Perjalanan ke Tanah Vraja # 1

PENDAHULAUAN

oà ajïäna-timirändhasya  jïänäïjana-çaläkayä

cakñur unmélitaà yena  tasmai çré-gurave namaù

Saya dilahirkan di dalam kebodohan yang gelap, tetapi guru kerohanianku telah membuka mataku dengan penerangan berupa pengetahuan. Saya bersujud dengan hormat kepada Beliau.

 nama oà viñëu-pädäya kåñëa-preñöhäya bhü-tale

çrémate bhaktivedänta-svämin iti nämine

namas te särasvate deve gaura-väëé-pracäriëe

nirviçeña-çünyavädi-päçcätya-deça-täriëe

 

“Saya bersujud dengan hormat kepada Çré Çrémad A C Bhaktivedanta swami Prabhupada, yang sangat dicintai oleh Çré Kåñëa karena Beliau sepenuhnya berlindung pada kaki padmaNya.

      Sembah sujud saya kepada anda, o tuanku, pelayan Çréla Bhaktisidhanta sarasvati Gosvami. Anda sangat berkarunia dengan mengajarkan ajaran Çré Caitanya dan membebaskan negaranegara barat yang penuh dengan filsafat Mayavadi dan Sunyavadi ( Tuhan tidak berbentuk pribadi dan sifat kekosongan).

 vrajendra-nandanaà vande sa-rämaà jaladä prabham

çré-dämädyaiù parivritaà sakhya-prema-pariplutam

   “Saya menghaturkan sembah sujud kepada Vrajendra- Nandana yang warna kulit Beliau bagaikan awan menjelang hujan, Beliau yang di temani oleh Çré Balaram dan di kelilingi oleh anak anak pengembala sapi yang dipimpin oleh Çré Däma, Beliau di banjiri oleh rasa cinta anak gembala sapi”.

 çré-kåñëa-caitanya prabhu-nityänanda çré-advaita

gadädhara çréväsädi-gaura-bhakta-vånda

 “Saya bersujud kepada Çré Kåñëa Chaitanya, Prabhu Nityananda, Çré Advaita, Gadadhara, Çrévasa, dan semua yang berada di dalam garis pengabdian suci bhakti”.

 hare kåñëa hare kåñëa kåñëa kåñëa hare hare

hare räma hare räma räma räma hare hare

 vraja-väsé-gaëa,  pracäraka-dhana,   pratiñöhä-bhikñuka tä’rä nahe ‘çava’

präëa äche tä’r,  se-hetu pracär,  pratiñöhäçä-héna-‘kåñëa-gäthä’ saba

 “Harta karun yang paling berharga dari para pelayan Tuhan yang mengajarkan kesadaran Kåñëa adalah sebenarnya mereka merupakan kepribadian yang kekal yang tinggal di Vraja-dhäm. Mereka tidak pernah mendapatkan sesuatu untuk diri mereka hanya untuk reputasi material yang tidak berharga yang hanya kelihatan berharga bagi orang yang bagaikan mayat. Para vraja vasi sepenuhnya hidup, karena itu mereka mengajarkan hanya untuk memberikan kehidupan kepada orang material yang bagaikan mayat berjalan. Semua nyanyian yang dinyanyikan oleh para vraja vasi tentang keagungan Tuhan Çré Kåñëa sebenarnya bebas dari bintikbintik keinginan untuk kemasyuran material”.(dikutip dari “dusta mana”, karya Çréla Bhaktisidhanta Sarasvati)

        Vraja juga kadangkadang di kenal dengan nama “tanah kelahiran Çré Kåñëa” karena Çré Kåñëa berlila di tempat ini lima ribu tahun yang lalu.  Tidak ada perbedaan antara tempat dan kegiatan kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Çré Kåñëa dengan diri Beliau sendiri. Karena itu untuk memberikan kesempatan kepada para makhluk hidup khususnya umat manusia untuk mengingat dan mendapat kesempatan untuk mendengar kegiatanNya, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa muncul disertai oleh rekanrekan, tempat tinggal Beliau yang kekal dan lainlain dan melakukan kegiatan Beliau di muka bumi ini. Di dalam Çrémad Bhagavad Gita, bab 4 sloka 9 Tuhan Çré Kåñëa bersabda:

janma karma ca me divyam   evaà yo vetti tattvataù

tyaktvä dehaà punar janma    naiti mäm eti so ‘rjuna

   “Orang yang mengetahui sifat rohani kemunculan dan kegiatanKu tidak akan dilahirkan lagi setelah meninggalkan badannya melainkan akan mencapai tempat tingalKu, wahai Arjuna”.

    Ada begitu banyak tempat di bumi ini yang sangat indah secara material dan Tuhan mempunyai kuasa penuh untuk muncul dan berlila dimanapun Beliau inginkan. Karena Beliau adalah yang maha kuasa maka tidak seorangpun yang akan mampu melarang Beliau. Tetapi tetap Beliau memilih untuk muncul dan berlila di Vraja dham. Beliau memilih Vraja Dham karena disana ada penyembah murni Beliau. Hanya itulah alasan Beliau untuk muncul di suatu tempat. Kalau hanya untuk membunuh Kamsa, atau raksasa yang lainnya, Beliau tidak perlu turun ke bumi ini. Hanya dengan memerintahkan dewi Maya atau dewa kematian,Yamaraj, Beliau mampu membunuh para raksasa dengan mudah. Tetapi karena Beliau ingin memuaskan dan menikmati bersama penyembah Beliau maka Beliau muncul di muka bumi ini.

Karena rasa cinta bhakti yang murni para Gopi dan Gopa di Vrndavana, Tuhan Çré Kåñëa memilih Vraja sebagai tempat favorit Beliau. Dan di Vraja, Beliau mempunyai tiga tempat favorit karena tempat itu memberikan fasilitas yang khusus kepada Kåñëa dan penyembahnya untuk menikmati kegiatan mereka. Tempat itu adalah tepi sungai Yamuna, bukit Govardhan dan hutan Vrndavana.

            Çré Kåñëa melakukan lila Beliau yang rohani di Vraja dham lima ribu tahun yang lalu. Beliau dilahirkan di Mathura dan setelah beberapa jam di dalam penjara yang berada dibawah Kekuasaan Kamsa, tempat dimana Beliau dilahirkan, Beliau dibawa ke Gokul oleh Vasudeva ke rumah Nanda Maharaj. Setelah kurang lebih 3 atau 4 tahun, karena rasa sayang para vrajavasi, takut akan Kåñëa digangu oleh raksasa yang sering berusaha membunuh Kåñëa, yang dimulai dari Raksasi Putana, mereka pindah keseberang sungai Yamuna menuju Nanda Gaon. Di sana Kåñëa bersama Balaram melakukan aktivitasnya selama kurang lebih sampai berumur  11 tahun. Dan dari sana Beliau pindah ke Mathura untuk memuaskan para penyembah Beliau di Mathura. Setelah beberapa tahun meluangkan waktu Beliau di Mathura, Beliau pindah ke Dvaraka, di daerah bagian barat India.

            Meskipun kejadian ini telah terjadi lima ribu tahun yang lalu, namun Kåñëa dalam aprakrta lila Beliau (kegiatan yang terselubung), Beliau masih berada di Vraja dham sampai saat ini dan kalau seseorang mempunyai kualifikasi, mereka masih bisa melihat Kåñëa sedang bermain main di Bukit Govardhan bersama anakanak gembala sapi. Di antara tempattempat suci di mana Çré Visnu melakukan lila Beliau, hanya di Vraja Beliau menginjakan kaki padma Beliau setiap hari tanpa alas kaki. Beliau mengembalakan sapi setiap hari dan berkeliling di hutan Vrndavana, bukit Govardhan dan tempattempat lainnya tanpa alas kaki. Jadi tanah suci Vrndavana sebenarnya penuh dengan debu bekas jejak kaki Çré Kåñëa secara langsung. Bahkan sampai sekarang kita bisa melihat di beberapa tempat di bukit Govardhan dan tempat lainnya, jejak kaki Çré Kåñëa yang berbekas di atas batu (Govardhan sila). Selain itu Çré Caitanya Mahäprabhu dan para pengikut Beliau, para Gosvami dan lainlain, lima ratus tahun yang lalu, mengadakan perjalanan di Vraja dham tanpa alas kaki. Mereka keliling di Vraja dham dan menginjakan kaki padma mereka, dimana debu yang menyentuh kaki padma para vaisnava yang agung seperti itu bisa mengangkat seluruh alam semesta pulang ke dunia rohani. 

Meskipun keagungan Vraja Dham tidak bisa dibandingkan dengan tempat suci manapun di alam semesta material ini, namun keberadaan dan keagungan Vraja sempat terpendam selama beberapa ribu tahun setelah Kåñëa menutup lila Beliau lima ribu tahun yang lalu di bumi ini. Banyak tempat yang penting yang berhubungan dengan kegiatan rohani Çré Kåñëa di Vraja, termasuk Radha Kunda, tempat suci tertinggi di seluruh alam semesta, telah terlupakan dan bahkan tidak ada yang tahu dimana lokasi tempattempat tersebut. Melihat keadaan seperti ini, Çré Caitanya Mahäprabhu, yang merupakan Çré Kåñëa sendiri, secara pribadi datang ke Vrndavana untuk menggali atau menemukan tempattempat suci tersebut. Beliau juga mengirim para pengikutNya seperti Lokanath Gosvami, Rupa Gosvami, Sanatana Gosvami dll, yang tidak lain dari para rekan Çré Kåñëa Pribadi yang muncul dalam lila Beliau sebagai Çré Caitanya, untuk melajutkan pencaharian terhadap tempattempat di mana Çré Kåñëa melakukan kegiatan Beliau di Vraja.

Mungkin orang akan berpikir, Bagaimana kita bisa mempercayai kalau itu adalah tempat yang sama yang dimana Kåñëa melakukan kegiatanNya di Vraja sedangkan mereka, para Gosvami, tidak hadir lima ribu tahun yang lalu? Kåñëa bersifat kekal, maka Beliau juga mempunyai rekan yang kekal. Rekan rekan Beliau tersebut selalu muncul bersama Beliau dalam berbagai bentuk. Atas keinginan Kåñëa, para penyembahnya bisa mengingat segala sesuatu yang terjadi di masa lampau masa sekarang dan masa yang akan datang. Jadi karena lima ribu tahun yang lalu Kåñëa dan para gopi dan gopa berlila di tempat ini, hanya Kåñëa, gopa dan gopilah yang bisa memastikan dimana tempat mereka berlila. Seperti yang disampaikan sebelumnya, para goswami tidak lain dari gopa dan gopi yang menjelma di dalam lila Çré Caitanya sebagai orang yang berada dalam pelepasan ikatan (Gosvami atau para sannyasi). Jadi atas keinginan Çré Caitanya, yang merupakan Çré Kåñëa pribadi, Çré caitanya menginginkan mereka untuk mengingat tempattempat dimana mereka melakukan lila lima ribu tahun lalu.  Karena itu tidak ada hal yang perlu diragukan lagi mengenai kebenaran pendapat mereka karena mereka adalah gopa dan gopi yang hadir secara pribadi bersama Kåñëa di Vraja dham lima ribu tahun silam. Selain itu para goswami juga menggunakan dasar sastra untuk memastikan tempattempat tersebut seperti Purana, itihasa dan lainlain.  

Vraja dham yang berada di bumi ini tidaklah berbeda dengan Goloka Vrndavana. Ketika Kåñëa turun ke bumi Beliau membawa tempat tinggal Beliau yang kekal untuk datang ke dunia material ini. Meskipun Goloka di bumi ini dengan yang ada di dunia rohani tidak berbeda, namun dinyatakan bahwa Vraja dham di dunia material lebih berkarunia dari pada Goloka Vrndavana di dunia rohani. Di dunia rohani, hanya rohroh yang sepenuhnya bebas dari pencemaran dunia material dan memiliki cinta bhakti yang murni kepada Çré Kåñëa yang akan diizinkan untuk masuk. Sedangkan orang yang masih memiliki bahkan sedikit motif material tidak akan diizinkan untuk mendekati perbatasan Goloka sekalipun. Sedangkan Vraja yang sama, yang bermanifestasi di bumi ini, mengijinkan dan memberikan kesempatan bahkan kepada para raksasa atau orang yang sangat berdosa sekalipun untuk masuk ke Vraja dham. Çréman Gopi Parana Dhana Prabhu sering menjelaskan bahwa, Kadangkadang ada orang naik bus atau kereta api dan secara tidak sengaja berhenti dan turun di Vraja hanya untuk membeli teh atau kopi. Meskipun secara tidak sengaja seperti itu karena telah menginjakan kakinya di tanah suci Vraja, mereka sebenarnya secara tidak sadar telah mendapatkan keuntungan yang tidak bisa dibandingkan dengan mengunjungi ribuan tempat suci lainnya dan mandi di berbagai tempat suci dimuka bumi ini.

         Di dalam buku kecil ini saya berusaha menguraikan segelintir dari keagungan tempattempat di Vraja dham. Disini tidak akan diuraikan semua tempattempat di Vraja yang mungkin sudah diuraikan dalam bukubuku lain, tetapi hanya akan menguraikan beberapa tempat yang mungkin dikunjungi oleh penyembah yang berkunjung dalam waktu yang singkat. Buku kecil ini dimaksudkan untuk memberikan informasi dan sedikit tuntunan untuk mereka yang hanya berkunjung ke Vraja dalam waktu yang singkat dan juga untuk para penyembah yang belum pernah mengunjungi Vraja sehingga mereka mendapat kesempatan untuk merasakan dan menikmati keindahan Vraja di dalam meditasi mereka. Selain itu ini juga dimaksudkan untuk menambah keyakinan kita pada kisahkisah yang di uraikan di dalam kitab suci adalah sejarah yang memang benarbenar nyata dan bukan sekedar dongeng atau mitos, dengan bukti yang masih kita dapat lihat sampai sekarang seperti yang akan diuraikan di sini.

Ceritacerita dalam buku ini dimaksudkan untuk membantu para pembaca untuk bermeditasi pada kegiatan Kåñëa khususnya bagi mereka yang datang ke tempat suci Vraja dham. Berkunjung ke tempat suci dimaksudkan untuk mengingat kegiatan Kåñëa dan para penyembahnya di tempattempat tersebut. Çréla Prabhupada menyampaikan bahwa berkunjung ke tempat suci bukan hanya untuk mandi dan kemudian berpikir bahwa saya sekarang sudah disucikan dan bebas dari dosa. Tapi hal yang paling penting adalah mendapat pergaulan dari para sadhu atau orang suci yang tinggal di tempattempat suci tersebut dan menikmati manisnya kegiatan Çré Kåñëa dari mereka atau dari karyakarya yang mereka tinggalkan untuk kita. Kisahkisah  yang di sampaikan di dalam buku kecil ini di ambil dari berbagai sumber khususnya dari bukubuku Prabhupada dan  para Gosvami serta para pengikut mereka. semoga persembahan kecil dan sederhana ini akan membantu para penyembah yang akan dan yang berkunjung ke Vraja dham dan juga bagi para penyembah yang ingin bermeditasi pada Vraja dham meskipun masih berada jauh dari tempat tersebut dan bermanfaat bagi para pembaca untuk kemajuannya di dalam menempuh kehidupan spiritual.

 om namo bhagavate väsudeväya  oà çri rämakåñëäbhyaà namaù  om tat sat.

 

 Bab I

 Kunjungan Sri Caitanya Ke Vrndavana

             Lima ratus tahun yang lalu, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Krsna muncul sebagai Sri Krsna Caitanya di daerah India timur tepatnya di Sridham Mayapur, Navadvip, Bengala bagian barat. Salah satu tujuan Beliau adalah untuk membangkitkan kembali keagungan Vraja Dham yang saat itu sudah sudah hampir tidak dikenal oleh masyarakat umum bahkan mereka yang tinggal di daerah tersebut. Atas perintah Beliau, para gosvami Vrndavana melakukan penelitian sehingga akhirnya saat ini kita dapat dengan mudah mengenali tempat-tempat dimana Krsna melakukan kegiatanNya. Sebelum para gosvami khususnya enam gosvami yang dipimpin oleh Sri Rüpa dan Sri Sanätana datang ke Vrndavana, Sri Caitanya Mahaprabhu secara pribadi datang ke Vrndavana untuk menemukan tempat-tempat yang telah terlupakan di Vrndavana. Seperti misalnya Radha Kunda dan Syama Kunda yang telah hilang namun Sri Krsna Caitanya menemukan tempat tersebut kembali yang nantinya direnovasi oleh Sri Raghunath Däsa Gosvami.

            Sebelum kita memasuki daerah Vrndavana, saya secara pribadi merasa bahwa merupakan suatu yang sangat penting untuk mendengarkan kisah perjalanan Sri Caitanya di Vrndavana serta saat Beliau berada di Vrndavana. Dengan demikian kita bisa mendapat kesempatan untuk mendengar dan mengerti bagaimana hendaknya perasaan seseorang saat berkunjung ke Vrndavana. Selain itu, dengan mendengarkan kisah Sri Caitanya Mahäprabhu ini, kita bisa mengikuti jejak kaki padma Beliau dan berdoa kepada Beliau yang sebagai yuga avatar yang paling berkarunia di jaman ini semoga bersedia memberikan karuniaNya sehingga kita bisa mengagumi dan menghormati Vraja dham semaksimal mungkin. 

            Sri Caitanya Mahäprabhu berusaha keras beberapa kali untuk datang ke Vrndavana. Saat Beliau berada di Navadvip, Sri Caitanya pernah berusaha untuk berangkat ke Vrndavana tetapi atas aturan Sri Nityananda Prabhu, Beliau berhasil mengiring Sri Caitanya ke Santipur, rumah Sri Advaitäcarya. Setelah Beliau mengambil sannyasin, Beliau berkeinginan untuk tinggal di Vrndavana tetapi atas keinginan Ibu Saci, ibuNya, Sri Caitanya akhirnya tinggal di Jagannatha Puri. Saat berada di Jagannatha Puri, Beliau juga berusaha untuk berangkat ke Vrndavana beberapa kali, namun selalu digagalkan oleh penyembah-penyembah Beliau disana karena mereka tidak ingin berpisah dengan Beliau. Dan bahkan pada akhirnya, ketika Beliau sudah di dalam perjalanan ke Vrndavana, setelah ketemu dengan perdana menteri Aurangzeb di Rama-keli, Rupa dan Sanatana, atas anjuran dan permintaan mereka, Sri Caitanya Mahäprabhu kembali lagi ke Jagannatha Puri dan mengurungkan niat Beliau ke Vrndavana saat itu. Sehingga pada akhirnya, suatu hari ketika musim gugur tiba, Sri Caitanya memutuskan untuk berangkat ke Vrndavana sendirian tanpa ditemani oleh siapapun. 

            Sebelum berangkat ke Vrndavana, Sri Caitanya mendiskusikan hal ini dengan Sri Svarup Damodara dan Ramananda Raya. Ketika Beliau menyampaikan niatnya untuk berangkat ke Vrndavana sendirian, Sri Svarup Damodara meminta Sri Caitanya untuk mengajak paling tidak satu pelayan yang bisa melayani Beliau di perjalanan. Sri Caitanya setuju dengan permintaan Sri Svarup Damodara namun dengan syarat, Beliau tidak akan mengajak salah satu dari rekan terdekat Beliau dan juga orang tersebut harus benar-benar mempunyai pikiran yang tenang. Akhirnya Sri Svarup Damodara mengirim Balabhadra Bhattacharya. Sri Svarup Damodara berkata” ini adalah Baläbhadra Bhattäcarya yang mempunyai rasa cinta dan kasih sayang yang sangat dalam kepada anda. Selain itu dia adalah orang yang sangat jujur, terpelajar dan sangat maju di dalam kesadaran Krsna.  Akhirnya Sri Caitanya menerima proposal dari Sri Svarup Damodara dan setuju mengajak Balabhadra bersama Beliau di dalam perjalanan ke Vrndavana. Di malam hari, Sri Caitanya darsan pada Sri Jagannatha dan sebelum malam berakhir, Beliau memulai keberangkatan Beliau ke Vrndavana. Untuk menghindari masyarakat umum, Sri Caitanya tidak mengambil jalan di dalam hutan Jharikanda.

            Seperti biasanya, Beliau selalu menyanyi dan menari bahkan di dalam hutan sekalipun dimana ada begitu banyak binatang buas di berbagai tempat. Ketika Sri Caitanya berjalan sambil menari dan menyanyikan nama suci, beberapa harimau dan gajah yang ada didepan Beliau memberikan jalan kepada Sri Caitanya. Setelah beberapa saat, binatang-binatang di hutan seperti macan, singa, babi hutan, gajah, badak, mulai menari dan menyanyi bersama Beliau. Balabhadra yang saat itu menemani Tuhan Sri Caitanya, merasa sangat takut melihat binatang buas tersebut, tetapi karena pengaruh rohani Sri Caitanya, semua binatang berdiri di satu sisi bersama Beliau dan menari. Suatu hari di dalam perjalanan di hutan, ada seekor harimau yang sedang tidur tepat di depan Sri Caitanya Mahäprabhu yang sedang melakukan perjalanan menuju Vrndavana.  Sri Caitanya Mahaprabhu yang saat itu berada di dalam kebahagiaan rohani tidak mengiraukan macan tersebut namun hanya melanjutkan perjalanan Beliau kemudian menyentuh harimau tersebut dengan kaki Beliau. Ketika Beliau menyentuh harimau ini, Sri Caitanya berkata “ucapkan nama suci Sri Krsna!  “Membangunkan harimau yang sedang tidur”, hal yang sangat berbahaya yang diumpamakan seperti mengundang kematian. Tetapi untuk Sri Caitanya Mahäprabhu, harimau ini sama sekali tidak suatu yang berbahaya tetapi malahan Harimau ini langsung bangun dari tidur dan mulai menari sambil mengucapkan “ Krsna ! Krsna!”.

Suatu hari ketika Beliau sedang mandi dan mengucapkan Mantra Gayatri di dalam sungai, sekelompok gajah gila datang ke sungai tersebut untuk minum air. Dapat kita bayangkan, bahkan hanya ada satu gajah gila bisa menghancurkan seluruh desa, dan sekarang Sri Caitanya yang sedang berada di dalam sungai sendirian mesti menemui gerombolan gajah gila.  Ketika Sri Caitanya mengucapkan Mantra Gayatri, gajah-gajah gila tersebut tiba tepat di depan Sri Caitanya. Tuhan Sri Caitanya secara langsung memercikan air pada gajah-gajah tersebut sambil berkata “Ucapkan nama suci Sri Krsna”. Gajah-gajah yang terkena air yang dipercikan oleh Sri Caitanya mulai menari dan mengucapkan “ Krsna Krsna”. Sri Krsna Caitanya Mahäprabhu adalah Krsna sendiri yang mengambil posisi sebagai seorang penyembah yang sangat maju atau seorang Mahabhagavata. Di dalam Bhagavad-gita, diuraikan bahwa seorang bhagavata tidak membedakan makhluk hidup dari segi badan tetapi mereka melihat semua makhluk hidup sebagai sang roh yang merupakan percikan terkecil Tuhan Yang Maha Esa.

vidyä-vinaya-sampanne   brähmaëe gavi hastini

çuni caiva çva-päke ca   paëòitäù sama-darçinaù

 

 “Para resi yang bijaksana, dengan pengetahuan yang sejati, melihat secara seorang brahmana, seekor sapi, seekor gajah, seekor anjing dan bahkan seorang pemakan daging anjing sekalipun dengan penglihatan yang sama”. (Bg 5.18 )

 Seorang mahabhagavata tidak melihat perbedaan antara seekor gajah, harimau maupun anjing. Srila Prabhupada menguraikan di dalam hal ini bahwa seseorang yang maju di dalam pengetahuan rohani atau seorang mahabhagavata tidak mempunyai rasa takut, tidak iri kepada siapapun dan selalu sibuk di dalam pengabdian suci. Orang seperti itu melihat semua makhluk hidup sebagai percikan terkecil dari yang maha kuasa yang melakukan pengabdian kepada Krsna sesuai dengan kemampuan mereka berdasarkan keinginan Tuhan Yang Maha Esa. Ini adalah tes untuk seseorang bisa dianggap maju di dalam kehidupan rohani.  Krsna berada di dalam hati setiap makhluk hidup,” sarvasya cähaà hådi sanniviñöo”, orang-orang suci yang maju di dalam kerohanian mengerti dan menginsyafi hal ini. Karena itu, Sri Krsna yang berada di dalam hati semua makhluk hidup mengilhami makhluk hidup yang lain dari dalam hati mereka bahwa orang ini adalah mahabhagavata dan hendaknya jangan diganggu. Contoh ini diperlihatkan di sini oleh Sri Caitanya Mahäprabhu.

Srila Prabhupada juga menguraikan bahwa kita hendaknya jangan meniru tindakan para mahabhagavata seperti itu dan mencoba datang ke hutan dan menendang harimau yang sedang tidur dan berusaha untuk menyuruh mereka untuk mengucapkan maha mantra. Sebelum harimau ini mengucapkan maha mantra, mungkin harimau ini akan bersyukur pada Tuhan terlebih dulu bahwa hari ini Tuhan sudah membawakan mangsa ke depan matanya tanpa dikejar dan menyergap kita dalam sekejap mata. Saat ini mungkin sangat sulit untuk menemukan harimau di hutan, tetapi ada banyak harimau materialistik di hutan dunia modern ini yang lebih berbahaya daripada harimau di dalam hutan Jharikhanda. Jadi, kita memang sangat perlu berhati-hati didalam proses mengajarkan Kesadaran Krsna. Itu tidak berarti kita mesti mengorbankan prinsip kita untuk berkompromi dengan mereka. Kita tetap mempertahankan prinsip dan saat yang sama harus sangat cerdas di dalam melakukan sesuatu sesuai dengan desa, kala, patra (tempat, waktu dan keadaan). Ada istilah “anusara” yang berarti mengikuti dan “anukara”  yang berarti meniru. Anusara adalah sikap yang sangat dipuji oleh para acarya sedangkan anukara semestinya dihindari. Jadi sikap yang mestinya kita kembangkan adalah mengikuti jejak kaki para acarya semampu kita. Hati para mahabhagavata sepenuhnya bebas dari pencemaran dunia material sehingga mereka menjadi kelihatan sama sekali tidak berbahaya bahkan bagi binatang sekalipun. Di dalam posisi seperti itu, mereka sepenuhnya bebas dari rasa iri dan dengki pada makhluk hidup lain sehingga bahkan binatang buas sekalipun merasa tenang dan damai berada dekat mereka. ketika Sri Caitanya Mahäprabhu melewati hutan, Beliau sepenuhnya berpikir tentang Krsna dan mencari-cari Krsna dimana mana.

Ketika para gajah mulai mengucapkan nama suci atas pengaruh kekuatan rohani Sri Caitanya Mahaprabhu, beberapa diantara mereka terjatuh dan beberapa diantaranya berteriak didalam kebahagian rohani. Melihat kejadian ini, Balabhadra terheran-heran sendiri. Ketika Sri Caitanya mulai melanjutkan perjalananNya, mendengar suara Sri Caitanya Mahäprabhu yang sangat manis, rusa-rusa hadir dari berbagai tempat dan mulai mengikuti Sri Caitanya dari belakang. Setelah beberapa lama, beberapa harimau muncul dan ikut bersama rusa-rusa mengikuti Sri Caitanya. Rusa tersebut juga terbebas dari rasa takut pada harimau yang biasanya sebagai pemangsa mereka. ini merupakan pengaruh rohani orang yang sudah maju do dalam pengabdian suci. Bahkan mereka yang secara alami bermusuhan bisa menjadi sahabat didalam pergaulan orang suci yang maju di dalam pengabdian suci bhakti. Ini merupakan contoh yang sangat konkrit yang diperlihatkan oleh Sri Caitanya di dalam hutan Jharikhanda. Melihat para rusa dan harimau yang mengikuti Beliau, Sri Caitanya teringat dengan tanah Vraja. Beliau mulai menyanyikan sloka dari Srimad Bhagavatam skanda sepuluh bab 13 ayat 60, yang menguraikan keagungan Vrndavana Dham sebagai berikut:

yatra naisarga-durvairäù   sahäsan nå-mågädayaù

miträëéväjitäväsa- druta-ruö-tarñaëädikam

 

Vrndavana merupakan tempat tinggal rohani Kepribadian Tuhan. Tidak ada istilah kelaparan, kehausan maupun amarah di tempat tersebut. Meskipun secara alami bermusuhan, umat manusia dan binatang berbahaya hidup bersama di dalam hubungan persahabatan yang rohani. 

Seperti biasanya, Sri Caitanya Mahäprabhu mulai menyuruh mereka untuk mengucapkan nama Krsna. Mendengar permintaan Sri Caitanya Mahäprabhu seperti itu, semua binatang yang mengikuti Sri Caitanya bersama sama mengucapkan” Krsna! Krsna! Dan menari bersama sama. Sekali lagi Balabhadra terkagum melihat semua kejadian ini. Para harimau bukan hanya menyanyi dan menari bersama-sama namun mereka saling berpelukan sambil mengucapkan nama suci. Sri Caitanya hanya tersenyum melihat semua hal ini kemudian meninggalkan mereka di hutan dan melanjutkan perjalanan Beliau. Berbagai jenis burung seperti merak mulai mengikuti Sri Caitanya yang melanjutkan perjalananNya. Ketika Beliau menyanyikan nama suci, berbagai jenis tumbuhan menjalar dan pepohonan menjadi sangat berbahagia.

Srila Prabhupada menjelaskan bahwa pengucapan “Hare Krsna mantra” merupakan proses yang sangat menakjubkan yang bahkan mampu menembus telinga tumbuh tumbuhan. Suatu hari Sri Haridas Thakur ditanya oleh Sri Caitanya tentang bagaimana tumbuh-tumbuhan ini bisa dibebaskan di Kali Yuga ini. Sri Haridäs Thakur menjawab bahwa dengan pengucapan nama suci dengan keras bersama sama, maka ini tidak hanya akan menguntungkan mereka yang mengucapkan tetapi semua serangga, pohon-pohon dan tumbuhan menjalar yang ada di sekitarnya. Prabhupada menguraikan bahwa hendaknya seseorang tidak merasa terganggu dengan pengucapan maha mantra karena ini sangat menguntungkan bagi mereka yang mendengarkan nama suci tersebut. Dengan demikian, semua makhluk hidup baik yang bergerak dan yang tidak bergerak du hutan Jharikhanda menjadi tergila-gila pada nama suci begitu mendengar Sri Caitanya Mahäprabhu mengucapkan nama suci.

Ketika Sri Caitanya Mahäprabhu melewati hutan Jharikhanda, Beliau berpikir bahwa hutan ini adalah hutan Vrndavana. Melihat beberapa bukit yang mengelilingi hutan Jharikhanda, Beliau berpikir bahwa ini adalah bukit Govardhan dan ketika Beliau melihat sungai di hutan tersebut, Beliau berpikir bahwa itu adalah Yamuna. Dengan demikian, diuraikan bahwa dimanapun Beliau berada, Beliau hanya melihat Vrndavana. Beliau melihat Vraja dham dimana-mana karena Beliau sendiri membawa Vraja dham kemana mana. Sebagai pengikut Sri Caitanya Mahäprabhu, kita juga bisa mengikuti jejak kaki padma Beliau dengan bermeditasi pada Vrndavana ketika kita melihat hal yang berhubungan atau mirip dengan uraian Vrndavana dham. Dengan demikian kita secara otomatis dan berangsur-angsur berada di dalam meditasi pada Vrndavana dham meskipun kita berada jauh dari Vrndavana dham yang sejati dimana Krsna melakukan lila Beliau lima ribu tahun silam. Karena Sri Krsna bersifat mutlak, maka segala sesuatu yang berhubungan dengan Beliau juga sama dengan Beliau. Dengan demikian dengan berpikir tentang Vrndavana Dham maka kita juga berpikir tentang Krsna. Kita melihat sebuah contoh yang diberikan oleh Srila Rupa Gosvami pada dimana ada seseorang yang melakukan pelayanan kepada Krsna hanya di dalam pikiran dan itu sama dengan pelayanan secara fisik. Sama halnya dengan bermeditasi pada dhama, maka kita secara tidak sadar sebenarnya sudah berada di dham tersebut. Ini adalah keunikan hal-hal rohani. Proses ini diperlihatkan oleh Sri Caitanya di dalam lila Beliau ini. Seperti yang kita sudah uraikan tadi yaitu dengan berpikir bahwa melihat sungai sebagai sungai Yamuna, bukit sebagai bukit Govardhan dll.

Setelah melewati hutan, Sri Caitanya mulai memasuki sebuah desa. Ketika penduduk desa mendengar Sri Caitanya Mahäprabhu menyanyi dan menari, atas pengaruh rohani dari Sri Caitanya, orang-orang tersebut juga mulai mengucapkan nama suci Sri Krsna. Ketika seseorang mengucapkan nama suci yang mereka dengar dari Sri Caitanya, mereka juga diikuti oleh orang ketiga yang mendengar nama suci dari orang yang telah mendengar nama suci dari Sri Caitanya.  Srila Prabhupada menguraikan bahwa orang yang mendengar nama suci dari Sri Caitanya menjadi sepenuhnya disucikan dan mereka yang mendengar nama suci dari orang yang sudah disucikan juga menjadi disucikan. Seperti ini, garis perguruan parampara juga berlangsung turun temurun. 

Balabhadra Bhattäcarya mengumpulkan bahan makanan seperti sayur-sayuran, buah-buah dan akar-akaran dan mempersembahkan kepada Sri Caitanya Mahäprabhu. Ketika Beliau melewati pedesaan, Beliau biasanya di undang oleh beberapa brahmana untuk bersedia menerima makanan di rumah mereka. Ada beberapa diantaranya yang memberikan beras kepada Baläbhadra Bhattäcarya, ada yang memberikan susu, susu asam dan ada  yang memberikan ghee dan juga batangan tebu. Balabhadra memasak dari bahan makanan yang dikumpulkan dari dalam hutan dan Sri Caitanya Mahäprabhu dengan sangat senang hati menikmati makanan tersebut. Tuhan Sri Caitanya sangat menikmati sayuran yang dipetik dari hutan. Dari sini kita bisa belajar bahwa Tuhan Sri Krsna sangat senang dengan makanan yang tumbuh alami tanpa suatu yang berbau kimia. Bahan kimia sebenarnya mencemari ibu bumi dan ini sangat menyakiti badan ibu bumi dan Krsna tidak bisa menahan penderitaan yang dialami oleh ibu bumi yang merupakan saÿah satu dari pelayan Beliau yang sangat mulia.

Sri Caitanya mandi tiga kali sehari. Kadang-kadang di pagi hari dan di sore hari Beliau menghangatkan badan Beliau dekat api. Sri Balabhadräcarya melayani Sri Caitanya Mahäprabhu dengan penuh rasa kasih sayang sebagai seorang pelayan dan melakukan pelayanan yang sederhana. Kadang-kadang Sri Caitanya Mahäprabhu membicarakan perasaan Beliau kepada Sri Baläbhadra dan kadang-kadang Beliau mengagungkan Bhattäcarya atas pelayanannya. Tetapi sebagai penyembah yang tunduk hati, Balabhadräcarya selalu merasa hanya melakukan pelayanan yang sangat sederhana dan merasa dirinya sangat beruntung mendapat kesempatan untuk melayani Sri Caitanya.

Sri Caitanya Mahäprabhu melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di Kasi. Disana Beliau mandi di sebuah tempat yang disebut Manikarnika. Manikarnika adalah sebuah tempat dimana Sri Visvanath (Siva) menyembuhkan seseorang dari penyakit kehidupan dunia material dengan membisikan nama suci Sri Rama melalui telinga seseorang. Saat ini, Tapana Misra, salah satu dari rekan Sri Caitanya Mahäprabhu sedang mandi di sungai Ganga dan kebetulan melihat Sri Caitanya disana. Tapana Misra mendengar bahwa Sri Caitanya telah mengambil sanyas dan Beliau sangat bahagia dapat bertemu dengan Sri Caitanya di sini. Tapana Misra langsung menghaturkan sembah sujud kepada Sri Caitanya dengan menjatuhkan badannya ke tanah dan memegang kaki padma Sri Caitanya. Kemudian Tapana Misra mengajak Sri Caitanya darsan pada Sri Visvesvara dan kemudian darsan pada Sri Bindu Madhava yang kemudian dengan perasaan yang sangat bahagia, Tapana Misra mengajak Sri Caitanya kerumahnya. Saat itu, Candrasekar juga hadir untuk menemui Sri Caitanya Mahäprabhu. Beliau tinggal di Kasi selama sepuluh hari. Saat ini Seorang Mayavadi sannyasi, Sri Prakasananda Sarasvati menjelekjelekkan Sri Caitanya Mahäprabhu bahwa sannyasi ini hanya sebagai orang yang berpurapura dan merupakan ahli ilmu hitam yang bisa mengontrol orang yang ditemuinya. Kemudian ketika brahmana yang mendengar ini menyampaikan kepada Sri Caitanya Mahäprabhu, Beliau hanya tersenyum dan mulai mengagungkan nama suci Sri hari dan kemalangan para Mayavadi yang tidak mendapat kesempatan untuk merasakan manisnya nma suci Sri Hari. Uraian ini diuraikan dengan panjang lebar dan sangat indah di dalam Caitanya Caritamrta madhya-lila oleh Sri Krsna Kaviraj Gosvami.

Kemudian dari Kasi, Sri Caitanya Mahäprabhu melanjutkan perjalanan sehingga sampai di Prayag. Di sini Beliau mandi di pertemuan antara Ganga dan Yamuna. Begitu Sri Caitanya melihat Yamuna, Beliau langsung melemparkan diri Beliau sehingga Baläbhadra Bhattäcarya dengan sangat kesulitan harus mengangkat Sri Caitanya dari sungai. Beliau tinggal di Prayag selama tiga hari dan menyebarkan nama suci kepada banyak orang di tempat itu. Saat melanjutkan perjalanan ke Mathura, Sri Caitanya sering melewati sungai Yamuna. Begitu Beliau melihat sungai Yamuna, Beliau langsung jatuh pingsan berulang kali di dalam kebahagian rohani. Akhirnya Beliau sampai di Mathura. Begitu Beliau melihat Mathura, Beliau langsung menjatuhkan badanNya ke tanah dan menghaturkan sembah sujud pada tanah Mathura.

Ketika Beliau memasuki kota Mathura, Beliau pertama tama mandi di Visrama Ghat di tepi sungai Yamuna di Mathura. Kemudian Beliau mengunjungi tempat kelahiran Sri Krsna dan darsan pada Sri Kesava Ji.Seperti biasanya, Sri Caitanya menari dan menyanyi yang menyebabkan banyak orang terkagum akan aktivitas Beliau. Tibatiba seorang brahmana bersujud pada kaki padma Beliau dan mulai menari bersama Sri Caitanya. Kemudian mereka berdua (Sri Caitanya dan Brahmana) menari dan menyanyi , Krsna! Krsna!, melihat ini, semua orang mengucapkan, Hari! Hari! Kemudian pujari Sri Kesavadev ji mempersembahkan garlan Sri Kesava kepada Sri Caitanya. Ketika mereka melihat Sri Caitanya Mahaprabhu menari dengan kebahagian rohani seperti itu, orangorang pada kagum dan saling berbincang antara yang satu dengan yang lain, mereka berkata “rasa cinta rohani seperti itu bukan hal yang biasa”. Beberapa orang berkata, “hanya dengan melihat Sri Caitanya, orang akan menjadi gila di dalam kebahagiaan rohani dan akan menari dan menyanyi sambil menangis. Tidak diragukan lagi bahwa orang ini pasti Krsna sendiri yangmuncul kembali untuk membebaskan penduduk Mathura.” 

Setelah beberapa saat SriCaitanya Mahäprabhu duduk di tempat yang tenang dan mulai bertanya kepada brahmana yang menari bersama Beliau dari mana dia mendapatkan rasa cinta kasih kepada Krsna yang begitu dalam tersebut. Brahmana tua tersebut menjawab bahwa Beliau menerima cinta bhakti rohani kepada Krsna dari Sri Madhavendra Puri yang saat itu datang ke Mathura. Begitu Sri Caitanya Mahäprabhu mendengar bahwa brahmana itu adalah murid Sri Madhavendra Puri, Sri Caitanya langsung menghaturkan sembah sujud kepada brahmana tersebut. Melihat Sri Caitanya Mahäprabhu bersujud kepada dirinya, brahmana tersebut juga menghaturkan sembah sujud kepada Sri Caitanya sebagai seorang sannyasi. Brahmana ini menyampaikan kepada Sri Caitanya bahwa hanya orang yang berhubungan dengan Sri Madhavendra Puri yang mempunyai ciriciri kebahagiaan rohani seperti itu. Kemudian Sri Balabadra Bhattacarya menguraikan hubungan Sri Caitanya dengan Madhavendra Puri kepada brahmana tersebut. Mendengar hal ini, brahmana ini menjadi sangat bahagia. Dia mengundang Sri Caitanya untuk persad di rumahnya. Brahmana tersebut meminta Bhattäcarya untuk memasak untuk Sri Caitanya Mahäprabhu. Namun Sri Caitanya bilang” karena Madhavendra Puri sudah pernah makan di rumah anda, dengan demikian anda bisa masak untuk saya, ini adalah permintaan saya.”

            Meskipun secara kasta, seorang sannyasi tidak memakan dari makanan yang diberikan oleh kelas brahmana tersebut, tetapi karena Madhavendra Puri melihat brahmana ini mengembangkan sifat sebagai seorang vaisnava, maka Beliau bersedia untuk menerima brahmana itu sebagai muridnya dan bersedia makan di rumah brahmana ini. Tetapi karena berpikir tentang posisi Sri Caitanya Mahäprabhu, brahmana ini berusaha menjelaskan posisinya. Dia akan sangat senang untuk mempersembahkan makanan kepada Beliau tetapi orang umum akan menghina tingkah laku Beliau. Tetapi Sri Caitanya meyakinkan brahmana itu yang akhirnya bersedia untuk memasak untuk Beliau.

Setelah menerima persad dari brahmana tersebut, banyak penduduk Mathura yang datang untuk menemui Sri Caitanya. Ketika orangorang berkumpul, Sri Caitanya mulai mengangkat tangan Beliau dan mengucapkan “Hari Bolo!”. Semua yang hadir saat itu mengikuti Sri Caitanya dan mengucapkan nama Sri Hari dengan penuh rasa cinta kasih. Sri Caitanya mandi di 24  ghat ( tempat permandian ) di tepi sungai Yamuna dan brahmana tersebut menunjukkan tempattempat peziarahan di Mathura. Kedua puluh empat ghat tersebut adalah : (1) Avimukta, (2) Adhirüòha, (3) Guhya-tértha, (4) Prayäga-tértha, (5) Kanakhala-tértha, (6) Tinduka, (7) Sürya-tértha, (8) Vaöa-svämé, (9) Dhruva-ghäöa, (10) Åñi-tértha, (11) Mokña-tértha, (12) Bodha-tértha, (13) Gokarëa, (14) Kåñëa-gaìgä, (15) Vaikuëöha, (16) Asi-kuëòa, (17) Catuù-sämudrika-küpa, (18) Akrüra-tértha, (19) Yäjïika-vipra-sthäna, (20) Kubjä-küpa, (21) Raìga-sthala, (22) Maïca-sthala, (23) Mallayuddha-sthäna and (24) Daçäçvamedha. Sri Caitanya Mahäprabhu juga mengunjungi berbagai tempattempat suci di tepi sungai Yamuna di daerah Mathura termasuk Svayambhu, Viçräma-ghäöa, Dérgha Viñëu, Bhüteçvara, Mahävidyä and Gokarëa. Ketika Beliau berkeinginan untuk mengunjungi hutan Vrndavana, Beliau mengajak brahmana tersebut bersama Beliau.

Sri Caitanya Mahäprabhu mengunjungi berbagai tempat termasuk Madhuvana, Tälavana, Kumudavana and Bahulävana. Beliau mandi di setiap tempat suci  dengan rasa kebahagian rohani. Ketika Beliau melewati Vrndavana, beberapa sapi yang sedang digembalakan mengelilingi Beliau dan mulai menatap Beliau sambil menguak. Melihat sapisapi yang mengelilingi Beliau, Sri Caitanya masuk kedalam kebahagiaan rohani yang lebih dalam dan saat itu sapisapi mulai menjilat badan rohani Sri Caitanya. Sri Caitanya sangat memperhatikan sapisapi tersebut dan karena tidak bisa meninggalkan pergaulan Sri Caitanya, para sapi mulai mengikuti Sri Caitanya. Dengan kesulitan para gembala sapi menahan sapisapi tersebut. Sri Caitanya mulai mengucapkan nama suci, dan ketika para rusa dan merak mendengar suara Beliau yang manis, mereka semua datang menemui Sri Caitanya. Ketika kelinci dan rusa rusa mendekati Sri Caitanya, mereka juga mulai menjilat badan Sri Caitanya dengan penuh rasa kasih sayang seperti para sapi sapi tadi. Berbagai jenis binatang mulai menari seperti lebah, burungburung parkit dan merak di depan Sri Caitanya. Melihat kehadiran Sri Caitanya di Vrndavana, bahkan pepohonan menjadi penuh dengan kebahagian rohani dan menangis yang tangisannya keluar berupa madu dari batangbatang mereka. Pepohonan dan tumbuhan menjalar penuh dengan bunga dan buah-buahan menyambut kedatangan Tuhan mereka yang telah lama pergi. Dengan demikian, semua makhluk hidup baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak menjadi penuh dengan rasa bahagia bagaikan seorang teman bertemu dengan teman setelah begitu lama berpisah.

Melihat kebahagian mereka, Sri Caitanya Mahäprabhu juga menjadi sangat bahagia dan mulai memeluk mereka satu sama lain di dalam kebahagiaan rohani. Badan Beliau tidak terkontrol dan selalu mengucapkan, Krsna ! Krsna! Ketika Beliau melihat dua ekor burung parkit di atas cabang pohon, Beliau merasa ingin mendengarkan sesuatu dari mereka dan kemudian kedua burung tersebut terbang ke tangan Sri Caitanya dan mulai menceritakan kegiatan Krsna. Kemudian setelah beberapa saat Sri Caitanya Mahäprabhu melihat seekor merak yang sedang menari. Ketika Beliau menatap warna kebirubiruan dari merak tersebut, Beliau langsung teringat pada Krsna dan langsung terjatuh pingsan di dalam kebahagiaan rohani. Melihat Sri Caitanya jatuh pingsan, brahmana dan Baläbhadra Bhattäcarya merasa gelisah dan mulai memercikan air pada Beliau dan mengipasi badan Beliau. Kemudian mereka mulai mengucapkan nama Krsna pada telinga Sri Caitanya sehingga Beliau kembali sadar. Setelah kembali pada kesadarannya, Sri Caitanya langsung berguling guling di tanah karena kebahagian rohani yang dalam. Karena berguling di tanah, badan Sri Caitanya terlukai oleh duriduri di hutan Vrndavana sehingga Baläbhadra harus menghentikan dan menenangkan Beliau. Seperti biasa, Beliau terus mengucapkan nama, Krsna! Krsna! Sambil menari. Beliau melanjutkan perjalanan bersama brahmana dan Baläbhadra Bhattäcarya. Brahmana ini sangat keheranan melihat kebahagian rohani yang diperlihatkan oleh Sri Caitanya dan sangat resah dengan keadaan Beliau. Ketika Sri Caitanya berada di Jagannatha Puri, Beliau selalu berada di dalam kebahagian rohani, tetapi di dalam perjalanan di Vrndavana, rasa rindu kepada Krsna ratusan kali lipat bertambah. Ini hanya salah satu uraian dari kunjungan Sri Caitanya di dalam satu tempat di Vrndavana dan Sri Krsna Däsa Kaviraja menguraikan bahwa sangat mustahil untuk menguraikan kejadian dibeberapa tempat yang lainnya.

Sri Caitanya Mahäprabhu melakukan perjalanan di berbagai hutan di Vrndavana dan memuaskan semua makhluk hidup disana dan juga secara pribadi Tuhan Sri Caitanya merasa puas dengan melihat mereka. akhirnya suatu hari Beliau sampai di sebuah desa yang disebut dengan Ärit-grama. Ärit Grama juga di kenal dengan nama Arista Grama dimana Arista sura dibunuh oleh Sri Krsna.  Disini Beliau bertanya pada orangorang lokal di mana kedudukan Sri Radha Kunda. Namun sangat disayangkan bahwa tempat Radha Kunda saat itu sudah terlupakan sehingga tidak seorang pun bisa memberi tahu Sri Caitanya keberadaan Radha Kunda sebenarnya termasuk brahmana yang menemani Beliau. Sri Caitanya Mahäprabhu dapat mengerti bahwa tempat suci ini sudah tidak lagi tampak tetapi sebagai kepribadian yang mengetahui segala sesuatu, Beliau secara pribadi mampu mengenali dimana sebenarnya Radha Kunda dan Syama Kunda. Beliau menemukan Radha Kunda yang saat itu merupakan sebuah tanah sawah yang terdapat sedikit air. Ketika orangorang melihat Tuhan Sri Caitanya mandi di kolam kecil tersebut, orangorang di sekitarnya menjadi sangat keheranan namun Beliau tetap mandi disana dan menyampaikan doa pujian kepada Sri Radha Kunda.

 

yathä rädhä priyä viñëos   tasyäù kuëòaà priyaà tathä

sarva-gopéñu saivaikä   viñëor atyanta-vallabhä

 

Seperti halnya Srimati Radharani yang paling dicintai oleh Sri Krsna di antara para gopi, sama halnya kolam Beliau yang dikenal dengan nama Radha Kunda juga sangat disayangi olehNya. Diantara para gopi, Srimati Radha Rani merupakan yang paling dicintai oleh Krsna.

Setelah mengucapkan doa pujian kepada Sri Radha Kunda, Sri Caitanya menari dan menyanyi dengan kebahagian rohani di tepi Radha Kunda sambil mengingat kegiatan Sri Krsna. Kemudian Sri Caitanya Mahäprabhu menandai badan Beliau dengan tilak dari lumpur di Radha Kunda dan mengumpulkan beberapa lumpur dan dibawa bersama Beliau.

Kemudian dari Radha Kunda Beliau menuju ke danau Sumana. Melihat Govardhan dari tempat itu, Beliau menjadi sangat gembira. Beliau bersujud pada Govardhan bagaikan tongkat yang terjatuh kemudian lari dan memeluk batu di bukit Govardhan. Akhirnya Beliau sampai di desa Govardhan dan darsan pada Sri Haridev. Haridev merupakan arca Vigraha yang diisntall oleh Sri Vajranabha, yang terletak di bagian barat Mathura. Sri Caitanya mulai menari dan menyanyi penuh dengan kebahagian rohani didepan Haridev. Mendengar kegiatan Beliau, para penduduk setempat datang dan melihat Beliau. melihat kebahagian rohani dan ketampanan Sri Caitanya, semua orang yang hadir menjadi sangat heran. Pujari Sri Harideva menerima Sri Caitanya dengan sangat baik. Sri Bhattäcarya memasak untuk Sri Caitanya Mahäprabhu di Brahma Kunda, yang terletak di dekat Haridev Mandir. Setelah mandi di Brahma Kunda, Sri Caitanya menerima persad yang telah di masak oleh Sri Balabadra Bhattacarya.

Sri Caitanya Mahäprabhu tinggal semalam di Haridev mandir dan berpikir tentang sesuatu. Beliau berpikir, “karena aku tidak akan memanjat bukit Govardhan, bagaimana aku bisa darsan pada Sri Gopal Raya Ji? Berpikir seperti ini, Beliau hanya bisa diam. Mengerti keinginan Sri Caitanya Mahäprabhu, Arca Gopal Ji, mempermainkan para penduduk setempat sehingga Beliau di arak ke bawah bukit. Sri Gopal Ji mengirim kabar burung yang menyatakan bahwa pasukan muslim akan segera datang untuk menyerang kuil ini. Karena itu penduduk setempat bersama dengan para pujari Gopal Ji, menggusung Gpal ji dengan tandu turun dari bukit Govardhan. Pada saat ini Tuhan Sri Caitanya bisa darsan pada Sri Gopal Ji tanpa menginjakkan kaki diatas bukit Govardhan yang tidak berbeda dengan badan Sri Krsna sendiri. Sambil menari dan menyanyikan nama suci menemui Sri Gopal Ji, Sri Caitanya masuk kedalam kebahagian rohani yang dalam sehingga air mata Beliau mengalir bagaikan aliran sungai Ganga yang deras. Beliau kelihatan seperti orangorang yang gila pada kekasihnya yang akhirnya tibatiba ketemu dengan kekasih yang dirindukan. Dalam keadaan gila rohani seperti ini Tuhan Sri caitanya berkeliling mengunjungi berbagai tempat di Vrndavana dham di dalam perasaan pelayan dan pelayan dari penduduk Vraja dham.


Jay Sri Caitanya
Mahaprabhu

Jay Sri Harinama Sankirtan ………ki jay

oleh : Bhagirata dasah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s