Sri Damodarastaka Beserta Dig Darsini Tika (Ulasan) oleh Srila Sanatana Goswami

alih bahasa : Ananta Vijaya dasa
November 19, 2012 at 10:42pm

(1)

namāmīśvaraṁ sac-cid-ānanda-rūpaṁ

lasat-kuṇḍalaṁ gokule bhrājamanam

yaśodā-bhiyolūkhalād dhāvamānaṁ

parāmṛṣṭam atyantato drutya gopyā

Kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang bentuk-Nya merupakan perwujudan kehidupan kekal, pengetahuan, dan kebahagiaan. Anting-anting-Nya yang berbentuk seperti ikan hiu bergoyang-goyang. Dia bercahaya dengan indah di alam rohani Gokula. Dia berlari cepat dari lumpang kayu karena takut kepada Ibu Yasoda, sebab Dia bersalah memecahkan tempayan berisi susu asam yang sedang dikocok menjadi mentega lalu mencuri mentega yang digantung berayun. Namun Dia ditangkap dari belakang oleh Ibu Yasoda yang mengejar-Nya dengan lebih cepat. Kepada Tuhan Yang Maha Esa itu, Sri Damodara, aku menyampaikan sembah sujudku.

Pertama-tama atribut-atribut spesifik milik Kebenaran Mutlak, atau tattva-visesa, dikemukakan. Satyavrata Muni memulai doa ini dengan menyampaikan sembah sujud (namami) sebagai sebuah doa memohon kemujuran, atau mangalacarana. Beliau memohon karunia Sri Damodara agar memberi kekuatan kepadanya untuk memanjatkan doa ini, melalui penggunaan kata isvara, atau sang pengendali tertinggi. Kata tersebut juga mengisyaratkan bahwa hanya Tuhan satu-satunya yang pantas untuk menerima pujian tertinggi. Lebih lanjut kata tersebut juga mengisyaratkan tentang sifat spesifik dari bhakti, atau pengabdian suci. Tuhan mewujudkan Diri-Nya dalam sebuah bentuk yang mencirikan keberadaan yang kekal, pengetahuan, dan kebahagiaan, sac-cid-ananda-rupam. Demikianlah kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan ditegakkan.

Berikutnya diuraikan tentang atribut kerupawanan-Nya yang begitu memikat hati. Ketika Dia berlari dari Ibu Yasoda, anting-anting-Nya bergoyang-goyang (lasat-kundalam). Sewajarnya anting-anting itu bergoyang ke sana kemari di sisi pipi-Nya ketika Dia bermain-main di halaman rumah Ibu Yasoda. Semua perhiasan yang menghiasi badan-Nya telah menjadi sangat menakjubkan karena mengalami kontak dengan badan rohani-Nya, namun khususnya anting-anting tersebut telah mencapai keadaan yang lebih mulia lagi dibandingkan perhiasan yang lain disebabkan oleh kemujurannya menyentuh dan mencium pipi rohani-Nya ketika bergoyang ke sana kemari. Anting-anting itu berkilau cemerlang (lasanti) karena memendarkan kilau cahaya badan-Nya.

Uddhava menguraikan betapa kerupawanan Krishna begitu menakjubkan dan memikat hati hingga badan rohani-Nya adalah perhiasan bagi segala perhiasan, paraḿ padaḿ bhūṣaṇa-bhūṣaṇāńgam. (Srimad-Bhagavatam 3.2.12)

Hanya di Gokula Sri Krishna memperlihatkan lila-lila yang paling menakjubkan yang melampaui segala manifestasi kemuliaan-Nya (gokule bhrajamanam). Kata gokule mengisyaratkan tentang tempat beradanya sapi-sapi dan gembala-gembala sapi. Demikianlah atribut-atribut dari keluarga rohani-Nya, parivara-visesa, memberi gambaran lebih lanjut tentang keluarbiasaan-Nya yang unik.

Dua baris terakhir sloka pertama ini menguraikan tentang lila-visesa, atau atribut-atribut dari lila-Nya yang menakjubkan sebagai Sang Pencuri Mentega. Karena takut kepada Ibu Yasoda (yasoda-bhiya) Dia berlari cepat (dhavamanam) menjauhi lumpang kayu (ulukalat). Kemudian, Ibu Yasoda juga berlari cepat mengejar (atyantato drutya).

“Pada saat itu Krishna sedang duduk di atas sebuah lumpang kayu yang terbalik dan sedang membagikan olahan susu, seperti yogurt dan mentega, kepada monyet-monyet sesuka hati-Nya. Karena menyadari tindakan-Nya mencuri mentega ini, Dia melirik-lirik ke sekeliling dengan penuh rasa cemas, khawatir bahwa Dia akan dimarahi oleh ibu-Nya. Ketika Ibu Yasoda melihat Dia, dengan mengendap-endap Ibu Yasoda mendekati dari belakang. Ketika Dia melihat ibu-Nya, yang mendekat sambil membawa tongkat kayu, Dia segera turun dari atas lumpang kayu lalu berlari menjauh seolah sangat ketakutan. Walaupun para yogi berusaha menangkap Dia sebagai Paramatma melalui meditasi, dan berkeinginan untuk masuk ke dalam cahaya cemerlang-Nya melalui pertapaan dan pengekangan diri, mereka gagal mencapai Dia. Namun Ibu Yasoda, dengan menganggap Personalitas Tuhan Yang Maha Esa Krishna yang sama itu, sebagai putranya, mulai mengejar Krishna untuk menangkap-Nya.” (Srimad-Bhagavatam 10.9.8-9)

Kata paramrstam, yang bermakna menangkap dari belakang, juga menggambarkan rasa cinta yang sangat besar yang dimiliki Krishna terhadap Yasoda. Karena itu kata gopya mengacu kepada Ibu Yasoda dan mengisyaratkan tentang keberuntungan yang luar biasa yang diraih oleh golongan gembala sapi dimana Tuhan Yang Mahakuasa memilih untuk hadir di tengah-tengah mereka.

(2)

rudantaṁ muhur netra-yugmaṁ mṛjantam

karāmbhoja-yugmena sātańka-netram

muhuḥ śvāsa-kampa-trirekhāńka-kaṇṭha- 

sthita-graivaṁ dāmodaraṁ bhakti-baddham

[Ketika Dia melihat ibu-Nya memegang tongkat rotan,] Dia menangis sambil mengusap matanya berulangkali dengan kedua tangan padma-Nya. Mata-Nya penuh rasa takut, dan kalung mutiara di leher-Nya-yang berisi tanda tiga garis seperti kerang sankha, bergetar disebabkan oleh napas-Nya yang cepat karena Dia menangis. Kepada Tuhan Yang Maha Esa ini, Sri Damodara, yang pinggang-Nya diikat bukan dengan tali, melainkan dengan cinta-suci ibu-Nya, aku menyampaikan sembah sujudku.

Sloka kedua melanjutkan menguraikan tentang lila-visesa. Krishna menangis (rudantam) karena melihat tongkat rotan di tangan Ibu Yasoda. Membayangkan bahwa sang ibu akan memukul, Dia nampak ketakutan, sambil berharap-harap bahwa rasa kasih sayang alami sang ibu akan menyelamatkan Dia dari hukuman. Disebabkan oleh rasa takut, mata-Nya berlinang airmata, sehingga Dia mengusap-usap mata-Nya dengan tangan-Nya yang bagaikan bunga padma (karambhoja yugmena) dengan gerak-gerik sebagaimana anak-anak mengusap-usap airmata yang mulai merembes dari mata mereka.

Kemudian (satanka-netram) mata-Nya yang ketakutan memperlihatkan tentang betapa Dia sangat takut untuk menerima hukuman. Mata-Nya melirik ke sana kemari dalam rasa takut yang besar, mengisyaratkan harapan untuk dibebaskan dari hukuman atas kesalahan-Nya.

Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, yang semua orang takut kepada-Nya, telah menjadi ketakutan terhadap Ibu Yasoda. Dengan cara demikian, sekarang Ibu Yasoda telah menjadi lebih hebat daripada Tuhan, lebih berkuasa daripada Krishna. Dalam filsafat Vaisnava, sang penyembah menjadi lebih hebat daripada Tuhan, Krishna, dan Krishna menerima keadaan ini. Krishna menaikkan kedudukan penyembah-Nya menjadi lebih tinggi daripada kedudukan-Nya sendiri, seperti halnya Arjuna menjadi pahlawan di Kuruksetra sementara Krishna hanya menjadi kusir keretanya. Krishna memberikan kredit/penghargaan tersebut kepada penyembah-Nya, sebab Dia puas dengan melihat penyembah-Nya berada dalam kedudukan yang lebih mulia daripada Diri-Nya.

Demikianlah lila-lila yang sangat intim terungkap dengan cara tersebut. Karena terus menangis terisak-isak, badan-Nya bergetar, (muhuh svasa-kampa) sehingga, (sthita-graiva) kalung mutiara dan anting-anting yang menghiasi badan-Nya juga bergoyang-goyang.

Diuraikan dalam Srimad-Bhagavatam 10.9.15-17: “Ketika Ibu Yasoda sedang berusaha mengikat Krishna, beliau mendapati bahwa tali yang digunakannya masih kurang panjang sepanjang ukuran dua jari. Karena itu beliau mengambil tali lagi untuk menyambungnya. Namun masih juga kurang sepanjang dua jari, dan ketika disambungkan lagi dengan tali lainnya, tetap juga kurang. Sebanyak apa pun tali yang telah ditambahkan, masih saja kurang.”

Alasan tidak mampunya tali itu mengikat Dia adalah bhakti-baddham. Krishna hanya dapat diikat oleh bhakti. Tidak ada kekuatan lain yang mampu mengikat Krishna. Dua jari itu juga memiliki makna penting. Jari yang pertama melambangkan upaya cinta kasih yang tulus dari sang penyembah dan kebulatan tekad yang tak tergoyahkan untuk mencapai Krishna dan dengan demikian menyenangkan hati Krishna. Jari yang kedua melambangkan karunia Krishna yang membuat Dia setuju untuk diikat oleh cinta-murni penyembah-Nya.

Jadi Krishna kemudian diikat dengan tali di bagian perut-Nya (damodaram) lalu diikatkan kepada sebuah lumpang kayu. Hal ini memperlihatkan sifat luar biasa Krishna yakni menempatkan Diri-Nya berada di bawah kendali cinta-murni penyembah-Nya (bhakti-baddham). Krishna merespon terhadap bhakti tersebut dengan dua cara. Dari sudut pandang Ibu Yasoda, Krishna ditaklukkan oleh bhakti Ibu Yasoda dalam rasa hubungan sebagai orang tua, vatsalya. Dari sudut pandang Krishna, Dia memberi izin kepada Ibu Yasoda untuk mengikat Diri-Nya, kendati tidak ada tali yang sesungguhnya mampu mengikat Dia.

Srimad-Bhagavatam 10.9.18-19 menguraikan: “Karena berusaha keras mengikat Krishna, badan Ibu Yasoda bersimbah keringat, dan bunga-bunga yang terpasang di rambutnya berjatuhan. Ketika Krishna kecil melihat ibu-Nya kelelahan seperti itu, Dia pun berbelas kasih kepada sang ibu dan kemudian setuju untuk diikat. Wahai Maharaja Pariksit, seluruh alam semesta ini, beserta dewa-dewa agung seperti Shiva, Brahma dan Indra, berada di bawah kendali Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Namun Tuhan memiliki satu atribut rohani yang istimewa: Dia menempatkan Diri-Nya di bawah kendali para penyembah-Nya. Hal inilah yang saat ini sedang diperlihatkan oleh Krishna dalam lila ini.”

(3)

itīdṛk sva-līlābhir ānanda-kuṇḍe

sva-ghoṣaṁ nimajjantam ākhyāpayantam

tadīyeṣita-jñeṣu bhaktair jitatvaṁ

punaḥ prematas taṁ śatāvṛtti vande

Dengan lila masa kanak-kanak ini Dia membuat penduduk Gokula tenggelam dalam kolam-kolam kebahagiaan rohani, dan Dia memperlihatkan kepada para penyembah yang khusuk dalam pengetahuan tentang kemahakuasaan dan kemewahan-Nya bahwa Dia hanya ditaklukkan oleh para penyembah yang cinta-sucinya penuh keintiman dan bebas dari segala paham sikap kagum dan hormat. Kembali aku bersujud kepada Sri Damodara dengan rasa cinta yang besar beratus-ratus kali.

Atribut-atribut dari sifat-sifat-Nya yang luar biasa, atau guna-visesa, diuraikan di dalam ayat ini. Kata pertama, iti, mengisyaratkan tentang Damodara-lila ini, atau semua lila masa kanak-kanak Krishna. Berikutnya, sva-lilabhih menunjukkan tentang lila-lila rohani-Nya sendiri (sva-ghosam) yang membuat semua penduduk Gokula menjadi tenggelam dalam kolam-kolam rasa kebahagiaan rohani (ananda-kunde nimajjantam). Kata sva mengisyaratkan svasya, atau kemuliaan-Nya sendiri, atau svanam, kemuliaan para penduduk Gokula, yang diperlihatkan melalui lila ini (akhyapayantam).

Hal ini dibenarkan oleh banyak pernyataan di dalam Bhagavatam misalnya berikut ini (10.11.7-8):

“‘Jika Engkau menari, maka kami akan memberi-Mu manisan’ – dengan kata-kata seperti ini, atau dengan bertepuk tangan, gopi-gopi yang lebih tua kadangkala mengarahkan agar Krishna menari. Demikianlah Sri Bhagavan, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, menari-nari layaknya anak kecil biasa. Kadangkala mereka menyuruh Dia menyanyi, dan demikianlah Dia pun menari layaknya anak kecil lugu yang kebingungan. Dengan cara demikian, Dia menempatkan diri di bawah kendali para gopi di Vraja persis seperti wayang di tangan seorang dalang….”

Sebuah peringatan diberikan kepada mereka yang mengembangkan pengetahuan tentang kemahakuasaan dan kemewahan Krishna (tadiyesita-jnesu). Krishna hanya mengungkap Diri-Nya sepenuhnya kepada para penyembah-murni (bhaktair jitatvam), karena telah ditaklukkan oleh cinta-murni mereka. Hal ini dipermaklumkan kembali untuk diketahui oleh semuanya (akhyapayantam).

Srimad-Bhagavatam, 10.11.9, menyebutkan, “Kepada para penyembah murni di seluruh dunia yang mampu mengerti tentang kegiatan-kegiatan-Nya, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Krsna, memperlihatkan betapa Dia dapat ditaklukkan oleh para penyembah-Nya. Dengan cara demikian Dia meningkatkan kebahagiaan para Vrajavasi dengan kegiatan masa kanak-kanak-Nya.”

Hanya dengan cinta dan bhakti yang murni (prematah) Krishna dapat dikenal sebagaimana Dia adanya. Maka mari kita menyampaikan sembah sujud (vande) kepada Dia (tam) beratus-ratus kali (satavrtti). Dari sloka Bhagavatam di atas dapat diperoleh makna yang lebih jauh yakni bahwa sembah sujud dipanjatkan beratus-ratus kali kepada proses pelayanan suci, bhakti, yang mampu menaklukkan obyek cinta kita, Sri Krishna.

(4)

varaṁ deva mokṣaṁ na mokṣāvadhiṁ vā

na canyaṁ vṛṇe ‘haṁ vareṣād apīha

idaṁ te vapur nātha gopāla-bālaṁ

sadā me manasy āvirāstāṁ kim anyaiḥ

Oh Tuhan, walau Engkau mampu memberi segala jenis berkat, aku berdoa kepada-Mu bukan untuk memperoleh pembebasan yang impersonal (dalam brahmajyoti), atau pembebasan tertinggi berupa kehidupan kekal di Vaikuntha, ataupun berkat lainnya [yang barangkali diperoleh dengan melaksanakan sembilan proses bhakti]. Oh Tuhan, aku hanya ingin agar wujud-Mu sebagai Bala Gopala di Vrndavana ini terwujud di hatiku selamanya, sebab apa gunanya berkat lain selain ini bagiku?

Ayat empat menguraikan tentang keinginan-keinginan terdalam sang penulis doa ini, yang diawali dengan varam, atau berkat-berkat. Tidak ada berkat jenis apa pun yang diminta bahkan di sini di Vrndavana (iha) dari Dia yang mampu memberikan segala jenis berkat (varesad). Satyavrata Muni tidak mencari pembebasan (moksa na), ataupun konsep pembebasan tertinggi (moksa-avadhim), yakni kehidupan kekal di Vaikuntha. Beliau juga tidak tertarik dengan berkat apa pun lainnya (na ca anyam), yang mengacu kepada sembilan proses bhakti, diawali dengan sravanam kirtanam, serta manfaat-manfaat yang diperoleh dari proses tersebut. Jika orang lain menginginkan hal-hal ini, atau bahkan jika Krishna ingin memberkati semua hal itu kepadanya, beliau tidak tertarik.

Tiga jenis berkat yang disebutkan di sini yakni moksa (pembebasan), moksavadhim (kehidupan kekal di Vaikuntha), dan anyam (segala berkat lainnya), menggambarkan tingkatan berkat yang semakin meninggi. Kehidupan kekal di Vaikuntha jelas lebih tinggi daripada pembebasan impersonal. Kedudukan dari berkat-berkat lainnya, misalnya sembilan proses bhakti, diuraikan di dalam Srimad Bhagavatam:

“Oh Tuhan, kami berdoa kepada-Mu agar Engkau membiarkan kami lahir dalam keadaan hidup yang bagaikan neraka, hanya selama hati dan pikiran kami selalu tekun dalam pelayanan kepada kaki-padma-Mu, kata-kata kami diperindah [dengan cara berbicara tentang kegiatan-kegiatan-Mu] sebagaimana daun-daun Tulasi menjadi lebih indah ketika dipersembahkan di kaki-padma-Mu, dan selama telinga kami selalu dipenuhi dengan pengumandangan sifat-sifat rohani-Mu.” (Srimad-Bhagavatam 3.15.49)

Melalui kata-kata yang disampaikan oleh Catur Kumara di atas, kita dapat mengerti bahwa sembilan proses bhakti dapat mencapai kesempurnaannya bahkan di neraka. Jadi dalam keadaan hidup yang bagaimana pun, seseorang dapat merasakan dan mengalami kesempurnaan yang tersedia di kediaman kekal, Vaikuntha, melalui bhakti-yoga.

Adakah kemudian sesuatu yang diinginkan oleh sang penulis syair Damodarastaka ini? Jawabannya adalah iha, (di sini, di Vrndavana), idam te vapur natha gopala-balam (semoga wujud-Mu sebagai seorang anak gembala sapi, Oh Tuhanku) sada me manasy avirastam (selalu terwujud di dalam hati/pikiranku). Oleh karena Krishna adalah juga Roh Yang Utama yang bersemayam di hati, atau antaryami, seseorang dapat melihat ketampanan-Nya di dalam hati sama jelasnya dengan melihat di luar dengan menggunakan mata.

Akhirnya segala jenis berkat dikesampingkan yakni dipandang sebagai tiada berguna sama sekali (kim anyaih). Alasannya adalah bahwa oleh karena Krishna adalah puncak tertinggi dari segala keberadaan, pengetahuan, dan kebahagiaan (sac-cid-ananda-rupam), maka mencapai Krishna akan mengantarkan segala kesempurnaan. Dan sebaliknya, jika seseorang tidak mencapai Krishna, maka segala berkat lainnya hanya akan menjadi sumber kesedihan/ratapan, sebab semua yang lain memiliki nilai yang lebih rendah. Seseorang dapat merasa puas sepenuhnya cukup dengan melihat wujud rohani Krishna sebagai seorang anak gembala sapi. Oleh karena itu, segala berkat lainnya adalah tiada berguna (kim anyaih). Inilah mood/suasana hati Satyavrata Muni.

Kemuliaan dari antar-darsana (melihat Tuhan di dalam hati) diuraikan lebih lanjut di dalam karya lain (Brhad Bhagavatamrta, Uttara-Khanda 2.86-96). Doa Damodarastaka yang dipanjatkan oleh Satyavrata Muni ini memperlihatkan bahwa keinginan/kerinduan untuk mendapatkan antar-darsana, atau darsana di hati, adalah tujuan yang terbaik.

(5)

idaṁ te mukhāmbhojam atyanta-nīlair

vṛtaṁ kuntalaiḥ snigdha-raktaiś ca gopyā

muhuś cumbitaṁ bimba-raktādharaṁ me

manasy āvirāstām alaṁ lakṣa-lābhaiḥ

Oh Tuhan, wajah padma-Mu yang dilingkari oleh rambut halus berwarna hitam kemerah-merahan, diciumi berkali-kali oleh Ibu Yasoda, dan bibir-Mu berwarna kemerah-merahan laksana buah bimba. Semoga bayangan wajah padma-Mu ini terwujud di hatiku selamanya. Ribuan berkat lainnya tiada berguna bagiku.

Sang pujangga memperlihatkan di dalam ayat ini bahwa kerinduan akan pergaulan Tuhan di hati adalah cara terbaik untuk mencapai Tuhan. Kerinduan untuk melihat wajah padma Krishna yang mahatampan, yang mahamemikat, dinyatakan pertama-tama (idam te mukhambhojam). Manisnya wajah Sri Krishna yang luarbiasa nampak bagaikan sekuntum bunga padma yang telah mekar merekah. Hanya dengan melihat wajah-Nya, yang merupakan gudangnya kebahagiaan tertinggi, segala kecemasan dan penderitaan sirna. Karena itu, semoga wajah-padma tersebut (mukhambhojam) terwujud di dalam pikiran bahkan sekali saja (manasy avirastam), atau berulang kali (muhuh), ataupun senantiasa (sada). Konsep terkait dengan sada, atau “senantiasa”, ini dibawa dari ayat sebelumnya untuk memberikan kesimpulan akhir di dalam ayat ini. Ketiga makna tersebut pun tercakup di dalamnya.

Wajah-padma tersebut selalu dikitari (vrtam) oleh rambut ikal (kuntalaih) yang berwarna biru gelap (atyanta-nilair), dan memiliki corak warna kemerah-merahan (raktaih) serta berkilau cemerlang (snigdha). Untaian rambut ikal yang mengelilingi wajah Krishna bergerak-gerak ketika Dia bergerak ke sana kemari, seperti halnya sekuntum bunga-padma dikelilingi oleh lebah-lebah madu yang beterbangan. Inilah makna yang diisyaratkan oleh kata vrtam. Wajah-padma Krishna dicium berkali-kali oleh Ibu Yasoda (gopya). Kata muhuh (berkali-kali), mendefinisikan tentang gopi yang sangat beruntung itu (gopya) yang berulangkali mencium wajah-padma rohani tersebut (muhus cumbitam).

Lebih lanjut, wajah-padma Krishna terhias dengan bibir yang berwarna kemerah-merahan seperti buah bimba (bimba-raktadharam). Wujud Krishna tersebut begitu memikat dan memuaskan hati sepenuhnya hingga jutaan pencapaian lainnya (laksa-labhaih) dirasa tiada berguna (alam).

(6)

namo deva dāmodarānanta viṣṇo

prasīda prabho duḥkha-jālābdhi-magnam

kṛpā-dṛṣṭi-vṛṣṭyāti-dīnaṁ batānu

gṛhāṇeṣa mām ajñam edhy akṣi-dṛśyaḥ

Oh Tuhan Yang Maha Esa, aku bersujud kepada-Mu. Oh Damodara! Oh Ananta! Oh Visnu! Oh Tuan! Oh Tuhanku, semoga Engkau puas terhadap diriku. Dengan mengarahkan lirikan-Mu kepadaku, selamatkanlah orang bodoh yang malang ini yang tenggelam dalam lautan duka cita duniawi, dan perlihatkanlah diri-Mu di hadapan mataku.

Rasa cinta timbul dari kemurnian dan potensi dari rasa rindu, dan kemudian seseorang menjadi puas hanya jika ia melihat ketampanan Sri Krishna secara langsung, atau saksat-darsana. Metode yang paling utama, atau param-sadhana, untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengucapkan nama suci, atau sri-nama-sankirtana. Satyavrata Muni memulai ayat ini dengan mengucapkan nama-nama suci Tuhan. Dalam rasa kebahagiaan rohaninya, rasa kagum dan hormat terkesampingkan dengan hilangnya kata tubhyam (kepada-Mu). Hal ini menciptakan mood/suasana hati dimana seseorang berada langsung di hadapan Tuhan secara bertatap muka.

Nama deva bermakna, he divya-rupa, atau “Oh Tuhan yang memiliki ketampanan rohani!” Ketampanan Tuhan tersebut adalah penyebab timbulnya keinginan untuk mendapatkan darsana secara langsung. Sapaan damodara secara khusus mengacu kepada sifat mulia-Nya yang menempatkan diri di bawah kendali cinta-murni penyembah-Nya, atau bhakta-vatsala, bahkan hingga batas membiarkan Diri-Nya diikat. Bagaimana seseorang akan mampu melihat Tuhan kecuali ia memenuhi syarat melalui bhakti, atau pengabdian suci yang murni? Dia yang tanpa batas dan tidak memiliki akhir (ananta) mengisyaratkan tentang Tuhan yang tak terjangkau pemikiran, tak pernah gagal, tanpa awal, dan memiliki wujud-wujud yang tanpa batas untuk bermain-main dalam lila-lila rohani. Oleh karena Dia tak terjangkau pemikiran, Dia hanya dapat menjadi nampak bagi mata kita atas kekuatan-Nya Sendiri, bukan atas kekuatan kita. Lebih lanjut, nama visnu mengisyaratkan tentang Dia yang maha-ada, yang berada di mana-mana mengisi seluruh ruang dan waktu. Dengan demikian, tidak sulit bagi Dia untuk muncul di hadapan mata kita.

Pada baris terakhir ayat ini, kata isa mengacu kepada sang pengendali tertinggi yang bebas berdikari sepenuhnya. Sang pujangga berdoa, “Mohon menerima doa ini, Oh Tuhan yang mahabebas-berdikari, (grhanesa) sebab tidak ada sesuatu pun yang dapat menyebabkan Engkau bertindak. Engkau dapat menerima permohonanku ataupun tidak atas kehendak bebas-Mu Sendiri. Aku akan tetap melanjutkan berharap.”

Kata prasida mengisyaratkan karunia dari prabhu, atau sang penguasa tertinggi. Sang penyembah berharap agar Sri Krishna puas terhadap dirinya dan memberkati dia dengan karunia-Nya. Mengapa? Karena dia sedang tenggelam dalam lautan penderitaan (duhkha-jalabdhi-magnam). Khususnya, duhkha mengisyaratkan penderitaan yang berupa berulangnya kelahiran dan kematian, atau kesedihan karena terpisahkan dari kehadiran Tuhan. Ilusi (jala) dunia material adalah bagaikan lautan luas yang sangat dalam yang seolah tanpa dasar (abdhi) dimana kita tenggelam di dalamnya (magnam). Inilah penyebab penderitaan kita (ati-dinam). Makna lainnya adalah bahwa karena tidak mendapatkan sadhu-sanga, atau pergaulan dengan penyembah-penyembah yang suci, kita merasakan penderitaan. Lebih lanjut, “Kami sangat menderita karena tidak mampu melihat Engkau, oh Tuhanku.”

Masalah bertambah karena tidak tahu apa yang harus dilakukan (ajnam). Karena itu, mohon memberkati kami dengan lirikan-Mu yang penuh karunia, yang bagaikan curahan nektar (krpa-drsti-vrstya), yang dengan demikian menyemangatkan kehidupan kami (anugrhana). Kemudian, mohon muncul di hadapan mata kami (edhy aksi-drsyah). Inilah makna dari doa ini.

(7)

kuverātmajau baddha-mūrtyaiva yadvat

tvayā mocitau bhakti-bhājau kṛtau ca

tathā prema-bhaktiṁ svakāṁ me prayaccha

na mokṣe graho me ‘sti dāmodareha

Oh Sri Damodara, seperti halnya dalam wujud-Mu sebagai bayi yang diikat pada lumpang kayu Engkau membebaskan dua putra Kuvera—Manigriva dan Nalakuvara—dari kutukan Narada dan menjadikan mereka penyembah-penyembah agung, dengan cara yang sama, mohon beri aku prema-bhakti-Mu Sendiri. Aku hanya menginginkan hal ini. Aku tidak menginginkan jenis pembebasan mana pun.

Ayat ini mengungkap kebenaran-kebenaran mendalam tentang prema-visesa, atau cinta dalam kebahagiaan rohani yang murni kepada Krishna. Diawali dengan kata kuveratmajau, diperkenalkan tentang dua putra Kuvera. Mereka mampu mencapai karunia dimana mereka melihat Krishna secara langsung. Tetapi bukankah prema bhakti satu-satunya cara untuk melihat Tuhan secara bertatap muka. Dan dengan hanya sekali saja melihat Tuhan, bukankah kerinduan rasa perpisahan akan timbul ketika penglihatan itu tidak hadir lagi? Inilah aspek prema bhakti yang membuat Tuhan berada di bawah kendali cinta murni sang penyembah.

Bagaimana kedua insan itu bisa mendapatkan karunia yang demikian? Jawabannya adalah melalui sifat dari cinta Sri Krishna, sebagai bhakta-vatsala, hal yang tidak mungkin pun menjadi mungkin. Untuk menghormati kata-kata penyembah murni-Nya, Narada Muni, yang memberikan berkat bahwa mereka akan bertemu Tuhan secara bertatap muka, Krishna benar-benar mengantarkan berkat tersebut kepada mereka. Pernahkah mereka melakukan sesuatu yang membuat mereka layak menerimanya? Tidak. Semata-mata atas karunia yang tanpa sebab!

“Walaupun dua anak muda ini adalah putra-putra dari Kuvera yang sangat kaya dan Aku tidak memiliki urusan dengan mereka, Devarsi Narada adalah penyembah yang sangat Kucintai, dan karena dia menginginkan agar Aku datang menemui mereka secara langsung, Aku harus melakukannya untuk membebaskan mereka.” (Srimad-Bhagavatam 10.10.25)

Penjelasannya adalah bahwa Krishna telah diikat oleh cinta kasih Sri Narada. Inilah sifat bhakta-vatsala milik Krishna. Karena itulah Krishna menggunakan lumpang kayu itu untuk merobohkan dua pohon yang sebenarnya adalah dua bersaudara tersebut. Atas karunia sang penyembah murni, Narada Muni, mereka menerima karunia Krishna.

Dari kata-kata baddha-murtyaiva, kita mengerti bahwa Krishna telah bersedia untuk diikat dengan tali lalu diikatkan pada lumpang kayu. Namun walaupun Dia dalam keadaan terikat seperti itu, Dia membebaskan Manigriva dan Nalakuvara. Kata mocitau mengisyaratkan bahwa mereka terbebas dari samsara, atau berulangnya kelahiran dan kematian, bukan hanya dari kutukan Sri Narada. Lebih lanjut, kedua pemuda itu diberkati bhakti-bhajau, berkat yang berupa prema-bhakti. Kini mereka pun terhitung termasuk dalam penyembah-penyembah-murni Krishna yang dikenal sebagai bhakti-bhajam, yakni mereka yang tidak pernah dapat meninggalkan perlindungan bhakti.

Dengan pernyataan tatha prema-bhaktim svakam me prayaccha, Satyavrata Muni memohon, “Mohon berkati hamba juga dengan prema-bhakti dengan cara yang sama.” Kata svakam mengisyaratkan bernaung satu-satunya kepada kaki-padma Krishna atau bentuk tampan Krishna, satu-satunya obyek meditasi. “Aku tidak menginginkan pembebasan mana pun,” (na mokse graho me ‘sti damodareha).

Walaupun Krishna dapat memberkati pembebasan, atau moksa, jawabannya adalah tidak (na). Selain yang satu ini (iha), yakni prema-bhakti, aku tidak menginginkan apa pun yang lain (grahah). Mood yang dikedepankan di sini adalah bahwa jika seseorang bisa mendapatkan prema-bhakti, maka untuk apa memedulikan berkat yang remeh yakni pembebasan dari kehidupan material? Makna lain dari kata iha mengisyaratkan Vrndavana, tempat dimana prema-bhakti berkuasa, dan tempat dimana Sri Krishna selalu hadir.

(8)

namas te ‘stu dāmne sphurad-dīpti-dhāmne

tvadīyodarāyātha viśvasya dhāmne

namo rādhikāyai tvadīya-priyāyai

namo ‘nanta-līlāya devāya tubhyam

Oh Sri Damodara, pertama-tama aku bersujud kepada tali cemerlang yang mengikat perut-Mu. Lalu aku bersujud kepada perut-Mu, yang merupakan tempat bersandar seluruh alam semesta. Aku bersujud dengan rendah hati kepada kekasih-Mu tercinta, Srimati Radharani, dan aku bersujud kepada-Mu, Tuhan Yang Maha Esa, yang memperlihatkan lila yang tiada berhingga.

Pada penghujung doa Damodarastaka ini, sembah sujud dipanjatkan (namas te) kepada berbagai kelengkapan Tuhan untuk membangkitkan rasa bhakti. Bahkan tali yang mengikat perut-Nya (damne) patut dipuja. Tali itu adalah sumber cahaya cemerlang (sphurad dipti-dhamne), dan sang pujangga di sini menyarankan bahwa tali itu adalah juga sumber dari cahaya Brahman yang mahameluas.

Kemudian, sembah sujud dipanjatkan kepada perut Tuhan, yang diikat oleh tali yang ajaib ini (tvadiyodarayatha). Seperti apakah perut tersebut? Perut tersebut adalah kediaman atau penyangga seluruh alam semesta yang tanpa batas di dalam ciptaan (visvasya), termasuk semua makhluk hidup yang bergerak dan tidak bergerak yang ada di dalamnya. Sebatang bunga-padma yang mahabesar yang memelihara empatbelas dunia tumbuh dari perut tersebut dan merupakan kediaman Dewa Brahma.

Krsna kecil pernah memperlihatkan bentuk semesta-Nya kepada Ibu Yasoda ketika Dia membuka mulut-Nya untuk memperlihatkan bahwa Dia tidak makan tanah; jadi ini adalah isyarat lain tentang hal tersebut. Karena itu, ketika Ibu Yasoda mengikat perut Krishna dengan tali, beliau mengikat seluruh alam semesta.

Sebenarnya, Krishna mengizinkan Ibu Yasoda untuk menempatkan seluruh ciptaan berada di bawah kendalinya, walau tidaklah mungkin untuk mengikat Tuhan Yang Mahakuasa. Karena itu para acharya Vaisnava menerima lila ini sebagai ekspresi yang paling mulia mengenai vatsalya-rasa, seperti halnya rasa-lila adalah ekspresi tertinggi mengenai madhurya-rasa. Dengan kenyataan bahwa Krishna bersedia untuk diikat, kita dapat mengerti bahwa lila ini tak terjangkau bagi logika dan penalaran duniawi.

Sembah sujud juga dipanjatkan kepada kekasih tercinta Krishna yakni Srimati Radharani, namo radhikayai. Atas karunia Sri Radha, seseorang akan mampu mencapai Sri Krishna secara penuh. Karena merupakan yang paling utama di antara para gopi, sembah sujud dipanjatkan secara khusus kepada Sri Radha. Tersirat lebih lanjut bahwa sembah sujud sedang dipanjatkan kepada semua gopi, yang dipimpin oleh Sri Radha. Kata radhika mengacu kepada Dia yang tekun dan khusuk secara sempurna dalam bhakti kepada Sri Krishna. Karena itu Satyavrata Muni berkata, “Aku bersujud kepada kekasih-Mu tercinta (tvadiya priyayai). Lebih lanjut kata tvadiya mengisyaratkan bahwa Sri Radha bukan hanya dicintai oleh Krishna melainkan juga oleh semua penyembah Krishna. Sang pujangga menyatakan, “Siapa pun yang dicintai oleh Engkau patut dipuja oleh seluruh alam semesta!”.

Kesimpulan doa ini menyinggung tentang lila rohani tertinggi, rasa-lila, demikian pula semua lila Krishna lainnya yang tanpa batas. Mengingat bahwa topik-topik ini bersifat sangat rahasia, di sini tidak disebutkan secara langsung. Hanya diberi isyarat tentang lila-lila Krishna yang tanpa batas lainnya, ananta-lilaya. Sebagai tambahan, ananta-lilaya mengisyaratkan bahwa sembah sujud dipersembahkan kepada semua lila yang berlangsung di alam rohani Gokula Vrndavana. Kata devaya mengacu kepada Sri Krsna yang berkedudukan transendental/rohani. Kesimpulannya adalah bahwa melalui sifat-sifat rohani Sri Damodara yang tak terjangkau pikiran maka semua lila-Nya juga bersifat rohani. Karena itu, namo nanta-lilaya devaya tubhyam, “Aku bersujud kepada Engkau yang sibuk dalam lila-lila rohani yang tanpa batas.” Inilah mood yang diungkapkan oleh Satyavrata Muni.

Demikianlah berakhir ulasan Srila Sanatana Goswami atas Doa Damodarastaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s