PERMAINAN MASA KANAK-KANAK SRI CAITANYA

PERMAINAN MASA KANAK-KANAK SRI CAITANYA MAHAPRABHU

Ketika masih kecil, Nimai sering menangis dan tidak akan mau berhenti menangis sampai para perempuan menyanyi “Hari, Hari,” dan bertepuk tangan. Gelang kaki emas bergemerincing ketika Dia menendang-nendangkan kaki-Nya di pang-kuan Sacimata dan ketika Dia merangkak untuk pertama kalinya belajar berjalan. Para perempuan membujuk Nimai untuk menari di hadapan me-reka, dengan menjanjikan memberi manisan dan ksira. Tuhan Yang Maha Esa yang sama, yang tidak bisa dijangkau bahkan oleh resi-resi dan dewa-dewa agung, menari-nari lemah dengan kaki-Nya yang pendek dan gempal dan tersenyum manis ke arah para perempuan saat mereka mengucapkan “Hari” dan bertepuk tangan.

Suatu kali ketika Sacimata beristirahat bersama Nimai di tempat tidur, Sacimata tiba-tiba melihat sekelompok prajurit datang ke kamarnya. Banyak dewa mengikuti dan mereka mengambil Nimai dari pangkuannya lalu menempatkan Nimai di atas se-buah asana indah bertatahkan permata. Mereka memandikan Nimai dan memuja-Nya lalu bersujud dan memanjatkan doa-doa. Para dewa berdoa, “Segala pujian kepada Sri Jagannatha, Penguasa alam semesta. Segala pujian kepada pemelihara ter-tinggi. Pada Kali-yuga anak ini akan memelihara kami. Wahai Visvambhara, kami bersujud di kaki-padma-Mu dan memohon kepada-Mu, berkati kami harta kekayaan langka berupa vraja-rasa.” Khawatir akan keselamatan Nimai, Sacimata membawa Nimai kepada ayah-Nya agar Dia bisa tidur tenang dan tidak terganggu oleh apa yang dipi-kirnya sebagai mimpi itu. Hal ini semakin menam-bah kebingungan Sacimata saat beliau mendengar gelang kaki bergemerincing di kaki Nimai walau Nimai tidak memakai gelang.

Ketika Jagannatha Misra dan Sacimata sedang di luar rumah, Nimai menaburkan tepung, nasi, dahl, susu, dsb., ke sekeliling. Dia kemudian ber-baring di lantai dan menangis seolah ketakutan ke-tika mendengar orang tua-Nya datang. Sacimata kemudian menggendong Nimai dan dalam ke-adaan cemas berdoa memohon perlindungan bagi putranya dari iblis yang telah menyebabkan ke-kacauan di rumah mereka. Tidak ada batas bagi kebahagiaan Sacimata ketika beliau memandang wajah putranya yang tampan berwarna keemasan.

Suatu hari Nimai melihat seekor ular besar ketika sedang merangkak di halaman rumah. Nimai mendekap ular itu lalu berbaring di atasnya. Semua orang berseru, “Garuda!” dan berdoa kepada Krishna agar menyelamatkan Nimai. Mendengar keributan ini, ular itu (yang sebenarnya adalah Ananta-Sesa) merayap pergi. Nimai berusaha menangkap kembali ular itu tapi para perempuan dengan cepat mengangkat Nimai dan mulai meng-ucapkan doa-doa untuk perlindungan-Nya.

Pada usia satu tahun, Jagannatha Misra menyelenggarakan upacara anna-prasana untuk Nimai untuk melihat apa kecenderungan Nimai. Beras dan emas diletakkan di sebelah Srimad-Bhaga-vatam. Jagannatha Misra menyuruh putranya memilih yang mana yang diinginkan dan beliau pun gembira melihat Nimai mengambil Srimad-Bhagavatam lalu mendekapnya. Semua orang berseru menyatakan bahwa Nimai akan menjadi seorang sarjana agung.

Nimai kecil sering bermain-main dengan Saci-mata. Sambil menyembunyikan diri, Nimai berseru, “Bunda tak bisa menemukan Aku!” Berpura-pura melirik ke arah lain, Sacimata menjawab, “Ibu tidak melihat Engkau! Di mana Engkau anakku sayang?” Mendengar ini Nimai berlari keluar, me-narik sari Sacimata dan melompat-lompat riang gembira. Suatu kali Nimai marah dan memukul Sacimata dengan tangan kecil-Nya. Sacimata pura-pura pingsan dan Nimai pun menangis menyak-sikan hal itu. Para perempuan menyuruh Nimai mencari buah kelapa untuk membuat ibu-Nya siuman. Nimai langsung muncul membawa dua kelapa di tangan-Nya dan secara ajaib Sacimata sadar kembali. Beliau memangku Nimai lalu me-nenangkan Nimai dengan cara menciumi wajah-Nya yang bagai bunga padma dan berwarna keemasan.

Suatu kali Sacimata memberi manisan lezat kepada Nimai tapi Nimai malah memakan tanah. Nimai kemudian memprotes ketika Sacimata menghalangi. Nimai mengatakan bahwa tidak ada beda antara manisan dan tanah atau antara badan dan tanah sebab segala sesuatu hanyalah bentuk perubahan dari tanah. Dengan mudah Sacimata mengalahkan dalil monistik ini. Beliau membe-ritahu Nimai, “Putraku sayang, jika kita makan tanah yang sudah berubah menjadi biji-bijian, badan kita mendapat gizi, dan menjadi kuat. Tapi jika kita makan tanah dalam bentuk kasarnya, badan terkena penyakit, bukannya mendapat gizi, sehingga lambat laun badan akan rusak.” Dengan gembira Nimai menerima kebenaran filsafat ini lalu naik ke pangkuan Sacimata untuk menyusu.

Ketika Nimai tumbuh besar dan bisa berjalan, Dia berkeliaran sesuka hati-Nya. Nimai begitu gesit berkeliaran sehingga tidak seorang pun bisa me-nangkap Dia. Nimai memakan apa pun yang di-lihat-Nya. Bersama-sama teman-Nya Dia pergi ke rumah tetangga untuk mencuri, makan, atau jika tidak ada hal yang bisa dilakukan, mencubit bayi dan membuatnya menangis. Tanpa bisa dielakkan, orang-orang terpikat pada Nimai dan begitu meli-hat Dia mereka secara spontan memberi Dia pisang dan sandesa. Nimai lalu berlari pulang membawa pemberian tersebut untuk diberikan kepada pe-rempuan-perempuan yang mengucapkan “Hari, Hari,” untuk Dia.

Kali lain dua pencuri melihat Nimai berkeliaran sendirian, memakai gelang dan perhiasan emas. Mereka berkata, “Sini anak baik, kami akan mem-bawa-Mu pulang sekarang.” “Ya, ayo pergi,” jawab Nimai ketika dengan riangnya Dia memanjat pun-dak salah seorang pencuri itu. Pencuri itu memberi Nimai sandesa ketika mereka bergegas menuju tempat persembunyian sambil meyakinkan Nimai bahwa mereka hampir sampai di rumah-Nya. Ka-rena gembira dengan kesuksesannya, mereka sampai di ‘rumah’ lalu meletakkan Nimai dengan penuh semangat untuk mencuri perhiasan emas di badan-Nya. Tapi Nimai berlari cepat menuju rumah-Nya menyambut kegembiraan orangtua-Nya yang kebingungan karena tidak bisa menemukan Dia. Sementara itu di luar, para pencuri tersebut tiba-tiba sadar bahwa mereka tidak sedang berada di tempat persembunyiannya, melainkan justru membawa sang anak kembali ke rumah-Nya. Mereka lalu berlari ketakutan.

Suatu hari seorang brahmana bertamu ke rumah Jagannatha Misra. Brahmana itu memasak untuk Arca Gopala yang dipujanya dua kali, tapi tiap kali Nimai muncul dan memakan persembahan itu. Karena marah atas perilaku nakal Nimai, Jagan-natha Misra mengunci Nimai di ruangan yang di-jaga ketat dan memohon kepada sang brahmana agar memasak untuk ketiga kalinya. Akan tetapi, Nimai muncul kembali di hadapan sang brahmana dan kembali memakan persembahan tapi ke-mudian Dia memperlihatkan diri sebagai Krishna kepada sang brahmana. Nimai berkata, “Engkau adalah pelayan-Ku kelahiran demi kelahiran, ka-rena itu Aku muncul di hadapanmu. Tidak ada orang selain pelayan-Ku yang bisa melihat diri-Ku sebagaimana adanya. Aku telah muncul di tempat berlangsungnya pengucapan nama suci secara beramai-ramai dan Aku akan mengesahkan penye-barluasan pengucapan itu ke seluruh dunia. Aku akan membagikan secara cuma-cuma ke setiap rumah proses pelayanan cinta kasih rohani kepada Tuhan Yang Maha Esa, hal yang begitu didamba-kan bahkan oleh Dewa Brahma dan kepribadian-kepribadian mulai lainnya.

Jagannatha Misra menggundul kepala Nimai untuk kali pertama dalam upacara tradisi Sri Cudakarna. Setelah itu, upacara Karna bodha menandai dimulainya pendidikan formal untuk Nimai. Nimai cepat sekali menguasai alfabet Beng-gali dan menghabiskan berjam-jam menulis ber-bagai nama Krishna dengan penuh rasa gembira.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s