Rahasia di Balik Ratha-yatra (2)

KEBAHAGIAN ROHANI MAHAPRABHU KETIKA RATHAYATRA

Kutipan dari terjemahan dan penjelasan

Sri Caitanya-caritamrta oleh Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada

Madhya-lila Bab Satu dan Bab Tigabelas

Ketika Sri Caitanya Mahaprabhu melihat Jagannatha, Sri Caitanya melihat bahwa Sri Jagannatha sedang bersama adik-Nya, Subhadra, dan tidak membawa seruling di tangan-Nya. Khusuk dalam kebahagiaan rohani para gopi, Sri Caitanya Mahaprabhu berkeinginan untuk melihat Sri Jagannatha dalam wujud asli-Nya sebagai Sri Krsna, putra Nanda Maharaja, berdiri di Vrndavana dan nampak sangat tam­pan, badan-Nya berlekuk di tiga tempat. Keinginan Sri Caitanya untuk melihat wujud tersebut senantiasa meningkat. Seperti halnya Srimati Radharani berbicara tidak menentu kepada seekor lebah saat Uddhava hadir, dalam kebahagiaan rohani-Nya Sri Caitanya Maha­prabhu berbicara layaknya orang gila dan tidak menentu siang-malam.

Nyanyian Perpisahan

Sri Caitanya Mahaprabhu menyuruh Svarupa Damodara menyanyi. Karena mengerti pikiran Sri Caitanya, Svarupa Damodara mulai menyanyi sebagai berikut

sei ta parana-natha painu

yaha lagi’ madana-dahane jhuri’ genu

“Kini Aku telah menemukan Penguasa hidup-Ku, yang dalam ketidakhadiran-Nya, Aku terbakar oleh Dewa Asmara dan membuat-Ku lemah.”

Lagu ini mengacu pada pertemuan Srimati Radharani dan Sri Krsna di tempat suci Kuruksetra, tempat yang dikunjungi Tuhan Sri Krsna bersama saudara-Nya dan saudari-Nya ketika terjadi gerhana matahari. Lagu ini merupakan lagu perpisahan terhadap Sri Krsna. Ketika Radharani bertemu Krsna di Kuruksetra, Radharani terkenang pergaulan intim-Nya di Vrndavana, dan berpikir, “Kini Aku telah menemukan Penguasa hidup-Ku. Dalam ketidakhadiran-Nya, aku terbakar oleh panah Dewa Asmara, dan karenanya aku menjadi lemah. Kini Aku telah menemukan kembali nyawa-Ku.”

Jagannatha Dikalahkan

Ketika lagu ini dinyanyikan dengan keras oleh Svarupa Damodara, Sri Caitanya Mahaprabhu kembali menari berirama dalam kebahagiaan rohani. Kereta Sri Jagannatha mulai bergerak perlahan, putra ibu Saci berjalan dan menari di depan. Sambil menari dan menyanyi, pandangan semua penyembah yang berada di depan Sri Jagannatha tertuju kepada Sri Caitanya Mahaprabhu. Sri Caitanya Mahaprabhu kemudian pergi ke ujung pawai bersama rombongan sankirtana. Mata dan pikiran khusuk sepenuh-nya dalam Sri Jagannatha, Sri Caitanya Mahaprabhu mulai memerankan drama lagu tersebut dengan kedua tangan-Nya. Ketika secara dramatis Dia memerankan lagu tersebut, kadang-kadang Dia tertinggal di belakang pawai. Pada saat seperti itu, Sri Jagannatha jadi diam tidak bergerak. Ketika Sri Caitanya Mahaprabhu kembali berjalan maju, kereta Sri Jagannatha kembali bergerak perlahan. Dengan demikian, terjadi semacarn perlombaan antara Sri Caitanya Mahaprabhu dan Sri Jagannatha untuk memastikan siapa yang akan memimpin di depan, tetapi Sri Caitanya Mahaprabhu begitu kuat hingga Dia membuat Sri Jagannatha menunggu di kereta-Nya.

Setelah meninggalkan para gopi di Vrndavana, Sri Krsna, putra Maharaja Nanda, sibuk dalam kegiatan rohani-Nya di Dvaraka. Ketika Krsna pergi ke Kuruksetra bersama kakak-Nya, adik-Nya dan semua yang lainnya dari Dvaraka, Krsna bertemu kembali dengan para penduduk Vrndavana. Sri Caitanya Mahaprabhu adalah radha-bhava-dyuti-suvalita, yaitu Krsna Sendiri yang mengambil kedudukan Srimati Radharani untuk dapat mengerti Krsna. Sri Jagannatha-deva adalah Sri Krsna dan Sri Krsna Caitanya Mahaprabhu adalah Srimati Radharani. Kegiatan Sri Caitanya Mahaprabhu mengantar Sri Jagannatha ke kuil Gundica bersesuaian dengan kegiatan Srimati Radharani mengantar Krsna ke Vrndavana. Sri Ksetra, Jagannatha Puri, dianggap sebagai kerajaan Dvaraka, tempat Sri Krsna menikmati kemewahan tiada tara. Akan tetapi, Dia diantar oleh Sri Caitanya Maha­prabhu ke Vrndavana, desa sederhana di mana para penduduknya penuh dengan cinta kasih kebahagiaan rohani kepada Sri Krsna. Sri Ksetra adalah tempat aisvarya-lila, seperti halnya Vrndavana adalah tempat madhurya-lila. Tindakan Sri Caitanya Mahaprabhu mengikuti di belakang ratha menggambarkan bahwa Sri Jagannatha, Krsna, melupakan para penduduk Vrndavana. Walau Krsna meninggalkan para penduduk Vrndavana, Dia tidak dapat melupa­kan mereka. Demikianlah, dalam rathayatra-Nya yang megah, Dia kembali ke Vrndavana. Dalam peran sebagai Srimati Radharani, Sri Caitanya Mahaprabhu mencari tahu apakah Krsna masih ingat pada para penduduk Vrn­davana. Ketika Sri Caitanya Mahaprabhu tertinggal di belakang kereta Ratha, Jagannatha-deva, Sri Krsna Sendiri, mengerti pikiran Srimati Radharani. Karena itu, kadang-kadang Sri Jagannatha tertinggal di belakang Sri Caitanya Mahaprabhu yang sedang menari untuk menunjukkan kepada Srimati Radharani bahwa Dia tidak lupa. Demikianlah Sri Jagannatha akan menunggu di atas ratha-Nya untuk kemudian bergerak maju bersama. Dengan cara demikian, Sri Jagannatha setuju bahwa tanpa kebahagiaan rohani Srimati Radharani, Dia tidak akan merasa puas. Sementara Sri Jagannatha menunggu, Gaurasundara, Caitanya Mahaprabhu, dalam kebahagiaan rohani-Nya sebagai Srimati Radharani, segera maju menuju Sri Krsna. Pada saat seperti itu, Sri Jagannatha akan maju dengan sangat perlahan. Pertukaran rasa berupa perlombaan ini semuanya adalah bagian dari kegiatan percintaan rohani antara Sri Krsna dan Srimati Radharani. Dalam perlombaan antara keba­hagiaan rohani Sri Caitanya untuk Sri Jagannatha dan kebahagiaan rohani Sri Jagannatha untuk Srimati Radharani itu, Sri Caitanya Mahaprabhu muncul sebagai pemenang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s