Rahasia di Balik Ratha-Yatra (1)

Sri Jagannath yang Misterius

Sri Jagannath, dengan tata cara pemujaan yang tidak biasa, senyum-Nya yang lebar, mata bulat, serta tangan dan kaki masuk ke dalam badan, sangat sedikit dimengerti bahkan di kalangan para Vaishnava sekalipun. Dalam edisi kali ini kami akan meneliti beberapa aspek pemujaan tradisional Sri Jagannath. Di antara topik-topik lain, kami akan menguraikan bagaimana secara misterius Sri Jagannath berganti badan dan kita juga akan mendengarkan para acarya Vaishnava membahas tentang makna rahasia di balik Festival Kereta Sri Jagannath yang termasyhur itu.

Pada tanggal 19 Mei 1934 di kuil purba Sri Alalanath dekat Puri, Orissa, Sri Srimad Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakur, mengeluarkan pernyataan yang mirip ramalan berikut ini:

Kita harus membawa Sri Jagannath naik pesawat berbentuk kereta menuju Eastbourne. London. Di sana akan muncul Alalanath, Gaudiyanath dan Gopinath. Kita hams menyetanakan Arca Sri Caitanya Mahaprabhu dimana-mana diseluruh dunia, jika tidak maka tidak akan ada kemujuran bagi ras umat manusia.1

Visi Srila Bhaktisiddhanta ini dipenuhi oleh murid beliau Srila A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Acatya-Pendin International Society for Krishna Consciousness. Atas perintah gurunya, Srila Prabhupada datang ke Amerika untuk kegiatan pengajaran pada tahun 1965, dan dua tahun kemudian beliau mengadakan festival Rathayatra pertama di Barat yaitu di San Francisco. Sebagai hasil dari kegiatan pengajaran Srila Prabhupada, kini Sri Jagannath termasyhur di seluruh dunia. Rathayatra telah menjadi pemandangan umum di hampir semua kota besar di seluruh dunia termasuk London, New York, Budapest, Durban, Melbourne, dan Moscow. Pemujaan kepada Sri Jagannath sudah ber-jalan sejak zaman purba. Menurut Skanda Purana, kuil pertama Sri Jagannath di Puri dibangun jutaan tahun silam pada Satya-yuga. Sri Jagannath juga ada disebutkan oleh Valmiki Muni dalam kitab purba Ramayana. Diceritakan di sana bahwa tidak lama sebelum mengakhiri lila-Nya di dunia ini, Sri Rama memanggil Vibhisana, adik Ravana, dan memberi perintah kepadanya tentang bagaimana ia mesti meneruskan segalanya dalam ketidakhadiran-Nya. Sri Rama menyimpulkan dengan menyampaikan kepadanya:

kim canyad vaktum icchami raksasendra mahabala

aradhaya jagannatham iksvaku kula davaitam

Wahai penguasa perkasa kaum Raksasa, ada satu hal lagi yang hendak Aku katakan kepadamu, pujilah Sri Jagannath. Tuhan pujaan dinasti Iksvaku.-

Wujud Sri Jagannath tidak banyak dimengerti dengan baik. Dengan mata bulat besar, mulut tersenyum lebar, dan tangan atau kaki tidak nampak jelas, barangkali bagi banyak orang Sri Jagannath nampak sebagai wujud abstrak. Di Orissa. Sri Jagannath dipandang dengan cara yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok religius. Bagi para pengikut Caitanya Mahaprabhu, Sri Jagannath adalah Syamasundar Krsna, kekasih Srimati Radharani; bagi para penyembah Sri Rama di Orissa. Sri Jagannath adalah Ramacandra; bagi para Oriya Ganapatya, Sri Jagannath adalah Ganesa; umat Buddha di Orissa melihat Jagannath se­bagai Buddha; dan bagi Saivait Orissa, Sri Jagannath adalah Dewa Siva. Ketika misionaris Kristen pertama tiba di Puri dan melihat Sri Jagannath dalam festival Rathayatra, bagi mereka semua itu tidak lebih daripada pertunjukan yang dilakukan para pemuja berhala. Mereka menguraikan Sri Jagannath sebagai “Tuhannya kaum Hindustan”, dengan “roman muka menakutkan yang berwarna hitam, dan mulut lebar berwarna merah darah”.3 Bahkan para penyembah pun terkadang tidak bisa menghargai seutuhnya wujud Sri Jagannath. Suatu kali seorang murid muda bertanya kepada Srila Prabhupada tentang mengapa Sri Jagannath nampak berbeda dengan Krsna. “Oh?” Srila Prabhupada menjawab. “Jagannath nampak berbeda bagimu?”4

Ada banyak penjelasan tentang bagaimana dan mengapa Krsna mengambil wujud Sri Jagannath. Skanda Purana menguraikan bahwa Maharaj Indrayumna meminta kepada Visvakarma, arsitek para dewa, agar membuatkan Arca Jagannath, Baladeva dan Subhadra. Visvakarma bersedia, dengan syarat ia tidak diganggu saat memahat Arca-Arca tersebut. Ketika raja yang penasaran melanggar syarat tersebut dan masuk ke ruang kerja sebelum waktunya, untuk melihat Arca, Visvakarma belum menyelesaikan pekerjaannya dan pemahat yang marah itu menghentikan pekerjaannya lalu pergi. Sang raja merasa sangat sedih. sampai Narada Muni datang dan memberitahukan kepadanya bah­wa itu adalah keinginan Tuhan Sendiri untuk dipuja dalam wujud tersebut.

Penjelasan yang lebih rahasia adalah bahwa Jagannath adalah perwujudan rasa cinta Sri Krsna kepada Srimati Radharani. Manifestasi rasa cinta tertinggi disebut mahabhava. Ketika Krsna sedang berada di Dvaraka, Krsna merasakan perpisahan yang sangat kuat terhadap Radha. Dalam ekstasi mahabhava, mata Krsna membesar dan tangan serta kaki-Nya masuk ke dalam badan-Nya bagaikan seekor kura-kura. Oleh karena itu, wujud Jagannath juga dikenal sebagai mahabhava-prakasa. Oleh karena Jagannath merasakan perpisahan yang demikian terhadap Radha, Jagannath adalah radha-viraha-vidhura-perwujudan rasa perpisahan terhadap Radha. Caitanya Mahaprabhu adalah Sri Krsna Sendiri, namun Dia datang untuk merasakan rasa perasaan Radharani-radha-bhava-dyuti-suvalitam naumi krsna-svarupam. Oleh sebab itu, Mahaprabhu adalah perwujudan rasa per­pisahan terhadap Sri Krsna—krsna-viraha-vidhura. Srila Gour Govinda Maharaj meng­uraikan:

Mahaprabhu merasakan derita perpisahan terhadap Krsna dan selalu menangis, rorudhya mana. Gaura menangis untuk Krsna dan Jagannath menangis untuk Radha. Dua wujud tangisan ini ada di Jagannath Ksetra. Oleh sebab itu, ksetra itu dikenal sebagai vipra-lambha-ksetra. ksetra tangisan. Krsna-viraha-vidhura dan radha-viraha-vidhura. Dua viraha-vidhura bertemu di Purusottama Ksetra. Jadi, hendaknya kita mengerti siapa itu Gaura, siapa itu Jagannath, dan pertemuan aneh antara keduanya… Gaura menangis untuk Krsna dan Jagannath menangis untuk Radha. Keduanya menangis dalam ekstasi mahabhava?

Ini topik yang luas, dan kami menyarankan agar pembaca membaca “The Embankment of Separation” karya Srila Gour Govinda Swami untuk memperoleh informasi lebih banyak.

Salah satu aspek unik dalam pemujaan Sri Jagannath adalah bahwa Jagannath memiliki kitab suci-Nya Sendiri yang menguraikan puja kepada-Nya. Hal ini tidak diterima oleh Srila Ramanujacarya, acarya agung dari Sri-sampradaya. Ketika beliau mengunjungi Puri dalam sebuah perjalanan dalam rangka pengajaran. Ramanuja berdebat dengan para pendeta lokal yang melayani Sri Jagannath. Ramanuja mempertanyakan, “Bagaimana bisa kita menerima tata cara pemujaan kepada Tuhan yang tidak diuraikan dalam kitab-kitab suci yang diakui seperti kitab-kitab Veda dan Pancaratra?” Kendati Ramanuja memenangi debat tersebut, tapi hal itu tidak terlalu dihargai oleh Sri Jagannath Sendiri. Malam hari setelah debat berlangsung, Sri Jagannath melempar Ramanuja sejauh seratus mil ke arah selatan di Kurma-ksetra.6 Jadi, walau pemu­jaan kepada Sri Jagannath barangkali kelihatan tidak ortodok, Jagannath Sendiri nampaknya menyukainya. Berhubungan dengan hal ini Srila Vrndavan Das Thakur menulis:

param brahma—jagannatha-rupa-avatara vidhi ba niseha etha na are vicara

Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa telah turun ke dunia ini sebagai Sri Jagannath. Sri Jagannath tidak perlu memikirkan aturan dan larangan.7

Banyak uraian rinci dan gambar-gambar yang disajikan dalam edisi ini belum pernah tercetak sebelumnya dalam terbitan berbahasa Inggris. Kami menghadirkan edisi ini sebagai pengamatan kultural terhadap sebuah proses pemujaan yang walaupun kadangkala berbeda dengan standar-standar umum, pada saat yang sama ia merupakan bagian tak terpisahkan dari warisan Gaudiya kita. Kami telah menghabiskan waktu sekitar tiga tahun untuk menyusun bahan-bahan edisi ini tapi tetap saja masih sangat banyak yang dapat diungkap mengenai topik ini. Dengan restu para penyembah, kami berharap untuk dapat me-lanjutkan penelitian dan mencetak lebih ba­nyak lagi di masa mendatang.

Daso ‘smi

Madhavananda das.

(Editor Majalah Krsna-kathamrta)

Catatan:

1-Paramarthi (buletin bulanan Oriya), Cuttack: Sacchinandana Math, edisi Februari, 1976, hal. 34.

2 –Valmiki Ramayana uttara khanda 108.30

3 Perjumpaan dengan Penguasa Alam Semesta karya Ravindra-svarupa Das, hal. 9

4 Ibid hal.21

5 The Embankment of Separation karya Srila Gour Govinda Swami, edisi pertama, hal. 100

6 Lihat penjelasan Srila A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada dalam Cc. Madhya. 7.113.

7 ‘Sri Caitanya-bhagavata antya 10.115

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s