Vaisnava-Dharma yang Non-Sektarian #5

Vaisnava-Dharma yang Non-Sektarian #5 Prinsip-prinsip dharma yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Yesus Kristus adalah serupa dengan prinsip-prinsip dharma yang diajarkan oleh perguruan Vaisnava. Buddhisme dan Jainisme adalah serupa dengan Saiva-dharma. Ini adalah pertimbangan secara ilmiah terhadap kebenaran-kebenaran yang terkait dengan prinsip-prinsip dharma. Orang yang menganggap prinsip-prinsip dharma yang mereka jalani adalah dharma yang sejati dan menganggap prinsip-prinsip dharma yang dijalani orang lain adalah adharma atau dharma-bawahan tidak akan mampu menemukan kebenaran karena mereka berada di bawah pengaruh prasangka. Sesungguhnya, prinsip-prinsip dharma yang dijalani oleh orang-orang pada umumnya adalah berbeda-beda hanyalah karena adanya perbedaan kepantasan/kualifikasi para praktisinya, namun prinsip-prinsip dharma yang mendasar bagi semua entitas hidup adalah satu dan sama. Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang bermental-angsa untuk mendiskreditkan prinsip-prinsip dharma yang sedang dijalani oleh orang pada umumnya sesuai dengan keadaan mereka. Karena itu, dengan sikap penghormatan sepenuhnya terhadap prinsip-prinsip dharma yang dijalani oleh orang-orang pada umumnya, sekarang kita akan membahas tentang prinsip-prinsip dharma yang mendasar bagi para entitas hidup. Satvata-dharma, atau Vaisnava-dharma yang non-sektarian, adalah prinsip-prinsip dharma yang mendasar, atau kekal, bagi para entitas hidup. Prinsip-prinsip Vaisnava yang dapat ditemukan dalam Mayavada-sampradaya hanyalah merupakan peniruan yang bersifat tidak langsung terhadap prinsip-prinsip Vaishnava-dharma. Ketika prinsip-prinsip Vaisnava yang sektarian tersebut menjadi bersifat transendental, yakni, ketika terbebas dari impersonalisme, maka prinsip-prinsip tersebut menjadi Satvata-dharma, atau prinsip-prinsip dharma yang terkait dengan Kebenaran Tertinggi. Berbagai sampradaya yang berbeda-beda, yakni dvaita (dualisme), dvaitadvaita (kesatuan dan perbedaan secara bersamaan), suddhadvaita (kesatuan yang termurnikan), dan visistadvaita (monisme yang spesifik) yang dapat ditemukan dalam satvata-dharma tidak lain hanyalah keragaman yang menakjubkan yang berupa perasaan-perasaan halus yang terdapat di dalam sains Vaisnava. Sesungguhnya adanya berbagai sampradaya tersebut bukanlah hasil dari adanya perbedaan-perbedaan pada sisi kebenaran-dasarnya. (Selesai)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s