Vaisnava-Dharma yang Non-Sektarian #3

alih bahasa : Ananta Vijaya dasa

Para madhyama-adhikari tidak terlalu banyak bertengkar mengenai standar-standar eksternal (luar), namun mereka selalu mengalami perselisihan soal filsafat. Kadangkala mereka menyalahkan standar-standar yang dijalani oleh para pemula dan mempertahankan bahwa standar-standar yang mereka sendiri jalani adalah berkedudukan lebih tinggi. Mereka menyalahkan pemujaan Arca yang dilakukan oleh para pemula untuk menegakkan bahwa Tuhan adalah tanpa bentuk. Dalam kasus-kasus yang demikian, mereka juga dipandang sebagai orang-orang yang bermental-keledai. Karena jika tidak demikian, jika mereka memiliki mentalitas yang bagaikan-angsa dan berkeinginan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, mereka akan menghormati praktik-praktik yang dijalani orang lain dan mereka sendiri bertanya tentang topik-topik yang lebih tinggi dan lebih halus. Kontradiksi/pertentangan muncul hanya karena mentalitas yang bagaikan-keledai itu. Orang-orang yang bermental-angsa memandang adanya kebutuhan akan adanya praktik-praktik yang berbeda-beda sesuai dengan kepantasan/kualifikasi masing-masing orang, sehingga secara alami mereka menyisih dari pertengkaran-pertengkaran sektarian. Dalam hal ini, hendaknya dimengerti bahwa orang-orang yang bermental-keledai maupun bermental-angsa dapat ditemukan di kalangan para kanistha-adhikari dan para madhyama-adhikari. Saya tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang bermental-keledai akan bersedia menerima buku ini (Sri Krishna Samhita) dengan sikap hormat.

Jika para pemula dan para madhyama-adhikari menjadi acuh sepenuhnya terhadap pertentangan-pertentangan yang nampak terdapat pada berbagai praktik dan berusaha memajukan diri lebih lanjut, maka mereka pun menjadi orang-orang yang bermental-angsa. Maka mereka adalah kawan kita yang terhormat dan terkasih. Pribadi-pribadi yang bermental-angsa, walaupun mungkin telah menjalani suatu bentuk praktik tertentu sejak lahir atau sejak kecil, bagaimana pun mereka tetap saja tidak terikat dan tidak bersikap sektarian.

Prinsip-prinsip dharma yang akan diuraikan di dalam buku ini sangatlah sulit untuk diberi nama/diistilahkan. Jika prinsip-prinsip tersebut diberikan suatu nama sektarian tertentu, maka sekte lain akan menyuarakan sikap pertentangan mereka. Karena itu, Srimad Bhagavatam telah menegakkan sanatana-dharma sebagai satvata-dharma, atau prinsip-prinsip dharma yang terkait dengan Kebenaran Mutlak. Nama lain bagi prinsip-prinsip dharma ini adalah Vaisnava-dharma. Vaisnava-Vaisnava yang bermental-keledai tergolong dalam kelompok-kelompok para Sakta (pengikut Durga), Saura (pengikut dewa matahari), Ganapatya (pengikut Ganesa), Saivit (pengikut Siva), dan Vaisnava (pengikut Visnu). Namun Vaisnava-Vaisnava yang bermental-angsa adalah non-sektarian dan karena itu mereka jarang adanya. Lima jenis spiritualis sebagaimana disebutkan di atas, seperti yang dapat ditemukan di India, diberi istilah sesuai dengan kualifikasi mereka masing-masing.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s