Vaisnava-Dharma yang Non-Sektarian

alih bahasa: Anantavijaya dasa

Vaisnava-Dharma yang Non-Sektarian #1 Di dalam Kata Pengantar dari karya besar beliau yang berjudul Sri Krishna Samhita, Srila Bhaktivinode Thakur menulis tentang sifat dan keadaan dari sektarianisme. Tulisan beliau ini sangat menarik untuk dicermati dan didalami, karena memberikan gambaran yang sangat universal tentang kedudukan dari filsafat Gaudiya Vaishnava kita. Mulai hari ini saya akan berusaha menerjemahkan satu atau dua paragraf setiap hari untuk saya sajikan di sini dengan tujuan untuk pembelajaran kita semua. Nantinya setelah artikel ini lengkap diterjemahkan, baru akan saya sajikan sebagai sebuah note (catatan). Semoga pencerahan bhakti tercurah bagi kita semua.. —– Orang-orang di India dan juga di negara-negara lainnya dapatlah kita bagi menjadi dua kategori, yakni mereka yang bagaikan-keledai/ bermental-keledai (asslike) dan mereka yang bagaikan-angsa/ bermental-angsa (swanlike). Di antara dua kategori ini, mereka yang bermental-keledai adalah mayoritas. Mereka yang bermental-angsa merupakan minoritas. Orang yang bermental-angsa mengambil intisari dari penjelasan-penjelasan sastra/kitab suci untuk tercapainya kemajuan pemahaman spiritual mereka dan dengan demikian mereka pun mendapatkan manfaat dari sastra. Semua orang memiliki hak untuk membahas topik-topik spiritual. Namun walau demikian kita dapat membagi orang-orang menjadi tiga kategori sesuai dengan kepantasan/kualifikasi mereka. Orang-orang yang tidak memiliki kemampuan diskriminasi (pembedaan) yang mandiri dan berdikari adalah termasuk dalam kategori pertama dan mereka disebut sebagai para pemula, atau mereka yang keyakinannya (sraddha) masih lunak. Tidak ada alternatif lain bagi keyakinan/sraddha mereka. Jika mereka tidak mengakui sebagai perintah Tuhan, segala yang ditulis oleh penyusun kitab suci, maka mereka jatuh. Mereka hanya memiliki kepantasan/kualifikasi untuk mengerti makna-makna kasar dari ilmu pengetahuan tentang Krishna; mereka tidak memiliki kualifikasi untuk mengerti makna-makna yang halus. Sebelum mereka mampu mencapai kemajuan lebih lanjut secara bertahap melalui pergaulan yang baik dengan orang-orang yang lebih maju dan menerima petunjuk-petunjuk di tengah pergaulan tersebut, maka mereka hendaknya berusaha untuk mencapai kemajuan di bawah perlindungan keyakinan/sraddha. Orang-orang yang belum berhasil menghubungkan/mengkaitkan sraddha dengan argumentasi adalah orang-orang tingkatan kedua, atau para madhyama-adhikari. Dan orang-orang yang ahli dalam menghubungkan sraddha dengan argumentasi adalah sempurna dalam segala hal. Mereka mampu mencapai kesempurnaan dengan menggunakan sumber-sumber daya material dalam upaya-upaya mandiri dan berdikari mereka sendiri. Mereka disebut insan-insan yang paling mulia, atau para uttama-adhikari.

Sektarianisme adalah sebuah produk sampingan yang alami yang berasal dari Kebenaran Mutlak. Ketika para acarya pertama kali menentukan dan mengajarkan tentang Kebenaran, Kebenaran tersebut belum tercemari oleh sektarianisme. Namun aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang diterima melalui rangkaian garis perguruan terkait dengan tujuan dan metode untuk mencapai tujuan tersebut mengalami perubahan seiring berjalannya waktu sesuai dengan mentalitas dan tempat beradanya orang-orang. Sebuah aturan yang dijalani oleh sebuah komunitas masyarakat tidak mesti diterima dan dijalani oleh komunitas masyarakat yang lain. Itulah sebabnya komunitas itu berbeda satu dengan yang lainnya. Seiring dengan berkembangnya secara bertahap rasa penghormatan komunitas yang lebih besar terhadap standar-standar miliknya sendiri, ia pun mengembangkan rasa kebencian terhadap komunitas lain dan memandang standar-standar komunitas lain tersebut sebagai lebih rendah. Gejala-gejala sektarian ini dapat kita lihat di seluruh negara sejak dahulu kala. Hal ini dominan ditemukan di kalangan para pemula dan sampai batas tertentu ditemukan pula di kalangan para madhyama-adhikari. Akan tetapi, di kalangan para uttama-adhikari, tidak ada jejak sektarianisme. Ketaatan terhadap suatu standar tertentu adalah gejala dominan sebuah komunitas masyarakat. Terdapat tiga jenis standar yakni alocakagata, alocanagata, dan alocyagata.

Alocakagata adalah manakala orang-orang yang bermental sektarian menerima sejumlah tanda/identitas eksternal. Contoh-contoh alocakagata adalah seperti tilaka, kantimala, jubah saffron, dan pembaptisan. Berbagai macam kegiatan yang dipraktikkan dalam proses pemujaan disebut alocanagata. Contoh-contoh alocanagata adalah upacara-upacara, macam-macam jenis pertapaan, korban suci api (agnihotra), sumpah-sumpah/pantangan, studi terhadap kitab-kitab suci, pemujaan Arca, membangun tempat-tempat ibadah/kuil, memberi penghormatan kepada berbagai jenis pohon dan sungai, berpakaian seperti para sannyasi, bertindak seperti para acarya, berpakaian seperti para brahmacari atau grhastha, menutup mata, memberikan penghormatan kepada jenis-jenis kitab tertentu, aturan-aturan dalam hal makan, dan memberi penghormatan kepada kesucian dari waktu dan tempat tertentu. Contoh-contoh alocyagata adalah pemahaman personalisme atau impersonalisme tentang Tuhan, menyetanakan Arca-Arca, memperlihatkan mood dari inkarnasi Tuhan tertentu, berspekulasi tentang surga dan neraka, dan menguraikan tentang tempat tujuan yang dicapai oleh sang roh. Berbagai macam bentuk kegiatan spiritual ini menciptakan golongan-golongan sektarianisme.

Perbedaan-perbedaan yang timbul akibat tempat, waktu, bahasa, perilaku, makanan, pakaian dan sifat-sifat bawaan dari berbagai komunitas disatukan/dilebur ke dalam praktik-praktik spiritual yang dijalani orang-orang dan berangsur-angsur hal itu menyebabkan satu komunitas menjadi berbeda sepenuhnya dengan komunitas lain hingga bahkan pertimbangan bahwa kita semua adalah umat manusia yang sama menjadi tidak dirasakan lagi. Akibat dari perbedaan-perbedaan tersebut terjadi perselisihan, menarik diri dari interaksi sosial, dan pertengkaran, bahkan hingga saling bunuh. Manakala mentalitas yang bagaikan-keledai menjadi dominan di kalangan para kanistha-adhikari, tentu saja mereka pun terlibat dalam hal-hal yang disebutkan di atas. Namun jika mereka mengembangkan mentalitas yang bagaikan-angsa, maka mereka pun tidak ambil bagian lagi dalam pertengkaran. Mereka akan tekun berusaha untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s