ca sarvair aham eva vedyo vedanta krd veda vid eva caham, Akulah yang harus diketahui dari seluruh pustaka suci Veda. Sesungguhnya Akulah yang menyusun Veda dan mengetahui Veda” (Bg. 15.15). Dengan kata lain, tujuan seluruh pustaka suci Veda adalah agar sang manusia mengetahui dan mengerti bahwa Sri Krishna adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME. Kedua, berdasarkan pernyataan Veda (Bhagavad-gita) tersebut, para Acarya (guru kerohanian) mengakui bahwa Bhagavad-gita adalah kesimpulan Veda. Ketiga, dalam doa pujiannya kepada Bhagavad-gita yang berjudul Gita Dhyayam (sloka no. 4). Acarya Sankara berkata sbb, “Seluruh kitab Upanisad (yang berisi uraian pilosofis tentang Tuhan) adalah ibarat sapi. Pemerah susunya adalah Sri Krishna, sedangkan Arjuna adalah ibarat si anak sapi yang minum susu sapi yaitu Bhagavad-gita”. Demikianlah, seluruh kitab Upanisad diperah oleh Tuhan Krishna sehingga diperoleh kesimpulannya yaitu Bhagavad-gita.
64 Tanya (T) : Setelah seseorang mempercayai bahwa Bhagavad-gita adalah kesimpulan Veda, apa yang dia harus lakukan selanjutnya?
Jawab (J) : Mencari guru kerohanian atau Acarya dan mohon bimbingan darinya agar mampu mengamalkan ajaran Bhagavad-gita secara benar dalam kehidupan sehari-hari. Ini sesuai petunjuk Gita itu sendiri, “tad vidhi pranipatena pariprasnena sevaya…jnaninas tattva darsinah, berusahalah mengerti kebenaran dengan mendekati guru kerohanian. Bertanyalah kepadanya dengan tunduk hati dan layani beliau. Guru yang telah insyaf diri seperti itu dapat menyampaikan pengetahuan kepadamu, sebab ia telah memahami kebenaran” (Bg. 4.34). Dalam hubungan ini lihat pula dialog no. 6 didepan.
65 Tanya (T) : Apakah proses belajar Bhagavad-gita dari seorang Acarya sama dengan proses belajar di sekolah atau universitas dari seorang guru atau dosen?
Jawab (J) : Tentu saja tidak sama, sebab pengetahuan yang diajarkan berbeda. Bhagavad-gita adalah pengetahuan spiritual. Sedangkan pengetahuan yang diajarkan di sekolah atau universitas adalah pengetahuan material. Untuk bisa memahami hal-hal spiritual atau metafisika, anda harus menuruti proses deduktif (proses menurun) yang oleh Veda disebut parampara. Dikatakan, “Evam parampara praptam imam rajarsayo viduh, pengetahuan spiritual (Bhagavad-gita) ini diajarkan secara turun temurun (melalui garis perguruan atau sampradaya) dan para raja suci dimasa lalu mengertinya dengan cara seperti itu” (Bg. 4.2). Hal ini saya telah singgung pada dialog No. 4 dimuka. Sedangkan pengetahuan material yang diajarkan disekolah atau universitas diterima melalui proses induktif (proses menaik) yang bersumber dari pengamatan langsung, penelitian (riset), percobaan di laboratorium dilapangan.
66 Tanya (T) : Persyaratan-persyaratan apa saja yang harus dipenuhi oleh seorang murid (sisya) dan guru (Acarya) supaya pengetahuan spiritual ini dapat dimengerti dengan benar?
Jawab (J) : Pertama, seorang sisya (murid) harus berpola hidup suci mengendalikan indera-indera jasmani dengan hidup sederhana (tapasa) dan menuruti berbagai pantangan (vrata). Kedua, sang murid harus bersikap tunduk hati kepada guru kerohanian dan melayaninya dengan tulus hati. Ketiga, sang murid harus selalu berbuat untuk kesenangan guru kerohanian (perhatikan Bg. 4.34 dan Bhagavad-gita 7.12.1). Sedangkan persyaratan seorang guru kerohanian adalah pertama, dia harus mengajarkan pengetahuan spiritual kepada si murid berdasarkan perilaku tauladan dirinya sesuai aturan Veda dan petunjuk para sadhu (orang suci) yang hidup sebelumnya. Oleh karena mengajarkan berdasarkan tingkath laku tauladan, maka guru kerohanian disebut Acarya. Dan si murid harus menuruti perintah dan petunjuknya dengan sepenuh hati. Kedua, guru kerohanian harus memiliki sampradaya (garis perguruan) yang jelas dan sah. Dan ketiga, guru kerohanian harus sungguh-sungguh berpengetahuan Veda.
67 Tanya (T) : Ada banyak buku terjemahan Bhagavad-gita dan saya telah mencoba membanding-bandingkan antara satu dengan yang lain. Tetapi kebanyakan dari terjemahan itu menyatakan bahwa Sri Krishna bukan Tuhan. Tuhan adalah Brahman impersonal yang bersabda melalui Sri Krishna pribadi. Bagaimanakah saya seharusnya mengerti Bhagavad-gita?
Jawab (J) : Anda hendaklah mengerti Bhagavad-gita seperti halnya anda mengerti petunjuk pemakaian obat yang tertulis pada kemasan obat tersebut. Misalnya, pada kemasannya tertulis, “obat ini harus di minum 3 x sehari @ 1 sendok makan”. Dengan menuruti petunjuk ini secara langsung seperti itu, si pasien akan sembuh setelah minum obat itu selama beberapa hari. Begitu pula. Dalam Bhagavad-gita ketika Sri Krishna berkata kepada Arjuna, Rishi Dvaipayana Vyasa menulis, “Sri Bhagavan Uvaca, kepribadian Tuhan YME bersabda”. Ini berarti Sri Krishna adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME. Ini adalah fakta yang dibenarkan oleh Veda, “Krsnas tu Bhagavan svayam, Krishna adalah Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME sendiri” (Bhag. 1.3.28). Sehingga kata “Aham” atau “Aku” yang beliau ucapkan menunjuk diri Beliau Pribadi.Akan tetapi jikalau anda mengkhayal, “obat ini adalah penyembuh. Maka supaya segera sembuh, aku harus minum obat ini sekali saja sampai habis”. Dengan mengkhayal seperti ini, anda sebagai pasien bukan sembuh tetapi tambah sakit dan menderita. Begitu pula, jika anda menafsirkan Sri Bhagavan atau “Aham/Aku” yang tercantum dalam Bhagavad-gita bukan berarti dan menunjuk Sri Krishna tetapi sesuatu yang lain, itu berarti anda mengkhayal. Dan dengan mengkhayal seperti itu, anda bukan mengerti Bhagavad-gita. Sehingga kata, tetapi berpikir salah / keliru sehingga sia-sialah anda mempelajarinya. Karena itu, anda harus mengerti sloka-sloka Bhagavad-gita secara muhkhya-vrtti, pemahaman/pengertian langsung (direct meaning). Jangan memahaminya secara gauna-vritti, pengertian tidak langsung (indirect meaning). Dan dalam Bhagavad-gita Tuhan Krishna dengan tegas menyatakan, “brahmano hi pratisthaham, Aku adalah pondasi (sumber keberadaan) Brahman impersonal” (Bg. 14.29).
68 Tanya (T) : Apakah hanya dengan mengamalkan ajaran Bhagavad-gita dalam kehidupan sehari-hari seseorang dijamin mencapai mukti, kelepasan dari kehidupan material dunia fana yang selalu menyengsarakan dan kembali ke dunia rohani nan kekal dan membahagiakan?
Jawab (J) : Pasti, asalkan anda mengamalkan ajaran Bhagavad-gita secara betul sesuai aturan / petunjuk yang tercantum dalam Gita itu sendiri. Ini yang pertama. Yang kedua, dalam Bhagavad-gita Tuhan Krishna berkali-kali menyatakan bahwa siapapun yang ingat Beliau pribadi pada saat ajal, dia tidak akan lahir lagi di alam fana, tetapi mencapai Beliau di dunia rohani. “Janma karma ca me divyam ma eti so rjuna, siapapun yang mengerti (ingat) pada saat ajal bahwa kelahiran dan kegiatan-kegiatanKu di dunia fana berhakekat spiritual, dia tidak akan lahir lagi di alam material tetapi mencapai Aku di dunia rohani (Bg. 4.9). anta kale ca mam eva smaran muktva kalevaran…yati  nasti atra samsayah, siapapun yang pada saat ajal meninggalkan badan jasmaninya dengan hanya ingat kepadaKu saja, dia seketika mencapai alam rohani tempat tinggalku. Tidak ada keraguan tentang hal ini (Bg. 8.5). prayana kale manasa calena bhaktya yukto yoga balena caiva…sa tam param purusam upaiti divyam, siapapun yang pada saat ajal memusatkan nafas hidupnya diantara kedua alis dan dalam ke-bhaktia-an penuh ingat kepada Tuhan, pasti mencapai Beliau (Bg. 8.5). om iti eka ksram brahma vyaharam mam anusmaram . . . say ati paramam gatim, dengan mengucapkan suku kata om dalam ingatan kepadaKu pada saat ajal, seseorang mencapai alam rohani (Bg. 8.13)”Dan yang ketiga, dalam Gita-Mahatmya (Sloka 5) dikatakan, “Dengan minum air Gangga Bhagavad-gita ini, inti sari Mahabharata yang keluar dari bibir padma Sri Visnu, orang tidak akan dilahirkan lagi ke dunia fana.
69 Tanya (T) : Bhagavad-gita adalah kesimpulan Veda. Point/petunjuk/perintah apakah yang ditekankan dalam kesimpulan Veda ini ?
Jawab (J) : Penyerahan diri kepada Sri Bhagavan Kepribadian Tuhan YME Krishna. Beliau berkata, “Ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bajamy aham, kepada mereka semua, sesuai dengan tingkat penyerahan dirinya kepadaKu, Aku berikan balasan sepadan (Bg. 4.11). tam eva saranam gaccha sarva bhavena bharata, wahai keturunan Bharata, berserah  dirilah kepada Beliau dalam keadaan apapun juga (Bg. 18.66)”. Dari sloka yang dikutip terakhir ini, kita dapat mengerti bahwa dharma tertinggi sejati yang sesungguhnya adalah penyerahan diri kepada Tuhan. Dan para Vaisnava-Acarya menyatakan bahwa inilah kesimpulan Gita. Berserah diri kepada Tuhan hanya mungkin dilakukan oleh seseorang jikalau dia mencintai Beliau. Anda hanya mau menyerahkan diri kepada Tuhan Krishna apabila anda mencintaiNya.begitu pula saya. Dan cinta kepada Tuhan secara literal disebut bhakti.
70 Tanya (T) : Kalau begitu, tentu bhakti (cinta kasih) ini yang menjadi pokok bahasan dalam Bhagavad-gita. Betulkah demikian?
Jawab (J) : Betul sekali. Dan pada dasarnya Bhagavad-gita adalah buku pedoman spiritual tentang bhakti, cinta kasih kepada Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna. Fakta ini ditunjukkan oleh sloka-sloka berikut. Pertama, Gita hanya disa dimengerti dengan semangat bhakti, “bhakto’si me sakha ceti rahasyam hy etad uttamam, pengetahuan spiritual (Bhagavad-gita) yang rahasia ini dapat anda mengerti, karena anda adalah bhakti yang sekaligus sahabat karibKu”, kata Tuhan Krishna kepada Arjuna (Bg. 4.3). Selanjutnya Beliau berkata, “Mad bhakti etad vijnaya mad bhavayo papadyate, hanya bhaktaKu yang dapat memahami (pengetahuan spiritual) ini dan dengan demikian mencapai tempat tinggalKu (Bg. 13.19)”. Kedua, Tuhan Krishna berulang-ulang minta agar setiap orang menjadi bhakta Beliau, “Man mana bhava mad bhaktah, berpikir (ingat) lah selalu tentang diriKu dan jadilah bhaktaKu” (Bhag. 9.34 dan 18.65). Ketiga, siapapun yang pada saat ajal hanya ingat Tuhan dalam bhakti kepadaNya, pasti mencapai Beliau. “Prayana kale manasa calena bhaktya yukto yoga balena…sa tam param purusam upiti divyam, siapapun yang pada saat ajal memusatkan nafas hidupnya diantara kedua alis dan dalam ke-bhaktian-penuh hanya ingat kepada Tuhan pasti mencapai Beliau: (Bg. 8.10). Keempat, Tuhan Krishna pribadi hanya bisa dimengerti dengan proses bhakti. “Purusah sa parah partha bhaktya labhyas tu ananyaya. Wahai Arjuna, Tuhan yang maha besar dan esa itu hanya bisa dimengerti dengan jalan bhakti murni (Bg. 8.22). Bhaktya tu ananyaya sakya aham eva vido’rjuna, o Arjuna, hanya dengan proses bhakti murni Aku bisa dimengerti dengan sebenarnya (Bg. 11.54). Bhaktya mam abhijanati yavan yas casmi tattvatah, Aku hanya bisa dimengerti dengan sebenarnya melalui jalan bhakti (Bg.18.55). idam te natapaskaya na bhaktaya kadacana na casusrusave vacyam, pengetahuan spiritual Gita ini tidak boleh diajarkan kepada mereka yang tidak melakukan pertapaan (hidup sederhana) dan tidak boleh diajarkan kepada mereka yang bukan bhakti atau tidak tekun dalam pelayanan bhakti kepadaKu (Bg. 18.67)
71 Tanya (T) : Saya telah sering mendengar bahwa diantara bermacam-macam bagian pustaka suci Veda, Bhagavad-gita lah yang paling sering dikutip oleh para penganut ajaran Veda, paling menarik hati para filosof, paling banyak dibaca dan paling luas dikenal di masyarakat manusia. Dapatkah anda menjelaskan kenapa begitu?
Jawab (J) : Pertama, sebagaimana saya telah jelaskan sebelumnya. Bhagavad-gita adalah Veda-siddhanta, kesimpulan pustaka suci Veda (lihat dialog no. 63). Kedua, Bhagavad-gita adalah filsafat paling luhur dan paling mulia tentang Tuhan (paramatma), makhluk hidup (jiva), alam material (prakrti), perbuatan/kegiatan (karma) dan waktu (kala), sehingga ia amat menarik hati para filosof. Ketiga, Bhagavad-gita adalah wejangan langsung dari Tuhan sendiri yang dimaksudkan agar manusia mengenal Beliau pribadi. Seperti halnya anda bisa melihat matahari melalui sinarnya. Begitu pula, anda bisa mengerti dan mengenal Tuhan dengan memahami secara benar kata-kata yang Beliau ucapkan dalam Bhagavad-gita. Dan oleh karena setiap orang ingin mengetahui / mengenal Tuhan, maka otomatis Bhagavad-gita paling banyak dibaca di masyarakat manusia. Keempat, Bhagavad-gita adalah mahkota permata indah (beautiful jelwel crown) pustaka suci Veda. Maksudnya, pustaka Veda jadi indah, menarik dan membahagiakan hati bila dibaca, karena didalamnya ada Bhagavad-gita. Karena itu, Bhagavad-gita sangat terkenal dimasyarakat manusia.
72 Tanya (T) : Bagaimana anda bisa menyatakan bahwa Bhagavad-gita ini sungguh indah, menarik dan membahagiakan hati ketika dibaca, ataupun didengar?
Jawab (J) : Itu dinyatakan demikian oleh Sanjaya yang atas karunia guru kerohaniannya ( yaitu Rishi Dvaipayana Vyasa) dapat melihat langsung Tuhan Krishna mewejangkan Bhagavad-gita kepada Arjuna dan mendengar dialog mereka berdua tentang Bhagavad-gita ditengah medan perang Kuruskestra, meskipun Sanjaya sendiri duduk di dalam istana kerajaan Hastina pura mendampingi Raja Dhrtarastra. Sanjaya berkata, “rajan samsmrtya samsmrtya samvadam imam adbhutam…hrsyami ca muhuh muhuh, bilamana hamba ingat kembali dialog yang amat luhur / suci / indah / mulia antara Sri Krishna dan Arjuna, O sang Raja, hamba merasa amat bahagi karena setiap saat hatiku terharu (Bg. 18.76) tac ca smsmrtya samsmrtya rupam atyadbhutam hareh vismayo me mahan rajan hrsyami ca punah – punah, bilamana hamba ingat wujud Sri Hari ( Krishna ) yang maha indah luar biasa, wahai sang Raja, hamba menjadi semakin kagum dan berbahagia berulang-kali (18.77)”.
73 Tanya (T) : Saya masih ragu, apakah Bhagavad-gita memang hanya mengajarkan jalan kerohanian bhakti? Sebab kebanyakan penganut ajaran Veda berkata bahwa gita juga mengajarkan jalan karma, jnanan dan dhyana. Dan mereka berpendapat bahwa jalan manapun yang ditempuh pasti menuntun seseorang kembali kepada Tuhan. Benarkah demikian?
Jawab (J) : Dengan tegas saya katakan pendapat mereka keliru. Mereka berpendapat begitu karena hanya mau mengutip sloka-sloka Gita yang dianggap membenarkan jalan kerohanian (yoga) yang ditekuninya dan tidak mau mengerti Gita secara menyeluruh. Saya telah katakan tentang hal ini pada dialog no. 36. Sebelumnya, pada dialog no. 34 dan kemudian pada dialog no. 70, saya telah jelaskan bahwa Tuhan Krishna hanya bisa dimengerti dan  dicapai dengan bhakti, bukan dengan menekuni jalan kerohanian (yoga) lain. Dan pada dasarnya Bhagavad-gita hanya mengajarkan bhakti yoga sebagaimana saya telah tunjukkan dengan mengutip sloka-sloka Gita secara menyeluruh mulai dari Bab IV sampai Bab akhir (XVIII).Sesungguhnya sudah mulai dari Bab II Tuhan Krishna meminta Arjuna agar tidak bekerja secara pamrih, tetapi bekerja dalam pengabdian kepadanya (perhatikan Bg. 2.49-50). Dalam dua sloka ini disebutkan buddhi yoga. Arjuna diminta melaksanakan buddhi yoga yakni memanfaatkan kecerdasan (intelek) nya untuk tidak berbuat atau bekerja pamrih, tetapi bekerja dalam pengabdian kepada Tuhan Krishna pribadi. Bekerja dalam pengabdian kepada Tuhan atau buddhi yoga ini adalah istilah lain bhakti yoga. Sebab dikatakan “hrsikena hrsikesa sevanam bhaktir ucyate, menyibukkan seluruh indera jasmani dalam bekerja menyenangkan Hrsikesa disebut bhakti. Hrsikesa adalah nama lain Tuhan Krishna (Bg. 1.24). Selanjutnya, dalam Bab III yang berjudul Karma Yoga, Arjuna diminta yajnarthat karma, bekerja untuk kepuasan Sri Visnu (Yajna adalah nama lain Visnu). Sebab, anyatra loko yam karma bandhanah), jika tidak, akibat (phala) kerja (karma) itu haya akan mengikat si pelaku di dunia fana. Karena itu, tad artham karma, bekerjalah untuk kepuasan Beliau (Bg. 3.9). Inilah bhakti yang praktis atau praktek bhakti. Tetapi mereka yang telah dijangkiti filsafat monistik advaita-vadi, dan tidak mengeakui adanya Kepribadian Tuhan YM (Bhagavan) tidak peduli pada perintah utama Tuhan dalam Bab III ini, lalu mereka berkata begini, “bukan kepada Sri Krishna pribadi kita harus mengabdi, tetapi kepada Ia yang ada didalam hati orang-orang miskin yang amat perlu bantuan mataerialah kita harus mengabdi. Dengan berkarma bajik seperti ini, kelak kita akan menacapai Beliau”. Begitula mereka berpendapat. Sekarang terserah anda sendiri, mau menuruti pendapat mereka dan menolak pendapat saya, atau sebaliknya, anda punya kebebasan penuh memilih.
74 Tanya (T) : Jadi kesimpulan Veda, Bhagavad-gita mengajarkan agar setiap orang mencintai (bhakti kepada) Tuhan Krishna. Atau, supaya setiap orang di dunia fana kembali membina hubungan cinta-kasih (bhakti) nya yang telah terputus dengan Tuhan Krishna. Benarkah begitu?
Jawab (J) : Tepat sekali. Karena itu, Tuhan Krisna berulang kali minta agar saya, anda dan semua orang lain menjadi BhaktaNya, orang yang mencintai Beliau. Man mana bhava mad bhaktah, sibukkan pikiranmu dengan ingat kepadaKu dan jadilah bhaktaKu” (Bg. 9.34 dan 18.65). Perhatikan pula Bg. 4.3, 8.22, 13.19, 18.55, 18.67-68. Dan juga Bg. 7.17, 8.10, 9.29 dan 12.14-20.
75 Tanya (T) : Anda telah menjelaskan (pada dialog no. 13) bahwa Vedanta sutra yang merupakan ringkasan kitab-kitab Upanisad adalah bagian pustaka suci Veda. Vedanta berarti Veda terakhir / tertinggi. Tidakkah ini berarti bhwa Vedanta-sutra adalah kesimpulan Veda?
Jawab (J) : Tidak, sebab kata “Vedanta” bukan saja berarti / menunjuk Vedanta Sutra, tetapi juga menujuk pustaka Veda lainnya yaitu Bhagavad-gita, Upanisad, bhagavatam, dsb. Yang menjelaskan tentang Tuhan. Tetapi sebagai ringkasan seluruh Upanisad, Vedanta-sutra secara khusus menyajikan pengetahuan pilosofis tentang Tuhan dengan bahasa dan kalimat singkat tetapi pada makna. Oleh karena sulit dimengerti, maka sang penulis yaitu Rishi Dvaipayana Vyasa secara khusus membuat penjelasan / ulasan (bhasya) atas Vedanta Sutra yaitu Bhagavata purana yang lebih dikenal dengan nama Srimad – Bhagavatam. Dan Srimad – Bhagavatam ini adalah kitab purana khusus yang menguraikan lila (kegiatan rohani) Tuhan Krishna maulai dari kemunculan (kelahiran) Nya di dunia fana sampai berpulangNya kembali ke dunia rohani Vaikuntha loka.
76 Tanya (T) : Jadi untuk bisa mengerti Vedanta Sutra yang sulit dipahami, seseorang harus membaca / mempelajari Srimad-Bhagavatam. Dengan kata lain, pengetahuan filosofis tentang Tuhan yang disajikan dalam Vedanta-sutra dapat dimengerti dengan membaca kegiatan-kegiatan rohani (lila) Tuhan Krishna sebagaimana diuraiakan dalam Srimad – Bhagavatam. Bukahkah begitu maksudnya?
Jawab (J) : Ya, sebab dalam Srimad-Bhagavatam dijelaskan secara sistematik, logis dan rasional tentang kedudukan Krishna sebagai Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME, asal mula segala sesuatu. Begitulah, dengan membaca/mempelajari Srimad-Bhagavatam dengan penuh kepercayaan (sraddha) dibawah bimbingan guru kerohanian (Acarya) seseorang bisa mengerti Tuhan.
77 Tanya (T) : Dapatkah anda menjelaskan sedikit tentang keterkaitan / hubungan isi Vedanta sutra dengan Srimad-Bhagavatam?
Jawab (J) : Pertama, Vedanta-sutra menyatakan, “janmady asya yatah, Tuhan adalah ia dari siapa segala sesuatu berasal” (VS.1.1.2). Srimad-Bhagavatam menjelaskan sloka Vedanta Sutra ini sbb. “Om namo bhagavate vasudevaya janmady asya yato’ nvayaditaratas carthesvabhijnah svarat tene brahma hrdaya adi kavaye, hamba sujud kepada Sri Krishna putra Vasudeva yang menjadi sebab terjadinya penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alam semesta material. Beliau maha sadar terhadap segala sesuatu, tidak bergantung pada apapun dan siapapun, dan tidak ada apapun yang menjadi sebab keberadaanNya. Beliaulah yang pertama kali mewejangkan pengetahuan Veda kepada Dewa Brahma, makhluk hidup pertama di alam material” (Bhag. 1.1.1). Jadi Tuhan Krishna adalah asal mula segala sesuatu.Kedua, Vedanta Sutra terdiri dari 4 (empat) Bab (adhyaya). Dua bab pertama (Bab I dan II) membicarakan sambandha jnana, pengetahuan tentang hubungan makhluk hidup (atman) dengan Tuhan (Brahman). Pengetahuan (jnana) ini dijelaskan dalam Srimad-Bhagavatam sebagai hubungan cinta kasih (bhakti) timbal balik dalam 5 (lima) tingkatan rasa yaitu: a. santa-rasa, (hubungan netral), b. Dasya rasa (hubungan sebagai pelayan), sakhya rasa (hubungan sebagai sahabat), d. vatsalya rasa (hubungan sebagai orang tua), dan d. Madhurya rasa (hubungan sebagai kekasih). Bab III Vedanta sutra membicarakan abhideya jnana, pengetahuan tentang bagaimana caranya membina kembali hubungan dalam lima rasa tersebut. Pengetahuan (jnana) ini dijelaskan dalam Srimad-Bhagavatam sebagai 9 (sembilan) proses bhakti yaitu: a. sravanam (mendengar tentang Tuhan). b.kirtanam (memuji dan memuji Tuhan). c. smaranam (mengingat Tuhan). Pada sevanam (melayani kaki padma Beliau). d. arcanam (memuji arca vigrahaNya). e. vandanam (memanjatkan doa pujian kepadaNya). f. dasyam (menjadi pelayanNya setia)h. g. sakhyam ( menjadi sahabat karibNya). Dan h. atma nivedanam (berserah diri kepadaNya). Dan Bab IV Vedanta Sutra berbicara prayojana jnana, pengetahuan tentang hasil dari pelaksanaan proses-proses bhakti tersebut. Pengetahuan (jnana) ini dijelaskan dalam berbagai hubungan cinta kasih (bhakti) timbal-bali antara sang makhluk hidup (jiva) dengan Tuhan (Bhagavan) di dunia rohani vaikuntha-loka.
78 Tanya (T) : Jikalau penjelasan / ulasan (bhasya) Vedanta sutra adalah Srimad-Bhagavatam, maka bhasya atas Bhagavad-gita adalah Srimad-Bhagavatam pula. Sebab, sebagaimana anda telah jelaskan (pada dialog No. 75 dan 76), Srimad-Bhagavatam menguraikan kegiatan-kegiatan rohani (lila) Tuhan Krishna yang mewejangkan Bhagavad-gita. Apakah kesimpulan saya ini benar?
Jawab (J) : Ya. Apa yang anda simpulkan benar. Sebab Garuda Purana menjelaskan tentang Srimad-Bhagavatam sbb. “Purnah so’yam atisayah artho yam brahma-sutranam bharatartha-vinirnayah gayatri-bhasya rupo’sau vedharta-paribhrmhitah purananam sama rupah saksad bhagavatoditah dvadasa-skandha-yukto yam sata-viccheda-samyuktah grantho’stadasa-sahasram sri bhagavatabhidhah, kitab (purana) ini sungguh sempurna, Ia adalah penjelasan Vedanta Sutra dan menyajikan maksud Mahabharata. Ia merupakan ulasan gayatri mantra, dan menyempurnakan amanat Veda. Diantara semua kitab Purana, Purana ini adalah bagaikan Sama Veda (diantara Catur Veda) dan langsung diwejangkan oleh inkarnasi Tuhan dibidang Sastra (yaitu Rishi Dvaipayana Vyasa). Karya tulis spiritual ini yang terdiri dari dua belas skanda, ratusan bab dan delapan belas ribu sloka disebut Srimad-Bhagavatam”. Disini dikatakan bahwa Srimad-Bhagavatam menyajikan maksud Mahabharata berarti memperjelas amanat Bhagavad-gita. Sebab, Bhagavad-gita tercantum dalam Mahabharata bagian Bhisma Parva. Apakah amant Bhagavad-gita? Amanatnya adalah supaya semua orang tahu bahwa tujuan belajar Veda adalah untuk mengerti Sri Krishna sebagai Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME dan berserah diri kepadaNya (perhatikan Bg. 15.15 dan 18.66).
79 Tanya (T) : Jadi Srimad-Bhagavatam berperan dan berkedudukan amat penting dalam pustaka suci Veda. Ia adalah kitab smrti yang khusus menyajikan uraian filosofis tentang Tuhan. Karena itu, saya pikir, dalam masa Kali Yuga sekarang tanpa membaca / mempelajari Srimad-Bhagavatam, seseorang tidak akan bisa mengerti bahwa Sri Krishna adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME. Apakah pendapat saya ini benar begitu?
Jawab (J) : Ya, pendapat anda sungguh benar. Karena itu, dalam Srimad-Bhagavatam dikatakan sbb. “Krsne svadhamopagate dharma jnanadibhih saha kalau nasta drsam esa puranarkodhunoditah, kitab Bhagavata Purana ini adalah secemerlang matahari. Ia muncul setelah Tuhan Sri Krishna berpulang kembali ke tempat tinggalNya (Dunia rohani) di sertai oleh agama, pengetahuan, dsb. Orang-orang yang telah kehilangan pengelihatan akibat gelapnya jaman Kali, akan mendapat penerangan dari kitab Purana ini” (Bhag.1.3.43)
80 Tanya (T) : Dapatkah anda mengutip sloka lain yang menjelaskan dan kedudukan Srimad-Bhagavatam yang amat penting dalam putaka suci Veda?
Jawab (J) : Dikatakan, “dharmah projjhita kaitavo’tra paramo nirmatsaranam satam, kitab suci (bhagavatam) ini menolah segalam macam kegiatan keagamaan yang bermotif materialistik pamrih dan menyajikan kebenaran tertinggi yang hanya bisa dimengerti oleh para bhakti berhati suci. Srimad-Bhagavate maha-muni-krte, kitab Srimad-Bhagavatam nan indah ini disusun oleh Rishi mulia Dvaipayana Vyasa (setelah mencapai kematangan dibidang spiritual). Kim va parair isvarah sadyo hrdy avarudhyate tra krtibhih susrusubhis tat ksanat, lalu apa perlunya kitab suci lain. Begitu seseorang dengan penuh perhatian dan tunduk hati mendengar amanat Bhagavatam ini, maka dengan mengembangkan pengetahuan spiritual kitab suci ini, Tuhan YME terinsafi didalam hatinya” (Bhag. 1.1.2).Dikatakan lebih lanjut, “nigama-kalpataror galitam phalam, kitab suci (Bhagavatam) ini adalah buah matang pohon pustaka Veda. Pibata bhagavatam rasam alayam muhur aho rasika bhuvi bhavukah, wahai orang-orang bijak dan cerdas, nikmati buah Bhagavatam nan manis ini yang enaknya telah dirasakan bahkan oleh mereka yang telah mencapai pembebasan dari derita kehidupan material” (Bhag. 1.1.3).
81 Tanya (T) : Srimad-Bhagavatam menolak segala macam kegiatan keagamaan yang bermotif materialistik pamrih. Ini menunjukkan bahwa kitab suci (purana) ini menuntun kita melakukan kegiatan keagamaan spiritual yaitu pelayanan bhakti nan ikhlas kepada Tuhan Krishna sebagaimana Beliau wejangkan dalam Bhagavad-gita. Apakah aspek praktis dari pelayanan bhakti ini kepadaNya?
Jawab (J) : Aspek praktis pelayanan bhakti kepada Tuhan Krishna ada dua yaitu: a. bekerja untuk kepuasan / kesenanganNya. Dan, b. senantiasa ingat kepadaNya. Pertama, Tuhan Krishna berulang kali minta supaya kita bekerja hanya untuk kesenanganNya semata selama fisik sehat dan kuat sambil senantiasa ingat kepadaNya. Beliau berkata “yat karosi yad asnasi…tat kurusva mad arpanam, apapun yang anda kerjakan, lakukan itu sebagai persembahan kepadaKu” (Bg. 9.27 dan lihat pula Bg. 3.9, 3.30, 8.7, 11.5, 12.6, 12.10, 18.45 – 46 dan 18.57). Kedua, bila secara fisik sudah tidak mampu lagi bekerja dan saat ajal sudah dekat, kita hanya perlu ingat Tuhan Krishna. Sebab Beliau berkata, “Anta kale ca mam eva smaran muktva kalevaran yah prayati sa mad-bhavan yati nasty atra samsayah, siapapun yang pada saat ajal meninggalkan badan jasmani dengan   hanya ingat kepadaKu saja, pasti dia mencapai alam rohani temapt tinggalKu. Tidak ada keraguan tentang hal ini” (Bg. 8.5 dan lihat pula Bg. 7.1, 8.7-8, 8.10, 8.13-14, 9.22, 9.34, 12.8 & 14 dan 18.65). Demikianlah aspek praktis jalan kerohanian bhakti atau bhakti yoga.
82 Tanya (T) : Ada satu hal yang belum begitu jelas dipikiran saya. Sebelumnya ( pada dialog no. 48) anda menyebutkan bahwa Bhagavata purana atau Srimad-Bhagavatam dan juga Visnu purana, NaradiyaPurana, Garuda Purana, Padma Purana dan Varaha Purana tergolong sattvika Purana. Apakah ini berarti bahwa dengan membaca / mempelajari setiap sattvika purana ini selain Bhagavatam, seseorang bisa pula mengerti tentang Tuhan Krishna?
Jawab (J) : Tidak, selain Srimad-Bhagavatam, semua sattvika purana ini pada umumnya menguraikan lila (kegiatan rohani) para Visnu Tattva atau Visnu avatara yang merupakan perbanyakan pribadi (svamsa) Tuhan Krishna. Dikatakan bahwa Rishi Dvaipayana Vyasa merasa tidak puas setelah menulis Catur Veda,  berbagai kitab Purana dan Dharma Sastra, Mahabharata serta kitab-kitab Upanisad dan ringkasannya yaitu Vedanta Sutra. Hanya setelah menulis Srimad-Bhagavatam atas nasehat guru kerohaniannya yaitu devarishi Narada, Rishi Vyasa merasa puas, lengkap dan sempurna  dalam menyajikan pengetahuan filosofis tentang Tuhan yakni Sri Bhagavan Krishna yang menjadi asal mula segala sesuatu (Bg. 10.8 dan BS.5.1). oleh karena Srimad-Bhagavatam hanya mengajarkan kegiatan keagamaan spiritual pelayaan bhakti kepada Tuhan Krishna, maka Bhagavatam ini adalah satu-satunya purana yang tergolong Visuddha sattvika purana, purana yang berada pada tingkat spiritual atau purana spiritual. Dan hanya dnegan membaca. Mempelajari purana spiritual ini anda bisa mengerti Tuhan Krishna yang spiritual (Perhatikan Bg. 4.6, 4.9, 14.19 dan Bhag. 4.3.23). Lihat pula dialog No. 49.
83 Tanya (T) : Jadi bila seseorang sungguh-sungguh ingin mengakhiri kehidupan materialnya yang menyengsarakan di dunia fana, dia hanya perlu membaca / mempelajari Bhagavad-gita dan Srimad-Bhagavatam dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari dibawah bimbingan guru kerohanian (Acarya). Apakah saya dapat simpulkan demikian?
Jawab (J) : Ya, kesimpulan anda sungguh tepat. Dalam padma purana teradapat percakapan antara dewa Siva dengan sang istri devi parwati tentang keagungan Bhagavad-gita (Gita Mahatmya). Dalam percakapan itu dewa Siwa menjelaskan tentang manfaat membaca dan mengingat isi setiap Bab Bhagavad-gita. Dikatakan bahwa siapapun yang membaca dan mengingat dengan penuh kepercayaan (sraddha) Bab tertentu Bhagavad-gita pada saat ajal, pada akhirnya dia mencapai pembebasan (mukti) dari derita kehidupan material dunia fana. Sedangkan Srimad-Bhagavatam yang menjelaskan lila (kegiatan rohani) Tuhan Krishna dan diwejangkan oleh Rishi mulia Sukadeva diadahpan Raja Pariksit yang sedang menunggu kematian, menuntun sang Raja mencapai pembebasan (mukti) dari derita kehidupan material dunia fana. Karena itu, disimpulkan bahwa dengan mengingat Tuhan Krishna pada saat ajal, seseorang dijamin tidak lahir lagi di dunia fana dan mencapai dunia rohani tempat tinggalNya (lihat dialog No. 81).
84 Tanya (T) : Anda telah menjelaskan secara panjang lebar tentang pustaka suci Veda. Bahwa tujuan Veda adalah membebaskan sang manusia dari kehidupan material dunia fana yang menyengsarakan. Tetapi tujuan Veda yang mulia ini disalah mengerti oleh para sarjana duniawi berwatak materialistik. Sebab, kata mereka, Veda mengajarkan agar manusia berpaham pesimistik, hidup pasrah menyengsarakan dan secara bodoh menolak kehidupan material dengan hidup di masa muda sebagai brahmacari dan dimasa tua sebagai sannyasi. Komentar anda?
Jawab (J) : Mereka berkata begitu sebab menurut mereka setelah kematian (ajal) tidak ada lagi kehidupan. Segalanya berakhir dengan ketiadaan, kehampaan dan kekosongan. Mereka juga berpendapat bahwa segala macam derita kehidupan material dapat diatasi dnegan berbagai cara dan upaya material yang disebut teknologi. Lalu mereka berkesimpulan bahwa tujuan hidup manusia sebagai makhluk paling beradab adalah menikmati alam material sepuas-puasnya dengan beraneka macam cara agar bahagia. Mereka tidak perduli pada peringatan Veda ahwa derita kehidupan material berupa kelahiran (janma), usia tua (jara), penyakit (vyadhi) dan kematian (mrtyu) tidak bisa diatasi dengan cara dan upaya material apapun (Bg. 13.9). Dan jika sang manusia semakin keras berusaha menikmati alam material melalui pemuasan indera jasmani, maka, kata Veda, derita (klesa) yang secara rutin mendera dirinya yaitu adhyatma klesa (derita yang timbul dari badan dan pikiran), adhibhautika klesa (derita yang disebabkan oleh makhluk lain) dan adhidaivika klesa (derita karena bencana alam, akan semakin keras pula mendera dan menyengsarakan dirinya. Anda bisa renungkan sendiri kebenaran pernyataan Veda ini dengan melihat fakta-faktanya dalam kehidupan manusia modern sekarang.
85 Tanya (T) : Tetapi bukankah dengan hidup sebagai brahmacari seorang anak (lelaki) diwajibkan hidup sengsara? Begitu pula, bukankah dnegan hidup sebagai vanaprastha atau sannyasi orang yang sudah berusia lanjut diwajibkan pula hidup sengsara?
Jawab (J) : Veda mengatakan salah satu ciri buruk Kali Yuga sbb. “Anadhyata ivasadhutve, seseorang dikatakan hina jika dia hidup miskin” (Bhag. 12.2.5). Dimata orang-orang materialistik Kali Yuga, hidup sederhana mengendalikan indera-indera badan jasmani secara ketat, terlihat sebagai hidup miskin. Dan miskin, menurut mereka, berarti hina, dan hina berarti menderita alias sengsara. Mereka tidak perduli pada perintah Veda bahwa jika seseorang ingin bebas (mukti) dari derita kehidupan material dunia fana dan mencapai tingkat kehidupan spiritual, maka dia harus berkehidupan sederhana (tapasa) dan menuruti berbagai pantangan (vrata). Seorang brahmacari, vanaprastha ataupun sannyasi yang sudah terlatih dan terbiasa hidup berdasarkan tapasa dan vrata, berpikiran tenang dan damai dengan demikian hidup bahagia. Sebab, tanpa ketenangan dan kedamaian pikiran, seseorang tidak mungkin bahagia (perhatikan Bg. 2.66 dan 6.21). Karena itu, hidup sebagai brahmacari, vanaprastha atau sannyasi tidak berarti praktis hidup sengsara dan menderita.
86 Tanya (T) : Veda dengan jelas menyebutkan kitab-kitab suci yang menjadi bagian-bagiannya sebagaimana anda telah jelaskan (pada dialog no. 13 s/d 15). Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, mayoritas penganut ajaran Veda di masyarakat kita memakai berbagai kitab penuntun yang tidak disebutkan sebagai bagian pustaka Veda dalam kehidupan beragama mereka sehari-hari. Mengapa hal ini bisa terjadi demikian?
Jawab (J) : Sebab Tuhan Krishna yang juga disebut Narayana (sebagaimana dijelaskan dalam Padma purana) menyuruh deva Siva dan (saktinya Durgadevi) menyebarkan ajaran-ajaran rohani dalam sifat tamas (kegelapan) dengan tujuan untuk menipu orang-orang Asurik yaitu mereka yang berwatak materialistik dan atheistic. Ajaran-ajaran rohani tamasik (dark scriptures) ini yang bukan bagian dari Veda, pada umumnya adalah bagian-bagian dari kitab Saiva agama (agama yang obyek pemujaannya adalah Siva sebagai Tuhan) dan kitab-kitab sakta agama (agama yng obyek pemujannya adalah Durgadevi sebagai Tuhan). Itu yang pertama, yang kedua, dikatakan, “sakaler tamasa smrtah, ketika sifat alam tamas (kegelapan) begitu dominan menutupi kesadaran penduduk dunia, maka masa itu disebut Kali atau Kali Yuga” (Bhag. 12.3.30). Begitulah, oleh karena kesadarannya didominasi oleh sifat alam tamas, orang-orang Kali Yuga yang disebut modern menjadi bertabiat Asurik. Sehingga mreka sulit sekali mengerti Veda, apalagi menuruti prinsip-prinsip spiritual hidup suci (lihat dialog no. 52 dan 53). Karena itu, Tuhan Krishna memandang perlu membuatkan mereka kitab-kitab penuntun (guide books) kehidupan di luar ajaran Veda agar mereka tidak terlalu merosot (jatuh) dalam kelahiran berikutnya. Dan kitab-kitab penuntun dimaksud adalah kedua macam kitab Agama tersebut diatas. Kitab pasupata, saiva, maha saiva, kankala, pasanda dan juga kitab vrhaspati tattva, bhuvana kosa, tattva jnana, dsb adalah kitab-kitab Saiva agama. Sedangkan berbagai kitab tantra yang obyek pemujaannya adalah Devi Durga, tergolong kitab-kitab Sakta-Agama. Ajaran-ajaran rohani tamasaik (dark scriputers) ini telah menyebar di masyarakat kita sejak beberapa abad yang lalu dan dijadikan kitab penuntun oleh mayoritas penganut ajaran Veda dalam kehidupan beragama sehari-hari. Hal ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam dialog tentang Tuhan (Bhagavan) dan filsafat Mayapada.
87 Tanya (T) : Apa akibat dari tersebarnya kitab-kitab agama tamsik (dark scriptures) demikian di masyarakat terhadap ajaran Veda yang sedang kita bicarakan?
Jawab (J) : Akibatnya adalah pertama, mayoritas penganut ajaran Veda tidak perduli dan tidak mau mengerti isi pustaka suci Veda. Sebab, mereka berpikir bahwa kitab-kitab Agama tamasik tersebut adalah Veda yang sesungguhnya. Karena itu, mereka tidak percaya bahwa (sebagaimana diungkapkan dalam hampir setiap bagian Veda) Sri Krishna yang juga disebut Visnu atau Narayana adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME, asal mula segala sesuatu. Kedua, oleh karena kesadarannya begitu tebal diliputi sifat alam tamas (kegelapan), mereka menjadi berwatak amat materialistik. Sehingga mereka menerima pendapat para sarjana duniawi bahwa kitab-kitab Veda Smrti (purana dan Itihasa) adalah kumpulan cerita khayal alias mitos atau dongeng (lihat dialog no. 16). Ketiga, perintah Veda agar sang manusia meninggalkan pola hidup tamasik dan rajasik dan mengembangkan pola hidup sattvik supaya tertuntun ketingkat spiritual, diabaikan. Sebab, mereka berpikir bahwa beraneka macam ritual (yajna) yang mereka laksanakan berdasarkan kitab-kitab penuntun tamasik itu, telah mensucikan dirinya tanpa perlu merubah pola hidup.
88 Tanya (T) : Fakta yang saya ketahui dan alami dimasyarakat kita pada umumnya begini: Mereka yang bukan kaum intelektual berkata bahwa Siva adalah Tuhan YME. Sedangkan mereka yang tergolong intelektual berkata bahwa Brahman Imperosonal adalah Tuhan YME. Mengapa terjadi konsep (pengertian) ketuhanan yang berbeda seperti ini di masyarakat kita?
Jawab (J) : Konsep Ketuhanan yang berbeda ini timbul karena mereka berbeda sumber ajaran rohani yang menjadi penuntun kehidupannya. Mereka yang berpegang pada kitab-kitab Saiva Agama menyatakan bahwa Siva adalah Tuhan YME. Sedangkan mereka yang berpegang pada filsafat Mayavada atau advaita Vada yang diajarkan oleh Sankaracarya dalam kitabnya Sariraka bhasya, menyatakan bahwa Brahman tanpa wujud, sifat, ciri dan substansi apapun atau Brahman impersonal adalah Tuhan YME.
89 Tanya (T) : Dapatkah anda menjelaskan sedikit tentang kitab Sariraka bhasya yang ditulis oleh Sankaracarya?
Jawab (J) : Sariraka bhasya berarti komentar / penjelasan /ulasan atas kitab Sariraka sutra. Dan Sariraka sutra ini adalah nama lain Vedanta Sutra yang juga disebut Brahma sutra, Vyasa sutra, Narayana sutra, Uttara Mimamsa dan Vedanta Darsana. Ulasan atas Vedanta Sutra yaitu Sariraka bhasya yang ditulis oleh Sankaracarya bersifat monistik karena ia menyatakan bahwa makhluk hidup (atma/jiva sama dengan Tuhan (Brahman). Filsafatnya disebut Advaita vada karena ia menyatakan bahwa makhluk hidup (jiva) dan Tuhan (Brahman) adalah satu dan sama. Filsafat advaita vada ini oleh Veda disebut filsafat Mayavada. Sebab, ia menyatkan bahwa jiva atau Brahman jatuh ke dunia fana dan hidup sengsara di alam material karena ditutupi /digelapkan oleh maya, khayalan. Karena pengaruh buruk jaman Kali atau Kali yuga akibat sifat alam tamas (kegelapan) begitu tebal menutupi kesadaran penduduk dunia (lihat dialog No. 86), filsafat Mayavada atau advaita vada ini berhasil menjangkiti mayoritas penganut ajaran Veda dengan konsep ketuhanan impersonal yakni Tuhan YME adalah Brahman tanpa wujud, sifat, ciri dan substansi apapun.
90 Tanya (T) : Anda telah menjelaskan (pada dialog no. 75) bahwa komentar / ulasan asli alamiah Vedanta sutra adalah Srimad-Bhagavatam yang telah banyak kita bicarakan. Apakah ada lagi bhasya (ulasan) lain atas Vedanta sutra?
Jawab (J) : Ada, yang saya ketahui ada 5 (lima) macam bhasya lain atas Vedanta Sutra. Semuanya bersifat theistic yakni menyatakan bahwa Kepribadian Tuhan YME (Bhagavan) adalah sumber atau asal mula segala sesuatu. Para makhluk hidup (jiva) adalah tenaga marginal (ta taastha sakti) Nya, dan alam material ini terwujud dari tenaga material (bahiranga sakti) Nya. Kelima bhasya theistic ini dapat dijelaskan secara singkat beserta nama filsafanya sebagai berikut.

  1. Vedanta parijata surabha bhasya denga filsafatnya dvaita advaita vada, menyatakan bahwa Tuhan (Brahman berwujud spiritual yaitu Bhagavan) berbeda dari makhluk hidup (jiva) karena berbeda potensi. Tuhan (Bhagavan) berpotensi besar, sedangkan makhluk hidup (jiva) berpotensi kecil. Tetapi keduanya sama-sama berhakekat spiritual. Bhasya ini tulis oleh Nimbarkacarya.
  2. Sarvajna sukta bhasya dengan filsafatnya suddha advaita vada menyatakan bahwa pada tingkat spiritual makhluk hidup (jiva) memiliki sifat-sifat yang sama dengan Tuhan (Bhagavan). Bhasya ini ditulis oleh Acarya Visnusvami.
  3. Sri Bhasya dengan filsafat Visista advaita menyatakan bahwa setelah bebas dari ikatan kehidupan material dunia fana, sang makhluk hidup (jiva) mencapai kedudukan. Kehidupan spiritual yang sama dengan Tuhan (Bhagavan). Bhasya ini ditulis oleh Acarya Ramanuja.
  4. Purna prajna bhasya dengan filsafat Davita vada menyatakan bahwa baik ketika berada di dunia fana maupun di dunia rohani, makhluk hidup (jiva) dan Tuhan (Bhagavan) adalah selamanya merupakan individu-individu spiritual terpisah. Bhasya ini ditulis oleh Madhvacarya.
  5. Govinda bhasya dengan filsafat acintya bheda abheda tattva menyatakan bahwa Tuhan (Bhagavan) dan makhluk hidup (jiva) secara kualitatif tak terpahami sama yakni sama-sama berhakekat spiritual. Tetapi pada saat yang sama secara kuantitatip berbeda yakni Tuhan berpotensi besar tak terbatas, sedangkan makhluk hidup berpotensi kecil dan terbatas. Bhasya ini ditulis oleh Baladeva Vidyabhusana. Secara umum, kelima Bhasya theistic ini mengakui bahwa sang makhluk hidup (jiva) berbahagia di dunia rohani dalam hubungan cinta kasih (bhakti) timbal balik dengan Tuhan (Bhagavan).
91 Tanya (T) : Jadi ada 6 (enam) bhasya (ulasan) atas kitab Vedanta Sutra, satu yaitu Sariraka Bhasya yang ditulis oleh Sankaracarya bercorak monistik. Sedangkan lima lainnya, sebagaimana anada telah jelaskan, bercorak theistic. Apa perbedaan pokok antara filsafat monistik advaita vada dengan kelima filsafat theistic (Dvaita advaita vada, suddha advaita vada, visista advaita vada, dvaita vada dan acintya bheda-abheda tattva) ini?
Jawab (J) : Perbedaannya adalah pertama, filsafat monistik advaita vada menyatakan bahwa sang mkhluk hidup (jiva atau atma) sama alias identik dengan Tuhan (Brahman tanpa wujud, sifat, ciri dan substansi apapun). Sedangkan kelima filsafat theistic tersebut menyatakan bahwa sang makhluk hidup (jiva) adalah tenaga marginal (tatastha sakti) Tuhan (Brahman berwujud spiritual yaitu Bhagavan). Kedua, menurut filsafat monistik Advaita vada, kesempurnaan hidup (mukti) berarti sang jiva (makhluk hidup) kembali bersatu lebur dengan Brahman, Tuhan impersonal, dan kehilangan segala ciri, sifat, wujud, nama dan lain-lain sebutan. Sedangkan menurut kelima filsafat theistic tersebut, kesempurnaan hidup (mukti) berarti sang jiva (makhluk hidup) kembali pada kedudukan dasarnya sebagai abdi / pelayan kekal Tuhan (Bhagavan) di dunia rohani dan tinggal disana berbahagia dalam hubungan cinta kasih (bhakti) timbal balik denganNya.itulah perbedaan pokok antara filsafat monistik Advaita Vada dengan kelima filsafat theistic tersebut.
92 Tanya (T) : Saya heran, mengapa filsafat monistik advaita vada yang ditulis oleh Sankaracarya mampu mengalahkan kelima filsafat theistic tersebut? Maksud saya, megapa pada jaman Kali sekarang filsafat moistik Advaita Vada diikuti oleh mayoritas penganut ajaran Veda, sedangkan kelima filsafat theistic tersebut hanya diikuti oleh minoritas penganut ajaran Veda?
Jawab (J) : Karena pengaruh buruk Jaman Kali atau Kali Yuga yakni sifat alam tamas (kegelapan) begitu pekat menutupi kesadaran penduduk dunia. Sehingga orang-orang cenderung berpikir secara atheistic dan menerima Brahman tanpa wujud, sifat, ciri dan substansi apapun alias Brahman impersonal sebagai konsep ketuhanan paling benar. Hal ini saya telah katakan (pada dialog no. 89) dan akan dijelaskan lebih lanjut dalam dialog tentang filsafat Mayavada.
93 Tanya (T) : Dapatkah anda menjelaskan mengapa kelima filsafat theistic tersebut diatas memiliki pemahaman atau konsep ketuhanan yang serupa dengan filsafat Vedanta Rishi Dvaipayana Vyasa?
Jawab (J) : Sebab kelima filsafat theistic ini termasuk mazhab vaisnava tetapi garis perguruan (sampradaya) nya beralianan. Veda (padma purana) menyatakan bahwa dalam masa Kali Yuga, garis perguruan Vaisnava ( Vaisnava Sampradaya) yang dominan adalah :

  1. Kumara sampradaya berasal dari Rishi catur kumara. Acarya Nimbarka yang menulis filsafat Dvaita Advaita Vada atau svabhavika bheda abheda vada, termasuk dalam garis perguruan ini.
  2. Sri Sampradaya berasal dari Devi Laksmi, Acarya Ramanuja yang menulis filsafat Visista advaita vada, termasuk dalam garis perguruan ini.
  3. Rudra sampradaya berasal dari Dewa Siva yang juga disebut Rudra atau mahadeva, Acarya Visnuswami yang menulis filsafat Suddha advaita vada termasuk dalam garis perguruan ini.
  4. Brahma sampradaya berasal dari Dewa Brahma. Madhvacarya yang menulis filsafat Dvaita vada termasuk dalam garis perguruan ini. Begitu pula, baladeva vidyabhusana yang menulis filsafat Acintya Bheda-abheda tattva, termasuk dalam garis perguruan ini. Dan Rishi Dvaipayana Vyasa sendiri yang menulis filsafat Vedanta, termasuk dalam Brahma sampradaya, garis perguruan Vaisnava yang berasal dari Dewa Brahma.
94 Tanya (T) : Menurut Anda, dari kelima filsafat theistic ini yang mana bisa dikatakan paling lengkap dan paling sempurna?
Jawab (J) : Filsafat acintya bheda abheda tattva yang ditulis oleh Baladeva Vidyabhusana. Dalam kitab Navadvipa mahatmyam (parikrama kanda ) dikatakan bahwa dahulu para Acarya dari keempat Vaisnava sampradaya (Ramanujacarya, Madhavacarya, Nimbarkacarya dan Acarya visnuswami) datang ke Gauda Mandala. Disana mereka bertemu dengan Sri Caitaya Mahaprabhu. Dan dalam petemuan itu Sri Caitanya berkata kepada Nimbarkacarya sebagai berikut, “nanti ketika saya memulai gerakan Harinama Sankirtana, saya akan mengajarkan filsafat Veda dengan mengambil inti sari ajaran filosofis kalian berempat. Dari filsafat Davita Vada karya Madhavacarya, saya mengambil dua hal itu yaitu: a. argumen-argumen telah yang mengalahkan pilsafat Mayavada. b. pelayanan kepada murti Sri Krishna yang dipuji sebagai sosok spiritual kekal abadi. Dari filsafat Visista advaita karya Ramanujacarya, saya membagil dua hal yaitu: a, perasaan sepenuhnya bergantung kepada Sri Krishna, b. jalan cinta kasih (bhakti) spontan. Dan dari anda Nimbarkacarya yang menulis filsafat dvita advaita vada, saya mengambil dua prinsip ajaran utama yaitu : a. perlunya berlindung kepada Sri Radha. b. penghormatan tinggi pada cinta kasih ( bhakti) para gopi kepada Sri Krishna”.Demikianlah, inti sari ajaran filosofis dari keempat Vaisnava sampradaya tersebut kemudian disusun oleh Baladeva Visyabhusana menjadi filsafat Acintya bheda-abheda tattva. Filsafat ini menyatakan bahwa makhluk hidup (jiva) secara kualitatif tak terpahami sama dengan Tuhan (Bhagavan) yakni sama-sama berhakekat spiritual, dan pada saat yang sama secara kuantitatif berbeda dari Tuhan (Bhagavan) karena berbeda potensi yaitu makhluk hidup (jiva) berpotensi kecil dan terbatas, sedangkan Tuhan (Bhagavan) berpoetensi besar tak terbatas. Berdasarkan filsafat acintya bheda abheda tattva ini, anda akan dengan mudah dan benar bisa mengerti Vedanta sutra sebagaimana dijelaskan dalam Srimad-Bhagavatam.
95 Tanya (T) : Saya pernah dengar bahwa filsafat Vedanta adalah salah satu dari 6 (enam) filsafat yang umum dikenal diantara para sarjana Veda. Apakah keenam macam filsafat ini adalah keenam filsafat yang telah kita bicarakan yaitu satu filsafat monistik advaita vada dan lima filsafat theistic tersebut diatas?
Jawab (J) : Tidak. Enam filsafat yang umum dikenal diantara para sarjana Veda disebut sad darsana. Sa : enam, dan darsana : pandangan, jadi sad darsana berarti enam pandangan / pendapat filosofis dalam menjawab pertanyaan, “apakah yang menjadi asal mula ( sumber ) segala sesuatu?”. a. nyaya, filsafat logika yang dikemukan oleh rishi Gautama menyatakan bahwa atom ( paramanu) adalah sebab (sumber) terjadinya alam semesta material beserta segala sesuatu yang ada padanya. Kitabnya disebut nyaya sutra. b. vaisesika, filsafat logika murni yang dikemukan oleh rishi Kanada. Filsafat ini menyatakan bahwa kombinasi atom (paramanu) dalam beraneka ragam cara adalah sebab (sumber) terjadinya alam semesta mataerial beserta segala sesuatu yang ada padanya.  kitabnya disebut vaisesika sutra. c. sankhya, filsafat studi analisis, dikemukan olehrishi kapila (bukan kapila putra Devahuti). Menurut filsafat ini, unsur-unsur materi adalah penyebab terwujudnya alam semesta material (prakrti) beserta segala isinya. d. yoga, filsafat kesempurnaan mistik dikemukakan oleh Rishi Patanjali dalam kitabnya Yoga sutra. Dikatakan bahwa kesadaran alami adalah sumber (sebab) terjadinya alam semesta material beserta segala makhluk penghuninya. e. karma mimamsa, filsafat sebab akibat, dikemukakan oleh Rishi Jaimini. Menurut Jaimini kegiatan pamrihlah yang menjadi sebab adanya segala sesuatu termasuk alam material (prakrti) beserta segala isisnya. Kitabnya disebut mimamsa sutra, f. Vedanta, filsafat ini juga disebut Brahma mimamsa atau utara mimamsa, karya Rishi Dvaipayana Vyasa, inkarnasi Tuhan Sri Krishna dibidang Sastra. Menurut filsafat Vedanta, kebenaran Mutlak adalah kepribadian Tuhan YME, Sri Bhagavan Krishna yang menjadi sebab dan asal mula segala sesuatu termasuk alam material (prakrti) beserta segala makhluk penghuninya. Semua pembicaraan kita sebelumnya berkaitan dengan filsafat Vedanta ini.
96 Tanya (T) : Jika demikian halnya, menurut anda filsafat aakah dari enam filsafat tersebut yang sungguh lengkap dan sempurna?
Jawab (J) : Filsafat Vedanta, Sebab pertama, menurut filsafat ini alam material (prakrti) terwujud dari tenaga material (maya) Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna (perhatikan Bg. 7.4.-5). Atom (paramanu) dan berbagai unsur materi yang dikatakan sebagai sumber (penyebab) adanya alam material (prakrti) oleh filsafat nyaya, vaisesika dan Sankhya, adalah tidak lain dari pada unsur-unsur tenaga material (maya) Beliau. Sedangkan unsur kesadaran dan kegiatan (karma) yang dikatakan sebagai sumber (penyebab) adanya alam material oleh filsafat yoga dan karma mimamsa, adalah tidak lain dari pada bagian dari keberadaan tenaga marginal (ksetrajna atau tatastha sakti)Nya yaitu para mkhluk hidup ( jiva) yang menghuni alam material. Kedua, kelima filsafat ( nyaya, vaisesika, sankhya, yoga dan karma mimamsa) tersebut masing-masing berusaha menjelaskan tentang “sumber” yang menjadi asal mula segala sesuatu (yaitu dunia fana beserta segala makhluk penghuninya) berdasarkan logika, analisis dan rasionalitas sang penulis tanpa memperdulikan peranan Tuhan yang menurut Veda adalah sumber dan asal-mula segala sesuatu. Ketiga, dalam Bab II dan Bab III Vedanta sutra secara panjang lebar diungkapkan kekeliruan kelima filsafat tersebut.
97 Tanya (T) : Jadi filsafat yang sungguh lengkap dan sempurna adalah filsafat Vedanta, sebab ia adalah filsafat Veda itu sendiri. Dan anda telah menjelaskan (pada dialog no. 83) bahwa bila seseorang sungguh ingin mengakhiri kehidupan materialnya yang menyengsarakan di dunia fana, di hanya perlu membaca / mempelajari filsafat ini sebagaimana tercantum dalam Bhagavad-gita dan Srimad-Bhagavatam, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dibawah bimbingan guru kerohanian (Acarya). Dapatkah anda menjelaskan secara singkat bagaimana caranya mempraktekkan ajaran filosofis kedua kitab suci Veda yang utama ini?
Jawab (J) : Inti filsafat Vedanta yang tercantum dalam Bhagavad-gita dan Srimad – Bhagavatam adalah pelayanan cinta kasih (bhakti) kepada Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna. Karena itu, masalahnya adalah bagaimanakah caranya mengembangkan cinta kasih (bhakti) kepada Tuhan Krishna? Pada jaman Kali yang disebut abad modern sekarang, Tuhan Krishna telah memberikan cara yang sungguh sederhana, mudah, meriah dan meyenangkan yaitu memuji dan memuji Beliau dengan mengucapkan / mengumandangkan / menghidungkan / menyanyikan nama-nama suciNya dengan tekun dan teratur secara berkelompok atau bersama-sama. Ini disebut program kirtana yang merupakan salah satu dari 9 (sembilan) proses jalan kerohanian bhakti atau bhakti yoga. Hal ini saya telah singgung sebelumnya (pada dialog no. 77). Oleh karena nama lain Tuhan Krishna adalah Sri Hari, maka kegiatan spiritual memuji dan memuji Beliau dengan mengumandangkan nama-nama suciNya disebut Hari Nama Sankirtana.
98 Tanya (T) : Tuhan Krishna memiliki amat banyak nama seperti Govinda, Kesava, Janardana, Vasudeva, Visnu, Murari, Madhusudana, dsb. Apakah saya boleh memilih dan mengucapkan salah satu atau beberapa nama tersebut untuk memuji dan memuji Beliau setiap hari?
Jawab (J) : Tidak, Veda  (Kali santarana Upanisad) mengajurkan agar setiap orang pada jaman Kali yang dikatakan abad modern sekarang, mengucapkan nama-nama suci Tuhan Krishna yang terseusun berupa mahamantra berikut :Hare Krishna hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Anda hanya perlu mengucapkan / mengumangkan / menyanyikan maha mantra ini secara tekun dan teratur setiap hari. Dengan menuruti proses / praktek spiritual hari nama Sankirtana ini, pelan tetapi pasti, diri anda jadi tersucikan. Cinta kasih (bhakti) kepada Tuhan Krishna bangkit dilubuk hati, dan anda tertuntun ke tingkat kehidupan spiritual yang sungguh membahagiakan. Sebab dikatan, “itisodasakam nam nam kali-kalmasa nasanam natah parataropayah sarva vedesu drsyate, (maha mantra yang tersusun dari) enam belas nama suci Tuhan atau tiga puluh dua suku kata ini yang membentuk nama-nama suci Tuhan, adalah satu-satunya cara untuk mengatasi segala pengaruh buruk jaman Kali. Dalam semua pustaka Veda disimpulkan bahwa untuk menyeberangi samudera kegelapan hidup material, tidak ada cara lain selain dari pada mengumandangkan keenam belas nama suci Tuhan ini” (Kali santarana Upanisad)

99 Tanya (T) : Apakah ada lagi sloka-sloka Veda lain yang menyatakan bahwa kirtana atau Sankirtana kepada Tuhan Krishna adalah praktek spiritual yang memang dianjurkan oleh Veda untuk dilaksanakan pada jaman Kali sekarang?
Jawab (J) : Ada. Pertama, dikatakan, “harer nama harer nama harer namaiva kevalam kalau nasty eva eva nasty eva gatir anyata, pada jaman Kali tidak ada cara lain, tidak ada cara lain dan tidak ada cara lain untuk maju dalam jalan kehidupan spiritual selain daripada mengumandangkan nama suci, nama suci, nama suci Tuhan Hari” (Brhan Naradiya Purana 38.126). kedua, dalam Srimad-Bhagavatam (12.3.51) dikatakan, “kaler dosa nidhe rajan asti hy eko mahan gunah, waha sang Raja, meskipun Kali Yuga penuh dengan kegiatan berdosa, tetapi jaman Kali ini membawa satu keberuntungan besar yakni kirtanad eva krsnasya mukta sanggah param vrajet, hanya dengan mengumandangkan nama-nama suci Tuhan Krishna, orang Dapat bebas dari derita kehidupan material dunia fana dan kembali ke dunia rohani yang membahagiakan”. Ketiga, Visnu Purana (6.2.17). Padma purana utara kanda (72.25) dan Brhna Naradiya Purana (38.97) menyatakan “phala spiritual apapun yang dicapai melalui meditasi pada masa satya yuga, melalui pelaksanaan yajna (ritual) pada masa Treta yuga, dan dengan memuji Arca VigrahaNya secara mewah pada masa Dvapara yuga, phala serupa juga bisa dicaai pada masa Kali yuga sekarang hanya dengan kalau sankirtya kesavam, mengumandangkan nama – nama suci Sri Kesava (Krishna)”. Keempat, dalam Bhagavad-gita Tuhan Krishna berkata, “Satatam kirtayanto mam, senantiasalah mengumandakang keagunganKu dengan mengidungkan nama-nama suciKu” (Bg. 9.14). Masih banyak lagi sloka Veda lain yang bisa dikutip untuk menunjukkan bahwa Sankirtana yajna atau hari nama Sankirtana yajna adalah praktek spiritual yang dianjurkan oleh Veda untuk dilaksanakan pada jaman Kali sekarang.
100 Tanya (T) : Jadi ajaran spiritual Veda yang amat banyak, luas dan bervariasi itu dapat dipraktekkan secara mudah dan sederhana dalam masa Kali yuga sekarang degnan melaksanakan Hari Nama Sankirtana. Bukankah demikian kesimpulannya?
Jawab (J) : Ya, memang demikian. Terutama sekali bagi kita yang hidup pada jaman Kali atau abad modern sekarang, sambil secara tekun dan teratur melaksanakan Hari Nama Sankirtana, kita hanya perlu membaca / mempelajari / mengerti kesimpulan pustaka suci Veda yaitu Bhagavad-Gita. Jadi bagi kita,  orang-orang Kali Yuga yang pendek usia dan harus bekerja keras setiap agar bisa makan dan bertahan hidup, sesungguhnya jaran spiritual Veda yaitu Hari Nama Sankirtana yang harus kita tekuni, hanya terdiri dari 4 (empat) unsur yaitu : a. ekam sastram devaki putra gitam, satu kitab suci yaitu Bhagavad-gita yang diwejangkan oleh Sri Krishna, putra ibu Devaki, b. eko devo devaki putra eva, satu Tuhan yaitu Sri Krishna, putra ibu Devaki, c. eko mantras tasya namani yakni, satu mantra yaitu nama-nama suci Beliau, dan d. karmapy ekam tasya devasya seva, satu kegiatan yaitu pelayanan cinta kasih (bhakti) kepada Sri Krishna, Kepribadian Tuhan YME. Demikian dikatakan oleh Acarya Sankara dalam Gita Mahatmyanya sloka 7.
101 Tanya (T) : Anda telah berbaik hati sekali menjelaskan secara panjang lebar kepada saya tentang pustaka suci Veda yang belum diketahui dan dimengerti oleh mayoritas penganut ajaran Veda itu sendiri. Saya hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati anda. Semoga Tuhan Krishna memberkati.
Jawab (J) : Dan semoga jawaban – jawaban yang saya telah berikan bermanfaat. Haribol.

Denpasar, 28 Maret 2011

Iklan

5 pemikiran pada “Dialog Tentang Pustaka Veda

  1. Terima kasih banyak karena pustaka Veda sudah hadir dlm bahasa Indonesia dan sudah disebarkan dengan media elektronik dan internet sehingga dapat diakses kapan dan dimanapun.
    Jaya Gaurangga
    Jaya Nityananda
    Jaya Radha Krsna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s