Aku Telah Melupakan Janjiku Dan Melupakan-Mu.

Tuhan, dengan melupakan DiriMu, hamba datang ke alam duniawi ini. Merasakan kesengsaraan dan derita, berbagai hal menyedihkan yang kuanggap kebahagiaan. Kini hamba datang pada kaki padma-Mu untuk mengungkapkan kisah sedih kehidupanku.

Dahulu ketika hamba terikat erat dalam kandungan ibu. Ruang sempit yang menye-sakkan dan sungguh menyiksa. Engkau menampakkan Diri sekejap mata dan memberi kelegaan. Tapi setelah itu lenyap dan meninggalkan hambaMu ini seorang diri. Saat itu hamba berpikir dan berjanji, “Setelah dilahirkan kali ini, hamba akan memujaMu dengan sepenuh hati”. Tetapi ternyata begitu lahir hamba memilih terperangkap dalam jaring-jaring karma dunia khayalan yang tanpa akhir. Hamba bahkan tidak memiliki setetespun pengetahuan sejati.

Sebagai anak kesayangan yang didekap dalam pelukan kasih keluarga. Hamba melewati hari-hari penuh senyum dan tawa. Cinta ayah dan ibu membuat hamba melupakan-Mu lebih jauh lagi. Kini hamba mulai berpikir betapa dunia ini adalah tempat yang indah. Seiring waktu kini hamba telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Bergaul dan bergembira dengan sesama. Terbuai dengan indahnya pujian akan prestasi dan pengetahuanku. Bahagia dengan bayangan masa depan yang menyenangkan. Oh, hamba sepenuhnya melupakan DiriMu dan janji itu. Terkadang kesedihan datang dan membuat hamba berpaling pada-Mu. Mengingatkan janji yang terlupakan. Terkadang kasih karunia-Mu tercurah pada hamba. Tapi nikmat itu kuanggap sebagai hasil kerja keras dan usaha sendiri. Akhirnya kehadiranMu kembali hamba anggap angin lalu. Terkadang kecerdasan hamba bekerja, mengingatkan pada janji yang belum terpenuhi. Tapi kenikmatan semu masa muda, membuat hamba menunda-nunda. Dalam kebodohan hamba berpikir, “Oh saatnya belum tiba. Bila aku sudah tua, barulah aku akan memuja Tuhan tanpa henti dengan sepenuh hati”.

Dengan segala kenikmatan duniawi hamba telah berhasil melupakan Diri-Mu. Tapi kini satu yang masih tetap kuingat. Kematian tidak membiarkan dirinya untuk dilupakan. Barulah kemudian hamba ber-pikir, “Akankah aku sempat tua? Masihkah tersisa waktu bagi diriku? Setahunkah? Se-bulankah? Seminggukah? Seharikah? Se-jamkah? Semenitkah? Atau justru sedetik lagi………………………………………………………” HARE KRISHNA…! semoga bermanfaat..!!!

Sebuah Surat Untuk Srila Prabhupada Dari Seorang Pemudi ( New Jersey )

“Dear Swamiji,
Anda tidak tahu nama saya, namun saya adalah seorang anak perempuan yang mengikuti parade Anda di Washington Square sabtu lalu,Saat pertama saya melihat kelompok anda, saya pikir anda semua pasti orang gila. Sedang kecanduan atau semacamnya. Setelah saya dengar dan bicara dengan beberapa orang-orang Anda, saya sadar kalian tidak seperti itu. Anda semua hanyalah yakin, mengimani dalam ketulusan, segala hal yang anda lakukan itu, dan karenanya, saya begitu menghargai Anda. Rasa penasaran kemudian membawa saya lebih jauh dan saya harus cari tahu kenapa bisa begitu? Jadi saya membuntuti Anda, dan saat itu, kata-kata yang Anda nyanyikan mulai menguasai. Selanjutnya yang saya tahu hanyalah saya merasa bebas dari diri saya dan saya juga ikut menyanyi. Saya tidak tahu di mana saya dan ke mana saya akan pergi. Saya terlalu bahagia untuk peduli, sampai kita berhenti menyanyi barulah saya menyadari di mana saya kini.

Sejak saat itu, saya mulai mencicipi secuil demi secuil, tentang apa sebenarnya Kesadaran Krishna ini. Seorang anggota Anda meminta saya mengunjungi kuil Anda dan saya mulai mengikuti Anda lebih jauh lagi. Berharap untuk mengetahui apa yang membuat Anda berpegang begitu kuat pada sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Setelah bersantap bersama Anda dan membaca buku-buku Anda, saya kemudian pergi. Namun kini tak sendiri. Saya telah mengajak bersama satu pencerahan baru akan kehidupan. Tampak bagi saya betapa sia-sia sesungguhnya berbagai hasrat yang tak kunjung padam untuk memiliki segala harta duniawi dalam kehidupan ini. Baju baru, rumah besar, atau televisi berwarna. Semua itu tidak penting. Bila saja orang-orang membuka mata atas segala nikmat yang diberikan Tuhan dengan berlimpah-limpah, tidak akan ada lagi kebutuhan mengada-ada yang harus dicari lebih jauh lagi.

Kalian semua sungguh beruntung. Kalian mungkin memiliki banyak hal yang harus dilakukan tanpa begitu banyak barang. Tapi karena kalian memiliki yang satu ini, kalian dapat berbahagia menikmati harta kekayaan yang dikaruniakan Tuhan bagi dunia. Karena iman Anda semua, Anda telah menjadi orang yang paling kaya. Dan saya sungguh-sungguh berterima-kasih pada anda semua, karena telah bersedia membagi sedikit harta itu bersama saya.”

dari contoh surat itu..srila prabhupada menganjurkan agar para penyembah mengundang orang2 umum untuk datang ke kuil ,mengucapkan nama suci, menyanyi dan menari. bila mereka suka di tawarkan sedikit persadam dan berbahagia…!!!!..

Sumber: Srila Prabhupada-lilamrta

Riwayat Singkat Srila Visvanatha Cakrawarti Thakur.( Acarya Gaudiya Ke – 7 )

hal yg paling penting di dalam jalan bhakti yoga ini adalah bagaimana seorang bhakta bisa mendapatkan karunia dari guru dan para acarya terdahulu,oleh karena itu seperti kata pepatah” kalau tidak kenal maka tak sayang,” kalau tidak sayang maka di pastikan tidak ada ikatan perasaan,maka dari itu melalui bacaan ini semoga para pembaca mulai bisa mengenal para acarya kita terdahulu. Srila Visvanath Cakravarti Thakur tercatat sebagai penerus ajaran Gaudiya yang ketujuh dalam garis perguruan. Srila Cakravarthipada mengikuti jejak langkah Acarya terdahulu yaitu Srila Narottama dasa Thakura, yang dikatakan mewarisi prema dari Sri Caitanya Mahaprabhu, meskipun Srila Narottama dasa Thakur dan Srila Cakravarthipada terpisah sedikitnya empat generasi guru-guru, namun Srila Cakravarthipada menerima transmisi ajaran (siksa) dari srila Narottama, karena itu beliau diakui sebagai Acarya ketujuh dalam garis perguruan sri caitanya Mahaprabhu.

Srila Cakravarthipada menulis tiga buku penting. Bhakti Rasamrta Sindhu Bindu, Ujjvala Nilamani-kirana, dan Brhad Bhagavatamrta Kana. Tanpa mengetahui ketiga buku ini, seseorang tidak akan mampu maju dalam bhakti. Buku-buku ini adalah skala untuk mengukur tingkat kemajuan seorang bhakta. Bila anda mengikuti petunjuk petunjuk kitab ini. Anda tidak akan pernah meninggalkan bhakti. Dahulu sebelum Srila Cakravarthipada meninggalkan rumah untuk pelepasan ikatan dan kebajikan seluruh dunia, beliau mohon ijin kepada Srila Radha-ramana Cakravarthi, guru kerohaniannya. Akan tetapi gurunya menyuruh beliau meminta ijin dahulu dari istrinya. Setelah mendengar hal ini dari bibir suci gurunya, beliau pulang ke rumah dan memaparkan Hari-katha kepada istrinya sepanjang malam. Pada pagi harinya beliau mendekati istrinya dan mohon diri untuk meninggalkan keduniawian. Dengan diiringi ratapan istrinya, beliau meninggalkan rumah dan memulai misi beliau yang agung untuk mengajak roh-roh yang terikat kembali pulang ke dunia rohani.

Srila Cakravarthipada mengajarkan konsep parakiya-bhava di Vrndavana, walaupun sayang sekali hanya sedikit yang mampu mengerti dan menghargai-nya. Dalam madhurya bhava (cinta kasih rohani dengan Tuhan sebagai kekasih) ada Svakiya bhava, bentuk cinta kasih suami-istri, sebagaimana Rukmini dan para mahishi di Dvaraka mencintai Krsna. Svakiya bhava ini dianjurkan dalam sastra. Namun ada cinta kasih parakiya yang bermanifestasi dalam diri para Gopi penduduk Vraja yang diketuai oleh srimate Radharani. Cinta-kasih para Vraja-gopi ini bersifat luhur dan murni. Dalam svakiya kita melihat ikatan yang resmi antara Krsna dan Rukmini yaitu dalam wujud pernikahan rohani. Namun dalam parakhiya bhava kita melihat para gopi tidak menikah dengan Krsna, Radharani pun tidak terikat dalam pernikahan dengan Krsna. Tetapi para Vraja gopi memiliki ikatan cinta kasih yang besar, hingga mereka siap meninggalkan segalanya demi Krsna dan semua tanpa paksaan. Karena itu bahkan pelayanan para gopi lebih tinggi dari Rukmini, dari para mahisi Dvaraka serta para Laksmi Vaikuntha.Parakiya-bhava inilah yang diterima dan diajarkan oleh Sri Caitanya mahaprabhu juga oleh para penerus-Nya.

Banyak orang yang menentang Srila Ckaravarthipada karena beliau mengajarkan parakiya bhava ini. Salah satunya berasal dari Sri Sampradaya (pengikut Ramanujacarya). Kisah ini dapat kita ketahui dari riwayat Srila Baladeva Vidyabhusana, murid dari Srila Cakravarthipad. Di sana akan kita ketahui lebih rinci.
Tantangan yang lain berasal dari para pandita Vrndavana yang iri terhadap Cakravarthipad dan berusaha membunuh beliau.

Setiap pagi Srila Cakravarthipad yang saat itu berusia sangat lanjut (80 tahun) bersiap untuk parikrama mengelilingi Vrndavana. Para pandita yang iri ini bersembunyi di semak-semak siap untuk menghadang jalan beliau. Ketika pandita-pandita ini siap membunuh, tiba-tiba Cakravarthipada lenyap dari pandangan. Sebagai gantinya mereka melihat dua atau tiga gadis muda yang sangat cantik sedang memetik bunga sambil bercanda dan tertawa.

Karena penasaran para pembunuh ini keluar dari semak-semak dan bertanya kepada salah seorang gadis itu apakah mereka melihat seorang sadhu tua lewat di sana. Tanpa diketahui para pembunuh ini Srila Cakravathipad telah terserap sepenuhnya dalam meditasi pada kegiatan rohani Sri Radha dan Krsna. Kini beliau berada dalam wujud aslinya sebagai pelayan Srimati Radharani yang kekal (bentuk manjari svarupa). Dalam wujud gopi ini beliau berkata dengan suara manis, “Aku melihat babaji itu, tapi entah ke manakah dia pergi sekarang. Radharani kini berada di Javat, dan kami semua adalah para sakhi-Nya.”

Setelah mengucapkan kata-kata ini Srila Cakravarthipad kembali mewujudkan bentuk sadhu-nya. Dengan penuh kekaguman para pembunuh itu segera bersujud dandavat di hadapan beliau.

Srila Cakravarthipada adalah seorang mahasiddha-purusa. Beliau bukan berasal dari dunia ini. Beberapa orang mengatakan bahwa beliau sesungguhnya adalah penjelmaan Acarya Srila Rupa Goswami. Seperti Sri Rupa Goswami, Srila Cakravarthipad juga menulis banyak buku, bila beliau tidak melakukan-nya pasti ajaran Sri Caitanya Mahaprabhu akan lenyap dari muka bumi ini. Beberapa tahun setelah berpulangnya beliau dan murid utamanya yaitu Srila Baladeva Vidyabhusana ke dunia rohani. Masa-masa kegelapan datang lagi dalam garis Gaudiya Vaishnava. Kemudian muncullah Srila Saccidananda Bhaktivinoda Thakura dan putranya yang cemerlang Srila Bhaktisiddhanta Saraswati Prabhupada untuk menyelamatkan dunia.

sri guru parampara ki…gaura premanande hari hari bolo…semoga bermanfaat ..jaya srila prabhupada..

Getaran Maha Mantra Hare Krishna

Getaran suara rohani pengucapan “Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare” adalah metode yang suci untuk membangkitkan kesadaran Krishna kita, sebagai sang jiwa, kita sesungguhnya makhluk hidup yang sadar akan Krishna, namun karena pengaruh dan pergaulan dengan objek material dari waktu yang tak terhingga lamanya, kesadaran kita kini diracuni oleh atmosfir yang bersifat duniawi. dalam konsep hidup yang tercemari ini, kita semua telah mencoba untuk meracuni jiwa kita dengan keduniawian, dimana sebenarnya kita hanya akan semakin terikat dalam sebuah kerumitan. Tidak dibutuhkan pemahaman tentang bahasa dari mantra, tidak dibutuhkan pemikiran yang bersifat spekulatif, dan juga tidak perlu memilah milah secara cerdas untuk mengucapkan maha mantra ini. Mantra ini secara otomatis berada pada tatanan rohani dan siapapun dapat berpartisipasi dalam getaran suara rohani ini, tanpa diperlukan kualifikasi dalam sebuah kelahiran, hanya menari dalam kegembiraan. kita telah melakoninya, bahkan seorang anak kecil dapat berpartisipasi dalam pengucapan Maha Mantra, dan bahkan seekor anjing sekalipun. Pengucapan Maha Mantra ini sangatlah serupa dengan keadaan saat seorang anak secara tulus menangisi ibunya.
-Srila Prabhupada

Kegiatan Mahaprabhu Bersama Amogha Pandit

Suatu hari, Sriman Mahaprabhu pergi untuk makan siang di kediaman Sarvabhauma Bhattacarya. Istri Sarvabhauma menyediakan berbagai jenis hidangan sayuran dan manisan kepada Mahaprabhu. Sarvabhauma pertama-tama mempersembahkan makanan itu kepada arca pujaannya. Kemudian dia meletakkan berbagai jenis masakan itu di atas sebuah talam dan menempatkannya dihadapan Mahaprabhu. Puas oleh pengabdian mereka, Tuhan Caitanya Mahaprabhu yang sangat mengasihi para penyembah-Nya kemudian mulai makan. Sarva-bhauma sendiri yang melayani Tuhan.
Saat itu, Amogha Pandit, menantu Sarva-bhauma, datang diam-diam ke sana.

Amogha adalah seorang penghujat yang penuh kedengkian. Dia mencela Mahaprabhu karena makan dengan rakus, padahal seorang sannyasi seharusnya mengurangi makan. Sarvabhauma mendengar celaan ini dan menjadi sangat marah seperti api. Dia mengambil sebatang tongkat dan mengejar Amogha. Tapi Amogha berhasil kabur. Sarvabhauma kemudian mengutuknya, ”Semoga engkau mati, agar aku tidak melihat wajah seorang pendosa”. Sarvabhauma kemudian memeluk kaki padma sri caitanya Mahaprabhu lalu menangis. Mahaprabhu menenangkannya dengan berbagai cara sebelum akhirnya pulang. Pada hari itu Sarvabhauma dan istrinya tidak makan apapun karena mereka sangat berduka.

Karena telah melakukan kesalahan pada kaki padma Tuhan,dan Amogha mati karena kolera malam itu juga. Pagi harinya beberapa penyembah membawa kabar ini kepada Mahaprabhu. Sri Caitanya Mahaprabhu, yang sangat mengasihi penyembah-Nya dan adalah Roh Utama bagi setiap mahluk, pergi sendiri ke tempat jenazah Amogha dibaringkan. Tuhan menyen-tuh dada Amogha dan berkata,

“Hati seorang brahmana sejatinya amat bersih. Oleh sebab itu dia menjadi tempat yang pantas bagi Krishna untuk duduk. Mengapa engkau ijinkan irihati untuk turut duduk di sana? Karena ini, engkau sudah menjadi seperti candala, yang terendah di antara manusia. Engkau juga telah menodai tempat yang paling disucikan, yaitu hatimu.
Bagaimanapun juga, oleh pergaulanmu dengan Sarvabhauma Bhattacarya, segala nodamu kini telah musnah. Ketika hati seseorang telah dibersihkan dari pencemaran, dia dapat mengucapkan mahamantra Hare Krishna.

Oleh karenanya O Amogha !! Bangkitlah dan ucapkan Hare Krishna maha mantra !! Bila engkau melakukannya pastilah Krishna akan mencurahkan karuniaNya kepadamu.”
(CC.Madya-lila.15.274-277 )

Hanya dengan sentuhan Mahaprabhu, Amogha hidup kembali dan segera bangkit. Dia kemudian mulai menari-nari sambil mengucapkan Krishna! Krishna! Akhirnya, Amogha memeluk kaki padma Tuhan Caitanya Mahaprabhu dan memohon pengampunan. Mahaprabhu berkata, “Engkau adalah menantu Sarvabhauma Bhattacarya, maka segala dosamu telah diampuni. Ucapkanlah senantiasa nama suci Krish-na. Krishna akan segera memberkatimu.”

Bahkan seorang kerabat dari seorang penyembah, walau dia berbuat kesalahan pada kaki padma Tuhan, segala dosanya diampuni dan diterima olehNya. Demikianlah kasih sayang Tuhan bagi penyembah-Nya yang menakjubkan.
Sumber:( Caitanya Charitamrta Madya Lila Bab 15 )
jaya sri caitanya mahaprabhu ki…!!!!!

Lila dari Sri Mukunda Bersama Gadadhara Pandit.

Pada suatu hari sri mukunda berkata pada gadadhara pandit,”mari kita pergi ke rumah pundarik vidyanidhi utk mendapatkan pergaulannya.karena beliau adalah seorang maha bhagawata”sesampai disana gadadhara pandit melihat penampilan pundarik vidyanidhi yg seperti seorang bhogi,berpakaian perlente,pakai bnyak perhiasan2 emas dan berlian, semua jari2nya memakai cincin emas yg besar2.duduk di tempat duduk yg mewah dengan menguyah daun sirih dgn perlengkapannya.dan gadadhara pandit berpikir”apa yg di katakan mukunda kepadaku,,?? dya seorang maha bhagawata?? dia seorang bhogi.” mukunda dapat mengerti apa yg ada dlm pikiran dari gadadhara pandit.trus mukunda membacakan satu sloka bhagawatam (3.2.23) sloka bisa di cari sendiri ya.!!.yg artinya sodari bakasura yg bernama putana membunuh krishna baby dengan memoleskan racun yg dasyat pada payudaranya dan mngijinkan krishna utk menyedot payudaranya,tapi apa yg dilakukan krishna ?? krishna menyedot payudaranya sekaligus nyawanya,

krishna memberikan posisi mnjadi seorang ibu di dunia rohani.setelah membacakan sloka ini pundarik vidyanidhi mnjadi kebahagiaan rohani.berguling2 di tanah dan air mata mengalir dari matanya, semua ciri2 kebahagiaan rohani yg di sebut asta sattvika bhava muncul padanya,dya membuang semua kemewahannya dan melempar semua perhiasan2 dan segalanya dan trus berguling2 di tanah dan menangis,

gadadhara pandit berpikir,” wahh ini bener2 seorang maha bhagavata.saya telah melakukan aparadha yg besar dengan berpikir bahwa beliau seorang bhogi,paling tidak saya harus menerima hukuman dari beliau bagaimna saya akan bebas reaksi atas kesalahan saya ini?? saya harus menerima dia sebagai guru saya.dimana beliau akan menjewer telinga saya,dan menampar saya dan memberi disiplin pada saya dan dengan cara ini saya akan terbebas dari reaksi2 dosa saya..

penampilam luar pundarik vidyanidhi sebenarnya hanya tipuan tapi sangat berbeda dengan apa yg ada dlm hatinya.SAPA YANG DAPAT MELIHAT??? oleh karena itu sadhu punya 2 hal, kripa dan vancana.=karunia dan tipuan.jika seseorang ingin hal2 luar saja ,dia tertipu,jika dia ingin yg ada di dalam,dia akan mndapatkan karunia..karena itu bisa di katakan bahwa krishna tahu apa yang kita inginkan.susunan yg indah akan di buat oleh krishna untuk kita sesuai dengan apa yg ada dlm hati kita…inilah cerita perwujudan tulasi sbgai mukunda dlm lila mahaprabhu… semoga bermanpaat..

Hal Yang Paling Menyedihkan Di Dunia Ini Lila Sri Caitanya Bersama Srila Haridasa Thakur.

Didalam Caitanya-caritamrta, (Madhya 8.248) disebutkan bagaimana suatu saat Mahaprabhu bertanya kepada Ramananda Raya, duhkha-madhye kona duhkha haya gurutara? “Penderitaan yang manakah yang paling menyakitkan?”

Ramananda Raya menjawab, krsna-bhakta viraha-vina duhkha nahi dekhi para “Berpisah dengan seorang krsna-bhakta, penyembah tercinta Sri Krsna, adalah kesedihan dan penderitaan yang paling menyakitkan”. Jika seseorang dipisahkan dari penyembah murni Sri Krsna, dia akan mengalami luka hati yang dalam. Tidak ada penderitaan lain dapat dibandingkan dengan penderitaan ini. Ini adalah seperti krsna-vihara-duhkha, luka hati berpisah dengan Sri Krsna. Ini adalah apa yang sedang dirasakan Uddhava setelah matahari Krsna, setelah Krsna mengakhiri lilanya. Uddhava sudah ditempatkan di dalam penderitaan seperti itu, suatu keadaan yang paling menyedihkan. Dan sama seperti itu adalah krsna-bhakta-vihara, berpisah dengan seorang penyembah tercinta Sri Krsna, yang selalu bersama Krsna. Jika seseorang dipisahkan dari penyembah terkasih yang demikian, itu adalah sama seperti dipisahkan dari Sri Krsna. Tidak ada penderitaan yang melebihi hal itu.

Mahaprabhu mengatakan hal ini tatkala Haridasa Thakura berpulang. Haridasa Thakura, yang juga dikenal sebagai namacharya, yang siang dan malam, dua puluh empat jam sehari, sibuk dalam pengucapan nama suci tanpa tidur, tanpa makan. Itu berarti bahwa Beliau selalu bersama Krsna. Tatkala Beliau berpulang Mahaprabhu menangis secara memilukan, karena seorang penyembah seperti itu, yang selalu bersama Krsna, sudah berpulang. Itu adalah luka yang paling menyedihkan.Mahaprabhu menangis dan bersabda:

Krpa kori’ krsna more diyachila sanga
Svatantra krsnera iccha kaila sanga-bhanga

Haridasera iccha yabe ha-ila calite
Amara sakati tanre narila rakhite

Iccha-matre kaila nija-prana niskramana
Purve yena suniyachi bhismera marana

“Krsna demikian berkarunia kepada Hamba sehingga Krsna memberikan Hamba pergaulan dengan seorang penyembah maju, paramahamsa, seorang penyembah tercinta Sri Krsna, yang selalu bersama Krsna. Dengan mendapatkan pergaulan Beliau, Hamba merasa bahwa Hamba ada bersama Krsna. Sekarang Haridasa Thakura sudah berpulang. Dan luka di dalam hati Hamba sangat menyedihkan”.

Berpulangnya penyembha tercinta seperti itu adalah sangat tidak menguntungkan. Itu sebabnya Mahaprabhu menangis. Jadi orang harus menangis karena keadaan seperti itu adalah penderitaan yang paling menyakitkan, kesedihan yang memilukan kan orang rasakan. Tetapi kita, orang-orang bodoh dan terikat ini, tidak menangis karena hal seperti itu. Karena kita sudah mengembangkan keterkatan hanya kepada orang terdekat dan terkasih kita, kita pasti menangis dan menderita. “Oh, kawan saya yang tercinta meninggal”, “Istri saya meninggal”, “Ayah saya meninggal”, “Ibu saya meninggal”. Dan dia menderita dan menangis. Alangkah bodohnya orang itu. Tetapi siapakah yang menangis tatkala seorang penyembah tercinta berpulang?

Siapakah yang menangis untuk hal seperti itu? Hanya para Vaisnava yang menangis. Mareka tidak menangis untuk kehilangan hal-hal yang material, mereka tidak menangis jika mereka kehilangan seseorang yang dekat dan terkasih secara material.

Jika kamu ingin menangis, menangislah untuk Krsna. Krsna adalah Beliau yang paling dekat dan paling terkasih. Krsna adalah tujuan dari cinta kasih kita. Krsna adalah satu-satunya hidup kita. Krsna mengatakan di dalam Bhagavad-gita (7.9), jivanam sarva-bhutesu “Aku adalah kehidupannya semua makhluk hidup”. Dan Mahaprabhu sedang menangis, ha krsna prana mora “Krsna adalah jiwa-Ku. Sekarang, jiwa-Ku sudah pergi. Aku tidak bisa lagi melihat Krsna, Aku tidak bisa menemukan Krsna lagi”. Beliau menangis dengan pilu ketika Haridasa Thakura berpulang. “Krsna sangat berkarunia. Beliau tercinta seperti ini, penyembah yang selalu bersama Krsna. Tetapi sekarang Beliau sudah berpulang, sehingganya Aku tidak bisa merasakan kehadiran Krsna, yang adalah jiwa-Ku sendiri. Aku tidak memiliki kehidupan lagi, Aku tidak memiliki kehidupan lagi.” Seperti itulah orang harus menangis.

Krsna adalah svatantra. Kehendak Beliau adalah yang paling kuasa. Begitu juga, apapun yang diinginkan oleh penyembah tercinta Krsna, Krsna memberikan. Dan Haridasa Thakura menginginkan itu, “Saya ingin meninggalkan bumi ini.” Dan Krsna akan memberikan hal itu kepadanya. Meskipun Mahaprabhu adalah Krsna, Beliau berkata, “Haridasa Thakura adalah seorang penyembah murni Krsna, Aku tidak memiliki kuasa untuk menghentikan keinginannya.” “Jangan pergi, jangan pergi. Tinggallah bersama kami.” Bilamana seorang penyembah murni mengembangkan keinginannya yaitu, “Oh Krsna, tolong ambil hamba. Hamba tidak ingin hidup disini lagi”, Krsna akan memberikannya, dan lalu Beliau meninggalkan bumi ini. Seperti itulah kasusnya Haridasa Thakura. Mahaprabhu menangis dan mengangkat badan rohani Haridasa Thakura. Dengan mengucapkan, “Hare Krsna”, sementara berlinang airmata, Beliau menari. Inilah yang diajarkan oleh Mahaprabhu kepada kita.

Jay Gauranga Mahaprabhu Ki…………….Jay………